Sehari Saja Kawan

Gambar

 

(masih Wiji Thukul!)

Satu kawan bawa tiga kawan
Masing-masing nggandeng lima kawan
Sudah berapa kita punya kawan

Satu kawan bawa tiga kawan
Masing-masing bawa lima kawan
Kalau kita satu pabrik bayangkan kawan

Kalau kita satu hati kawan
Satu tuntutan bersatu suara
Satu pabrik satu kekuatan
Kita tak mimpi kawan!

Kalau satu pabrik bersatu hati
Mogok dengan seratus poster
Tiga hari tiga malam
Kenapa tidak kawan

Kalau satu pabrik satu serikat buruh
Bersatu hati
Mogok bersama sepuluh daerah
Sehari saja kawan
Sehari saja kawan

Sehari saja kawan
Kalau kita yang berjuta-juta
Bersatu hati mogok
Maka kapas tetap terwujud kapas
Karena mesin pintal akan mati
Kapas akan tetap berwujud kapas
Tidak akan berwujud menjadi kain
Serupa pelangi pabrik akan lumpuh mati

Juga jalan-jalan
Anak-anak tak pergi sekolah
Karena tak ada bis
Langit pun akan sunyi
Karena mesin pesawat terbang tak berputar
Karena lapangan terbang lumpuh mati

Sehari saja kawan
Kalau kita mogok kerja
Dan menyanyi dalam satu barisan
Sehari saja kawan
Kapitalis pasti kelabakan!!

(12-11-94)

Iklan

Satu Mimpi Satu Barisan

buruh indonesia_1

Oleh: Wiji Thukul

di lembang ada kawan sofyan
jualan bakso kini karena dipecat perusahaan
karena mogok karena ingin perbaikan
karena upah ya karena upah

di ciroyom ada kawan sodiyah
si lakinya terbaring di amben kontrakan
buruh pabrik teh
terbaring pucet dihantam tipes
ya dihantam tipes
juga ada neni
kawan bariyah
bekas buruh pabrik kaos kaki
kini jadi buruh di perusahaan lagi
dia dipecat ya dia dipecat
kesalahannya : karena menolak
diperlakukan sewenang-wenang

di cimahi ada kawan udin buruh sablon
kemarin kami datang dia bilang
umpama dironsen pasti nampak
isi dadaku ini pasti rusak
karena amoniak ya amoniak

di cigugur ada kawan siti
punya cerita harus lembur sampai pagi
pulang lunglai lemes ngantuk letih
membungkuk 24 jam
ya 24 jam

di majalaya ada kawan eman
buruh pabrik handuk dulu
kini luntang lantung cari kerjaan
bini hamil tiga bulan
kesalahan : karena tak sudi
terus diperah seperti sapi

dimana-mana ada sofyan ada sodiyah ada bariyah
tak bisa dibungkam kodim
tak bisa dibungkam popor senapan
di mana-mana ada neni ada udin ada siti
di mana-mana ada eman
di bandung – solo – jakarta – tangerang
tak bisa dibungkam kodim
tak bisa dibungkam popor senapan

satu mimpi
satu barisan

Bandung, 21 mei 92

buruh-produksi-kayu-karet-300x150

Menunggu Thukul Pulang

Hanya ada satu kata: lawan!

Oleh: Gita Widya Laksmini

TANPA terasa lima tahun berlalu sudah dari Peristiwa 27 Juli 1996, ketika markas besar Partai Demokrasi Indonesia (PDI) diserbu polisi, tentara, dan massa bayaran. Salah satu lembar sejarah Indonesia ini tercoreng tinta hitam saat terjadi pengambilalihan sekretariat PDI yang diikuti pengrusakan dan pembakaran. Berdasarkan laporan Komisi Nasional Hak-hak Asasi Manusia pada Oktober 1996, tercatat lima orang meninggal dunia, 149 luka-luka, dan 23 orang hilang. Salah seorang yang tak kunjung pulang adalah Wiji Thukul. Baca lebih lanjut

Seorang Kawan, Wiji Thukul

Linda Christanty

Seorang Kawan, Wiji Thukul

Situasi pasca pemilihan umum disambung krisis ekonomi membuat Jakarta terus memanas sampai November 1997 itu. Telepon tiba-tiba berdering dan seseorang di seberang sana berbicara dengan tergesa-gesa, “Linda, aku minta izin pulang ke Solo dulu, ya.” Dia adalah Wiji Thukul. Kalimat tersebut menjadi kalimat terakhirnya untuk saya, sebelum ia dinyatakan hilang bersama sejumlah aktivis politik yang diculik militer hampir tiga tahun lalu. Baca lebih lanjut

Where is Wiji Thukul?

Where is Wiji Thukul?
The dreadful silence of an outspoken poet

Richard Curtis

Wiji Thukul wrestled with the daily realities of poverty and violence. During the late New Order he was acknowledged as one of Indonesia’s best poets, and he remains a standard bearer for radical grass roots democratic change. His celebrated catch cry, Hanya satu kata: Lawan! (There’s only one word: Resist!) is taken from his poem, Peringatan (Warning, 1986). Striking workers and protesting students still use it. It seems incongruous that till recently little was done to investigate the mysterious disappearance two years ago of this important contributor to Indonesia’s democratic movement. Baca lebih lanjut