Saya tidak Pernah Jadi Budak

Tempo NO. 04/XXVIII/30 Mar – 5 Apr 1999

PRAMOEDYA Ananta Toer, sastrawan terkemuka asal Blora, itu banyak menghabiskan hidupnya di penjara. Pada zaman revolusi kemerdekaan, ia mendekam di penjara Bukitduri, Jakarta, dan baru bebas merdeka pada 1949.

Pada masa Orde Lama, ia menentang peraturan yang mendiskriminasi keturunan Cina, dan akibatnya ia masuk lagi ke ”hotel prodeo”. Setelah pecah G30S-PKI, Pram yang anggota Lembaga Kebudayaan Rakyat-onderbouw Partai Komunis Indonesia-ditangkap dan dibuang ke Pulau Buru sampai tahun 1979. Siksaan dan kekerasan adalah bagian hari-harinya di tahanan. Setelah bebas pun, Pram masih menjalani wajib lapor setiap minggu di instansi militer. Belum lama ini, Pram membuat kejutan: bergabung dengan Partai Rakyat Demokratik (PRD). Baca lebih lanjut

Wawancara Pramoedya dan Hersri Setiawan dengan Radio Nederland

Bagian awal aria “Ritorna Vincitor” atau “Pulanglah dengan Kemenangan” dari opera “Aida” ciptaan ciptaan Giuseppe Verdi tadi, menghantar kita pada rubrik yang mungkin sudah anda nanti-nanti dalam acara FOKUS AKHIR PEKAN Radio Nederland edisi 22 Juli 1997 ini, itulah rubrik wawancara. Hari Rabu lalu dari Manila diberitakan bahwa penulis Indonesia yang buku-bukunya terlarang, Pramoedya Ananta Toer telah dianugerahi hadiah Ramon Magsaysay.Karya-karya terlarang Pramoedya itu, yang merupakan alasan pemberian hadiah ini, dinilai dengan brilyan menonjolkan kebangkitan dan pengalaman moderen rakyat Indonesia. Lalu, bagaimana reaksi Pramoedya terhadap penganugerahan ini?

Baca lebih lanjut

Greg Poulgrain

Selamat datang pada Greg Poulgrain yang tanpa ragu turun memasuki sejarah modern Indonesia dengan tesisnya The Genesis of Malaysia Konfrontasi: Brunei and Indonesia, 1945-1965, sebuah hasil studi yang meluas dan terperinci.* Dengan karyanya orang lebih mudah dapat memahami masa peralihan dari apa yang dinamai era Orde Lama ke era Orde Baru, dua era yang bertentangan sudah pada azas dan semangatnya. Era pertama adalah era anti kolonialisme-imperialisme-kapitalisme dengan segala liku dan lekuk dengan berbagai pemain, yang mendukung dan mendongkel. Baca lebih lanjut

Maaf Atas Nama Pengalaman

Jakarta, November 1991

Sejak 17 Agustus 1945 aku menjadi warganegara Indonesia, sebagaimana halnya dengan puluhan juta orang penduduk Indonesia waktu itu. Waktu itu umurku 20. Tetapi aku sendiri berasal dari etnik Jawa, dan begitu dilahirkan dididik untuk menjadi orang Jawa, dibimbing oleh mekanisme sosial etnik ke arah ideal-ideal Jawa, budaya dan peradaban Jawa. Kekuatan pendidikan yang dominan dan massal adalah melalui sastra, lisan dan tulisan, panggung, musik dan nyayian, yang membawakan cuplikan-cuplikan dari Mahabharata: sebuah bangunan raksasa yang terdiri dari cerita falsafi dan tatasusila, acuan-acuan religi, dan dengan sendirinya resep-resep sosial dan politik. Enerzi, dayacipta, pergulatan, telah dikerahkan berabad, melahirkan candi-candi dan mythos tentang para raja yang sukses, dan mendesak dewa-dewa setempat menjadi dewa-dewa kampung. Untuk itu “jutaan” manusia sepanjang sejarah etnikku terbantai. Tentu saja tidak angka resmi bisa ditampilkan. Yang jelas, sejalan dengan pendapat pakar Cornell, Ben Anderson, klimaks Mahabharata adalah “mandi darah saudara-saudara sendiri”. Memang pada jamannya sendiri bangsa-bangsa lain juga pernah mengalami peradaban dan budaya ‘kampung’ demikian. Yang berhasil keluar dari kungkungannya, jadilah bangsa yang merajai dunia. Baca lebih lanjut

Multatuli: Sebuah Kenangan

Pramoedya Ananta-Toer

Multatuli? Ya, kapan nama itu pernah kudengar? Jauh di masa lewat. Semasa kanak-kanak. Aneh kedengarannya.

Tapi kombinasi bunyi dalam namanya membuat aku terus teringat. Soalnya bukan sekali-dua disebut-sebut di rumah oleh para pemuda yang sering datang berkumpul, bermain, dan berdiskusi. Lebih dari namanya yang aneh aku tak tahu sesuatu.

Di rumah kami terdapat perpustakaan yang cukup besar, untuk ukuran kota kecil, dalam keadaan tak terawat, bahkan selalu berantakan. Ayahku, seorang pemilik akte untuk mengajar bahasa Belanda tingkat sekolah rendah, suka memborong buku dan majalah dari rumah para pejabat Belanda yang dilelang barang-barangnya menghadapi kepindahan. Dia tidak pernah mendongeng padaku tentang Multatuli, biar pun dalam perpustakaan terdapat beberapa jilid karyanya. Ibuku, yang menelan buku Belanda dan Melayu – ia tidak membaca Jawa – juga tidak pernah. Baca lebih lanjut

Jang Harus Dibabat dan Harus Dibangun

Bintang Timur, 10 Aug, 1 Sept, 7 Sept, 12 Okt 1962

Jang Harus Dibabat Dan Harus Dibangun

Pramoedya Ananta-Toer

Tahun 1953, atau 10 th. jl, merupakan perkisaran jang penting terutama dalam dunia sastra Indonesia. Pada th. itu nampak benar berapa galangan jang dengan penuh kesabaran dibangunkan oleh Sticusa, bagian demi bagian mulai berhasil. Pemerintah Belanda jang mulai ragu2 tentu manfaat kerdja Sticusa bagi keuntungan keuangan diwaktu dekat mendatang dengan gopahgapah hendak menarik djatah dana dari Dana Bernhard ke pada Sticusa. Sebaliknja, Sticusa, jang dipimpin oleh para bekas residen atau asisten residen serta orang2 dari bekas kabinet van Mook, mengerti benar, bahwa ikatan- batin dengan golongan intelektual Indonesia harus dipelihara dan diselamatkan, buat menjelamatkan hubungan ekonomi dan djuga politik dengan negeri bekas djadjahan, jang dalam keadaan bagaimanapun harus tetap bisa memberikan keuntungan moril dan materiil bagi Belanda. Baca lebih lanjut

Arti Penting Sejarah

Pidato Pramoedya Ananta Toer pada peluncuran ulang Media Kerja Budaya,

14 Juli 1999 di Aula Perpustakaan Nasional. sumber: Jaringan Kerja Budaya

Para hadirin yang terhormat,

Sebetulnya apa yang saya katakan dalam 10 tahun ini sudah sering saya katakan secara lisan. Sekarang saya sampaikan lagi secara lisan. Pertamakali tentang negara kita adalah negara maritim terdiri dari belasan ribu pulau tetapi mengapa diduduki oleh Angkatan Darat. Dari bupati kadang-kadang sampai kepala desa. Mengapa ini bisa terjadi . Ini adalah kesalahan historis. Kesalahan lain dengan kekeliruan. Kesalahan berasal dari sudah dari otak, kalau keliru itu adalah salah dalam pelaksanaan teknis

Kenapa terjadi kesalahan ini? Dalam abad ke 16 Indonesia dikuasai oleh Portugis. Portugis menamakan Indonesia, India Portugis. Portugis dihalau Belanda, menamakan Indonesia, Hindia Belanda. Kenapa kata Hindia dipergunakan? Karena dalam abad ke 16 itu dunia Barat mencari rempah-rempah. Dan rempah-rempah itu mereknya Hindia. Padahal asalnya dari Maluku dan Aceh (Sumatra) itu sebabnya terbawa-bawa terus nama India dan sampai sekarang pun kita belum pernah mengkoreksinya, nanti akan menyambung. Baca lebih lanjut