Joebaar Ajoeb: LEKRA Dan PKI “Politik Adalah Panglima”*

Joebaar Ajoeb, Njoto dan AS. Dharta (Foto koleksi: Oey Hay Djoen)

Joebaar Ajoeb, Njoto dan AS. Dharta (Foto koleksi: Oey Hay Djoen)

LEKRA DAN PKI

LEKRA adalah sebuah gerakan kebudayaan yang nasional dan kerakyatan, yang di dalamnya memang ada orang-orang yang jadi anggota PKI, tetapi yang sebagian besarnya, bukan. Lekra didirikan dan bekerja untuk kepentingan yang nasional dan kerakyatan di lapangan kebudayaan. LEKRA, sebagaimana terlihat pada Mukaddimahnya, tidak mengazaskan kegiatannya pada pandangan klas dan atau Marxisme-Leninisme. Juga organisasi yang mengatur kegiatannya tidak berbau Leninisme sedikitpun. Bahwa ada karya di lingkungan LEKRA yang dialamatkan langsung kepada kepentingan Partai Komunis Indonesia, ia sudah tentu secara langsung menjadi tangungjawab pencipta karya itu, yang mungkin saja anggota PKI. Orang berhak memuliakan sesuatu yang ia anggap demikian, namun haknya itu hendaklah pula diperlakukan dengan adil ketika ia mempertanggungjawabkannya. Baca lebih lanjut

S. M. Kartosuwiryo, Orang Seiring Bertukar jalan

Oleh: Hersri S dan Joebaar Ajoeb

Marijan. Begitu ia dipanggil ketika masih bocah. Tetapi ketika telah dewasa, di antara umur 40-60 tahun, Marijan lebih dikenal dengan nama Kartosuwiryo. Plus berbagai nama julukan. Ada kalanya, pada masa antara 1950 hingga 1962, koran-koran Indonesia menjulukinya dengan sebutan-sebutan: Gembong Darul Islam (DI), Kepala Gerombolan Tentara Islam Indonesia (TII). Di samping itu ia pun sering disebut sebagai Imam atau Presiden Negara Islam Indonesia (NII), sebuah “negara” yang juga berbentuk republik, Al Jumhuriah. Baca lebih lanjut