Membangun Kedaulatan Kebudayaan Rakyat

Hersri Setiawan

1. Kebudayaan bukan Anak-Bawang Kehidupan

Walaupun kata benda “kebudayaan” atau “budaya” selalu disebut paling akhir dalam urutan pasangannya, politik-ekonomi-kebudayaan (di jaman penataran Suharto dulu dikenal istilah “ipeloksesbud”), tapi tidak bisa dipungkiri bahwa peranan kebudayaan tidak lebih kecil atau lebih rendah dari kata-kata pasangannya itu.

Contoh: (a) menyadari kekalahannya di Indonesia, Belanda (1950) segera berusaha merebut kembali jajahannya yang hilang dengan jalan ‘penetration pacifique’ dalam bentuk Sticusa dan MMB (Misi Militer Belanda); (b) Gang-4 Ziang Chin mencoba mempertahankan RRT melalui “Revolusi Kebudayaan”. Tapi kedua-duanya gagal. Yang pertama karena perlawanan rakyat, yang kedua karena terlambat diintrodusir. Baca lebih lanjut

Iklan

Antara Mimpi Dan Kenyataan

Hersri Setiawan

Tanggal 25 November 1973 Unit IV Savanajaya secara resmi dibubarkan. Dengan demikian yang selanjutnya ada disana adalah sebuah desa bernama sama, Desa Savanajaya. Sebuah desa yang istimewa. Karena desa ini adalah desa tapol pertama di Indonesia.

Selubung prasasti pendirian desa tapol ini dibuka oleh Jendral M. Panggabean pada 20 Juni 1972. Rombongan pertama keluarga tapol yang dikirim dari Jawa, sebanyak 84 keluarga, memasuki Desa Savanajaya pada 23 Juli 1972. Sejak saat itu, sampai tanggal 25 November 1973 tersebut di atas, Savanajaya ibarat berwajah kembar. Wajah Unit dan Wajah Desa. Penghuninya pun terdiri dari dua golongan: laki-laki tapol tanpa keluarga, dan laki-laki (resminya) eks-tapol beserta anak-isteri yang (dipaksa) menyusul. Golongan tersebut pertama tetap diam di barak-barak tapol, sedangkan yang tersebut belakangan tinggal di rumah-rumah pedesaan. Rumah ini beratap seng, berdinding papan, dengan dua kamar, satu dapur dan ruang depan; dibangun dengan ukuran sama, bentuk sama, dan material bangunan yang juga sama; dikelilingi oleh halaman yang sama luas, dan masing-masing kepala keluarga menerima pembagian sawah dan ladang dengan luas sama pula: 6000 meter persegi sawah basah yang sudah tertanami, dan 4000 meter persegi ladang palawija yang juga sudah tertanami. Sedangkan tapol warga unit tetap ditopang di atas hasil sawah dan ladang lama garapan mereka.

Baca lebih lanjut

Buru Pulau Purgatorio

Hersri Setiawan

          Cerita untuk Rahung Nasution

Buru Pulau Purgatorio 

Sesudah 20 Tahun

1979 – 1999

“DAIHATSU” yang kami tumpangi menuju ke Mako. “Daihatsu” yaitu kendaraan angkutan umum jenis mikrolet, menurut sebutan masyarakat setempat. Yang disebut “Mako” sekarang tetap sama seperti di “Jaman Tapol”. Terletak di pinggir Kali Wai Apo, di antara unit-unit besar Unit I Wanapura dan Unit II Wanareja, di satu titik jalan penyeberangan menuju ke unit-unit hulu.

Fungsi yang diemban Mako sekarang pun mungkin masih sama seperti di Jaman Tapol dulu. Fungsi sebagai Markas Komando. Bedanya cuma dalam penjelasan. Di Jaman Tapol Mako berwenang atas Inrehab Pulau Buru, sedangkan di “Jaman Transmigrasi” wewenang itu atas teritorial yang disebut “Distrik Militer”. Pangkat komandannya pun sama. Di Jaman Tapol Letkol, di Jaman Transmigrasi juga Letkol. Sama seperti Komandan-Komandan Kodim di mana saja di Indonesia.

Mendengar kata “mako”, sesudah 20 tahun masih tetap berlaku itu, sebenarnya aku merasa agak terkejut. Apalagi segera ternyata pula, bahwa bukan istilah “mako” itu saja yang tetap lestari atau dilestarikan. Tetapi juga beberapa istilah-istilah yang lain, seperti misalnya istilah “unit” yang tidak diubah menjadi “desa”; “korve” tidak menjadi “kerja bakti” atau “gotong royong” atau “gugur gunung” (seperti yang terjadi di Jaman Jepang , yang murni fasis-militer). Walaupun penggantian istilah-istilah itu tetap sekedar eufemisme yang menyelubungi kemunafikan sekalipun!

Baca lebih lanjut

Penjara Salemba

Hersri Setiawan

Penjara Salemba, 1966, foto: Co Rentmeester, LIFE.

Penjara Salemba, 1966, foto: Co Rentmeester, LIFE.

RTC Salemba Jakarta

Rumah Penjara (RP) Salemba atau Lembaga Pemasyarakatan (LP) Salemba ialah sebutan awam untuk rumah penjara yang terletak di Jalan Salemba Tengah Jakarta Pusat. Awam lalu biasa menamakan Rumah Penjara atau Lembaga Pemasyarakatan yang terletak di Jalan Salemba ini dengan sebutannya yang lebih singkat, yaitu “Penjara Salemba”.

Pada pagi buta tanggal 1 Oktober 1965 terjadilah peristiwa berdarah di ibukota, yang dipicu oleh gerakan yang menamakan dirinya “Gerakan 30 September”. Enam orang jenderal dan satu orang perwira pertama Angkatan Darat tewas pada peristiwa itu. Pada tanggal 3 Oktober jenazah mereka ditemukan dan diangkat dari sebuah sumur mati di Lubang Buaya, sebuah desa tidak jauh dari lapangan udara AURI, Halim Perdanakusumah, dan bertepatan dengan Hari Angkatan Perang tanggal 5 Oktober 1965 jenazah-jenazah itu dimakamkan di Taman Pahlawan “Kalibata” Jakarta Selatan. Satu-dua hari sesudah itu Jakarta dibersihkan dari “oknum-oknum” G30S, komunis, dan yang dikomuniskan.
Penjara Salemba tiba-tiba menjadi penuh-sesak dengan tahanan politik atau tapol. Barangkali pada saat itu jugalah perbendaharaan kata bahasa Indonesia mendapat satu entri tambahan: “tahanan politik” atau “tapol”. Sudah banyak peristiwa-peristiwa politik sebelumnya, yang mengakibatkan penangkapan dan penahanan terhadap “orang-orang politik” tertentu. Namun mereka itu tidak mendapat sebutan “tahanan politik” atau “tapol”, melainkan disebut dengan menunjuk pada kasus yang melibatkan “orang politik” itu. Misalnya: “Tahanan Digul”, “Tahanan 3 Juli”, “Tahanan DI/TII”, ”Tahanan Madiun” dan sebagainya. Baca lebih lanjut

Kisah KPAA dan Seanteronya dan Genderang Maut Semangat Bandung

Hersri Setiawan


Suatu ketika aku membaca dua tulisan bersambung perihal KPAA (Konperensi Pengarang Asia-Afrika) dari Bung Sobron Aidit dan Bung Z. Afif, baik dari situs jaringan pers sibernetika sana-sini, maupun dari kiriman pribadi penulis-penulis tersebut. Kedua sahabat itu sekarang sudah tidak ada lagi, Bung Afif meninggal di Swedia dan Bung Sobron di Paris.

Tulisan sobat-sobat lama itu bertajuk “Obrolan Malam KPAA”, beredar di orbit jejaring sana-sini pada tanggal 9 dan 10 Februari 2003. Lebih delapan tahun lalu! (artikel ini ditulis ulang 2012). Ketika itu juga aku lalu tergerak untuk ikut ‘buka suara’ barang satu-dua patah kata tentang perihal tersebut dalam tajuk. Tapi sesungguhnya hasratku untuk buka suara barang satu-dua patah kata perihal KPAA ini sudah timbul sebelumnya. Yaitu sekitar tanggal-tanggal dekat sesudah Agam Wispi meneruskan perjalanan kepenyairannya ke alam barzakh. Tanggal ia mulai menapaki lorong perjalanan keabadian itu pada 1 Januari 2003. Baca lebih lanjut

Tefaat Buru Sebagai Antitesis

Hersri Setiawan

Seperti namanya telah menyatakan, Pulau Buru merupakan tempat pemanfaatan (tefaat) tapol. Atau lebih jelas jika dinyatakan secara terbalik: tempat tapol dimanfaatkan. Apabila ketika masih di penjara, tapol hanya dikurung di dalam sel, maka di tempat pemanfaatan ini mereka justru “dilepas”. “Dibiarkan” mereka itu hidup di tengah-tengah keganasan alam, untuk dibebani dengan seribu satu “harus” dan diawasi oleh intaian berpasang-pasang mata sangkur dan laras senjata. Kendati demikian Buru sebagai tempat pemanfaatan lebih memberikan kemungkinan bagi tangan-tangan penciptaan tapol untuk berkiprah. Baca lebih lanjut

Penjara Salemba: Sepanjang Pengalamanku

Hersri Setiawan

Di tengah bangunan penjara Salemba yang berbentuk tapel kuda itu terletak lapangan apel. Di situ lah dilakukan wajib salat jamaah bagi tapol yang Islam pada hari-hari tertentu, misalnya hari Jumat, hari raya kurban, maulid Nabi, lebaran, dan lain-lainnya. Kecuali untuk ibadah dan peringatan keagamaan seperti itu, juga untuk peringatan dan upacara-upacara sekuler. Misalnya wajib apel bendera bagi semua tapol pada hari-hari tertentu, seperti misalnya tanggal tujuh belas setiap bulan, Hari Pahlawan, Hari Abri, Hari Kesaktian Pancasila, dan semacamnya.

Baca lebih lanjut