S. M. Kartosuwiryo, Orang Seiring Bertukar jalan

Oleh: Hersri S dan Joebaar Ajoeb

Marijan. Begitu ia dipanggil ketika masih bocah. Tetapi ketika telah dewasa, di antara umur 40-60 tahun, Marijan lebih dikenal dengan nama Kartosuwiryo. Plus berbagai nama julukan. Ada kalanya, pada masa antara 1950 hingga 1962, koran-koran Indonesia menjulukinya dengan sebutan-sebutan: Gembong Darul Islam (DI), Kepala Gerombolan Tentara Islam Indonesia (TII). Di samping itu ia pun sering disebut sebagai Imam atau Presiden Negara Islam Indonesia (NII), sebuah “negara” yang juga berbentuk republik, Al Jumhuriah. Baca lebih lanjut

Perbanditan dalam Sejarah Jakarta

Resensi

• Judul: Banditry in West Java, 1869-1942 • Penulis: Margreet van Till • Penerjemah: David Mckay dan Beverley Jackson • Penerbit: NUS Press • Cetakan: 2011 • Tebal: x + 282 halaman • ISBN: 978-9971-69-502-6

M. Fauzi

Hingga kini, perbanditan dalam sejarah Indonesia belum banyak menjadi fokus kajian para sejarawan negeri ini. Tema ini seperti terpinggirkan atau berada di luar arus besar historiografi Indonesia.

Buku karya Margreet van Till, Banditry in West Java, 1869-1942, dibuka dengan berita dalam Bataviaasch Niewsblad edisi 5 November 1907 tentang perampokan di suatu rumah di sekitar Kampung Melayu, Jakarta Timur, milik seorang warga Tionghoa pada pukul 9 malam. Berita perampokan tersebut tentu mencemaskan sekaligus menakutkan bagi para pembaca koran dan juga warga sekitar tempat kejadian. Dari sinilah dirangkai kisah tentang perbanditan di Jawa Barat dan Batavia khususnya sepanjang tahun 1869 hingga 1942.

Penulis buku ini menyebut para perampok itu sebagai bandit yang telah mengusik ketenangan warga sekaligus melawan pemerintah kolonial. Kasus-kasus perampokan di Batavia yang dimuat dalam buku ini banyak terjadi di lokasi ommelanden atau wilayah yang berada di luar tembok kota. Ekspansi kapital ke Batavia sejak abad ke-18 menjadi salah satu faktor tumbuhnya kriminalitas di kota tersebut dan sekitarnya. Pusat kekuasaan kolonial Belanda ini, selain menjadi daya tarik pemodal, juga menarik perhatian para bandit. Baca lebih lanjut

Greg Poulgrain

Selamat datang pada Greg Poulgrain yang tanpa ragu turun memasuki sejarah modern Indonesia dengan tesisnya The Genesis of Malaysia Konfrontasi: Brunei and Indonesia, 1945-1965, sebuah hasil studi yang meluas dan terperinci.* Dengan karyanya orang lebih mudah dapat memahami masa peralihan dari apa yang dinamai era Orde Lama ke era Orde Baru, dua era yang bertentangan sudah pada azas dan semangatnya. Era pertama adalah era anti kolonialisme-imperialisme-kapitalisme dengan segala liku dan lekuk dengan berbagai pemain, yang mendukung dan mendongkel. Baca lebih lanjut

Maaf Atas Nama Pengalaman

Jakarta, November 1991

Sejak 17 Agustus 1945 aku menjadi warganegara Indonesia, sebagaimana halnya dengan puluhan juta orang penduduk Indonesia waktu itu. Waktu itu umurku 20. Tetapi aku sendiri berasal dari etnik Jawa, dan begitu dilahirkan dididik untuk menjadi orang Jawa, dibimbing oleh mekanisme sosial etnik ke arah ideal-ideal Jawa, budaya dan peradaban Jawa. Kekuatan pendidikan yang dominan dan massal adalah melalui sastra, lisan dan tulisan, panggung, musik dan nyayian, yang membawakan cuplikan-cuplikan dari Mahabharata: sebuah bangunan raksasa yang terdiri dari cerita falsafi dan tatasusila, acuan-acuan religi, dan dengan sendirinya resep-resep sosial dan politik. Enerzi, dayacipta, pergulatan, telah dikerahkan berabad, melahirkan candi-candi dan mythos tentang para raja yang sukses, dan mendesak dewa-dewa setempat menjadi dewa-dewa kampung. Untuk itu “jutaan” manusia sepanjang sejarah etnikku terbantai. Tentu saja tidak angka resmi bisa ditampilkan. Yang jelas, sejalan dengan pendapat pakar Cornell, Ben Anderson, klimaks Mahabharata adalah “mandi darah saudara-saudara sendiri”. Memang pada jamannya sendiri bangsa-bangsa lain juga pernah mengalami peradaban dan budaya ‘kampung’ demikian. Yang berhasil keluar dari kungkungannya, jadilah bangsa yang merajai dunia. Baca lebih lanjut

Multatuli: Sebuah Kenangan

Pramoedya Ananta-Toer

Multatuli? Ya, kapan nama itu pernah kudengar? Jauh di masa lewat. Semasa kanak-kanak. Aneh kedengarannya.

Tapi kombinasi bunyi dalam namanya membuat aku terus teringat. Soalnya bukan sekali-dua disebut-sebut di rumah oleh para pemuda yang sering datang berkumpul, bermain, dan berdiskusi. Lebih dari namanya yang aneh aku tak tahu sesuatu.

Di rumah kami terdapat perpustakaan yang cukup besar, untuk ukuran kota kecil, dalam keadaan tak terawat, bahkan selalu berantakan. Ayahku, seorang pemilik akte untuk mengajar bahasa Belanda tingkat sekolah rendah, suka memborong buku dan majalah dari rumah para pejabat Belanda yang dilelang barang-barangnya menghadapi kepindahan. Dia tidak pernah mendongeng padaku tentang Multatuli, biar pun dalam perpustakaan terdapat beberapa jilid karyanya. Ibuku, yang menelan buku Belanda dan Melayu – ia tidak membaca Jawa – juga tidak pernah. Baca lebih lanjut

Jang Harus Dibabat dan Harus Dibangun

Bintang Timur, 10 Aug, 1 Sept, 7 Sept, 12 Okt 1962

Jang Harus Dibabat Dan Harus Dibangun

Pramoedya Ananta-Toer

Tahun 1953, atau 10 th. jl, merupakan perkisaran jang penting terutama dalam dunia sastra Indonesia. Pada th. itu nampak benar berapa galangan jang dengan penuh kesabaran dibangunkan oleh Sticusa, bagian demi bagian mulai berhasil. Pemerintah Belanda jang mulai ragu2 tentu manfaat kerdja Sticusa bagi keuntungan keuangan diwaktu dekat mendatang dengan gopahgapah hendak menarik djatah dana dari Dana Bernhard ke pada Sticusa. Sebaliknja, Sticusa, jang dipimpin oleh para bekas residen atau asisten residen serta orang2 dari bekas kabinet van Mook, mengerti benar, bahwa ikatan- batin dengan golongan intelektual Indonesia harus dipelihara dan diselamatkan, buat menjelamatkan hubungan ekonomi dan djuga politik dengan negeri bekas djadjahan, jang dalam keadaan bagaimanapun harus tetap bisa memberikan keuntungan moril dan materiil bagi Belanda. Baca lebih lanjut