Sastra Eksil Indonesia[1]

Hersri Setiawan

Situasi dan Kondisi

Sastra Eksil Indonesia[1]

hersri setiawan

kata kunci: Indonesia, kesatuan politik, eksil politik, identitas, perang sejarah

Sastra eksil Indonesia ialah karya sastra orang-orang eksil Indonesia. Siapakah mereka itu? Mereka adalah orang-orang Indonesia yang terpaksa tidak bisa pulang kembali ke Indonesia karena situasi politik pada tahun 1965, khususnya mereka yang bermukim di Eropa Barat, dan lebih khusus lagi yang di Belanda. Situasi politik yang saya maksud ialah perubahan pemerintahan secara drastis dari pemerintahan sipil ke pemerintahan di bawah kekuasaan militer. Keadaan ini terjadi sejak sekitar kuartal pertama tahun 1966, yang diawali dengan apa yang dinamakan ‘Peristiwa G30S’ tahun 1965. Terhambatnya warga Indonesia tidak bisa kembali ke tanah air, dan harus hidup dari satu negeri ke negeri lain, oleh mantan Presiden Abdulrachman Wahid alias Gus Dur menamai orang-orang eksil Indonesia sebagai ‘orang-orang yang terhalang pulang’ atau ‘orang-orang klayaban’. Baca lebih lanjut

Wiji Thukul: Hanya Ada Satu Kata, Hilang!

Kau lempar aku dalam gelap
Hingga hidupku menjadi gelap
Kau siksa aku sangat keras
Hingga aku makin mengeras
Kau paksa aku terus menunduk
Tapi keputusan tambah tegak
Darah sudah kau teteskan
Dari bibirku
Luka sudah kau bilurkan
Ke sekujur tubuhku
Cahaya sudah kau rampas
Dari biji mataku
Derita sudah naik seleher
Kau menindas
Sampai
Di luar batas
Wiji Thukul,17 November 1996 Baca lebih lanjut

Menunggu Thukul Pulang

Hanya ada satu kata: lawan!

Oleh: Gita Widya Laksmini

TANPA terasa lima tahun berlalu sudah dari Peristiwa 27 Juli 1996, ketika markas besar Partai Demokrasi Indonesia (PDI) diserbu polisi, tentara, dan massa bayaran. Salah satu lembar sejarah Indonesia ini tercoreng tinta hitam saat terjadi pengambilalihan sekretariat PDI yang diikuti pengrusakan dan pembakaran. Berdasarkan laporan Komisi Nasional Hak-hak Asasi Manusia pada Oktober 1996, tercatat lima orang meninggal dunia, 149 luka-luka, dan 23 orang hilang. Salah seorang yang tak kunjung pulang adalah Wiji Thukul. Baca lebih lanjut

Seorang Kawan, Wiji Thukul

Linda Christanty

Seorang Kawan, Wiji Thukul

Situasi pasca pemilihan umum disambung krisis ekonomi membuat Jakarta terus memanas sampai November 1997 itu. Telepon tiba-tiba berdering dan seseorang di seberang sana berbicara dengan tergesa-gesa, “Linda, aku minta izin pulang ke Solo dulu, ya.” Dia adalah Wiji Thukul. Kalimat tersebut menjadi kalimat terakhirnya untuk saya, sebelum ia dinyatakan hilang bersama sejumlah aktivis politik yang diculik militer hampir tiga tahun lalu. Baca lebih lanjut

S.W. Kuncahyo (1928-1999)

Hersri Setiawan

S.W. Kuncahyo (1928-1999)

sehelai surat tentang perginya seorang kawan

KEMARIN menjelang senja seorang kawan menelponku: kabar duka. Bung Kuncahyo meninggal tanggal 9 Juli pagi hari di Malang Jawa Timur, oleh sakit hati parah (lever akut) yang telah lama dideritanya. Aku tidak pernah mendengar berita ia sakit. Apalagi sakit lever akut! Sejak aku kenal dekat dengannya, penyakit Mas Kun – begitu aku dulu biasanya menyapanya – yang menahun dideritanya ialah penyakit asma. Nama Sri Wisnukuncahyo sudah aku kenal jauh sebelum kukenali pribadinya dalam awal 60-an. Ia diperkenalkan sebagai sastrawan oleh Ibu Nursyamsu, guru sastraku ketika di SMP, sebagai kawan pengarang seangkatannya – angkatan sesudah perang atau kemudian dinamai “Angkatan 45”. Baca lebih lanjut

Where is Wiji Thukul?

Where is Wiji Thukul?
The dreadful silence of an outspoken poet

Richard Curtis

Wiji Thukul wrestled with the daily realities of poverty and violence. During the late New Order he was acknowledged as one of Indonesia’s best poets, and he remains a standard bearer for radical grass roots democratic change. His celebrated catch cry, Hanya satu kata: Lawan! (There’s only one word: Resist!) is taken from his poem, Peringatan (Warning, 1986). Striking workers and protesting students still use it. It seems incongruous that till recently little was done to investigate the mysterious disappearance two years ago of this important contributor to Indonesia’s democratic movement. Baca lebih lanjut