Nasehat Oentoek Ambtenaren

Mas Marco Kartodikromo

(Sinar Hindia, no. 190. Hari Saptoe 21 September 1918, tahoen ke 19)

Sebagai toean pembatja makloem, didalam Sinar hari Kemis 19/9/18 ada soerat kiriman dari seorang perampoean istri Mantri Politie: Raden Ajoe Mohamad Soeprapto gebooren Soewardi di Ambarawa, soerat mana jang semata mata membela soeaminja. Inilah soedah menoendjoekkan, bahwa fihak kita perampoean sekarang ini soedah soeka toeroet tjampoer kepada perkara perkara jang dioeroes fihak lelaki. Saja taoe, bila R.A. Moh Soeprapto, seorang dari fehak perampoean, jang mengerti djalannja doenia kemadjoean, jaitoe memehak kepada bangsa kita ini waktoe baroe di Indjak indjak dan diperas oleh bangsa bangsa jang boeas. Tetapi …. Ja pembatja ada tetapinja, apakah R.A. Moh Soeprapto itoe sekarang bergerak dilapang journalistiek tjoema hanja memehak soeaminja atau akan membela kagoenaan oemoem? Inilah misih mendjadi pertanjaan. Baca lebih lanjut

Apakah Pabrik Goela Itoe Ratjoen Boeat Bangsa Kita?!

Mas Marco Kartodikromo

(Sinar Djawa, Hari Selasa 26 Maart 1918, no. 71, tahoen ke-19)

Toean H.E.B. SCHMALHAUSEN, pensioenan Assistent Resident di tanah Djawa boekoenja jang dikasih nama OVER JAVA EN DE JAVANEN, betapakah sangsaranja bangsa kita orang desa jang tanahnja sama disewa pabrik. Disini kami tidak perloe lagi menerangkan lebih pandjang tentang isinja boekoe jang terseboet di atas, tetapi kami hendak memboeka adoean beberapa orang desa jang sawahnja disewa oleh pabrik goela. Sampai sekalian pembatja telah menaksikan sendiri, ditanah kita inilah penoeh dengan pabrik2 goela dan berdjoeta djoeta roepiah pabrik itoe bisa tarik keoentoengan. Kalau hal itoe dipikir dengan hati jang soetji, orang tentoe bisa berkata, bila kaoentoengan sebesar itoe kakajaan bangsa kita orang desa jang mempoenjai sawah disewa pabrik. Dari itoe tidak salah lagi kalau ada jang berkata; Dimana ada pabrik goela, tembako, nila enz enz. Disitoelah orangnja desa ronkang rangkeng! Meskipoen kami mengerti bahwa kapitalisme dan regeering itoe sasoenggoehnja djadi satoe badan, tetapi disini kami hendak mengoeraikan dengan tjara jang baik, djoega dengan sangat pengharapan kita soepaja pamerintah soedi memperhatikan toelisan kami ini, agar soepaja bangsa kita saudara desa tidak terlaloe sangat mendapat tindesan dari pabrik-pabrik goela. Baca lebih lanjut

Djangan Takoet

Mas Marco Kartodikromo

(Sinar Djawa, Kamis 11 April 1918, No. 82)

Soenggoehpoen amat berat orang bergerak memihak kepada orang jang lemah (orang jang tertindas), lihatlah adanja pemogokan jang beroelang oelang diwartakan dalam Sinar ini. Di sitoe soedah menoendjoekkan bilangannja berpoeloeh-poeloeh korban itoe pemogokan, inilah memang soedah seharoesnja. Sebab melawan kaoem jang mempoenjai pabrik pabrik itoe sama artinja dengan melawan pemerentah jang tidak adil. Kalau kami menilai hal itoe saja laloe ingat boenjinja boekoe: “Om leven en vrijheid” dan “Zes maanden onder de commando’s, boekoe-boekoe itoe menoendjoekkan betapa haibatnja peperangan antara orang Inggris dan orang Belanda (booren) ada di Zuid-Afrika. Karena pada masa itoe orang-orang jang ada di Zuid-Afrika (Kaapstad, Bloemfontein enz) merasa dihinakan oleh pemerentah Inggris. Lantaran hal ini, maka di sitoe timboellah peperangan soeara (soerat kabar) jaitoe fehaknja Pemerentah dan fehaknja ra’jat. Tida djarang lagi kalau pada itoe waktoe Pemerentah Inggris memberi bantoean beberapa soerat kabar jang terbit di Zuid Afrika, soepaja soerat-soerat kabar itoe bisa memehak kepada Pemerentah Inggris. Barangkali Pemerentah sendiri djoega membikin soerat kabar, sengadja diboeat melawan soeara ra’jat, inilah soedah boleh ditentoekan. Toean pembatja kami kira bisa mengira sendiri, seberapa beratkah pikoelan Redacteur-Redacteur itoe jang memehak kepada ra’jat di dalam itoe djaman peperangan soeara di Zuid Afrika? Walaupoen begitoe, banjak anak anak moeda jang dengan soekanja sendiri toeroet membantoe itoe soerat kabarnja ra’jat, meskipoen dia tahoe djoega, bahwa bantoeannja itoe hanja kekoeatan jang ketjil sekali. Tetapi kekoeatan ketjil itoe kalau bertimboen-timboen djadi kekoeatan jang besar! Baca lebih lanjut

Orang-Orang Kita di Jakarta

Oleh: Allan Nairn

The Nation (USA), 15/22 Juni 1998

Pada saat kediktatoran Suharto tumbang secara tiba-tiba pada tanggal 21 Mei, ABRI gelagapan mencoba mempertahankan negara polisi mereka. Ketimbang membiarkan Suharto turun oleh protes massa yang dijadwalkan bermunculan di jalanan, Panglima ABRI Jendral Wiranto mengancam para mahasiswa dengan kemungkinan serangan ala “Tiananmen”, dan kemudian membujuk Suharto untuk mundur dengan tenang. Baca lebih lanjut

Mereka yang “Hilang” di Indonesia

Oleh: Allan Nairn

The Nation (USA), 8 Juni 1998

Pada tanggal 20 Mei, ketika isyu beredar bahwa Jendral Suharto akan turun dan puluhan ribu demonstran menunjukkan tanda-tanda tidak akan menerima janji-janjinya tentang “transisi”, panser bergerak menyebar di seluruh penjuru ibukota dan para jendral memamerkan kekuasaannya. Minggu ini Allan Nairn menyajikan laporan tentang satu aspek baru dalam hal kesepakatan antara pemerintah Amerika Serikat dan angkatan bersenjata yang mendukung sang diktator.

— Editor

———————————-

Pada musim semi ini, sesaat sebelum Jakarta meledak oleh berbagai kerusuhan, puluhan aktifis pro demokrasi Indonesia tiba-tiba “menghilang” dari Jakarta dan beberapa kota lainnya. Di tengah-tengah gencarnya protes masyarakat, pihak ABRI demikian juga wakil pemerintah Amerika Serikat menyatakan bahwa mereka tidak tahu menahu tentang penculikan tersebut. Mereka bahkan turut mendukung tuntutan masyarakat supaya diadakan investigasi terhadap kasus hilangnya para aktifis ini. Baca lebih lanjut

Proses Pembentukan Bahasa Nasional Indonesia

Oleh: Hersri Setiawan

Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu yang berakar di pantai timur Sumatera. Karena sejarah perkembangan kehidupan ekonomi, bahasa Melayu kemudian mampu memperluas batas-batas wilayahnya sendiri dari batas-batas regional menjadi batas nasional, dan atas dasar itu bahasa Melayu diperkaya baik dalam logat atau dialek maupun dalam peristilahan, idiom dan sintaksis. Dalam perkembangannya kemudianbahasa Melayu sebagai lingua-franca tidak sekedar mendukung peranan ekonomis saja, tetapi juga peranan-peranan sosio-kultural dan politik, akhirnya tumbuh sebagai lingua-franca bagi seluruh nasion Indonesia. Baca lebih lanjut

Abad Revolusi I: Abad siapa? Milenium siapa?

Refleksi atas zaman kita

Aijaz Ahmad

Ada banyak ciri dari peradaban modern, yang postif maupun yang destruktif, yang khas abad ke-20, baik karena ciri-ciri tersebut tidak ada di masa lalu, atau yang lebih lazim, karena ciri-ciri ini telah berubah di luar yang kita bayangkan. Kebanyakan narasi mengedepankan persoalan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang asalnya bukan abad ini tetapi telah mengubah kumulatif seluruh pola keberadaan manusia dengan cara-cara yang tak terbayangkan pada akhir abad sebelumnya. Misalnya dikemukakan bahwa pada abad ke-20 terjadi perkembangan besar kekuatan-kekuatan produksi, yang menghasilkan peningkatan besar kapasitas umat manusia untuk memproduksi kekayaan, yang lebih besar daripada seluruh abad dan milenia sebelumnya. Perubahan teknologi yang pesat ini jelas terlihat dalam produksi industri dan teknologi informasi; bahkan dalam pertanian perubahannya begitu dramatis sehingga kaum tani dalam pengertian lama, pertanian pemenuhan kebutuhan sendiri dan produksi untuk digunakan secara lokal dengan alat-alat bukan industri, sekarang di sebagian terbesar dunia sedang menghilang. Pada ujung lain pencapaian ini, aspek destruktif teknologi mendatangkan ancaman pada lingkungan alam, yang untuk pertama kali dalam sejarah umat manusia, sehingga tidak jelas apakah spesies, ataukah planet itu sendiri, bisa selamat dari kehancuran. Baca lebih lanjut