Membangun Kedaulatan Kebudayaan Rakyat

Hersri Setiawan

1. Kebudayaan bukan Anak-Bawang Kehidupan

Walaupun kata benda “kebudayaan” atau “budaya” selalu disebut paling akhir dalam urutan pasangannya, politik-ekonomi-kebudayaan (di jaman penataran Suharto dulu dikenal istilah “ipeloksesbud”), tapi tidak bisa dipungkiri bahwa peranan kebudayaan tidak lebih kecil atau lebih rendah dari kata-kata pasangannya itu.

Contoh: (a) menyadari kekalahannya di Indonesia, Belanda (1950) segera berusaha merebut kembali jajahannya yang hilang dengan jalan ‘penetration pacifique’ dalam bentuk Sticusa dan MMB (Misi Militer Belanda); (b) Gang-4 Ziang Chin mencoba mempertahankan RRT melalui “Revolusi Kebudayaan”. Tapi kedua-duanya gagal. Yang pertama karena perlawanan rakyat, yang kedua karena terlambat diintrodusir. Baca lebih lanjut

Iklan

Pidato Albert Parsons, salah satu tokoh perlawanan Haymarket

(Di Pemogokan Besar Rel KA di Martinsburg, West Virginia, 23 Juli 1877)

 

albert parsons

Kita berkumpul di sini sebagai pasukan kelaparan yang megah. Kawan-kawan buruh, mari kita mengingat kembali bahwa di republik yang telah diwariskan oleh para pendahulu kita sejak 1776, bahwa saat kita masih memiliki republik kita punya harapan. Rakyat Amerika merunduk dengan rasa malu dan lapar. Ketika aku mengatakan rakyat Amerika, yang kumaksud adalah tulang punggung negeri ini – mereka yang mengolah tanah, yang menjalankan mesin, yang menenun benang dan menjaga punggung orang-orang beradab. Kita adalah bagian dari orang-orang tersebut.

Kita berkumpul di sini malam ini untuk menimbang keadaan kita. Kita berkumpul bersama malam ini, jika mungkin, untuk menemukan cara-cara yang dapat mengusir kemuraman raya yang menyelubungi republik kita, dengan harapan sekali lagi cahaya kebahagiaan dapat ditebarkan pada wajah bumi yang luas ini.

Masa-masa menyenangkan tak akan pernah datang ke negeri ini kecuali jika penganggur memperoleh pekerjaan. Apa yang dapat kita lakukan dengan para penganggur? Apakah kita akan mencomot dan menembak mereka? Apakah kita akan membiarkan mereka mati begitu saja? Baca lebih lanjut

Sehari Saja Kawan

Gambar

 

(masih Wiji Thukul!)

Satu kawan bawa tiga kawan
Masing-masing nggandeng lima kawan
Sudah berapa kita punya kawan

Satu kawan bawa tiga kawan
Masing-masing bawa lima kawan
Kalau kita satu pabrik bayangkan kawan

Kalau kita satu hati kawan
Satu tuntutan bersatu suara
Satu pabrik satu kekuatan
Kita tak mimpi kawan!

Kalau satu pabrik bersatu hati
Mogok dengan seratus poster
Tiga hari tiga malam
Kenapa tidak kawan

Kalau satu pabrik satu serikat buruh
Bersatu hati
Mogok bersama sepuluh daerah
Sehari saja kawan
Sehari saja kawan

Sehari saja kawan
Kalau kita yang berjuta-juta
Bersatu hati mogok
Maka kapas tetap terwujud kapas
Karena mesin pintal akan mati
Kapas akan tetap berwujud kapas
Tidak akan berwujud menjadi kain
Serupa pelangi pabrik akan lumpuh mati

Juga jalan-jalan
Anak-anak tak pergi sekolah
Karena tak ada bis
Langit pun akan sunyi
Karena mesin pesawat terbang tak berputar
Karena lapangan terbang lumpuh mati

Sehari saja kawan
Kalau kita mogok kerja
Dan menyanyi dalam satu barisan
Sehari saja kawan
Kapitalis pasti kelabakan!!

(12-11-94)

Satu Mimpi Satu Barisan

buruh indonesia_1

Oleh: Wiji Thukul

di lembang ada kawan sofyan
jualan bakso kini karena dipecat perusahaan
karena mogok karena ingin perbaikan
karena upah ya karena upah

di ciroyom ada kawan sodiyah
si lakinya terbaring di amben kontrakan
buruh pabrik teh
terbaring pucet dihantam tipes
ya dihantam tipes
juga ada neni
kawan bariyah
bekas buruh pabrik kaos kaki
kini jadi buruh di perusahaan lagi
dia dipecat ya dia dipecat
kesalahannya : karena menolak
diperlakukan sewenang-wenang

di cimahi ada kawan udin buruh sablon
kemarin kami datang dia bilang
umpama dironsen pasti nampak
isi dadaku ini pasti rusak
karena amoniak ya amoniak

di cigugur ada kawan siti
punya cerita harus lembur sampai pagi
pulang lunglai lemes ngantuk letih
membungkuk 24 jam
ya 24 jam

di majalaya ada kawan eman
buruh pabrik handuk dulu
kini luntang lantung cari kerjaan
bini hamil tiga bulan
kesalahan : karena tak sudi
terus diperah seperti sapi

dimana-mana ada sofyan ada sodiyah ada bariyah
tak bisa dibungkam kodim
tak bisa dibungkam popor senapan
di mana-mana ada neni ada udin ada siti
di mana-mana ada eman
di bandung – solo – jakarta – tangerang
tak bisa dibungkam kodim
tak bisa dibungkam popor senapan

satu mimpi
satu barisan

Bandung, 21 mei 92

buruh-produksi-kayu-karet-300x150

Satu Mei, Buruh dan Delapan Jam Kerja

may-day-vs-labor_1367138224

“Kalau yang menjadi seorang Revolusionis adalah kaum intelektual, tidak akan dianggap kejahatan. Tetapi kalau yang menjadi seorang Revolusionis ternyata kaum miskin, itu akan dijadikan kejahatan.” – Samuel Fielden (pejuang Haymarket)

“Dari kematian perbudakan satu kehidupan baru bangkit seketika. Buah pertama Perang Sipil adalah agitasi delapan-jam.” — Karl Marx

“Sesungguhnya, sejarah mengandung banyak kisah yang memperlihatkan kepada kita akar dari radikalisme kita. Ketika kita mengenang bahwa orang ditembak supaya kita dapat memperoleh 8-jam hari kerja; jika kita mengetahui bahwa rumah-rumah dengan keluarga yang berdiam di dalamnya dibakar habis agar kita dapat menikmati Sabtu sebagai hari libur di akhir pekan; ketika kita mengingat para korban kecelakaan kerja berusia 8 tahun yang ikut berderap di jalan memrotes keadaan kerja dan buruh anak lalu dipukuli polisi dan preman-preman pabrik, kita memahami bahwa kita tidak dapat menganggap keadaan kita sekarang sebagai sesuatu yang sudah selayaknya kita miliki – orang-orang berjuang untuk hak-hak dan martabat yang kita nikmati hari ini, dan masih banyak lagi yang harus diperjuangkan. Pengorbanan begitu banyak orang tidak dapat dilupakan begitu saja atau kita akan kembali harus bertarung untuk merebut yang sudah kita peroleh sekarang. Karena itulah kita merayakan May Day!   — Eric Chase (IWW, 1993)

Baca lebih lanjut

Memperkuat Barisan Buruh Indonesia

153370_peringatan-hari-buruh_663_382

Hari ini, 1 Mei, rakyat Indonesia merayakan Hari Buruh Se-Dunia. Konteks perayaan Hari Buruh kali ini agak khusus. Untuk pertama kalinya dalam sejarah sejak Orde Baru berkuasa pada 1966 dan 15 tahun reformasi, Hari Buruh kembali menjadi hari libur nasional. Menariknya, ketika pemerintah memutuskan Hari Buruh sebagai hari libur setahun berselang, itu adalah tuntutan paling belakang dari rangkaian perjuangan kaum buruh di Indonesia. Tuntutan utama perjuangan kaum buruh, yaitu penghapusan sistem rekrutmen alih daya, dan/atau sistem pemborongan pekerjaan (outsourcing), tidak sepenuhnya dilaksanakan oleh pemerintah. Kendati ada Peraturan Menteri Tenaga Kerja untuk membatasi pelaksanaan outsourcing namun tidak kelihatan jelas pelaksanaannya. Hampir tidak ada sanksi memaksa bagi perusahaan-perusahaan yang memberlakukan sistem rekrutmen tersebut sehingga sistem itu masih berjalan dengan selamat di negeri ini walaupun kaum buruh terus melancarkan perlawanan. Baca lebih lanjut

Kisah KPAA dan Seanteronya dan Genderang Maut Semangat Bandung

Hersri Setiawan


Suatu ketika aku membaca dua tulisan bersambung perihal KPAA (Konperensi Pengarang Asia-Afrika) dari Bung Sobron Aidit dan Bung Z. Afif, baik dari situs jaringan pers sibernetika sana-sini, maupun dari kiriman pribadi penulis-penulis tersebut. Kedua sahabat itu sekarang sudah tidak ada lagi, Bung Afif meninggal di Swedia dan Bung Sobron di Paris.

Tulisan sobat-sobat lama itu bertajuk “Obrolan Malam KPAA”, beredar di orbit jejaring sana-sini pada tanggal 9 dan 10 Februari 2003. Lebih delapan tahun lalu! (artikel ini ditulis ulang 2012). Ketika itu juga aku lalu tergerak untuk ikut ‘buka suara’ barang satu-dua patah kata tentang perihal tersebut dalam tajuk. Tapi sesungguhnya hasratku untuk buka suara barang satu-dua patah kata perihal KPAA ini sudah timbul sebelumnya. Yaitu sekitar tanggal-tanggal dekat sesudah Agam Wispi meneruskan perjalanan kepenyairannya ke alam barzakh. Tanggal ia mulai menapaki lorong perjalanan keabadian itu pada 1 Januari 2003. Baca lebih lanjut