Antara Mimpi Dan Kenyataan

Hersri Setiawan

Tanggal 25 November 1973 Unit IV Savanajaya secara resmi dibubarkan. Dengan demikian yang selanjutnya ada disana adalah sebuah desa bernama sama, Desa Savanajaya. Sebuah desa yang istimewa. Karena desa ini adalah desa tapol pertama di Indonesia.

Selubung prasasti pendirian desa tapol ini dibuka oleh Jendral M. Panggabean pada 20 Juni 1972. Rombongan pertama keluarga tapol yang dikirim dari Jawa, sebanyak 84 keluarga, memasuki Desa Savanajaya pada 23 Juli 1972. Sejak saat itu, sampai tanggal 25 November 1973 tersebut di atas, Savanajaya ibarat berwajah kembar. Wajah Unit dan Wajah Desa. Penghuninya pun terdiri dari dua golongan: laki-laki tapol tanpa keluarga, dan laki-laki (resminya) eks-tapol beserta anak-isteri yang (dipaksa) menyusul. Golongan tersebut pertama tetap diam di barak-barak tapol, sedangkan yang tersebut belakangan tinggal di rumah-rumah pedesaan. Rumah ini beratap seng, berdinding papan, dengan dua kamar, satu dapur dan ruang depan; dibangun dengan ukuran sama, bentuk sama, dan material bangunan yang juga sama; dikelilingi oleh halaman yang sama luas, dan masing-masing kepala keluarga menerima pembagian sawah dan ladang dengan luas sama pula: 6000 meter persegi sawah basah yang sudah tertanami, dan 4000 meter persegi ladang palawija yang juga sudah tertanami. Sedangkan tapol warga unit tetap ditopang di atas hasil sawah dan ladang lama garapan mereka.

Baca lebih lanjut

Iklan

Buru Pulau Purgatorio

Hersri Setiawan

          Cerita untuk Rahung Nasution

Buru Pulau Purgatorio 

Sesudah 20 Tahun

1979 – 1999

“DAIHATSU” yang kami tumpangi menuju ke Mako. “Daihatsu” yaitu kendaraan angkutan umum jenis mikrolet, menurut sebutan masyarakat setempat. Yang disebut “Mako” sekarang tetap sama seperti di “Jaman Tapol”. Terletak di pinggir Kali Wai Apo, di antara unit-unit besar Unit I Wanapura dan Unit II Wanareja, di satu titik jalan penyeberangan menuju ke unit-unit hulu.

Fungsi yang diemban Mako sekarang pun mungkin masih sama seperti di Jaman Tapol dulu. Fungsi sebagai Markas Komando. Bedanya cuma dalam penjelasan. Di Jaman Tapol Mako berwenang atas Inrehab Pulau Buru, sedangkan di “Jaman Transmigrasi” wewenang itu atas teritorial yang disebut “Distrik Militer”. Pangkat komandannya pun sama. Di Jaman Tapol Letkol, di Jaman Transmigrasi juga Letkol. Sama seperti Komandan-Komandan Kodim di mana saja di Indonesia.

Mendengar kata “mako”, sesudah 20 tahun masih tetap berlaku itu, sebenarnya aku merasa agak terkejut. Apalagi segera ternyata pula, bahwa bukan istilah “mako” itu saja yang tetap lestari atau dilestarikan. Tetapi juga beberapa istilah-istilah yang lain, seperti misalnya istilah “unit” yang tidak diubah menjadi “desa”; “korve” tidak menjadi “kerja bakti” atau “gotong royong” atau “gugur gunung” (seperti yang terjadi di Jaman Jepang , yang murni fasis-militer). Walaupun penggantian istilah-istilah itu tetap sekedar eufemisme yang menyelubungi kemunafikan sekalipun!

Baca lebih lanjut

Penjara Salemba

Hersri Setiawan

Penjara Salemba, 1966, foto: Co Rentmeester, LIFE.

Penjara Salemba, 1966, foto: Co Rentmeester, LIFE.

RTC Salemba Jakarta

Rumah Penjara (RP) Salemba atau Lembaga Pemasyarakatan (LP) Salemba ialah sebutan awam untuk rumah penjara yang terletak di Jalan Salemba Tengah Jakarta Pusat. Awam lalu biasa menamakan Rumah Penjara atau Lembaga Pemasyarakatan yang terletak di Jalan Salemba ini dengan sebutannya yang lebih singkat, yaitu “Penjara Salemba”.

Pada pagi buta tanggal 1 Oktober 1965 terjadilah peristiwa berdarah di ibukota, yang dipicu oleh gerakan yang menamakan dirinya “Gerakan 30 September”. Enam orang jenderal dan satu orang perwira pertama Angkatan Darat tewas pada peristiwa itu. Pada tanggal 3 Oktober jenazah mereka ditemukan dan diangkat dari sebuah sumur mati di Lubang Buaya, sebuah desa tidak jauh dari lapangan udara AURI, Halim Perdanakusumah, dan bertepatan dengan Hari Angkatan Perang tanggal 5 Oktober 1965 jenazah-jenazah itu dimakamkan di Taman Pahlawan “Kalibata” Jakarta Selatan. Satu-dua hari sesudah itu Jakarta dibersihkan dari “oknum-oknum” G30S, komunis, dan yang dikomuniskan.
Penjara Salemba tiba-tiba menjadi penuh-sesak dengan tahanan politik atau tapol. Barangkali pada saat itu jugalah perbendaharaan kata bahasa Indonesia mendapat satu entri tambahan: “tahanan politik” atau “tapol”. Sudah banyak peristiwa-peristiwa politik sebelumnya, yang mengakibatkan penangkapan dan penahanan terhadap “orang-orang politik” tertentu. Namun mereka itu tidak mendapat sebutan “tahanan politik” atau “tapol”, melainkan disebut dengan menunjuk pada kasus yang melibatkan “orang politik” itu. Misalnya: “Tahanan Digul”, “Tahanan 3 Juli”, “Tahanan DI/TII”, ”Tahanan Madiun” dan sebagainya. Baca lebih lanjut

States of Emergency by Hilmar Farid (2013 IACS Conference – Plenary #3)

EventURL: http://www.ari.nus.edu.sg/events_categorydetails.asp?categoryid=6&eventid=1337

Date : 05 July 2013

Venue : LT8, NUS at Kent Ridge Campus

Organiser : organised by Inter-Asia Cultural Studies Society, Asia Research Institute, & Faculty of Arts and Social Sciences, NUS

Synopsis : Plenary #3 States of Emergency by Hilmar Farid, 05 July 2013

IACS Conference 2013

The general theme of the 2013 conference is “Beyond the Culture Industry”. In the past two decades, the cultural sphere of rising Asian economies has increasingly shifted from being marked by the politics of authoritarianism and democratization to being pervaded by the market logic of deepening capitalism. The development of Asian culture industries has come under increasing scrutiny in cultural studies. However, we note that the emphases have been on the cultural policy of developmental states and the production of the cultural economy. For the 2013 conference, we seek to move beyond these emphases and inquire into the politics of culture that accompanies the neoliberalization of the cultural sphere.

Tefaat Buru Sebagai Antitesis

Hersri Setiawan

Seperti namanya telah menyatakan, Pulau Buru merupakan tempat pemanfaatan (tefaat) tapol. Atau lebih jelas jika dinyatakan secara terbalik: tempat tapol dimanfaatkan. Apabila ketika masih di penjara, tapol hanya dikurung di dalam sel, maka di tempat pemanfaatan ini mereka justru “dilepas”. “Dibiarkan” mereka itu hidup di tengah-tengah keganasan alam, untuk dibebani dengan seribu satu “harus” dan diawasi oleh intaian berpasang-pasang mata sangkur dan laras senjata. Kendati demikian Buru sebagai tempat pemanfaatan lebih memberikan kemungkinan bagi tangan-tangan penciptaan tapol untuk berkiprah. Baca lebih lanjut

Penjara Salemba: Sepanjang Pengalamanku

Hersri Setiawan

Di tengah bangunan penjara Salemba yang berbentuk tapel kuda itu terletak lapangan apel. Di situ lah dilakukan wajib salat jamaah bagi tapol yang Islam pada hari-hari tertentu, misalnya hari Jumat, hari raya kurban, maulid Nabi, lebaran, dan lain-lainnya. Kecuali untuk ibadah dan peringatan keagamaan seperti itu, juga untuk peringatan dan upacara-upacara sekuler. Misalnya wajib apel bendera bagi semua tapol pada hari-hari tertentu, seperti misalnya tanggal tujuh belas setiap bulan, Hari Pahlawan, Hari Abri, Hari Kesaktian Pancasila, dan semacamnya.

Baca lebih lanjut