Ajo Boeng!

Poster 'Ajo Boeng!' pada sebuah gedung di Jakarta, 1945. (foto: John Florea/ LIFE)


Pada suatu ketika para seniman, yang dahulu di jaman Jepang berada di dalam wadah “Putera” (Pusat Tenaga Rakyat), melalui S.Sudjojono menerima anjuran Bung Karno, Ketua “Putera”. Yaitu untuk membuat satu poster guna menggugah semangat pemuda. Singkat kata poster yang menggambarkan tangan mengepal tinju lukisan Affandi itu rampunglah sudah. Sudjojono juga sudah beres dengan tata letak yang dirancangkannya. Tinggal menunggu kata-kata yang singkat sesingkat-singkatnya, dan padat sepadat-padatnya. Padat dengan makna dan semangat pemuda yang gandrung perubahan. Selagi mata mereka berdua kelap-kelop mencari kata-kata yang belum kunjung terlintas di kepala, masuklah Chairil dan Basuki Resobowo. Baca lebih lanjut

Semsar Siahaan (1952-2005): Gambar-Gambar Hitam Putih (4)

Semsar Siahaan (1952-2005): Gambar-Gambar Hitam Putih (3)

Semsar Siahaan (1952-2005): Gambar-Gambar Hitam Putih (2)

Tuan2 Besar yth.

Sudah saatnya kegiatan Seni Rupa dan akademinya turun ke tingkat Masyarakat Dominan Indonesia (Tani & Nelayan).

Bergaul dalam kesederhanaan tanpa mimpi (onani). Realitas lebih menjadi tuntutan kaum Akademis Keseni Rupaan, demi Citra kemakmuran Bangsa Indonesia yang utuh dan layak.

(Semsar)

Semsar Siahaan (1952-2005): Gambar-Gambar Hitam Putih (1)

Kesenian telah memasuki era baru. Situasinya adalah cerminan cengkraman ekspansi global kapitalisme dan situasi itu memanggil kaum seniman sedunia untuk membangun ikatan kerjasama, kolaborasi antar urban, kolaborasi antar budaya lokal. Itulah kolaborasi kesenian masyarakat terpinggirkan oleh dampak globalisasi.

Maksud dan tujuan dari Seni dan Ber-Kesenian adalah mempersatukan di dalam kebersamaan, sehingga kita menyongsong Solidaritas Rakyat Global demi Kesetaraan, Keadilan dan Persaudaraan.

Semsar Siahaan

21 Juli ’04

(katalog The Shade of Northern Lights)