Satu Mimpi Satu Barisan

buruh indonesia_1

Oleh: Wiji Thukul

di lembang ada kawan sofyan
jualan bakso kini karena dipecat perusahaan
karena mogok karena ingin perbaikan
karena upah ya karena upah

di ciroyom ada kawan sodiyah
si lakinya terbaring di amben kontrakan
buruh pabrik teh
terbaring pucet dihantam tipes
ya dihantam tipes
juga ada neni
kawan bariyah
bekas buruh pabrik kaos kaki
kini jadi buruh di perusahaan lagi
dia dipecat ya dia dipecat
kesalahannya : karena menolak
diperlakukan sewenang-wenang

di cimahi ada kawan udin buruh sablon
kemarin kami datang dia bilang
umpama dironsen pasti nampak
isi dadaku ini pasti rusak
karena amoniak ya amoniak

di cigugur ada kawan siti
punya cerita harus lembur sampai pagi
pulang lunglai lemes ngantuk letih
membungkuk 24 jam
ya 24 jam

di majalaya ada kawan eman
buruh pabrik handuk dulu
kini luntang lantung cari kerjaan
bini hamil tiga bulan
kesalahan : karena tak sudi
terus diperah seperti sapi

dimana-mana ada sofyan ada sodiyah ada bariyah
tak bisa dibungkam kodim
tak bisa dibungkam popor senapan
di mana-mana ada neni ada udin ada siti
di mana-mana ada eman
di bandung – solo – jakarta – tangerang
tak bisa dibungkam kodim
tak bisa dibungkam popor senapan

satu mimpi
satu barisan

Bandung, 21 mei 92

buruh-produksi-kayu-karet-300x150

Iklan

Satu Mei, Buruh dan Delapan Jam Kerja

may-day-vs-labor_1367138224

“Kalau yang menjadi seorang Revolusionis adalah kaum intelektual, tidak akan dianggap kejahatan. Tetapi kalau yang menjadi seorang Revolusionis ternyata kaum miskin, itu akan dijadikan kejahatan.” – Samuel Fielden (pejuang Haymarket)

“Dari kematian perbudakan satu kehidupan baru bangkit seketika. Buah pertama Perang Sipil adalah agitasi delapan-jam.” — Karl Marx

“Sesungguhnya, sejarah mengandung banyak kisah yang memperlihatkan kepada kita akar dari radikalisme kita. Ketika kita mengenang bahwa orang ditembak supaya kita dapat memperoleh 8-jam hari kerja; jika kita mengetahui bahwa rumah-rumah dengan keluarga yang berdiam di dalamnya dibakar habis agar kita dapat menikmati Sabtu sebagai hari libur di akhir pekan; ketika kita mengingat para korban kecelakaan kerja berusia 8 tahun yang ikut berderap di jalan memrotes keadaan kerja dan buruh anak lalu dipukuli polisi dan preman-preman pabrik, kita memahami bahwa kita tidak dapat menganggap keadaan kita sekarang sebagai sesuatu yang sudah selayaknya kita miliki – orang-orang berjuang untuk hak-hak dan martabat yang kita nikmati hari ini, dan masih banyak lagi yang harus diperjuangkan. Pengorbanan begitu banyak orang tidak dapat dilupakan begitu saja atau kita akan kembali harus bertarung untuk merebut yang sudah kita peroleh sekarang. Karena itulah kita merayakan May Day!   — Eric Chase (IWW, 1993)

Baca lebih lanjut

Memperkuat Barisan Buruh Indonesia

153370_peringatan-hari-buruh_663_382

Hari ini, 1 Mei, rakyat Indonesia merayakan Hari Buruh Se-Dunia. Konteks perayaan Hari Buruh kali ini agak khusus. Untuk pertama kalinya dalam sejarah sejak Orde Baru berkuasa pada 1966 dan 15 tahun reformasi, Hari Buruh kembali menjadi hari libur nasional. Menariknya, ketika pemerintah memutuskan Hari Buruh sebagai hari libur setahun berselang, itu adalah tuntutan paling belakang dari rangkaian perjuangan kaum buruh di Indonesia. Tuntutan utama perjuangan kaum buruh, yaitu penghapusan sistem rekrutmen alih daya, dan/atau sistem pemborongan pekerjaan (outsourcing), tidak sepenuhnya dilaksanakan oleh pemerintah. Kendati ada Peraturan Menteri Tenaga Kerja untuk membatasi pelaksanaan outsourcing namun tidak kelihatan jelas pelaksanaannya. Hampir tidak ada sanksi memaksa bagi perusahaan-perusahaan yang memberlakukan sistem rekrutmen tersebut sehingga sistem itu masih berjalan dengan selamat di negeri ini walaupun kaum buruh terus melancarkan perlawanan. Baca lebih lanjut

Penjara Salemba

Hersri Setiawan

Penjara Salemba, 1966, foto: Co Rentmeester, LIFE.

Penjara Salemba, 1966, foto: Co Rentmeester, LIFE.

RTC Salemba Jakarta

Rumah Penjara (RP) Salemba atau Lembaga Pemasyarakatan (LP) Salemba ialah sebutan awam untuk rumah penjara yang terletak di Jalan Salemba Tengah Jakarta Pusat. Awam lalu biasa menamakan Rumah Penjara atau Lembaga Pemasyarakatan yang terletak di Jalan Salemba ini dengan sebutannya yang lebih singkat, yaitu “Penjara Salemba”.

Pada pagi buta tanggal 1 Oktober 1965 terjadilah peristiwa berdarah di ibukota, yang dipicu oleh gerakan yang menamakan dirinya “Gerakan 30 September”. Enam orang jenderal dan satu orang perwira pertama Angkatan Darat tewas pada peristiwa itu. Pada tanggal 3 Oktober jenazah mereka ditemukan dan diangkat dari sebuah sumur mati di Lubang Buaya, sebuah desa tidak jauh dari lapangan udara AURI, Halim Perdanakusumah, dan bertepatan dengan Hari Angkatan Perang tanggal 5 Oktober 1965 jenazah-jenazah itu dimakamkan di Taman Pahlawan “Kalibata” Jakarta Selatan. Satu-dua hari sesudah itu Jakarta dibersihkan dari “oknum-oknum” G30S, komunis, dan yang dikomuniskan.
Penjara Salemba tiba-tiba menjadi penuh-sesak dengan tahanan politik atau tapol. Barangkali pada saat itu jugalah perbendaharaan kata bahasa Indonesia mendapat satu entri tambahan: “tahanan politik” atau “tapol”. Sudah banyak peristiwa-peristiwa politik sebelumnya, yang mengakibatkan penangkapan dan penahanan terhadap “orang-orang politik” tertentu. Namun mereka itu tidak mendapat sebutan “tahanan politik” atau “tapol”, melainkan disebut dengan menunjuk pada kasus yang melibatkan “orang politik” itu. Misalnya: “Tahanan Digul”, “Tahanan 3 Juli”, “Tahanan DI/TII”, ”Tahanan Madiun” dan sebagainya. Baca lebih lanjut

States of Emergency by Hilmar Farid (2013 IACS Conference – Plenary #3)

EventURL: http://www.ari.nus.edu.sg/events_categorydetails.asp?categoryid=6&eventid=1337

Date : 05 July 2013

Venue : LT8, NUS at Kent Ridge Campus

Organiser : organised by Inter-Asia Cultural Studies Society, Asia Research Institute, & Faculty of Arts and Social Sciences, NUS

Synopsis : Plenary #3 States of Emergency by Hilmar Farid, 05 July 2013

IACS Conference 2013

The general theme of the 2013 conference is “Beyond the Culture Industry”. In the past two decades, the cultural sphere of rising Asian economies has increasingly shifted from being marked by the politics of authoritarianism and democratization to being pervaded by the market logic of deepening capitalism. The development of Asian culture industries has come under increasing scrutiny in cultural studies. However, we note that the emphases have been on the cultural policy of developmental states and the production of the cultural economy. For the 2013 conference, we seek to move beyond these emphases and inquire into the politics of culture that accompanies the neoliberalization of the cultural sphere.

Kisah KPAA dan Seanteronya dan Genderang Maut Semangat Bandung

Hersri Setiawan


Suatu ketika aku membaca dua tulisan bersambung perihal KPAA (Konperensi Pengarang Asia-Afrika) dari Bung Sobron Aidit dan Bung Z. Afif, baik dari situs jaringan pers sibernetika sana-sini, maupun dari kiriman pribadi penulis-penulis tersebut. Kedua sahabat itu sekarang sudah tidak ada lagi, Bung Afif meninggal di Swedia dan Bung Sobron di Paris.

Tulisan sobat-sobat lama itu bertajuk “Obrolan Malam KPAA”, beredar di orbit jejaring sana-sini pada tanggal 9 dan 10 Februari 2003. Lebih delapan tahun lalu! (artikel ini ditulis ulang 2012). Ketika itu juga aku lalu tergerak untuk ikut ‘buka suara’ barang satu-dua patah kata tentang perihal tersebut dalam tajuk. Tapi sesungguhnya hasratku untuk buka suara barang satu-dua patah kata perihal KPAA ini sudah timbul sebelumnya. Yaitu sekitar tanggal-tanggal dekat sesudah Agam Wispi meneruskan perjalanan kepenyairannya ke alam barzakh. Tanggal ia mulai menapaki lorong perjalanan keabadian itu pada 1 Januari 2003. Baca lebih lanjut