KEPUTUSAN-KEPUTUSAN KONGRES NASIONAL LEKRA I

KongresLekra-I-000023

Joebar Ajoeb menyampaikan laporannya pada Kongres Nasional Lekra I, Solo, Januari 1959. (Foto: Koleksi Oey Hay Djoen)

I

Resolusi atas Lapiran Umum

Setelah bersidang 5 hari lamanja dan mempertimbangkan setjara mendalam dan seksama Laporan Umum Pimpinan Pusat Lekra jang disampaikan oleh kawan Joebar Ajoeb, Kongres Nasional ke-I Lekra jang bersidang pada tanggal 28 Djanuari 1959 di Sriwedari, Solo, dengan bulat memutuskan menjetudjui dan memperkuat Laporan Umum tersebut.

Kongres menentapkan Laporan Umum tersebut, sebagai garis umum jang harus didjadikan pedoman kegiatan Lekra dalam masa antara Kongres Nasional ke-I dan Kongres Nasional ke-II, Kongres menginstruksikan kepada semua organisasi Lekra disemua tingkat, untuk mempopulerkan garis umum itu, menjiarkan dan mendjelaskannya kepada massa dan mendjadikannja milik massa sendiri.

Pengalaman-pengalaman selama ini membuktikan, bahwa azas kebudajaan Rakjat itu satu-satunja azas jang tepat, dan bahwa mendjundjung tinggi azas ini mengandung keharusan untuk senantiasa lebih hebat memerangi kebudajaan bukan-Rakjat, terutama “kebudajaan” imperialis dan feodal.

Pengalaman mengadjarkan, bahwa arah kegiatan jang satu-satunja jang tepat adalah meluas dan meninggi, dan bahwa djika hal ini tidak dikerdjakan setjara sungguh-sungguh, akibatnja kegiatan kita akan menjempit dan merosot.

Kongres membenarkan bahwa pekerdja-pekerdja kesenian Lekra harus terus-menerus meningkatkan mutu ideologi dan mutu artistiknja, dan bahwa pekerdja-pekerdja ilmu Lekra harus terus-menerus meningkatkan mutu ideologi dan mutu kedjuruannja.

Kongres membenarkan, bahwa politik dan kebudajaan tidak mungkin dipisahkan, melainkan diperpadukan, dan bahwa patriotisme dan internasionalisme tidak harus dipisahkan, melainkan diperpadukan.

Kongres memutuskan untuk melakukan segala sesuatu jang mungkin untuk membuat kesenian dan ilmu kita mengabdi lebih banjak, lebih baik dan lebih berguna bagi tanahair, revolusi dan Rakjat. Semuanja untuk penjelesaian tuntutan-tuntutan Revolusi Agustus 1945 sampai keakar-akarnja, untuk kebebasan, demokrasi dan perdamaian.

KongresLekra-I-ibu-maladi

Suasana pembukaan Kongres Lekra I, Solo, Januari 1959. (Foto: Koleksi Oey Hay Djoen)

Agar dapat menunaikan tugas jang berat tetapi mulia ini Kongres memutuskan untuk merobah struktur organisasi Lekra jang tadinja suatu organisasi kesatuan mendjadi suatu organisasi jang melingkupi Lembaga Sastera Indonesia, Lembaga Senirupa Indonesia, Lembaga Musik Indonesia, Lembaga Tari Indonesia, Lembaga Film Indonesia, Lembaga Ilmu Indonesia.

Kongres lebih landjut memutuskan hal-hal jang berikut:

1. Menuntut dihentikannja samasekali pembuatan, penimbunan dan pemakaian sendjata-sendjata atom dan nukli, dan bersamaan waktu melakukan pelutjutan sendjata dengan memulainja langkah-langkah jang dekat seperti pembentukan daerah bebas atom dan sebagainja.

2. Menurut didjaminnja kebebasan tukar-menukar kebudajaan antara bangsa dalam semangat keputusan-keputusan Bandung, Kairo dan Tasjikent.

3. Menuntut kepada Pemerintah dan penjelenggarakan sendiri tukar-menukar kebudajaan antar suku bangsa untuk lebih memperkokoh kesatuan nusa dan bangsa.

4. Menuntut ikutsertanja seniman-seniman dan pekerdja-pekerdja ilmu didalam Dewan Perantjang Nasional didalam perwakilan fungsional didalam DPR.

5. Menuntut dilaksanakannja Undang-Undang No.1 Tahun 1957 tentang otonomi pemerintah daerah, sebagai sjarat untuk perkembangan jang lebih baik dari kebudajaan Rakjat.

6. Menuntut agar pemerintah membatalkan Undang-Undang Penanaman Modal Asing, jang njata-njata merupakan bahaja untuk perkembangan kebudajaan nasional.

7. Menilai bahasa-bahasa daerah stjara positif dengan menghargai bahasa-bahasa daerah jang ada dan masih hidup sebagai suatu organisme dengan jalan membantu memelihara dan memadjukannja. Tentang pemakaian bahasa-bahasa daerah tersebut disekolah, dipengadilan dan dalam pergaulan, diserahkan sepenuhnja kepada Rakjat masing-masing daerah untuk menentukan sikapnja berdasarkan demokrasi. Dalam pada itu pada bidang adiministrasi negara sejogjanjalah kita hanja menggunakan bahasa persatuan, demi kelantjaran dan efisiensi administrasi negara. Penggunaan bahasa daerah sebagai alat agitasi politik separatis jang reaksioner dan menguntungkan imperialisme lajaklah dikutuk oleh tiap patriot Indonesia.

8. Menuntut diintensifikannja pendidikan kebudajaan disekolah-sekolah

9. Menuntut agar Pemerintah mendirikan gedung-gedung kebudajaan dan teman-teman kebudajaan serta tempat-tempat pertemuan bagi para seniman dan pekerdja-pekerdja ilmu.

10. Menuntut agar Pemerintah menurunkan padjak-padjak seniman dan padjak-padjak tontonan.

11. Memperdjuangankan perbaikan djaminan sosial ekonomi bagi pekerdja-pekerdja kebudajaan.

12. Menuntut penurunan harga-harga alat-alat kebudajaan seperti buku-buku, alat-alat ilmiah, tjat dan kanvas, instrumen-instrumen musik dan piringhitam, dan sebagainja.

13. Mendesak kepada Pemerintah untuk menindjau kembali dan mendemoratiskan SPID.

14. Menuntut peraturan setjara adil politik pemberian subsisi untuk organisasi-organisasi kebudajaan tingkat daerah swatantra II

15. Berketetapan seluruh seniman dan pekerdja ilmu Lekra lebih mempererat hubungannja dengan organisasi-organisasi massa lainja dan terus membantu langsung perdjuangan Rakjat, terutama perdjuangan kaum buruh dan tani.

II

Resolusi atas Laporan Pendidikan

I. Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945 seharusnja sekaligus diletakkan dasar-dasar pendidikan nasional jang didjiwai oleh Proklamasi 17 Agustus 1945; bahwa kemerdekaan, patriotisme, dan demokrasi, harus tertjermin dalam segala lapangan kehidupan, djuga dalam lapangan pendidikan.

II. Pendidikan nasional adalah pendidikan jang dapat mengarahkan segenap potensi nasional untuk menjelesaikan revolusi. Maka itu pendidikan tidaklah berdiri sendiri terpisah dari masjarakat, tetapi harus mendjadi sendjata Rakjat, jakni memihak dan mengabdi kepada Rakjat, revolusi, tanahair, kemerdekaan dan perdamaian.

III. Untuk membangun Indonesia jang besar dan madju, pendudukan memerlukan ilmu jang mengenal kehidupan, jang menjatukan teori dan praktek dan jang dapat menghasilkan tenaga-tenaga konstruktif.

IV. Keadaan perekonomian Indonesia jang setengah djadjahan dan kurang tepatnja sistem pendidikan selama ini, tidak memungkinkan Pemerintah menampung hasrat beladjar Rakjat jang meluap-luap dan menjediakan lapangan pekerdjaan bagi para peladjar Rakjat jang telah tamat sekolah. Ini mendorong timbulnja sekolah-sekolah partikelir dan lembaga-lembaga ilmu jang memerlukan perlindungan dan bimbingan Pemerintah.

V. Untuk merealisasi pendidikan nasional diperlukan kerdjasama dengan segala golongan (PGRI, Tamansiswa, organisasi-organisasi peladjar dan mahasiswa dan lain-lain) dalam front pendidikan nasional.

VI. Guna memenuhi garis kerdja Lekra jang meluas dan meninggi Kongres Nasional I Lekra menentukan program kerdja sebagai berikut:

1. Memperdjuangkan diperbanjaknja badan-badan pendidikan Rakjat sebagai alat untuk melaksanakan setjara intensif pekerdjaan Lekra dilapangan pendidikan.

2. Menggalang front pendidikan nasional guna merealisasi terlaksananja pendidikan jang demokratis dan patriotik.

3. Mengintensifkan pekerdjaan Lekra dikalangan kaum buruh dan kaun tani untuk meningkatkan taraf kebudajaanja.

4. Menuntut diperbesarnja Anggaran Belandja Kementerian PPK dan diawasinja penggunaanja setjara efektif.

5. Menuntut segera dikeluarkannja undang-undang perguruan partikelir jang disatu pihak melindungi perkembanganja dan dipihak lain menghilangkan pengaruh-pengaruh jang merugikan pendidikan nasional.

6. Menurut supaja Pemerintah lebih mengintensifkan pekerdjaan dilapangan PBH.

III

Resolusi atas Laporan Sastera

I. Revolusi Agustus 1945 sebagai kelandjutan dari perdjuangan Rakjat telah melahirkan kesusteraan jang baru, terutama dalam hal isi, jang mendjadi pendorong bagi Rakjat banjak untuk memupuk tenaga revolusioner guna penjempurnaan kemerdekaan nasional.

II. Dalam menghadapi sastera daerah jang merupakan perbendaharaan warisan kesetiap daerah, Lekra melakukan seleksi atas dasar nilai kreatif untuk pentjiptaan jang seindah-indahnja, guna pengembangan nilai-nilai positif Rakjat setinggi-tingginja.

III. Terhadap hasil-hasil sastra asing Lekra bersikap kritis dan mengadakan penilaian kreatif.

IV. Untuk melantjarkan garis revolusioner setjara lebih intensif, segenap potensi dihimpun didalam Lembaga Sastera Indonesia dan digunakan untuk menghasilkan kesusasteraan setjara meluas dan meninggi, dengan program kerdja sebagai berikut:

i. Pendidikan

a. Mengadakan penjelidikan dan mengumpulkan tjerita-tjerita Rakjat, pantun-pantun Rakjat dan lain-lain serta mengadakan penafsiran terhadapnja sesuai dengan kepentingan Rakjat. Ini berlaku pula bagi bahasa-bahasa daerah.

b. Penggalian serta pengungkapan kembali semua perbendaharaan rochaniah dan djasmaniah Rakjat Indonesia jang telah mempunjai tradisi baik guna dikembangkan, demi kemadjuan, keberanian dan keindahan, terutama dalam lapangan kesusasteraan.

c. Mengadakan penjelidikan dilapangan kesusasteraan untuk penjusunan sedjarah kesusasteraan Indonesia setjara benar berdasarkan pandangan kerakjatan. Ini berlaku baik untuk sastera daerah maupun pada sastera Indonesia dalam waktu jang sesingkat-singkatnja.

ii. Penerbitan

a. Menerbitkan madjalah kesusasteraan jang chusus.

b. Menerbitkan buku-buku kesusasteraan.

c. Menjempurnakan penjelenggaraan madjalah “Zaman Baru” serta ruang-ruang kebudajaan suratkabar-suratkabar dan madjalah-madjalah jang diasuh oleh tenaga-tenaga Lekra.

iii. Penterdjemahan

a. Menterdjemahkan kesusasteraan daerah ke dalam bahasa Indonesia.

b. Menterdjemahkan kesusasteraan Indonesia kedalam bahasa daerah.

c. Menterdjemahkan kesusasteraan Indonesia dan kesusasteraan daerah kedalam bahasa asing.

d. Menterdjemahkan kesusasteraan asing kedalam bahasa Indonesia dan bahasa daerah.

iv. Kerdjasama

a. Mengadakan tukar-menukar pengalaman antardaerah dalam saling memadjukan kesusasteraan daerah dan kesusasteraan Indonesia.

b. Mengadakan tukar-menukar pengalaman dengan lembaga-lembaga dan perorangan diluar Lekra didalam memadjukan kesusasteraan Rakjat.

c. Mengadakan simposion-simposion dan tjeramah-tjeramah kesusasteraan.

d. Mengadakan kerdjasama jang saling menguntungkan dengan sasterawan-sasterawan dan lembaga-lembaga kesusasteraan luar negeri.

IV

Resolusi atas Laporan Senirupa

Berdasarkan situasi perkembangan kebudajaan ditanahair kita semendjak berdirinja Lekra, sebagai jang dinjatakan didalam Laporan Umum Pimpinan Pusat Lekra, Laporan chusus tentang Senirupa dalam sidang pleno Kongres Nasional I Lekra, dan pandangan-pandangan, pemikiran-pemikiran, saran-saran dan usul-usul jang dibahas dalam sidang Komisi Senirupa, Kongres Nasional I Lekra menganggap perlu, adanja pemusatan chusus terhadap perkembangan senirupa setjara nasional dan ilmiah, sehingga terlaksana suatu bentuk senirupa Indonesia jang berazaskan Seni untuk Rakjat, meluas dan meninggi, sesuai dengan proses perkembangan demokrasi dalam kehidupan masjarakat Indonesia;

Dan memutuskan bagi Lembaga Senirupa Indonesia rentjana kerdja pokok, sebagai berikut:

1. Ruang-ruang pameran dan sanggar-sanggar;

2. Penerbitan-penerbitan (madjalah, reproduksi-reproduksi, buku-buku peladjaran, dan sebagainja);

3. Konfrensi-konfrensi kerdja;

4. Simposium-simposium;

5. Hubungan antar daerah melalui kundjungan-kundjungan, pameran-pameran, demontrasi-demontrasi, dan sebagainja;

6. Pendidikan ideologis dan artistik;

7. Penjelidikan dan dokumentasi (research);

8. Lebih mempererat hubungan dengan gerakan massa;

9. Tukar-menukar delegasi dan kerdja-kerdja dengan luar negeri.

Kongres djuga memutuskan;

a. Mendesak kepada Pemerintah agar mendirikan museum senirupa dan mendirikan gedung-gedung pameran di tiap-tiap daerah.

b. Mendesak kepada Pemerintah untuk lebih keras mengawasi gambar-gambar dan lukisan-lukisan tjabul dalam bentuk atau kegunaan apapun (ilustrasi, poster, dekor, ornamen, tekstil, dan sebagainja).

c. Mendesak kepada Pemerintah supaja gedung-gedung kementerian-kementerian dan djawatan-djawatan diisi dengan hasil-hasil senirupa jang mengandung perdjuangan Rakjat.

d. Mendesak kepada Pemerintah agar menempatkan kepada tempatnja peran seniman dalam pembuatan tugas nasional.

e. Mengusulkan kepada Pemerintah agar menempatkan tenaga-tenaga jang tepat bisa memelihara dan mengembangkan kesenian pada bagian-bagian kesenian dan kebudajaan pada badan-badan Pemerintah, baik jang didalam maupun jang diluar negeri.

V

Resolusi atas Lapiran Musik dan Lapiran Tari

Untuk melaksanakan tugas-tugas kebudajaan Rakjat, jang digariskan oleh Laporan Umum dan Lapiran Chusus tentang Musik dan Tari, serta untuk mengisi kegiatan Lembaga Musik Indonesia dan Lembaga Tari Indonesia, Kongres Nasional I Lekra menetapkan pedoman kerdja untuk musik dan tari sebagai berikut:

1. Menjelenggarakan registrasi musik-tari Rakjat diseluruh daerah.

2. Meluaskan dan mengintensifkan pendidikan musik dan tari dengan djalan:

a. Penerbitan dan penjiaran;

b. Seminar-seminar dan lingkaran-lingkaran diskusi;

c. Perlombaan dan pertundjukan.

3. Menggiatkan pentjegahan dan pemberantasan pentjabulan serta gedjala-gedjala dekaden lainja dalam musik dan tari.

4. Memperdjuangankan pengintensifan peladjaran musik dan tari disekolah-sekolah, terutama disekolah-sekolah guru.

5. Menjelenggarakan tukar-menukar musik dan tari, baik antardaerah maupun antarnegara.

6. Menggiatkan kerdja seleksi dan kreasi dilapangan musik dan tari.

7. Mengingatkan kerdja penggalian, pengembangan dan peningkatan musik dan tari Rakjat serta alat-alatnja.

VI

Resolusi atas Laporan Film dan Laporan Senidrama

Berdasarkan situasi perkembangan kebudajaan di tanah air kita semendjak berdirinja Lekra sebagaimana jang dinjatakan didalam Laporan Umum dan Laporan Chusus Film dan Senidrama, Kongres Nasional I Lekra memutuskan:

Lembaga Film Indonesia dan Lembaga senidrama Indonesia berazaskan Film dan Senidrama untuk Rakjat dan berusaha mengabdikan diri untuk perdjuangan dan perkembangan kebudajaan Rakjat, dengan tugas:

1. Menjelidiki, menggali, meninggalkan dan mengembangkan segala matjam drama jang hidup dikalangan Rakjat.

2. Mengadakan perlawanan terhadap segala bentuk drama dan film jang tidak mewakili kepentingan Rakjat dan segala matjam usaha jang menghambat serta merugikan kegiatan dan perkembangan drama dan film untuk Rakjat.

Untuk melaksanakan tugas-tugas ini, disusun rentjana pokok program kerdja jang meliputi masalah-masalah:

1. Menggiatkan adanja menjelidikan ke-daerah-daerah, sebagai sumber penggalian drama-drama Rakjat;

2. Mengusahakan pendidikan ideologi dan artistik;

3. Pertukaran hasil-hasil kegiatan dalam lapangan drama antar daerah;

4. Memperdjuangankan adanja djaminan-djaminan jang lebih demokratis bagi pertumbuhan senidrama dan film nasional.

5. Mengadakan hubungan antara organisasi massa dan organisasi kebudajaan didalam negeri dan dengan luar negeri.

Kongres djuga memutuskan;

1. Supaja Pemerintah setjepat mungkin menjelesaikan undang-undang perfilman nasional;

2. Supaja Pemerintah menurunkan harga bahan-bahan baku jang dibutuhkan oleh kegiatan-kegiatan senidrama dan film;

3. Menuntut dibubarkanja Dewan Film jang sekarang dan mengantinja dengan dewan Film jang representatif;

4. Mendesak kepada Pemerintah agar komposisi Panitia Sensor Film jang sekarang dirobah dengan komposisi jang lebih representatif;

5. Untuk memberikan kemungkinan perkembangan jang lebih baik bagi kemadjuan perfilman nasional serta merealisasi bantuan jang lebih intensif diperlukan perubahan djatah import film, sehingga tidak merugikan perfilman dan kebudajaan nasional umumnja.

VII

Resolusi atas Laporan Ilmu

1. Untuk mengumpulkan bahan-bahan keterangan, menjelidiki, mempeladjari dan mensistematiskan segala hasil ilmu tradisionil, Kongres Nasional I Lekra memutuskan untuk mengerahkan seluruh potensi Lembaga Ilmu Indonesia dipusat dan di daerah-daerah guna melaksanakan tugas berat itu dengan se-baik-baiknja dan se-seksamanja dan dengan sistematik dan madju.

2. Kongres mendesak kepada DPR agar ditjiptakan suatu undang-undang perguruan tinggi jang mendjamin perkembangan ilmu setjara meluas dan meninggi serta berdjiwa kerakjatan, dengan berpedoman kepada kepentingan bangsa dan negara didalam rangka pembangunan nasional semesta untuk mentjapai masjarakat adil dan makmur.

3. Kepandaian membatja dan menulis merupakan sjarat mutlak untuk menuntut ilmu, dan oleh karena itu pemberantasan butahuruf wadjip dilaksanakan dengan lebih tjepat dan lebih efektif.

4. Test-test psikoteknik untuk menjelimuti kurangnja kesempatan beladjar pada perguruan-perguruan tinggi merupakan tembok perintang bagi perkembangan ilmu dan bagi timbulnja kader-kader pekerdja ilmu jang baru setjara luas. Untuk mengatasi keadaan djelek sekarang dalam bidang perguruan tinggi, Kongres menuntut perluasan perguruan-perguruan tinggi dan perbaikan mutu pengadjaran tinggi.

5. Perlu diperdjuangkan supaja pandangan ilmu jang madju jang mendjalin diri dalam kehidupan nasional jang bertudjuan terus-menerus menjempurnakan hidup manusia hanja dapat berkembang subur djika mengikutsertakan Rakjat dalam penjelidikan, penjebaran dan penggunaanja.

6. Penjelidikan masjarakat, kebudajaan dan sedjarah Indonesia haruslah berpangkal kepada keindonesiaan dan terutama dilakukan oleh sardjana-sardjana Indonesia sendiri.

VIII

Resolusi atau Lapiran Folklore

1. Kongres Nasional I Lekra berpendirian, bahwa folklore sebagai permakluman seni Rakjat pada bidang hiburan dan tradisi Rakjat perlu dihargai dan dinilai setepat-tepatnja dengan djalan memelihara, mengembangkan segi-segi positifnja dan meniadakan segi-segi negatifnja serta mengembangkannja kepada tingkat seni jang berderadjat baik, tapi tetap berpidjak pada bumi njata kerakjatan. Folklore sebagai seni dari, oleh dan untuk Rakjat perlu diselidiki dan dipeladjari, diolah dan disiarkan didalam bentuknja jang sesuai dengan tjitarasa seni jang madju daripada Rakjat. Dalam pada itu pengelolaan dan penjadjalanja didalam bentuk baru tidaklah boleh mengingkari perwatakan dan kepribadian masing-masing ungkapan bumi jang chas. Segala pernjataan seni dari zaman feodal menghendaki penilaian kembali jang tetap dengan memberi isi dan djiwa kerakjatan kepadanja. Dongeng-dongeng Rakjat jang kerapkali berisi tamsil dan kearifan jang dalam, menghendaki perhatian jang tersendiri. Berkenaan dengan tradisi Rakjat sikap Kongres adalah menerima warisan

kemasjarakatan itu dengan sikap melindungi dan memelihara segala jang baik daripadanja dan dengan tjara bidjaksana dan tegas menolak jang pada hakikatnja merugikan Rakjat.

2. Berkenaan dengan pengaruh asing sikap Kongres adalah menerima segala sesuatu jang baik daripadanja demi kepentingan Rakjat berdasarkan sikap bersahabat dengan Rakjat seluruh dunia dan tegas menolak segala jang merugikan daripandanja. Apa jang kita terima dari luar sejogdjanja disesuaikan dengan watak dan wadjahnja hingga mendjadi milik nasional jang luruh.

3. Chusus untuk Irian Barat Kongres menganggap perlu adanja suatu “Pekan Irian Barat” jang akan diisi dengan atjara-atjara jang mempertundjukkan hasil-hasil kebudajaan Rakjat Irian Barat, disamping tjeramah-tjeramah dan pidato-pidato politik dan ilmiah mengenai Irian Barat.

4. Untuk mengumpulkan bahan-bahan keterangan, menjelidiki, mempeladjari dan mensistematiskan segala hasil folklore pada Sekretariat Pimpinan Pusat Lekra akan dibentuk suatu djurusan jang akan mengerdjakan segala sesuatu jang berhubungan dengan folklore. Seluruh potensi Lekra didaerah-daerah akan dikerahkan untuk melaksanakan tugas jang tidak ringan ini dengan sebaik-baik dan se-seksama-seksama mungkin dengan sistematik jang madju.

Solo, 28 Djanuari 1959

KongresLekra-I-oetomo-ramelan-soeharto-soekarno-hadi-subeno

Oetomo Ramelan, Soeharto, Sukarno dan Hadi Subeno pada acara pembukaan Kongres Nasional Lekra I, Solo, 1959. (Foto: Koleksi Oey Hay Djoen)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s