Antara Mimpi Dan Kenyataan

Hersri Setiawan

Tanggal 25 November 1973 Unit IV Savanajaya secara resmi dibubarkan. Dengan demikian yang selanjutnya ada disana adalah sebuah desa bernama sama, Desa Savanajaya. Sebuah desa yang istimewa. Karena desa ini adalah desa tapol pertama di Indonesia.

Selubung prasasti pendirian desa tapol ini dibuka oleh Jendral M. Panggabean pada 20 Juni 1972. Rombongan pertama keluarga tapol yang dikirim dari Jawa, sebanyak 84 keluarga, memasuki Desa Savanajaya pada 23 Juli 1972. Sejak saat itu, sampai tanggal 25 November 1973 tersebut di atas, Savanajaya ibarat berwajah kembar. Wajah Unit dan Wajah Desa. Penghuninya pun terdiri dari dua golongan: laki-laki tapol tanpa keluarga, dan laki-laki (resminya) eks-tapol beserta anak-isteri yang (dipaksa) menyusul. Golongan tersebut pertama tetap diam di barak-barak tapol, sedangkan yang tersebut belakangan tinggal di rumah-rumah pedesaan. Rumah ini beratap seng, berdinding papan, dengan dua kamar, satu dapur dan ruang depan; dibangun dengan ukuran sama, bentuk sama, dan material bangunan yang juga sama; dikelilingi oleh halaman yang sama luas, dan masing-masing kepala keluarga menerima pembagian sawah dan ladang dengan luas sama pula: 6000 meter persegi sawah basah yang sudah tertanami, dan 4000 meter persegi ladang palawija yang juga sudah tertanami. Sedangkan tapol warga unit tetap ditopang di atas hasil sawah dan ladang lama garapan mereka.

Seperti layaknya penduduk desa di masyarakat bebas, juga penduduk Desa Savanajaya dibagi-bagi dalam organisasi RT-RW karena, seperti kita tahu, lembaga-lembaga RT-RW bukan sekedar mempunyai fungsi administratif, tapi yang utama dan pertama fungsi kontrol sebagai pemanjang alat kekuasaan. Kemudian berjenjang-jenjang, di atas Ketua RT ada Ketua RW, di atas Ketua RW ada Kepala Dukuh, dan di atas Kepala Dukuh, yang di atasnya adalah Komandan Unit. Inilah beda utama dan mencolok antara desa masyarakat merdeka dan desa masyarakat tapol. Lurah Desa tapol Savanajaya tidak boleh berurusan ke atas langsung dan sendiri dengan Camat. Dengan demikian kepala keluarga warga Desa Savanajaya, yang secara resmi sudah tidak lagi berstatus tapol, pada kenyataannya mereka masih belum memperoleh kebebasan sama sekali. Malahan juga para isteri dan anak-anak dewasa keluarga (eks-) tapol, setiba mereka di Desa Savanajaya justru diperlakukan sama seperti suami atau ayah mereka. Ibu-ibu dan anak-anak, yang orang-orang merdeka itu, sama seperti suami atau ayah mereka, tidak lagi mempunyai keleluasaan bergerak. Mereka harus mendapat surat jalan, dan melapor ke pos tonwal, setiap kali hendak keluar-masuk desa.

Oleh karena itu ketika pada bulan Maret 1972 proyek pembangunan desa dimulai, ditargetkan pembukaan lahan sawah baru seluas 85 ha, yang pengerjaannya dibebankan pada tapol berbagai unit, yaitu Unit IV, Unit XIV, Unit I dan Unit II. Sedangkan untuk pembangunan perumahan desa, direncanakan sudah harus siap huni sebanyak 240 bubung dalam bulan Juni 1972, atau sekitar 4 bulan terhitung dari bulan Maret dalam tahun yang sama. Tapi ternyata sampai bulan Juli tanggal 23, ketika rombongan keluarga pertama datang, baru berdiri 230 rumah dengan 190 di antaranya siap huni. Pengerjaan pembangunan perumahan Desa Savanajaya, berikut pembukaan lahan seluas itu, mungkin saja diberi anggaran oleh Pusat seperti halnya pembukaan daerah transmigrasi baru. Tapi pada kenyataannya pengerjaan itu dilakukan sebagai kerja-korve oleh tapol-tapol dari berbagai unit: Unit I, Unit II, Unit IV, Unit XIV, Unit XV, dan Unit XVI.

Dengan dibubarkannya Unit IV Savanajaya, dan warga penghuninya disebar dibagi-bagi ke berbagai unit, maka tapol warga Unit XIV menjadi tambah padat dengan pekerjaan. Mengolah lahan sawah unit sendiri, yang sampai saat itu belum pernah satu kali musim tanam pun mengalami “panen tidak gagal” dan membantu pekerjaan warga desa, baik sebagai pekerja korve secara resmi maupun pekerja sukarela tidak resmi (walaupun Dan Unit bukannya tidak tahu). Warga desa itu, seorang demi seorang dan bahkan keluarga demi keluarga, memang mustahil mampu menggarap jatah 1 ha sawah-ladang masing-masing. Apalagi mereka masih harus menanggulangi kewajiban kerja korve desa (seperti antara lain pembersihan jalan dan merawat lapangan apel), korve unit (terutama misalnya mengangkut saprodi (sarana produksi padi), khususnya pupuk, dari gudang di pantai atau Markas Komando), korve tonwal (misalnya, mengantar dan menjemput tonwal yang pergi dan yang datang, berikut dengan perlengkapan mereka).

Pekerjaan bertani sesungguhnya tidak pernah selesai. Mulai dari cangkul pertama atau membajak sampai panen dan kemudian mulai lagi menggarap ulang untuk musim tanam berikut. Dalam jangka waktu 3-4 bulan satu kali musim tanam berbagai macam pekerjaan harus dilakukan berturut-turut, masing-masing pada waktunya dan dalam urutan yang tetap, serta tidak bisa terlepas dari campur-tangan kehendak alam. Itulah sifat pekerjaan pertanian yang masih pada taraf garu-luku.

Pekerjaan petani sawah usai panen dimulai dengan menebar jerami di tengah sawah yang sudah dikeringkan sejak menjelang panen. Maksudnya agar mudah dan cepat kering, sehingga akan habis dibakar menjadi abu. Abu itu, jika sawah sudah kembali diairi, akan menyatu dalam tanah dan berguna untuk “mematangkan” tanah. Jika tidak ingin membakarnya, bisa juga diangkut dan ditumpuk di tanggul lahan, sengaja agar menjadi busuk. Dalam proses pembusukannya, jerami seperti halnya merang atau malai padi, akan menumbuhkan jamur. Jamur itu berwarna putih, sama seperti jamur merang, hanya bentuknya lebih kecil. Bagi lidah dan perut tapol, jangankan jamur jerami dan apalagi jamur merang, bahkan jamur alang-alang pun cukup memberi rasa lezat dan sehat. Protein nabati, suara-suara kelaparan tapol mencari dalih.

***

Sejak Savanajaya menjadi desa keluarga tapol, di sana bermukim bukan hanya suami-isteri tapol, tapi juga tidak sedikit jumlah anak-anak mereka. Di tengah-tengah mereka bahkan tidak sedikit yang mempunyai anak-anak balita dan bahkan masih di gendongan. Anak-anak yang lahir sesudah suami ibu mereka ditahan entah di mana rimba mereka. Anak-anak itu, sejak mereka datang dan tinggal di tempat kediaman baru, telah kehilangan salah satu buah budaya-dapur yang sangat mereka kenal, yaitu “bakso”. Jamur-jamur jerami yang bulat sebesar-besar ibujari itu cukup direbus, diberi sedikit garam, dan jika mau tambahkan sedikit cabe tumbuk, lalu berikanlah kepada anak-anak kita. Sambil katakanlah: “Nak, inilah baksomu. Sudah siap!”
“Bakso apa, bu?” Mungkin merrka bertanya.
“Bakso Tefaat.”
“Apa itu bakso tefaat, bu?”
Tidak mau memberi teka-teki lebih banyak pada anak-anak, si Ibu menjawab mengikuti “jalan berpikir” suami dan kawan-kawannya sesama tapol.
“Bakso nabati!”
“Kalau bakso kita di Jawa?”
“Itu bakso hewani …”
Si Anak diam. Mungkin karena sudah segera hanyut bersama segar kuah bakso-tefaat. Tapi bisa jadi juga karena tergoncang oleh kata “hewani”. Bakso Jawa bakso hewan. Hewan itu binatang!
Sesungguhnya hanya sepatah nama saja. Hanya sayangnya nama “bakso tefaat”, bakso jamur jerami itu, datang lebih kemudian dari bakso hewani di Jawa. Padahal bakso hewani yang Jawa itu pun, sejatinya, sudah mengkhianati namanya sendiri. “Ba(k)so”, jika konsekuen pada namanya, ialah “kuah” atau “air babi” … Begitu kata bahasa Mandarin.

***

Sementara itu pintu-pintu air ke lahan, dan semua gili-gili di pematang sudah dibuka kembali. Petakan-petakan sawah sengaja digenangi segera sesudah panen usai, agar ketika datang musim bajak atau cangkul tanah tidak lagi keras. Pekerjaan petani sawah yang berikut ialah memperbaiki pematang, karena selain banyak yang rusak oleh waktu juga banyak yang dirusak oleh tikus, atau membikin pematang-pematang baru apabila perlu. Sementara itu petak-petak leleran atau meja-meja pembibitan disiapkan, disusul dengan membajak atau menyangkul dan (me)nyacah (istilah Sunda: ngeprek) atau melembutkan tanah cangkulan. Kemudian menyusul pekerjaan menggaru lahan. Tujuan pekerjaan ini untuk meratakan tanah. Karena itu kerbau lebih lazim digunakan untuk penarik garu ketimbang sapi, dan sebaliknya sapi lebih lazim digunakan untuk penarik bajak. Kerbau bertubuh lebih tambun ketimbang sapi, sehingga gerak-geriknya pun lebih lamban ketimbang sapi.
Sampai saat ini sepatah kata-majemuk “revolusi hijau” telah memperkaya perbendaharaan kata peradaban manusia. Tapi, bagaimanapun, manusia belum (tidak?) bisa mempercepat masa tumbuh dan berbuah sesuatu tanaman. Padi bibit unggul belum (tidak?) akan bisa dipaksa panen kurang dari paling tidak tiga bulan atau seratus hari. Demikian juga umur ketika bibit dicabut (Jawa: dhaut), dan kemudian ditanam, belum (tidak?) bisa dilakukan “sebelum umur” atau “selewat umur” – paling cepat 17 hari dan paling lambat 25 hari. Untuk mencegah kemungkinan diserang hama, bibit perlu disemprot insektisida pada sekitar 7-10 hari sebelum musim dhaut tiba. Dua-tiga hari menjelang bibit ditanam lahan dikeringkan dari genangan air dan ditabur dengan pupuk penyubur TSP. Semuanya itu merupakan langkah-langkah budi dan daya manusia untuk melancarkan “revolusi hijau” dengan sukses. Tapi tidak untuk bisa menundukkan dan mengalahkan alam.
Kehendak alam memang dan hanya bisa dijinakkan dan diajak berdamai. Tapi ia belum (tidak akan?) bisa dipaksa tunduk. Karena itulah barangkali, maka moralitas kaum tani ialah moralitas alam. Kesabaran kaum tani ialah kesabaran alam. Dan kesabaran ialah kunci kemenangan. Perhatikanlah isi pesan aforisma di bawah ini:

Paman-paman tani yutun, den eling,
aja age-age nyebar, srantekna den sabar
yen udan tumurun, ndang sebarna
mesthi becik thukulane …

Paman-paman tani sejati, ingatlah
jangan tergesa menabur, tunggu bersabarlah
bila hujan telah turun, segera sebarlah
pastilah bagus tumbuhnya …

Kaum tani yang hanya bisa menjinakkan dan berdamai dengan alam itu tentu saja tidak bisa menanami lahan tanah dengan bibit semau diri sendiri. Jika bibit unggul Jagus[1] dari jaman Bung Karno mensyaratkan cangkul dalam, tanam rapat dan cukup dengan 1-2 batang – karena ia akan beranak banyak; bibit-bibit unggul dari jaman Jendral Suharto, jenis IR (International Rice) misalnya, cangkul dalam, tanam dalam jarak 20 cm x 20 cm dengan masing-masing 3-5 batang.
Setelah tanam selesai gili-gili pengairan diperiksa dan jika perlu diperbaiki, rumput pematang dibabad agar tidak menjadi sarang tikus dan berbagai jenis hama. Untuk sementara sawah bisa ditinggalkan, dan tapol petani pindah bekerja di ladang. Sesungguhnya bagi tapol di Tefaat Pulau Buru dan keluarga di Desa Savanajaya justru ladang yang menjadi sandaran hidup pertama dan utama. Hama palawija, terutama jagung, ada dua jenis betet: betet dan “betet”. Betet pertama ialah betet yang sebenarnya, dan “betet” kedua ialah penamaan tapol untuk tonwal. Jika datang menyerbu ladang betet dan “betet” berkawan-kawan. Bedanya betet jenis pertama datang sianghari dan hanya membawa perut, sedangkan “betet” jenis kedua datang siang-malam dan membawa ransel atau karung! Betet jenis pertama jika dihalau akan terbang beramai-ramai, sedangkan “betet” jenis kedua akan menghardik dan menghukum barangsiapa yang berani mengusirnya. Miskun, tapol Unit XIV Bantalareja, misalnya, karena berani menolak mengisi karung, harus menanggung resiko dengan kehilangan nyawanya. Hama tanaman ladang yang lain ialah babihutan dan rusa. Tapi mereka itu bisa dialangi dengan pagar bambu yang dipasang rapat di sekeliling ladang.

Adapun hama padi terlalu banyak dan ganas. Wereng, terutama jenis wereng coklat, mentek atau hama-putih, ulat-tentara, tikus, burung, juga babihutan. Selain oleh banyaknya hama padi, juga kondisi tanah di Unit IV Savanajaya dan Unit XIV Bantalareja memang tandus. Beda dengan unit-unit atas, yaitu unit-unit di hulu Wai Apo, yang dibuka di atas hutan bambu, kedua unit bawah tersebut dibangun di atas padang alang-alang dan rawa-rawa sagu.

Karena sandaran sawah dan ladang yang tidak memberi kepastian itu, banyak warga desa yang mencari hidup dari berbagai macam usaha lain. Untuk yang mempunyai modal membuka warung kelontong atau kebutuhan sehari-hari, kedai kopi atau warung makan. Untuk yang sekedar punya sedikit uang lebih, “berdagang” sayuran atau hasil bumi lainnya ke pasar. Untuk yang bermodal dengkul mencoba menjual jasa dengan membuka bengkel sepeda, reparasi arloji, radio transistor, dan tukang cukur.

Sekitar tiga minggu kemudian, sampai bulan ketiga ketika bulir-bulir padi telah “berisi” dan mulai menjadi padat, kerja bersawah datang susul-menyusul: menyiang atau matun (dari kata Jawa “watun”), kadang-kadang harus tiga kali; memupuk dua atau tiga kali; dan satu atau dua kali menyemprot dengan insektisida. Semuanya itu dilakukan berselang-seling dengan pekerjaan merawat dan menjaga tanaman palawija di ladang.

Kebutuhan kepang untuk menjemur padi, kotak penggabahan yang tapol lazim menamainya kotak gebukan[2], tambir dan tampah untuk menampi gabah dan beras, kebanyakan warga desa menerima bantuan dari unit tempat asal masing-masing, atau dibikin secara gotong-royong bersama sesama warga desa. Alat penggiling padi atau kiseran untuk pemberasan padi, blower — yaitu alat bukan mesin untuk penampi[3], pada umumnya warga meminjam dari inventaris RT atau RW.

Panen merupakan pekerjaan yang memerlukan banyak tenaga kerja. Maka tidak heran jika dahulu, ketika alat-alat kerja bertani modern belum masuk desa, masyarakat desa di Jawa mengenal lembaga kerja yang disebut “derep”[4]. Bagi warga Desa Savanajaya tenaga kerja bantuan panen bisa mereka harapkan dari unit-unit asal masing-masing, atau tenaga kerja bantuan tapol dari unit-unit tetangga terdekat, khususnya Unit XIV Bantalareja. Tanpa tenaga bantuan itu seluruh pekerjaan panen (membabad, menumpuk, menggebuk, mengangkut gabah ke rumah, dan menjemur gabah) tidak akan bisa mengejar waktu. Batang-batang padi akan berebahan di sawah, bulir-bulir padi rontok dan membusuk, dan jerih-payah satu musim tanam akan menjadi sia-sia belaka.

Pada 6 Februari 1974 rombongan keluarga tapol kedua dari Jawa akan datang mendarat lagi di Namlea. Mereka berjumlah 62 keluarga (lebih tepat: isteri atau ibu), dengan anak mereka masing-masing, bahkan ada yang membawa adik dan anak menantu! Ini tentu terbius propaganda bohong di Jawa tentang kemakmuran Pulau Buru dan tentang status sosial-politik suami atau ayah mereka. Sehingga jumlah “mulut” di Desa Savanajaya, dalam ingatanku, tak kurang dari 240-an “mulut” dewasa dan anak-anak.
Kembali lagi seluruh unit di Tefaat Buru menjadi sibuk. Menyongsong kedatangan keluarga “kita sendiri”: isteri “kawan-kawan”, dan anak-anak mereka – keponakan-keponakan “kita sendiri”! Tiba-tiba saja kata dan paham “ke-kita-an” dan “ke-kawan-an” timbul kembali di tengah kehidupan tapol, yang sudah sejak bulan-bulan pertama menjadi penghuni kamp-kamp penahanan Orde Baru kehilangan kepercayaan pada organisasi, kekawanan, dan kekitaan itu. Hati nurani tapol barangkali ketika itu seketika merasa terusik dan tergugah. Mereka itu orang-orang merdeka. Tapi semuanya, entah bagaimana ceritanya – entah dengan sukarela atau dengan secara paksa – telah menapolkan diri, menyatu dalam nasib suami dan ayah masing-masing, dan bahkan kawan-kawan sendiri yang selama itu belum pernah saling kenal-mengenal.
Seperti pada waktu menyongsong kedatangan rombongan pertama, pekerjaan tapol di unit-unit membantu menyiapkan rumah, sawah dan ladang buat mereka yang baru datang. Rumah siap huni sisa dari rombongan pertama masih sekitar seratus bubung lebih. Masih lebih dari cukup untuk 62 “keluarga kita” itu. Tinggal sumur masih harus digali, dan dapur masih harus dibangun. Begitu juga pagar sekeliling kapling, meja-kursi dan dipan harus dibikin. Demikian pula masih harus dikerjakan pembikinan jalan menuju ke setiap rumah, serta penanaman tanaman penghijauan di pekarangan dan di sepanjang jalan rumah itu. Dua jenis tanaman wajib yang diperintahkan Komandan ialah dua bibit cengkeh di depan setiap rumah, dan bibit pohon turi di sepanjang jalan desa. Tapi yang terutama sangat penting disiapkan, ialah menanami ladang mereka dengan palawija berumur pendek, seperti muntul, jagung, keladi, sayuran, dan cabe. Keluarga Jawa, dari mana saja mereka, hampir tidak ada yang bisa dipisahkan dari cabe! Sedemikian jauh sampai ada sepatah ungkapan mereka mengatakan: “Tak apa tidak ada apa-apa, asal sudah ada nasi dan sambal!”

Juga untuk 62 keluarga baru ini mendapat 6000 m2 sawah dan 4000 m2 ladang, sama seperti keluarga yang terdahulu. Berarti untuk mereka semua harus disiapkan 25 ha (tepatnya: 24,8 ha) ladang, dan 40 ha (tepatnya: 37,2 ha) sawah. Bukan lahan kosong yang harus diterimakan kepada mereka. Tapi sawah yang sudah menunggu panen sekitar dua bulan mendatang, begitu juga ubirambat dan jagung di ladang palawija sudah akan panen sebelum delapan bulan “masa konsolidasi”[5] habis.

Dua hal itulah, menyiapkan 25 ha ladang dan 40 ha sawah, tugas utama dan pertama yang harus saya hadapi sebagai Pengatur Kerja Unit XIV Bantalareja. Unit IV Savanajaya telah kehabisan lahan, baik sawah maupun ladang. Sementara itu lahan Unit XIV Bantalareja juga sudah berkurang 25 ha untuk Unit Ancol, pindahan dari Unit Jiku Kecil, yang dibuka sekitar pertengahan 1973.

Padahal keadaan Unit XIV Bantalareja ketika itu menjadi unit termiskin di antara-antara unit-unit se-Tefaat, dengan segala gejala sebagai akibat kemiskinannya itu. Unit XIV Bantalareja yang dikenal sebagai “Unit Jakarta Murni” atau “Unit Betawi” (sebab, selain asal kampnya yang Jakarta [Salemba-Tangerang], juga latar-belakang budayanya yang Betawi), “Unit Sagu” (sebab sawah-ladangnya gagal dan hidup bertopang hasil rawa sagu), “Unit Liberal” (sebab bagian terbesar penghuninya anak-anak muda yang telah kehilangan kepercayaan pada organisasi dan pimpinan), “Unit Maling” (sebagai akibat langsung kelaparan), dan segala sebutan serba buruk lain-lainnya. Barangkali justru karena itulah, yaitu bahwa tidak menampak lagi sifat-sifat ketapolan – apalagi kekomunisan! – pada Unit XIV Bantalareja, maka Dan Tefaat Kolonel Samsi MS sengaja memindahkan Unit Jiku Kecil (unit hukuman untuk tapol die-hards), dan bahkan seakan-akan menjadi sempalan dari kawasan Unit XIV Bantalareja. Unit inilah yang kemudian dikenal dengan sebutan “Unit Ancol”. Bukankah di Jawa sana Jakarta-Ancol juga dua kawasan yang saling berjejer rapat? Karenanya unit tapol hukuman itu tidak perlu dibangun di dekat Markas Komando, di tepi Wai Apo, tapi bertetangga dengan Unit I dan Unit II yang terkenal “unit keras”.
Unit XIV sampai ketika itu memang belum pernah satu kali pun berhasil panen. Sawah tidak, ladang juga tidak. Pada 17 Agustus 1972, misalnya, ketika unit-unit lain libur satu hari penuh atau setengah hari, dan mendapat jatah minum manis dan makanan ekstra bubur kacang-hijau atau kolak-singkong, Unit XIV tetap kerja satu hari penuh. Tidak ada makanan dan minuman tambahan, bahkan jatah makan siang yang dibagikan dapur unit pun hanya tiga butir ubijalar. Ubijalar yang sudah tidak patut dimakan manusia, karena banyak yang bopeng dimakan hama, sehingga ketika dimakan berasa pahit.
Kapan kita bisa makan kenyang? Kapan lidah kita kembali mengecap rasa nasi? Kalimat-kalimat keluh-kesah seperti itu hampir setiap saat terdengar, walaupun dalam nada yang sudah luntur dalam canda dan gurauan sehari-hari. Menertawakan dan mengejek nasib. Itu juga, disadari atau tidak disadari, salah satu kiat manusia bertahan hidup.
Ungkapan keluh-kesah itulah yang diam-diam kutetapkan sebagai acara-kerja kepengurusanku di unit. Tanpa kucantumkan di mana pun selain di dalam hatiku sendiri. Program yang tidak perlu kuumumkan dalam brifing atau apel, juga tidak perlu kuteriakkan sebagai pecut di tengah sawah dan ladang. Mereka lapar. Aku mengerti. Karena aku sendiri lapar seperti mereka. Mereka ingin makan kenyang. Aku tahu. Karena itulah juga keinginanku sendiri. Mereka juga tahu, bagaimana cara untuk memenuhi keinginan mereka itu. Maka sesungguhnya sebagai Pengatur Kerja, tugasku hanyalah mengatur mereka. Bukan memberi perintah. Jika aku mereka pilih menjadi Pengatur Kerja, sesungguhnya mereka hanya memerlukan aku sebagai perisai dalam berhadapan dengan “depan”: Wisma Komandan dan Mes Tonwal.

Ke “belakang” tugasku ialah mengatur. Mengatur keinginan mereka, dan mengatur langkah mereka dalam usaha memenuhi keinginan itu. Kepercayaan pada kebersamaan dan pimpinan harus kubangun. Untuk itu aku tidak boleh mengubah kebiasaanku sehari-hari. Pagi-pagi sesudah apel aku ke kantor unit, dan kemudian ikut bekerja di tengah-tengah areal. Berbicara dengan Komandan dan staf, atau Dan Ton dan Tonwal, kuanggap cukup pada kesempatan brifing setiap petanghari. Ngobrol ngalor-ngidul dengan petugas, yang kudengar suka dibela sebagai “taktik” demi “melunakkan hati penguasa”, bagiku tiada lain hanyalah isepan jempol yang tidak tahu malu dan tidak jujur pada diri sendiri. Isepan jempol! Karena, adakah terhadap tapol penguasa militer masih punya hati yang bisa dilunakkan? Tidak tahu malu dan tidak jujur pada diri sendiri! Karena sesungguhnya, yang dituju tidak ada lain selain fasilitas bagi diri sendiri. Meskipun fasilitas itu sekedar bebas dari kerja fisik bersama kawan-kawan sesama tapol, dan mendapat kenikmatan sekedar sepelinting rokok tembakau hitam!

Demikian itulah pandangan dan pemahamanku tentang tugasku selaku pengatur kerja. Tugas dan bukan kewajiban. Tugas ialah sesuatu yang timbul dari kesadaran dan kemauan sendiri, sedangkan kewajiban ialah sesuatu yang dibebankan oleh kemmauan dan kekuatan dari luar. Oleh karena itu sedikit pun aku tidak pernah merasa ragu akan keberhasilanku. Karena tidak ada alasan padaku untuk meragukan kawan-kawanku dalam kesungguhan mereka untuk mengatasi lapar. Aku percaya. Karena, siapakah orangnya yang tidak ingin terbebas dari rasa lapar?***

[1] Jagus (baca: Yagus) petani asal Klaten, yang dalam tahun awal 60-an menemukan bibit padi unggul, yang dikembangkannya dari jenis padi local; di samping Jagus, di Klaten juga ada penemu bibit padi unggul

[2] Dahulu kerja panen secara tradisional dilakukan dengan alat ketam (Jawa: ani-ani), yaitu memotong malai padi dari batangnya. Cara begini dimungkinkan karena tinggi batang padi lokal mencapai 50-100 cm, dua atau tiga kali lipat tinggi batang padi bibit unggul. Karenanya kerja panen padi unggul dilakukan dengan membabad tanaman padi rumpun demi rumpun. Dahulu penggabahan berarti melepaskan gabah dari malai (Jawa: merang), dan dilakukan dengan menumbuk malai padi pada lesung; sekarang penggabahan berarti melepaskan gabah dari malai dan jerami (Jawa: damen), dan dilakukan dengan “menggebukkan” genggam demi genggam jerami berpadi itu pada bibir dalam kotak-gebukan. Ketika itulah “lesung” sebagai benda budaya fisik dan konsep (kosakata) hilang dari khasanah kehidupan kita.

[3] Kiseran dan blower, alat tanpa mesin dan digerakkan dengan tangan (tenaga manusia), semuanya dibikin tapol Inrehab Pulau Buru dengan bahan kayu keras (meranti merah atau laban); untuk daun baling-baling blower digunakan bahan seng, dan tali penggerak roda dari bahan karet. Penggagas dan pencipta alat-alat ini Suwarto, tapol Unit XVIII Argapura (kemudian pindah ke Unit XV Indrapura); sebelum ditahan dan menjadi tapol ia pemilik bengkel mobil di Tegal, Jawa Tengah.

[4] “Derep”, kata Jawa, yaitu panen padi beramai-ramai; di sini para “penderep” atau buruh-tani penjual jasa kerja panen itu diberi upah dalam natura, yang dalam kata Jawa disebut “bawon”; sebelum UUBH (Undang-Undang Bagi Hasil) 1962 menetapkan imbangan bawon antara buruh-tani dengan pemilik sawah sebesar 6 : 4 (6 untuk pemilik, dan 4 untuk pekerja), imbangan itu bisa 5 : 3 atau bahkan lebih buruk dari itu. Dahulu tenaga kerja penderep di musim panen begitu bisa datang dari penjuru desa-desa yang jauh, mereka biasa disebut “kerja mboro” (mungkin dari kata “ngumboro”, mengembara). Di tempat orang “derep” demikian, banyak orang berjualan makan-minum, dan penderep bisa membelinya dengan cara natura (dalam kata Jawa disebut “urup”, “bakupele” dalam istilah bahasa Buru), yang mereka ambil dari hasil “bawon”.

[5] Keluarga tapol, juga tapol, yang dimukimkan di daerah baru diperlakukan seperti transmigran. Sebelum usaha cocok-tanam mereka berhasil, pemerintah menyuplai secara cuma-cuma kebutuhan pangan mereka selama delapan bulan. Itulah yang dalam istilah penguasa, dalam kebijakan penanganan terhadap transmigran dan tapol, disebut “masa konsolidasi”. Mengapa 8 bulan, barangkali berdasar penghitungan musim tanam tanaman baku padi dan jagung, yang dalam 3- 4 bulan sudah akan bisa panen.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s