Buru Pulau Purgatorio

Hersri Setiawan

          Cerita untuk Rahung Nasution

Buru Pulau Purgatorio 

Sesudah 20 Tahun

1979 – 1999

“DAIHATSU” yang kami tumpangi menuju ke Mako. “Daihatsu” yaitu kendaraan angkutan umum jenis mikrolet, menurut sebutan masyarakat setempat. Yang disebut “Mako” sekarang tetap sama seperti di “Jaman Tapol”. Terletak di pinggir Kali Wai Apo, di antara unit-unit besar Unit I Wanapura dan Unit II Wanareja, di satu titik jalan penyeberangan menuju ke unit-unit hulu.

Fungsi yang diemban Mako sekarang pun mungkin masih sama seperti di Jaman Tapol dulu. Fungsi sebagai Markas Komando. Bedanya cuma dalam penjelasan. Di Jaman Tapol Mako berwenang atas Inrehab Pulau Buru, sedangkan di “Jaman Transmigrasi” wewenang itu atas teritorial yang disebut “Distrik Militer”. Pangkat komandannya pun sama. Di Jaman Tapol Letkol, di Jaman Transmigrasi juga Letkol. Sama seperti Komandan-Komandan Kodim di mana saja di Indonesia.

Mendengar kata “mako”, sesudah 20 tahun masih tetap berlaku itu, sebenarnya aku merasa agak terkejut. Apalagi segera ternyata pula, bahwa bukan istilah “mako” itu saja yang tetap lestari atau dilestarikan. Tetapi juga beberapa istilah-istilah yang lain, seperti misalnya istilah “unit” yang tidak diubah menjadi “desa”; “korve” tidak menjadi “kerja bakti” atau “gotong royong” atau “gugur gunung” (seperti yang terjadi di Jaman Jepang , yang murni fasis-militer). Walaupun penggantian istilah-istilah itu tetap sekedar eufemisme yang menyelubungi kemunafikan sekalipun!

Bagi orang yang tidak mengalami jaman 20 tahun lalu secara langsung, ketika istilah-istilah itu dibentuk dan diberlakukan, barangkali tidak timbul perasaan apa-apa. Seperti di kalangan transmigran yang bermukim di sana-sini di lembah Wai Apo, atau apalagi anak-anak mereka, yang mulai didatangkan gelombang demi gelombang ke Pulau Buru sejak tahun 1979. Istilah-istilah itu mereka terima sebagai sesuatu yang sudah ada, sehingga tidak memancing konotasi pada apa dan mana pun. Tidak ada itu “What is in a name?” timbul pada pikiran mereka. Mungkin bahkan juga tidak bagi keluarga-keluarga eks-tapol yang sudah “di-transmigrasi-kan” itu. Mereka itu sudah larut dalam ungkapan “hilang bisa karena biasa”. Atau, lebih dari itu, mereka ibarat ikan-ikan di dalam akuarium, yang sudah barang tentu tidak sadar terhadap lingkungannya, dan bahkan mungkin juga terhadap keberadaan mereka sendiri. Bahwa mereka berada di dalam ‘akuarium’.

Lain bagiku. Sudah dua puluh tahun aku tidak lagi di dalam akuarium itu. Maka, jika aku sekarang memandanginya kembali, pandangan itu terlahir dari sikap dan pandangan yang berjarak. Aku bukan hanya mengalami langsung jaman awal berlakunya istilah-istilah itu. Tapi juga merasai langsung, bagaimana istilah-istilah itu “diterjemahkan” kedalam kehidupan sehari-hari. Sehingga dengan kondisi dan sikap serta pandangan yang demikian itu, sebuah pertanyaan lalu timbul padaku. Apakah tetap berlakunya beberapa istilah warisan Jaman Tapol itu, bukan suatu tanda bahwa nafas militerisme telah melembaga di dalam budaya-bawah masyarakat?

***

“DAIHATSU” yang kami naiki berangkat dari halte induk. Di depan pasar Namlea. Berjajar-jajar di sana mikrolet-mikrolet berwarna kuning menunggu penumpang ke berbagai jurusan. Riuh rendah suara teriakan calo-calo berebut calon penumpang.

Calo-calo “Daihatsu” Namlea, seperti calo-calo kendaraan angkutan umum di mana saja, tampil di hadapan calon penumpang sebagai subjek yang agresif. Mungkin karena sifat pekerjaannya, tapi bisa jadi juga karena kekerasan hidup di jaman kebangkrutan Orde Baru dan penerusnya sampai sekarang. Dalam “dunia percaloan” ini wajah filsafat “freefight liberalism” benar-benar telanjang. Masing-masing saling berebut tinggi suara, meneriakkan nama-nama trayek tempuhan kendaraan yang ditawarkan. Dari trayek yang paling dekat: Namlea-Dermaga (4 Km), sampai yang jauh dan paling jauh: Namlea-Mako (45 Km), Namlea-Tifu, dan Namlea-Wai Nébé (68 Km).

Calo-calo berebut penumpang. Aku dan Willy[1] berebut waktu dan tempat duduk. Lima belas orang, termasuk sopir dan kenèk berdesakan di “Daihatsu”. Tiga di depan, dan dua belas di belakang. Enam orang sebelah sini, lima orang sebelah situ. Kenèk di depan pintu.

Ada tiga orang pemuda sebaya pelajar SMA, berpakaian anak-kota dan berpenampilan bersih. Tapi mereka bersikap malu-malu, dan mencuri-curi pandang “minder” pada kami. Aku tidak tahu, apa yang berbisik pada pikiran Willy. Ada sesuatu, “cuek aja”, atau bahkan sama sekali tidak menangkap suasana itu. Tapi tidak begitu padaku. Oleh pandangan minder yang mencuri-curi itu, aku merasa seperti disinari lampu sorot. Apa yang aneh padaku? Kacamataku? Sepatuku? Atau dari keringat kami yang  tercium bau keju Belanda?

***

Diam di atas “Daihatsu”. Tak ada suara penumpang. Semua seperti dihimpit oleh berbagai pertanyaan sendiri di dalam hati masing-masing. Hanya si Sopir tetap bekerja pada kemudi kendaraannya yang terus menderu-deru.

Aku sesungguhnya diam kebingungan. Menurut skenario kami, aku berperan sebagaiguide turis cewek bule yang tak bisa “berbahasa”, dan komunikasi antara kami berdua harus dalam bahasa apa saja selain Indonesia. Tapi kalau mereka mendengar kami saling bicara dalam bahasa asing, pikirku, jarak antara kami dengan mereka yang berupa kebisuan itu pasti akan menjadi semakin parah. Ini akan merugikan kedua pihak. Di pihak kami, kami akan makin tampil sebagai domba putih di tengah kawanan kambing hitam. Sedang di pihak mereka, rasa ingin tahu terhadap kami akan menjadi semakin besar. Rasa seperti ini, apalagi jika bercampur dengan rasa cemburu, akan bisa berakibat buruk. Padahal waktu itu merupakan pengalaman pertama kembali masuk Buru. TIdak sebagai tapol lagi, tapi sebagai ‘orang asing’.

Orang Jawa punya pepatah “sadawa-dawané lurung, isih luwih dawa gurung”. Sepanjang-panjang jalan, kerongkongan masih lebih panjang lagi. Sejengkal jadi sehasta, kata orang Melayu. Jika yang menjadi lebih panjang ceritanya, maka berarti cerita itu tidak akan sesuai lagi dengan keadaan senyatanya. Dan jika ditambah lagi dengan lebih panjang atau lebih jauh jangkauan penyebaran ceritanya, maka berarti tidak mustahil sampai ke “telinga Kodim”, di pinggir kali Wai Apo sana.

Sementara aku sibuk dengan kebisuanku, tiba-tiba kudengar suara Willy menembus kebekuan.

“Bapak mau ke mana?”

Yang ditanya seorang lelaki, berperawakan tipis. Ia duduk di sebelah kirinya. Menurut penglihatanku, ia sudah harus lebih 60 tahun. Berikat kepala, mulutnya merah karena makan sirih. Di pangkuannya seorang anak laki-laki sekitar 7 tahun. Kuduga cucunya. Orang Buru, pikirku. Aku ingat kepala soa Walgan Baru, sebuah kampung dekat unitku, Unit XV Indrapura. Sudah bongkok dimakan umur dan dirongrong kemiskinan, tapi beristri muda berwajah manis, yang membikin cemburu para tapol.

“O, bisa bahasa Indonesia!?” Suara beberapa orang kudengar serentak menyahut. Tiga orang pemuda tadi saling berbisik. Tegang wajah mereka agak mencair.

“Sedikit saja.” Jawab Willy.

Selanjutnya kudengar mereka bercakap tentang berbagai hal. Kota Namlea yang sekarang ramai, banyak toko dan penuh barang macam-macam, tapi terlalu mahal untuk dompet rakyat. Besarnya uang pensiun guru SMP (dia mantan guru SMP Kristen ) tidak cukup untuk menopang hidup keluarga. Banyaknya perusahaan penebangan kayu milik asing di pedalaman. Di pedalaman itu antara lain beroperasi dua perusahaan logging, bernama nasional: PT “Jayanti” dan PT “Gema Sanubari”. Danau Rana yang menarik dikunjungi, selain oleh panoramanya yang indah, juga karena penduduknya yang berkulit jernih. Apakah ini sisa-sisa peninggalan Jaman Portugis dulu?

“Saya juga tinggal di sana. Istri saya sendiri berkulit putih! Seperti Nyonya!” Katanya dengan bangga.

“Bagaimana bisa, orang berkulit putih di sana?” Tanya Willy.

“Kita bisa ke Rana dengan kendaraan bermotor?” Aku menimbrung.

“Bisa Pak!” Seorang lelaki yang duduk di paling ujung menyahut pertanyaanku. Orang ini tidak kalah kerempeng dari Pak Guru SMP Kristen pensiun itu. Kulit dan wajahnya berkeriput, hitam terbakar. Pakaian, rambut dan kumisnya kusut. Matanya yang agak sipit, memancarkan garis-garis ketahanan hidupnya yang rawan.

“Bisa”. Lanjut orang itu. “Tapi tidak langsung, Pak. Kendaraan umum sampai Wai Nébé, kemudian dari Wai Nébé harus carter ke Rana.”

“Bisa carter di sana?” Tanya Willy.

“Bisa Nyonya. Di Wai Nébé banyak “Daihatsu”. Juga kendaraan omprengan sopir-sopir perusahaan itu, kan?” Kata Pak Guru Pensiun.

“Kalau Bapak sendiri dari mana?” Tanya lelaki yang duduk di ujung kepadaku.

“Dari Jogya”. Jawabku.

“Jogya!?” Sahutnya nyaring. Matanya pun mendadak bersinar-sinar. “Saya juga dari Yogya kok Pak!” Katanya sambil mengajak tukar tempat duduk dengan penumpang lain.

“Bapak dari Jogya?” Tanyanya meyakinkan diri sendiri. Ia duduk berhadap-hadapan dengan tempat dudukku.

Aku tidak segera percaya, bahwa ia orang Jogya. Kusangka ia peranakan Cina-Buton, tengkulak sagu atau kayuputih. Orang Jogya mana berani merantau, ke pulau tandus sejauh Pulau Buru? Waspada Hersri! Mungkin ini perangkap? Aku memperingatkan diri sendiri.

***

Sekilas aku teringat pengalaman dari medio 1950-an.

Ketika itu aku di desa Ngalihan Karangmaja Kecamatan Playen. Satu dari desa-desa paling miskin di daerah Gunungkidul Jogya, Ngalihan, selain desa paling miskin, ketika itu juga baru terbebas dari merajalelanya ular bandotan yang berbisa, dan serangan hama tikus yang luar biasa hebat. Begitu langkanya makan, di satu pihak, dan begitu banyaknya tikus yang mengamuk, maka tidak hanya hasil tanam-tumbuh yang menjadi korban tikus-tikus itu. Tetapi juga ternak, bayi, dan bahkan orang dewasa. Pada waktu tidur di malam hari orang-orang dewasa membungkus kaki mereka dengan pembungkus apa saja. Walaupun begitu orang hanya pasrah. Mereka percaya tikus-tikus itu bukan sembarang tikus. Tetapi tikus jadi-jadian bala tentara Nyai Lara Kidul, yang datang dan pergi bergulung-gulung bersama gelombang laut pasang dan surut.

Pada suatu hari saya terlibat percakapan dengan salah seorang Kepala dukuh.

“Kepala dukuh di sini dapat bengkok tidak, Pak?”

“Dapat. ‘Tuh!” Jawabnya sambil menunjuk berkeliling.

Kami berdiri di depan rumah, atau lebih tepat gubuk kecil, berdinding bambu dan beratap welit. Di dalam rumah itu tidak ada dinding penyekat apa-apa. Seluruhnya merupakan satu ruangan. Ada amben plupuh panjang di satu sisi, cukup untuk tidur ber-5 atau ber-6. Aku, seorang temanku, Pak Dukuh, istri, anak sulung sekitar 5 tahun, dan adiknya yang masih menetek. Di sudut sana gentong air. Di sudut sana lagi tungku tanah, bikinan sendiri, bermulut tiga. Di malam hari, pada satu tiang rumah di ujung kaki kami jika belunjur di amben, diikat seekor kambing kacangan[2] induk, dengan dua cempe-cempenya yang dibiarkan lepas. Tidak ada kakus dan sumur di sekitar rumah. Kami mandi ke kali bawah tanah yang bening dan sejuk airnya, tapi jauhnyangudubilah setan[3]. Kalau kami pergi mandi, berangkat jam 15:30, dan tiba kembali di rumah sudah jam 18:30 atau lebih.

Tanah di sekitar terlalu keras dan berbatu-batu. Di sekeliling gubuk Pak Dukuh hanya terlihat bukit-bukit. Tidak salah Gunungkidul juga disebut Gunung Sèwu, yang tak lain berarti daerah dengan beribu gunung. Bukan sekedar tandus bukit-bukit itu, tapi sudah aus dimakan waktu. Sehingga yang terlihat hanyalah batu-batu besar yang mencuat.

“Berapa hektar bengkoknya, Pak?”

“Ya ndak bisa diukur. Gimana ngukurnya wong pegunungan begitu? Tapi sembilan bukit. Lalu milik kami sendiri dua bukit yang sana itu!” Katanya sambil sekali lagi menudingkan telunjuknya ke arah sana dan sini.

“Hasil jagung dan gaplek berapa kuintal?”

“Kuintal?” Jawabnya menyanggah. “Dua pikul!”

Aku sebentar tertegun. Ingat pada “Obrolan Pak Besut”, yang berisi pesan ajakan bertransmigrasi.

“Kenapa Pak Dukuh tidak transmigrasi ke Lampung?”

” Kenapa tidak transmigrasi?” Heran mendengar pertanyaanku, dia balik bertanya. Membantah.

“Ya, kata orang , Lampung makmur. Kan itu cuma kata orang! Sedang sejatinya bagaimana, kita kan tidak tahu? Tapi baiklah! Andai kata tanah di sana benar-benar subur, tapi kan tetap saja?! Orang, kalau mau makan, ya harus kerja. Kan begitu?! Juga di sini. Asal kita mau kerja ya dapat makan. Nah! Sama-sama kerja mencangkul saja kok jauh-jauh! Lagi pula leluhur-leluhur kita semua dikubur di sini. Kenapa pergi? Tidak. Saya memilih di sini saja. Makan tidak makan asal kumpul …”

Ya. Mangan ora mangan waton ngumpul. Itulah adagium hidup orang Jogya. Atau mungkin juga orang Jawa pada umumnya. Yang pertama, bersama-sama, barulah kemudian yang lain-lain, termasuk makan dan bahkan mati. Sesumbar “mati bareng dak-lakoni” sangat banyak kita dengar di pakeliran wayang atau di atas panggung ketoprak.

***

“Saya transmigran dari Jogya, Pak!” Laki-laki hitam terbakar dan bermata sipit itu membangunkan aku dari lamunan.

“Transmigran dari Jogya?’ Tanyaku. “Sudah berapa tahun Bapak di sini?”

“Dua puluh enam tahun.”

“Dua puluh enam tahun!? Tapi 26 tahun yang lalu belum ada transmigrasi ke Pulau Buru!? Apalagi dari Jogya!”

“Saya transmigrasi khusus, kok Pak!”

“Transmigrasi khusus? Maksud Bapak …?”

“Ya. Transmigrasi khusus!” Dipotongnya kalimatku yang belum habis.

Akh ya, tentu saja. Aku tahu, “transmigrasi khusus”. Aku tahu, apa maksud Bapak itu. Tapi tak perlu kuucapkan. Sekarang aku tidak perlu sangsi lagi pada kebenaran kata-katanya. Kataku berbisik sama sendiri. Dalam hati aku bahkan menjadi girang bukan main. Tanpa kuduga, selagi masih di awal perjalanan, sudah bertemu seorang “kawan”. Tapi, walaupun begitu, aku tak boleh naif. Siapa tahu, pengakuan-pengakuannya itu sekedar langkah pembukaan untuk permainan selanjutnya? Aku datang bersama “turis” bulé. Dan bulé selalu berdompet tebal. Lebih buruk lagi, kalau dia termasuk di antara tapol-tapol coro[4]. Aku masih belum lupa, barangkali tidak akan pernah lupa, nama-nama beberapa tapol coro di Desa Savanajaya.

“Di Jogya di mana, Pak?” Ia mulai membuka langkah.

“Panembahan. Kampung sebelah timur kraton itu.”

“O, ya saya tahu! Klub sepak bola saya juga klub “njeron beteng”, kok Pak. NKB[5]”

“O, ya? Siapa kiper NKB?” Sekarang aku mencoba menguji dia.

“Unang to, Pak? Dia sebenarnya juga bagus main depan. Tapi pemain depan kan banyak. Sedang kiper yang bagus jarang sekali. P. Unang S. Dia kan penyair “Remadja Nasional”, Pak”?

Dia benar. Ya, aku tahu pasti. Karena rumahku dan rumah orang yang disebut bernama P. Unang S berhadap-hadapan. Di samping itu aku pun Penasihat Redaksi “RN”.

“Kami kemudian sama-sama terpilih menjadi pemain PSIM-B. Unang tetap kiper, saya kanan luar.”

“Kalau kanan luar PSIM-A siapa?” Aku menguji lagi.

“Amir to, Pak?! Dia itu dari HW[6], kesebelasan Kauman. Larinya cepat seperti kijang. Umpannya panjang dan tajam. Tapi ya tidak selihai kanan luar PSIM dua angkatan sebelumnya. Belum ada yang bisa menandingi, siapa itu …, Karto Iwak!”

Aku tertawa.

“Kenapa kau tertawa?” Sela Willy tersenyum penasaran.

“Itu pemain sepakbola Jogya, kanan luar”. Aku menjelaskan. “Ia orang berasal Jawa Barat. Terkenal dalam jaman sebelum perang. Sebenarnya nama pemain itu Kartawa. Tapi orang Jogya tidak kenal bunyi “a” miring begitu. Yang ada “karto” bukan “karta”. Dan “wa(k)”? Tidak ada kata Jawa terdiri dari satu sukukata. Kecuali kata-kata interjeksi. Lagi pula “wa(k)” tidak ada referensinya dalam perbendaharaan batin mereka. “Uwak” bisa, artinya Pakdhé. Tapi harus ditempatkan di depan “Karto”. Uwak Karto atau Pakdhé Karto. Maka itu lalu jadilah “iwak”. Ikan. Karto Iwak. Kalau dibelandakan mungkin “Meneer Karto de Vis”, begitu?

Mendengar ceritaku, sementara penumpang diguncang-guncang tawa dan senyum. Aku sendiri menjadi merasa lebih tenang. Mungkin aku tetap tampil aneh di tengah mereka. Karena pakaian yang kupakai, bau keringatku, dan perempuan bule dan pirang yang “kubawa”. Tapi setidak-tidaknya aku tidak tampil sebagai sosok wartawan, melainkan orang yang pandai dalam ilmu “othak-athik mathuk”. Yaitu kiat menyaling-hubungkan banyak unsur, sehingga semuanya menjadi satu kesatuan baru yang utuh. Orang Jawa bukan main gemar “ngèlmu” logika vulgar yang demikian itu. Banyak wejangan-wejangan kebatinan dikemukakan dengan metode “ngèlmu othak-othik” ini. Bahkan Ki Ageng Bringin alias Surya Mataram tak terlepas daripadanya, apa lagi guru-guru kebatinan yang murahan!

“Bapak turun di mana?” Tanya Willy.

“Di Savanajaya. Nyonya? Dan Bapak?”

“Juga Savanajaya.”

“Apa ada saudara? Kenalan, atau …?”

“Ah, ronda-ronda saja.” Aku yang menyahut. “Kami dengar Savanajaya kan desa transmigrasi tertua di Buru? Dan berita-berita mengatakan, sekarang Buru makmur. Namlea ramai. Pasar, toko-toko penuh barang bermacam-macam. Tidak beda dengan Ambon .”

“Kita nanti harus turun di mana, Pak?” Tanya Willy.

“Nanti sama-sama saya. Di tikungan pertama masuk desa itu. Rumah saya tinggal beberapa langkah dari situ. Silakan mampir. Kalau mau ronda-ronda, biar nanti diantar Heru. Anak saya.”

“Terimakasih. Maaf, pak. Nama Bapak?”

“Purwadi.”

Purwadi! Sekali lagi aku melonjak kegirangan di hati. Aku mensyukuri datangnya pengalaman-pengalaman yang tampaknya serba terjadi kebetulan itu. Tapi yang pasti, kebetulan atau tidak kebetulan, bagaimanapun juga “perjalanan ibadahku” akan menjadi lebih lancar. Ini tentu Purwadi Savanajaya yang dulu juga. Ia berasal dari Unit XVI Indrakarya, unit yang mayoritasnya tapol berasal dari Jawa Barat.

Sejak tahun 1972 keluarga tapol dari Jawa, gelombang demi gelombang, mulai disusulkan ke Pulau Buru. Purwadi termasuk tapol yang “menang lotere”. Begitu istilah kami ketika itu, untuk teman-teman tapol yang disusul istri dan anak, sehingga karenanya mereka “dimasyarakatkan” di Desa Savanajaya. Sesungguhnya kami telah termakan oleh isu “pemasyarakatan” yang dilancarkan rejim militer.

Purwadi, yang disusul istri dan dua orang anak-anaknya, lalu “dibebaskan” dari Unit XVI dan pindah berkumpul dengan keluarganya, yang “dimasyarakatkan” di Unit IV Savanajaya.

Sekitar setahun sebelum itu Unit IV Savanajaya telah dikosongkan. Tapol-tapolnya dipindah dibagi-bagi ke berbagai unit atas, dan Unit IV Savanajaya dibangun menjadi desa tapol pertama dengan nama sama: Desa Savanajaya. Jalan-jalannya diperlebar dari 6 meter menjadi 8 meter (!), diberi nama yang indah-indah, dari nama para pahlawan sampai nama tumbuhan dan bunga-bunga. Waduk Waibini diperkuat, dan sekelilingnya diperindah menjadi taman. Areal penggaraman Unit di pantai Sanleko, dirombak dijadikan tempat rekreasi dengan sebutan yang bergengsi: “Sanleko Beach”. Sudah tentu semuanya itu sekedar sebagai bedak dan gincu. Karena bersama rombongan pertama keluarga, dan sekaligus pembukaan Desa Savanajaya, akan datang banyak wartawan dari dalam dan luar negeri, serta tamu-tamu dari lembaga kemanusiaan internasional.

***

Setiap tapol yang “dimasyarakatkan” dan berkumpul dengan keluarganya yang datang “menyusul”, mendapat pembagian satu rumah berdinding papan, beratap seng, berlantai tanah, dengan tiga bilik; satu hektar sawah dan setengah hektar ladang.

Ketika Desa Savanajaya dibangun, dan rombongan keluarga gelombang pertama dan kedua datang, aku menjadi Pengatur Kerja Unit XIV Bantalareja, unit tetangga terdekat dengan Savanajaya. Desa Savanajaya sesungguhnya dibangun oleh dukungan seluruh unit-unit. Tapi dalam hal pengadaan tenaga kerja, pekerjaan land clearing, pembuatan jalan-jalan, pelebaran dan pemeliharaanmya, dan bahkan pembukaan areal sawah pertama (50 ha), tentu saja Unit XIV Bantalareja, sebagai tetangga terdekat, mendapat beban kewajiban yang paling banyak. Banyak tenaga kerja dan waktu kerja terserap untuk penyiapan desa, sementara itu target-target kerja di unit sendiri tidak bisa ditawar-tawar. Akibatnya, selama beberapa bulan, jam kerja menjadi diperpanjang sampai jam 18:00 atau 18:30, karena banyak macam pekerjaan penyiapan desa yang harus dikerjakan di luar jam kerja. Korve, menurut istilah penguasa.

Akibatnya lalu timbul pertentangan tajam di kalangan tapol Unit XIV Bantalareja. Lebih tepat: kalangan sebagian kecil. Yaitu antara kelompok yang berpendirian “kiri” dan kelompok yang berpendirian “kanan”, dalam menyikapi rencana pemerintah untuk pembangunan desa tapol itu. Antara yang “pro”, berarti yang siap melaksanakan (katakanlah “menyukseskan”), dan yang “kontra”, berarti yang bertekad menggagalkan (katakanlah “menyabot”). Adapun kalangan luas, yang biasa disebut “massa”, ibarat domba-domba manis yang selalu menuruti arah tongkat penggembalanya saja. Karena itu, dalam keadaan yang demikian dan di mana saja pun, sosok penggembala yang arif, yang faham tentang musim dan cuaca serta pandai membaca serpihan-serpihan cahaya leitstar, selalu mutlak diperlukan oleh massa.

Aku, sebagai Pengatur Kerja, seperti dihadapkan buah simalakama. Berapa kali sudah insiden-insiden penyiksaan “ringan” terhadap tapol terjadi, berapa kali pula lonceng apel dipukul berdentang-dentang. Tapol-tapol dikumpulkan di lapangan apel untuk di-“kitakami” (kosakata tapol Buru untuk “cacimaki”) dan diancam, dengan disertai tuduhan menyabot rencana “pemasyarakatan” pemerintah. Tetapi tidak mungkin buah simalakama itu kulempar. Sebab, jika kulempar sudah pasti semua, selain penguasa, akan mati. Sedangkan kalau kumakan, salah satu saja yang akan selamat. Tapi, siapa tahu, mungkin kedua-duanya akan selamat! Tapi, sikapku yang gambling demikian itu, tentu saja bukannya tanpa konsekuensi. Konsekuensi cap samar-samar: “tapol moderat”.

Pada suatu malam Samlawi (Bung Sam! Di mana kau sekarang berada?), seorang muda yang dikenal sebagai Jawara Banten, yang pernah kuselamatkan dari hukuman Unit, baik penguasa maupun sesama tapol, karena kasus homoseksualitas, datang menyelinap ke balik kelambuku.

“Pak”, katanya berbisik. Kutangkap deburan jantungnya yang meninggi. “Mulai besok kalau kontrol areal jangan sendirian, Pak!” Pintanya. “Dan jangan tugaskan saya jauh dari areal Unit!”

“Kenapa?”

“Ada komplotan mau melibas Pak Hersri. Tapi tidak usah khawatir. Saya dan kawan-kawan akan selalu di dekat Pak Hersri. Ingat ya, Pak …!”

Ia segera melompat dari ambenku, dan menyelinap dalam kegelapan. Kembali ke baraknya, atau menghubungi kawan-kawannya di barak lain. Aneh. Rasa takut sekilas pun sama sekali tidak menyelinap di hatiku. Yang terbayang padaku justru lukisan Juski Hakim, Pelukis Rakjat: Bung Njoto bersetelan serba putih, lusuh, matanya tetap tenang dan jernih memancar dari balik kacamatanya. Ia berjalan tegap, dipagari oleh jagoan-jagoan Madura, berpakaian hitam-hitam: celana komprang, baju ancinco terbuka di dada, kaus loreng merah-putih. (Siapa menyimpan lukisan Juski itu sekarang?).

Aku hanya menarik napas panjang. Di dalam angan-anganku penuh dengan bayangan sosok istri-istri dan anak-anak tapol. Mereka, entah atas kemauan sendiri atau oleh tekanan dan ancaman penguasa, telah dikumpulkan di barak-barak penampungan di Jakarta dan Surabaya, untuk selanjutnya digiring ke Pulau Buru. Untuk ditapolkan bersama suami masing-masing. Tidakkah layak belaka jika kita, yang sudah bertahun-tahun di Buru, menyiapkan tempat bernaung yang senyaman-nyamannya bagi mereka itu? Ya, senyaman-nyamannya, walau dalam keadaan yang seburuk-buruknya pun!

Demi mengingat istri-istri dan anak-anak tapol itulah, ada atau tidak ada jaminan pagar Jawara Banten, aku teguh pada sikapku dan hanya bisa pasrah. Kepasrahan yang sebenarnya sudah kuambil sejak hari pertama aku ditangkap. Dalam ketidak-berdayaan, aku tinggal hendak mempertahankan apa yang harus kupertahankan. Buah simalakama itu kuambil dan kumakan. Desa Savanajaya yang dihadapkan sebagai fait à compli harus kusukseskan! Demi anak-anak dan ibu-ibu tapol. Demi ayah dan suami mereka. Demi kehidupan!

***

Pada tahun 1974, kaum militer penguasa Inrehab, untuk kesekian kalinya melancarkan teror mental terhadap tapol. Bentuk teror kali ini ialah, semua unit “dikocok”, kecuali Unit Ancol. Penghuninya dipecah-pecah dan ditukar-pindahkan. Pendek kata, dilakukan pengelompokan ulang. Sementara itu diciptakan dua unit, Unit XIII Giripura dan Unit XV Indrapura, yang mendapat sebutan dari penguasa sebagai “unit ubinan”, dan terkadang disebut juga sebagai “Unit Macan” atau “Unit Tokoh”. Unit XIII dihuni macan-macan gembong politik, sedangkan Unit XV macan-macan biasa. Di Unit XIII banyak dihunikan kader sentral dan kader daerah PKI, di Unit XV dihunikan tokoh-tokoh masyarakat seperti Pramudya Ananta Toer, Rivai Apin, Samanjaya alias Oei Haydjoen, Tjo Tik Tjoen, Naibaho, Karel Supit, Dr. Suprapto, Buyung Saleh Puradisastra dll. Tetapi juga dihunikan di sini eks-guru SD Cawang Jakarta bernama Suparjo, yang akibat setruman dan bermacam-macam siksaan lainnya menjadi sinting, dan mengaku diri sebagai bernama Suparjo P.A, yang berarti “Pikiran Abnormal” alias “Purworejo Asli”. Selain dia, juga aku, mungkin sebagai konsekuensi logis dari “ketokohanku” di lembaga pengarang Asia-Afrika dahulu.

Aku pindah dari Unit XIV Bantalareja ke Unit XV Indrapura. Terbebas dari jabatan sebagai Pengatur Kerja, dan kembali sebagai warga biasa unitku yang baru. Kepala barakku Ahmad Sonjaya, tapol berasal Banten. Sebelum itu ia pernah menjadi salah satu Kepala Barak di Unit XVI Indrakarya, di mana berhuni juga Purwadi, laki-laki yang sekarang duduk di depanku ini.

Sesudah Purwadi disusul anak-istrinya, dan karenanya lalu menjadi warga dan penghuni Desa Savanajaya, hubungan dengan unit asal dan lebih khusus lagi dengan barak masing-masing tetap berlangsung. Seperti juga tapol-tapol dari unit-unit lainnya yang “menang lotere”, seperti Purwadi itu. Pada waktu-waktu tertentu, umumnya sebulan sekali, barak mengirim tenaga korve dengan membawa bermacam-macam hasil kebun barak sendiri: jagung, kacang tanah, kedelai, sayuran dan lain-lain.

DI Desa Savanajaya rumah keluarga Purwadi lalu mendapat peranan tambahan. Pertama, menjadi pos peristirahatan “anak-buah” Sonjaya yang pulang korve dari Sanleko di siang hari; dan, kedua, menjadi mata-rantai penghubung rahasia dengan penduduk Buru dari kampung-kampung terdekat, Marloso (5 Km) dan Jamilo (11 Km). Bukan mata-rantai gelap urusan politik dan organisasi, melainkan sekedar urusan perut. Urusan survival fisik tapol. Karena itu rumah Keluarga Purwadi lalu menjadi terminal terakhir Korve Dhemit, khususnya “dhemit-dhemit” dari Barak Ahmad Sonjaya.

Seperti sebutannya itu an sich sudah menunjukkan, dalam “korve dhemit” tapol memainkan peranan sebagai dhemit. Bukan hanya peranannya sebagai dhemit, tapi juga gerak-geriknya. Dhemit-dhemit bergerak pada malam hari secara dhedhemitanatau secara rahasia, menggunakan kode-kode rahasia, meliwati jalan-jalan “rahasia” untuk menghindari patroli tentara. Bandingkanlah korve dhemit-dhemit tapol ini dengan korve dhemit-dhemitnya Bandung Bandawasa ketika membangun candi untuk Dewi Lara Junggrang di Prambanan, atau dhemit-dhemitnya Sangkuriang ketika menggali telaga untuk Dyah Hyang Sumbi di Tangkuban Perahu. Bedanya, korve dhemit Bandung Bandawasa dan Sangkuriang untuk kepentingan junjungan dan kekasih mereka, korve dhemit tapol untuk kepentingan sesama tapol sendiri. Yang kami angkut pada korve dhemit barak di malam hari itu berbagai macam hasil cocok tanam yang laku keras di pasar penduduk (baca: para tengkulak dari Buton), yaitu sagu, kedelai, kacang tanah, telur, dan sayur-sayuran terutama buncis dan kacang panjang.

“Minggir!” Seru Purwadi. Ternyata aba-aba penumpang menghentikan kendaraan umum di Buru sama seperti di Jakarta.

“Kita turun di sini, Pak!” Ajak Purwadi pada kami.

Kulihat dia membayar seribu rupiah pada kenèk. Tapi pada kami, aku dan Willy, masing-masing ditarik seribu lima ratus. Kami tidak memrotes. Juga Purwadi tidak kelihatan heran. Tentu saja karena kami dua orang pendatang, apalagi yang satu seorang nyonyah berkulit putih pula.

“Itu rumah saya!” Kata Purwadi, sambil menunjuk rumah di sudut jalan.

“Lho kok di sini?” Tanyaku. “Dulu di tengah sana, bukan Pak?”

“Ya, betul!” Jawabnya tercengang. “Bapak kok tahu?!”

“Dia dulu orang sini, Pak!” Willy yang menyahut.

“Hah!?” Seru Purwadi menarik langkah .***

Serpong Estate:  Akhir Maret 2015

[1]  Willy van Rooijen, ketika itu wartawan majalah ‘Onze Wereld’, organ NOVIB (NederlandseOrganisatie Voor Internationale Bijstand; organisasi Belanda untuk urusan dana pembangunan internasional), yang terbit bulanan di Belanda.

[2] Nama jenis kambing yang berbadan lebih kecil dibanding dengan jenis yang lain, gibas atau bandhot;  kambing kacangan juga mempunyai frekuensi beranak lebih cepat, dan juga beranak lebih dari satu ekor.

[3] Ungkapan Jawa, tentu saja ubahan dari ‘auzubillah minas-syaitan.

[4] ‘Coro’ salah satu jargon tapol untuk menyebut sesama kawan tapol yang ‘menjijikkan’, ‘kotor’ dan lain-lain, yaitu tapol-tapol yang menjual-diri kepada penguasa; sebutan lain untuk mereka ‘cecunguk’. Lebih lanjut lihat ‘Kamus Gestok’, Hersri Setiawan, Galang Press 2004, pada lema bersangkutan.

[5] Kependekan dari Ngudi Kasarasaning Badan; demi kesehatan jasmani.

[6] Kependekan dari Hisbul Wathan; persatuan pemuda, sebagai bagian kepemudaan dari Muhammadiyah.

Tulisan diambil dari: https://www.facebook.com/notes/1048655348482602/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s