Satu Mei, Buruh dan Delapan Jam Kerja

may-day-vs-labor_1367138224

“Kalau yang menjadi seorang Revolusionis adalah kaum intelektual, tidak akan dianggap kejahatan. Tetapi kalau yang menjadi seorang Revolusionis ternyata kaum miskin, itu akan dijadikan kejahatan.” – Samuel Fielden (pejuang Haymarket)

“Dari kematian perbudakan satu kehidupan baru bangkit seketika. Buah pertama Perang Sipil adalah agitasi delapan-jam.” — Karl Marx

“Sesungguhnya, sejarah mengandung banyak kisah yang memperlihatkan kepada kita akar dari radikalisme kita. Ketika kita mengenang bahwa orang ditembak supaya kita dapat memperoleh 8-jam hari kerja; jika kita mengetahui bahwa rumah-rumah dengan keluarga yang berdiam di dalamnya dibakar habis agar kita dapat menikmati Sabtu sebagai hari libur di akhir pekan; ketika kita mengingat para korban kecelakaan kerja berusia 8 tahun yang ikut berderap di jalan memrotes keadaan kerja dan buruh anak lalu dipukuli polisi dan preman-preman pabrik, kita memahami bahwa kita tidak dapat menganggap keadaan kita sekarang sebagai sesuatu yang sudah selayaknya kita miliki – orang-orang berjuang untuk hak-hak dan martabat yang kita nikmati hari ini, dan masih banyak lagi yang harus diperjuangkan. Pengorbanan begitu banyak orang tidak dapat dilupakan begitu saja atau kita akan kembali harus bertarung untuk merebut yang sudah kita peroleh sekarang. Karena itulah kita merayakan May Day!   — Eric Chase (IWW, 1993)

Mereka yang bukan buruh atau yang merasa bukan buruh mungkin tidak tahu persis mengapa 1 Mei sebagai Hari Buruh patut diperingati secara nasional dan internasional. Seperti ketika sebagian masyarakat Indonesia bersungut-sungut saat buruh melancarkan pemogokan, banyak yang tidak menyadari bahwa pakem-pakem yang menjaga kemanusiaan kita pada hari ini dimungkinkan oleh perjuangan kaum buruh. Pembatasan jam kerja, pemberlakuan hari libur/cuti haid/hamil, kebijakan tentang pengupahan yang layak, pemberian asuransi kesehatan dan kecelakaan kerja, dll. adalah hasil jerih payah kaum buruh, yang diantaranya menggunakan mogok sebagai alat perjuangan utama. Seperti ungkapan yang sering muncul pada hari ini “Jangan pernah lupa. Orang tewas demi delapan jam kerja.”

Ya, ratusan orang tewas, terluka dan kehilangan pekerjaan demi memperjuangkan 8-jam kerja di Chicago, Amerika Serikat pada 1886. Hari Buruh Internasional memperingati pembantaian kaum pekerja saat melakukan pemogokan dan demonstrasi yang diorganisir Dewan Buruh Pusat Chicago di kompleks Haymarket antara 1-4 Mei 1886. Aksi kaum buruh menuntut 8-jam kerja yang didukung sekitar 90.000 buruh ini berlangsung damai hingga para industriawan yang merasa terancam oleh kekuatan buruh memerintahkan polisi untuk membubarkan aksi tersebut dengan paksa. Empat orang buruh tewas dan ratusan lainnya luka-luka akibat tembakan pembubaran pada hari pertama. Hari berikutnya ribuan orang turun ke jalan menuntut kematian kawan-kawan mereka. Aksi ini pun awalnya berlangsung damai sampai seseorang yang tidak dikenal melontarkan bom ke arah polisi yang akan membubarkan kerumunan massa dan menewaskan seorang anggota polisi. Tanpa komando yang jelas terjadi rangkaian tembak-menembak antara polisi dan orang-orang yang berada di sekitar massa buruh. Ratusan lagi terluka dan tewas, sementara di pihak polisi enam orang tewas.

Walikota Chicago segera memberlakukan keadaan darurat. Delapan orang yang dianggap menjadi otak kerusuhan ini ditangkap, begitu juga ratusan buruh yang dituduh terlibat kerusuhan. Melalui proses pengadilan yang berpihak kepada penguasa dan pengusaha empat tertuduh dijatuhi hukuman gantung, dua dihukum seumur hidup, satu dipenjarakan 15 tahun, dan satu lagi yang termuda, bunuh diri.

Represi terhadap gerakan 8 jam kerja meluas di berbagai kota di AS. Namun solidaritas nasional pun internasional terhadap para buruh yang dituduh sebagai tersangka dalam peristiwa Haymarket tak kalah kuat. Tokoh-tokoh publik ternama, termasuk hakim dan gubernur, mengecam eksekusi terhadap tersangka. Di Eropa pun protes dan demonstrasi berlangsung terus-menerus.

Gerakan buruh di AS tetap dengan tuntutan mereka walaupun selalu ada resiko ditangkap, dipenjarakan dan dibunuh. Mereka tidak punya pilihan karena tanpa terlibat dalam perjuangan yang beresiko besar seperti ini pun kehidupan mereka sudah payah. Hari kerja mereka sehari-hari antara 12-14 jam dan mereka harus bekerja sepanjang minggu, hampir-hampir tanpa hari libur. Lagipula, sebelum terjadi depresi ekonomi pada 1837 pemerintah sudah pernah memenuhi tuntutan gerakan buruh untuk mengurangi jam kerja sampai 10-11 jam. Berarti pengurangan itu mungkin tanpa harus memotong upah! Akhirnya parlemen AS bersedia mensahkan undang-undang federal tentang pemberlakuan 8 jam kerja per hari pada 25 Juni 1938 — 52 tahun setelah peristiwa Haymarket.

Usulan untuk memeringati perlawanan buruh di Haymarket sebagai Hari Buruh Internasional muncul di AS dan di Paris. Pada 1888 organisasi buruh yang baru terbentuk, Federasi Buruh Amerika, menyatakan bahwa pada 1 Mei 1890 buruh akan melakukan pemogokan dan demonstrasi untuk mendesakkan 8-jam kerja. Setahun kemudian saat organisasi partai-partai buruh dan kaum Sosialis, Internasional Kedua,  mengadakan kongres mereka yang pertama pada Juli 1889 dinyatakan bahwa peringatan bagi gerakan perlawanan buruh di Haymarket akan menjadi tradisi bagi gerakan buruh internasional.

Hari Buruh Internasional, atau sering juga disebut May Day, sekarang diperingati sebagai hari libur nasional di 66 negara di dunia. Di AS sendiri ironisnya Hari Buruh tidak jatuh pada 1 Mei, melainkan pada minggu pertama September. Pemerintah AS yang senantiasa ketakutan dengan berkembangnya paham Sosialisme atau Komunisme berusaha mencegah tumbuhnya ingatan kolektif tentang perlawanan buruh yang berhasil mendesakkan tuntutan-tuntutan fundamental seperti yang terjadi di Haymarket.

 

international-workers-day_women

Sumber:

http://www.pslweb.org/liberationnews/newspaper/vol-6-no-7/history-may-day.html

http://en.wikipedia.org/wiki/May_Day

http://www.iww.org/history/library/misc/origins_of_mayday

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s