Kisah KPAA dan Seanteronya dan Genderang Maut Semangat Bandung

Hersri Setiawan


Suatu ketika aku membaca dua tulisan bersambung perihal KPAA (Konperensi Pengarang Asia-Afrika) dari Bung Sobron Aidit dan Bung Z. Afif, baik dari situs jaringan pers sibernetika sana-sini, maupun dari kiriman pribadi penulis-penulis tersebut. Kedua sahabat itu sekarang sudah tidak ada lagi, Bung Afif meninggal di Swedia dan Bung Sobron di Paris.

Tulisan sobat-sobat lama itu bertajuk “Obrolan Malam KPAA”, beredar di orbit jejaring sana-sini pada tanggal 9 dan 10 Februari 2003. Lebih delapan tahun lalu! (artikel ini ditulis ulang 2012). Ketika itu juga aku lalu tergerak untuk ikut ‘buka suara’ barang satu-dua patah kata tentang perihal tersebut dalam tajuk. Tapi sesungguhnya hasratku untuk buka suara barang satu-dua patah kata perihal KPAA ini sudah timbul sebelumnya. Yaitu sekitar tanggal-tanggal dekat sesudah Agam Wispi meneruskan perjalanan kepenyairannya ke alam barzakh. Tanggal ia mulai menapaki lorong perjalanan keabadian itu pada 1 Januari 2003.

KPAA-1963-01

KPAA 12-13 Juli 1963: Sekjen Senanayake, rapat di Jakarta. Tampak pula dalam gambar Sitor Situmorang. (foto: Oey Hay Djoen/ISSI)

KPAA-1963-03

KPAA 12-13 Juli 1963: Sekjen Senanayake, rapat di Jakarta. Tampak pula dalam gambar Sitor Situmorang. (foto: Oey Hay Djoen/ISSI)

Sejurus sesudah tanggal itulah aku membaca, juga di situs jaringan sibernetika (antara lain “HKSIS”, salah satu pers-sibernetika Indonesia di Hongkong, sekarang sudah tidak aktif dan kegiatannya diteruskan dengan nama Gelora45 ), tulisan Z.Afif tentang Konferensi Pengarang Asia-Afrika di Beijing tahun 1966. Dalam tulisan ini tersebutlah bahwa Agam Wispi sebagai wakil Indonesia untuk Biro Pengarang Asia-Afrika. Juga tulisan Sobron menyinggung perihal (aku sebut saja) “Konferensi KPAA Beijing” ini, selain terutama tentang Sidang Komite Eksekutif KPAA di Denpasar tanggal 16-21 Juli 1963.

Maka artikel ini akan aku “perluas” menjadi artikel perihal kisah KPAA dan seanteronya, walaupun hanya ibarat secara “selayang pandang” belaka, serta tentang genderang maut Semangat Bandung. Karena “AA” dan “Bandung” ibarat sudah menjadi satu lambang dari semangat yang sama. Tapi, walaupun hanya secara selayang pandang, namun harapanku mudah-mudahan lalu timbul gambaran tambahan, baik tentang Sidang Komite Eksekutif KPAA Denpasar (1963) maupun tentang Konferensi KPAA Beijing (1966) itu.

Jika kita bicara tentang ini dan itu, ini dan itu yang membawa predikat berupa dua huruf singkatan “A-A”, pastilah itu berarti dari kepanjangan kata “Asia-Afrika”, asalkan singkatan “AA” itu kita jumpai dalam konteks jaman baheula tatkala Bung Karno masih segar-bugar, atau dalam konteks sejarah di masa itu .

Apakah Asia-Afrika jaman baheula itu? Afrika jaman baheula bukanlah sarang mahakemiskinan dan HIV/aids, dan Asia jaman baheula bukanlah sarang terorisme seperti dituduhkan oleh polisi-polisi dunia. Tapi, dua benua berinisial AA itu, AA di masa Bung Karno, adalah sarang kebangkitan gerakan kemerdekaan dan emansipasi yang menggentarkan dada Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya! Asia-Afrika ialah Bandung. Karena Bandung pernah, di jaman Bung Karno itu, didesain bakal menjadi ibukotanya Asia-Afrika. Oleh siapa lagi kalau bukan oleh Bung Karno!

Lalu, mengapa Bandung? Karena di kota inilah pada bulan April 1955, untuk pertama kali dalam sejarah dunia telah berlangsung konferensi negara-negara Asia-Afrika, yang belakangan juga dikenal sebagai “Konferensi Bandung”. Dan dari Konferensi Bandung ini lahir apa yang dikenal sebagai “Semangat Bandung”, cermin dari semangat sepuluh butir ketentuan dasar yang merupakan hasil Konferensi A-A, atau yang lebih dikenal dengan sebutannya “Dasasila Bandung”. Sepuluh butir ketentuan dasar itu tertuang sebagai Declaration on the Promotion of World Peace and Cooperation (Pernyataan Penggalakan Perdamaian dan Kerjasama Dunia).

Demikianlah.

Ijinkanlah aku sekarang mengajak Sdr-sdr mengingat kembali, sekali lagi sepintas kilas, tentang Konferensi A-A atau Konferensi Bandung itu. Sukur kalau ada di antara Sdr yang bisa menemukan kembali pidato Bung Karno tatkala membuka konferensi pada 18 April 1955, yang diberinya berjudul Let a New Asia and a New Africa Be Born! (Biarlah lahir Asia Baru dan Afrika Baru!). Agar dengan begitu nanti, jika kita masuk ke “Konferensi KPAA Beijing” 1966, yang ternyata menjadi pertanda hembusan nafas terakhir gerakan pengarang A-A itu, bisa kita tangkap apakah jelujur benang-merah gerakan itu masih ada di sana, dan kalau masih bagaimana pula keadaan si benang-merah itu. Sudah kusut atau masih lurus, sudah pucat atau masih tetap merah menyala.

Konferensi Bandung ialah konferensinya negara-negara Asia dan Afrika, yang diprakarsai bersama oleh lima negara: Indonesia (Ali Sastroamidjojo), Burma (sekarang Myanmar: U Nu), India (Pandit Jawaharlal Nehru), Pakistan (Mohamad Ali) dan Srilangka (Sir John Kotelawala). Dihadiri oleh utusan dari 29 negara-negara A-A, yang ketika itu mewakili separoh lebih dari jumlah seluruh penduduk dunia.

Adapun suara dominan konferensi, sebutlah ini ‘benang-merah konferensi’, mencerminkan ketidak-puasan lima negara pemrakarsa terhadap keengganan negara-negara Barat untuk memandang negara-negara A-A sebagai mitra berunding, tentang langkah dan kebijakan mereka yang berdampak terhadap bangsa-bangsa dan negara-negara yang baru merdeka, dan yang sedang berjuang untuk merdeka di dua benua itu. Konferensi menyatakan keprihatinannya melihat ketegangan hubungan antara RRT (Republik Rakyat Tiongkok, yang di Indonesia sekarang lebih dikenal dengan sebutan China) dan AS (Amerika Serikat). Konferensi gandrung akan terciptanya dasar yang lebih mantap bagi terciptanya hubungan damai antara RRT, Taiwan, dan negara-negara Barat. Konferensi menentang keras kolonialisme, terutama pengaruh Perancis di Afrika Utara; dan Indonesia memperingatkan dunia tentang pertikaiannya dengan Belanda karena masalah Irian Barat.

KPAA 1963, Hersri Setiawan ketiga dari kiri. (foto: Oey Hay Djoen/ISSI)

KPAA 1963, Hersri Setiawan ketiga dari kiri. (foto: Oey Hay Djoen/ISSI)

Perdebatan sengit sidang umum konferensi juga berkisar pada masalah, apakah politik Uni Soviet di Eropa Timur dan Asia Tengah harus dikecam sebagai sejalan dengan kolonialisme Barat? Konsensus sidang tercapai, dirangkum dalam rumusan kalimat yang menyatakan: bahwa “kolonialisme dalam segala pernyataannya” (colonialism in all of its manifestations) harus dikutuk. Sepatah rumusan yang secara implisit mengecam (tidak eksplisit yang memang sengaja dihindari), baik Uni Soviet maupun negara-negara Barat. Perdana Menteri RRT, Chou Enlai, menunjukkan sikapnya yang luwes dan mendamaikan perdebatan. Dengan demikian ia berhasil meredakan sementara delegasi yang anti-komunis, yang khawatir terhadap ‘pamrih terselubung’ RRT.

Lihatlah!

Konferensi A-A 1955 itu pada satu pihak memberikan suasana hangat dan sejuk pada negeri-negeri A-A yang baru merdeka dan yang sedang bangkit untuk merdeka, pada lain pihak membikin panas dan gentar pada Amerika Serikat dan Barat kolonialis, serta di antara yang dua itu tentu saja menimbulkan suasana resah gelisah pada Uni Soviet!

Indonesia (baca juga Soekarno) oleh karenanya, lalu semakin lantang menyerukan kebijakan politik luar negerinya yang ‘bebas dan aktif’. ‘Bebas’ dari dua blok Barat dan Timur, ‘aktif’ dalam meneruskan peningkatan perjuangan antikolonialisme.

Politik ‘bebas dan aktif’ inilah yang bagi Indonesia merupakan titik-tolak, namun sekaligus juga mimbar titik-temu bagi ajang atau front semua kekuatan anti-imperialisme dan anti-kolonialisme. Inilah api yang digandrungi oleh Soekarno sejak ia turun pertama ke kancah pergerakan politik (yang kebetulan juga) di Bandung. Sejak mula pertama ia mengangkat pena perjuangannya, sampai saat terakhir ketika pena itu dirampas paksa (dengan atau tidak dengan todongan senjata) oleh jendral-jendral pesuruh Suharto, ditulisnya dan ditulisnya berulang-ulang dengan tinta merah dan tebal-tebal serangkaian kata-kata ‘samenbundelen van alle revolutionaire krachten’. Kata keterangan ‘revolutionaire’ itu yang dengan terang-terangan dihapus oleh A.H. Nasution. ‘Samenbundelen van alle krachten’, kata Nasution!

Dari uraian selintas di atas, kuharap kita lantas mengerti jika ‘A-A Bandung’ yang merupakan mimbar politik ini, segera ditindak-lanjuti dengan menerjemahkannya di berbagai bidang yang dipandang perlu dan bisa dilaksanakan. Maka lantas lahir berbagai gerakan Asia-Afrika, yang menetapkan tempat kedudukannya masing-masing. Yaitu, biro solidaritas rakyat di Kairo, Republik Persatuan Arab (United Arab Republic, nama Mesir saat itu), wakil Indonesia di sini Ibrahim Isa; biro pengarang di Kolombo, Srilangka, wakil Indonesia Rivai Apin / Setiawan Hs; biro wartawan di Jakarta, Indonesia, wakil Indonesia Joesoef Isak; biro ahli hukum di Konakri, Guinea, wakil Indonesia Wiyanto SH; biro ekonomi, juga di Kolombo, wakil Indonesia Ridwan Basyar. Masih ada satu biro lagi yang masih dalam proses penjajakan tapi urung berdiri, yaitu biro buruh yang agaknya direncanakan juga di Kolombo, karena mengingat besarnya pengaruh organisasi buruh perkebunan (yang bersemangat tinggi “anti-remo”) di bawah pimpinan N. Sanmugathasan. Pada sidang-sidang pendahuluan biro buruh ini, Indonesia diwakili oleh Achadiat dari Denas Sobsi (Dewan Nasional Serikat Organisasi Buruh Seluruh Indonesia). Bahwasanya biro buruh A-A ini urung berdiri, kukira karena faktor adanya WFTU (World Federation of Trade Unions; Federasi Serikat-Serikat Buruh se-Dunia), di samping gerakan buruh yang terorganisasi di banyak negeri Asia dan apa lagi Afrika yang masih terlalu lemah.

A.A. Navis seorang pengarang peserta KPAA 1963. (foto: Oey Hay Djoen/ISSI)

A.A. Navis seorang pengarang peserta KPAA 1963. (foto: Oey Hay Djoen/ISSI)

Jadi, jika hasil kesudahan Konperensi Bandung itu kita pakai sebagai ‘batu duga’ untuk membaca situasi global ketika itu, secara awam bisalah dikatakan bahwa:

(1) gerakan ‘the new emerging forces’ (Nefo) sedang mulai pasang;

(2) bahwa posisi mapan ‘the old established forces’ (Oldefo) semakin terancam dilimbur pasangnya Nefo; dan

(3) bahwa di tengah situasi yang demikian posisi Uni Soviet ibarat ‘juna durna’ yaitu ‘maju kena mundur pun kena’.

Bagi Uni Soviet, karena alternatif lain atau pilihan ketiga tidak tersedia, maka tidak ada lain kecuali harus merebut kembali inisiatif, dengan mengambil pilihan: maju terus!

Mari kita sekarang mulai khusus bicara tentang masalah konferensi pengarang itu.

Dengan mengingat hal-hal tersebut di atas, kita tidak perlu heran jika prakarsa membangun gerakan pengarang Asia-Afrika justru diambil oleh Uni Soviet. Maka Konferensi Pengarang Asia-Afrika yang pertama pun akhirnya diselenggarakan dalam bulan Oktober 1958 dan justru dipilih kota Tashkent! Mengapa justru Tashkent? Ini tentu saja sambil membikin satu gebrakan inisiatif, sekaligus sambil — istilah orang Betawi — ‘meng-kik-balik’ atau menyepak kembali kecaman dan tuduhan ‘Bandung’, yaitu bahwasanya Uni Soviet memainkan politik kolonialisme atas Eropa Timur dan Asia Tengah!

Pada sidang Tashkent ini delegasi Indonesia, kalau aku tidak salah ingat (sayang tidak pernah aku cek lagi, misalnya pada Bung Oei Haidjun (Samandjaja), Kepala Bagian Luar Negeri Lekra, sampai ia sudah tiga tahun lewat berpulang) dipimpin oleh Pramudya Ananta Toer dan Sitor Situmorang. Pada konferensi yang pertama ini belum ditetapkan di mana tempat kedudukan Biro Pengarang Asia-Afrika. Namun sejak itu Indonesia (baca: terutama Lekra) tampaknya tidak ingin kecolongan. Aksi-kontra-aksi lalu terjadilah. Joebaar Ajoeb dan S. Anantaguna menghadiri konferensi pengarang Uni Soviet di Moskow Juli 1959, Uni Soviet mengirim delegasi pengarangnya menghadiri Sidang Pleno Pimpinan Pusat Lekra di Jakarta bulan Juli 1961. Lekra menerima delegasi kebudayaan RRT di Indonesia Mei 1961, sebaliknya RRT dalam tahun yang sama menerima delegasi pelukis Lekra yang datang untuk menghadiri festival kesenian di sana.

Melihat kiprahnya Indonesia yang semakin ‘bermanis-manis’ dengan Beijing ini, Uni Soviet lalu mengeluarkan ‘jurus belut putih’ untuk berkelit! Ia menyelenggarakan Konferensi Seniman Asia-Afrika di Kairo, Februari 1962 (Afro-Asian Artists’ Conference, bukan Writers’). Yang lebih menarik lagi dari Indonesia, Soviet selain mengundang seniman-seniman Lekra (dalam hal ini diwakili oleh Joebaar dan Pramudya), juga mengundang tokoh-tokoh seniman yang non- dan bahkan yang anti-Lekra!

Entah bagaimana jalannya persidangan berlangsung — tentang ini tentu masih bisa dibaca kembali di “HR Kebudayaan” edisi sesudah konferensi tersebut (saya percaya bisa kita temukan, antara lain, di Perpustakaan Universitas Monash Melbourne, IISG Amsterdam, dan perpustakaan Cornell University, New York). Tapi jelas, bahwa Indonesia dan sekutu-sekutunya berhasil membawa konferensi ke relnya semula. ‘Konferensi Kairo’ lalu menjadi konferensi kedua sesudah ‘Konferensi Tashkent’ sebagai konferensi pertama.

Barangkali untuk mencegah kemungkinan akan digunakannya kembali ‘jurus belut putih’ di kelak kemudian hari, maka ‘Konferensi Kairo’ lalu diikat oleh beberapa ketentuan berikut. Di antaranya yang terpenting yaitu, pertama: ditetapkan adanya Komite Eksekutif untuk Konferensi Pengarang A-A, yang terdiri dari tigabelas negeri A-A (dari Asia antara lain: Indonesia, Tiongkok, Srilangka dan India; dan dari Afrika antara lain: UAR (United Arab Republic, nama Mesir ketika itu), Sudan, Ghana, dan Aljazair); dan kedua: ditetapkan adanya Biro Tetap untuk Konferensi Pengarang A-A (Permanent Bureau of the Afro-Asian Writers’ Conference), yang berkedudukan di Kolombo, Srilangka.

Dengan demikian gagallah rencana Uni Soviet untuk menetapkan Kairo sebagai pusat gerakan pengarang A-A — seperti diketahui, pada masa itu politik luar negeri UAR cenderung memihak blok Timur ketimbang Nonblok-Bebas-Aktif seperti Indonesia.

Kekalahan Konstantin Chugunov, ketua delegasi Uni Soviet, di sidang Kairo itu masih disempurnakan lagi dengan hasil pemilihan tokoh pimpinan untuk jabatan Sekretaris Jendral Biro Pengarang A-A. Yang terpilih bukan novelis terkemuka Srilangka Wikramasingha yang anak-mas Soviet, tapi Ratna Dhasapriya Senanayake yang kader pemuda SLFP (Sri Lanka Freedom Party) Sirimavo Bandaranaike.

Kembali dari ‘Konferensi Kairo’ Joebaar Ajoeb lalu segera berbenah diri. Tentu saja agar tidak terjadi lagi pengalaman seperti dalam ‘Konferensi Kairo’, di mana utusan Lekra harus duduk dalam satu delegasi dengan wakil-wakil utusan yang anti-Lekra. Maka dibentuklah sebuah badan di Jakarta yang bernama ‘Komite Nasional Indonesia Untuk Konferensi Pengarang Asia-Afrika’ (Komite Nasional Indonesia untuk KPAA) dan berkantor di Jalan Cidurian 19 Jakarta.

Komite ini dipimpin oleh beberapa tokoh dari unsur Lekra, LKN dan Lesbumi, yang diwakili dalam pribadi-pribadi Joebaan Ajoeb, Sitor Situmorang dan Mahbub Djunaedi. Sedangkan untuk wakil Komite Nasional di Biro Tetap Kolombo ditunjuk penyair Rivai Apin. Tapi lantaran Rivai Apin sudah terlalu sibuk dalam berbagai padat-karya (pimred ‘Zaman Baru’, anggota BPH (Badan Pemerintah Harian) dan DPRD Jakarta Raya, penanggungjawab Taman Lokasari Mangga Besar, anggota Badan Sensor Film, dan entah apa lagi!) maka “sampur selendang tarian Biro Kolombo” diserahkan pada Setiawan Hs, yang ketika itu selain Sekretaris Umum Lekra Jateng juga Wakil Ketua Lembaga Sastra Indonesia Lekra Pusat, Sekretaris PD Front Nasional Jateng, Sekretaris Biro Pariwisata Jateng, guru berbagai sekolah di Semarang. Jadi lantaran Bung Pai (Rivai Apin) kebangetan padat karya, maka Setiawan Hs yang ‘kejatuhan sampur’…

Oey Hay Djoen bersama delegasi Mesir pada KPAA 1963. (foto: Oey Hay Djoen/ISSI)

Oey Hay Djoen bersama delegasi Mesir pada KPAA 1963. (foto: Oey Hay Djoen/ISSI)

Ilustrasi:

Dua patah kata terakhir itu istilah dari kalangan atau gelanggang ‘ngibing’ atawa ‘nyawer’ istilah Betawi, yang dahulu kala lazim dilakukan dalam tata tradisi pergaulan masyarakat Jawa. Harfiah kata ‘ngibing’ berarti ‘menari’. Tapi arti sosial kata ini ialah ‘menarikan tarian panas bersama tandak perempuan atau penari bayaran, yang digelar sebagai tontonan hiburan’. Kata ‘tandak’ perlu kubikin tegas dengan sebutan ‘perempuan’ di belakangnya. Sebab di tengah kehidupan tapol di unit-unit Pulau Buru, ‘tandak’ sama arti dengan ‘banci’ (Betawi), yaitu orang-orang (yang berlaku sebagai) ‘waria’.

‘Ngibing’tentu saja merupakan tontonan umum segala umur, perempuan dan laki-laki. Tapi yang diundang oleh si Tandak sebagai calon penari hanyalah laki-laki yang terpandang lantaran banyak duit. Karena jumlah tandak terlalu sedikit ketimbang banyaknya undangan, tentu saja si Tandak itulah yang menjatuhkan pilihan, laki-laki mana yang beruntung mendapat giliran boleh ‘ngibing’ bersamanya. Caranya? Si tandak ‘terbang’ bergenit-genit dengan langkah kakinya, ‘trisik’ istilahnya dalam tari Jawa, menghampiri si calon dan ‘sampur’ tarinya dikalungkan di leher atau dilempar di atas pangkuan si laki-laki yang ‘beruntung’ itu. Lalu dibimbinglah ia oleh si tandak, ‘turun’ ke tengah kalangan ‘ngibing’. Di bawah iringan gamelan gending-gending Jawa yang ‘hot’ seperti ‘Godril’, ‘Othok Kowok’(suara lafas “O” seperti pada kata “tok” bukan pada kata “rokok”), dan gending-gending “panas” semacamnya. Sampai kapan ia boleh ‘ngibing’? Sampai kocek di kantongnya masih kuat. Sesudah itu ia bahkan boleh membawa tandak pasangannya masuk ke bilik belakang sana, untuk meneruskan adegan tarian tertutup.

Revenons à nos moutons — kita kembali ke pokok pembicaraan. Begitulah sampur Komite Nasional Pengarang Indonesia, dilepas dari pundak Rivai Apin dan dibawa bertiga oleh Sitor-Mahbub-Ajoeb, lalu diikatkan di pinggang Setiawan Hs. Ia baru saja turun dari panggung Konferda (Konferensi Daerah) Lekra Jateng di Sri Wedari Solo untuk dilantik formal sebagai Sekum (Sekretaris Umum), walaupun tugas itu secara informal sudah disibukinya sejak dua tahun sebelumnya. Ajoeb dan Njoto yang berhadapan dengannya.

“Jangan ditolak,” kata Ajoeb.

Ia diam. Ajoeb lagi yang segera berkata, mengutarakan apa alasan mereka kemudian menugasinya.

“Pai nggak bisa. Bung tahu sendiri, datang ke Cidurian saja belum tentu sekali dalam seminggu …”

“Mengapa bukan kawan Lesbumi atau LKN? Virga Belan atau Bagin, misalnya?” Ia masih mencoba menawar.

“Mahbub nggak punya orang, Sitor juga lebih memilih Bung ketimbang Bagin atau Virga Belan.”

Mereka sejurus diam.

“Ini kawan kerja Bung di sana nanti”. Kata Njoto sambil menunjuk salah seorang dari tamu-tamu pengarang RRT, yang mereka bawa dari Jakarta untuk ikut hadir pada Konferda Lekra Jateng.

“Lin Yuan!” Ia mengulurkan jabat tangan perkenalannya.

Singkat cerita Setiawan Hs harus segera berangkat. Andaikan Biro Kolombo itu sebuah kapal, sepertinya ia sudah nyaris tenggelam ditelan arus puting-beliung akibat perbenturan gelombang ‘Remo’ versus ‘M-L’ yang sedang pasang. Revisionisme Modern vs Marxisme-Leninisme. ‘Remo’ dalam wujud Uni Soviet dan satelit-satelitnya, ‘M-L’ dalam wujud RRT dengan konco-konconya, termasuk Indonesia! Setiawan bahkan tidak punya waktu mengucap selamat tinggal pada bilik tidurnya, yang sekaligus merupakan kantornya Lekra Jawa Tengah, di Jalan Lingga III/4 Semarang. Kamar tidur ini yang sekaligus kantor Lekra Jateng ini, adalah salah satu kamar dari rumah Keluarga Bung Dardjono, pimpinan Lekra Cabang Semarang, yang menjabat sebagai anggota BPH (Badan Pemerintah Harian) Kotamadya Semarang.

***

SekJen Senanayake sedang berpidato pada KPAA 1963. (foto: Oey Hay Djoen/ISSI)

SekJen Senanayake sedang berpidato pada KPAA 1963. (foto: Oey Hay Djoen/ISSI)

Sesudah membaca tulisan Sobron dan Afif, seperti yang sudah kusebut di awal surat ini, aku lalu bicara sesama sendiri. Begini: “Kamu itu dulu ditugasi ke Kolombo oleh sampurnya Komite Nasional Untuk KPAA atau sampurnya Rivai Apin?”

Pertanyaan semacam itu selama ini tidak pernah timbul di kepalaku. Baru sesudah sekitar setengah abad berlalu, aku — seperti kata orang Betawi — menjadi ‘ngeh’. Bahwa ‘sampur tugas’ Kolombo yang tersampir di bahuku adalah sampur tarian Rivai Apin. Bukan sampur tariannya Komnas Indonesia Untuk Konferensi Pengarang A-A. Ini barangkali penjelasan, baik untuk Sobron maupun Afif, kalau nanti pada tahun 1963 berlangsung sidang Komite Eksekutif Biro Pengarang A-A di Denpasar, “Setiawan Hs tidak tampak duduk dalam delegasi”. Tanpa pernah terpikir, apalagi bertanya, aku ditugasi untuk urusan sekretariat: memeriksa teks-teks pidato, meroneo teks-teks itu dan membagi-bagikannya pada semua peserta sidang. Pendek kata urusan “dapur”.

Delegasi Indonesia terdiri dari duapuluh enam pengarang. Inilah nama-nama para utusan itu (saya kutip mengikuti apa yang diberitakan “HR Minggu” 14 Juli 1963): 1. Joebaar Ajoeb (ketua), 2. Dodong Djiwapraja (wakil ketua), 3. Asmara Hadi (wakil ketua), 4. Karna Radjasa (wakil ketua), 5. Mahbub Djunaedi (wakil ketua), 6. Pramudya Ananta Toer, 7. Sitor Situmorang, 8. Rivai Apin, 9. Utuy Tatang Sontani, 10. Banda Harahap, 11. Bagin, 12. Bakri Siregar, 13. Virga Belan, 14. Sugiarti Siswadi, 15. Isma Sawitri, 16. S. Anantaguna, 17. Toha Mochtar, 18. Hadi S., 19. Nio Yoe Lan, 20. Sugiarto Sriwibawa, 21. Rusman Sutiasumarga, 22. Motinggo Busje, 23. Agam Wispi, 24. A.A. Navis, 25. A.D. Donggo, dan 26. Samanjaya.

Lekra tidak pernah bubar atau membubarkan diri. Begitu juga Komite Nasional Indonesia Untuk KPAA, tidak pernah bubar atau membubarkan diri. Tapi dibubarkan oleh rezim Orde Baru. Tokoh-tokoh pimpinannya mati dibunuh, dipenjarakan, bahkan juga dipulau-burukan. Tapi kedudukan Rivai Apin di Sekretariat ‘Biro Kolombo’ tetap sampai catatan terakhir sejarah sastra Indonesia kelak.

Oleh karena itu apa yang pernah ditulis Z. Afif, tentang Agam Wispi sebagai Ketua Delegasi Indonesia pada ‘Konferensi Beijing’ 1966 sama sekali tidak keliru (bold penegas dariku). Tapi tulisan itu akan keliru seandainya ditulis di sana, bahwa Wispi tampil sebagai ‘Wakil Indonesia untuk Biro Kolombo’. Sebab, selain Lekra tidak pernah bubar, kehadiran Rivai Apin di Biro Kolombo bukan atas penunjukan Lekra saja. Ia ditunjuk oleh Lekra plus LKN dan Lesbumi yang ada dalam satu front bernama ‘Komite Nasional Indonesia Untuk Konferensi Pengarang A-A’.

***

Tibalah aku di Srilangka, negeri yang kukenal sejak kanak-kanak melalui kelir pedalangan dan melalui cerita orang-orang tua. Menurut cerita pedalangan, negeri yang merupakan wilayah kerajaan Rahwana atau Dasamuka ini bernama ‘Ngalengkadiraja’; sedangkan menurut cerita orang-orang tua, Srilangka atau Ceylon adalah sebuah pulau tempat pengasingan para pemberontak Belanda. Oleh orang Jawa pulau ini lebih dikenal dengan nama bukan Srilangka tapi Sélong, kata modifikasi dari Ceylon. Selanjutnya karena pulau ini dikenal sebagai pulau tempat pengasingan atau pembuangan, maka kata ‘sélong’ lalu juga menjadi katakerja yang berarti ‘buang, ‘disélong’ berarti ‘dibuang’ atau ‘diasingkan’.

Aku langsung menuju Castle Street 73 Kolombo 8, dan di sinilah aku tinggal selama hampir lima. Gedung ini memang bukan merupakan kantor tempat kerja saja, tapi dilengkapi dengan ruang rapat, dan tiga kamar untuk tempat pondokan para wakil negeri anggota Eksekutif Biro. Bangunan gedung terletak di satu halaman luas, dari rumah keluarga ‘burger’ bernama Schokman.

Burger. Begitulah sebutan untuk warga bangsa sipil, yang bukan Sinhali dan bukan Tamil. Tuan Schokman burger keturunan Belanda, dan Nyonya Schokman – yang lebih suka disapa sebagai Molly – burger keturunan Inggris. Dua-duanya masih sangat membanggakan asal-usul dan kultur leluhur mereka.

Ketika suatu ketika Molly mendengar aku menyanyikan lagu ‘Handa Pane’, dan sambil mencoba menirukan gerak tarian lagu terang bulan Tamil ‘Moratuwa’ [Pun sanda pura Moratuwa diléna, pun sanda apam dina apé dst.], ia bilang:

“Lagu dan tarian kampungan begitu kok kamu pelajari. Nanti aku bawa kamu ke kesenian yang bener …”

Molly menepati janjinya. Suatu malam aku dibawa keluarga Schokman ini ke pesta dansa-dansi yang di Jakarta justru sedang diganyang! Tapi inilah jenis musik yang ‘bener’ menurut Molly, dan barangkali juga kaum ‘burger’ pada umumnya. Aku tidak hanya diajak ‘menikmati’ musik dan tari yang ‘bener’, juga setiap ‘musim panas’ atau ‘summer’ – begitulah mereka menyebut musim kemarau — selalu mereka mengajak aku kamping ke ‘national park’ sana-sini, di seantero Srilangka, berburu rusa atau babi hutan, yang ternyata menjadi seperti nubuat riwayatku kelak di Buru. Berburu dan olahraga cricket memang sport Tuan Schokman sekeluarga.

Keluarga Schokman keluarga tuan tanah (kelapa) kaya beranak tiga, si sulung perempuan bernama Gloria dengan dua adik laki-laki. Gloria ini dalam tahun terakhir aku di sana, diperistri oleh R.D. Senanayake Sekjen Biro Pengarang A-A kita itu.

Senanayake sendiri anak Lurah Desa di dekat Kandy, kota tua pusat kebudayaan klasik negeri ini. Ia sudah tinggal sebagai anak-kos keluarga Schokman sejak masih belajar ilmu hukum di Universitas Srilangka. Kegiatannya sebagai ketua Himpunan Wartawan Sri Langka (Ceylon Journalists’ Association), pengacara, anggota parlemen, pemimpin bagian kepemudaan SLFP (Sri Lanka Freedom Party, Partai Kemerdekaan Srilangka), ditambah jabatan pemerintahannya sebagai ketua ‘CWE’ (semacam koperasi simpan-pinjam yang didirikan pemerintah Sirimavo), menyebabkan studinya tidak pernah selesai. Terutama pekerjaannya sebagai ketua ‘CWE’ itulah yang menuntut waktu terlalu banyak. Pagi-pagi sekali, sebelum ia bangun tidur, puluhan orang dari seluruh pelosok desa datang ke kantor Biro Pengarang kita. Bukan untuk urusan kepengarangan atau gerakan dan urusan Asia-Afrika, tapi mencari lowongan kerja di ranting-ranting ‘CWE’ di desa masing-masing. Selesai mengurusi mereka, rata-rata sekitar jam 11 siang, barulah ia mandi dan dengan mobilnya pergi entah ke mana. Baru pulang terkadang liwat tengah malam!

Membaca kesibukan ‘Mr. R.D’ di ‘CWE’ itu aku menduga bukan sedangkal urusan koperasi simpan-pinjam belaka. Tapi urusan kegiatan membangun jaringan organisasi politik, dalam hal ini SLFP, di desa-desa sebagai basis. Agar supaya bangunan ini memperoleh landasan kuat dan mampu memobilisasi rakyat, maka ditopang di atas lembaga koperasi simpan-pinjam yang setidaknya bisa dikampanyekan sebagai usaha nyata SLFP untuk mengentas kemiskinan rakyat. Sirimavo, perdana menteri perempuan di dunia modern ini, memang seorang berhaluan sosialis.

SLFP sendiri satu parpol yang didirikan oleh Solomon Bandaranaike, suami Sirimavo, yang sesudah tiga tahun sebagai perdana menteri (1959), tewas dibunuh seorang bhikku di sebuah asrama. Sirimavo menggantikan kedudukan suaminya, dan meneruskan politik nasionalisme Sinhala yang telah dirintis oleh suaminya itu. Satu usaha rintisan untuk mengangkat kebudayaan Sinhala yang tenggelam di bawah dominasi Inggris, tapi sekaligus membawa bibit perseteruan laten dengan Tamil.

Pendukung gigih Semangat Bandung, di mana-mana di seluruh penjuru dua benua A-A, baik dari sudut politik maupun organisasi, ialah parpol-parpol nasionalis (kalau dipertegas dengan mengikuti peristilahan pra-’66: ‘naski’ dan ‘nasteng’, nasionalis-kiri dan nasionalis-tengah) plus partai komunis setempat. Untuk negeri-negeri sosialis dan demokrasi rakyat yang berpartai tunggal, dengan sendiri partai komunis itulah sandaran satu-satunya. Duduk di belakang meja kerja ‘Biro Kolombo’, dengan latar belakang kenyataan sosial-politik yang demikian itu, aku selalu teringat pada pengalamanku di meja kerja Front Nasional Jawa Tengah, yang hanya berbeda dalam proyeksi dan muatan kongkret. Ketika ‘turba’ ke cabang-cabang dan ranting-ranting di kabupaten dan kecamatan Front Nasional, parpol-parpol dan ormas-ormas dua elemen itulah yang selalu menjadi perhatian pertama dan utama.

Karena itu kiranya perlu dikemukakan serba sedikit tentang bagaimana keadaan partai komunis Sri Langka saat itu. Apalagi organisasi kebudayaan Sinhali, khususnya seni dan sastra, boleh dibilang belum tersentuh sama sekali. Kenyataan seperti itu lebih parah lagi terdapat di hampir semua negeri-negeri baru di Afrika, terutama di Afrika Tengah.

Ketika aku tiba di Srilangka, sebagai akibat perpecahan yang terjadi dalam kubu GKI (Gerakan Komunis Internasional), Partai Komunis Srilangka sudah dalam keadaan terpecah dua. Masing-masing mendapat cap, seperti yang lazim di mana-mana: ‘Partai Remo’ atau ‘Sayap Moskow’, dan ‘Partai M-L’ atau ‘Sayap Beijing’. Tentu saja tidak perlu disebut, bahwa kedua-duanya saling berebut pengakuan sebagai yang paling ‘M-L Sejati’. Partai lama, yang mendapat cap Moskow itu, tetap dipimpin oleh ketua (sekjen) yang lama, Pieter Kneuman, seorang burger Belanda; sedangkan yang baru, yang mendapat cap Beijing, dipimpin salah seorang eks-anggota politbironya, Premalal Kumarasiri bersama pimpinan ormas buruh N. Sanmugathasan.

Menghadapi kubu Pieter itu kubu Premalal-Sanmu cenderung terlalu percaya diri, mengingat pengaruh Sanmu yang sangat besar di kalangan buruh perkebunan teh, sandaran ekonomi negeri, yang terdiri dari orang-orang Tamil. Sanmu, tokoh terkemuka Tamil ini, ketua ‘sarbupri’ sekaligus ‘sobsi’-nya Srilangka. Adapun di dalam menghadapi partai penguasa SLFP dan tokoh-tokoh pimpinannya (dalam konteks tulisan ini Sirimavo dan R.D. Senanayake), Pieter kurang beruntung dibanding Premalal. Selain oleh faktor ideologi dan politik, yang bagi masyarakat bayangan komunisto fobi masih sangat pekat, juga faktor Pieter yang ‘burger’ menyelinap di bawah sadar sebagai kendala sosial. Kedekatan Premalal dengan SLFP lebih dipersingkat dan dipermudah oleh kedekatan dia pribadi dengan Ratne (panggilan kami pada Sekjen Biro Pengarang A-A), serta para wartawan dan pengarang yang berkerumun di sekitarnya. Sangat sering aku melihat Premalal datang ‘ngobrol’ dengan Ratne. Aku kira kedua belah pihak memang saling membutuhkan. Premalal butuh SLFP. Ratne butuh Premalal. Agar melaluinya, menjinakkan ‘kekerasan’ dan ‘kecongkakan’ Sanmu yang merasa paling kuasa karena kekuatan massa buruh di belakangnya. Selain itu Ratne membutuhkan mitra diskusi sepantar untuk soal-soal nasional negerinya.

Tapi justru faktor kedekatan Premalal dengan Ratne itulah yang dalam waktu pendek menjadi masalah intern partai yang mencuat. Isu pertentangan mayoritas Sinhala (Premalal) vs minoritas Tamil (Sanmu) mulai memercik, oleh api politik nasionalisme Sinhala warisan Solomon Bandaranaike yang diteruskan oleh Sirimavo. Sanmu menuduh Premalal kolaborasi dengan partai burjuasi, sebaliknya Premalal menuding Sanmu sebagai Trotskyis. Bulan madu Premalal-Sanmu pun segera berakhir nanti, ketika semua parpol mulai bersiap diri untuk menyongsong pemilu 1965.

Di Srilangka selain tiga partai komunis yang semuanya mengaku sebagai penerus partai tipe Lenin, ada lagi satu partai yang mengaku diri sebagai berhaluan ‘marxis nasional’ yang lebih bisa diterima masyarakat. Barangkali juga oleh faktor nama partai itu sendiri, yaitu Lanka Sama Samaja Party (LSSP) — Ceylon Sama Samaja Party (CSSP), partai ‘samarata samarasa’ (kalau tidak salah pimpinan LSSP / CSSP saat itu N.M. Perera).

Usaha SLFP (baca Sirimavo) mencari dukungan massa, melalui Partai Sama Samaja ini (1964), justru menjadi bahan kampanye UNP untuk mempercepat keruntuhan SLFP. Pada pemilu Mei 1965 SLFP kalah dari musuh bebuyutannya UNP (United National Party), di bawah pimpinan Dudley Senanayake.

Singkat cerita, akibat dari keadaan seperti tersebut di atas, partai komunis menjadi semakin tidak berkesan di hati rakyat. Juga SLFP tidak lagi memperhitungkan partai yang telah terpecah menjadi tiga ini. Dalam bentuk nyata, kedekatan pribadi Premalal dengan Ratne nyaris putus. Terutama, seperti di atas disinggung, sejak SLFP secara terbuka pada tahun 1964 menjalin koalisi dengan CSSP (Ceylon Sama Samaja Party).

Bagaimana kita harus mengayuh biduk di celah-celah rambu-rambu karang politik yang demikian itu? Garis pedoman politik luar negeri ‘bebas aktif’ dari Pejambon (Kemlu RI), di Kramat Raya 81 dijabarkan oleh Ketua CC PKI DN Aidit, dalam rumusan ‘topeng berwajah merah putih revolusioner’. Kongkretnya, ketika menghadapi yang satu kenakanlah ‘topeng yang merah revolusioner’, dan ketika menghadapi yang lain kenakanlah ‘topeng yang putih revolusioner’.

Di sini aku teringat pada pameran lukisan Marah Djibal, seorang pelukis dari Sanggar Indonesia Muda atau SIM, di ‘Pavilion Uni Soviet’ (sekitar tahun 1959) — di atas kavling pavilion itu sekarang berdiri Universitas Atma Jaya, di Jalan Jendral Sudirman Jakarta. Lukisan ini menggambarkan wajah A.H. Nasution, berbelah dua sama tepat: sisi kiri putih, sisi kanan merah. Lukisan ini dipamerkan di atas judul ‘Pemain Topeng’. Aku melihatnya dengan hati deg-degan ketika itu: Jangan-jangan Lekra akan dibubarkan oleh tentara nanti? Ternyata mereka masih sabar menunggu sampai lima tahunan kemudian! Nah, siapa mengilhami siapa: MD atas DNA, atau DNA atas MD? Marah Djibal atas DN Aidit, atau DN Aidit atas Marah Djibal? ‘Pemain Topeng’ itu ternyata kemudian harus kumainkan sebagai kiat untuk mengarungi rambu-rambu karang politik di Srilangka khususnya dan Asia Afrika umumnya.

Tapi ‘topeng kembar revolusioner’ menjadi susah kupasang di ‘wajah-selong’-ku. Kembar tiga itulah soalnya! Ada Pieter, ada Premalal, ada pula Sanmugathasan! Lagi pula apakah masih menarik ‘warna revolusioner’ bagi mata Pieter, mata Premalal dan mata Sanmu? Apalagi sesudah pesan Njoto yang ditinggalkannya kepadaku (sesudah ia bertemu secara terpisah dengan tiga tokoh pimpinan partai itu), dalam perjalanannya kembali ke Jakarta (1963), agar aku bisa membawa mereka bertiga duduk semeja, untuk merunding dan merumuskan bersama masalah semacam ‘MIRI’ (Masyarakat Indonesia dan Revolusi Indonesia) untuk Srilangka, ditolak dilaksanakan oleh pimpinan fraksiku, Ali Hanafiah, Duta Besar RI untuk Srilangka ketika itu! Maka kupikir kawan tokoh yang tiga itu lebih baik kuhadapi dengan santai, dalam semangat ‘bertetangga baik’ dan ‘berdampingan secara damai’ — maksudku, dengan topeng berwajah tak terbilang namun dalam ekspresi selalu lentur seperti batang bambu. Terkadang meliuk ke sana ke sini, terkadang merunduk-runduk, tapi tidak pernah patah! Padahal Njoto benar! Bagaimana satu partai politik, tak usah itu partai komunis, akan bisa membikin rakyat bangun dan bisa membawa arah jalan pemerintahan, jika rakyat dan para pemimpinnya — termasuk yang di dalam partai itu sendiri — tidak mengenal masalah-masalah dan aspirasi-aspirasi yang diimpikan masyarakat itu sendiri?

Begitulah keadaan yang mengelilingi pribadi Ratne Dhasapriya Senanayake, selaku Sekjen Biro Pengarang A-A. Begitulah keadaan politik yang hidup di sekeliling Biro Kolombo. Maka kun fayakun, terjadilah apa yang harus terjadi.

Segera sesudah hasil pemilu diumumkan, Sirimavo turun dan Dudley naik, ditulislah di bawah banner head-lines koran-koran Kolombo, bahwa dalam kampanye pemilu Sirimavo telah dibantu oleh sembilan negara-negara asing. Satu di antaranya ialah Indonesia! Ini berarti lampu merah telah menyala bagiku di Biro Tetap Pengarang AA di Kolombo!

Memang benar.

Pagi-pagi benar polisi imigrasi bersepeda motor datang ke kantor Biro. Baru aku yang sudah nongkrong di kantor. Kantor itu dibangun di atas sayap serambi bangunan induk. George Awonoor Williams (wakil Ghana) dan John-John Charles Renee (wakil Guinea) masih di kamar tidur. Apalagi Ratne, yang punya adat seperti Rivai Apin, baru bangun sekitar menjelang tengah hari! Surat imigrasi segera kubuka. Karena memang begitulah yang sudah berjalan sejak aku di sini. Semua surat aku yang membukanya, dan kemudian aku juga yang langsung menulis jawabannya. Kecuali jika isi surat itu tentang hal-hal yang perlu dirunding dalam rapat sekretariat terlebih dahulu. Begitulah kegiatan rutin Biro Kolombo: rapat-rapat, menjawab surat-surat, menerbitkan dan mengirim majalah organnya yang bernama ‘The Call’. Biro juga merencanakan menerbitkan antologi puisi dan prosa Afro-Asia, tapi sampai sejarahnya berakhir baru sempat menerbitkan satu jilid antologi puisi (1964).

Alamat yang dituju surat imigrasi memang R.D. Senanayake, Sekretaris Jendral Biro tetap Pengarang Asia-Afrika. Tapi isi surat jelas-jemelas tertulis, hanya tersebut satu nama: Setiawan Hs, Wakil Indonesia untuk Biro Pengarang Asia-Afrika: di dalam tempo 2×24 jam harus meninggalkan Srilangka. Apa alasannya? Tidak tersebut.

Kuketuk pintu kamar pengantin baru Ratne-Gloria. Kami lalu memutuskan, petang nanti rapat kilat wakil-wakil eksekutif yang ada. Yaitu selain kami berdua, Dharmasiri Jayakodhi dan Peramune Tillaka (Srilangka), George (Ghana), John-John (Guinea), wakil-wakil RRT (Huang Kang) dan RDV (Republik Demokrasi Vietnam) yang selamanya di rumah kedutaan masing-masing. Wakil-wakil Uni Soviet (Chugunov dan jurubahasa Mariam Salganik), UAR (Mursyi Saad el-Din), dan India (Mulk Raj Anand) hanya sering datang untuk beberapa hari dan kemudian pergi.

Aku tidak tahu apa yang akan diputuskan oleh rapat kilat petang nanti. Tapi aku yakin benar, semua wakil-wakil di biro ini pasti akan segera menerima surat pengusiran seperti aku. Cepat atau lambat. Itu berarti Biro Pengarang A-A akan bubar sendiri, tanpa dekrit resmi pembubaran dari pemerintah Dudley. Walaupun begitu, atau justru karena itu, segera aku temui Duta Besar kita dalam kapasitasnya sebagai wakil pemerintah dan sebagai pimpinan fraksi. Sesudah kulaporkan surat pengusiran imigrasi yang kuterima, aku mengharap ia akan setuju dengan pendirianku. Intinya: aku akan membangkang perintah pengusiran, sengaja untuk memancing pernyataan resmi pemerintah baru Srilangka, sehingga ia akan berhadapan secara terbuka dengan gerakan Asia-Afrika. Tapi jawaban sekretaris fraksi, yaitu Duta Besar, dan itu berarti ‘garis’ atau ‘keputusan partai’, melihat dari sudut yang sama sekali berbeda dari sudut pendirianku. Pokoknya: Ikuti saja. Supaya tidak merusak hubungan baik dua negara. Dalam hal ini ia tidak bicara atas nama Partai, tapi atas nama Negara sepenuhnya!

Apa boleh buat. Aku pun tidak ada kata lain selain ‘ikuti saja’. Walaupun dalam hati aku protes: Ini negara siapa yang diwakilinya? Kalau negara pemerintahan Soekarno, bukankah ia telah mengajari rakyatnya agar ‘vivere peri coloso’? Berani nyerempet-nyerempet bahaya? Bukankah ia telah mengajak rakyatnya berani menghadapi nekolim dengan dada terbuka: “Ini dadaku, mana dadamu?!”

Peristiwa itu masih dalam pertengahan tahun 1965. Tanggal 30 September nanti, ketika aku baru lima minggu di ibukota kembali (aku tiba 24 Agustus 1965), peristiwa bernama terkenal [dalam penamaan mereka] ‘G30S/PKI’ terjadi di Jakarta. Ketika itulah genderang maut Semangat Bandung telah mulai dipukul.

Begitulah yang terjadi di Indonesia kita, ibu-negeri negara-negara Asia-Afrika yang sedang bangkit dan tumbuh. Tapi di Srilangka, barang tiga bulan sebelumnya, sesungguhnya genderang maut yang sama telah dipukul tanpa upacara berdarah sama sekali. Maka aku kelak, sesudah tiba di ibukota dan mengalami apa yang mereka namai ‘G30S/PKI’, lalu membikin rabaan acak (random hypothesis): penggulingan Sirimavo kaya’-nya kok seperti pemanasan untuk penggulingan Soekarno. Sirimavo dikaitkan dengan partai marxis Sama Samaja, Soekarno diberi label ‘Gestapu Agung’. Sirimavo jatuh ‘secara parlementer’, juga Soekarno mengalami nasib yang sama. Bedanya di dalam prelude. Di negeri kaum Budha Sri Langka tak ada setetes darah menitik. Tapi ada aksi-aksi mogok lapar sampai mati. Di Indonesia Jenderal Sarwo Edhie Wibowo, sebagai pemanjang tangan Jenderal Besar Suharto, dengan bangga mendaku telah membunuh sekitar tiga sampai tiga-setengah juta ‘orang-orang komunis’di Jawa dan Bali saja!

Kini aku sampai pada akhir surat.

Aku sudah menggambarkan situasi panggung politik Srilangka, yang melatar belakangi sejarah kehidupan Biro Tetap Pengarang Asia-Afrika. Begitu juga situasi yang ada di sekeliling pribadi Sekjen Biro R.D. Senanayake, serta di sekeliling tokoh-tokoh yang semestinya bisa diharap menjadi pilar-pilar utama gerakan Afro-Asia atau Semangat Bandung.

Pada akhir September 1965, atau definitif pada 11 Maret 1966, Semangat Bandung telah dibikin padam dari jantungnya Asia-Afrika itu sendiri. Bersama dengan setbek-nya revolusi Indonesia itu (Bung Karno mengambil angka delapan (8) tahun, Y.B. Mangunwijaya duapuluh (20) tahun), maka setbek jugalah gelora ‘Revolusi Bandung’ di benua Asia-Afrika.

Dalam suasana demikian itulah ‘Sidang Darurat KPAA’ diselenggarakan di Beijing tahun 1966. Apakah itu bulan Juli? Entah bulan apa, tapi aku yakin pasti sesudah Supersemar. Itu berarti di Indonesia Kampiun Afro-Asia Bung Karno sudah ditapolkan, di RRT Revolusi Kebudayaan sudah dimaklumkan (Februari 1966). Walaupun begitu aku tidak hendak mengatakan, apakah ‘Sidang Beijing’ itu sukses besar, sekedar mencapai tuntutan minimum, setengah gagal, ataukah malah gagal total. Karena untuk itu perlu ditetapkan terlebih dulu, batu-timbang apa yang hendak dipakai sebagai standar pengukur. Tapi kalau kita bertolak dari atribut ‘AA’ sebagaimana mula-jadinya, tentu saja hasil terakhir takaran kita akan menunjukkan: Sidang Beijing itu sudah gagal sebelum dimulai. Mengapa?

Hakikat ‘AA’ itu Semangat Bandung. Dan Semangat Bandung ialah semangat ‘bebas aktif’. Dipilihnya Beijing sebagai tempat Sidang Darurat itu sendiri, sudah petunjuk tidak adanya semangat ‘bebas aktif’. Aku tidak tahu, tapi aku bisa pastikan, pada sidang ini tidak mungkin datang delegasi pengarang Uni Soviet dan pengarang-pengarang berbagai negeri Asia-Afrika yang dipandang ‘satelit’ Soviet. ‘Satelit besar’ Uni Soviet untuk Asia Selatan ialah India, untuk Asia Tenggara Vietnam, untuk Afrika ‘Putih’ UAR, untuk Afrika ‘Hitam’ Angola.

Sidang KPAA Beijing dengan begitu hanya penambah siraman minyak pada api ‘varian Perang Dingin’, yaitu perang baru antara Uni Soviet dan RRT. Di dalamnya RRT sudah menuliskan musuh pertama dunia bukan lagi AS tapi US. Bukan Amerika Serikat, tapi Uni Soviet! Kita, gerakan ‘A-A’, diminta berdiri di belakang barisan “Revolusi Dunia” RRT. Barangsiapa tidak mau, tidak ada kata ampun. Perjuangan telah dibikin menjadi simpel. Sehingga ‘satu topeng berwajah kembar merah’, seni yang tidak gampang dilaksanakan (sebagaimana setiap seni selalu musykil) dari ‘suhu besar’ Dipa Nusantara Aidit itu tidak perlu lagi dikenakan!

Apakah itu gagal total? Sekali lagi aku katakan: bergantung pada batu timbang apa hendak dipakai sebagai standar pengukur. Standar pengukur Semangat Bandung jelas sudah padam. Maka karenanya, barangkali, para pengarang RRT, Indonesia dan Srilangka sedang dalam niat mencari format baru standar itu? Satu format yang sama sekali terlepas dari format masa lalu. Aku tidak tahu. Kawan-kawan peserta ‘Konferensi KPAA Beijing’ itulah yang tahu: apa yang menjadi diskusi di belakang layar ketika itu.

Namun begitu, apa pun dulu yang pernah direncanakan, sejarah kemudian telah menunjukkan, bahwa semuanya berakhir pada kegagalan total! Kalau ada yang keberatan istilah ‘total’, paling tidak ‘amat sangat parah’, sehingga seperti tidak teramalkan, kapan kiranya kehancuran itu bisa dibangun kembali!

Jadi sesungguhnya Surat Budaya ini kutulis tidak dengan maksud mencari mana benar mana salah. Melainkan sekedar catatan peristiwa sejarah yang sudah terjadi. Peristiwa-peristiwa itu ibarat bentangan panorama di lembah bawah sana. Sementara kita mendaki lereng gunung-gunung sejarah yang semakin tinggi dan semakin tinggi. Berhenti kita terkadang sejurus. Berpaling ke panorama lembah yang indah. Percik-percik keringat, airmata, dan bahkan darah yang telah menjadi pupuk kesuburan dan keindahan panorama sejarah itu tidak menampak oleh mata, tapi tidak terlupakan bagi barangsiapa yang pernah mengalaminya …***

Sumber: https://www.facebook.com/notes/hersri-setiawan/sekitar-konperensi-pengarang-aa/790255540989252

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s