Mereka yang “Hilang” di Indonesia

Oleh: Allan Nairn

The Nation (USA), 8 Juni 1998

Pada tanggal 20 Mei, ketika isyu beredar bahwa Jendral Suharto akan turun dan puluhan ribu demonstran menunjukkan tanda-tanda tidak akan menerima janji-janjinya tentang “transisi”, panser bergerak menyebar di seluruh penjuru ibukota dan para jendral memamerkan kekuasaannya. Minggu ini Allan Nairn menyajikan laporan tentang satu aspek baru dalam hal kesepakatan antara pemerintah Amerika Serikat dan angkatan bersenjata yang mendukung sang diktator.

— Editor

———————————-

Pada musim semi ini, sesaat sebelum Jakarta meledak oleh berbagai kerusuhan, puluhan aktifis pro demokrasi Indonesia tiba-tiba “menghilang” dari Jakarta dan beberapa kota lainnya. Di tengah-tengah gencarnya protes masyarakat, pihak ABRI demikian juga wakil pemerintah Amerika Serikat menyatakan bahwa mereka tidak tahu menahu tentang penculikan tersebut. Mereka bahkan turut mendukung tuntutan masyarakat supaya diadakan investigasi terhadap kasus hilangnya para aktifis ini.

Informasi baru yang saya peroleh dari perwira-perwira AS dan Indonesia dan dari para korban “penghilangan” menunjukkan bahwa penculikan ini ternyata dilakukan oleh komando tertinggi ABRI dengan menggunakan sekian unit yang dilatih oleh militer Amerika Serikat. Beberapa unit tersebut memang berhubungan formal dengan lembaga intelijen AS.

Isyu “penghilangan” ini sudah — dan masih akan – menjadi dinamit politik karena dengan bergetarnya kediktatoran Suharto, militer bergerak ke tengah panggung politik di Indonesia. Departemen Negara Amerika Serikat (U.S. State Department) dan beberapa pejabat AS lainnya berargumen bahwa kelompok-kelompok oposisi sebaiknya bekerjasama dengan ABRI. Mereka juga menyampaikan pada kaum oposisi, secara langsung maupun tidak, bahwa militer yang ditakuti ini cocok untuk menjadi kekuatan inti pemerintahan yang baru (artikel di harian New York Times bahkan mengklaim bahwa militer “mendapatkan dukungan luas dari sebagian besar rakyat Indonesia”).

Beberapa pejabat militer di Indonesia dan AS mengatakan bahwa diantara sekian unit yang berperan dalam hilangnya para aktivis ini adalah lembaga payung intelijen yang didominasi militer BAKIN — lembaga yang sudah lama terlibat dalam pengawasan aktifis pro demokrasi; dan lembaga intelijen ABRI, BIA, yang selama ini melakukan penahanan tanpa surat tugas dan interogasi terhadap para aktifis pro demokrasi. Pada pertengahan April, seseorang yang dekat dengan direktur BIA mengatakan pada saya bahwa unit ini menahan salah satu aktifis yang “menghilang” dan direktur BIA, Jendral Zacky Makarim, melaporkan tentang hal ini pada Menhankam/Pangab Jendral Wiranto setiap hari.

Baik BAKIN maupun BIA sebenarnya memiliki hubungan cukup lama dengan lembaga intelijen Amerika CIA dan Departemen Pertahanan AS di Pentagon. Jendral Benny Murdani, bekas Pangab, dan sampai 1993 adalah Menhankam, mengatakan pada saya dalam suatu wawancara lewat telepon bahwa dalam masa kekuasaannya hubungan antara kedua institusi ini dengan badan-badan serupa di AS meliputi konsultasi teratur di tingkat pejabat tinggi militer dan “pertukaran informasi”. Murdani lebih jauh mengatakan bahwa BAKIN — yang dia sebut sebagai “lembaga yang sebangun dengan CIA” — bekerjasama dengan CIA, sedangkan BIA berhubungan dengan DIA–Defense Intelligence Agency (Badan Intelijen Pertahanan AS).

Kedua badan intelijen Indonesia ini sudah sering dinyatakan terlibat dalam berbagai kekejaman pelanggaran hak-hak asasi manusia. Laporan HAM terbaru dari Departemen Negara AS membenarkan bahwa BIA menggunakan sengatan listrik dalam proses pemeriksaan tahanan. Namun demikian, pejabat-pejabat militer AS mengatakan pada saya bahwa hubungan antara badan intelijen di Indonesia dan AS tetap berlangsung. BAKIN secara langsung berhubungan dengan CIA, sementara BIA melakukan koordinasi harian dengan Kolonel Charles McFetridge di Kedutaan Besar AS di Jakarta, dan juga secara periodik dengan pejabat-pejabat militer AS di Pentagon, Washington, DC. (Ketika saya menelepon Kedubes AS di Jakarta dan meminta pendapat Kolonel McFetridge tentang hubungan antara militer AS dengan BAKIN dan BIA, ia mengatakan, “Saya pikir saya tidak berminat membicarakan hal tersebut,” dan memutuskan hubungan telpon.)

Pada bulan Januari, ketika Jendral Feisal Tanjung, saat itu Panglima ABRI, secara terbuka mengancam kaum penentang pemerintah bahwa “kami tidak akan segan-segan membabat kelompok-kelompok yang menentang pemerintah”. Ia secara khusus menambahkan bahwa BAKIN akan, “mengawasi mereka terus-menerus.”

Seminggu setelah ancaman ini dinyatakan, Sekretaris Pertahanan AS William Cohen sampai di Jakarta untuk menemui Suharto dan pemimpin-pemimpin ABRI, termasuk direktur kedua lembaga intelijen tersebut di atas dan Let.Jen. Prabowo Subianto, yang pada saat itu adalah Komandan Jendral pasukan elit KOPASSUS. Menjawab pertanyaan beberapa wartawan, Cohen menolak menghimbau ABRI untuk menahan diri dalam menggunakan kekuatannya. Ia mengatakan, “Saya tidak akan memberi dia [Suharto] petunjuk tentang apa yang sebaiknya dia lakukan atau tidak lakukan dalam usahanya mempertahankan kontrol atas negerinya sendiri.”

Pejabat-pejabat militer Indonesia mengatakan bahwa mereka menganggap kunjungan Cohen sebagai pemberian lampu hijau atas kegiatan mereka. Dalam waktu beberapa hari, direktur BIA, May.Jend. Zacky Makarim, mulai mengadakan beberapa pertemuan dengan tokoh-tokoh oposisi kelas atas. Menurut salah seorang yang dekat dengan Zacky dalam pertemuan-pertemuan tersebut Zacky memperingatkan para tokoh oposisi ini, “jika kalian ingin tetap hidup sebaiknya jangan buat hidup saya sulit.”

Pada tanggal 29 Januari, salah satu dari tokoh oposisi yang menghadiri pertemuan dengan Zacky memperingatkan Pius Lustrilanang bahwa dalam waktu seminggu badan intelijen ABRI akan mengawasi dia dengan ketat. Pius sendiri yang memberitahukan tentang hal ini kepada saya. Secara terpisah sumber yang dekat dengan BIA mengkonfirmasi pada saya bahwa tokoh yang memperingatkan Pius tersebut memang benar hadir dalam pertemuan dengan Zacky.

Enam hari kemudian, pada 4 Februari, Pius diculik oleh orang-orang tak berseragam. Orang-orang ini membebat matanya, memaksanya masuk ke dalam sebuah mobil dan membawanya ke tempat penyiksaan, dimana ia diinterogasi, disengat listrik dan dibenamkan ke dalam sebuah bak yang penuh dengan air. Akibat keberanian sesama kawan aktifis yang melancarkan protes keras terus-menerus, Pius dan empat orang dari sekian banyak yang “menghilang” akhirnya dibebaskan. Cerita tentang pengalaman mereka menunjukkan bahwa tempat penyiksaan tersebut — dilengkapi dengan enam sel penjara dan kamera video pemantau — merupakan tempat penahanan paling tidak sembilan aktifis pro-demokrasi dan Timor Timur: Pius Lustrilanang, Desmond Mahesa, Haryanto Taslam, Feisol Reza, Lucas da Costa, Yani Avri (Ryan), Sonny, Waluyo Djati dan Andi Arief.

Pada awal bulan April salah satu tangan kanan May.Jend. Zacky mengkonfirmasi pada saya tentang peran BIA dalam mengontrol pusat penyiksaan tersebut. Ketika ditanyai soal Andi Arief, ia sudah mencek pada Zacky. Direktur BIA itu sendiri mengatakan, “Ia [Andi Arief] ada pada kami.” (Pada tanggal 16 April Andi Arief, dengan mata dibebat, dikeluarkan dari tempat penyiksaan tersebut, dan setelah dipindahkan dari satu mobil ke mobil lainnya dibawa ke Polda.)

Seorang sumber yang dekat dengan Let.Jend. Prabowo mengatakan bahwa penghilangan ini merupakan operasi gabungan yang melibatkan beberapa unit, termasuk BIA, KODAM Jaya, dan unit intelijen tak berseragam dalam resimen Kopassus, Grup 4. Empat unit berseragam Kopassus lainnya selama ini dilatih oleh program Pentagon, JCET (Pertukaran dan Pelatihan Gabungan). (Setelah diungkapkan oleh majalah The Nation, East Timor Action Network, Justice for All, dan anggota Kongres AS Lane Evans, program JCET ini ditunda pada tanggal 8 Mei yang baru lalu.) Sebaliknya, beberapa pejabat militer menyatakan bahwa Group 4 ini menerima pelatihan khusus dari badan intelijen Amerika Serikat. (Bersambung)

———————-

Allan Nairn, jurnalis veteran dan aktivis, dideportasi dari Indonesia pada bulan Maret karena dianggap sebagai “ancaman terhadap keselamatan nasional.” Riset ini didukung oleh The Nation Institute.

Satu pemikiran pada “Mereka yang “Hilang” di Indonesia

  1. Ping balik: Orang-Orang Kita di Jakarta « arusbawah 2.0

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s