S. M. Kartosuwiryo, Orang Seiring Bertukar jalan

Oleh: Hersri S dan Joebaar Ajoeb

Marijan. Begitu ia dipanggil ketika masih bocah. Tetapi ketika telah dewasa, di antara umur 40-60 tahun, Marijan lebih dikenal dengan nama Kartosuwiryo. Plus berbagai nama julukan. Ada kalanya, pada masa antara 1950 hingga 1962, koran-koran Indonesia menjulukinya dengan sebutan-sebutan: Gembong Darul Islam (DI), Kepala Gerombolan Tentara Islam Indonesia (TII). Di samping itu ia pun sering disebut sebagai Imam atau Presiden Negara Islam Indonesia (NII), sebuah “negara” yang juga berbentuk republik, Al Jumhuriah.

Sebagai nama, kata “marijan” tidak terasa melantunkan nada kepriyayian, walaupun Marijan adalah anak seorang priyayi Jawa. Ia yang lahir di wilayah bekas kerajaan Islam-Jawa yang pertama, yaitu Demak yang tersohor itu, nama Marijan tidak mengandung sapuan nama-nama Islam atau Arab.

Marijan memang anak Jawa. Anak seorang priyayi Jawa yang bernama Kartosuwiryo, pegawai Gubernemen Hindia Belanda dengan jabatan Mantri Candu di Rembang, Jawa Tengah. Nama Marijan kemudian diperpanjang dan berkembang menjadi Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo. Sejak kapan ditambahkan kata Sekarmaji itu tidaklah begitu jelas. Tetapi tambahan kata itu serasa mengibaskan suatu citra dan angan. Suatu idealisme.

Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo dikenal lahir pada 7 Februari 1905 di Cepu. Ia dikabarkan telah meninggal dunia, ditembak mati oleh suatu regu tembak Republik Indonesia sekitar tanggal 12 September 1962, di sebuah pulau di teluk Jakarta. Demikianlah berita resmi yang disiarkan ketika ia tidak hadir pada sidang MAHADPER[1] yang mengadili perkara “Peristiwa Idhul Adha”.[2]

Dari Haribaan Kebangkitan Nasional

Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo lahir sesudah datangnya masa redup bagi kejayaan feodal suku-suku bangsa kita serta sesudah berangsur pudarnya heroisme Islam bersenjata melawan penjajahan Belanda. Tetapi bersamaan dengan itu tumbuh dan tersusunlah rasa persatuan kebangsaan Indonesia yang berjalin dengan kesumat anti-penjajahan, dan yang kemudian berkembang menjadi bersifat nasional. Proses bangkit dan berangsur tersusunnya rasa persatuan kebangsaan tersebut didasarkan atas semangat anti-penjajahan yang dahulu selalu berwatak bersenjata. Meninggalkan watak lamanya kemudian menemukan bentuknya yang baru, yaitu dengan melalui organisasi-organisasi moderen, lahirlah antara lain serikat-serikat buruh – seperti Sarikat Buruh Pegadaian, Sarikat Buruh Gula, Sarikat Buruh Kereta Api dan lain-lain. Dan yang selanjutnya segera pula menemukan ungkapan ideologinya, yaitu dengan lahirnya Budi Utomo (1908), Sarikat Dagang Islam (1905) dan Sarikat Islam (1911), Indische Partij (1912) dan lain-lain. Tetapi periode mula kebangkitan nasional ini tidak hanya terdiri dari lahirnya organisasi-organisasi buruh, intelektual, golongan menengah dan massa Islam. Periode ini diasuh dan digembleng pula sesungguhnya oleh massa antara Tanam Paksa sampai dengan kebangkitan nasional. Setiap tahun dalam masa itu selalu saja terjadi pemberontakan dan perlawanan bersenjata dari rakyat tani.[3] Ketika itu Islam masih merupakan apinya ideologi anti-penjajahan.

Perang sukubangsa-sukubangsa kita melawan penjajahan tersebut telah menitiskan suatu kearifan baru bagi Indonesia, yaitu “persatuan nasional”. Islam pun menyadari hal itu dengan haq ‘ulyakin, sehingga ketika Sarikat Islam, baik yang Tirto Adhisuryo maupun yang HOS Cokroaminoto, bangkit sebagai kekuatan politik, ia langsung mengemban semangat persatuan nasional itu. Sudah dari dasarnya persatuan nasional hanya tumbuh pada lahan-lahan anti-penjajahan dan pro-kemerdekaan. Dan karena kedua hal tersebut bersifat kardinal bagi kehidupan bangsa ini, maka persatuan nasional pun menjadi demokratis wataknya.

Tumbuh bersama Nasionalisme

Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo seperti juga anak Indonesia lainnya. Kecuali anak dari bapak-ibu serta keluarganya, dia pun anak sejarah. Ia dilahirkan oleh sejarah. Dan berhubungan pula dengan sejarah, lingkungan serta nurani keadaan dengan melalui batin, kesadaran, kecerdasan, cita-cita dan angan-angannya. Marijan yang anak Mantri Candu, melalui candu itu pula menjadi pandai mengenali penderitaan rakyat pribumi Jawa. Akibat candu terjadilah bentuk penderitaan yang paling pilu, paling hitam dan paling mencemaskan, sehingga telah ditentang pula oleh Kartini sejak lama sebelumnya.

 
[Gambar] S.M. Kartosuwiryo, Di masa masih muda dan belum mulai memberontak mendirikan NI/DI-TII. (Foto: Reproduksi dari Album Perjuangan Kemerdekaan).

Pada tahun 1911, ketika Sarikat Islam didirikan, Marijan baru saja masuk Sekolah Angka Dua (Tweede Inlandsche School) di desa Pagotan Rembang. Sesudah empat tahun duduk di bangku sekolah ini, ia berhasil dipindahkan ke Hollandsch-Inlandsche School (HIS). Di sana ia berkesempatan belajar bahasa Belanda (1915). Sesudah empat tahun belajar di HIS, ia pun dapat diterima sebagai murid pada Europeesche Lagere School, sekolah rendah bagi anak-anak Eropa di Bojonegoro (1919). Pada umur 18 tahun, 1923, Marijan tamat dari ELS.

Ia berkembang menjadi muda belia, begitu pula gerakan kebangkitan nasional. Pada masa-masa inilah agaknya pemuda Marijan mulai “ditenung” amarah gerakan kebangkitan nasional, seperti yag terlihat pada tokoh Haji Oemar Said Cokroaminoto dengan Sarikat Islamnya yang laksana mercu-suar bagi gerakan kebangkitan nasional di kala itu. Di dalam diri HOS Cokroaminoto sejarah pada masanya melihat tentang betapa adiluhungnya cita-cita persatuan nasional. Pada dirinyalah menyatu dan bersetumpu tiga aliran yang merupakan sokoguru perjuangan melawan penjajahan menuju kemerdekaan nasional sesudah tahun 1900.

Kongres SI 26 Januari 1913 di Surabaya dihadiri oleh sekitar 10.000 massa. Tetapi pada tahun 1916 di Bandung Kongres SI telah dihadiri oleh lebih dari 16.000 orang, dengan 80 cabang SI se-Jawa, Sumatera, Bali dan Sulawesi. Cokroaminoto yang berpidato dalam bahasa Indonesia-Melayu pada Kongres tersebut, mengatakan antara lain: “Kita cinta bangsa sendiri dan dengan kekuatan ajaran agama kita, agama Islam, kita berusaha untuk mempersatukan seluruh bangsa kita. Di bawah pemerintahan yang tiranik dan zalim, hak dan kebebasan itu dicapai dengan revolusi …!”

Pada tahun 1920-1921 Cokroaminoto dipenjarakan, karena terlibat pada pemberontakan di daerah-daerah Sumbawa, Kalimantan, Jambi, Demak, Toli Toli, dan Cimareme.[4] Ketika itu Maridjan masih berumur limabelas tahun. Tetapi hubungannya dengan pamannya, Mas Marco Kartodikromo, seorang wartawan dan sastrawan – tokoh terkemuka Komunis di samping Semaun, Alimin, Tan Malaka, dan Aliarkham – tampaknya telah terjalin. Sehingga mudah dipahami mengapa jika pada tahun 1927 – tahun meletusnya pemberontakan Komunis di Jawa dan Sumatera Barat, dan ketika ia sudah duduk pada tahun keempat di Sekolah Dokter Jawa Marijan diusir dari Nederlandsch-Indische Artsen School (NIAS). Padanya ditemukan buku-buku tentang Sosialisme dan Komunisme.

Mulai tahun 1927 itulah Marijan sepenuhnya aktif berpolitik. Kendati sebelumnya ia pun telah menjadi anggota Jong Java dan bahkan menjadi Ketua cabang Surabaya organisasi ini. Ketika dari pangkuan Jong Java tersebut Jong Islamieten Bond lahir, ia pun masuk ke dalam organisasi ini. Di sini ia pernah sampai menjabat sebagai Ketua. Dalam tahun inilah, pada umurnya yang ke-25, HOS Cokroaminoto mengangkat Marijan sebagai sekretaris pribadinya selama dua tahun. Jelas bila saat itu ia telah menjadi anggota Partai Sarikat Islam Hindia, yang kemudian hari menjadi Partai Sarikat Islam Indonesia.

Melihat tahunnya Marijan berada di lingkungan Partia Sarikat Islam dan bekerja pada HOS Cokroaminoto, jelas tidak bersamaan masanya dengan Soekarno, Alimin, Musso, dan Abikoesno. Pada masa Alimin dan Semaun berada di lingkungan Cokroaminoto, Sarikat Islam sedang menemukan kepribadiannya yang berkembang, sehingga sebagai orang muda yang berasal dari rumpun kaum Indische Social Demokratische Vereniging (I.S.D.V.), Alimin kemudian menjulang menjadi salah seorang pengurus pusat Sarikat Islam (1916-1918). Bahkan pada tahun 1918, dengan pimpinan Semaun lahirlah Persatuan Pergerakan Kaum Buruh dari kandungan Sarikat Islam, suatu federasi gerakan kaum buruh Indonesia yang pertama kali ada.

Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo pastilah belajar dari pengalaman Sarikat Islam sebagai suatu gerakan massa bangsa yang bersifat politik, dan ada pada masanya mampu – menunjukkan apa arti politik bagi massa, dan arti sesungguhnya dari persatuan nasional, serta arti yang sesungguhnya dari perpecahan nasional.

Perpisahan dan perpecahan SI, dengan sayap kirinya yang pada pokoknya terdiri dari kekuatan yang berasal dari ISDV, membawa SI berubah menjadi PSIH (Partai Serikat Islam Hindia) yang kemudian menjadi PSII (Partai Serikat Islam, 1929). Sementara itu ISDV berkembang menjadi Partai Komunis Hindia (1920) dan Partai Komunis Indonesia.

Partai Sarikat Islam Indonesia kemudian menanggung suatu masalah strategi dan taktik yang serius, dan yang berakhir pada perpecahan antara golongan non dan ko, yaitu golongan yang menerima bekerja-sama dan yang menolak kerja-sama dengan pemerintah Hindia Belanda. Sedangkan Partai Komunis Indonesia mengidapkan suatu keadaan yang relatif menjadi mulai tercerabut dari suatu jenis ideologi massa, yaitu Islam, sebagai suatu kekuatan politik. Dalam keadaan yang demikian itulah Partai Komunis Indonesia terbawa oleh suatu “ekstase” anti-kolonialisme, berupa pemberontakan bersenjata November 1926 dan Januari 1927, suatu pemberontakann ynang heroik tetapi gagal. Berbeda dari Soekarno yang sempat menjadi menantu H.O.S. Cokroaminoto, Marijan sesudah menjadi Sekretaris Pribadinya berlanjut menjadi politikus profesional dari PSII. Dalam Kongres PSII ia kemudian diangkat menjadi Komisaris Partai untuk Jawa Barat. Tetapi dalam Kongres PSII tahun 1931 ia menanjak menjadi Sekretaris Umum, suatu jabatan yang ia pegang selama lima tahun. Ketika HOS Cokroaminoto meninggal pada tahun 1934 sebagai Ketua PSII, S.M. Kartosuwiryo masih menjadi Sekretaris Umumnya. Dalam Kongres berikutnya (1936) – sesudah HOS Cokroaminoto meninggal dunia – ia terpilih menjadi Wakil Ketua, adapun ketuanya adalah Wondo Amiseno. Pada masa inilah menajam masalah kerja-sama atau menolak kerja-sama dengan pemerintah Hindia Belanda, dan Sekarmadji yang berpendirian menolak kerja-sama berada di pihak yang kuat, sehingga Haji Agus Salim dan Mohammad Rum keluar dari PSII, mendirikan PSII-Penyedar.

Tahun 1936, sesudah Kongres, S.M. Kartosuwiryo ditangkap dan ditahan karena dituduh hendak memberontak. Namun segera saja dibebaskan oleh pemerintah Hindia Belanda. Tapi pemilihan sikap tidak berhenti pada Kongres itu saja. Masalah bekerja-sama atau tidak bekerja-sama sebagai masalah asasi bagi strategi dan taktik PSII muncul kembali pada Kongres yang berikut (1939), ketika itu Sekarmadji Marijan Kartosuwiryo masih Wakil Ketua PSII. Pada Kongres ini aliran yang suka bekerja-sama dengan pemerintah Hindia Belanda kelihatannya makin mendapat dukungan, terutama dari kalangan priyayi. Aliran itu disebut juga sebagai “PSII Parlemen”, yang antara lain didukung oleh Ketua PSII sendiri, Wondo Amiseno, disamping Abikusno, Aruji Kartawinata, Harsono dan Anwar Cokroaminoto. Dengan sendirinya harus ditambahkan ke dalam barisan ini Haji Agus Salim dan Mohammad Rum. Sedangkan Sekarmadji Marijan Kartosuwiryo tetap menolak bekerja-sama dengan pemerintah Hindia Belanda, sehingga ia pun membentuk suatu kekuatan yang dikenal sebagai Komite Pembela Kebenaran Partai Sarikat Islam Indonesia (KPK-PSII). Kelompok atau aliran ini mempunyai pendukung-pendukungnya di setiap cabang PSII. Keadaan di dalam tubuh PSII ini merupakan salah satu cermin yang karakteristik dalam kehidupan perjuangan politik Indonesia sebelum Perang Dunia II.

Perpecahan-perpecahan atau pemilihan-pemilihan yang terjadi dalam tubuh PSII sebenarnya telah berakar sejak Sarikat Islam “menyapih” unsur sayap kirinya. Masalah pokoknya bersumber pada sikap mengenai strategi dan taktik dalam menjalani perjuangan anti-penjajahan.

Sebelum periode kebangkitan nasional, perjuangan melawan penjajahan pada pokoknya bersifat perjuangan bersenjata. Jadi tidak ada urusan dengan kerja-sama atau tidak kerja-sama. Tetapi periode kebangkitan nasional, dimana terdapat sejumlah priyayi Indonesia yang telah “dibaratkan” pendidikannya[5] aktif berpolitik menentang penjajahan, namun tidak (belum) mempunyai organisasi perlawanan (seperti yang semula dimiliki oleh kerajaan-kerajaan daerah). Masalah pokok dengan sendirinya bergeser pada bagaimana mengorganisasi dan mempersatukan diri dalam menentukan strategi dan taktik perjuangan. Dalam keadaan demikian perjuangan bersenjata dan sikap non-koperatif tidak dapat dengan sendirinya menjadi sikap nasional yang bulat. Masalah pokok ialah mengorganisasi diri dengan dasar baru, yaitu persatuan nasional. Tetapi jalan untuk itu ternyata tidak sederhana. Di samping Islamisme yang secara tradisi memang menolak penjajahan, tapi tidak menolak kapitalisme, muncul pula kekuatan-kekuatan sosial baru yang berupa kaum intelektual dan kaum buruh, dengan membawa pandangan nasionalisme dan sosialisme. Organisasi-organisasi baru itu membentk kepribadiannya yang baru, yang meminta pengakuan sosial dan karena itu mencerminkan suatu strata demokrasi yang baru pula dikenal oleh masyarakat Nusantara, masyarakat-masyarakat sukubangsa Indonesia.

Posisi ekonomi Belanda sesudah Perang Dunia I tidaklah sebaik seperti yang ia peroleh pada masa “tahun-tahun keemasannya” dari tahun1870 hingga 1914. Pasang ekonomi Jepang dan Amerika ke Pasifik sesudah Perang Dunia I, akibat dampak kemenangan Jepang atas Rusia pada tahun 1905, kemudian pengaruh Revolusi Sosialis Rusia pada tahun 1917, berkembangnya demokrasi borjuis dan liberalisme, serta pasangnya gerakan kebangkitan nasional dengan segala daya upayanya, telah menciptakan semakin tajamnya kontradiksi antara kekuatan penjajahan dan anti-penjajahan. Orang-orang seperti Hasanuddin, Patimura, Diponegoro dan Imam Bonjol, sudah lama kalah dalam perjuangan bersenjata bersenjata melawan Belanda. Bahkan Diponegoro dan Imam Bonjol sudah lama mati di pembuangan di tanahairnya sendiri, semangat mereka hidup menebar benih perlawanan. Kebangkitan dan kepahlawanan pada rakyat suku-suku bangsa kita, menebar benih demokrasi dan persatuan nasioanl. Benih yang baru inilah yang kemudian seharusnya dikembangkan Sarekat Islam, kemudian PSII, Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo, sikap anti-kolonialnya pada umumnya amat tegar. Ia sama dengan kaum intelektual baru Indonesia yang mendambakan adanya organisasi dan massa yang terorganisasi sebagai alat perjuangan moderen melawan kolonialisme. Namun ia berbeda dengan mereka dalam hubungan dengan kekuatan kolonialisme. Sekarmaji menolak dengan konsisten kerja-sama terhadap segala yang berbau kolonial. Sikap “hijrah” yang terkenal dalam sejarah PSII, mencerminkan kemenangan sikap Sekarmaji Marijan. “Hijrah” lebih merupakan pengembangan dari sikap “Swadhesi” Gandhi. Sikap “hijrah” itu lebih menjurus kepada pembentukan kekuatan umat, bebas dari pengaruh kekuasaan dan kekuatan pemerintah Hindia Belanda. Sikap ini bahkan merupakan pengembangan dari sikap anti-kolonial Soekarno, Ki Hajar Dewantara, Hatta, dan menjadi sejalan dengan sikap yang diambil oleh Partai Komunis Indonesia pada masa itu. Sekarmaji Marijan telah mempersiapkan sebuah tesis khusus mengenai politik “hijrah” itu atas keputusan Kongres PSII. Jika dipandang dengan tenang tampaklah bahwa ujung konsepsi itu berakhir pada “jihad”, suatu pemanfaatan politik dari kekuatan religius. Dalam hal ini Sekarmaji Marijan sebagi seorang politikus, bergerak juga di bidabg jurnalistik. H.O.S. Cokroaminoto laksana seorang guru telah pula membimbing Sekarmaji, mula-mula sebagai korektor, kemudian meningkat menjadi wartawan, dan bahkan pemimpin redaksi dari harian Fadjar Asia.

 
[Gambar] TANDA KEAGUNGAN ALLAH (rangkaian kalimat syahadat dalam aksara Arab) Di bawahnya tertulis: Rebo Wage 5 Oktober 1960/10 Rabi ul-Achir 1380 H/14 Bada Maulud 1892 A Th – He W.S. Mulai dj. 12.10 hg. dj.15.00 “Wahyu Cakraningat” berupa rangkaian kalimat syahadat yang dipakai oleh Kartosuwiryo untuk meninggikan martabat pribadinya dimata pengikutnya. (Foto: Reproduksi dari Album Perjuangan Kemerdekaan)
 

Tahun 1929 Sekarmaji melangsungkan perkawinan dengan Dewi Siti Kalsum, anak tokoh PSII Malangbong Ardiwisastera yang bertemu dengannya dalam kegiatan kepartaian. Perkawinannya merupakan jembatan bagi Sekarmaji untuk merealisasi sikap politik Islamnya, yaitu “bersatu dengan massa, berada di tengah-tengah massa, menggembleng massa menjadi kekuatan yang terorganisasi dan tersebar luas”. Institut Suffah, suatu bentuk pesantren yang terletak antara Malangbong dengan Blubur Limbangan telah “dikelola” S.M. Kartosuwiryo dengan bantuan mertuanya Ardiwisastera serta sejumlah ulama lainnya; boleh dikata telah menjadi basis kekuatannya sampai pada masa pendudukan Jepang dan masa Republik. Ulama-ulama Jawa Barat seperti Junus Anis (Bandung), Jusuf Tanziri (Wanaraja), Mustafa Kamil (Tasik), Abdul Kudus Gozali Tusi, Oni dan beberapa lainnya lagi, parkatis telah melapangkan jalan dan mengkonsolidasi hubungan Sekarmaji dengan massa Islam di Jawa Barat khususnya.

Masa penjajahan Jepang, walaupun pendek, telah memberi kualitas baru pada hubungan Sekarmadji dengan massa Islam. Militerisme Jepang memperkenalkan senjata dan cara-cara militer sebagai alat perjuangan. Sekarmaji tampaknya seperti “mendapat durian runtuh” pada masa pendudukan Jepang ini. Ia sendiri aktif melatih muridnya baris-berbaris di Institut Suffah. Larangan Jepang atas kegiatan partai-partai politik bagi Sekarmaji tampaknya telah dikompensasikannya dengan latihan-latihan kemiliteran yang ia sendiri aktif melakukannya. Bersama dengan Soekarno, Hatta, Ki Hajar, Mas Mansyur dan Abikoesno, Sekarmaji juga menjadi anggota Djawa Hoko-kai Tjuo. Dan ketika Masyumi didirikan, Sekarmaji diangkat menjadi sekretarisnya, di samping Kyai Haji Abdul Wahab Hasyim selaku ketuanya. Anak didik Suffah Sekarmaji di masa pendudukan Jepang itulah, yang kemudian tersebar dalam Hizbullah yang didirikan menjelang kekalahan Jepang, kurang lebih setahun sesudah PETA resmi didirikan. Hizbullah diumumkan berdiri oleh Komandan Tentera Jepang di Jawa, Jenderal Kumakici Harada, pada tanggal 8 Desember 1944. Tidak lama kemudian didirikan pula Sabilillah sebagai organisasi yang lebih longgar dan luas sandarannya pada masyarakat Islam. Sabilillah didirikan atas inisiatif Masyumi yang berkongres di Malang, November 1945, sebagai suatu persiapan perang melawan kolonialisme Belanda. Baik Hizbulah maupun Sabilillah menjadi bagian dari Masyumi.

Tokoh-tokoh terkemuka Hisbullah adalah Zainul Arifin dan Mohammad Rum sebagai Ketua dan Wakil Ketua, di samping Jusuf Wibisono, Prawoto Mangkusasmito, Masyhudi dan Zarkasyi. Jepang, sebagaimana juga Belanda menggunakan berbagai daya untuk menjinakkan Islam sebagai kekuatan politik. Perbedaannya ialah Jepang walaupun bersifat militerisme fasis (jadi jauh!) dan lebih ganas daripada kolonialismenya imperialisme. Pada dirinya ia membawa bibit penghancur dirinya sendiri yang lebih ampuh. Manakala ia menebar benih ilmu kemiliterannya sebagai alat mobilisasi, maka bersamaan dengan itu ia telah menggali lubang bagi dirinya sendiri.

Sekarmaji berbeda, dan sangat berbeda, dari jaman penjajahan Belanda. Ia tidak tampak tegar menentang Jepang sebagai penjajah dan penjajah yang ganas. Ia patuh tampaknya. Ia asyik dengan ilmunya yang baru, yaitu ilmu perjuangan bersenjata, yang dahulu pada tahun 1926-1927 telah dipakai oleh pamannya, Mas Marco, tetapi gagal. Sekarang Sekarmaji tampaknya seperti telah keasyikan dengan ilmu kemiliteran dan kekuatann yang telah ia punyai. Ia mengepalai Hizbullah yang ada di Malangbong, di samping ia juga menjadi inspektur bagi latihan kemiliteran untuk daerah Banten. Untuk beberapa lamanya ia juga menjadi pengurus pusat MIAI (Majelis ul Islamil a’laa Indonesia) dan memimpin Bait-al-Mal untuk fakir miskin di jaman Jepang itu.

Mungkin pada masa-masa inilah Sekarmaji disurupi kisah-kisah babad kebesaran sejarah Demak Islam, di mana ia membayangkan dirinya sebagai seorang Falatehan yang mengislamkan Jayakarta melalui pengislaman dan penguasaan Banten pada tahun 1517 dengan bersenjata.[6] Jika kita kemudian mengikuti jalan hidupSekarmaji sesudah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, barangkali dugaan atau kemungkinan yang kita kemukakan di atas seakan-akan mendapatkan alasan-alasannya yang menarik.

Dalam kacamata sejarah masa pendudukan usia militerisme Jepang memang pendek, Namun masa yang pendek itu telah memperkenalkan arti senjata dan perjuangan bersenjata dalam hubungan dengan kekuasaan negara secara praktis – kepada massa rakyat. Di samping itu ia juga telah mengisi dada bangsa Indonesia, sehingga secara intuitif sarat dengan nasionalisme dan demokrasi sebagai akibat kontemplatif dari militerisme itu. Nasionalisme, persatuan bangsa, demokrasi, dalam berbagai corak bentuk latihan berorganisasi, ternyata kemudian merupakan penyangga proklamasi dan penegakan Republik Indonesia sebagai negara.[7]

PUTERA (Pusat Tenaga Rakyat) yang didirikan pada 9 Maret 1943 dengan Empat Serangkai pemimpinnya (Soekarno – Hatta – Ki Hajar Deantara – KH Mas Mansyur). PETA (Pembela Tanah Air) yang didirikan dalam bulan September 1943 dan melatih lebih-kurang 120.000 orang muda, Heiho sebagai tentara yang diperbantukan pada pasukan Jepang di garis depan pertempuran, Gakutai sebagai “tentara pelajar”, dan Jawa Hokokai sebagai pengganti PUTERA yang akhirnya dibubarkan sendiri oleh Jepang, karena ternyata lebih merugikan ketimbang menguntungkan kedudukannya, merupakan sebagian saja dari manifestasi organisasi yang didirikan oleh fasisme militer Jepang bagi kepentingan “Perang Asia Timur Raya”-nya.

Organisasi-organisasi tersebut ternyata lebih merupakan persemaian patriotisme dan rasa demokrasi bagi bangsa Indonesia. Suatu “kebudayaan baru” dalam kehidupan politik Indonesia telah bertumbuhan dari lahan-lahan sosial yang diolah oleh Jepang.

Kebudayaan yang terasa baru itu ialah kebudayaan berorganisasi, bersenjata, dan berlawan terhadap penindasan. Kebudayaan baru yang sama juga disemai oleh Jepang di kalangan umat Islam. Di samping mendirikan MIAI sebagai penghimpun semua organisasi Islam, banyak sekali tokoh dari kalngan Islam yang diberi kedudukan kemiliteran sebagai Daidanco. Di antara mereka termasuk tokoh-tokoh seperti Kasman Singodimedjo, Sam’un, Sarbini dan lain-lain, di samping secara resmi didirikan pula Hizbullah, dan kemudian Sabilillah, sebagai organisasi pemuda yang bersifat kemiliteran dan keagamaan. Bahkan situasi di awal pendudukan itu pun sudah merangsang dan memungkinkan seoramg tokoh terkemuka PSII Abikusno Cokrosuyoso mengusulkan, agar dibentuk pemerintahan sendiri bagi Indonesia. Usul itu sudah barang tentu ditolak oleh Jepang.

Faset lain yang penting dari masa pendudukan Jepang ialah berjangkitnya gerakan bawah tanah. Pada masa inilah pula kepribadian “Angkatan Proklamasi” digembleng dengan intensif. Gerakan-gerakan ini dapat dikatakan sebagai sumbu peledak bagi banyak perlawanan kaum tani terhadap kekuasaan dan pemerasan militerisme Jepang yang memang ganas itu.Puncak perlawanan tersebut menjelma di Blitar, pada pemberontakan Supriyadi yang diduga mempunyai hubungann dengan salah satu kelompok gerakan bawah tanah Amir Sjarifuddin.[8]

Karenanya posisi yang diambil SM Kartosuwiryo di masa itu, dengan menggunakan lembaga pendidikan Suffah sebagai jalan ke arah perjuangan bersenjata melawan penjajahan, menjadi benar-benar seirama dengan tuntutan perkembangan politik saat itu. Hingga sekarang tidak ada petunjuk dan bukti-bukti yang menyatakan Sekarmadji berhubungan dengan perlawanan kaum tani di Jawa Barat terhadap Jepang, walaupun hal yang demikian itu bukannya tidak mungkin. Apa yang dilakukan SM Kartosuwiryo di jaman Jepang, dan yang buahnya dipungut sesudah proklamasi kemerdekaan, dapat diangkat sebagai pembenaran terhadap banyak kesimpulan yang diambil para peneliti Islam dari Barat melihat bahwa, Islam di Indonesia berdiri dan berjalan maju dengan kedua belah kakinya. Sebuah kaki berdiri di atas lapangan pendidikan, dan sebuah kaki yang lain di atas medan keprajuritan.

Tetapi marilah kita berandai-andai. Seandainya Sekarmaji yang mengerti dan fasih berbahasa Belanda itu, tidak tahu atau tidak mau tahu terhadap kesimpulan para peneliti Islam dari Barat tersebut. Dan seandainya pula ia pun tidak menerima pelajaran sejarah dari mertuanya, Adiwisastera, yang seorang ahli sejarah Islam. Tetapi sebagai seorang Jawa, anak didik pamannya, Mas Marco, yang seorang wartawan dan sastrawan terkemuka pada jamannya, bukannya tidak mungkin bahwa ia telah menemukan ilhamnya dari kisah-kisah Sunan Kalijaga menurut penuturan Babad Demak. Konon Sunan yang bijak itu telah menasihati Jaka Tingkir agar memindahkan wahyu kerajaan Demak dari daerah pesisir ke daerah pedalaman, dari atas tulangpunggung saudagar dan niagawan ke atas tulangpunggung kaum tani.[9] Sunan Kalijaga ternyata telah diarifkan oleh pengalaman sendiri, betapa Islam – manakala tetap bertumpu pada pedagang di pantai saja, lahan subur bagi benih kapitalisme itu – bukan hanya tak akan mampu berkembang, tetapi sekaligus bahkan tak akan bertahan menghadapi kapitalisme Barat yang membawa serta Kristianisme.

Ketika kemerdekaan Indonesia diproklamasikan, Marijan dikabarkan ada di Jakarta. Namun lebih jauh tak diketahui, apa yang diperbuatnya dan dengan siapa-siapa pula ia meriung ketika itu.[10] Dalam sejarah lahirnya Pancasila nama SM Kartosuwiryo memang tak tampak disebut-sebut. Padahal banyak teman-temannya yang giat dalam Panitia Persiapan Kemerdekaan, seperti Abikusno Cokrosuyoso yang mungkin merupakan orang terdekat dengannya, di samping juga Haji Agus Salim. Kedua tokoh ini sibuk terlibat dalam Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia, di mana Islam telah menjadi persoalan tatkala masalah dasar negera diperbicangkan, hingga lahir apa yang kemudian dikenal sebagai Jakarta Charter.

Bahwasanya ada sementara pemuka Islam yang menghendaki agar Islam menjadi dasar negara Republik Indonesia, hal yang lumrah belaka sebenarnya. Sebab sejarah Indonesia bukannya tidak pernah kenal Islam sebagai dasar negara. Tetapi sejarah itu juga yang kemudian memberitahukan, bahwa tidak ada suatu konsepsi Islam sebagai dasar negara, yang pernah dikemukakan dalam sidang-sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan sebagai imbangan terhadap konsepsi Pantja Sila Soekarno. Kenyataan ini barangkali boleh berlaku sebagai petunjuk tentang betapa tidak tersedianya kematangan dan kesiapan pada kalangan pemuka Islam ketika itu, untuk mengangkat Islam sebagai dasar negara pada saat-saat dekat menjelang kelahiran Republik ini. Seandainya Sekarmaji telah mempunyai konsepsi yang jelas tentang Negara Islam Indonesia, dan seandainya dia menganggap bahwa Pancasila tidak pantas menjadi dasar negara, niscayalah ia sudah akan bergerak di Jakarta memperjuangkan cita-citanya pada saat itu! Atau, apakah ia sudah mempunyai kesimpulan bahwa, tidak ada gunanya untuk berbuat demikian di atas mimbar, dan bersama-sama dengan para tokoh yang pada umumnya tentu sudah dikenalnya “kualitasnya”?

Dalam pada itu masa-masa sebelum dan sesudah proklamasi memang tidak menyediakan waktu yang cukup untuk bertukar pikiran, berdebat dan beradu pendapat tentang dasar negara. Masalah pokok bagi semua pemimpin dan semua pejuang saat itu ialah, melaksanakan proklamasi dan menegakkan negara yang merdeka, bebas dan siap menghadapi kekuatan penjajahan yang akan kembali ke Indonesia. Demikianlah kenyataannya. Segera sesudah proklamasi yang menjadi masalah adalah tentang kolonialisme Belanda yang “ada di dalam ransel-ransel Sekutu” yang diwakili oleh Inggris. Pancasila atau Islam rasanya hanyalah masalah sekelompok kecil pemimpin saja ketika itu.

Tahun 1947 merupakan tahun yang menentukan jalan hidup SM Kartosuwiryo. Dalam tahun inilah dia memutuskan untuk kembali bermukim di Malangbong dengan institut Suffah-nya. Sebelum itu memang telah sering juga ia tinggal di sana. Bahkan pernah suatu ketika ia menghadiri sidang KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat) di Malang, langsung datang dari Malangbong dengan dikawal oleh sepasukan Hizbullah dengan bersenjata lengkap. Tetapi baru menjelang agresi Belanda pertama, tahun 1947, ia menetap di Malangbong, dan untuk seterusnya bergerak dari sana pula, menjalani akhir riwayatnya. Dalam bulan Juli 1947 ia telah menolak jabatan Wakil Menteri Pertahanan dalam kabinet Amir Sjarifuddin. Penolakan yang mudah dipahami. Masyumi sebagai parpol, dimana SM Kartosuwiryo bergabung telah menolak dan bahkan menentang Linggarjati. Permintaan Amir kepadanya untuk duduk sebagai Wakil Menteri Pertahanan itu bersamaan waktu dengan keluarnya PSII dari Masyumi, dan SM Kartosuwiryo dikenal sebagai seorang pemuka penting dari PSII. Bisa dipahami jika akibat permintaan Amir tersebut ia merasa dituduh sebagai “ambisius”. Sebab kendati semua orang tahu tentang sikapnya yang tak kenal kompromi terhadap kolonialisme Belanda, namun Amir seolah-olah masih hendak menguji pendirian politiknya pula. Maka tidak aneh jika SM Kartosuwiryo menanggapi tawaran kursi Menteri itu sebagai uluran tangan politik yang tidak mengandung tatakrama.[11] Lagi pula tentu saja kabinet Amir akan memikul beban yang telah dibuat oleh Linggarjati, karya kabinet Sjahrir, yang telah mengakibatkan jatuhnya kabinet itu sendiri.

Karena itu keputusan SM Kartosuwiryo untuk kembali bermukim di Malangbong sangat mungkin dengan disertai hati kesal, gundah dan putus asa. Dia tentu menghayati benar tentang betapa goncang sudah kalangan politik Indonesia tatkala ditantang masalah strategi dan taktik dalam menghadapi Inggris yang datang atas nama Sekutu. Tapi “duta Sekutu” ini ternyata segera menanamkan kekuasaan dan kekuatan Belanda kembali di sejumlah kota-kota besar di Indonesia pada penghujung tahun-tahun 1945 dan 1946. Belanda tanpa Inggris sudah sejak semula jelas baginya. Dia datang dengan kekuatan militer bersenjata lengkap dan mutakhir, untuk menanamkan kembali pengaruh serta kekuasaan politiknya.

Tantangan masalah taktik dan strategi tersebut segera menimbulkan perpecahan sikap pada lapisan politik Indonesia.Terpecah antara ilusi dan kenyataan, serta antara diplomasi dan perjuangan rakyat bersenjata. Peristiwa 3 Juli yang terkenal itu memberi petunjuk, bahwa Soekarno dan Hatta, Sjahrir dan Amir Sjarifuddin tidak berhasil mempersatukan strategi dan taktik lapisan politik tersebut dalam menghadapi dunia internasional umumnya, dan kembalinya penjajahan Belanda khususnya. Pemimpin-pemimpin Indonesia ketika itu belum mampu bersepakat dalam menggunakan kekuatan diplomasi dan militer,baik sebagai suatu kombinasi maupun sebagai senjata yang berdiri sendiri-sendiri. Hanya kira-kira setahun sesudah proklamasi, tanggal 15 November 1946, naskah tragedi Linggarjati ditandatangani. Padahal hanya tiga bulan sesudah 17 Agustus 1945 seluruh lapisan politik di Indonesia telah diberi tahu rakyat Surabaya bahwa, Jenderal Mallaby, Jenderalnya tentara Sekutu, telah mati terbunuh. Beberapa jam saja sesudah Bung Karno datang ke Surabaya, sengaja dan khusus untuk menghentikan mengamuknya banteng ketaton Republik. Kobaran api pertempuran melawan tentara Sekutu yang sekaligus tumpuan serdadu-serdadu Belanda itu, memang berhasil dijinakkan hanya demi kesetiaan kepada Presiden Soekarno!

SM Kartosuwiryo tentu merasakan bahwa kebudayaan politik ibukota Republik pada tahun 1947 itu telah sesak dengan untaian kompromi dan kekalahan. Itu pun bergalau pula dengan asas demokrasi dan kehidupan parpol-parpol yang belum menemukan bentuk sesuai dengan kepentingan perang kemerdekaan ketika itu.

Setelah menjalankan peranannya sebagai pemecah-belah kekuatan Republik di satu pihak, sembari memberi waktu tenggang yang cukup bagi kekuatan milter Belanda di pihak lain, Linggarjati itu akhirnya dibedil sendiri oleh Belanda. Maka terjadilah pada 21 Juli 1947 apa yang Belanda menamakan sebagai “aksi polisionil”, tindakan pengamanan. Lalu, hanya dalam tempo dua minggu saja, semua kota-kota besar yang penting, terutama kota-kota pelabuhan telah dikuasai oleh Belanda.

Situasi demikian dapat dipastikan sangat mempengaruhi keputusan SM Kartosuwiryo untuk kembali”mudik” ke Malangbong, dan lebih lanjut untuk mencoba menjalankan keyakinan serta langkah politiknya sendiri. Faktor lain yang harus diperhitungkan juga ialah politik pecah-belah Belanda dengan mendirikan negara-negara bagian. Sebuah di antaranya Dewan Perwakilan Jawa Barat sebagai fundasi Negara Pasundan. Yang terlebih membuat SM Kartosuwiryo cemas dan gemas ialah karena Belanda pun telah memanfaatkan Islam sebagai kekuatan politik untuk menyangga manuvernya, yaitu dengan didirikannya Dewan Agama Islam di daerah-daerah yang sudah didudukinya.[12]

Sikap politik SM Kartosuwiryo yang dibawa ke Malangbong itu dengan jelas terungkap dalam pernyataan tanggapannya terhadap Renville, antara lain ia berkata: “… Tiap-tiap kali Revolusi Nasional hendak menggelora dan hendak menyapu sampah-sampah masyarakat, tiap kalinya itu dihambat, dihalangi dan dirintangi oleh berbagai-bagai ranjau dan penghalang, dari pihak Belanda penjajah, baik yang ada dalam tubuh Pemerintah Belanda sendiri maupun yang sudah masuk meresap dalam darah daging dan jantungnya Pemerintah Republik Indonesia.”

“Dalam riwayat yang tragis, memilukan dan menyedihkan itu, maka berkali-kali ‘bahtera Republik’ terdampar di atas batu karang yang amat curam sekali. ‘Berkat’usaha diplomasi yang dilakukan oleh jago-jago alias pemimpin-pemimpin Republik …!!! Itulah makanan yang disajikan ‘Belanda’, yang berisi racun bagi perjuangan Kemerdekaan Indonesia”.

 
[Gambar] Rangkaian kereta api yang terguling akibat sabotase gerombolan DI/TII. (Foto: Reproduksi dari Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia).

“Istilah-istilah ‘international minded’ menjadi alasan yang maha penting. Hanya banteng Republik Indonesia ‘marhum’ dan Masyumi serta keluarganya yang berani terang-terangan menyatakan ‘tidak setuju’ kepada Naskah Linggarjati itu, tetapi tetap loyal. ‘Naskah Renville’ lebih tidak berharga lagi daripada Naskah Linggarjati, yang memang sudah sangat merosot nilainya itu. Baik dipandang dari sudut politik, maupun ditinjau dari jurusan militer.”

“Daerah Republik yang sejak Naskah Linggarjati hanya meliputi Jawa dan Sumatera, maka dengan Naskah Renville lebih merosot lagi sampai batas “demarkasi Van Mook.” Luar daripada daerah itu merupakan daerah pendudukan alias persiapan jajahan.Taktik dan politik Belanda yang bernatijahkan Naskah Renville, baik dengan memasukkan agen-agennya ke dalam tubuh Republik, maupun dengan kekerasan dan keganasan, yang merupakan ‘Aksi Polisionil Pertama’, rupanya dianggap sebagai percobaan (steekproef) untuk menentukan sikap dan pendirian di masa mendatang.”

“Ke dalam digali dengan penyakit ‘pembangunan’, sedang dari luar diserang dengan pukulan hebat, ialah ‘Aksi Polisionil Kedua’, maka dalam sekejap mata Pemerintah Republik jatuh di tangan Belanda.

“Setelah ditawan dengan cara yang halus Pemerintah Republik Indonesia tidak jemu-jemunya melagukan lagi nyanyian-nyanyiannya yang sudah sangat tidak aktuil itu, ialah: membuat rundingan diplomasi. Maka mau atau tidak mau, banteng Indonesia yang gagah perkasa itu, karena kalah silatnya dengan singa Belanda, terpaksa diikat lehernya walaupun memakai rantai emas, dan kemudian masuk kedalam salah satu kandang dalam Kebun Binatang Moderen, yang bernama “Negara Indonesia Serikat” atau “Republik Indonesia Serikat”.

“Inilah gambaran proses dan natijah yang tumbuh daripada Statement Roem-Royen, yang dilangsungkan pada tanggal 7 Mei 1949, jam 17:00 itu.

“Dengan adanya Roem-Royen itu, maka Roem telah menyelesaikan tugasnya: Sebagai wakil Masyumi, wakil umat Islam … sungguh amat memalukan sekali. Kalau dulu jaman Naskah Linggarjati Masyumi mati-matian anti Naskah Linggarjati. Sekarang wakil Masyumi dalam kabinet dan wakil umat Islam sendiri yang mendapat giliran terakhir, menjual negara sampai habis ledis. Walau kita umat Islam bangsa Indonesia di tanah penduduk, dan sekarang Negara Islam Indonesia tidak ikut bertanggungjawab atas perbuatan Roem dalam urusan Statement Roem-Royen, tetapi semuanya itu kita perhatikan juga dengan ikut bela sungkawa.

“Sungguh peristiwa yang tragis itu amat memilukan hati rakyat bangsa kita, terutama umat Islam bangsa Indonesia, tetapi di balik itu wajiblah kita bersyukur ke hadirat Illahi, bahwa di balik kerugian yang amat besar itu, dalam pandangan nasional, tetapi bagi umat Islam bangsa Indonesia adalah semuanya itu menjadi salah satu syarat dan sebab akan turunnya Kurnia Illahi yang maha besar, ialah: PROKLAMASI BERDIRINYA NEGARA ISLAM INDONESIA.Tegasnya kini: Republik Indonesia telah kembali kepada derajat sebelum proklamasi, yakni: derajat nul besar.” (Bersambung)

[1] Mahkamah Angkatan Darat dalam Keadaan Perang untuk Daerah Jawa dan Madura.

[2] Berita KB Antara, 14 September, 1962.

[3] Sartono Kartodirjo, The Peasants Revolts of Banten, 1888, (The Hague, 1966).

[4] Amelz, H.O.S. Tjokroaminoto, Hidup dan Perdjuangan I, (Jakarta: Bulan Bintang).

[5] Howard P. Jones, Indonesia: The possible dreams (Singapore: Mas Ayu PTE.LTD., 1973).

[6] Hasan Muarif Ambary, The Establishment of Islamic Rule in Jayakarta, (The National Archeological Research Center, Indonesia, 1975).

[7] Lagu Indonesia Raya dan Bendera Merahputih yang di jaman penjajahan Belada dilarang, pada masa mula pendudukan Jepang sempat diijinkan berkumandang dan berkibar. Sedang bahasa Indonesia mendapat tempatnya yang terhormat dan efektif sebagai bahasa nasional Indonesia.

[8] George McTurnan Kahin, Nationalism and Revolution in Indonesia, Ithaca-London: Cornell University Press, 1952).

[9] Pinardi, Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo, (Jakarta: PT, Aryguna, 1963) Jakarta.

[10] Atmodarminto, Babad Demak Jarwa, (Yogyakarta: Pesat 1953).

[11] SM Kartosuwiryo yang pendiam itu dahulu seorang guru di sebuah kota kecil. Sementara orang yang mengenalnya dari dekat mengatakan, ia seorang yang sangat meluhurkan sikap saling hormat-menghormati.

[12] Taufik Abdullah, Revolution and the search for sanctuary: Forgotten aspects of Indonesian History, 6th International Conference on Asian History (Yogyakarta: August 1976).

sumber: https://www.facebook.com/note.php?note_id=452450594769750

2 pemikiran pada “S. M. Kartosuwiryo, Orang Seiring Bertukar jalan

  1. tapi apa sih yg menyebabkan mata kita masih saja tertutup. sudah terang sekali kiranya sejarah yg sebenarnya, yg sesungguhnya pahlawan sejati itu siapa?ya bagi orang-orang yg faham akan sejatinya kehidupan ini, dunia hanya sebentar saja, tidak perlu kita berlebihan, perhatikan saja orang-orang yg diceritakan dalam sejarah tsb semua telah menghadap sang Kholiq, tentu bagi orang yg dalam kehidupan hanya mengharapkan redho-Nya, tentu akan mendapatkan tempat yg layak disisi-Nya.sebaliknya orang-orang yg berbuat zalim, curang, mengkhianat amanah Allah, dan yg menghalang-halangi dr jalan-Nya (jalan Kebenaran, Jalan yg hak), dan membunuh karakter para pejuang Allah di negeri ini tentu Allahpun akan menempatkannya ke tempat yg pantas pula (neraka jahanam) buat orang-orang yg mencintai dunia ini lebih dari segala-galanya.
    ingat..waktu itu sangat sebentar! seperti 1 hari saja !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s