Perbanditan dalam Sejarah Jakarta

Resensi

• Judul: Banditry in West Java, 1869-1942 • Penulis: Margreet van Till • Penerjemah: David Mckay dan Beverley Jackson • Penerbit: NUS Press • Cetakan: 2011 • Tebal: x + 282 halaman • ISBN: 978-9971-69-502-6

M. Fauzi

Hingga kini, perbanditan dalam sejarah Indonesia belum banyak menjadi fokus kajian para sejarawan negeri ini. Tema ini seperti terpinggirkan atau berada di luar arus besar historiografi Indonesia.

Buku karya Margreet van Till, Banditry in West Java, 1869-1942, dibuka dengan berita dalam Bataviaasch Niewsblad edisi 5 November 1907 tentang perampokan di suatu rumah di sekitar Kampung Melayu, Jakarta Timur, milik seorang warga Tionghoa pada pukul 9 malam. Berita perampokan tersebut tentu mencemaskan sekaligus menakutkan bagi para pembaca koran dan juga warga sekitar tempat kejadian. Dari sinilah dirangkai kisah tentang perbanditan di Jawa Barat dan Batavia khususnya sepanjang tahun 1869 hingga 1942.

Penulis buku ini menyebut para perampok itu sebagai bandit yang telah mengusik ketenangan warga sekaligus melawan pemerintah kolonial. Kasus-kasus perampokan di Batavia yang dimuat dalam buku ini banyak terjadi di lokasi ommelanden atau wilayah yang berada di luar tembok kota. Ekspansi kapital ke Batavia sejak abad ke-18 menjadi salah satu faktor tumbuhnya kriminalitas di kota tersebut dan sekitarnya. Pusat kekuasaan kolonial Belanda ini, selain menjadi daya tarik pemodal, juga menarik perhatian para bandit.

Ekspansi kapital

Di Batavia, respons keras terhadap orde kolonial yang sedang berjalan terjadi beberapa tahun setelah pasifikasi terhadap Aceh sukses dikerjakan. Pada Maret-April 1916, misalnya, Entong Gendut dan rekan-rekannya menggegerkan pemerintah Batavia dengan perlawanan mereka terhadap penguasa lokal dan tuan tanah di Tandjoeng Oost (wilayah Condet sekarang). Perlawanan ini tidak dapat dianggap hanya sebagai bentuk keresahan lokal dari rakyat atau suatu gerakan quasi-religius saja. Lebih jauh, aksi ini seharusnya dilihat sebagai perlawanan rakyat terhadap praktik kolonialisme yang sedang berlangsung, yakni particuliere landerijen (tanah partikelir) dan sewa tanah. Namun, pemerintah kolonial justru melihatnya sebagai bentuk perbanditan atau perbuatan kriminal yang meresahkan warga (baca: tuan tanah). Karenanya, tindakan tegas dan keras harus dilakukan. Di mata penguasa, orde kolonial tidak boleh diganggu dan ekspansi kapital harus tetap berjalan dengan aman, apalagi di Batavia.

Dalam konteks seperti itulah, diskusi mengenai perbanditan di Batavia dan ommelanden semestinya tidak dilepaskan dari kerangka kolonialisme dan ekspansi kapital. Respons masyarakat dalam bentuk perbanditan merupakan reaksi langsung terhadap tatanan kolonialisme yang memeras. Perbanditan tidak dapat dipandang dengan sebelah mata hanya sebagai reaksi spontan terhadap modernitas yang diciptakan oleh penguasa kolonial. Fenomena ini justru mempunyai akar sosial-ekonomi yang kuat di dalam kolonialisme itu sendiri. Dan perbanditan di Batavia juga tidak dapat dilihat sebagai fenomena kesenjangan sosial yang tajam dalam masyarakat kolonial.

Margreet van Till menandai pembukaan Terusan Suez pada 1869 atau masa akhir cultuurstelsel sebagai titik awal uraiannya tentang perbanditan di Jawa Barat (Batavia dan ommelanden). Pembukaan Terusan ini bertepatan dengan perayaan 250 tahun Batavia, sekaligus juga pertemuan antara bandit dan penguasa kolonial. Tentang hal ini, van Till ingin menunjukkan bahwa perbanditan di Batavia erat kaitannya dengan perkembangan dunia baru yang dimulai melalui pembukaan Terusan dan ekspansi kapital ke wilayah Hindia Belanda.

Dimensi spasial dan temporal pun menjadi bagian penting dari perkembangan koloni waktu itu. Setelah pembukaan Terusan, Batavia sebagai pusat koloni Belanda menjadi bagian dari sistem dunia yang sedang dijalankan, termasuk menyambut dan memfasilitasi arus kapital dari berbagai negeri. Sudut pandang ini sangat sedikit disinggung dalam berbagai kajian perbanditan selama ini.

Jago dan jagoan

Perbanditan yang diuraikan van Till berbeda dari penjelasan Henk Schulte Nordholt dan Onghokham yang menyatakan bahwa bandit—istilah mereka adalah jago—sebagai perantara dalam kekuasaan kolonial dengan posisi yang mendua. Menurut kedua peneliti, jago menjadi bagian dari kekuasaan lokal yang dibangun oleh penguasa kolonial serta memiliki peran dan posisi penting di dalamnya. Sebaliknya, van Till justru membahas bandit yang berada di luar kekuasaan kolonial dan banyak terlibat dalam kasus-kasus kejahatan atau perampokan di wilayah ommelanden.

Istilah bandit, yang digunakan secara konsisten oleh penulis, memang masih dapat diperdebatkan dalam konteks masyarakat kolonial. Ia menyatakan bahwa bandit adalah jago dan tidak semua jago adalah bandit. Bandit yang menjadi subyek tulisan ini mungkin lebih tepat dipahami sebagai jagoan daripada jago. Seorang jago adalah jagoan, tetapi seorang jagoan belum tentu jago. Konotasi negatif lebih banyak melekat pada jagoan atau bandit daripada jago yang dianggap lebih positif dalam sudut pandang masyarakat Jakarta. Terlepas dari diskusi tentang istilah tersebut, buku ini tetap menarik untuk dibaca karena memuat informasi mengenai kriminalitas atau ”dunia bawah” di Batavia sepanjang periode penelitian penulis.

Pers juga menjadi perhatian penulis terkait pemberitaan sekaligus pembesaran bandit dan mengangkatnya ke tengah publik bahkan di mata penguasa. Pers, disadari atau tidak, telah membentuk citra bandit di mata pembacanya, yaitu penguasa dan masyarakat kolonial. Masuknya bandit ke surat kabar, misalnya, tidak hanya berhasil ”mencuri” perhatian penguasa dan aparat keamanan, tetapi juga masyarakat dengan kisah aksi-aksi yang dilakukannya.

Dalam buku ini, van Till mengurai para bandit atau jagoan di berbagai tempat yang selama ini tak pernah dikenal, kecuali dalam tradisi lisan lokal. Tulisan ini seperti membuka sedikit ruang untuk lebih mengenal kriminalitas dan kolonialisme yang terjadi di ommelanden sepanjang pertengahan abad ke-19 hingga akhir kolonial Hindia Belanda.

Meski Batavia menjadi fokus, uraian tentang wilayah Senen, yang melahirkan kelompok bandit terkenal Koempoelan 4 Cent di tahun 1930-an, justru luput dari kajian penulis. Senen dan para bandit/jagoan di dalamnya mempunyai tempat khusus dalam perkembangan sejarah Batavia/Jakarta, terutama kaitannya dengan kriminalitas yang melekat erat sejak era kolonial hingga kini. Wilayah ini tidak bisa dipisahkan dari perbanditan di Batavia/Jakarta, khususnya sejak revolusi hingga 1960-an. Pelukisan kota Batavia oleh van Till sebagai burchtheren atau benteng yang dikelilingi oleh kekerasan dan bandit pada masa lalu melalui halaman demi halaman buku ini, ternyata masih dapat disaksikan hingga sekarang.

M Fauzi, Institut Sejarah Sosial Indonesia (ISSI)

Resensi ini dimuat pada Kompas 22 Juli 2011, Pustakaloka, hlm. 64.

6 pemikiran pada “Perbanditan dalam Sejarah Jakarta

  1. coba tengok link berikut dari penerbit buku ini –jika ada yang tertarik mebelinya. sepertinya, buku ini belum tersedia di toko buku gramedia. kabarnya, penerbit komunitas bambu berencana/akan menerbitkan buku ini. entah kapan terbit dalam bahasa indonesia.

  2. Sepertinya cukup menarik juga, bagi yang sudah membeli, saya mau tanya, apakah banyak disertakan foto-foto asli para “bandit” dari masa itu?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s