SURAT BUDAYA 12: Band Markas Komando (3)

Hersri Setiawan

[dari Di Sela Intaian]

kenangan tiga untuk basuki effendy

Demikianlah!

Band “Bantala Nada” Unit XIV Bantalareja itulah yang mendapat panggilan, tugas tampil di panggung hiburan ibukota Tefaat Buru, Namlea. Korve hiburan dalam rangka mengantar kepergian Letkol A.S. Rangkuti, sekaligus menyambut kedatangan Letkol Samsi M.S, sebagai penggantinya selaku Komandan Tefaat. Mengapa band dari Unit UIV Bantalareja? Karena di unit-unit lain kegiatan musik mereka, jika pun sudah ada, belum melembaga seperti halnya di Unit XIV Bantalareja.

Beberapa hari sesudah Basuki Effendy dan Lie Bok Ho disiksa gara-gara menyanyikan lagu-lagu yang dituduhkan sebagai “berindikasi” itu, Letkol A.S. Rangkuti meninjau ke Unit XIV. Entah untuk melakukan tugas jabatan inspeksi terakhir biasa saja, seperti layaknya sebelum mengakhiri tugas dan pergi meninggalkan Tefaat, ataukah untuk mengambil sangu yang dijatahkan ke Unit XIV. Para petinggi Tefaat selalu begitu. Begitu juga para petinggi unit jika mau cuti atau mengakhiri tugas mereka, Sami mawon: menirukan atasan! Apalah yang aneh? Kacang tidak akan meninggalkan lanjaran! Dari Dan Unit sampai anggota tonwal dan bahkan Dullah, karyawan sipil kepala gudang Unit XIV, jika mau beringsut cuti menengok kampung. Apalagi jika mau pulang seterusnya: minta sangu tapol! Jangankan para petinggi jabatan keduniawian. Bahkan petinggi keruhanian itu pun, misalnya. Bapak Pendeta Matatula itu, saking rakusnya, diberi julukan oleh tapol XIV: “Pak Pendeta Mata Ula”. Pendeta yang bermata ular …

Besar-kecilnya sangu tentu saja berbeda-beda, menurut pangkat dan kedudukan serta rakus dan tidaknya si petinggi yang bersangkutan. Prosedur yang dilewati pemungutannya juga beda-beda. Kalau jajaran markas komando, menempuh jalur resmi lewat Dan Unit, dan dari Dan Unit ke Koordinator berikut sepuluh Kepala Barak dan dari Kepala Barak pada seluruh “warga”. Ya, kalau lagi minta-minta begitu, untuk membujuk hati tapol digunakanlah istilah penyapa yang manis: “warga”. Kalau jajaran tonwal prosedur demikian mungkin dirasa terlalu panjang. Mereka langsung ke Kepala Barak, atau malah langsung ke tapol penekun ladang palawija dan “menodongnya” dengan melempar karung — berapa banyak bergantung rakus-tidak si pejabat.

“Isi!” Perintahnya.

Karung itu minta diisi jagung, kacang-tanah, kedelai, petatas atau ubijalar, kasbi, terong … apa saja adanya di kebun yang laku di pasar Namlea atau Ambon. Kapten Ahmad Noor, Dan Unit Bantalareja semasa aku menjadi koordinator, saking kesalnya menghadapi para pesaing kerakusan tonwal-tonwal di unitnya, ia sampai pernah bilang padaku.

“Ah, pak. Mereka itu semua apa yang dari tapol mau ambil. Coba saja pak Hersri cet itu tahi tapol. Nanti dia minta juga …”

Sementara si tapol mengisi karung, pak tonwal mencari kepala barak mana saja, minta tenaga “korve demit” [catatan 1] untuk mengangkut karung-karung itu ke kampung Sanleko, Jamilo atau Marloso. Di sana sudah ada penduduk tertentu yang menjadi “tukang tadah”.

Baiklah. Semua itu tidak penting dalam hubungan dengan kisah tentang Bandko ini. Yang penting bahwa dalam kunjungannya ke Unit XIV A.S. Rangkuti juga menggunakan kesempatan untuk memanggil Basuki Effendy. Ia sedang bekerja di areal ketika itu. Sejak ia dihukum karena menyanyikan lagu “Kambek” itu, bersama Lie Bok Hoo yang menyanyikan “Larilah!”, mereka tidak boleh bekerja jauh dari wisma komandan dan mess tonwal. Basef menuju wisma dengan hati was-was tentunya. Kami pun mengantarnya dengan pandangan cemas. Apakah mungkin memang ditemukan ada gundukan tapol entah di mana yang terbongkar, lalu dikaitkan dengan dua nyanyian itu? Barangkali Basef akan dibawa ke Mako? Barangkali akan diberi hukuman tambahan? Entahlah! Apa yang nanti akan terjadi, biarlah terjadi.

Kami tinggal bisa pasrah! Tapol bisa berbuat apa? Dalam keadaan ketidak-berdayaan yang sempurna demikian itu, tapol hanya bisa kembali kepada miliknya yang paling akhir: Harapan!

***

Menjelang petang, kembali dari lapangan apel, Basef mendekati aku.

“Aku ikut ke barakmu,” katanya. “Ada yang penting.”

Ada apa rupanya? Aku bertanya pada diri sendiri. Tapi kulihat raut muka Basef tidak kelihatan gusar. Jalannya tidak lagi pincang, memar bekas-bekas ‘permakan’ juga tidak menampak. ‘Permak’ dari kata ‘vermaken’, mengubah – untuk pakaian, misalnya – tapi dalam kosakata tapol Pulau Buru berarti ‘siksaan’. Alasannya, karena jika seseorang tapol kena permak tubuhnya akan menjadi ‘berubah bentuk’.

Tiba di kaplingku Basef langsung bercerita. ‘Kapling’ ini juga salah satu kosakata tapol Pulau Buru. Yang dimaksud ialah ‘petak tempat tidur’ di hamparan balai-balai plupuh untuk 25 orang pada sisi sini dinding barak, bersitentang dengan 25 petak yang lain pada sisi sana dinding barak. Dari cerita Basef ternyata memang tidak ada sesuatu bencana apa pun. Malah kabar melegakan yang dibawanya, kalau kisah seperti yang akan kuceritakan nanti, bisa disebut demikian. Setidaknya memang begitulah aku mengartikannya. Barangkali juga begitu pada Basef. Apalagi mengingat pemberi kabar itu A.S. Rangkuti, orang paling kuasa di Inrehab Pulau Buru, yang dahulu “rekan seprofesi” Basef sebagai sesama aktor di dunia layar-putih. Barangkali kabar ini, jika terlaksana, bagi A.S. Rangkuti merupakan semacam bentuk peringanan dari beban moral, yang paling maksimal bisa dilakukan oleh pejabat setinggi dirinya, terhadap tapolnya yang berasal dari satu “korps” atau “kelompok jabatan”. Beban tentang kesadaran akan, dan tuntutan dari belarasa, “Ruh Kelompok”. Selain itu mungkin juga sebagai cara pengucapan minta maaf, namun yang tak mungkin terucapkan dari mulut seorang pejabat tertinggi tefaat tapol terhadap salah seorang tapolnya. Yaitu ketika tonwal di Namlea dan di Bantalareja, bahkan salah seorang Dan Unitnya, Lettu CPM Sukirno, dengan gegabah telah menghukum tapol atas dasar tuduhan yang dicari-cari, melalui judul dua buah nyanyian.

Bahwa tapol dipanggil Dan Tebu sebagai “teman lama”, dan duduk satu meja bersama Dan Unit, dan di depan sana tonwal satu mess hanya bisa menunggu perintah, tentu saja ibarat tiupan angin komando yang membikin tapol Basuki Effendy tiba-tiba naik-daun di unitnya.

Ada dua pokok maksud Dan Tefaat memanggil Basef. Pertama, kabar bahwa dari Kementerian Sosial di Jakarta, Tefaat menerima sumbangan berupa satu perangkat musik lengkap untuk satu kelompok “band” atau orkes. Peralatan ini harus digunakan, agar tidak menjadi rusak mubazir di gudang. Maka sesuai dengan harapan si penyumbang, alat-alat musik itu harus digunakan sebagaimana mestinya, sehingga dengan begitu juga akan selalu terawat dengan baik. Mengingat Komando Tefaat belum mempunyai kelompok musik, maka dalam rencana A.S. Rangkuti nanti, alat-alat itu akan diserahkan kepada Band Unit XIV “Bantala Nada”.

Sesudah alat-alat musik diambil dari Mako ke Unit Bantalareja, Band “Bantala Nada”, dengan Basuki Effendy sebagai pimpinan grup dan Martin Lapanguli sebagai pimpinan teknis, sering ditugasi Mako berkeliling untuk memberi hiburan dari unit satu ke unit lain, yang terkadang makan waktu sekitar satu bulan. Sejak itu di unit beredar istilah “kelompok seniman”, yang diucapkan dengan nada berjarak. Sejenis rasa “kecemburuan sosial” antara kelompok masyarakat yang banyak terhadap satu kelompok masyarakat tertentu. Kelompok seniman ini memang menjadi lain dari kawan-kawan sesamanya di unit. Misalnya kalau merokok sudah “tembakau hitam”, yang terkadang juga disebut tembakau “seg” (shag) atau “warning”, karena pada pembungkusnya tertera sepatah kata itu. Kelompok seniman ini tidak lagi mau menerima tembakau rajangan pembagian barak. Juga ketika mandi mereka menggunakan “sabun londo”, tidak sekedar dengan digosok jerami atau daun “ketepeng-kebo” [catatan 2], kalau gosok gigi pakai sikat gigi dan odol, tidak sekedar dengan pasir lembut endapan arus saluran atau abu daun sagu kering.

Maksud kedua panggilan A.S. Rangkuti berupa perintah. Agar Basuki Effendy menyusun tulisan berisi uraian singkat tetapi jelas, tentang kebudayaan dan kesenian serta peranannya dalam kehidupan tapol di unit-unit. Isi tulisan itu oleh Rangkuti, apabila ia menyetujuinya, akan dimasukkan sebagai program pembinaan kebudayaan dalam kebijakan tefaat di bidang kebudayaan selanjutnya.

“Bagaimana pendapatmu, Her?” Tanya Basef.

Aku mengerti mengapa ia datang kepadaku. Selain memang sudah mengenal aku sejak kami masih sama-sama bersekolah di SMP I Yogya, walaupun terpaut dua klas, di Bantalareja tidak ada “orang Lekra” lain yang sedikit-banyak punya pengalaman memimpin organisasi. Pada bulan pertama di unit, bersama kami ada penyair S. Anantaguna, yang selain kaya dengan pengalaman memimpin, juga “setingkat” dengan dirinya — dalam arti sesama bekas pimpinan pusat Lekra. Tapi karena ia kemudian dipindah ke Unit XV Indrapura Basef tidak melihat sosok lain kecuali aku, walaupun “pangkat kedudukanku” — andaikata di dalam Lekra dikenal pangkat-pangkat seperti dalam tentara — tidak satu taraf dengannya.

“Aku tahu,” katanya menyusul. “Rangkuti bermaksud menggunakan aku. Tapi … bagaimana ya?”

“Ya, jelas memang!” Jawabku. “Tapi kenapa ada tapi? Soalnya, apa Bung bisa tolak? Sebagai bekas sesama aktor film Rangkuti tentu ingat, nyanyian Chatir Harro dalam “Untuk Sang Merah Putih” [catatan 3] itu “dubbing” dari suaramu, bukan? Lebih dari itu Rangkuti datang, tidak memanggil Basef sebagai sesama aktor untuk bertanya. Tapi ia datang sebagai Dan Tebu untuk memberi perintah pada tapol.”

“Ya, benar!” Jawabnya. “Tapi apa aku tidak akan disalahkan kawan-kawan nanti?”

“Nanti itu kapan? Itu urusan nanti lah, Bas! Lagi pula apa kita masih akan kebagian jaman yang Bung sebut nanti itu? Juga tudingan kesalahan itu, bukannya tidak bisa dijawab, bukan? Karena, pertama, itu soal pertanggung-jawaban antar-kawan, kedua antar-kawan dalam kedudukan sepantar. Tidak seperti Basef di depan Rangkuti sekarang ini …”

“Alasan jawabanmu?”

Aku lalu mencari rujukan pada para seniman di Jakarta dan Yogyakarta di jaman fasisme Jepang. Ketika di mana-mana ada Taman Kebudayaan (Keimin Bunka Shidosho) dan Barisan Propaganda (Sendenbu). Di sana seniman dihimpun dengan tugas utama, memberikan sumbangan guna memenangkan perang Asia Timur Raya [catatan 4]. Tapi tokh malah memicu lahirnya karya-karya yang justru dengan lembut mampu menyampaikan pesan patriotisme dan nasionalisme. Di samping ada komposisi lagu “Bekerja” dan “Tonarigumi”, misalnya, Cornel Simanjuntak dan Kusbini bisa “menyelinap” menyanyikan “Citra” dan “Padi Menguning”. Di samping cerpen-cerpen bertaburan di “Pandji Poestaka” di sepanjang tahun Syowa 2603-’05, yang memuji Saudara Tua Dai Nippon dan semangat “kamikaze”, Chairil Anwar tokh lolos (walaupun menurut Basuki Resobowo sempat masuk kenpeitai di Jalan Merdeka Barat Jakarta; catatan 5) bergegap-gempita dengan “Semangat” dan “Diponegoro”.

Selain kisah-kisah dari masa Jepang, aku juga menunjuk novel-novel sejarah Leon Uris, khususnya “Exodus” (1958) dan “Battle Cry” (1953), yang selalu berkisah tentang perjuangan bangsa Israel untuk kembali dan membangun negeri di “Tanah Yang Telah Dijanjikan” baginya itu. Perjuangan yang terbuka dan yang tertutup, bahkan selagi mereka di dalam kamp-kamp sekalipun. Di panggung mereka berlatih koor atau sandiwara, misalnya, padahal di belakang mereka latihan perang-perangan dan kursus politik!

Mencari “kesempatan” di dalam “kesempitan” itulah hak tahanan yang tersisa, ketika kemungkinan lari sudah tertutup. Dan juga di sanalah, dalam mencari “kesempatan” di dalam “kesempitan” itulah, terletak “keindahan seni avontur” yang menarik dan menantang di dalam kehidupan tahanan.

“Tapi lepas dari semuanya itu, Bas!” Kataku kemudian, ingin segera menyudahi percakapan berdua-dua. Lagi pula Basef tidak dari barak yang sama denganku.

“Menurut aku kecenderungan orang mencari hiburan atau melipur lara merupakan fitrah manusiawi yang lumrah, sehat dan tidak bisa dilarang. Basef tentu ingat? Bahkan ketika masing-masing kita masih di dalam sel yang sempit di RTC Salemba, sering terdengar suara Slamet Parto yang senang menembang “uro-uro”, Mudiyoko eks-Bupati Sukaharjo yang gemar mendongeng, atau Hadisuripto yang setiap habis besukan mendalang wayangkulit bayangan?”

“Kau sedia membantu aku?” Basef akhirnya mendedahkan apa yang sesungguhnya dikehendakinya dari aku.

“Tentu! Kau pilih mana?” Aku balik bertanya. “Membiarkan kawan-kawan mati menggantung diri, minum endrin, bacok-bacokan rebutan pacar homo … karena putus asa? Atau kita coba membantu mereka menembus kebuntuan dengan hiburan yang masih mungkin kita lakukan dan berikan?”

Pembicaraan selesai.

Ternyata tantangan Basef agar aku bersedia membantu, seketika itu juga langsung disodorkannya padaku. Ia memberi satu bolpen dan satu sekrip bercap Tefaat, agar aku menuliskan untuknya uraian tentang kebudayaan, sebagaimana kira-kira yang dikehendaki Dan Tebu. Entah karena Basef dalam hal ini memang merasa dirinya kalah mampu dari aku, entah karena dia sudah berhitung dengan kelak kemudian hari. Yaitu ketika datang saatnya “nanti”, jika “kawan-kawan” akan menuntut pertanggungjawaban tentang sikap “kerjasama” terhadap penguasa.

Sekrip dan bolpen aku terima dengan penuh kesadaran. Tapi aku tidak sekelebat dan sedikit pun memandang ke penguasa. Aku memandang pada diriku sendiri, dan pada semua tapol sesamaku. Aku ingin bersama mereka melalui lorong-lorong kebudayaan di unit-unit, menembus hidup keseharian yang dikepung kebuntuan ruang dan kebuntuan waktu, kebuntuan ruang-waktu dan kebuntuan waktu-ruang. Aku ingin bersama mereka sesekali bisa melepas tawa dan tepuk tangan, dan semoga turunlah perlahan-lahan angka-angka berita kawan dari berbagai penjuru unit menggantung diri, minum endrin, dan bacok-bacokan …

Sekrip itu kupenuhi dengan uraian tentang kebudayaan dan peranannya, menurut pemikiran Lekra dan Taman Siswa, yang sudah selalu melekat “di luar kepalaku”. Hanya kata-kata “Rakyat” di sana-sini kuhapus dan kuganti dengan “tapol” atau “masyarakat”, serta kata paham “kebudayaan rakyat” dengan paham “kebudayaan Nasional atau Panca Sila” atau paham “sistem among: asah-asih-asuh …”

Aku hanya minta pada Basef, jaminan dari Dan Unit, agar bolpen dan sekrip di bawah bantalku (ya, ketika turun dari KM “Tokala” di dermaga pelabuhan Namlea masing-masing tapol mendapat bagian selembar tikar dan satu bantal) tidak menjadi ancaman bencana “seruan kambek” atau “ajakan lari”.

Dalam tujuh hari berikut sekrip itu sudah sampai di tangan Dan Tebu di Mako. Tidak lama sesudah itu pula Unit XIV Bantalareja diminta mengirim tenaga korve untuk mengambil alat-alat band dari Mako ke Unit. Kira-kira pertengahan tahun berikut perangkat alat musik itu dibawa kembali ke Mako, diantar oleh tiga tenaga unit yang sekaligus akan pindah ke Mako sebagai tenaga inti perkumpulan musik Markas Komando yang akan segera dibentuk. Mereka itu ialah Basuki Effendy, sebagai penyanyi dan calon pimpinan kelompok, Martin Lapanguli pemain biola dan penata musik, serta Pardede pemain gitar. Beberapa tenaga “seniman musik” lain dipanggil dari berbagai unit, pertama-tama dan terutama Subronto K. Atmodjo tapol Unit X Wanadharma, selaku calon pimpinan teknis kelompok musik Mako, yang kemudian dikenal sebagai “Bandko”[catatan 6].

Ketika itu pimpinan Tefaat Buru sudah diserah-terimakan dari Kol. A.S. Rangkuti kepada Letkol Samsi M.S. Dan Tebu yang baru ini memang segera melaksanakan banyak perubahan. Misalnya dalam hal cara memanfaatkan tenaga kerja tapol, diubahnya sistem kerja menurut “man-days” ke sistem kerja “borongan”, yang cenderung bersemangat “liberal” dan bersifat “ekshaustif” — penyerapan tenaga habis-habisan. [catatan 7]. Demikian juga dilakukan reorganisasi dalam penataan unit-unit, antara lain dibarakkannya tenaga tapol dengan “keahlian khusus” di sekitar Mako.

Lahirnya kelompok Bandko disusul dengan penugasan khusus Pramoedya Ananta Toer sebagai penulis (usaha Ibnu B.A. tapol Unit I untuk membentuk “kelompok penulis” gagal); kelompok karawitan dan pedalangan, di bawah pimpinan Ki Dalang Tristuti Rahmadi Suryaputra B.A.; kelompok ukir dan tukang kayu, entah siapa yang memimpin; kelompok pelukis dipimpin Sumardjo, eks-anggota sanggar Seniman Indonesia Muda; kelompok “insinyuran”, yaitu staf Mako yang terdiri dari banyak insinyur lulusan Moskow dan Beijing, dipimpin drs. Paulus.

Sepeninggal Basuki Effendy dan Martin Lapanguli, Band “Bantala Nada” Unit XIV Bantalareja tetap hidup. Kembali dengan peralatan musik seadanya, dan kepemimpinannya diteruskan oleh Samsu Bahri yang juga menjadi koordinator unit.***(Habis)

Catatan

1. Korve Demit; korve yang dilakukan sembunyi-sembunyi, umumnya pada malam hari; bisa karena demi perintah tonwal agar tidak diketahui oleh Dan Unit dan staf, bisa juga karena tugas barak sendiri — misalnya mengantar sagu ke tengkulak di pantai.

2. Ketepeng Kebo, juga Ketepeng Cina; tumbuhan jenis perdu, beda dengan Ketapang yang jenis pohon besar dan berdaun lebar. Daun ketepeng kebo lonjong berpasang-pasang, mengandung khasiat anti-penyakit kulit.

3. Sabun Londo; istilah tapol untuk sabun mandi yang berbau wangi, karena semula hanya dipakai oleh para penguasa.

4. Tembakau Hitam; istilah tapol untuk tembakau “shag”, tembakau yang diracik halus untuk sigaret; karena pembungkusnya bertuliskan “warning”, juga biasa disebut tembakau “warning” atau tembakau “seg”.

5. Chatir Harro, aktor film tampil sejak jaman Jepang; film-film lain yang dibintanginya a.l.”Jantung Hati”, “Berjuang”, “Inspektur Rachman”. Di jaman Jepang ini di Yogya, misalnya, P. Wardaya (terkenal sebagai Pak Besut) sering berkeliling sebagai dalang Wayang Beber” Sendenbu, seperti juga tokoh-tokoh “Dagelan Mataram” Basiyo dan Togen; perkumpulan ketoprak “Krida Rahardja”, di bawah pimpinan Glinding dan Tjokrodjijo, bermain di studio RRI Yogyakarta sekali setiap minggu.

6. Basuki Resobowo, wawancara dengan Hersri Setiawan, Amsterdam 1996.

7. Subronto K. Atmodjo, pendiri dan pemimpin paduan suara “Gembira” Jakarta; lulusan sekolah musik (khusus untuk dirigen) di Jerman; penggubah banyak lagu-lagu bersejarah — hampir setiap pidato Bung Karno yang menandai saat penting dalam sejarah digubahnya dalam lagi, misalnya lagu mars “Sukarelawan”, “Resopim” (Revolusi Sosialisme Pimpinan Nasional, “Nasakom Bersatu” dll.

8. Sistem kerja menurut man-days; penjatahan kerja untuk satu satuan atau kelompok tenaga kerja, yang ditetapkan berdasar “man-day” rata-rata, yaitu hasil kerja wajar seseorang di dalam satu hari kerja.

Kockengen, 06 april 2003

diedit ulang, Tangerang 21 juli 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s