Surat Budaya 11: Band Markas Komando (2)

Hersri Setiawan

[dari Di Sela Intaian]

Kenangan dua untuk basuki effendy

Bung Basef,

Mari kita teruskan cerita tentang kenangan yang lalu.

Ketika itu diumumkan keputusan Dan Unit memecat Basuki Effendy selaku koordinator atau pengatur kerja Unit XIV Bantalareja [catatan 1]. Sejak itu juga bagi Unit XIV Bantalareja, perbendaharaan lagu terlarang oleh Orde Baru bertambah dengan dua lagu lagi. Sesudah semua “lagu lekra” dan “lagu p-k-i” serta “Genjer-Genjer” sejak akhir 1965 dinyatakan terlarang, sekarang ditambah dengan “Larilah, Hai Kudaku!”, sebuah lagu negeri jiran Malaya yang pernah sangat terkenal pada masanya, dan “Come Back To Sorrento”, lagu barat populer yang juga pernah sangat populer di Indonesia awal 1950-an. Jauh sebelum peristiwa G30S terjadi. Tidak ada hubungan antara Sorrento, sebuah kota di Italia dengan PKI di Indonesia; demikian pula tidak ada hubungan antara “kuda binal” penyanyi tampan S. Effendy dengan para tapol “G30S PKI”!

***

Peristiwa itu terjadi dalam akhir 1972 atau awal 1973, dalam bulan-bulan penggantian para petinggi militer di Tefaat Buru, yang biasanya terjadi dalam tiga bulan terakhir atau tiga bulan pertama setiap tahun. Komandan Tefaat Buru (Dan Tebu) yang lama, Letkol A.S. Rangkuti digantikan oleh Letkol Samsi M.S.

Bahwa Cak Buang diundang ikut ambil bagian dalam acara keramaian melepas Dan Tebu lama dan menyambut Dan Tebu baru, tentu karena di buku-induk Mako dan Unit III Wanayasa nama Buang tercatat sebagai pemain ludruk. Apalagi dari organisasi “Ludruk Marhaen” Surabaya, di bawah pimpinan Cak Syamsudin [catatan 2], yang dalam paroh pertama 1960-an pernah terkenal di seantero Indonesia. “Marhaen” bukan hanya pernah main di istana negara Jakarta, pernah menghibur para prajurit di garis depan semasa kampanye pembebasan Irian Barat, juga salah satu repertoar lakonnya (“Batu Merah Lembah Merapi”) pernah difilmkan oleh sutradara Tan Hsing Hwat..

Mungkin untuk Basef juga begitu halnya. Selain dikenal karena menjadi koordinator, di unitnya ia juga dikenal sebagai penyanyi, dan bekas seorang tokoh perfilman nasional yang sudah punya nama. Apalagi Dan Tebu yang akan berakhir masa tugasnya itu, A.S Rangkuti, konon juga bekas aktor film ketika masih di Medan dulu. Ia memang sudah segera pamer keramah-tamahannya sejak saat pertama 500 tapol turun dari KM “Tokala”, dan menginjakkan kaki di Namlea pada 12 Agustus 1971. Dicarinya Basef di tengah barisan bertopi pandan bersetelan keki kuning-gadung, untuk memberikan jabat tangan kepadanya. Bakat aktornya di layar-putih dicobanya diterjemahkannya dalam lakon sejarah, mungkin sebut saja berjudul: “Salam Kemanusiaan”, di atas setting tanah Buru tandus bermandi panas terik, waktu di sekitar tengah hari.

Basuki Effendy dan Oei Hay Djoen di Jepang ca. 1960

Tapi bagaimana dengan Lie Bok Hoo? Di luar unitnya Lie Bok Hoo tentu hanya sepatah nama. Ia ikut dalam acara di Namlea tentu bukan sebagai Lie Bok Hoo si “kuda yang kencang larinya”, tapi karena ia salah seorang penyanyi dari “Bantala Nada” [catatan 3]. Band Unit XIV ini memang merupakan satu-satunya band yang sudah ada di seluruh unit-unit tefaat ketika itu. Jadi bukan Lie, tapi “Bantala Nada” yang diundang. Atau kata yang tepat barangkali bukan “diundang”, melainkan dipanggil untuk tugas korve. Dalam hal ini “korve kawat” bagi para pemain band, dan “korve gurung” bagi Lie dan Basef serta para penyanyi lainnya.

Unit Bantalareja sampai saat itu tidak “reja” sama sekali. Harfiah “bantalareja” berarti “tanah subur” atau “tempat makmur”. Sebaliknyalah! Sesama tapol dari unit-unit lain, khususnya unit tetangga Savanajaya dan Indrapura, malah memberi julukan sebagai “unit kere” dan “unit maling”. Sebutan “kere” karena kenyataannya Bantalareja, baik melalui jalan terbuka sebagai unit maupun jalan sembunyi-bunyi antar-barak atau antar-perorangan, hampir selama dua tahun terus-menerus hidup dari “mengemis” bantuan bahan pangan singkong dan jagung ke dua unit tetangga itu: Unit IV Savanajaya dan Unit XV Indrapura. Selain sebutan-sebutan itu, Bantalareja juga dikenal sebagai “Unit Jakarta Raya”, karena tapol penghuninya berasal dari dua kamp besar RTC Salemba dan RTC Tangerang yang di bawah Kodam V Jaya. Mereka yang berasal dari RTC Tangerang rata-rata berumur muda, berpengalaman kerja di proyek pertanian Kodam V, dan karenanya menjadi terampil bermain “sat-set” alias “maling”. Begitulah alasan gelar “unit maling” diperoleh. [catatan 4].

Karena perangai Unit Bantalareja yang “kere” dan “maling” demikian itu, ia lalu mendapat julukan buruk yang lain lagi, yaitu “unit liberal”. Liberal itu artinya cenderung bersikap atau bersifat bebas. Tentunya bebas dari norma-norma lama, atau yang semula dikenal dan dipatuhi, dalam hal ini tentu saja norma-norma organisasi dan ideologi yang mereka patuhi dahulu. Bahwa sifat yang demikian timbul di kalangan tapol muda dari RTC Tangerang yang kemudian dibawa ke Buru dan menjalar di semua unit tefaat di sana (dan bahkan mungkin tidak berlebihan jika kukatakan menjadi penyebab utama dan pertama hancurnya semangat kolektif dan berkecambahnya semangat individual), tidak bisa dipisahkan dari peristiwa-peristiwa yang terjadi di RTC Tangerang sebelumnya.

Tanda-tanda retaknya semangat solidaritas memang sudah menampak, juga di RTC Salemba, tercermin misalnya pada penggantian penggunaan istilah dari “permintaan solidaritas” menjadi “permintaan sodakoh”, disangsikannya kekuatan adagium Jawa “mangan ora mangan waton kumpul”, karena praktik yang berjalan adalah “kumpul ora kumpul waton mangan”, sehingga dengan begitu kelompok riungan makan menjadi kehilangan ruh dan maknanya. [catatan 5].

Bersamaan dengan surutnya semangat kolektif itu, tentu saja membawa konsekuensi logis lunturnya semangat perkawanan — sehingga karenanya istilah “kawan” tiba-tiba seperti ditabukan dan digantikan (tentu juga demi alasan “keamanan politik”) dengan berbagai sebutan yang lazim dalam pergaulan awam sehari-hari (pak, mas, dik dan lain-lain apa saja selain “bung” dan “kawan”). Bersamaan dengan lunturnya semangat perkawanan itu, juga sebagai konsekuensi logis yang lain belaka, tentu saja berakibat hierarki tata pergaulan lama ditampik dan dengan begitu wibawa kepemimpinan lama pun menjadi pudar.

Di RTC Tangerang “ruh perubahan” tersebut di atas menemukan jalannya untuk mewujud melalui dua kejadian. Pertama, peristiwa ter- (di-) bunuhnya tapol cecunguk bernama Silitonga; dan kedua, adanya organisasi partai “bawah tanah” di dalam kamp itu. Akibat daripadanya organisasi “ilegal” terbongkar oleh Operasi Kalong di bawah pimpinan Kapten Suroso (ia kemudian dinaikkan pangkatnya satu tingkat, setelah berhasil menangkap Brigjen Supardjo), enam puluh lebih kader-kader organisasi — yang umumnya “anak-anak muda” — disiksa habis-habisan, proyek pertanian ditutup dan semua tapol pekerjanya ditarik kembali masuk RTC, dan konsinyes berbulan-bulan diberlakukan di RTC Tangerang. Pintu sel terus-menerus dikunci, besukan keluarga dilarang masuk, jatah makan hanya dari negara yang hanya seharga duapuluh lima sen satu hari per tapol.

Pada waktu itulah, sejak akhir 1970 dan awal 1971, “ruh kolektif” dan kepercayaan pada organisasi dan pimpinannya di kalangan kader-kader muda, baik partai maupun ormas, ada pada titik yang paling rendah.

Unit XIV Bantalareja memulai sejarahnya di Pulau Buru pada 17 Agustus 1971. Yaitu sekitar dua tahun menyusul sesudah tapol gelombang pertama di-buru-kan pada 1969. Sampai saat itu entah kegiatan hiburan apa yang ada di unit-unit yang sudah lebih tua umurnya dari Unit XIV. Tapi di Unit IV Savanajaya, tetangga paling dekat dengan Unit XIV, sudah ada beberapa buah gamelan dan wayang kulit. Menurut Hersat Sudiyono, penghuni Barak IV unit ini (ia bekas ketua Taman Siswa cabang Salatiga, dan sekretaris organisasi Lekra Jawa Tengah) , para “seniman Jawa” di unitnya malah sudah pernah mengadakan pertunjukan wayang 3-4 jam siang hari dalam bahasa Indonesia. Kegiatan ini bisa terjadi tentu karena di sana ada dalang Purwadadi terkenal bernama Tristuti Rachmadi, Joko Waluyo yang pengendang, Hersat sendiri yang pandai karawitan, dan Sudarno As yang tukang sungging wayang amatir. Konon mereka malah pernah sibuk mencoba mengindonesiakan suluk dan janturan. [catatan 6]. Tapi bagaimanapun juga, sampai ketika Unit IV Savanajaya bubar dengan datangnya keluarga beberapa orang tapol (1972), kehidupan kesenian dan hiburan Jawa itu agaknya masih tetap merupakan kegiatan yang bersifat spontan. Ini jika mengingat bahwa kelompok “suka hibur” di sana, baik pedalangan maupun karawitannya, masih tetap tak bernama dan tidak ada pimpinannya yang jelas.

Beda dengan di Unit XIV Bantalareja yang dikenal sebagai “Unit Jakarta Raya” yang “liberal”. Di sini kehidupan kesenian dan hiburan Jawa tumbuh belakangan dari band, orkes kroncong, “irama melayu” dan lenong. Kegiatan-kegiatan itu pun bukan sekedar sebagai kegiatan spontan, melainkan dibentuk grup-grup dengan pimpinannya masing. Demikianlah lahir grup pemain band “Bantala Nada” dbp Martin Lapanguli, orkes kroncong “Suara Bantala” dbp Go Giok Liong, irama melayu “Irama Bantala” dbp “Arab” (entah siapa nama sebenarnya kawan keturunan Arab dari Kampung Krukut Jakarta ini), dan grup pemain lenong “Lenong Bantala” dbp Tahir Yahya (suami Sri Ambar, tokoh terkemuka DPP Gerwani). Grup para pemain karawitan, wayang-orang dan ketoprak, segera terbentuk sesudah satu perangkat gamelan terbikin lengkap, yaitu grup “Krida Bantala” dbp Mohidi dan Warno Wamin. Pembikin gamelan itu juga Warno Wamin dkk, dengan bahan besi tua – termasuk sisa-sisa pecahan bom – yang dicari di sana-sini di Namlea.

Kelompok “suka hibur” di Unit XIV hampir satu kali setiap satu bulan bermain di “gedung kesenian” unit, dengan isi acara tarian dan nyanyian, berselang-seling dengan pergelaran khusus ketoprak atau wayang orang. Tidak pernah timbul masalah pro-kontra terhadap kegiatan “suka hibur” demikian itu. Jelas bahwa beberapa tapol berhaluan “garis keras”, yang menolak adanya kegiatan yang bersifat hiburan di unit, tidak mendapatkan lahan mereka di tengah-tengah kehidupan “unit liberal” tapol-tapol berumur muda dari Tangerang itu.

Karena itulah pada malam hiburan di Namlea untuk mengantar A.S. Rangkuti pergi dan sekaligus menyambut Samsi M.S. datang, Band “Bantala Nada” Unit XIV Bantalareja yang mendapat tugas korve. Karena memang tidak ada kelompok pemain musik yang telah melembaga di unit-unit lain.*** (bersambung)

Catatan

Para koordinator atau pengatur kerja di Unit XIV Bantalareja sejak yang pertama sampai terakhir, yaitu: Suwardi Penjol, Basuki Effendy, Syamsu Bahri, Hersri Setiawan, Sumardjo.

Cak Syamsudin, ketua “Ludruk Marhaen”, dikirim ke Buru (1976), menghuni Unit “R”; meninggal di Jakarta 1984.

Cikal-bakal band ini dari tugas korve tiap Sabtu malam Minggu di wisma Dan Unit, sudah terjadi pada sekitar bulan kedua umur unit; korve dibebankan pada tapol yang punya alat musik seadanya (umumnya gitar), dipimpin oleh Pardede (Barak VI); tapol selebihnya diwajibkan menonton sambil berdiri di depan wisma; ketika itulah lahir istilah-istilah “korve kawat” untuk tapol yang harus memetik senar (kawat), “korve gurung” (kerongkongan) untuk tapol penyanyi, dan “korve mata” serta “korve keplok” untuk tapol yang wajib nonton dan bertepuk tangan. (Lebih lanjut baca: Kamus Gestok, Hersri Setiawan, Cet. I: 2003).

Istilah onomatopik “sat-set”, melukiskan gerak keterampilan menyerobot atau menjambret ini, diciptakan oleh para tapol muda Tangerang yang bekerja di proyek pertanian Cikokol (50 ha sawah dan 15 ha ladang singkong dan sayuran); proyek ini dibuka Kodam V Jaya dengan maksud untuk memproduksi bahan pangan bagi tapol seluruh Jakarta Raya (termasuk Tangerang), agar mereka bisa memberi makan dirinya sendiri (karena pemerintah “tidak punya dana” untuk memberi makan tapol yang berjumlah ribuan itu); sesudah sawah ladang menghasilkan ternyata menjadi berbalik, sisa dari yang diperebutkan oleh para petinggi militer dan sipil, baru dibagikan ke kamp-kamp; karena itu para tapol pekerja proyek terpaksa harus bersat-set untuk mencuri hasil keringat mereka sendiri.

Kelompok “riungan” makan entah ide dari siapa dan di mana mulai dibentuk: Salemba, Bukit Duri atau Tangerang. Tapol dibagi dalam kelompok-kelompok makan, dengan maksud memeratakan besukan makanan dari keluarga, mengingat dengan jatah makan pembagian kamp saja, tapol tidak mungkin bisa bertahan hidup.

“Suluk” dan “janturan”, dua istilah pedalangan wayang; “suluk”, nyanyian dalang; “janturan”, penggambaran suasana atau tokoh oleh dalang di saat mendalang.

kockengen, 02.04.’03

ditulis ulang: tangerang, 18 juli 2011

Foto: Koleksi Oei Hay Djoen | Institut Sejarah Sosial Indonesia (ISSI)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s