Surat Budaya 10: Band Markas Komando

Hersri Setiawan

[dari “Catatan Di Sela Intaian”]

Kenangan untuk Basuki Effendy 

Almarhum Basuki Effendy, sutradara dan aktor film; salah satu filmnya yang digarap bersama alm. Kotot Soekardi, “Si Pincang”, mendapat penghargaan internasional dalam festival film di Praha; anggota dewan harian pimpinan pusat Lekra; terakhir tinggal di Jakarta Selatan, sampai tutup-usia (2007).

Oei Hay Djoen dan Basuki Effendy, ca. 1960

Bung Basef,

Tayangan berita “Perang Irak” itu bagiku seperti buah si malakama. Tidak mengikuti aku kehilangan gambaran tentang nafsu agresi kolonial nekolim awal abad ke-21, mengikuti mata dan hatiku ternyata tidak tahan menyaksikan dan dan ikut merasai penderitan para korban. Anak-anak dan bahkan bayi yang dilahirkan untuk hidup, serta perempuan-perempuan pelahir benih-benih kehidupan baru, tiba-tiba harus mati menjadi korban! Korban untuk apa, dan siapa yang harus dikorbani semahal itu? Dan gambar-gambar itu bukan satu rangkaian “film sejarah”, tapi memang rangkaian “kejadian sejarah” senyatanya!

Tapi bukan tayangan berita perang agresi nekolim Amerika-Inggris, di bawah pimpinan 2-B-Bush-Blair itu, yang mengusik ingatan untuk menulis surat biru padamu ini. Yang mengusikku justru “berita komersial”, istilah sopan dunia pekabaran Belanda untuk substitusi advertensi atau iklan, yang selalu menginterupsi acara apa pun. Selain pidato Sri Ratu atau petinggi negeri tentu saja.

Tampil di layar teve tiba-tiba kuda-kuda beringas, meronta lepas dari pasangan dan talikekang, lari cerai-berai. Sementara aku diseret angan-angan di balik kata “buiten het gareel” Soewarsih Djojopoespito (1939[?]), mataku digiring lensa kamera mengikuti kuda yang seekor, mulai dari close-up, lalu medium- dan akhirnya long-shot. Sang Kuda gagah itu berdiri pada kedua kaki belakang di tengah-tengah bentangan gurunpasir tandus. Sebuah pesan “berita komersial” dari “Johnie Walkers”, merek wiski terkenal tua konon sejak tahun 18-ratus-sekian!

Ingatanku lalu sampai pada sesama tapol kawan kita di Unit XIV Bantalareja, Lie Bok Hoo. Pada jidatnya yang tinggi, dan perawakan serta lehernya yang pendek. Tapi kalau dia menyanyi, walaupun tidak panjang lehernya, terbukti nafasnya sangat panjang, tidak kalah dari penyanyi Malaya (saat itu belum ada Malaysia) S. Effendy jika tiba pada ujung suara “bersama angin utara”, ketika sedang menyanyikan “Bahtera Laju”. Suara Lie Bok Hoo juga tak kalah bening dari suara Paulina Robot di masa jayanya dalam lagu “Si Gembala Sap[a]i”, yang ibarat telah menjadi etiket pengenal dirinya itu.

Tapi rupanya Lie tidak menyukai “Bahtera Laju” dan juga tidak “Si Gembala Sapai”. Di Buru, Unit XIV Bantalareja, ia dikenal melalui dan kemudian sekaligus juga sebagai “Hai, Kudaku Lari!” Jika Effendy bermain nafas panjang dalam suara “a” pada akhir kata “utara”, maka Lie memainkan nafasnya pada suara “ai” dari kata “hai” itu. Ia selalu mendapat tepuk tangan riuh setiap kali tampil di “panggung kesenian” Bantalareja, sebelum nyanyian habis, berbareng dengan suara “ai” yang panjang itu memantul dalam gema, setelah memukul dinding hutan di sekeliling unit.

Tapi tidak demikian yang terjadi malam itu di Namlea. Sebaliknyalah! “Larilah Hai Kudaku!” yang di unit selalu disambut sorak-sorai suit-suit dan tepuk tangan, juga oleh para petinggi unit di wisma dan mess, bagi para serdadu pengawal di Namlea rupanya menjadi semacam bahan pe-er yang lumayan gawat. Selesai pertunjukan Lie Bok Hoo dipanggil, “diperiksa” dan dipermak! Bersama dia juga Cak Buang dari Unit III Wanayasa, eks-pemain ludruk “Marhaen”, karena di panggung ia mengulangi syair tembang Cak Durasim “gupon omah dara, melok nippon tambah sara” (catatan 1), dan satu orang lagi yaitu Basuki Effendy!

Basuki Effendy, berdiri paling kanan sedang menunjuk, dalam lawatan ke negeri Jepang bersama pengurus harian pusat Lekra lainnya. ca. 1960

Apa pasal penyebabnya, sehingga bung bertiga dipermak tonwal? Karena Bung di panggung Namlea malam itu menyanyikan lagu “Come Back to Sorrento”, yang di unit kita sendiri menjadi favorit pendengar band kita, “Bantala Nada” yang dipimpin oleh Martin Lapanguli (catatan 2). Cak Buang, yang tua ceking ringkih itu, karena dituduh menyindir tonwal bersembunyi di balik kata “nippon”. Lie dituduh memberi isyarat sesama kawan tapol untuk melarikan diri, karena ada kata-kata “ayo lari, hai kudaku, lari” yang dinyanyikannya dengan ucapan jelas dan suara panjang. Basuki Effendy dituduh mengajak sesama orang-pki, yang dalam persembunyian dan bergerak di bawah tanah, untuk segera kambek meneruskan perlawanan!

Setiba di unit malam itu entah apa yang terjadi dengan Cak Buang di unitnya sana. Tapi di Unit XIV Bantalareja Lie Bok Hoo dan Basuki Effendy masih harus meneruskan hukuman yang mereka terima di Namlea. Mereka tidak boleh kembali ke barak masing-masing. Semalam suntuk harus duduk jongkok di bawah meja piket dua serdadu tonwal di emper mess.

Pagi hari berikut apel istimewa dilangsungkan.

Pengambil apel bukan Komandan Tonwal (Dan Ton) atau Wadan Ton, tapi Komandan Unit (Dan Unit) Lettu CPM Sukirno pribadi. Basef dan Lie dihadirkan, dan berdiri di depan tengah barisan kami semua. Sesudah selesai dengan segala macam prosedur apel seperti biasanya, seperti bersiap-tegak berlencang-kanan-kiri luruskan-barisan berhitung dan istirahat-di-tempat, yang semuanya ini dipimpin oleh Dan Ton, datanglah giliran Dan Unit untuk memberikan amanat. Isi amanat itu, dari kalimat pertama sampai terakhir, berupa kita-kami alias caci-maki, dan ancaman tembak-mati yang diucapkannya berulang-ulang di sepanjang kita-kaminya.

Kepada Lie Bok Hoo diperingatkan supaya tidak lagi mengulang ajakannya untuk “melarikan diri”. Kepada kami semua diperingatkannya agar melaporkan pada petugas, barangsiapa membujuk dan mengajak melarikan diri. Kepada Basuki Effendy diperingatkan agar tidak memberi isyarat pada kawan-kawannya untuk kambek. Kepada kami semua diperingatkan untuk membuang mimpi tentang “kambek-kambekan”. Barangsiapa berani “coba-coba” menantang petugas, tandasnya, akan kami tindak tegas: “tembak mati!” Serentak dengan itu ditutupnya ucapannya sendiri dengan mencabut pestol dan bunyi “dor!” merobek udara pagi. Kalong-kalong dan burung-burung cocakrawa dan merpati hutan terkejut beterbangan sambil menjerit-jerit …

Basuki Effendy (tengah) bersama Oei Hay Djoen dan Titi Bronto disambut tuan rumah pada kunjungan pengurus harian pusat Lekra ke Jepang. ca. 1960

Ketika itu diumumkan juga keputusan Dan Unit memecat Basuki Effendy selaku koordinator atau pengatur kerja Unit XIV Bantalareja. Sejak itu perbendaharaan lagu terlarang oleh Orde Baru bertambah dua lagi, sesudah semua “lagu lekra” dan “lagu p-k-i” serta Genjer-Genjer sejak akhir 1965 dinyatakan terlarang, yaitu dengan “Larilah, Hai Kudaku!”, lagu negeri jiran Malaya, dan “Come Back To Sorrento”, lagu barat populer yang pernah sangat populer di Indonesia tahun awal 1950-an, jauh sebelum peristiwa G30S terjadi.(bersambung)***

catatan:

“pagupon kandang merpati, ikut nippon makin sengsara”; akibat syair nyanyiannya ini bintang ludruk Cak Durasim ditangkap Kenpeitai Jepang, disiksa dan mati karenanya; “pagupon”, kata Jawa untuk kandang merpati piaraan.

Martin Lapanguli pernah sekolah di Sekolah Musik Yogyakarta (ketika belum menjadi akademi), yang didirikan oleh Jos Cleber dkk di Yogyakarta awal 1950-an; kembali ke Jawa dari Pulau Buru, Martin Lapanguli bergabung dalam kelompok musik pimpinan alm. Subronto K.A.

___

Foto-foto: Koleksi Oei Hay Djoen | Institut Sejarah Sosial Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s