Surat Budaya 7: Soyang Operetta Satire Sosial

Hersri Setiawan

“SOYANG”

“folklore” teater anak desa

satire sosial “human trafficking” masa kini

Pengantar

Dalam Surat Budaya 6, “Tentang Lekra – apa dan bagaimana”, ketika saya menyinggung tentang hubungan yang tidak terpisahkan antara seni dan kehidupan, antara “bahasa seni” dan “bahasa perjuangan hidup”, saya ajukan sebagai contoh permainan teatral anak-anak, “Soyang”. Barangkali karena alasan itulah (alm) Buyung Saleh, alias Prof. Saleh Puradisastra, memberi padanan arti untuk kata ‘folklore’ dalam kata Sunda ‘kabinangkitan rakyat’.

Menurut hemat saya “Soyang”, permainan teatral anak-anak tani di desa-desa di Jawa ini, termasuk dalam apa yang disebut sebagai ‘kabinangkitan rakyat’ itu. Ia bukan sekedar kisah, adat, perilaku, kepercayaan rakyat yang dilestarikan secara lisan. Ia merupakan suatu ‘kabinangkitan’, dari mana rakyat bisa mencari dan menemukan acuan nilai-nilai hidup.

Permainan teatral anak-anak perempuan tani ini saya turunkan sekarang, sekaligus sebagai pasemon untuk rangkaian kisah-kisah “human trafficking”, khususnya “women trafficking, yang marak – dan bahkan mengalami “booming” – di sepanjang masa rezim Orba dan Orba-ba Esbeye -Boediono sekarang ini. Ekspor TKI dan TKW! Ekspor Pahlawan Devisa! Sebutan apa pun hendak diberikan oleh rezim kepada “kegiatan ekonomi” ini, tapi bagi saya tak lain dan tak bukan adalah perdagangan budak di jaman modern. Tak ubahnya seperti pemerintah kolonial dahulu mengirim budak-budak dari Jawa ke New Caledonia, Afrika Selatan, Ceylon atau Srilangka dan penjuru dunia yang lain. Ketika calo-calo pencari tenaga kerja atau “kuli kontrak” malang-melintang di desa-desa, terkadang dengan cara menculik dan dilarikan dengan “mobil hitam”. “Montor Duyung” adalah hantu di siangbolong yang lebih menakutkan ketimbang “gendruwo” atau kuntilanak di malam hari.

Sinopsis

“Soyang” dimainkan oleh sekelompok anak perempuan dan laki-laki, di sebuah halaman pada petang hari, ketika bulan purnama sedang berkembang. Dua orang anak yang paling besar dari mereka bermain sebagai pemain utama protagonis dan antagonis; yang seorang berperan sebagai janda tanimiskin, dan yang lain berperan sebagai janda tanikaya atau tuan-tanah.

Pada suatu petang Janda Tanimiskin itu datang ke rumah Janda Tanikaya dengan membawa sekian banyak anak-anaknya, laki-laki dan perempuan. Maksud kedatangan si EmakJanda untuk menggadaikan anak-anaknya itu kepada si Ibu Janda. Bulan berganti bulan tahun berganti tahun, sekian lama kemudian, si Emak Janda miskin datang kembali hendak menebus kembali anak-anaknya. Tapi ditolak oleh si penerima gadai.

Adegan ini dilukiskan dalam permainan teatral yang lain “Ula Banyu” (Ular Air), jadi-jadian dari si Janda Tanimiskin, yang berhadap-hadapan dengan seorang Raksasi, jadi-jadian dari si Janda Tanikaya. Ketika permainan berakhir tidak semua anak-anaknya berhasil dibebaskan, tapi terkadang bahkan si Emak sendiri pun mati dimangsa Raksasi yang mengamuk, menerkam ke kiri dan ke kanan.

SOYANG

opereta anak-anak tani di bawah terang purnama

“Soyang” salah satu bentuk folklore

Sayang, permainan dan lagu “Soyang”, seperti juga banyak dolanan anak-anak di bawah terang bulan di desa lainnya, sekarang pasti tidak pernah lagi kita saksikan dan dengar. Barangkali anak-anak jaman sekarang malah sudah tidak lagi tahu, apakah itu “soyang” dan dolanan serta lagu seperti apakah itu! Jangankan anak-anak, bahkan “orang-orang tua” sebaya saya sekalipun!

Mudah-mudahan jika mereka itu tidak lagi sempat menonton atau memainkan “Soyang”, sambil meresapi keindahan malam desa di bawah sinar bulan, adalah karena tersebab oleh kesibukan mereka belajar atau bekerja. Bukan karena, bagi anak-anak, kepekaan gendang telinga mereka yang sudah menjadi tumpul oleh suara-suara “kemajuan jaman”; dan, bagi orang-orang tua, oleh karena kepekaan hati nurani mereka tidak tergetar lagi oleh satire desa yang lembut padahal tajam.

Di atas sudah saya sebutkan, bahwa dolanan anak-anak bernama “Soyang” ini, seperti semua dolanan-dolanan lainnya, termasuk salah satu yang disebut dalam satu rangkuman istilah “folklore”. Di dalam semua folklore “tersembunyi” segala sisi pernyataan pergulatan hidup masyarakat. Ada di sana pernyataan keindahan dan seni, kiat dan ilmu, pandangan hidup dan kebijaksanaan. Orang bisa belajar dari legenda dan babad, tapi juga dari folklore dalam bentuk pernyataannya yang bagaimanapun.

Dalam buku kumpulan dolanan anak-anak yang pernah terbit di jaman pemerintahan Bala Tentera Dai Nippon di Jawa, yaitu oleh “Djawa Gunseikanbu Djakarta, 2603” (tahun Sumera untuk 1943), lagu dolanan anak-anak ini diterbitkan di bawah nama “Sonyang”. Begitu juga penamaan yang terdapat dalam buku himpunan dolanan anak-anak oleh Pak Ar, nama pedengan dari seorang tokoh pendidik Arintoko, di Yogyakarta dalam awal tahun 50-an.

Perbedaan nama “soyang” dan “sonyang” tidak saya utamakan, karena mengingat kesamaannya baik di dalam bentuk maupun di dalam isi pesan dolanan ini. Perihal inilah yang buat saya lebih patut diutamakan. Bahkan juga apakah arti kata “soyang” atau “sonyang” itu! Beberapa kamus kata-kata Jawa yang saya buka (Th. Pigeaud, W.J.S. Poerwadarminta, P. Jansz, dan juga Hans Herrfurth dan S. Prawiroatmodjo), semua tidak mempunyai lema kata ini. Kata yang ada, dan dekat dengannya, ialah “sonya”, yang berarti “sunyi” atau “suwung”, dan “somyang” atau “sumyung”, yang berarti sebaliknya: “gaduh”.

Saya tidak hendak mendesakkan tafsir tentang hubungan atau perubahan kata-kata tersebut, antara yang satu dan yang lain. Sementara itu dalam banyak lagu dolanan anak-anak Jawa memang sering kita menjumpai kata-kata yang “tak bermakna”, selain terkadang semata-mata sebagai semacam “sampiran” bunyi dan irama. Sebagai contoh, dalam lagu dolanan yang lain, misalnya “Sar-sur Kulonan”, apa itu arti kata “sar-sur”? Tentu saja bisa kita tafsir dengan jalan kérata-basa atau jarwa dhosok atau volksetymologie: “sar-sur” ialah kata jadian dari kata berulang yang dimodifikasikan (dwilingga salin-swara) “sasar-susur”, yang berasal dari “(ke)sasar” karena “(ke) susu(r)”, salah arah atau salah maksud karena tergesa-gesa. Kata lain lagi, misalnya dalam lagu dolanan “Ris-irisan pandhan”. Di sana ada kata “madu jalé, lé, lé, lé, manuk podhang … dst”. Arti kata “madu” jelas, “manuk” ialah “burung”, “podhang” ialah kepodang, sejenis burung. Tapi apa itu arti “jalé”? Dalam “sluku-sluku bathok”, misalnya, ada kata “bathoké éla-élo”. Tempurungnya “éla-élo”, apa itu artinya? Begitulah dan banyak lagi semacamnya.

Syair dan lagu “Soyang”

Dolanan teatral bocah bernama “Soyang” ini didukung oleh sejumlah tak terbatas pemain anak-anak. Tapi syarat yang tidak boleh tidak ada, yaitu adanya dua anak perempuan – seperti sudah saya sebut di atas. Dua anak inilah pemain-pemain utama lakon: protagonis dan antagonis. Anak yang satu, sebutlah Pemain I, yang memerankan tokoh perempuan desa yang kaya duduk di tempat ketinggian, misalnya pada undakan atau baturan rumah. Tentunya ini untuk melukiskan, bahwa ia seorang perempuan terpandang di desa. Anak perempuan yang satu lagi, sebutlah Pemain II, memerankan tokoh perempuan tani yang miskin, berdiri di depan Pemain I, seakan-akan di antara mereka berdua dipisahkan oleh pintu rumah yang tertutup. Di belakang Pemain II ini berdiri sekian banyak anak-anak, yang memang memainkan peranan anak-anak, berderet-deret membentuk semacam antrian panjang ke belakang.

Mereka, Pemain II dan anak-anaknya itu, menyanyikan bersama-sama sambil melangkah maju-mundur di depan Pemain I. Di bawah ini saya tuliskan syair lagu “Soyang”. Adapun nada-nada lagunya saya tulis berdasar notasi gending Pak Ar dalam pélog, yang dengan berbekal harmonika-mulut saya sesuaikan dengan nada-nada Barat (atau “doremifasol” atau “solfasilami”, kata orang). Terjemahan syair dan keterangan tentangnya menyusul di bawah:

0 1 . 3 . . 1 3

So – yang so-yang

4 5 4 3 4 5 4 3 .

ponja pan – ji ‘dul se-ma-rang

3 3 1 .

ya-ya bu

3 1 3

ya-ya na

4 5 5 4 5 3 0 4 5 5 4 5 3

ma- —-nuk— in – dra ma- —-nuk— in-dra

3 3 4 5 . 4 5 1 3

kawan a-tus kawan da – sa

3 3 3 1

é – wa é – wu

3 3 1 3 , 0 //

é – wa jengglèng

Nyanyian bersama Ibu dan anak-anaknya ini disahut oleh Pemain I:

0 4 5 . 4 5 3 . 0 4 5 . 4 5 3

Sin – ten—— ni-ku sin – ten——– ni-ku,

3 3 4 5 4 5 1 3

dhodhok dhodhok lawang kori?

Pemain II menjawab:

0 4 5 . 3 5 4 . 0 4 5 . 3 5 4

Ing – gih——- ku-la ing – gih—— ku-la,

1 1 4 3 3 1 1 7 . 0 //

kèngkèna-né kanjeng ra-ma

Nyanyian silih berganti berhenti sementara, digantikan dengan dialog panjang antara Pemain I dan Pemain II, sepanjang-panjang ketangkasan dua Pemain itu menyusun konflik-konflik kisah. (Sekedar sebagai contoh isi dialog pada adegan ini akan saya kemukakan di bawah). Sesudah dialog panjang berakhir, Pemain II pulang tanpa diikuti anak-anaknya.

Pergelaran berhenti sebentar.

Yang terlihat memang terjadi hiaat. Kekosongan. Tidak ada suara nyanyian. Tidak ada gerak-gerik permainan. Anak-anak berhenti bermain, berubah ke suasana canda dan gurau, kritik-mengritik tentang cara menyanyi atau bermain, sambil mengipas-kipas diri dari peluh yang membasahi badan.

Tapi hiaat itu, disedari atau tidak, ternyata merupakan kekosongan dramatik. Di balik kediamannya puncak lakon segera akan dimasuki. Ketika permainan dimulai lagi, nyanyian bersama lagu dengan kata-kata di atas berulang kembali. Tapi kemudian disusul dengan gugatan Ibu,

Pemain II:

0 4 5 . 4 5 3 . 0 4 5 . 4 5 3

bo – ten ——- tri-ma bo – ten ——- tri – ma

3 3 4 5 4 5 1 3 0 //

a – nakku di – si – ya si – ya …

tidak terima, tidak terima

anakku diperlakukan buruk

Dua kalimat lagu di atas dapat diulang-ulang sekehendak Pemain II, dengan baris yang kedua diubah-ubah, bergantung pada kreativitas dia menyusun, misalnya:

boten trima boten trima

anak lanang dibebarang

anak wédok dicecenthok

tidak terima, tidak terima

anak lelakiku dianggap barang

anak perempuanku diperhina

Di atas sudah diutarakan tentang arti kata “soyang” atau “sonyang” yang tidak jelas. Begitu juga kata-kata “yaya bu” dan “yaya na”. Bisa jadi ini memang sekedar sampiran bunyi dan lagu. Tapi boleh jadi memang kata-kata yang mengandung arti, yaitu: “yaya [i]bu” dan “yaya [ré]na”. Kata “yaya” atau “yayah”, ialah kata Kawi untuk “ayah”, dan “ibu” atau “réna” ialah kata Kawi untuk “ibu” atau “istri”. Bahasa Kawi mengenal kata majemuk “yayah réna” yang berarti “ayah ibu”. Barangkali adanya kata-kata itu di dalam syair, yang justru di sana pula ditempatkannya, menjadi semacam ungkapan kata-kata sesambat seseorang ketika menghadapi malapetaka atau penderitaan.

Kata “ponja-panji”, yang terkadang berganti dengan “jatiwangi” atau “batik wangi”, jelas penyebut nama tempat, mengingat kata-kata berikutnya yang berbunyi “[ki]dul Semarang” atau “selatan Semarang”. Dolanan “Soyang” atau “Sonyang”, dengan demikian, lahir sesudah sebuah tempat bernama “Semarang” telah lahir. Ini tidak menjadi soal, mengingat bahwa Semarang memang sudah dikenal pada masa para wali (akhir abad ke-15 atau awal abad ke-16).

Kata “éwa éwu” yang di tempat lain “éwa éwo”, mungkin juga kata yang mengandung arti “[ma]èwu-èwu” yaitu “beribu-ribu” atau menunjuk pada jumlah [entah apa] yang ribuan banyaknya. Adapun “jengglèng” ialah sepatah kata onomatopik yang melukiskan bunyi kekerasan yang saling berbenturan.

Terjemahan syair dolanan ini sebagai berikut:

Soyang Soyang

Ponjapanji selatan Semarang

yaya bu yaya na

Burung dewata burung dewata

Empat ratus empat puluh

ribuan ribuan

jengglèng!

Jalannya dolanan dan lakon

Bersamaan dengan gema suara paduan nyanyian melagukan kata “jengglèng”, barisan “ular” yang berkepala Pemain II itu berhenti beberapa langkah di depan Pemain I. Lalu disusul dialog dalam nyanyian antara Pemain I dan Pemain II, semuanya masih berdiri, seakan-akan pintu rumah masih tertutup. Pemain I di dalam rumah duduk dengan anggun. Pemain II dan anak-anaknya berdiri di depan pintu, dengan wajah-wajah cemas menanti apa yang akan terjadi.

Pemain I menyahut bertanya dalam nyanyian:

Siapa itu siapa itu

Yang mengetuk-ketuk daun pintuku?

Pemain II menjawab:

Inilah sahaya inilah sahaya

suruhan ayah anak-anak sah’ya

Pemain I menyahut, dalam nyanyian, dengan nada-nada sama seperti nyanyian Pemain II, ganti-berganti:

Mbok nggih mlebet, mbok nggih mlebet

lawang kori sampun menga

Silakan masuk, silakan masuk

pintu rumah sudah dibuka

Pemain II

Boten ajeng mlebet, boten ajeng mlebet

Yèn boten kalih sampéyan

Tidak hendak masuk, tidak hendak masuk

Jika tidak bersama Anda

Setiap dialog perbantahan ini berakhir, anak-anak menyahut dengan senggakan:

éwa-èwu éwo jengglèng,

dan disusul teriakan tanpa lagu:

Kakang Génjung Sélandana!

Lalu Pemain I berdiri, seolah-olah hendak membawa tamu-tamunya masuk rumah. Pemain I duduk kembali, tetap di tempat ketinggian. Pemain II di depannya dengan sekian banyak anak di belakangnya masih tetap berdiri. Kembali dialog perbantahan terdengar dalam nyanyian dengan nada-nada lagu yang sama:

Pemain I:

Mbok nggih lenggah, mbok nggih lenggah

klasa pasir ‘pun gumelar

Silakan duduk, silakan duduk

Tikar halus sudah tergelar

Pemain II:

Boten ajeng linggih, boten ajeng linggih

Yèn boten kalih sampéyan

Tidak hendak duduk, tidak hendak duduk

Jika tidak bersama Anda

Senggakan Anak-Anak menyahut, seperti di atas.

Pemain I:

Mbok nggih nggantèn, mbok nggih nggantèn

apu gambir ‘mpun cumawis

Silakan makan sirih, silakan makan sirih

kapur gambir telah tersedia

Pemain II:

Boten ajeng nggantèn, boten ajeng nggantèn

Yèn boten … dst.

Demikianlah dialog perbantahan bisa diteruskan, selama dua pemain utama itu masih bisa menemukan kata untuk saling disilang-selisih dan diperbenturkan, hingga akhirnya disudahi bunyi “jengglèng”, suara senggakan keras sekian banyak anak-anak itu. Sesudah perbantahan dalam nyanyian selesai, dialog diteruskan tanpa lagu.

Isi pembicaraan dialog lugas ini tentu saja Pemain I menanya Pemain II, siapa dia sejatinya dan apa maksud kedatangannya dengan membawa sekian banyak anak. Dari jawaban Pemain II kita mendengar, bahwa dia seorang petani miskin dengan banyak anak. Suami Pemain II, ayah anak-anak itu, menyuruhnya untuk membawa anak-anak mereka dan menggadaikan mereka pada Pemain I. Sebelum Pemain I menyatakan kesediaan menerima gadai, ia menanyakan nama masing-masing anak.

Pemain II menyebut nama-nama mereka, semuanya terdiri dari nama-nama perkakas kerja, yang anak perempuan nama-nama peralatan dapur dan rumahtangga, misalnya Irus, Siwur, Luweng dan sebagainya; dan yang anak laki-laki nama-nama alat-alat berladang dan sawah, misalnya Bapang, Garu, Gejig dan sebagainya.

Lalu dialog diteruskan,

Pemain I: “Kamu rela, kalau anak-anakmu kukasih makan satu kali satu hari, dengan sekepal nasi jagung dan seteguk air minum?”

Pemain II: “Terserah Anda saja!”

Berkata begitu ia lalu berdiri, dan meninggalkan anak-anaknya yang sudah tergadai. Pemain I berdiri. Dengan suara galak dipanggilnya anak-anak itu seorang demi seorang, diberitahukannya tugas kewajibannya sesuai dengan nama masing-masing. Selesai memberikan perintah bekerja pada semua anak gadai itu, suara paduan lagu “Soyang” kembali mengalun. Sampai pada suara “jengglèng” dan nyanyian berhenti, Pemain II datang kembali.

Dialog dalam nyanyian berulang, tapi kalimat

inggih kula, inggih kula

kèngkènané kanjeng rama

diubah menjadi:

inggih kula, inggih kula

ajeng nebus anak kula!

inilah aku, inilah aku

hendak menebus anak-anakku!

Pemain I tidak mengijinkan anak-anaknya diambil Pemain II. Anak-anak itu, ketika mendengar suara emaknya yang datang untuk mengentas nasib mereka sebagai anak tergadai, serentak berdiri dan berlari di belakang Pemain II. Berturut-turut, yang di belakang memegangi pinggang yang di depannya, semua mencari perlindungan dari emaknya. Si Emak, Pemain II, merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, melindungi mereka itu.

Dialog perbantahan tanpa dinyanyikan berlangsung lagi.

Pemain I yang marah, menjadi berubah watak. Seperti dewi Raksasi Batari Durga kelaparan ia minta agar Pemain II menyerahkan anaknya satu demi satu untuk dimangsanya. Ia melompat dan menerjang untuk bisa menerkam salah seorang anak. Menghindari sergapan raksasi itu, Pemain II dan anak-anaknya meliuk ke kiri dan ke kanan, seperti gerakan ular air. Raksasi berhadapan dengan Naga! Bukan nyanyian bersama “Soyang” yang merdu yang terdengar sekarang, tapi sorak-sorai gegap gempita:

“Ha-é ula banyu

dalan gedhé woté lunyu …!”

terj.: “Hore ular air

jalan besar titian licin …!”

Barangsiapa terlepas dari pegangan, berarti ia harus menjadi mangsa raksasi. Secara jujur ia harus berpindah pihak, tidak lagi berdiri di belakang Emak dan saudara-saudaranya, tapi berdiri di belakang Raksasi.

Demikianlah “Soyang” berakhir. Terkadang sebelum si Raksasi berhasil mendapat mangsa sama sekali, oleh karena semua pemain sudah menjadi kelelahan.

Berbeda dengan “Soyang” yang teatral dramatik, bagian akhir permainan ini menjadi murni sebuah dolanan di bawah terang bulan. Ada kalanya, atau bahkan yang banyak terjadi, bagian ini dimainkan terpisah. Bukan sebagai fragmen “Soyang”, tapi mendapat sebutannya sendiri: “Ha-é Ula Banyu”.

*

Demikianlah opereta “Soyang” atau “Sonyang”.

Teks yang pernah saya tulis lebih 50 tahun lalu ini dua kali saya tulis ulang.(*) Mudah-mudahan bisa mengusik pemerhati folklore dan dolanan anak-anak di bawah purnama, untuk menggali dan menghimpunnya sebelum punah dilanda arus jaman. Karena banyak di antara ‘kabinangkitan rakyat’ itu yang “menyembunyikan” impian kehidupan dan suara desa yang teredam. Apalagi, khusus untuk “Soyang”, saya menemukan isi satire yang terkandung dalam folklore dolanan anak ini.***

(*) Tulisan ini pertama kali terbit dalam majalah Zaman Baru, 15 Januari 1960 No.1, dua kali ditulis ulang yaitu pada 28-9-2002 dan 24-6-2011.

Kockengen, Nederland, 28 September 2002

Tangerang, Indonesia, 24 Juni 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s