Surat Budaya 2

Hersri Setiawan

Pengantar

Seperti saya sebut dalam Surat Budaya 1, bahwa masalah asas kerja Lekra 1-5-1 pernah saya singgung dalam tulisan saya yang lain, yaitu ‘Di Sela Intaian VII’. Di bawah ini saya turunkan tulisan tersebut, sebelum berlanjut dengan asas ‘politik adalah panglima’ dan asas ‘lima kombinasi’.

Silakan mencermati dan, seperti biasa, mengharapkan komentar.

Di Sela Intaian

catatan eks-tapol pulau buru

nomor foto 3196

HARI-HARI pertama dan kedua di atas kapal suasananya masih seperti orang berangkat pesiar. Banyak kawan, maksudku “kawan” dalam arti senasib bukan seideologi, keluar-masuk palka atau turun naik geladak. Beranjangsana ke kawan-kawan lama atau menikmati pemandangan lautan luas. Sampan-sampan nelayan tampak seperti sabut-sabut kelapa diayun-ayun gelombang. Ikan-ikan terbang timbul-tenggelam berlompatan, seperti adu lomba dengan alunan ombak yang bergulung-gulung. Kilatan halilintar di ujung pemandangan, bagai hujan anak panah dewa-dewa di surga yang menikami kaki langit.

Hampir tidak menampak wajah-wajah murung. Cerah-ceria menyungging senyum-simpul. Mengapa tidak? Di atas kapal ini kami tidak perlu lagi saling bisik- membisik, atau bahkan harus bermain g-t-m, gerakan tutup mulut. Kami bisa bicara tentang apa saja, dan dengan siapa saja — bahkan dengan para awak kapal dan aparat penguasa sekalipun!

Beranjangsana dan ngobrol dengan kawan-kawan lama, dan mencari sebanyak-banyak kawan baru, tidak ada yang melarang. Maka sibuklah mereka. Ada yang sekedar untuk berkawan-kawan, tapi ada yang dengan tujuan “jangka jauh”. Mengumpulkan kembali “balung pisah”, tulang-tulang yang tercerai-berai, dan menyusun kembali “batu bata” yang pecah berserakan. Tentu saja yang dimaksud tulang-tulang kerangka dan batu bata fondasi bangunan organisasi.

KM (Kapal Motor) “Tokala” memang bukan RTC (Rumah Tahanan Chusus) Salemba atau RTC Tangerang. Di kapal ini kami bisa tertawa selepas-lepasnya, tanpa harus menyelinap ke belakang tembok kakus, seperti selagi masih RTC Salemba, dan tidak perlu takut terkena konsinyes “macem-macem”. Yang disebut “macem-macem” ialah jenis sejumlah larangan bagi tapol, segala apa saja yang dipandang menyeleweng dari aturan atau “konsinyes”.

Di “Tokala” kami tidak perlu belajar mengaji berjam-jam duduk bersila, dan lima kali setiap hari ke mushala karena takut “absensi” ibadah. Kami tidak perlu berpura-pura serius di lingkaran-lingkaran kelompok diskusi Pancasila ala Kapten Mardjuki Dan (Komandan) Kamp Salemba. Kami bisa bermain gaple sepuas-puas hati, sambil diselang-seling tertawa meledak-ledak sekeras-kerasnya pun, tanpa takut peringatan dan ancaman Kepala Blok yang berwajah angker. Kami tidak perlu menanti-nanti datangnya besukan makan-minum lezat dan bergizi dengan harap-harap kecewa, karena yang datang tinggal tas kosong dan label yang melambai-lambai membawa salam keluarga. Karena di atas kapal ini tiga kali satu hari jatah makan-minum tidak pernah datang terlambat apalagi mangkir. Satu misting padat nasi putih selembut sutera, tertutup rapat oleh rendang atau daging goreng yang lezat harum, dan telur rebus sebutir penuh tanpa perlu dibelah enam atau delapan seperti di kelompok-kelompok riungan[1] ketika di RTC. Tidak hanya jatah makan yang mewah seperti itu! Kami masih mendapat “extra voeding” (istilah tapol intelektuil, baca: Salemba) atau “rehab” (istilah tapol rakyat, baca: Tangerang; akronim dari “rehabilitasi”) yang berbagai rupa: teh manis, susu, dan bubur kacang hijau. Masih ada tambahan lain lagi yang tidak boleh tidak disebut. Di sini, di atas kapal ini, bukan lonceng apel, bedug mushalla, dan panggilan-panggilan serba harus lain-lainnya yang kami dengar, tapi alunan musik lagu-lagu keroncong dan hiburan yang membuai membelai-belai.

Luar biasa! Dari ketika di penjara yang setiap hari hanya bisa menanti dengan pasti jatah siksaan dan cacimaki dikerbau-kerbaukan, dianjing-babikan, sekarang kami seakan-akan mereka-permanja dan mereka-manusiakan kembali. Apakah ini semacam jamuan terakhir yang dihadiahkan sebelum si pesakitan harus dieksekusi? Atau semacam perjamuan suci isyarat perpisahan, antara Sang Penebus dengan dua belas murid-muridnya? Atau sekedar bagian belaka, yaitu bagian introduksi, dari skenario besar mereka yang berjudul “Proyek Kemanusiaan Orde Baru”?!

Maka kami, para tapol G30S-PKI, sengaja dibiarkan diliputi suasana yang ibarat kata pepatah “kéré nemoni malem”. Pengemis diundang kenduri! Agar enak ditonton oleh mata dunia internasional. Sementara itu Orde Baru pun menjadi tampil gilang-gemilang, bagai sosok yang berbudi dan bermurah hati. Ratu Adil yang “bèr budi bawa laksana”, berbudi luhur serta mulia.

Mungkin, sadar atau tidak sadar, bagaimanapun juga, kami semua merasakan tentang hadirnya kembali harkat-kemanusiaan kami sendiri itu. Tetapi karena kehadirannya datang terlalu cepat, dan bahkan seakan-akan bagai hadiah malaikat turun dari langit, maka tidak sedikit di antara kami yang justru menjadi limbung dan nyaris tergelincir.

Penjara, kata orang, semisal dunia tersendiri. Dunia abnormal — seperti pernah kukatakan dalam salah satu kisah penuturanku yang lain. Tapi justru oleh sifat abnormalitasnya itulah, kehidupan penjara bisa membawa kesadaran si tawanan atau si terpidana kembali pada kenormalan. Dimensi-dimensi sosok ketokohan seseorang lalu menjadi tampak banyak bernuansa. Demikian juga dimensi konsep-konsep dan kata-kata. Semua hal-ihwal menuntut agar ditakar ulang, dikaji ulang dan dinilai kembali. Cara pandang dikotomis hitam-putih, yang dangkal dan bikin sesat, lalu dipertanyakan dan digugat. Wujud ekstrem pernyataan kesadaran baru itu menggejala dalam banyak ungkapan. Sudah sejak di blok-blok penjara, misalnya, banyak tapol yang akan berteriak sinis setiap kali mendengar seruan permintaan “setiakawan”.

“Huh! Masih setiakawan-setiakawan lagi yang diminta. Nggak, akh! Nggak ada lebih lagi. Setiakawan tinggal satu, bakal oleh-oleh anak-bini kalau kelak pulang …!”

Juga demikian jika mereka mendengar seseorang melantunkan begitu saja kata-kata pertama dari sajak HR Bandaharo “tak seorang berniat pulang / walau mati menanti”[2]. Tanpa peduli pada ide umum yang melatar-belakangi sajak itu mereka menghardik:

“Omong kosong!” Komentar mereka.

“Tak seorang berniat pulang? Huh! Yang bener aja! Semua orang berniat pulang, timbang dinanti mati konyol!”

Ada lagi bentuk ungkapan lain, misalnya, terhadap istilah “diskusi”. Ada sekelompok tapol, Christian Tambayong – pimpinan CGMI (Consentrasi Gerakan Mahasiswa) Jawa Timur dan kawan-kawannya, mereka sengaja menggantinya dengan “kusi-kusi”. Sepatah kata yang sama sekali tidak berarti, seperti juga halnya fiil kongkret yang dinamai “diskusi” itu sendiri. Karena itu mereka juga menciptakan kata pasemon lain sebagai sinonim, dengan merujuk pada ungkapan Jawa “sahur manuk”. Istilah itu ialah “manuk-manukan”, yaitu bertingkah meniru perangai burung. Sebuah sarkasme terhadap moral panutan: begitu sang Panut sudah terdengar bersuara, apa dan bagaimanapun suaranya, maka semuanya segera menyahut beramai-ramai dengan bunyi yang sama. Istilah-istilah pasemon itu masih diberi sinonim satu lagi yang lebih lugas: “anthuk-anthukan”. Karena yang disebut “diskusi”, sebenarnya tidak lebih dari saling angguk-mengangguk mengiyakan saja.

Bukan hanya dalam penciptaan yargon-yargon baru pernyataan kesadaran baru itu menggejala. Juga muncul dalam tema-tema dan tokoh-tokoh utama dongeng-dongeng yang dituturkan tapol pencerita pada kawan-kawannya. Si pencerita tidak hanya mencari pahlawan-pahlawannya di antara tokoh-tokoh klas saja. Tapi ia mencari, atau menciptakannya, dari tengah-tengah manusia kebanyakan. Diangkatnya tokoh itu tidak sebagai pahlawan teladan yang serba super, tapi sebagai sosok manusia biasa yang berdarah-daging, utuh dengan segala fitrah kemanusiaannya. Prof. Djojodiguno mengikuti Mangku Negara IV mengatakan, supermens itu hanya ada dalam dunia kepercayaan orang Jawa, yaitu pada diri Kumbakarna – karena keyakinannya yang tegar: right or wrong my country; Wibisana alias Arya Balik – karena keberaniannya memilih pihak: melawan abangnya sendiri Rahwana dan membela Rama, musuh abangnya; dan Wong Agung Ing Ngèksiganda alias Panembahan Senapati, karena kemampuannya menundukkan penguasa alam (laut dan gunung berapi) Nyai Larakidul dan Ki Dhiwut Merapi.

Bahwa si pencerita tidak lagi menawarkan “tokoh klas”, tapi menggantinya dengan tokoh “manusia biasa”, tentu ini bukannya lahir dari rasa takut pada konsinyes saja. Tapi terutama justru karena kesadaran baru akan integritas kemanusiaannya yang kembali tumbuh. Barangkali karena itu juga maka banyak tokoh pemimpin lama menjadi kehilangan kepercayaan massa. Sebagian memang karena tidak mau peduli lagi pada organisasi dengan segala soal ikutannya, tapi sebagian lainnya — walaupun masih menaruh peduli — karena tidak percaya lagi pada segala yang “tua” dan “lama”; karena “tua” dan “lama” tidak lain berarti “kemapanan”, “penakut” dan “pandai bicara dan omong besar”. Mereka ini lalu mencari pimpinan baru dari kalangan sesama sendiri yang muda — karena muda ialah bersih, berani dan kuat.

Di samping dua kelompok itu, ada satu kelompok lagi. Mereka juga mencari tokoh-tokoh panutan yang baru, tapi tidak peduli dari kalangan tua atau muda. Bagi mereka yang penting ialah keberanian berpikir dan bersuara secara baru, walaupun kebaruan itu terkadang berupa takhayul-takhayul politik dan akrobat kata-kata belaka. Dari kelompok mereka inilah mengalir “info” yang, disengaja atau tidak, rancu dengan “sasus” alias desas-desus, sehingga memancing timbulnya yargon sakartis lain lagi: “bom-boman”.

Kembali pada kehidupan dongeng tutur

Juru cerita di sel-sel, blok-blok penjara, atau di tempat-tempat kerja di unit-unit Tefaat (Tempat Pemanfaatan; sebutan singkatan dari Tefaat Pulau Buru) merasa, seakan-akan menghadapi lahan dongengan yang jauh lebih luas. Ia menjadi tidak ragu-ragu lagi untuk menuturkan cerita-cerita yang “murni” roman percintaan di tengah-tengah para pendengarnya yang, notabene, kader-kader organisasi dengan bekal ideologi cukup lumayan. Ia tidak perlu takut akan mendapat “cap burjuis”, walaupun yang dituturkannya kisah cinta pribadi antara perempuan dan laki-laki, bukan antara manusia superman dengan keyakinan ideologi dan organisasinya.

Maka, kisah-kisah percintaan Untung Surapati – Suzana, Damarwulan-Anjasmara, Sampek-Engtay merupakan repertoar-repertoar yang banyak dituturkan. Itu berarti salah satu sisi tuntutan “dua tinggi”[3], yaitu tinggi ideologi, harus disusut (atau justru diperlebar): dari “ideologi klas” atau “ideologi kerakyatan” menjadi “ideologi kemanusiaan”.

Untung Surapati, seperti kita tahu, seorang budak Betawi asal Bali. Ia menjalin “cinta gelap” dengan nonik berkulit-putih, Suzana namanya. Ayah Suzana seorang Belanda, tuan budak, opsir Kompeni pula! Pendek kata berlapis-lapis benteng kasta yang memisahkan antara dua kekasih itu. Tapi tidak ada seorang tapol pun, notabene mereka adalah tapol G30S/PKI, yang memrotes dan memberi Untung Surapati label burjuis, serta menudingnya sebagai pengkhianat bangsa atau klas.

Contoh lain, tokoh Damarwulan. Ia seorang pemuda gunung, tokoh kesayangan penggemar cerita ketoprak atau langendriyan. Ia seorang hamba pekathik, pengarit rumput, yang kumawani (sok-berani) mencintai Anjasmara, puteri Mahapatih Kerajaan Majapahit di masa pemerintahan Ratu Kencana Wungu.

Sekali peristiwa Damarwulan disiksa oleh Layang Seta Layang Kumitir, dua kakak kembar Anjasmara, lalu mereka melemparnya ke dalam lubang sumur mati. Penonton tidak menyukurkannya, tapi sebaliknya malah meruntuhkan airmata ketika mendengar tembang sesambat “pamit palastra” Damarwulan dalam lagu Asmaradana:

Anjasmara ari mami Anjasmara adindaku

Masmirah kulaka warta Azimat dengarlah kabar

Dasihmu tumekèng layon Budakmu tiba di ajal

dst. dst.

Nah, mari tidak usah kita perpanjang pembicaraan tentang dongeng-dongeng itu. Karena sesungguhnya sangat banyak dongeng tutur yang bermaksud memberi pesan tersamar seperti itu. Yaitu pesan agar orang, dalam menjatuhkan pilihan sikap moral, tidak bertolak di atas dasar dikotomi hitam-putih.

Contoh lain yang sangat penting, tentang homoseksualitas dalam kehidupan tahanan — seperti pernah kutulis dalam “Seni dan Hiburan Di Penjara Orde $uharto”. Bagi pandanganku homoseksualitas di kalangan tapol bukan suatu aib yang harus ditutup-tutupi dan ditindak dengan kekerasan. Sebaliknyalah! Itu suatu pernyataan jujur yang patut dibela. Tidak sepatutnya pada mereka dikenai cap “burjuis”. Atau bahkan lebih busuk lagi: kriminil!

Pembelaanku pada kawan yang berhomo kuperlihatkan, pada saat di Unit XIV Bantalareja terjadi peristiwa bacok-bacokan antara sepasang homo: Bung Sam dan Bung Adi. Di depan Komandan Unit XIV Lettu CPM Achmad, selaku Koordinator Unit aku pertanggungjawabkan terjadinya peristiwa itu, sehingga kedua mereka tidak ditindak dan bencana politisasi bisa dibendung. Sketsa sajak “Cinta” yang kutulis ketika itu, akhirnya tersusun sebagai berikut:

tentang cinta

cinta ialah bagai sehelai awan

yang sanggup menyerap segala

matahari dan rembulan

rintik hujan dan prahara

ia berpelataran cakrawala

maha luas

ia berdaya getar

tanpa sudah

ia adalah nyala dian

tanpa padam

ia menjadi ratapan atau pujaan

ia menjadi doa atau dalil

dijalin dalam pesona suara

hidup!

tanahair dan neg’riku

hidup!

rakyat dan bangsaku

hidup!

ketua dan bagindaku

cuma

hidup tanpa manusia

yang memanusia

hidup tanpa cinta

yang mencinta

hanya

gelembung-gelembung busa

cinta ialah sepatah kata

yang dibisikkan dalam sunyi

tapi menjadi senyap

renyap di langit kosong

dan awan hilang

suara tinggal gema

cinta tinggal kata

sepatah

patah

kering

Kembali kita ke KM “Tokala”

Pendek kata, tidak berlebihan jika aku katakan, banyak kawan-kawan menjadi ibarat “kuda lepas pingitan”. Berlalu-lalang kian ke mari, tidak kalah sibuk dengan para pengawal dan pejabat Bapreru (Badan Pelaksana Rehabilitasi Pulau Buru) yang menyertai kami.

Di antara mereka yang sok-sibuk itu ada seorang yang bagiku terkesan paling menonjol. Ia seorang insinyur, masih muda, bernomor baju 300-sekian. Kalau bicara suaranya seakan-akan sengaja dibikin dalam, agar terkesan berwibawa pada si pendengar. Lalu, untuk menarik perhatian, dibumbuinya dengan banyak gurau dan banyolan yang nyerempet-nyerempet pornografi. Selain itu entah daya tarik apa saja yang dimilikinya. Tapi memang selalu saja banyak kawan yang datang “bermanuk-manukan” di sekitarnya. Dan setiap orang yang kemudian terbang dari kawanannya, seakan-akan pergi dengan membawa amanat untuk disebarkan di kelompok kawanan masing-masing.

Ia memang tergolong tokoh “gudang info”, istilah kami di RTC Salemba. Tapi sementara orang yang tidak menyukai “kegiatan konspiratif” tukar-menukar “info”, tokoh-tokoh seperti Bung Insinyur ini mereka sebut sebagai tokoh serba tahu. Sama tarafnya seperti tukang jual obat di pasar atau alun-alun, yang menjajakan koyok atau salep yang berkhasiat menyembuhkan segala macam penyakit! Mereka juga mendapat sebutan, dengan meminjam kata-kata Njoto, Wakil Ketua II CCPKI, tokoh yang “tahu segala tentang sesuatu, dan tahu sesuatu tentang segala”. Hebatlah!

“Ayo Mas! Kita taruhan!” Seorang satelit Bung Insinyur datang menantangku.

“Wah! Apa yang dibuat petaruh, orang buangan seperti kita ini?”

“Enggak, maksud saya, taruhan kata saja. Percaya enggak Mas, sampeyan?”

Tanpa mau mengulur kesabarannya barang sedikit, untuk menunggu jawabanku, ia segera menegaskan kata-katanya sendiri.

“Pelayaran ini hanya untuk menjauhi Jakarta saja. Nanti sesudah masuk perairan bebas, Tokala akan berbelok. Membawa kita entah ke mana …”

“Ke mana itu?” Tanyaku.

“ Ya ke mana lagi dong!”

Disuruhnya aku menebak sendiri teka-teki itu.

Aku tahu. Tentu saja maksud kawan ini tidak ada tujuan lain selain RRT (Republik Rakyat Tiongkok), yang ketika itu – mungkin juga sampai sekarang oleh orang-orang tertentu — dipandang sebagai benteng sejati proletariat yang pertama dan terakhir. Tapi aku sungguh-sungguh tidak tahu. Apakah kawan ini bermaksud bergurau saja, ataukah sedang bersungguh-sungguh bicara. Tapi nada suara kata-katanya yang mantap dan wajahnya yang serius, membuatku takut untuk menyangkal. Apalagi untuk menertawakannya. Aku teringat sebuah lakon wayang. “Balé Sigala-gala” — bangsal terbuat dari serba galah atau bambu.

Suatu ketika Pandawa lima bersaudara dan istri serta ibu mereka, yaitu Dewi Drupadi dan Dewi Kunthi, terkurung di dalam bangsal bambu yang terbakar. Atau, lebih tepat, dibakar oleh perbuatan keji dan licik keluarga Kurawa. Tiba-tiba muncul seekor garangan putih (hewan sebangsa musang, yang sejatinya inkarnasi Dewa Dharma), membimbing mereka meloloskan diri dari kepungan api. Dalam gendongan Sang Bima, mereka semua masuk ruba, ruang bawah-tanah, sampai akhirnya tiba di lapis bumi yang paling bawah. Yaitu lapis ketujuh, yang disebut Saptapratala, tempat Sanghyang Anantaboga alias Nagaraja bertapa. Dewa ini, seperti Dewa Atlas di dunia Barat, adalah dewa penyangga bumi. Bedanya, Dewa Atlas berwujud manusia, sedangkan Dewa Anantaboga berwujud seekor naga raksasa.

Sudah menjadi kehendak para dewa kiranya. “Sang Barongsai” tidak hanya menerima Pandawa sekeluarga sebagai pengungsi yang datang mencari suaka saja. Putri tunggalnya yang semata wayang, Dewi Nagagini namanya, dihadiahkannya kepada Bima untuk diperistri. Dari perkawinan Bima-Nagagini ini kelak lahir Antasena, jago Pandawa yang tidak terkalahkan oleh siapa pun juga, selain oleh tipu muslihat Sang Wisnu …

SAMPAI hari ketiga KM “Tokala” masih terapung-apung di laut, menuruti jalan pelayaran yang telah ditetapkannya. Korve menyedot tinja dari wc yang meluap-luap masih terus berjalan seperti dua hari yang sudah. Korve tapol-tapol muda Tangerang membebed gula, susu, ikan asin, pil-pil vitamin dan apa saja yang bisa dipakai untuk “merehab” sesama kawan yang lumpuh dan “fisik lemah”, tetap berjalan setiap malam, jika para pengawal dan petugas telah terlelap tidur. Karenanya sekarang semua tapol, baik yang lumpuh maupun yang tidak lumpuh, baik yang fisik lemah maupun yang kuat, baik yang masih dalam kondisi “inrijden” (baca: inrèyen, istilah tapol untuk mereka yang baru bangun dari ranjang sakit) maupun yang segar bugar, semuanya mendapat jatah rehab hasil pembebedan. Tanpa kecuali.

Lagu-lagu “Pohon Beringin”, lagu Irama Melayu “Larilah Hai Kudaku”, lagu “Menanti Di Bawah Pohon Kemboja”, langgam keroncong “Bengawan Solo” dan lain-lainnya lagi, masih terus berkumandang. Suasana hiruk-pikuk menambah udara di ruangan palka terasa semakin panas.

Garangan Putih belum kunjung datang juga. Ruhul Kudus juga belum kunjung merasuki para pengawal dan awak kapal, sehingga dengan senang hati mereka mau membelokkan KM “Tokala” ke Negeri Kanguru di selatan atau ke Makao di utara.

Karena merasa sia-sia menunggu harapan datangnya Garangan Putih, datanglah kembali Satelit Insinyur kepadaku untuk menenteramkan hati. Tentu saja hati dia sendiri dan bukan hatiku! Hari itu hari keempat kami di laut.

“Ah, Mas! Paling kita di sana satu dua bulan saja!” Kata Bung Satelit, mundur dari keyakinan semula.

“Paling lama tiga bulan deh!” Katanya lagi serta-merta. Sepertinya hendak sedikit membikin tawar nada takhayul dalam infonya itu.

“Lalu? Sesudah tiga bulan …?” Tanyaku ingin tahu.

“Lalu? Kita akan dijemput kembali pulang ke Jawa”.

“Siapa yang menjemput?” Tanyaku lagi.

“Ah, Bung ini! Pokoknya ada deh. Percaya sajalah!” Jawab Bung Satelit tidak bisa ditawar-tawar.

Ya. Mengapa aku terlalu usil. Padahal aku tahu yang dimaksud tentu, tidak lain dan tidak bukan, ialah Tiongkok! Bukankah selagi peristiwa G30S belum terjadi pun, mulut kawan-kawan usil sudah membelokkan akronim “berdikari” menjadi “berdikakok”, berdiri di atas kaki Tiongkok?

Ya, politik ialah proses adu siasat perebutan kekuasaan. Dan bagi pihak yang terdesak atau kalah, tapi tidak bersedia mengakui keterdesakan atau kekalahannya, ia lalu membujuk diri sendiri dengan kejayaan mimpi. Tapi agar tidak mendapat cap sebagai penyebar sasus, yang akan berakibat hilangnya medan penyebaran info-infonya, Bung Satelit tidak berhenti di sana saja. Untuk ramalan politiknya itu ia segera menyusulinya dengan khotbah panjang sebagai alas tumpuan. Dengan bahasa politik yang kental berceritalah ia tentang strategi dunia tiga negara adikuasa: RRT pertama, Amerika kedua, dan Uni Soviet ketiga. Selanjutnya diuraikannya tentang dampak strategi mereka itu bagi kehidupan politik di Indonesia pada umumnya, dan khususnya bagi petinggi-petinggi negeri — para policy makers Orde Baru.

Untuk bukti penopang uraiannya, Bung Satelit mengingatkan aku pada ‘info’ yang pernah beredar di Salemba ketika itu, yaitu tentang beberapa tokoh tapol dari RTC Salemba dan RTM (Rumah Tahanan Militer), antara lain Mohamad Munir[4], yang dipanggil menghadap Presiden Suharto untuk merunding urusan penyelesaian tapol dan rujuk nasional …

Gandrik! Anak-putu Ki Ageng Séla! Tinubruk mong tuna, sinamber gelap lepat …![5]

Keterangan

[1] Riungan; kelompok makan-minum di kalangan tapol RTC Salemba dan Tangerang (mungkin juga tapol perempuan di Bukit Duri?); dikembangkan dari istilah Sunda (nga)riung, (ber)kumpul.

[2] HR. Bandaharo (1917-1993); penyair terkemuka Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) dan anggota CC-PKI (tidak diumumkan). Karya-karyanya terhimpun dalam beberapa kumpulan, al. “Sarinah dan Aku”, “Dosa Apa”, “Sepuluh Sanjak Berkisah”.

[3] Dua Tinggi: (a) tinggi mutu ideologi, dan (b) tinggi mutu artistik. Salah satu dari lima “asas kombinasi” sebagai asas kerja pekerja kebudayaan Lekra, yang dipimpin oleh asas “Politik adalah Panglima” dan dicapai dengan metode kerja “Turun Ke Bawah”. Lima kombinasi itu ialah: (i) meluas dan meninggi, (ii) tinggi mutu ideologi dan tinggi mutu artistik, (iii) tradisi baik dan kekinian revolusioner, (iv) kreativitas individu dan kearifan massa, dan (v) realisme sosial dan romantik revolusioner.

[4] Mohamad Munir, ketua Denas SOBSI (Dewan Nasional Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia); dieksekusi rejim Orde Baru Suharto 15 Mei 1985.

[5] Ungkapan penyeru dalam bahasa Jawa untuk menangkal bencana yang mendadak datang. Harfiah berarti: Gandrik! Anak-cucu Ki Ageng Séla! Diterkam harimau lolos, disambar geledek luput …!

Ki Ageng Séla tokoh legendaris Jawa yang dipercaya sebagai sakti dan sanggup menangkap halilintar.

Tebet Timur Jakarta Selatan

1981

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s