Kisah kecil untuk memperingati Hari Lahir Pantja Sila

Hersri Setiawan

Kisah Pendek Untuk Memperingati Lahirnja Pantja Sila 1 Juni 1945

Suparjo P.A. kawan satu barak Unit XIV Bantalareja Pulau Buru

Kisah tentang Supardjo P.A. sudah berulang-kali kuceritakan, baik dalam tulisan maupun dengan kata-kata pada berbagai kesempatan. Kisah itu juga pernah terbit di dalam “Memoar Pulau Buru” (2004: 408-416).

Supardjo P.A. Demikianlah ia sendiri mengakui namanya, kawanku satu barak, Barak 9, di Unit XIV Bantalareja Pulau Buru. Ketika ditangkap, awal 1966, ia masih bekerja sebagai guru Sekolah Dasar Negeri II Cawang Jakarta Selatan. Sebagai akibat siksaan, terutama sengatan arus listrik – hukuman dengan setrum listrik ini tergolong hukuman ringan untuk kami tahanan G30S 1965 – Supardjo menjadi rusak ingatan. Bukan gila, “hanya” rusak ingatan. Karena itu kawan-kawannya memberi tambahan kata pengenal kepadanya, untuk membedakan dengan Supardjo yang lain, dua patah kata “pikiran abnormal” dan disingkat sebagai “P.A.”

Ia tidak marah dengan label P-A-nya itu, sebaliknya justru diterimanya dengan “tanpa emosi”, bahkan cenderung berbangga-bangga. Selain itu P.A, juga diartikannya sendiri sebagai “Purworejo Aseli”, karena Supardjo memang berasal dari Purworejo, sebuah kota kecil di Jawa Tengah selatan. Kalau kita bertanya kepadanya: “Namamu siapa, Jo?” Dengan cepat dia menjawab: “Supardjo P.A.! Pikiran abnormal alias Purworejo aseli.” Terkadang ditambahkannya sendiri dengan suara “pengakuan” bernada tinggi: “Inilah Jendral Supardjo, yang berhasil membunuh tujuh jendral dalam satu malam …”

Supardjo suka menyanyi. Terkadang lirik lagu yang dinyanyikannya diubah menurut selera ke-P.A-annya yang cerdas, sehingga menjadi sepatah lagu yang ‘lucu’ tapi cespleng. Dengarlah kalau dia menyanyikan lagu “Bintang Kecil” Ibu Sud menjadi berlirik sebagai berikut:

Bintang kecil, bintangnya TNI

Bintang tiga, bintangnya polisi

Bintang tunggal, lambang Pancasila

Bintang tujuh, obat sakit kepala …[1]

Jika hari-hari berjalan normal – normalnya kehidupan tahanan politik di kamp konsentrasi militer – semua tapol di unit-unit Tefaat (Tempat Pemanfaatan) Pulau Buru, wajib apel tiga kali setiap hari. Yaitu apel pagi pada pukul 5, apel petang pada pukul 6 (18.00), dan apel malam sekitar pukul 10 (22.00). Dalam apel pagi dan petang itu tapol harus “membacakan” bersama-sama kelima butir-butir Pancasila, baris demi baris dan kata demi kata tanpa boleh satu patah kata pun salah.

Terkadang Tonwal (Peleton Kawal) yang mengambil apel, mendadak menunjuk salah seorang Tapol, keluar dari barisan, dan berdiri di depan berhadapan dengan sederetan Tonwal. Tentu saja sengaja untuk mencari-cari kesalahan Tapol dan memberi keabsahan untuk tindakan penyiksaan, Dan Tonwal (Komandan Tonwal) memerintahkannya untuk “membacakan” Pancasila, berikut dengan gambar yang melambangkan masing-masing sila. Adalah Supardjo P.A. yang berhasil menemukan kiat, bagaimana hafalan Pancasila itu butir demi butir diwujudkan dalam gambar-gambar yang melambangkannya masing-masing.

Inilah Pancasila dalam hafalan Supardjo Pikiran Abnormal alias Purworejo Aseli:

Pancasila!

Satu: Ketuhanan yang berbintang – sekaligus pasemon tentang penguasa;

Dua: Kemanusiaan yang dirante – pasemon tentang situasi HAM;

Tiga: Persatuan di bawah pohon beringin – pasemon kekuasaan Golkar;

Empat: Kerakyatan yang dipimpin oleh kebo[2] – pasemon kehidupan politik;

Lima: Keadilan sosial mati di kuburan – dalam pasemon karangan bunga.

Digugah oleh kiat menghafal Pancasila ala Supardjo P.A., yang kami semua ikuti, aku ketika itu menulis puisi pamflet berikut ini:

Apel Bendera[3]

kepada supardjo p.a.

digiring kami dalam barisan

dari barak-barak menuju lapangan

lalu datang inspektur upacara

bagai dewa turun dari suralaya

maka terdengarlah seru:

“hormat senjataaa g’rak!”

diiring sembah sang komandan

selembar kain merah dan putih

merayap lesu setinggi tiang kayu bakau

maka terdengarlah seru:

“tegap senjataaa g’rak!”

maka beterbanganlah di langit temaram

burung-burung cocakrawa dan kelelawar

maka langit pun menjadi keruh

oleh hura-hura suara riuh

yang menggetarkan udara pagi

tapi yang gemuruh di hati ini:

pancasila!

satu: ketuhanan yang berbintang

dua: kemanusiaan yang diranté

tiga: persatuan di bawah pohon beringin

empat: kerakyatan yang dipimpin oleh kebo

lima: keadilan sosial mati di kuburan …

barisan budak-budak digiring

memikul perintah masing-masing

mereka menuju lapangan kerja

mereka menuju medan penyiksaan

Penutup

Pada beberapa baris, misalnya baris pertama dan ketiga, Pancasila versi Supardjo PA terasa tidak mengena lagi untuk Pancasila ‘versi reformasi’ sekarang. Pembaca yang ingin mengajukan varian dipersilakan, dan pasti akan disambut dengan baik.

Salam.

Tangerang 1 Juni 2011

hersri setiawan

[1] Memoar Pulau Buru; 2004:413.

[2] ‘Kebo’, kata Jawa untuk ‘kerbau’, sindiran pada lambang berupa ‘kepala banteng’.

[3] Memoar Pulau Buru; 2004:414-415, dengan sedikit diedit.

sumber: https://www.facebook.com/notes/hersri-setiawan/kisah-kecil-untuk-memperingati-hari-lahir-pantja-sila/231186230229522

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s