Lagi: Seni Eksil Indonesia

Hersri Setiawan

Pengantar:

Di bawah ini teks lama [1994], disiapkan untuk seminar di sana-sini di universitas di Australia, juga dalam rangka festival puisi internasional di Perth.

Karena itu daftar karangan para penulis, tersebut pada Lampiran teks, pada waktu teks ini diketik ulang sudah menjadi lebih banyak lagi. terutama justru telah banyak pula yang terbit di Indonesia, terutama Jakarta.

“TRAVEL AND WRITING”

Pertama-tama perlu saya kemukakan, bahwa saya berdiri di sini sebagai orang Jawa yang berkebangsaan Indonesia dan berkewarganegaraan Belanda. Maka kata-kata yang akan saya ucapkan pun adalah kata-kata seorang Jawa, berkebangsaan Indonesia dan berkewarga-negaraan Belanda.

Di Indonesia, atau barangkali juga di negeri-negeri berkembang pada umumnya, dunia tulis-menulis merupakan dunia yang menjadi kenikmatan lebih, atau privilese, dari segolongan kecil masyarakat. Katakanlah golongan elite atau, sedikit lebih luas lagi, lapisan menengah masyarakat yang bersangkutan. Di jaman dahulu dunia tulis-menulis ini merupakan sisi lain dari kehidupan mandala, dunia para pendeta atau guru berikut siswa-siswa atau cantrik-cantrik pengikutnya saja.

Ketika dalam abad ke-15 Islam datang, dan sambil mendesak Hindu-Buda ke pinggiran, membangun pusat-pusat kekuasaan ekonomi dan politik, ruh masyarakat memang berganti. Tetapi tubuh masyarakat nyaris tidak tersentuh. Mandala berganti nama menjadi pondok, guru atau pendeta bertukar dengan pengulu atau kyahi, dan siswa atau cantrik berganti sebutan menjadi santri. Maka sebutan pondok sering lebih dipertegas lagi menjadi ‘pesantrèn’ (tempat di mana para santri berkumpul) atau bahkan ‘pondok pesantrèn’

(pondok di mana para santri berkumpul). Sementara itu lembaga mandala yang tradisional tadi, yang meredam daya hidup sendiri justru demi kelangsungan hidupnya, lalu bermetamorfosis dalam apa yang dikenal sebagai perguruan-perguruan “ngèlmu” kebatinan atau kejawèn, yang biasanya berpadu dengan “ngèlmu” jaya-kawijayan, atau memadukan antara ajaran lahir (eksoteris) dan ajaran batin (esoteris).

Ketika kemudian dalam abad menjelang akhir ke-16 Belanda datang dan membangun koloninya di kepulauan Indonesia, sekali lagi tubuh masyarakat sedikit-banyak dibiarkan tetap sebagaimana adanya. Lalu sekolah-sekolah didirikan, sebutannya pun “sekolah” (school; Bel.), berdampingan dengan pondok pesantrèn dan perguruan ngèlmu yang ada, walaupun kehidupan dua lembaga budaya tersebut akhir itu diawasi oleh pemerintah kolonial. (Lihat: Nasihat-Nasihat C. Snouck Hurgronje Semasa Kepegawaiannya Kepada Pemerintah Hindia Belanda 1889-1936, Seri Khusus INIS VII passim, segera terbit). Ketiga-tiganya mempunyai kiblat wawasannya masing-masing: yang pondok ke keislaman, yang perguruan ke kejawèn, dan yang sekolah ke barat-kristen kolonial. Tiga kiblat wawasan yang bagi kaum pergerakan nasional lebih merupakan tantangan ketimbang rekanan itu, pada tahun 1922 mendapati jawabannya dengan berdirinya Perguruan Kebangsaan “Taman Siwa”.

Perhatikan bahwa kiblat wawasannya yang “kebangsaan” ditunjukkan untuk memberi sifat pada namanya yang justru “perguruan”, bukan sekolah dan bukan pondok. Hendaknya jangan dilupakan, bahwa embrio Taman Siswa justru paguyuban “Slasa Kliwonan”, suatu lembaga untuk mempelajari soal-soal kebatinan, dipimpin oleh Pangeran Suryamataram dan dengan empat pemrakarsa utama Ki Hajar Dewantara, Raden Mas Soetatmo Soerjokoesoemo (anggota PB Budi Utama dan “Volksraad”), Raden Mas Hario Soorjo Poetro (ahli gendhing dan bekas siswa THS [Technische Hogeschool] di Delft, Belanda), dan Ki Pronowidigdo (tokoh Budi Utama). (Taman Siswa 30 Tahun 1922-1952, Madjelis-Luhur Taman Siswa Cet.II 1955: passim, khususnya hal. 204-205).

Kepandaian guru yang satu tentu saja berbeda dari guru yang lain. Dan seseorang guru tidak akan pernah mengajarkan “ngèlmu” setuntas-tuntasnya, selama ia belum merasa mendekati ajalnya, dan selama ia belum merasa menemukan seorang murid yang dipandang pantas menjadi penerus pemilik ajaran-ajarannya. Letak perguruan-perguruan yang hanya terdapat di desa-desa tertentu, dan berjauhan antara yang satu dengan yang lain itu pun pada umumnya dirahasiakan. Untuk bisa menemukan ilmu sejati di perguruan yang benar pula, orang harus mengembara “njajah désa milang kori” (menjelajahi desa demi desa, dan mengetuk pintu demi pintu), ada kalanya harus dengan menyamar diri.

Ada dua alasannya, yaitu (1) adanya persaingan antara perguruan satu dengan lainnya, dan (2) adanya pertentangan antara perguruan dengan kekuasaan yang mapan. Satu atau dua generasi yang lalu di Jawa masih banyak kita dengar cerita tentang dua orang pendekar dari perguruan yang berbeda, atau rombongan réyog yang satu dan yang lain, di tengah perjalanan secara kebetulan saling bertemu, kemudian saling jajal-menjajal ilmu “jaya kawijayan” masing-masing sebelum mereka saling menjalin persahabatan ibarat kakak-adik sesaudara atau “sedulur sinarawèdi” (sedulur = saudara; sinoroh = tempat berserah; wadi = rahasia). Tentang ini juga bisa ditemukan dengan amat melimpah di dalam dua buah karangan cerita “pseudo sejarah”, yang sangat terkenal selama tahun 1960-an dan 1970-an, yaitu Bendé Mataram karangan Herman Pratikto dan Api Di Bukit Menorèh karangan SH. Mintardja.

Bagi orang Jawa, masalah hakiki dalam hidup bukanlah untuk mencari tahu apa itu alam dan kehidupan, tetapi bagaimana kembali menjadi satu dengan alam dan kehidupan. Alam dan kehidupan bukan sekedar untuk diketahui, karena diri sendiri tidak berada di luarnya; tetapi justru untuk dirasukinya sama sekali, karena diri sendiri adalah unsur daripadanya. Maka, sejalan dengan itu juga, bukan filsafat atau teologi yang penting, tetapi “kawruh manunggal” yaitu “suluk” atau tasawuf, artinya jalan atau perjalanan menuju asal-muasal hidup atau “sangkan paraning dumadi”. Kata “suluk” itu sendiri berasal dari kata Arab “sulukun”, yang berarti “jalan” atau “perjalanan”. Perjalanan panjang pengembaraan abadi itulah hidup, sehingga hidup di dunia hanya sebagian daripadanya yang sangat pendek, ibarat hanya “mampir ngombé”. Singgah untuk minum. Minum “ngèlmu panunggalan” itu. Maka, tentulah itu alasannya, mengapa sastra Jawa-Islam justru ditandai oleh karya-karya yang dinamakan “suluk”. Sementara itu karya-karya sastra Jawa Tengahan yang dinamakan Kidung (oleh karena ditulis dalam genre kidung), berisi kisah-kisah pengembaraan satria di dalam mencari ilmu atau kekasih, atau kedua-duanya sekaligus. (Tentang sastra Kidung, baca lebih lanjut P.J.Zoetmulder, Kalangwan, Penerbit Djambatan 1983, Bab I.4, hal. 28-41; Bab III.4, hal. 142-46; Bab XVI, hal. 510-545; Lampiran I, hal. 551-53).

Hidup ialah “lakon” atau “lalakon”, yaitu perjalanan hidup atau kisah perjalanan hidup, atau travelling; dan dengan demikian, maka sastra ialah catatan tentang kisah perjalanan itu. Barangkali ini juga alasannya, apabila sampai pada suatu periode yang dinamakan “Kebangkitan Sastra Jawa Modern” (J.J. Ras, Javanese Literature Since Independence, The Hague-Martinus Nijhoff 1979) itu pun, banyak hasil karya yang merupakan penuturan tentang kisah perjalanan si penulis atau seseorang. Misalnya, Cariyos Bab Lampah-lampahipun Raden Mas Arya Purwa Lelana (Batavia, 1865), karangan R.M.A. Candranegara; Cariyos Nagari Walandi (Batavia, 1876), karangan Rd. Abdullah Ibnu Sabar bin Arkebah; Késah Layaran Dhateng Pulo Papuwah (Bp. 405, 1919), karangan Yitnasastra (Harjawiraga); Ngulandara (BP. 1223, 1936), karangan Margana Jayaatmaja, dan lain-lain. Dan akan lebih banyak lagi kalau kita juga melihat bahwa karangan-karangan yang dinamakan “babad” pun sebenarnya juga bisa “dipulangkan” kepada kisah perjalanan itu.

Walaupun begitu hasil sastra tentulah lebih dari sekedar catatan jurnalistik. Mutu sastra menuntut lebih dari sekedar penuturan tentang rangkaian kenyataan-kenyataan dan kejadian-kejadian yang dijumpainya sebagai pengalaman di dalam perjalanan itu. Tuntutan akan terpenuhi jika si penulis, dari balik kenyataan dan kejadian yang dialaminya, berhasil mengungkapkan ke permukaan hal-hal yang bagi banyak orang tersembunyi, pengalaman dan penghayatan terhadap kenyataan dan kejadian yang oleh banyak orang tidak bisa dijelaskan dan disampaikan kepada umum.

Sisa lakon atau kisah perjalanan sebagai “sastra” lisan (ini sebenarnya ungkapan yang contradictio in terminis, karena kata “sastra” berarti “tulis”), pernah saya saksikan pada masa kecil dalam bentuk pertunjukan barangan (straatvertoning) yang dinamakan “dhampit”. Menurut arti katanya, “dhampit” ialah satu pribadi dalam dua eksistensi yang bertolak belakang; karena itu kemudian juga sebagai sebutan untuk dua anak kembar laki-laki dan perempuan. Adapun dhampit dalam pertunjukan barangan ini berupa seorang bertopeng laki-laki, menggendong dengan bertolak arah sebuah boneka bertopeng perempuan hampir seukuran tubuhnya sendiri.

Bahwa dhampit melukiskan satu pribadi dengan dua eksistensi yang bertolak belakang demikian, tentu dengan maksud hendak menyampaikan pesan: perjalanan hidup tidak hanya melangkah jauh ke depan, tetapi bersama dengan itu juga sekaligus memandang jauh ke belakang; horison belum bulat sempurna, apabila hanya bertumpu pada dua mata depan yang memandang ke muka dan ke samping kanan dan kiri saja.

Pertunjukan dhampit diiringi oleh dua instrumen pengiring, gendang untuk membantu menciptakan suasana; dan sejenis gong kecil lebih banyak untuk menandai pergantian adegan atau sesudah dialog panjang, tetapi juga dipukul ramai bersama gendang sebelum pertunjukan dimulai dan diakhiri. Aktor tunggal bersama “aktris” boneka tunggal rekan kembarnya itu mendukung seluruh pelaku dalam lakon, “menari” melenggang-lenggok, menembang, mendongeng dan berdialog bersahutan. Di samping dongeng yang dituturkan dan diperagakan itu, “mereka” (aktor dan “aktris” tersebut) menceritakan tentang hal-hal apa saja yang menarik perhatian “mereka” selama perjalanan, atau meneruskan cerita-cerita yang “mereka” dengar di sepanjang perjalanan yang “mereka” pandang penting, misalnya di desa anu pada malam hari dan pasaran tertentu terjadi kebakaran, ada wabah penyakit cacar nun di sana, ada hama menthèk di desa itu, ada orang di-”landrad” karena tertangkap membuat garam (karena garam merupakan usaha monopoli gupermen), dan lain-lain. Straatvertoningen, karena itu, oleh Drs Marbangun Harjawiraga, mantan atase pers RI di PBB di masa Soekarno dan mantan dosen Ilmu Publisitik di Universitas Gajah Mada, juga disebut berfungsi sebagai salah satu bentuk tertua media komunikasi massa.

Dengan demikian pertunjukan dhampit bukan hanya menyampaikan cerita-cerita dongeng dan babad yang diambil dari tradisi, tetapi juga menyampaikan berbagai-bagai kisah sambung-bersambung dan bahkan bingkai-berbingkai, yang diambil dan disusun dari pengalaman perjalanan hidupnya sendiri maupun dari orang lain.

Bahwa sastra ialah catatan kisah perjalanan, dan karenanya menghasilkan gaya penceritaan yang cenderung berbingkai-bingkai, tampaknya merupakan pandangan sastra dan gaya penceritaan yang lebih berakar secara tradisional. Jauh lebih tua dari bentuk “tanaman baru” yang dicangkok dari tradisi Barat, yang dinamakan novel. Tetapi baiklah kita tinggalkan ancang-ancang pembahasan teoretis tentang “travel and writing”, dan mari kita kembali kepada apa yang faktual saja.

Di atas sudah saya kemukakan, bahwa sastra ialah kisah perjalanan hidup. Perjalanan hidup si penulis atau orang lain (pendeknya seseorang) atau sekelompok orang, di tengah tengah kehidupan bersama pada suatu tempat dan saat tertentu. Maka pada akhirnya, kisah perjalanan hidup itu ialah kisah perjalanan hidup sesuatu kelompok orang atau bangsa. Dalam konteks sastra Indonesia tentu saja perjalanan hidup bangsa Indonesia. Dengan pendirian ini sebagai titik tolak saya ingin mengundang perhatian saudara-saudara sekalian kepada apa yang di Eropa kami namakan pers dan sastra eksil.

Pers Eksil

Seperti tentu sudah diketahui, bahwa pada akhir tahun 1965 telah terjadi pembalikan drastis kondisi kehidupan politik di Indonesia. Dari sebuah republik yang dipimpin seorang presiden, yang terhadap kaum komunis dipandangnya sebagai “yo sanak yo kadang, yèn mati aku sing kélangan” (bunyi pepatah aselinya: ‘dudu sanak dudu kadang yèn mati mèlu kélangan’, dari pernyataan negatif ‘dudu’ [= bukan] diubahnya menjadi pernyataan positif ‘yo’, dan bahkan dipertegas lagi dengan kata ‘aku’ olehnya sendiri), menjadi sebuah republik yang presidennya memandang komunisme sebagai bahaya laten yang harus diberantas sampai ke akar-akarnya.

Akibat dari pendirian politik kepala negara yang demikian itu, maka sekian ribu orang warganegara Indonesia yang berpikiran progresif, yang sebelum 1 Oktober 1965 berada di berbagai penjuru dunia, menjadi tidak bisa pulang kembali ke tanahair mereka. Sebagian sangat besar dari mereka dahulu tinggal di berbagai negeri sosialis di Asia, Eropa dan Amerika Latin, tetapi yang terbanyak tentu saja di Uni Soviet dan RRT.

Hendaknya diingat kembali, bahwa dalam tahun 1960-an saat itu terjadi pertentangan tajam antara PKUS dan PKT. Masing-masing diikuti oleh sekutu-sekutunya, sehingga seolah-olah membagi dunia sosialis di dalam dua belahan. Pilihan untuk tinggal di sesuatu negeri tertentu pun, sedikit banyak tidak terlepas dari pengambilan pihak dalam pertentangan besar tersebut. Di luar mereka ada segolongan (sangat) kecil, yang sejak sebelum kejadian akhir September 1965 memang sudah bermukim di Eropa Barat untuk belajar; dan segolongan yang sangat lebih kecil lagi terdiri dari orang-orang yang berhasil meloloskan diri dari persekusi militer di tengah tahun-tahun kemelut, terutama tahun 1965/1966, atau segera sesudah mereka dibebaskan dari tahanan.

Di samping sangat sedikit yang sehingga kini masih tetap tinggal di negeri-negeri (bekas) sosialis, sebagian besar mereka itu sekarang telah berada di Eropa Barat, dan terutama di Belanda. Tidak pernah diketahui jumlah mereka dengan pasti. Sementara saya pada awal 1980-an memperkirakan angka 1500 – 2000 orang, tetapi banyak di antara mereka menyatakan hanya ratusan. Mereka adalah anggota atau simpatisan PKI, yang dikirim ke luar negeri dengan berbagai alasan: belajar atau bekerja di universitas negara atau lembaga ilmu partai komunis setempat, mewakili berbagai organisasi massa Indonesia di berbagai organisasi internasional (buruh, pemuda, mahasiswa, dlsb.), wartawan, pejabat pemerintah, anggota delegasi PKI / ormas untuk perayaan negara/partai sekawan (khususnya perlu disebut adalah delegasi besar PKI untuk perayaan 1 Oktober 1965 di RRT).

Di antara mereka itu terdapat sastrawan, wartawan dan seniman lainnya, yang berjumlah tak kurang dari 20 orang dan dalam umur sekarang (1994) rata-rata 50 tahun. Kecuali penulis drama Utuy Tatang Sontani yang sudah meninggal di Moskow (1979), juga sebagian besar mereka itu sekarang bermukim di negeri Belanda. (Tentang nama-nama para sastrawan dan seniman eksil di berbagai negara, lihat Lampiran I).

Selama lebih-kurang 30 tahun (1964/65 – 1994) hidup berkelompok-kelompok sebagai eksil di berbagai negeri itu, hampir semuanya mempunyai organ penerbitan masing-masing, dari yang berbentuk kording (koran dinding) sampai majalah; dari yang hanya berisi masalah-masalah politik dan ekonomi, sampai yang menjangkau soal-soal seni dan sastra; dari yang dikerjakan berbentuk stensilan, sampai yang di atas komputer dan difotokopi.

Sebagai contoh di Helsinki, misalnya, terbit majalah ‘Tekad Rakyat’ selama tahun-tahun 1967 (November) sampai 1990 (Maret) dalam dua edisi Indonesia dan Inggris, dengan oplah sekitar 300-500 eksemplar, jumlah halaman antara 25-30 muka, dan dengan titik berat isi masalah politik, namun kadang kala memuat juga karangan-karangan yang bersifat sastra. Kecuali ‘Tekad Rakyat’, Organisasi Pemuda Indonesia di Moskow menerbitkan organnya yang bernama ‘Opi’ (sekitar 1970-1980), terkadang terbit dwibahasa Indonesia dan Rusia, sebuah majalah umum kepemudaan dan kemahasiswaan. Sementara itu kelompok marhaenis (pengikut ajaran Marhaenisme Soekarno) menerbitkan ‘Marhaen Menang’ (sekitar 1970-1980).

Di Belanda, Yayasan Perhimpunan Indonesia (1984) menerbitkan majalah triwulanan ‘Arah’ sejak 1985, dengan bentuk yang semakin rapi, isi semakin kaya, dan jumlah halaman semakin tebal. Di antara tiga bulan waktu kehadirannya pada pembacanya itu terkadang diterbitkan nomor khusus, ‘Suplemen Arah’. Organisasi Aksi Setiakawan (1984) di Amsterdam menerbitkan buletin bulanan ‘Berkala Aksi Setiakawan’

(1987), sebagai alat komunikasi dengan masyarakat eksil Indonesia, baik yang tinggal di berbagai negara Eropa maupun yang di luar Eropa. Buletin ini sangat sederhana bentuknya, diketik dan difotokopi pada kertas format-A4, dengan jumlah halaman sekitar 10 muka. Sesuai dengan peranan yang dikehendakinya, tanpa mencantumkan nama-nama redakturnya, ‘Berkala Aksi Setiakawan’ yang mengutamakan penyebaran informasi tentang kejadian-kejadian penting di Indonesia, serta pernyataan politik tentang perjuangan emansipasi umat manusia, khususnya di Indonesia itu, cenderung tetap mempertahankan kesederhanaan bentuknya. Di samping yang dua itu, ada berkala ‘Demi Demokrasi’ (diterbitkan kelompok Front Demokrasi Indonesia); majalah ‘Pembaruan’ dan ‘Kreasi’ (Yayasan Budaya World Citizen Press, Amsterdam); ‘Arena’, majalah opini & budaya pluralis (Stichting I.S.D.M. Culemborg, Belanda); ‘Mimbar’, informasi studi diskusi (Stichting “Indonesia Media”, Amsterdam).

Di Perancis, Kusni Sulang (alias J.J. Kusni) dan kawan-kawan (Perhimpunan Indonesia Raya) menerbitkan majalah ‘Kancah’; dan sekitar setahun yang lalu (1993) di Perancis terbit Info, ‘Klipping Berita-Berita Aktual Tanahair’, dari berbagai media yang terbit di Indonesia, yang tidak mencantumkan sebuah nama kecuali alamat: 4, Rue du Dr. Calmette p. 1202, 94310 Orly. (Lebih lanjut baca David T.Hill, ‘A Note On Further Reading’ dalam: Quartering, Monash Papers on Southeast Asia no.24, 1991).

Pada tahun 1989 beberapa sastrawan eksil di Belanda memprakarsai terselenggaranya pertemuan sesama sastrawan eksil di empat negara, Belanda-Belgia-Jerman-Perancis, yang mereka sebut sebagai “Temu Sastra Amsterdam”. Di situ mereka bersilaturahmi, membacakan sajak atau cerpen atau fragmen novel karya eksil masing-masing, tukar-menukar pengalaman dan pengamatan dalam minat masing-masing.

Rencana menerbitkan sebuah majalah khusus sastra tak pernah terlaksana sampai sekarang oleh berbagai alasan, satu di antaranya yang terpenting (seperti begitulah selalu) ialah modal pengelolaan. Tetapi sekurang-kurangnya ada dua hasil sampingan dari Temu Sastra Amsterdam itu: (1) lahir Bengkel Sastra Amsterdam, yang merupakan pertemuan sekali setiap satu bulan bagi para sastrawan eksil Indonesia di Belanda; dan (2) semakin suburnya kegiatan menulis di kalangan para sastrawan eksil Indonesia. Tentang hal tersebut butir kedua itu bukan hanya tampak melalui majalah ‘Arah’ di Amsterdam, atau melalui majalah ‘Kreasi’ dan ‘Arena’ yang desk-editor-nya di Brussel, tetapi juga ternyata dari munculnya terbitan-terbitan khusus kumpulan puisi dan/atau prosa, baik oleh yayasan-yayasan yang mereka dirikan maupun atas usaha masing-masing penulis yang bersangkutan. (Tentang penerbitan karya-karya sastrawan eksil, lihat Lampiran II).

Sastra Eksil

Di negeri mana pun, di mana hak menyatakan pikiran bisa diganggu dan digugat, banyak masalah tentu saja akan timbul sebagai akibat daripadanya. Dalam konteks kehidupan sastra, di antaranya ialah masalah (1) hubungan sastra dan politik, dan (2) adanya “sastra resmi” atau “sastra baku” yang dianggap sebagai adiluhung, dan “sastra non-resmi” atau “sastra perlawanan” yang bagi kaidah resmi dianggap sebagai rendah mutunya. Tetapi rendah atau tinggi mutunya, jenis sastra ini jelas merupakan cermin dari sisi lain dari biografi bangsa, yang tentang keberadaannya tidak bisa diingkari. Justru di sinilah letak sastra eksil Indonesia, dan yang keberadaannya pun memang sengaja atau tidak sengaja telah diingkari oleh para “penguasa” sastra resmi.

Berbeda dengan sastra eksil Indonesia di luar negeri, yang sampai hari ini nyaris tidak mendapat perhatian, maka para sastrawan pembelot dalam negerilah yang akhir-akhir ini, menurut pengamatan Subagio Sastrowardoyo, paling sering diundang ke Eropa atau Amerika untuk kesempatan ini dan itu. Orang mengenal Pramudya, Wiji Thukul, dan Emha Ainun Najib; tetapi orang tidak mengenal Agam Wispi, Basuki Resobowo, Sobron Aidit, dan Supriadi Tomodihardjo. Maka pada tempatnyalah saya di sini mengucapkan terimakasih kepada sahabat saya David T. Hill, yang dalam kata penutup untuk Quartering tersebut di atas (hal. 115-122), lewat dua tahun lalu, sekaligus merupakan perangsang awal perhatian terhadap sastra eksil Indonesia.

Apabila arti eksil tidak hanya “one forced to emigrate by political or other circumstances beyond his control”, tetapi bisa diperluas dengan “one forced to be alien in his/her own country”, maka tentu saja dalam golongan sastra eksil harus termasuk karya-karya Pramudya Ananta Toer. Pram “tentu suatu perkecualian”, karena ia telah “berhasil mencapai taraf sastra dunia dan ditakuti kehadirannya di dalam negeri” (Supriadi, Suara Seorang Anaksemang, ‘Pengantar’). Tetapi ada banyak ‘Pramudya’ di Indonesia, yaitu ‘pramudya-pramudya’ yang bukan Ananta Toer, yang belum mencapai taraf sastra dunia, dan kehadiran mereka di dalam negeri pun sama sekali tidak ditakuti. Saya percaya, bahwa bagaimanapun pena mereka pasti belum tumpul dan daya cipta mereka pun belum berkarat. Hanya demi tidak untuk kesekian kali ditindaslah, maka mereka tidak muncul ke permukaan. Dan karenanya untuk sementara terluput dari perhatian para pengamat.

Jika masalahnya telah bergeser dari sastra ke kekuasaan, maka yang penting memang bukanlah apa yang ditulis dan bagaimana mutu tulisan itu, tetapi siapa yang menulis dan tak peduli bagaimana pun mutunya. Akhir Oktober tahun lalu [1993] dua koran di Jawa Tengah memuat berita, penyair Wiji Thukul diinterogasi dinas intelijen Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah; alasannya, karena ia menerima kiriman beberapa majalah “Arah” dari Belanda. Ini artinya, bahwa bagi pemerintah Indonesia bukan saja Pramudya dan “pramudya-pramudya” ditabukan, tetapi juga karya-karya eksil Indonesia dari luar Indonesia. Inilah masalah terpenting pertama yang dihadapi para sastrawan eksil Indonesia di luar tanahair mereka. Mencari pembacanya di dalam negeri tidak dibukakan pintu, sedangkan masyarakat sesamanya di luar negeri terlalu kecil. Jumlah mereka memang sudah sangat kecil, dan tentu saja terlebih kecil lagi yang berminat terhadap sastra. Majalah ‘Arah’, misalnya, oplah rata-rata setiap kali terbit dalam tahun 1991 sebanyak 175 eksemplar. Dari jumlah ini sekitar 140 eksemplar diserap pembaca eksil di Belanda dan sekitarnya, dan sekitar 35 sisanya dikirim ke perpustakaan, lembaga ilmiah, dan pembaca di luar Eropa Barat. Dari pembaca eksil yang 140 itu, sekitar 95% (menurut perkiraan Supriadi) tidak mempunyai minat sastra.

Apabila “eksil dalam negeri”, bagaimanapun, tetap ada “di tengah-tengah” masyarakat dan tanahair mereka, namun tidak demikianlah rekan-rekan mereka “eksil luar negeri”. Mereka menghadapi masalah keharusan menyesuaikan diri dengan lingkungan dan tata cara hidup baru, serta khususnya keharusan penguasaan berbahasa. Hendaknya diketahui juga, bahwa bagi kebanyakan mereka masalah keharusan menyesuaikan diri itu terpaksa berkali-kali dialami; karena di luar kemauan masing-masing pula, mereka harus berkali-kali berpindah negeri tempat bermukim. Terlepas dari itu, betapapun besar usaha penyesuaian diri seseorang, pada satu pihak ia tidak akan bisa berurat berakar, dan pada lain pihak identitas diri tidak akan hilang tanpa bekas di tempat kehidupannya yang baru.

Masalah lain bagi sastra eksil ialah masalah, yang sebenarnya juga berlaku bagi sastra non-eksil, yaitu masalah mutu. Mutu perlawanannya secara politis akan menjadi hambar belaka, tanpa didukung oleh mutu kesastraannya yang mampu memenuhi tuntutan pembaca masa sekarang. Tetapi, hubungan antara pembaca dan penulis memang bersifat timbal balik. Di satu pihak, pramudya-pramudya tidak akan menjadi Pramudya yang dikenal dunia, tanpa mutu mereka yang menjanjikan potensi. Di lain pihak, mutu karya mereka tidak akan meningkat selama daerah pembaca mereka pun tetap sangat terbatas.

Sampai sekarang mereka rata-rata, sampai tahun 1994, telah 25 tahun lebih tidak pernah bersentuhan dengan tanah dan air Indonesia. Umur sudah menjelang senja. Harapan kembali ke Indonesia tinggal menjadi kata-kata indah. Dan seandainya pun kelak benar-benar bisa kembali, sekali lagi masalah penyesuaian diri menjadi tantangan terbesar dalam ambang umur mereka. Barangkali itulah, maka ada terdengar dua nada utama dalam karya-karya ‘eksil luar negeri’: perlawanan dan penderitaan sekaligus, yang terkadang terucapkan dalam kerinduan.

Bacaan:

1. J.J. Ras, Javanese Literature Since Independence,

The Hague Martinus Nijhoff 1979.

2. P.J. Zoetmulder, Kalangwan,

terjemahan Dick Hartoko SJ, KITLV Seri Terjemahan 16, 1974.

3. P.J. Zoetmulder, Manunggaling Kawula Gusti. Panthëisme Dan Monisme Dalam Sastra Suluk

Jawa, terjemahan Dick Hartoko, Seri Terjemahan KITLV-LIPI, 1991.

4. Nasihat-Nasihat C.Snouck Hurgronje Semasa Kepegawaiannya Kepada Pemerintah Hindia Belanda 1889-1936, Seri Khusus INIS VII (1994 belum

terbit).

5.’ Harian Bernas’ dan ‘Kedaulatan Rakyat’

, 29 September 1992.

6. Wawancara dan korespondensi, antara lain dengan:

i. Agam Wispi, penyair, Amsterdam

ii. Asahan Aidit, penyair, Amsterdam

iii. Supriadi Tomodihardjo, penyair/penulis cerpen, Keulen

iv. Redaksi-redaksi Arah, Arena, Berkala Setia Kawan, dan Kreasi.

v. Bekas redaksi Api, Indonesian Tribune, Tekad Rakyat.

Lampiran I

Nama-nama sastrawan dan seniman eksil dan negeri pemukiman masing-masing:

1. Abdul Kohar Ibrahim — Belgia

2. Agam Wispi — Belanda [sudah meninggal]

3. Asahan Aidit — Belanda

4. Aziz Akbar — Jerman [sudah meninggal]

5. Bambang D.S. — Belanda

6. Basuki Resobowo — Belanda [sudah meninggal]

7. Chalik Hamid — Belanda

8. Effendi — Jerman

9. Emha — Belanda [sudah meninggal]

10. Hamzard Marsimin — Belanda

11. Hersri Setiawan — Belanda (sejak 2004 kembali ke Indonesia)

12. Intoyo — USSR (meninggal, 1967)

13. Kamal Rangkuti — Belanda [sudah meninggal]

14. Kondar Sibarani – Jerman

[sudah meninggal]

15. Kuslan Budiman — Belanda

16. Kusni Sn., alias J.J. Kusni — Perancis

17. Mawie Ananta Jonie — Belanda

18. Moh. Sutiyoso — Jerman [sudah meninggal]

19. Noor Djaman — Belanda

20. Rondang E. Marpaung — Swedia

21. Sobron Aidit — Perancis [sudah meninggal]

22. Sunarso alias Nita — RRT

23. Supriadi Tomodihardjo — Jerman

24. Suwito — Belanda [sudah meninggal]

25. Utuy Tatang Sontani — USSR (meninggal, 1979)

26. Uzhara — USSR

27. Z. Afif – Swedia

[sudah meninggal]

28. Zoebier L. – Belanda [sudah meninggal]

Lampiran II

Nama pengarang, judul karangan, dan tahun penerbitan:

1. Astama (nama pena Aziz Akbar), Sungai Dara Dan Diri, kumpulan cerpen, Stichting I.S.D.M., Culemborg 1992, 290 hal.

2. Alan Hogeland (nama pena Kamal Rangkuti), Angin Menderu Di Pucuk Bambu, kumpulan puisi, Stichting I.S.D.M., Culemborg 1992, 68 hal.

3. Alan Hogeland, Musibah, kumpulan cerpen, Stichting Budaya World Citizen Press, Amsterdam 1990, 78 hal.

4. D. Tanaera (nama pena A.K. Ibrahim), Korban, kumpulan cerpen, Stichting I.S.D.M., Culemborg 1990, 83 hal.

5. D. Tanaera, Saling Hubungan Kesenian & Politik, esai; cetak ulang World Citizen Press, Amsterdam 19? dari teks yang sama terbit oleh SKBSI.

6. Eddie Supusepa, Ragu-Ragu Berbunga, kumpulan puisi, Uitgeverij Het Progressieve Boek, Rotterdam 1980, 56 hal.

7. Eddie Supusepa, Setia Kepada Gunung Tanah, kumpulan puisi, Uitgeverij Het Progressieve Boek, Rotterdam 1980, 80 hal.

8. Eddie Supusepa, Renungan Seorang Alifuru, kumpulan puisi, Stichting I.S.D.M., Culemborg 1990.

9. Emha, Si Nandang, drama bersajak, Stichting Budaya World Citizen Press, Amsterdam 1989, 56 hal.

10. Magusig O Bungai (nama pena Kusni Sn.), Sansana Anak Naga Dan Tahun-tahun Pembunuhan, kumpulan puisi, Stichting I.S.D.M., Culemborg 1990, 68 hal.

11. Noor Djaman, Kisah Puteri Remaja, novel, Stichting Budaya World Citizen Press, Amsterdam 1988, 120 hal.

12. Noor Djaman, It happened in Beijing, novelet berbahasa Inggris, Stichting Equator Khattulistiwa, Amsterdam 1988, 82 hal.

13. Noor Djaman, Drama Kampus, novelet, Stichting Equator, Amsterdam 1990, 165 hal.; versi Inggris [Campus Drama] terbit oleh Janus Publishing Company, London 1992, 116 hal.

14. Noor Djaman, Cikampek Tempo Doeloe, 2 novelet: Kisah Dua Sahabat, dan Nyi Emah Bintang Ronggeng, Stichting Parahiyangan, Amsterdam 1990,

15. Redaksi SRI, Bungarampai: Kumpulan prosa-puisi-esei, disusun dari karangan-karangan dalam SRI dan API 1975-78, terbit di RRT 1978, 223 halaman.

16. Siauw Giok Tjhan, Lima Jaman: Perwujudan integrasi wajar, Yayasan Teratai, JakartaAmsterdam, 1981, 443 hal.+ i-xi : biografi, daftar isi, indeks.

17. Sobron Aidit, Razzia Agustus Dan Cerita-cerita Lainnya, kumpulan cerpen, Stichting I.S.D.M., Culemborg 1992, 93 hal.

18. Teguh, nama lain untuk Hersri S., Catatan di Sela-sela Intaian, memoar, Yayasan Langer, Limburg 1981.

19. Teguh, nama lain untuk Hersri S., Trubus Di Mana Engkau?, narasi tentang hilangnya pelukis/pematung Trubus Sudarsono (19261966) dalam bulan-bulan pertama sesudah kejadian 1 Oktober 1965, Yayasan Langer Limburg 1982.

Pengarang dan judul karangan yang diterbitkan sendiri:

1. Supriadi, Suara Seorang Anak Semang, kumpulan karya puisi dan cerpen 1987-1988, 1989, 77 hal.

2. —, Ilalang, kumpulan puisi, 1987, 69 hal.

3. Basuki Resobowo, Karmiatun Perempuan Indonesia, roman, 7 jilid [I: 66; II: 50, III: 51; IV: 30; V: 24; VI: 60; VII: 42], Amsterdam 1988-1989, 323 hal.

4. —, Cut Nyak Din Wanita Yang Jantan Dari Aceh, cergam 4 jilid [I: 42, II: 30; III: 34; IV: 25], Amsterdam 19881989, 131 hal.

5. —, Riwayat Hidupku, biografi, 4 jilid [I: 32; II: 38; III: 56; IV: 86], Amsterdam 1987, 212 hal. 6. —, berbagai esai, jurnal politik, resensi buku, polemik, karikatur, dan bentuk karangan lain dalam penerbitanpenerbitan khusus.

6. Hersri S., Amenangi Jaman Edan; esai, Amsterdam 1993.

7. —, Dunia Yang Belum Sudah; esai, Amsterdam 1993.

8. —, Musuh Rakyat; terjemahan lakon Henrik Ibsen.

Pengarang dan judul karangan yang menunggu terbit:

1. Utuy Tatang Sontani, Kolot Kolotok, novel.

—, Mengapa Saya Menulis?, kumpulan esai.

2. Agam Wispi, Amsterdam, Amstel, Amsteledam

3. Agrar Sudrajat (nama pena Suparna Sastra Diredja), Romusa, novel di jaman pendudukan Jepang di Indonesia 1942-1945; Amsterdam 1976.

—, Kebangkitan Di Lereng Merapi-Merbabu, novel.

4. Noor Djaman, Kisah Teresa; novel.

—, Gejolak Keadilan; novel.

Catatan tentang beberapa berkala:

1. “Arah”, majalah triwulanan non profit; terbit sejak 1985 oleh Yayasan Perhimpunan Indonesia, Amsterdam (didirikan oleh Ernst Utrecht 1984); A5/halaman tidak menentu (rata-rata 50); penata usaha: M.Hussein. Majalah ini terkadang juga menerbitkan suplemen (enam nomor selama 1989-1992), antara lain ceramah dan terjemahan karangan Prof.W.F.Wertheim Sejarah Tahun 65 Yang Tersembunyi (1/1990), dan Indonesia pada tahun 1965: Kapankah arsip-arsip dibuka? (5/1992), karangan Pramudya Ananta Toer Maaf, Atas Nama Pengalaman (3/1992), wawancara dengan penyair Wiji Thukul (2/1991).

2. “Arena” Majalah Opini & Budaya Pluralis; terbit oleh Stichting ISDM (Informasi Studi Diskusi Manifestasi) Culemborg, sejak 1990; A5/halaman tidak menentu (rata- rata 75); dewan redaksi: Drs.Ronny Nussy, Saparua B Marlatu, Sahin M Christina, Marapati, Abe; desk-editor: A. Brata Esa.

3. “Aksi Setiakawan”, The Indonesian organization in The Netherlands in solidarity with the Common Man in Indonesia struggling for Freedom and Democracy; berkala “bulanan”, A4/lk. 10 halaman, tanpa mencantumkan penerbit, kecuali alamat: Postbus 22245 1100 CE Amsterdam.

4

. “Kancah”; majalah triwulan terbit 1981-1988 oleh Perhimpunan Indonesia Raya, Perancis; A5/halaman tidak menentu (rata-rata 75); pimpinan umum: Kusni Sulang; dewan redaksi: S.T.Gie, Haroen Al Rasyid, Aboeprijadi S., Joy Mangowal, Rye Bitang, Agus Woworuntu, Kusni Sulang, Puteh E. Sintami; distributor & koresponden: J.Junaid, Haroen Al Rasyid (Amsterdam), Aryana IG (Berlin Barat), Sutedjo (Hong Kong), Kuslya S.N. (Eropa Timur), B.Cokro (Amerika Latin), F.X.Atmodjo (Jakarta).

5

. “Kreasi Sastra Dan Seni”; majalah triwulan terbit sejak 1989 oleh Stichting Budaya, Amsterdam; A5/halaman tidak menentu (rata-rata 90 halaman); editor: D.Tanaera.

6. “Mimbar Informasi Studi Diskusi”; majalah opini pluralis triwulan, terbit 1990-1992 oleh Stichting “Indonesia Media” Amsterdam; A5/halaman tidak menentu (rata-rata 90);

penyaji/desk-editor: D.Tanaera.

7

. “Pembaruan”; majalah triwulan terbit 1983-1990, oleh World Citizen Press, Amsterdam; A5/halaman tidak menentu (rata-rata 70); penanggungjawab: Riduan Abadi; pimpinan redaksi: A. Aman; dewan redaksi: A.Aman, B.Sarkidin, S.Rahayu, D.Tanaera.

8

. “Api” (Angkatan Pemuda Indonesia); majalah triwulanan diterbitkan oleh PPI (Pemuda Pelajar Indonesia) Albania, 1967-1980; A4/halaman tidak menentu (rata-rata 50); redaksi (tanpa nama-nama tercantum) dipimpin oleh Anwar Dharma (koresponden Eropa “Harian Rakjat”, organ PKI); dengan rubrik tetap untuk kebudayaan, diisi dengan sajak, cerita pendek, dan esai. Majalah ini juga mempunyai edisi Inggris dan Perancis.

9

. “Indonesian Tribune”, terbit triwulan, 1967-1977 di Albania; A4/halaman tidak menentu (rata-rata 50); isi mengutamakan masalah perkembangan politik di Indonesia.

10

. “Tekad Rakyat”; terbit Helsinki, November 1967 Maret 1990; format saku/halaman rata-rata 30; kadang-kadang memuat karya sastra (sajak, cerita pendek), antara lain pernah dimuat karangan-karangan Rudi Harmain, Emha, dan Munir; redaksi tidak tercantum.

1

1. “OPI (Organisasi Pemuda Indonesia)”; terbit di Moskow, 19701980, dwi bahasa Indonesia-Rusia; majalah politik dan kepemudaan; redaksi tidak tercantum.

12

. “Marhaen Menang”; terbit di Moskow 1970-1980; redaksi tidak tercantum.

13. “S.R.I. (Suara Rakyat Indonesia)”; terbit di RRT, 197-?; mempunyai rubrik seni dan kebudayaan.

Diketik ulang:

Kockengen 11 Agustus 2003

Disunting ulang:

Tangerang 3 Februari 2011

sumber: http://www.facebook.com/note.php?note_id=200578919956920

Satu pemikiran pada “Lagi: Seni Eksil Indonesia

  1. Halo admin yang baik. Saya sedang melakukan penelitian tentang Sastrawan Eksil, Bisakah memberi info dimana saya bisa menemukan dokumentasi terbitan-terbitan yang terdapat kolom Sastranya. Terutama “Arah”, “Kreasi” dan “Arena”. Terimakasih. Salam, Mutia Sukma

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s