Senja Pertama di Bantalareja[1]

Senja Pertama di Unit XIV Bantalareja

Hersri Setiawan

Senja Pertama Di Bantalareja

[dari di sela intaian]

kenangan pada Mbakyuku Mia Bustam

untuk Tedjobayu dan adik-adik

Pintu gerbang unit kumasuki dengan hati dingin-dingin saja. Ia terbuka lebar. Gemboknya yang besar tergantung bisu. Lurus-lurus di seberang sana, pintu gerbang keluar. Tertutup. Rantai dan gemboknya kelihatan terpasang. Alang-alang setinggi lebih dari tubuhku tumbuh lebat di depan jajaran barak-barak. Lima bubung di sisi kiri dan lima lagi di sisi kanan. Semuanya beratap welit dan berdinding plupuh. Di belakang gerbang keluar itu hutan belukar. Juga di belakang barak-barak. Hanya di depan, di sisi wisma dan mes, hamparan sabana alang-alang dan kusu-kusu. Krinyu, kayuputih, laban dan gempol.

Ujung depan mes tonwal dibikin terbuka, untuk digunakan sebagai pos penjagaan. Ketika kami masuk, dua orang tonwal duduk tampak di belakang meja jaga. Beberapa pucuk karaben tersandar di dinding di belakang mereka. Di depan mereka, pada tiang pintu masuk, sebuah lonceng besi bekas bom panjang sekitar satu meter. Ia digantung pada kasau-kasau serambi. Nanti kami akan tahu, selain berperanan sebagai tanda waktu, lonceng ini menjadi pengatur nafas hidup kami siang-malam.

“Lapor dulu pada piket!” Perintah Sersan Andi Sose. Sambil ia sendiri langsung masuk ke mes.

Kami melapor. Sesuai dengan tatacara militer. Melepas topi pandan dari kepala, membungkukkan badan — seperti di zaman Nippon dulu.

“Lapor!” Dengan sikap siap sempurna. Berdiri tegak, dua tumit rapat, mata lurus ke depan, dua tangan di samping paha menggenggam tinju.

Lalu menyebut nama, berikut identitas diri selengkapnya, yaitu nomor baju dan nomor foto. Sesudah aku, ganti Pak Haji. Juga menurut cara yang sama.

Tonwal yang satu mendengarkan laporan kami, sambil mencocokkan dengan buku besar di depannya, dan tonwal yang lainnya memandangi kami dengan tatapan mata dendam.

“Tahu, di mana barak kamu?” Tanyanya.

“Saya sembilan. Bapak ini enam.” Jawabku sekaligus mengatasnamai Pak Haji.

Aku sempat membaca sekilas nama-nama mereka: Jance dan Sumual. Berpangkat setrip atau balok merah satu di lengan masing-masing. Prada atau Prajurit Dua. Nanti akan kami ketahui, mereka berdua tonwal-tonwal yang paling congkak berlagak perwira, dan galak seakan serigala. Sedikit-sedikit tidak segan menakut-nakuti dengan menembakkan bedil mereka ke udara. Seolah-olah harga sebutir peluru lebih murah dari semesting bulgur jatah kami satu hari. Karena lagak dan galaknya yang demikian itu, kelak kami menyebutnya sebagai bukan berpangkat “prada”, tapi berpangkat “let-tu”, kependekan dari “pelet” alias “balok” satu, bukan “letnan satu”.

Kami masuki pagar kawat, lalu berjalan menyusuri jalan setapak, sepanjang pagar kawat mes tonwal. Barak paling ujung di depan mata kami, itulah Barak VI di mana Pak Haji Rauf akan “tinggal selama-lamanya sampai mati”, kata Sersan Andi Sose. Aku terus menuju ke barakku sendiri, yaitu bangunan kedua dari yang paling kanan. Itulah Barak IX.

Tanah sepanjang teritis barak becek. Kubangan air di sana-sini. Lain dari tanah di desa-desa di Jawa Tengah umumnya, jika habis hujan, tanah di unit kami liat melumpur. Licin diinjak, dan lengket di telapak kaki.

Ketika aku masuk barak, di dalam sudah gelap. Waktu senja memang belum lewat. Tapi sinar matahari tertahan di balik hutan belukar di barat itu. Itu juga penyebab tanah becek dan lembab. Karena panas matahari tidak pernah sampai penuh di permukaan tanah.

“Baru sampai, Pak?” Sambut Irawan di depan pintu.

Bakal kepala barak kami ini seorang bangsawan murni bergelar “raden mas”, masih saudara sepupu Sultan HB IX. Ia bekas pimpinan PB IPPI [Pengurus Besar Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia], bersama Robby Sumolang yang juga penghuni unit kami.

“Ya. Aku membarengi Pak Haji Rauf.”

“Ha-ha-ha! Bawaannya sa-alaihim[2] ya, Pak?”

“Ya, aku juga heran. Maklum orang sudah tua, Mas …”

“Memang. Sejak di RTC[3] Tangerang kami sudah tahu. Pak Haji itu memang sudah nyusuh[4] kok, Pak.”

Aku melihat berkeliling. Teman-teman semua duduk berjuntai kaki di kapling[5] masing-masing, di bibir balai-balai plupuh yang memanjang dari depan ke belakang di kedua sisi barak. Mereka itu tidak bisa berbuat lain. Mau berbaring kaki masih basah berlumpur. Mau turun dari kapling, seluruh lantai barak itu berupa comberan belaka.

“Dari mana nomor kecil, Mas?” Tanyaku.

“Ujung kiri sini, Pak. Di sini Bung Giri. Bapak di kanan, kira-kira di tengah. Jejer Mas Heru.”

“Lho?!” Sahutku.

Karena menurut urutan nomor baju, aku harus di antara Syamsudin Gobel dan Mohamad Soleh Amat. Gobel bekas anggota Pemuda Rakyat, dan salah seorang dari beberapa pengawal Njoto, orang ke-3 CC-PKI. Soleh Amat pimpinan SBKB Pusat [Serikat Buruh Kendaraan Bermotor], guruku mengaji di RTC Salemba, dan sebelum itu sekretaris pertama Lekra Cabang Semarang.

“Ya. Beres, Pak!” Sahut Heru mendengar suara kebimbanganku.

Heru sedang duduk santai seperti teman-teman yang lain. Di lehernya melilit handuk kecil, seperti sejak pertama aku mengenalnya di Salemba. Ia bersandar di kaki kaplingnya, pada tiang barak. Tiang-tiang barak ini berupa batang-batang kayu bakau, kayuputih atau meranti, yang hanya dipangkas cabang-cabang dan rantingnya. Tanpa dibentuk dan tanpa dikuliti. Malah ada yang tampak mulai kembali bertunas.

“Saya minta tukar dengan pak Soleh.” Katanya menjelaskan. Setengah berbisik.

“Kenapa tidur saja pilih-pilih tempat?”

“Kesempatan kita bicara kan hanya waktu di tempat tidur?”

Belum sempat kujawab kata-kata Heru, Slamet Kondor masuk barak dipapah seorang kawan dari barak lain. Wajahnya pringisan menahan sakit. Kedua tangannya mendekap selangkang, sambil berjalan terseret-seret.

Heru melompat turun dari kaplingnya. Bersama Irawan mereka berdua memapah dan membaringkannya di kaplingnya. Kapling nomor 440. Kapling itu berselang satu dengan kaplingku, langsung di sebelah kiiri kapling Heru. Bantal dan beberapa ransel ditumpuk untuk mengganjel kakinya agar lebih tinggi dari datar tubuhnya.

Sesungguhnya ia bernama Slamet Karyadi. Dulu salah seorang anggota barisan keamanan PKI Comite Djakarta Raya (CDR). Ia ditangkap ketika kantor CC-PKI di Jalan Kramat Raya diserbu tentara, berselubung aksi massa KAMI-KAPPI. Ketika itu aku ada di tengah orang banyak, yang pada berdiri menonton di pinggir jalan. Slamet Karyadi dan sejumlah kawan penjaga keamanan bangunan partai melakukan perlawanan, dengan lemparan-lemparan batu dari dalam. Sedangkan dari luar “KAMI-KAPPI” merangsek, di bawah perlindungan tembakan-tembakan bedil. Tidak sampai satu jam kemudian truk-truk masuk, yang segera keluar lagi dengan mengangkut kertas-kertas dan orang-orang tangkapan mereka.

Seperti kawan-kawan penjaga keamanan lainnya, Slamet Karyadi tergolong jagoan beladiri pencak-silat dan karate. Ia mendapat siksaan berat selama dalam pemeriksaan tingkat pertama di Satgas Intel Pusat. Sejak itu ia menderita hernia berat, “turun berok”, “burut”, atau “kondor”. Maka sejak itu juga ia lebih dikenal dengan nama julukan: Slamet Kondor.

“Mana Mas Setiawan?”

Tiba-tiba kudengar suara cukup keras di belakang punggungku.

Ketika aku menoleh, seorang anak muda berkumis tipis, bermata bening dan berkulit hitam, melompat masuk dari jendela.

“Pak!” Irawan yang mau bicara, kupotong agar diam dengan isyarat.

“Tedjabayu!” Seruku. Kusongsong anak muda itu, langsung kupeluk erat-erat dan kuciumi.

“Mas Setiawan sudah mati!” Kulanjutkan seruanku, dengan suara yang sengaja agak kuperkeras. “Ini aku. Hersri. Adik Mas Setiawan! Kau ingat?”

Tedjabayu ganti memeluk aku erat-erat. Kupandangi matanya menahan airmata. Tentu teringat segala kenangan jauh di belakang. Ketika kami masih di Yogya. Sejak ia masih duduk di bangku kelas dua sekolah menengah atas, tinggal di rumah gedung di jalan Pakuningratan 40. Kemudian menjadi mahasiswa Gajahmada, giat dalam organisasi CGMI, dan tinggal di rumah bambu di pinggir Kali Gajahwong, bersama ibu dan adik-adiknya.

“Bagaimana dengan ibu dan adik-adikmu?”

“Dari kamp Ambarawa memang aku mendengar kabar itu. Mas Setiawan sudah mati.”

“Kabar bagus, bukan? Di tengah kemelut begitu, orang dikabarkan mati justru bagus.”

“Bagus kalau tidak benar. Kalau benar?”

“Entah benar entah tidak, terima sajalah … Jangan dipertanyakan, jangan dicari-cari. Seandainya benar sudah mati, kita juga bisa apa?”

Satu-dua jurus kami diam. Sama-sama mencerna kata-kata sendiri. Sama-sama mengenang ke masa-masa tenteram sekian tahun yang silam.

“Bagaimana ibu dan adik-adik?” Aku kembali ke pertanyaanku yang belum berjawab.

Lalu kuceritakan pertemuanku terakhir dengan ibunya, yaitu mbakyuku Mia Bustam. Kira-kira satu bulan sebelum “peristiwa” ketika itu, di emperan bangunan samping gedung CC-PKI. Mbakyu itu tidak bicara apa-apa, kecuali kadang-kadang memandangi aku lama. Seperti terlalu banyak yang hendak diceritakan, sehingga tidak tahu dari mana harus dimulai. Tapi kesempatan untuk itu memang tidak memungkinkan.

Ketika kami semua sedang istirahat, sehabis makan siang. Ada yang duduk di beberapa kursi yang ada di emperan, ada yang mengobrol sambil berdiri dan merokok, ada yang duduk asyik membaca koran. Aku sendiri “ngobrol” dengan mbak Sugiarti Siswadi, sambil duduk membalik-balik naskah kumpulan lagu-lagu rakyat Betawi dan daerah-daerah. Lagu-lagu ini diberi aransemen oleh Mohamad Sutiyoso, dan diberi syair baru entah oleh siapa, tapi dugaanku S.W. Kuntjahjo, Subronto K. Atmodjo dan Sudharnoto.

Naskah akan segera kami perbanyak dengan distensil untuk dibagi-bagikan pada delegasi daerah-daerah yang hadir di Ultah Ke-1 KSSR (Konperensi Seni dan Sastra Revolusioner), dan pada para sukarelawan “Dwikora” yang sedang latihan di Lanud Halim Perdanakusumah. Sugiarti Siswadi, yang berdiri di sisi kursiku, seorang perempuan penulis kiri terkemuka, di samping S. Rukiah Kertapati, ketika itu Ketua Panitia Ultah Ke-1 KSSR, dan aku Sekretaris panitia itu. Di sisiku yang lain sambil berdiri, Mbakyu Mia sedang berbisak-bisik dengan Zus Rukmini, istri Basuki Resobowo. Entah apa yang mereka percakapkan. Barangkali tentang sidang-sidang peringatan ulangtahun itu, atau tentang situasi umum yang memang telah mulai terasa naik suhu.

Tiba-tiba mobil Bung Aidit lewat di depan kami, hendak meninggalkan gedung kantor partai, menuju ke gedung kantor lain. Kantor pemerintah. Ketika itu ia, sebagai ketua parpol besar, ditetapkan sebagai “Menteri Koordinator / Wakil Ketua MPRS”, begitulah nama jabatan resminya. Seketika semua kawan-kawan yang sedang duduk bangkit dari kursi, kecuali aku, semuanya berdiri sampai mobil Bung Aidit lewat dan keluar dari halaman gedung.

“Dik,” kata Mbak Giek sengit. “Kenapa kamu tidak berdiri?” Yang kusebut ‘Mbak Giek’ ialah Sugiarti Siswadi.

“Memang harus berdiri?” Tanyaku polos. Bukan karena bermaksud membantah. Tapi aku, yang belum satu bulan datang kembali dari Kolombo, memang belum mengenal kebiasaan baru di lingkungan “keluarga partai”.

“Iya dong! Bung Aidit ‘kan sekarang menteri?” Tegasnya.

“Menteri ‘kan kalau di sana? Di sini Bung Aidit ‘kan masih tetap ketua kita, bukan?”

“Hisy! Lain kaki jangan diulang akh …!”

Suasana kembali tenang. Aku mencoba mengingat penglihatan sekilas bagaimana ketika mobil Bung Aidit lewat di depanku. Menurut penglihatanku tidak sekilas wajahnya berubah. Ia tetap senyum seperti biasa. Apakah senyum kosong? Ataukah senyum bermakna heran, melihat ada seorang kadernya yang belum kenal kebiasaan baru sejak dia menjadi menteri? Tentu saja hanya dia yang tahu!

“Ya. Tiba di rumah ibu juga cerita tentang semuanya itu.” Kata Tedjabayu.

“Sekarang ibu di mana?”

“Di Plantungan.”

“Plantungan?” Sahutku kaget.

Aku diam tertegun. Mia Bustam juga ditangkap, dan bahkan ikut dikirim ke kamsing perempuan di Plantungan! Sungguh tidak masuk di akalku. Perempuan yang santun lembah manah, dan tidak bisa bicara politik dengan nada kental itu! Ditangkap bisa saja. Karena dia bekas istri pelukis kiri sebesar S. Sudjojono. Karena dia anggota pimpinan Lekra Cabang Yogya. Karena dia ibu Tedjabayu yang aktivis CGMI. Tapi bahwa dia termasuk dibuang ke kamsing Plantungan bersama Salawati Daud anggota MPRS, Ny. D. Susanto anggota DPRD, dokter Sumiarsi yang dijuluki “dokter lubangbuaya”, dan tokoh-tokoh politik perempuan terkemuka lainnya itu?! Sungguh tidak masuk akal!

“Lalu adik-adik?” Tanyaku.

“Sekarang aku tidak tahu. Ketika itu Nasti. Nasti terpaksa harus menggantikan peranan sebagai ibu untuk adik-adik. Kadang dibantu Pak Salam[6] dan Pak Yudho”[7].

Tiba-tiba terdengar bunyi lonceng berdentang-dentang. Mata semua teman, kupikir juga mataku sendiri, seketika membeliak kaget. Ini pengalaman pertama dalam hidupku, hidup kami, ada bunyi lonceng yang memberi isyarat yang tidak kami mengerti. Kentong gobyok di desa kami tahu. Itu isyarat ada lampor atau serangan udara kapal terbang musuh. Lampor ialah berita desa adanya iring-iringan makhluk halus Nyai Lara Kidul, liwat menyusuri arus Kali Progo menuju ke Kyahi Dhiwut Merapi di Gunung Merapi sana.

“Lonceng apel!” Seru Tedjo memberi tahu kami. Ia sudah satu tahun menghuni Unit IV Savanajaya. Tidak lagi asing mendengar dentang bunyi lonceng kapan saja pun dipukul.

“Savanajaya juga jam enam apel sore. Nanti masih satu kali lagi. Apel malam, sebelum tidur. Sekitar jam sembilan.” Ia menjelaskan.

“Kenapa kau masih di sini? Nanti terlambat …”

“Aku masih terhitung korve, Mas.” Jawabnya. “Aku ikut membangun unit ini. Dari pengukuran tanah, land clearing, menebang pohon untuk bangunan, sampai pasang welit terakhir …”

“Kata sersan tonwal, zeni bangunan?”

“Zibang itu cuma pegang gambar, kasih perintah, sama nempelengi orang, kita-kita ini …”

Ia segera menuju ke jendela.

“Aku di barak satu, Mas!”

Katanya sambil berpaling, dan melompat jendela. Hilang menyelinap di balik kusu-kusu. Seperti seekor kijang hutan.

Menunggu tonwal pengambil apel tiba di barak kami, Barak IX, pikiranku kembali melayang pada keluarga Sudjojono di Yogya, sepeninggal suami dan ayah mereka ke Jakarta. Kisah-kisah ketika ia menjadi anggota parlemen dari fraksi PKI, lalu mencerai istrinya dan mengawini penyanyi Rose Pandanwangi. Ketika “Harian Rakjat” memberitakan tentang pemecatannya dari keanggotaan partai karena perkawinannya yang kedua itu. Tentang Tedjabayu dan tujuh adik-adiknya, yang semuanya masih bocah. Semuanya ini aku ketahui melalui surat-surat ibunya yang dikirim kepadaku di Kolombo, selama lima tahun terakhir sebelum tahun 1965.

“Mbakyu Djon” sendiri sejak perceraiannya dengan suaminya, mengambil nama Mia Bustam, dan memperbanyak melatih diri untuk tumbuh menjadi pelukis. Pada tahun 1964, kudengar kabar, Mia Bustam pernah memamerkan karyanya bersama beberapa perempuan pelukis lainnya, seperti S. Ruliyati, Kartika Affandi, dan isteri Edy Sunarso [aku lupa namanya].

Salah satu lukisan Mia Bustam yang disenanginya, melukiskan keluarga mereka ini menatap masa depan yang sulit, namun dengan pancaran keberanian dari wajah-wajah mereka. Mia Bustam sebagai figur sentral, di bawah di kiri dan di kanan Tedjabayu dan tujuh adik-adiknya. Bidang di kiri bawah masih terasa kosong. Entah wajah imajiner siapa yang akan ditambahkannya di sana.***

kockengen, 15 juni 2003

[1] Tulisan ini disiarkan pertama 15 Juni 2003 melalui jejaring ‘Apa Kabar’; kemudian tercantum dalam Memoar Pulau Buru, 2004: 130-138.

[2] Ungkapan dalam bahasa gaul untuk ‘sangat banyak’ atau ‘sangat besar’.

[3] Rumah Tahanan Chusus

[4] Dikatakan terhadap perangai orangtua yang sudah suka menyimpan benda apa saja, seperti burung betina yang mengambil reranting, rerumputan atau apa saja yang bisa dipakai sebagai ‘susuh’ (sarang).

[5] Jatah ruang untuk tidur di balai-balai plupuh memanjang, lk. 2,5 x 3 meter.

[6] Abdulsalam; peserta pendiri dan pengajar ASRI [Akademi Seni Rupa Indonesia]; pendesain uang kertas ORI [Oeang Repoeblik Indonesia], uang kertas RI pertama; sebagai tokoh yang boleh dibilang pelopor penulisan cerita-cerita bergambar [cergam], ia menerbitkan cergam tokoh-tokoh pahlawan nasional; meninggal di Yogyakarta 1981. Sosok profilnya pernah kutulis di Kompas Minggu, rubrik “Di Mana Dia Sekarang?”, 1980.

[7] Yudhokusumo; Kartono Yudhokusumo, pelukis satu angkatan S. Sudjojono, Affandi, Agus Djaja dkk; peserta pendiri SIM [Seniman Indonesia Muda], juga ASRI seperti halnya Abdulsalam.

sumber: http://www.facebook.com/notes/hersri-setiawan/senja-pertama-di-unit-xiv-bantalareja/191042344243911?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s