Ziarah Ke Pulau Buru

Eks-Tapol Meninjau Kamp Tawanan Suharto (sebuah reportase)

Willy van Rooijen

‘Mengapa aku gelisah? Aku toh sudah pernah di ambang maut?’ Hersri Setiawan, penyair berasal Jawa, bertahun-tahun hidup sebagai tapol di Buru di Kepulauan Maluku. Dua puluh tahun sesudah bebas, sekarang tinggal di Belanda, ia kembali ke Buru. ‘Aku ingin melihat lahan sawah yang aku ikut mencetaknya. Ziarah ke makam kawanku yang mencoba melarikan diri dari kamp.’ Willy van Rooijen mengikuti perjalanan ziarah itu.

RUANGAN sempit KM ‘Kerapu’, kapal malam antara Ambon dan Buru di perairan Maluku, penuh penumpang. Keluarga lengkap dengan segala harta milik mereka, masing-masing di atas alas tidur plastik merah yang ratusan banyaknya. Bau keringat bercampur dengan minyak kapal dan pesingnya WC menusuk hidung.‘Ini sama sekali lain dari perjalanan lautku dua puluh tahun lalu’, kata Hersri. ‘Tujuh hari tujuh malam di atas kapal barang dari Jakarta ke Buru dengan 1500 tapol. Dalam satu dua hari saja WC sudah mampat, dan tinja meluap ke mana-mana.’ Menyusul sesudah Suharto berkuasa dalam tahun 1965, terjadilah pengejaran besar-besaran terhadap semua orang yang dipandang kiri. Sekurang-kurangnya setengah juta mati dibunuh, khususnya di Jawa dan Bali; ratusan ribu lainnya meringkuk di belakang trali penjara.

Hersri ketika itu anggota Lekra, satu organisasi kebudayaan berhaluan kiri. Lima tahun ia di Sri Langka, sebagai wakil untuk organisasi pengarang Asia Afrika. Kembali ke Jawa Agustus 1965 ia ditangkap, dan dijebloskan ke penjara karena pendiriannya yang ‘bersimpati pada Komunis’. Mula-mula dipenjara di Jakarta, dan sejak 1971 dideportasi ke Pulau Buru. Sepanjang sepuluh tahun lamanya, 1969-1979, Pulau Buru menjadi tempat pembuangan yang mengerikan bagi lebih 12000 tapol. Rezim Orde Baru berusaha menjadikan Buru sebagai pulau pembuangan selama-lamanya. Tapi berkat tekanan terus-menerus Amnesti Internasional dan organisasi-organisasi pembela HAM lainnya, hampir semua tapol buangan di sana, dalam akhir 1970-an dibebaskan. Begitu pun halnya dengan nasib Hersri.Ia kembali ke Jawa yang dicintainya, menikah dengan seorang perempuan Belanda dan, dengan membawa seorang anak perempuan, pada sekitar pertengahan tahun 80-an pindah ke Belanda. Di negerinya ini istrinya meninggal tak lama sesudah itu.

Sekarang aku sudah 62 tahun. Aku tidak ingin menunggu lebih lama lagi. Seorang teman paranormal di Jakarta, juga bekas tapol, memang memperingatkan. ‘Belum datang waktumu untuk pulang’, katanya. Kupikir ia masih di bawah bayangan rasa takut yang tak disadarinya. Kata ‘Buru’ masih menimbulkan perasaan kengerian. Ini juga disebabkan karena sampai akhir tahun 80-an – berarti sepuluh tahun sesudah pembebasan tapol terakhir – Buru masih tetap tertutup bagi orang dari luar pulau ini.’

Jangkrik di telinga

Dengan ‘harga khusus’ kami dapat menyewa kamar mualim kapal. Tapi Hersri tidak bisa tidur. Bukan karena udara yang terlalu panas, atau kokok ayam-ayam jantan yang bersahut-sahutan terus. Musik pop yang diputar keras di ‘kafetaria’ juga tak didengarnya. Telinga kirinya sama sekali tuli, karena pernah dimasuki jangkrik oleh tonwal ketika di Buru. Ia harus menebus dosa temannya yang melarikan diri dari kamp.

‘Berbagai kenangan dan perasaan campur aduk di kepalaku. Dulu ketika di kapal sebagai budak, kami dijaga tentara. Sekarang aku merasa aneh. Lain dari penumpang-penumpang lain. Aku bekas tapol. Siapa tahu, ada juga intel di antara awak kapal itu. Baru saja seorang penumpang menanyai aku: siapa kamu, apa kerjamu, punya istri atau tidak.’ ‘Tapi Hersri, sebagai orang asing, mendengar rasa ingin tahu orang, kau toh sudah biasa?’ ‘Ah, aku selalu siap menghadapi apa saja dari sudut yang paling sulit’. Kata Hersri tertawa, membuang rasa takut sendiri. ‘Itu aku belajar dari kehidupan di penjara. Tapi aku tidak boleh melarikan diri dari rasa takut. Karena kalau perasaan demikian tetap mengeram di bawah sadar, justru bisa menjadi beban psikis. Sekarang aku ke sini untuk bertemu teman-teman lamaku, yang sesudah dibebaskan tahun 1979, tetap tinggal di Buru menjadi petani. Ingin aku melihat kembali lahan sawah dan jalan-jalan yang dengan kerja paksa telah kami buka. Melihat barak tempat aku pernah disiksa, ketika Heru temanku mencoba melarikan diri. Katakanlah ini perjalanan ziarah. Tidak ke Mekah, tapi ke pulau simbol perbudakan. Ke tempat penyucian untuk membersihkan diri. Ibarat belajar dari segala gambaran melalui cermin balik’.

Matahari masih belum terbit ketika Hersri bangun. Wajahnya menatap ke kejauhan, ke garis pantai Pulau Buru yang mulai tampak. Pulau ini satu setengah kali lebih besar daripada Bali. Tapi sampai saat akhir-akhir, Buru masih sangat terisolasi. Berpenduduk jarang, karena hanya sekitar seratus ribu orang saja. Penduduk pribumi tinggal di pedalaman yang berbukit-bukit, sedangkan daerah sepanjang pantai dihuni pendatang dari Ambon, Bugis, Buton dan pulau-pulau sekitar.

Sesudah tapol dibebaskan, lahan dan kediaman mereka yang bekas sabana dan hutan itu, diambil alih oleh puluhan ribu transmigran ‘biasa’ dari Jawa yang padat penduduk. Mereka tiba di tempat yang sudah cukup memberi jaminan: bentangan lahan sawah dan ladang, jaringan jalan dan prasarana lain-lainnya, semua sudah tersedia oleh sepuluh tahun keringat kerjapaksa dua belas ribu tapol.KM Kerapu mengitari tanjung dan masuk Teluk Kayeli ‘yang luas dan indah, seperti pelabuhan armada yang sudah berabad-abad ditinggalkan’, sebagaimana Pramudya Ananta Toer melukiskannya dalam ‘Nyanyi Sunyi Seorang Bisu’ itu.

‘Taksi!’ Sapa seorang muda berambut cepak pada kami di dermaga. Sopir benar, atau intel? Tanya Hersri pada diri sendiri sepanjang jalan. Apakah tidak akan langsung membawaku ke Jiku Kecil, bekas Markas Komando dan barak transito tapol dulu?‘Kenapa aku takut?’ Pikirnya. ‘Aku toh mengantongi paspor Belanda? Dan sudah mengalami segala, bahkan berada di ambang maut?’ Cawat dan tombak Mikrobus memasuki jalan utama di antara sederetan toko-toko Tionghwa. ‘Ikutilah kursus komputer kita!’ Terbaca di spanduk yang baru direntang melintang jalan. Hersri terheran-heran.

‘Luar biasa, semuanya berubah sudah! Ketika aku datang tahun 71, selain jip Komandan tidak ada mobil atau becak satu pun. Yang nampak hanya atap-atap daun sagu dan sedikit seng. Penduduk pedalaman Buru dulu berjalan hanya bercawat dan bertombak. Bibir mereka merah karena pinang dan sirih. Aneh juga rasanya. Tidak ada satu tentara pun tampak di jalan!’ Semua berubah. Hanya panas terik luar biasa udaranya yang tetap sama saja. Kami tinggal di hotel milik orang Tionghwa. Kecil dan baru, terletak di pinggir pantai. Terlepas dari sampah-sampah yang menyelimuti pasir di tepi pantai, kami bisa menikmati pemandangan Teluk Kayeli yang indah, di mana perahu-perahu nelayan berlabuh.

Hersri: ‘Di pelabuhan lama dekat mesjid sana itu, dulu tempat kami jongkok sepanjang hari di bawah sengatan panas matahari. Dengan sembunyi-sembunyi penduduk memberi kami makanan dan minuman, walaupun propaganda pemerintah menamai kami para pembunuh dari Jawa. Di seberang sana itulah terletak desa Sanleko.’ Katanya diam-diam merenung. ‘Dari pelabuhan nelayan itu kami sepanjang hari, dengan menggendong bawaan masing-masing, berjalan kaki ke pedalaman menuju bangunan barak-barak di unit. Berjalan dengan kaki telanjang dan telapak yang belum kapalan, menginjak tunas-tunas alang-alang yang tajam menusuk seperti paku.’ ‘Unit! Unit! Teriak sopir-sopir Daihatsu, yang bertrayek dari pasar ikan Namlea ke daerah sabana di pedalaman. ‘Mako! Mako!Dua kata itu, ‘Unit’ dan ‘Mako’, adalah istilah-istilah lama yang tetap lazim digunakan sesudah selang dua dasawarsa. Begitulah! Walaupun dua puluh unit barak-barak yang tersebar di sana-sini di seluruh lembah Wai Apu itu sudah diubah menjadi ‘desa biasa’ dengan penghuni yang transmigran ‘biasa’ pula.

Tujuan kami pertama ialah Savanajaya. Di sini sejak awal tahun 70-an didiami sekitar dua ratus tapol yang, sering kali melalui ‘paksaan halus’, telah disusul keluarga mereka. Pada akhir tahun 70-an sebagian besar dari dua belas ribu tapol pulang kembali ke tempat asal masing-masing. Tapi ada sebagian kecil yang tetap tinggal di sana. Terkadang karena alasan pribadi, misalnya karena istri telah kawin lagi. Terkadang karena menyerah pada tekanan pemerintah, yang menggambarkan hari depan di rumah semula yang tak lagi menentu. Sebagai imbalan kesediaan mereka tetap tinggal di sana, masing-masing keluarga tapol mendapat sebuah rumah dan tanah dua hektar.Di antara keluarga itu yang pertama kita cari ialah keluarga suami-istri Purwadi. Bagiku kunjungan ini merupakan yang kedua kali dalam lima tahun. Ketika itu aku membawa titipan surat Hersri untuknya.

Hersri: ‘Bagi kami rumah mereka di Savanajaya ketika itu menjadi semacam pos perhentian ilegal pada saat korve. Ibu Purwadi selalu menghidangi kami dengan minum dan makan.’ Buku sebagai azimat Kami mendaki pegunungan karang di atas kota Namlea, menuju kampung Batuboi. Dulu, sebelum perang, di sini Beb Vuyk dan suaminya mempunyai konsesi kebun kayuputih. Roman-roman karyanya, Het laatste huis van de wereld (Rumah terakhir di dunia) dan Het hout van Bara (Kayu dari Bara), aku rawat baik-baik bagaikan azimat. Dengan begitu kalau ada pertanyaan yang macam-macam tentang kehadiranku di sini, aku selalu bisa menjawab untuk meriset penulis perempuan Indo ini.

Tanah di sana-sini kelihatan hitam hangus, dan pohon-pohon bertunas hijau segar sehabis mengalami pembakaran peremajaan. Hersri tenggelam dalam pemandangan yang sama sekali tak menarik itu.‘Di sana itu gunung Nona,’ kata seorang penumpang bertubuh kurus dan berwajah hitam keras. Ia baru kembali dari pasar Namlea menjual gula merah. Ternyata ia orang berasal Yogya, seperti juga Hersri.‘Sudah berapa lama Bapak di sini?’ tanyanya.‘Sejak 1969!’‘Begitu lama sudah?’

‘Ya, ya. Saya transmigran khusus.’ Kata laki-laki itu menahan tawa.Hersri menyenggol aku dengan penuh arti.

Satu jam kemudian kami turun di jantung Savanajaya. Purwadi menyilakan kami mampir ke rumahnya yang berdinding papan bercat putih. Seorang perempuan kurus mengulurkan salamnya kepada kami.‘Bu Purwadi!’ Seru Hersri.Kebingunganku menjadi lenyap, karena seketika aku ingat laki-laki itulah Purwadi. Suami perempuan ini. Semula aku pangling. Tapi bagi Hersri sudah terang sejak masih di tengah perjalanan tadi. Purwadi sendiri tak mau membuka mulut, karena ada banyak penumpang lain.‘Saya pernah sakit pendarahan otak’, kata Purwadi. ‘Karena itu saya kelihatan lebih tua dari umur saya’. Dahulu, selain bekerja sebagai buruh pabrik gula di Yogya, Purwadi pemimpin klub sepakbola dari Pemuda Rakyat, organisasi pemudanya PKI.‘Saya sudah tua. Enam puluh tahun sekarang. Ketika datang di sini saya baru umur tiga puluh. Jalan raya ke Namlea itu saya dan kawan-kawan yang mengerjakannya.’

Walaupun mengaku pernah diserang pendarahan otak, namun gerak gerik wajahnya begitu hidup seperti pemain pelawak dalam pertunjukan wayang. Istrinya baru 24 tahun, ketika menyusul pada tahun 1972, dan dalam keadaan mengandung. Juga anak laki-lakinya yang berumur enam tahun diajaknya.‘Saya dipanggil penguasa militer di Yogya. Ditanya, apakah saya tidak ingin menyusul suami. Saya bingung. Tidak tahu persis, apa di sana cukup makan. Karena itu ibu mertua melarang, dan juga melarang saya mengajak anak perempuan kami. Walaupun begitu saya memberanikan diri, karena ketika itu kami masih pengantin baru.’

Terhadap ibu-ibu istri tapol umumnya penguasa selalu melakukan tekanan. Seluruhnya sekitar dua ratus istri disusulkan ke Pulau Buru. Terkadang terjadi pertemuan yang menyakitkan, karena si istri datang dengan anak-anak yang lahir dari laki-laki lain.‘Penguasa berjanji, di Buru kami akan dibebaskan. Tapi nyatanya kami tidak boleh keluar dari unit tanpa surat jalan. Saya sering merasa di sini saya bahkan ikut menjadi tapol.’ ‘Istri saya orangnya ulet lho!’ Kata Purwadi bangga. ‘Ia selalu berani melawan tonwal!’‘Saya kan datang sebagai orang bebas. Tapi pada akhirnya saya selalu kalah. Habis? Mereka selalu membawa besi di tangan. Bedil!’ Tambahnya sambil tertawa besar.

Tak lama kemudian kamar tamu Purwadi segera penuh dengan sesama bekas tapol. Mereka datang masih dalam pakaian kerja. Berita tentang kedatangan tamu dari Belanda segera menjalar cepat. Dengan perasaan galau mereka merangkul Hersri.‘Jadi Pak Hersri tidak melupakan kami?!’

Tiba-tiba masuk seorang laki-laki bertubuh gempal.‘Unit 14!’ Serunya sambil menudingkan jari telunjuknya. Sementara itu ia membungkuk di depan kaki Hersri, dan hendak mencium punggung tangannya. Hersri menolak penghormatan ini.‘Aku toh bukan haji!’ Gumamnya kepadaku. ‘Muid berasal Surabaya, Jawa Timur.

Orang Jawa Timur lebih spontan daripada kami yang dari Jawa Tengah.’Muid mengingat kembali ketika Hersri menjadi koordinator unit. Dengan cerdiknya ia memprakarsai ledingisasi dari bambu, sehingga tapol tidak perlu lagi susah payah membuang waktu memikuli air dari bawah ke atas. Unit itu terletak di puncak ketinggian. Unit 14, semasa Hersri menjadi koordinator, untuk pertama kali panen padi berhasil dan bahkan overproduksi. Ketika itu Hersri benar-benar pahlawan mereka.

Menteri Pronk

Satu demi satu kenangan dan anekdot dituturkan kembali sambil tertawa, namun dengan nada pahit.‘Anda tahu, Menteri Pronk tahun 91 mengunjungi kami?’Ngantung, pocokan guru bahasa Inggris di Savanajaya, ikut dipanggil untuk menemuinya.‘Apa yang masih diperlukan?’ Tanya Menteri Pronk.‘Saluran irigasi.’Pronk menyanggupi memberi bantuan untuk itu. Tapi akhirnya urung karena Suharto pada musim semi 1992 menolak bantuan pembangunan Belanda.

Muid: ‘Juga Pronk tanya, apakah kita senang dan mau tinggal di Buru. Tentu saja! Jawab kami. Mau menjawab apa lagi, jika intel-intel ada di sekeliling kita? ’Udara di kamar tamu semakin bertambah panas. Di dapur sebelah, nira aren sudah mendidih merah kecoklatan. Siap dicetak menjadi gula, untuk dijual ke pasar Namlea esok hari. Membuat gula sekarang menjadi matapencarian mutlak keluarga Purwadi, karena kemarau panjang yang belum pernah sebelumnya dialami telah membuat sawah dan ladang menjadi bera.

Tahun-tahun yang sudah penghasilan cukup dipetik dari sawah. Tapi sekarang tidak ada seorang pun yang bisa bersandar sebagai petani sawah. Tambahan lagi banyaknya penebangan hutan di atas, mengakibatkan erosi tanah semakin menjadi-jadi.‘Sebagai bekas tapol kami sulit mendapat kredit usaha dari bank. Beda dengan transmigran biasa’. Keluh mereka. ‘Anak-anak bisa kami sekolahkan. Tapi pintu pekerjaan sebagai pegawai negeri tertutup buat anak-anak kami, karena masa lalu orangtua ‘yang tidak bersih’. Ya, melalui Wereldomroep Hilversum mereka mengikuti berita pasang surut gerakan demokrasi yang sedang bergolak.

Ngantung: ‘Cuma saya harap, jika nanti perang sudah dimenangkan, pikirkanlah juga kami kaum paria Orde Baru ini.’ Muid membawa kami ke rumahnya. Bukannya gambar Yesus disalib yang tampak, seperti di rumah Purwadi yang Katolik, tapi kaligrafi Islam. Tapi selebihnya, keadaan rumah bekas tapol hampir sama saja terbuat dari papan-papan jadi yang dipaku satu sama lain dalam sehari.Belum lagi kami masuk rumah, air mata Muid mulai mengalir. Demikian juga istrinya. Anak gadisnya yang lima belas tahun duduk dengan mulut terkunci. Akhirnya Muid memecah kesunyian.‘Pak Hersri, kok justru sampeyan yang jauh dari Belanda datang menengok kami di sini. Tidak ada satu orang pun dari teman-teman kita dulu pernah datang. Juga Pak Pramudya tidak! ‘Sebenarnya sampeyan itu datang menengok bangkai, Pak! Dulu saya masih bisa berpikir. Tapi sekarang? Sesudah bertahun-tahun di Buru, otak saya sudah menjadi kosong. Sama sekali kosong.’ Kata Muid sambil memukul kepalanya sendiri. ‘Hari depan kami sudah gagal sama sekali. Hidup kami sekarang tinggal untuk anak-anak. Kami sangat mengutamakan pendidikan mereka. Agar dengan begitu mereka bisa mendapat tempat di tengah kehidupan. Itu lah yang membedakan kami dengan transmigran biasa. Mereka itu lebih tertarik pada teve berwarna dan barang-barang mewah. Anak-anak kita harus lebih sungguh-sungguh lagi membuktikan, bahwa mereka anak-anak eks-tapol. Bukan anak-anak kriminil.’

Ketika Hersri dan aku berjalan ke jalan besar Muid menyusul.‘Jangan banyak bicara dengan orang lain,’ katanya. ‘Kita masih tetap harus selalu berhati-hati.’ Rasa bersalah‘Emosiku? Tidak ada! Biasa-biasa saja!’ Kata Hersri suatu petang, ketika kami duduk di ‘Lily’, satu-satunya restoran sekaligus bar-karaoke di Namlea. Tampak satu dua pelacur sia-sia menunggu langganan mereka. ‘Atau mungkin justru terlalu banyak emosiku sehari ini?Apa yang kuhadapi terasa lebih besar. Ada perasaan bersalah padaku di depan kawan-kawan lamaku itu. Mereka dari hari ke hari harus membanting tulang untuk bisa hidup, sedangkan aku dapat terbang dari Belanda ke Jakarta. ‘Kami senang bertemu sampeyan,’ tegas mereka kepadaku. ‘Dan kami bangga ketika mendengar, sampeyan mendapat hadiah nomor satu untuk karangan tentang anak-anak di Buru’. ‘Saudara-saudara semua hanya orang-orang yang terlupakan.’ Kataku kepada mereka. ‘Saudara-saudara tidak mati’. Kepada mereka aku berjanji akan menceritakan tentang keadaan mereka setibaku di Jakarta. Tulislah surat barang sepucuk untuk mereka. Cerita dan harapan ini sudah kusampaikan juga kepada Pramudya di Jakarta.’

Tiba di hotel Hersri menulis sebuah sajak, Pertemuan: ‘(…) semua angan-angan / semua perasaan / tenggelam di kedalaman / biru teluk Kayeli / kelabu bukit Palatmada / semua mencari jalan / keluar (…)’ Sesudah hari pertama Hersri kelihatan lebih merasa santai. Kami tidak perlu menyerahkan paspor ke pos militer, beda dengan pengalamanku lima tahun yang lalu. Tidak ada seorang turis pun kami jumpai.Hari-hari berikutnya lebih banyak lagi kami bertemu kawan-kawan lama sesama tapol dan keluarga mereka. Di mana-mana kami dijamu makan, minum, dan macam-macam makanan kecil.

Pada suatu siang yang terik kami, bersama beberapa kawan sekamp, jongkok di bawah naungan pohon-pohon kemboja di puncak bukit, di depan makam kawan-kawan yang mati terbunuh atau karena kecelakaan. Pohon-pohon kayuputih di sekitar kami menyebarkan baunya yang harum dan tajam. Di kejauhan tampak gunung gunung membiru, menjadi pagar alam yang membentengi ‘kamp kerja’ Buru.Sekalipun alamnya tidak bersahabat, toh ada sementara tapol yang berusaha melarikan diri dari unit. ‘Heru kawan baikku selama di tahanan,’ kata Hersri berkisah.‘Ia bernomor deportasi 438, sedang aku 437. Jadi kami harus selalu tidur berdekatan satu sama lain. Pada suatu hari Heru melarikan diri. Kepala barak dan aku harus menebus dosanya: semalam suntuk kami direndam berbaring di saluran pembuangan yang kotor. Terkadang terlentang, terkadang tengkurap. Menurut aba-aba tonwal-tonwal yang berdiri di pinggir got, sambil mengancamkan karaben masing-masing. Kalau pantat sedikit saja terangkat di atas air, sepatu lars menginjaknya. ‘Ampun! Ampun!’ Temanku senasib itu terus-menerus sesambat. Aku tetap diam. Tapi pada akhir kisah, ketika hukuman sementara disudahi, justru aku yang congkak dan tak mau minta ampun ini tak bisa lagi berdiri. Aku terpaksa harus digendong teman-teman untuk kembali ke barak. Sebaliknya temanku senasib itu! Tanpa susah sedikit pun ia berdiri, dan terus lari ke barak.’

Unit 14 mendapat nama resmi Unit Bantalareja. Hersri ingin melihat kembali baraknya, Barak IX, dan tempat ketika ia disiksa, tapi sudah tak ada lagi jejaknya. Rumah-rumah transmigran telah menggusur hilang tempat-tempat bersejarah baginya itu. ‘Aku baru dengar, ternyata kuburan Heru di Air Mendidih.Sangat jauh. Ia ketika itu memutuskan lari, karena toh merasa tidak akan kehilangan apa-apa. Ayahnya sudah mati. Ibunya, Ibu Munapsiah, dijatuhi hukuman mati sebagai pimpinan Gerwani dan karena Peristiwa Blitar Selatan, istrinya diperkosa opsir tentara. Heru akhirnya meninggal di Buru karena sakit lever, ketika aku sudah kembali ke Jawa. Ketika pada 1978 aku dibebaskan, kepada Unit aku tawar. Supaya dia bisa menggantikan aku. Karena di Buru ia tidak akan mungkin sembuh dari penyakitnya itu. Tapi usulku itu ditolak. Pada batu nisannya kawan-kawan memahatkan beberapa baris sajakku untuknya. Sayang sekarang aku tak bisa melihatnya. Tapi jika benar, bahwa sesudah mati orang berubah menjadi roh, Heru pasti tahu kalau aku sudah datang di sini.’

Para komandan kamp Pada hari kami bertolak kembali ke Ambon, Hersri mengirim surat ke Belanda, untuk anaknya yang enam belas tahun. ‘Surat dari orang yang bebas’, katanya dengan nada kemenangan. Untuk perpisahan dengan bekas teman sebaraknya, Ngantung, aku ikut mereka bernostalgia berjalan-jalan mengelilingi Namlea. Tapi hujan turun. Kambing-kambing berteduh di bawah emper. Mula-mula menuju ke Mess Pattimura, bekas losmen tentara, tempatku menginap lima tahun yang lalu. Ketika itu losmen ini merupakan losmen satu-satunya di Namlea yang bebas dari nyamuk malaria. Di halaman dalam dulu tumbuh semak-semak melati yang berbunga harum. Tapi sekarang sudah tidak ada lagi, habis dicabut sampai ke akar-akarnya.

Hersri sibuk mengambil foto. Ketika dilihatnya, di sudut halaman itu, ada satu prasasti. Di atasnya terpahat nama-nama semua komandan kamp di Buru. Sementara itu aku mengalihkan perhatian pelayan dengan mengajaknya bicara. Ngantung menyingkir, entah di mana. Kemudian kami bersama Ngantung berdiri di dekat gudang, di pelabuhan lama yang sudah tidak lagi digunakan. Dahulu Ngantung awak motorbot Unit, alat pengangkut beras, papan dan sagu – hasil produksi Unit yang hanya menjadi manfaat militer penguasa. Tapi kemudahan ini dimanfaatkan juga oleh dua zuster Gereja Katolik, seorang Indonesia dan seorang Belanda, yaitu Zr. Fransiska dan Zr. Sesilia. Mereka dengan diam-diam mencari obat-obatan dan menyelundupkannya ke unit-unit tapol melalui motorbot-motorbot itu. Bangunan Susteran Namlea masih tetap ada sampai sekarang, dan dipakai menjadi sebuah sekolah menengah.Tapi dua suster itu sudah lama meninggal.

‘Kami selalu mengingat beliau sebagai Dan Unit dan Wadan Unit nomor sekian. Sebutan penghormatan itu kami berikan, karena mereka selalu berani mengecam keras jika terjadi penyiksaan terhadap tapol oleh para penguasa. Berkat dua suster ini juga sesungguhnya naskah-naskah Pramudya berhasil diselundupkan keluar.’ Menyelundupkan obat-obatan dan koran, diam-diam memonitor radio, semuanya menjadi tugas sampingan tapol seperti Ngantung, yang kadang kala mendapat kesempatan turun ke Namlea.‘Membaca, selain Kuran dan Injil, sama sekali terlarang.’ Kata Hersri. Ia merasa sedih melihat antene parabola besar-besar di mana-mana di segenap sudut Namlea. Tapi tidak ada koran atau majalah dijual di toko-toko.‘Mengapa justru sekarang budaya membaca menjadi hilang di kalangan eks-tapol. Padahal ketika itu teman kita Munajid diborgol dan dilempar mayatnya ke kali Wai Apu, karena tertangkap basah membaca sesobek harian Kompas!’

Kapal malam menuju Ambon kembali penuh sesak.‘Lihatlah!’, kata Hersri. ‘Alangkah banyak sayuran yang diangkut para transmigran ke Ambon, walaupun dalam musim kering begini! Diakui atau tidak, itulah berkat hasil kerja kepeloporan tapol. Sebenarnya ingin aku kembali turun ke sawah. Tapi sayang tanah di mana-mana sama sekali kering.Ingin aku mencium bau lumpur lagi, dan merasai cipratannya yang segar ke kulit tubuh yang telanjang!’ Yuris memanjat pohon kelapaKami membenahi alas tidur yang bersarung plastik berwarna merah. Udara sarat dengan campuran berbagai bau: sengak keringat, pesing kamar mandi, oli mesin kapal. Ditambah lagi minyak kayuputih, keistimewaan Pulau Buru, yang dibawa penumpang dalam botol-botol besar. Aku ingat kembali pada Ngantung. Dan Ibu Purwadi yang gagah dan periang, meninggalkan kesan sangat mendalam padaku. Air matanya berlinangan ketika ia mengucapkan kata-kata perpisahan dengan Hersri. ‘Hidup saya di Buru sekarang sudah lebih lama dibanding hidup saya di Jawa. Saya seorang yuris yang sekarang dua kali setiap hari harus memanjat pohon kelapa. Demi mempertahankan hidup. Perasaan balas dendam tidak ada pada saya. Hati saya hanya sedih. Di Jakarta mungkin saya bisa mengajar bahasa Inggris. Tapi pertama-tama memang harus menunggu perkembangan situasi politik. Baru bisa bicara tentang pulang kembali ke rumah. Mudah-mudahan kita sempat bertemu lagi dalam saat yang sudah lebih baik.’

Tidak lama setiba kami kembali di Belanda menggeloralah suara protes para mahasiswa. Kekuasaan Suharto pun berakhir. Sudah datangkah saat bagi Hersri untuk kembali dan tinggal lagi di Indonesia? Negeri yang selalu ia rindukan, dan betapapun selalu memberi rasa kerasan kepadanya? ‘Ancang-ancang sudah dibikin. Tapi keadaan masih jauh dari pasti. Orde Baru Suharto baru akan lewat jika semua tapol sudah dibebaskan, termasuk orang-orang tua yang pernah dijatuhi hukuman seumur hidup atau hukuman mati, karena dituduh terlibat kudeta tahun 1965; jika eks-tapol tidak lagi harus memikul stigma sebagai warganegara klas kambing; jika mereka memperoleh kembali hak memilih dan hak dipilih; jika mereka tidak lagi terkena wajib lapor setiap waktu; jika semua lapangan kerja terbuka bagi anak-anak mereka, baik untuk jabatan-jabatan pemerintahan maupun untuk ‘sektor-sektor vital’, yang sampai sekarang tertutup bagi mereka itu.‘Selama hal-hal itu belum terwujud, waktuku untuk kembali selamanya ke kampung halaman masih belum datang.’

Reportase ini dimungkinkan berkat bantuan Dana Untuk Proyek-Proyek Jurnalistik Khusus.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s