Wawancara Pramoedya dan Hersri Setiawan dengan Radio Nederland

Bagian awal aria “Ritorna Vincitor” atau “Pulanglah dengan Kemenangan” dari opera “Aida” ciptaan ciptaan Giuseppe Verdi tadi, menghantar kita pada rubrik yang mungkin sudah anda nanti-nanti dalam acara FOKUS AKHIR PEKAN Radio Nederland edisi 22 Juli 1997 ini, itulah rubrik wawancara. Hari Rabu lalu dari Manila diberitakan bahwa penulis Indonesia yang buku-bukunya terlarang, Pramoedya Ananta Toer telah dianugerahi hadiah Ramon Magsaysay.Karya-karya terlarang Pramoedya itu, yang merupakan alasan pemberian hadiah ini, dinilai dengan brilyan menonjolkan kebangkitan dan pengalaman moderen rakyat Indonesia. Lalu, bagaimana reaksi Pramoedya terhadap penganugerahan ini?

Pramoedya Ananta Toer=PAT: Tentu saja saya bergembira, karena ada yang menghargai apa yang telah saya kerjakan. Apalagi kalau dibandingkan dengan banyaknya fitnah, pelecehan dan sebagainya, selama 30 tahun Orde Baru ini. Jadi, merupakan suatu obat yang menyegarkan.

Radio Nederland=RN: Nampaknya ada juga orang-orang yang kecewa mungkin, karena kan Bapak sekarang disejajarkan dengan Soedjatmoko, Mochtar Lubis, Ibu Nasution dan Pak Ali Sadikin, kalau tidak salah, yang juga mendapat hadiah Magsaysay tersebut. Bagaimana tanggapan Bapak mengenai hal ini?

PAT: Itu masalah individual mereka masing-masing. Kalau ada yang tidak suka, saya tidak mengganggu ketidaksukaannya itu, terserah saja.

RB: Tetapi kira-kira menurut Bapak, apa pengaruhnya ini secara internasional. Sebab ada yang juga mengatakan bahwa ini sebenarnya kan bisa memacu sehingga negara-negara lain juga memberikan hadiah atau award yang sama kepada Bapak?

PAT: Ya, itu terserah pada penghargaan dunia internasional. Cuma saja yang terlihat oleh saya dengan penghargaan yan saya terima, itu mengembangkan demokratisasi kehidupan di negara-negara totaliter di Asia. Dan trendnya itu sudah kelihatan. Yaitu pertama perujukan Vietnam Amerika, kemudian disambung oleh bebasnya Aung San Suu Kyi. Ya, saya harap perkembangan demokratisasi kehidupan makin meriah.

RN: Nampaknya kan dalam bulan-bulan ini Vietnam juga akan bergabung dengan ASEAN, dan Burma juga diharapkan demikian. Bagaimana pendapat Bapak mengenai gabungan negara-negara di Asia Tenggara ini yang pada awalnya kebanyakan adalah negara-negara yang tidak demokratis?

PAT: Ya, saya menyambut baik progres demokratisasi ini. Sebab, sebab ya, orang itu dilahirkan bukan untuk ditindas dan bukan untuk diberangus. Biarlah manusia itu hidup dengan harkatnya sebagai manusia. Kan itu lebih baik daripada menjadi hewan yang harus menjalankan perintah tanpa persetujuannya sendiri.

RN: Tapi sudah tentu kalau negara-negara Asia Tenggara ini bisa bersatu dari segi ketahanan dari segi pembangunan ekonominya akan lebih baik kalau semuanya bisa bekerja sama. Tapi dalam rangka kerjasama rakyat dan rakyat Pak, bagaimana pendapat Bapak kalau semua para mantan Tapol se Asia Tenggara bisa mengadakan suatu seminar bersama misalnya?

PAT: Saya menyambut baik saja kalau mislnya semua Tapol, bekas Tapol bertemu dan mencari jalan yang terbaik, bisa memberikan saran yang terbaik untuk kehidupan bersama umat manusia. Mereka yang mengalami penderitaan, mungkin tanpa pengadilan, tanpa tuduhan bisa merumuskan.

RN: Berbicara mengenai Tapol, Pak, Menteri Kehakiman Oetojo Usman mengatakan bahwa dia tidak setuju dengan istilah Tapol. Dia lebih menyukai istilah narapidana yang melawan kekuasaan pemerintah, begitu?

PAT: Jadi, narapidana yang melawan kekuasaan pemerintah itu, artinya yang melawan kekuasaan pemerintah Sukarno?

RN: Ya, maksudnya tapol saat ini, untuk saat ini katanya, tidak setuju kalau digunakan istilah tapol.

PAT: Ya itu persoalan politik, artinya persoalan tahanan politik. Dan kalau mereka itu memang salah, ya adililah. Jangan ditahan-tahan sampai mati, umurnya 94 tahun segala macam. Kalau itu toh terjadi, ya enggak perlu ada Pancasila toh. Negara-negara lain enggak punya Pancasila bisa membebaskan. Bisa kasih amnesti, bisa kasih grasi. Ini yang punya Pancasila kok enggak bisa? Apa ini adanya di planet lain, tanah air kita?

RN: Ya, akhir-akhir ini banyak dibicarakan mengenai masalah tahanan-tahanan yang sudah tua renta yang sakit-sakitan yang masih ada di penjara-penjara. Selama satu tahun saja ini saja sudah ada tiga orang yang meninggal, diantaranya di Ujung Pandang Haji Kamba yang berumur 94 tahun. Apa tanggapan Bapak mengenai hal ini?

PAT: Itulah, yang menolak pembebasan mereka, orang tua-tua ini, seakan-akan dia tidak punya keluarga, seakan-akan dia tidak punya tetangga, seakan-akan dia tidak punya orang tua, lahir dari batu. Itu sudah luar biasa. Dan setiap hari mengagungkan Pancasila. Saya tidak mengerti. Makin lama makin tidak mengerti saya keadaan ini.

RN: Tapi pejabat-pejabat kan masih tetap mengatakan bahwa mereka itu merupakan kader-kader yang berbahaya, katanya. Jadi, walaupun sudah 80 tahun seperti Subandrio itu masih tetap dianggap kader yang berbahaya. Bagaimana mengenai hal itu?

PAT: Saya kira itu omong kosong saja. Orang sudah begitu cukup lama menderita, tidak jelas salahnya apa, dan kita belum melakukan studi secara mendalam tentang apa yang dikatakan G30S/PKI. Semua itu pernyataan politik saja yang ada, bukan pernyataan ilmiah. Nah, saya menganjurkan supaya ada penyelidikan ilmiah tentang G30S/PKI itu. Bukan pernyataan politik kekuasaan beberapa orang semata-mata, yang sumbernya adalah kemakmuran keluarga semata-mata. Apalagi sering pemerintah bilang keadaan stabil, lantas ada kakek-kakek enggak berdaya, katanya masih berbahaya. Gimana itu? Itu kan kontradiksionil.

RN: Bagaimana Pak mengenai kakek-kakek ini yang sudah meninggal, tapi anak cucunya masih dimasukkan ke dalam kategori yang terkena litsus, begitu. Bagaimana pendapat Bapak mengenai hal ini?

PAT: Ya, itu makin lama makin tidak rasional ini, perkembangan di Indonesia ini. Saya sendiri tidak mengerti mengapa jadi begini Indonesia. Waktu saya muda, ikut revolusi, enggak terbayangkan bahwa freedom to be free itu bisa berubah menjadi freedom to be unfree sekarang ini. Kok bisa begini? Lantas apa gunanya revolusi dan merdeka, kalau keadaannya lebih buruk dari jaman kolonial.

RN: Tentang masalah ET sendiri itu bagaimana Pak. Masalah eks Tapol, tanda eks tapol yang dicantumkan dalam KTP. Apakah ini bisa disamakan dengan para turunan Diponegoro yang dahulu juga terus menerus harus melapor kepada pemerintah Belanda?

PAT: Ya, ET, eks Tapol segala macam itu, ya itulah, itu perbuatan yang tidak human. Kalau orang itu salah adililah, jangan melalui pengadilan kanguru, tetapi pengadilan yang bebas yang jujur. Bahkan belajarlah jujur sejak dari otak.

RN: Masih ada satu hal, Pak. Majalah Gatra kemarin menulis bahwa sekarang Pak Pram berbicara mengenai demokrasi hak-hak asasi manusia. Tetapi kalau G30S/PKI menang waktu itu, tentu Pak Pram akan bicara lain. Bagaimana tanggapan Bapak mengenai majalah Gatra ini?

PAT: Itu pengandaian dari orang Gatra, dan itu memang tidak ilmiah. Itu hanya mengandai-andai kampungan saja. Kalau sekiranya PKI berkuasa, lantas jadi apa semuanya, wong itu tidak pernah ada. Dia sendiri mau jadi apa? Kenapa enggak disebut dirinya sendiri. Mengapa mesti saya?

RN: Demikianlah Pramoedya Ananta Toer, pemenang hadiah Ramon Magsaysay yang komentarnya banyak berkisar pada kejadian belakangan, serta nasibnya sebagai bekas tapol. Kami juga sempat menghubungi bekas tapol lain, yaitu rekan sejawat Pramoedya Ananta Toer dalam tahanan-tanpa pengadilan di pulau Buru.

Namanya Hersri, yang sekarang menetap di Belanda. Wawancara dengan Hersri berkaitan dengan karya-karya Pramoedya Ananta Toer. Selama ini Pramoedya dikenal sebagai penulis nasionalis kiri. Lalu, pertanyaan pertama yang kami ajukan kepada Hersri adalah, apakah kekirian Pramoedya itu pas untuk dianugerahi hadiah yang kebanyakan dikenal sebagai hadiah kalangan kanan?

Hersri=H: Hehehe, baik, pertama-tama kalau begitu saya ingin mendudukkan dulu jawaban saya pada siapa itu Magsaysay. Magsaysay, Presiden Filipina tahun 53-57, kalau tidak salah, itu terkenal karena dua hal. Mungkin orang banyak hanya mengenal dia satu hal saja alasannya, yaitu keberhasilannya dalam menghancurkan gerakan bersenjata kaum komunis yang disebut Huk Balahap dipimpin oleh Louis Taruk, ketika itu. Tetapi hal yang lain, jangan lupa bahwa Magsaysay adalah Presiden yang terkenal sebagai tk korup. Tentang keberhasilan tersebut pertama itu juga jangan dilupakan ada dua faktor yang menunjangnya, yaitu faktor intern Huk Balahap sendiri yang sudah rapuh dalam tubuhnya. Kedunya faktor ekstern yaitu lihainya Magsaysay di dalam menggunakan taktik menangkap maling dengan maling, walaupun di sini saya tidak bermaksud menggolongkan Huk Bahalap sebagai maling, ya. Yaitu dia menjalankan reform agraria dan bahkan membagi alat-alat kerja kepada kaum tani. Sehingga dengan begitu dia, apa itu, undermining kekuatan Huk Balahap. Dan kedua dia juga memecat opsir-opsirnya sendiri yang korup. Nah ini, bukan justru mengumpulkan yang korup bersama dengan dia, tetapi memecat yang korup. Dan bahkan dia memerintahkan agar tentara menghormati rakyat. Nah ini barangkali, di sini kok pas di sini. Pendeknya Magsaysay sendiri memang menggunakan seni dalam menghancurkan Huk Balahap, dia bukan sebangsa tukang kepruk, yang ya, bandit saja. Mungkin itu jawaban saya.

RN: Jadi menurut Mas Hersri Pramoedya memang cocok dengan hadiah Magsaysay?

H: Ya, penghadiahan Magsaysay Award an sich kepada Pram, saya juga bisa melihatnya dari dua pertimbangan. Begini maksud saya. Bisa dipertanyakan begini: Apakah Pram di mata panitia Magsaysay Award dipandang sebagai penulis kanan, itu pertama. Tetapi ini jelas tidak. Sebab berita yang anda kirim kepada saya, justru menyebutkan konsiderans panitia, antara lain menyebutkan bahwa: he affiliated himself with left wing groups. Jadi jelas bahwa panitia Magsaysay Awards mengakui kekirian Pram sebagai penulis dan sebagai manusia. Nah, kemungkinan yang lain, kalau kemungkinan yang pertama itu tidak berlaku, ialah pertanyaan apakah panitia Magsaysay Awards itu sendiri yang berkembang maju. Saya cenderung ini kunci jawabannya. Artinya, nah ini barangkali, bahwa para pakar estetika sastra di luar Indonesia, sekali lagi saya harus bilang: sayang, di luar Indonesia, tampaknya sudah tiba pada taraf meninggalkan konsep dikotomis realisme sosialis dan humanisme universal. Dari sini terlihat betapa tidak relevan dan bahkan saya harus mengatakan absurd jika di Indonesia sekarang orang masih sibuk mengunyah-unyah permen karet pra 65 yang berupa Manikebu versus Lekra dan betapa tidak ketulungannya itu buku Prahara Budaya dari DS Mulyanto dan Taufik Ismail. Itu mungkin jawaban saya.

RN: Jadi Mas Hersri melihatnya itu bukan sebagai sebuah ironis ya, penulis kiri koq dihadiahi oleh kalangan kanan?

H: Tidak, tidak, tidak, tidak. Bukan ironi, sama sekali tidak. Sebab juga, kalau itu di belakang panitia Magsaysay Award itu memang ada pemikir-pemikir sastra yang benar, yang baik, saya kira mereka tentu juga mengetahui atau berpendapat, bahwa sesuatu hasil sastra atau seni yang baik, betul-betul baik, seperti juga -sebenarnya saya sudah mengatakannya ini tahun 50an dulu ketika saya masih menulis di Indonesia- bahwa hasil sastra atau seni yang baik itu harus mengatas indra, ini istilah saya dulu ya, agak kenes, mengatas indra dan mengatas buana. Maksud saya bahwa hasil sastra dan seni yang baik, harus tidak kenal batas geografi dan kebangsaan dan tidak terhenti pada dataran indria yang ragawi saja. Karena itu harap diketahui juga bahwa Lekra tidak pernah berbicara tentang membangun kebudayaan nasional, tetapi tentang membangun kebudayaan rakyat yang berakar pada tradisi. Karena kita tahu, mankind is one. Tidak bisa rakyat Indonesia lalu lain dengan rakyat negeri-negeri yang lain. Begitu juga harus berakar pada tradisi, sebab kalau tidak begitu, yang dilahirkan adalah kebudayaan atau hasil-hasil karya budaya atau seni dan sastra yang limbung, yang kosmopolit. Nah barang kali di sini. Jadi secara estetika literatur barangkali, orang-orang di belakang panitia Magsaysay Award menilai karya-karya Pram begitu.

RN: Sekarang kalau kita erpaling pada masyarakat yang nyata. Ini kan kita sudah disebut berada di jaman globalisasi. Apa yang terjadi di Jakarta pada detik ini, bisa pada detik yang sama diketahui di Amsterdam maupun di Washington, misalnya lewat jaringan internet. Nah, kita sekarang sudah sampai pada jaman globalisasi. Pertanyaannya adalah, lalu apakah masih relevan gagasan Pramoedya yang begitu nasionalis, apalagi kiri di tengah jaman sekarang?

H: Kalau saya begini melihatnya, ya. Ini menjadi masalah antara sastra dan nasionalisme ini, saya pikir problimnya. Tapi saya melihat bahwa karya-karya Pram sebenarnya juga tidak, walaupun digolongkan Pram sebagai penulis kiri yang melukiskan atau menuliskan gerakan nasionalisme dari kacamata kiri, tetapi menurut saya Pram di dalam karangan-karangannya mengangkat thema kebangkitan dan perjuangan sesuatu nasion, yang sudah tentu pada a lampau, bukan mengarang tentang masa yang depan. Dalam hal ini nasion Indonesia. Jadi penjadian suatu nasion Indonesia. Tetapi di dalam karangan-karangannya itu, menurut saya, Pram sama sekali tidak pernah menawarkan wawasan nasionalisme, apalagi wawasan nasionalisme sempit. Karena itu, bahkan baru di dalam lembar-lembar pertama bukunya Anak Semua Bangsa (maksudnya Bumi Manusia – red) sampai kemudian yang terakhir Rumah Kaca, pertama-tama saja kita sudah melihat Pram mempertemukan seorang perempuan Jawa Ontosoroh, seorang perempuan sederhana Jawa dengan seorang dengan seorang Tuan Belanda, tuan kebun. Kemudian dia bawa kita pada lembar-lembar selanjutnya dengan ditampilkannya Ratu Bacan, namanya sudah menunjukkan dia berasal dari Bacan di Ujung Timur Indonesia sana. Bahkan keluar dari situ, kita diperkenalkan dengan siapa itu, kader San Min Chu I, yang juga menjadi istrinya Tirto Adhi Soerjo. Tetapi sebaliknya dia kemudian angkat tokoh, namanya Robert ya? yang semacam, yang tukang lynch, yang skinhead itu barangkalai, kalau sekarang. Jadi yang dipersoalkan di sana bukan masalah nasionalisme apalagi nasionalisme sempit, tetapi masalah kemanusiaan yang tidak, sama sekali tidak bertentangan dengan periode globalisasi seperti sekarang. Begitu jawaban saya.

RN: Lalu, Pram juga dengan, dengan, kalau bahasa Belandanya itu: gepassioneerd, jadi dengan penuh kecintaan begitu, menggambarkan lahirnya Indonesia. Nah, menurut Mas Hersri Indonesia yang digambarkan Pram pada waktu apakah masih bisa dipertahankan, ketika sekarang masalah Timor Timur itu sudah, menurut kalangan PBB disebut sebagai lost cause, jadi Indonesia sudah tidak akan menang lagi, paling sedikit dari segi diplomasi internasional dalam masalah Timor Timur ini?

H: Kalau tentang ini saya harus menjawab dari sudut, kembali lagi tentang thema penjadian nasion Indonesia. Saya kira para bapak-bapak pendiri bangsa Indonesia, dulu 50 tahun yang lalu dan sebelumnya. Kalau mencita-citakan Republik Indonesia, atau Indonesia di masa depan tidak pernah berpikir tentang Timor Timur. Jadi, saya sependapat bahwa Timor Timur ini memang dianschluss oleh Indonesia. Lha inilah bedanya, kalau di dalam konsep politik nasionalisme sempit -apalagi dalam nasionalisme sempit: lihat saja apa yang terjadi pada perang dunia kedua yang kemudian dipandegani oleh Hitler dan perdana menteri Koisho sampai Tojo di Jepang- kalau nasionalisme atau nasionalisme sempit secara politik justru mempunyai kecenderungan: ke luar untuk merampasi wilayah rakyat-rakyat lain; ke dalam justru membabat tradisi kebudayaan rakyat setempat. Seperti juga halnya saya cemas betul di Indonesia, dari sudut kebudayaan yang akan dihidup-hidupkan kebudayaan Jawa dengan meninggalkan kebudayaan-kebudayaan daerah-daerah di luar Jawa yang termasuk di dalam keluarga Indonesia. Itu jawaban saya.

RN: Hersri, sastrawan Lekra yang pernah menjabat wakil Komite Indonesia Biro Pengarang Asia Afrika di Kolombo, Srilangka dan Tapol selama 10 tahun di Pulau Buru. Hersri tadi berkomentar tentang latar belakang hadiah Magsaysaydan kualitas karya-karya Sastra Pramoedya Ananta Toer.

2 pemikiran pada “Wawancara Pramoedya dan Hersri Setiawan dengan Radio Nederland

  1. Ping balik: Ashram Rama Prabu » Wawancara Pramoedya dan Hersri Setiawan dengan Radio Nederland

  2. Ping balik: 2010 in review | arusbawah 2.0

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s