$uharto Orang Jawa yang ‘Ora Jawa’

Hersri Setiawan

$uharto Orang Jawa yang ‘Ora Jawa’ 1
“Butir-Butir Budaya Jawa” – Hardiyanti Rukmana
(ditulis lagi untuk Mas Permadi SH + Mas Wahana)

Pengantar

ARTIKEL di bawah ini sebenarnya sebuah tulisan lama, tidak lama sesudah buku hasil suntingan Hardiyanti Rukmana itu terbit, dan pernah saya siarkan melalui majalah “Arah” 1988 No.4. (Sayang salah satu majalah kaum eksil Indonesia di Belanda, yang pernah terbit di Amsterdam, sudah berhenti terbit sejak beberapa waktu yl.). Saya orbitkan lagi, dengan ubahan dan tambahan sana sini, karena saya tidak percaya yang, seperti sementara orang mengatakan, “ngelmu kejawen” $uharto sangat tinggi. Misalnya tulisan seseorang, melalui internet, yang sambil memperingatkan sekaligus melecehkan “ngelmu” nya Bung Gendeng Pamungkas.

“Ngelmu Kejawen Suharto sangat tinggi”. Itu lah yang hendak saya bantah. Ngelmu kejawen perihal santhet mungkin. Itu pun bukan santhet dengan tenaga dalam, seperti praktik paranormal umumnya, tapi dengan tenaga sandiyuda RPKAD alias KOPASSUS yang “dhedhemitan” (namanya juga “sandiyuda”, dan $uharto memang gemar sekali pada “dhemit” ala Kopassus!) Bukan saja dalam hal praktik pembunuhan dia lakukan dengan dhedhemitan. Tapi juga dalam korupsi, misalnya, melalui seribu satu “inpres” dan “yayasan”. Bukankah itu semacam bulu bulu ayam yang lembut pada musang yang buas?

Ciri luar “orang kebatinan” yang tuntas itu “meneb”. Lihat lah itu Ibu Theresa atau Mahatma Gandhi, atau kalau “di kita” boleh lah dengan sedikit kurang mantap disebut Kyahi Samin Surasentika atau Ki Ageng Suryamataram. Atau kalau di pewayangan, karena katanya $uharto “Orang Jawa”, lihatlah sosok Abiyasa. Orang Kebatinan itu tidak doyan uang dan tidak doyan darah. Lha $uharto? Seperti Nyai Blorong atau Dewata Cengkar. Nyai Blorong, yaitu ular yang sisik nya saja duit logam mulia! Dewata Cengkar, Raja Diraja yang setiap hari minta persembahan sembelihan manusia!

Amat sangat penting diperhatikan juga, bahwa “Butir-Butir Budaya Jawa” (selanjutnya B3J) terbit dalam tiga bahasa dengan urutan: Jawa (ditulis dalam aksara Jawa dan Latin), Indonesia, dan Inggris. “Prakata” dalam dwibahasa dengan urutan: Inggris, baru Indonesia (“Foreword” – “Prakata”); demikian juga “kata pengantar”, dwibahasa dengan urutan: “Introduction”, baru “Kata Pengantar”.

Wasiat Raja Naga

Tidak sedikit “butir butir” yang terdapat dalam buku “Butir-Butir Budaya Jawa”, yang dicetak maha mewah berkulit tebal, dengan warna huruf huruf dan lukisan magis. Seekor ular naga bermahkota pada kepala dan bercincin pada ekornya, berwarna kuning emas – seperti juga warna huruf huruf judul buku ini – di atas latar belakang warna hitam gulita. Ya! Hanya dia beserta dinasti “PPP” nya lah yang kuning berkilauan. Adapun dunia selebih nya hitam pekat belaka.

Tidak salah jika ‘Laporan’ majalah Tempo No.2 Th.VXIII, 12 Maret 1988, menamai buku ini sebagai “Sebuah Wasiat Raja Naga”. Raja Naga. Wasiat Raja Naga! Seperti judul sebuah cerita silat, yang hanya hidup subur di dunia khayali Kho Ping Hoo alias Asmaraman atau SH. Mintardja. Toh dunia khayali Kho Ping Hoo dan SH. Mintardja seribu kali jauh lebih bermutu ketimbang “butir butir khayali” si Raja Naga ini. Kho Ping Hoo dan SH Mintardja jujur dan jelas pemihakan nya: melawan ketidakadilan. $uharto tak kurang jelas: lebih dari musang berbulu ayam. Ia ingin tampil bagaikan seorang pandit yang “berdarah putih”.

“Tempo” tidak keliru. Jika seekor raja naga bisa memberi wasiat, ingatan orang lantas ditarik naik ke atas panggung ketoprak atau ke depan pekeliran wayang purwa.

***

Baiklah, mari kita agak sedikit serius tentang raja naga itu. Agar selanjut nya kita juga bisa agak serius menghadapi raja naga yang seekor ini.

Dalam mitologi Hindu dan Buda, naga ialah makhluk jahat setengah manusia setengah ular. Ia bisa mendatangkan hujan dan kesuburan, tapi juga bencana banjir dan kekeringan. Dalam dunia pewayangan Jawa, Nagaraja ialah dewa pendukung bumi. Istananya di Saptapratala, mempunyai putri cantik jelita bernama Dewi Nagagini, yang kelak diperistri Bima (dalam episode menyusul sesudah “Bale Sigalagala”). Dalam serat “Kitiran Manca Warni”, karangan KGPAA Mangkunegara IV2, Nagaraja dewa pemilik azimat kiat berbahasa binatang, yang kemudian dilintirkannya kepada Prabu Anglingdarma. Dalam sejarah dinasti raja raja Mataram Baru, Hamangku Buwana, barangkali untuk pertama kali sosok naga dimuliakan. Dalam hal ini Hamangku Buwana I, telah memahatkan sosok naga itu bukan sebagai makhluk sakti, melainkan sekedar sebagai pengingat ingat titimangsa lahir nya dinasti dan kraton Yogyakarta Hadiningrat. Dwi Naga Rasa Tunggal, 1628 AJ atau 1755 AD. Beda dengan lukisan Raja Naga di buku B3J ini. Mungkin juga dimaksud secara tersirat sebagai satu candra sengkala memet, “buntut tinata naga raja” (1851 J = 1921), tahun kelahiran $uharto. Jadi, ada tersirat satu citra identitas di belakang gambar itu. Citra seekor ular naga, yang raja pula!

Potret identitas

Konon ayah $uharto seorang habdi dalem kraton Yogyakarta. Adapun dia nya sendiri, “habdi dalem Kopral Dhongkol 3 Kraton Belanda” ini, sibuk mencari sandaran keabsahan wahyu kekuasaannya ke kraton Jawa. Terutama, melalui istri nya, ke kraton Mangkunegaran. Sementara itu desas desus juga disiarkan, sampai telinga saya ketika di RTC Salemba (sekitar akhir 1970-an), bahwa $uharto anak “lembu peteng” Sultan Hamengku Buwana IX. Kabar “isepan jempol” yang agaknya sengaja dilempar untuk membentuk pendapat umum. Di Salemba, orang yang mempercayai desas desus tendensius ini, antara lain, tak kurang dari bekas Menteri Muda Perhubungan Laut, (Mas) S. Budiardjo (alm).

Sejak lebih setengah abad terakhir, kraton Jawa memang bukan saja telah membuka diri nya untuk umum. (“Universitas Revolusi” pertama di Indonesia, Gadjah Mada, dibuka dan berpusat di Pagelaran Kraton Yogyakarta; 1946). Bukan saja pendapanya, tapi bahkan keputren nya pun telah dibuka bagi para pendekar dan petinggi bangsa dan negeri kita. Dulu, di jaman pergerakan, bagi para pendekar kebangsaan; dan belakangan, di jamanrezim militer dan konglomerat, bagi para jendral dan birokrat.

Maka bukanlah satu kebetulan, jika justru gambar Raja Naga yang diangkat $uharto sebagai citra identitas diri, dan sekaligus sebagai makhluk sakti penjaga butir butir wasiatnya. Pada halaman “Compilation” (196), yang disusul dengan halaman “Penyuntingan” (197), kita baca: “We have accomplished the compilation … right on the day commemorating the “tumbuk besar”, i.e. … Wednesday – Kliwon … Alip 1915, or Wednesday – Kliwon … 13 July 1983 AD.” (Sic!). Sesudah memperhatikan bahasa dan data halaman halaman tersebut, perhatikan selanjut nya isi “Foreword” (iv) atau “Prakata” (v), yang mengatakan: “We publish this book right on the day Father (Sic! “Holy Father”?) and Mother celebrate … 26th December 1987,…”; atau: “… kami terbitkan pada … 26 Desember 1987.” Jadi, selesai disunting Juli 1983, dan terbit Desember 1987. Ada tenggang waktu cukup untuk memikirkan dan melakukan segala persiapan sebelum B3J terbit. Selama barang tiga tahun! Tidak mungkin gambar Raja Naga diambil secara acak.

Tafsir: Ungkapan bawah sadar

Ada lagi naga khayali orang Jawa yang, agaknya, lahir dari jaman yang lebih muda. Yaitu jaman ketika orang Jawa mulai meninggalkan dunia ‘among tani’ yang tunggal dan tertutup, dan memasuki dunia ‘among dagang’ (atau bahkan jaman ‘kapital finans’) yang majemuk dan terbuka.

Naga ciptaan baru ini tidak laki laki (jantan), tetapi (aneh!) justru perempuan (betina). Tapi tidak seperti Durga, Calon Arang atau Sarpakenaka 4) yang berwajah raksasa, ia berparas cantik seperti Nyai Lara Kidul. Atau mungkin ia justru satu sosok khayali, hasil pengembangan fantasi rakyat dari jaman agraris ke jaman ‘finans’? Benar, ia tetap dihubungkan dengan kekuasaan. Tapi bukan kekuasaan yang bersumber wahyu belaka, melainkan kekuasaan secara struktural. Ia dihubungkan dengan “azimat baru”, yaitu uang atau kekayaan kebendaan.

Nyai Blorong 5), nama naga siluman ini. Bernama demikian, karena naga ini bersisik mata uang mas dan perak, yang berkilat kilat menyilaukan pemandangan. Semacam thuyul. Bedanya Thuyul bersosok anak anak manusia, lagi pula tidak terlalu rakus dan bengis. Samanya, baik Thuyul maupun Blorong, makhluk makhluk halus yang bisa dipelihara dan digunakan sebagai “pesugihan”, yaitu azimat pencari kekayaan dan wibawa. Tentu saja “wibawa semu”, karena tumbuh dari disebarkannya rasa takut terhadap si empunya azimat.

Dengan ketajaman mata seni dan politiknya, lebih setengah abad yang lalu, Bung Karno telah memberi isi citra Blorong ini dengan watak imperialistis kapitalisme. Karikatur karikatur “Bima” (nama samaran Bung Karno) dalam harian “Oetoesan Hindia”, dari sekitar tahun 30–an, banyak memberi contoh.

Naga raja B3J ini, dengan mata nya yang siap menyergap dan gigi gigi serta taring nya yang buas, dan beribu ribu sisik hitam berbingkai emas, memang lebih mengingatkan saya pada Nyai Blorong. Bukan naga naga lain seperti yang tersebut di atas. Nyai Blorong ini lah naga yang bersemayam di bawah sadar $uharto, alias Sang Maha Petrus alias Sang Super Semar.

Sambil Menghina Bahasa Indonesia Merayap Merevisi Pancasila

Cara kerja “merayap” sembunyi sembunyi, untuk kemudian diam diam menyergap, rupanya memang kiat hidup $uharto. Hampir semua penulis tentang G30S, selain yang pemanjang tangan $uharto, berakhir pada kesimpulan yang sama. Yaitu bahwa kejadian, yang kemudian dimitoskan sebagai “G30S-PKI” itu, merupakan bagian dari “kudeta merayap” Jendral $uharto. B3J ternyata juga satu saja daya dorong nya, atau (mengikuti
$uharto yang menderita kompleks ‘super-jawa’) “niyatingsun” nya, atau (mengingat $uharto yang menderita kompleks ‘inferior-inggris’) “motivation” nya. Merayap diam diam untuk “menggerpol” Pantja Sila Sukarno. Buktinya? Mari kita teruskan mencermati B3J itu.

Tidak sedikit butir butir yang terkandung dalam B3J. Empat ratus enam puluh tujuh (467) butir! Walaupun sangat banyak butir butir yang dinyatakan berulang ulang. Ada yang berulang seutuhnya, ada yang satu butir dipecah pecah, ada pula sebaliknya dua atau tiga butir digabung menjadi satu, ada yang dibalik dari pernyataan positif ke negatif atau sebaliknya. Berbagai macam cara yang, semuanya itu, hanya menunjukkan kemiskinan si penulis tentang “butir butir mutiara budaya Jawa” itu.

Butir sebanyak itu dibaginya dalam dua golongan besar. Perhatikan hal. xii (“Contents”) dan hal. xiii (“Daftar Isi”). Yaitu sebanyak 366 butir dimasukkan dalam golongan “Guidance” atau “Pituduh” (hal. 1 s/d 160) – $uharto tidak tahu kata padanan nya dalam Indonesia; dan sebanyak 101 butir dimasukkan dalam golongan “Prohibitions” atau “Wewaler” (hal. 161 s/d 195). Juga sangat kentara di sini, baik $uharto maupun Hardiyanti Rukmana, si Penyunting, karena penyakit superior Jawa dan inferior Inggris mereka itu, rupanya memandang bahasa Indonesia terlalu miskin dan lemah.

Wahai $uharto dan anak cucumu! Belajar lah sejarah barang sedikit. Ya, tidak usah terlalu banyak. Satu detik saja dari sepanjang riwayat pergerakan nasional, yaitu detik Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Baca lah ulang, tidak usah kalian pelajari. Baca saja tiga butir Sumpah itu. Lalu jawablah sekarang pertanyaan kami: Miskinkah dia, Bahasa Indonesia, yang telah berabad-abad menjadi lingua franca bangsa bangsa Nusantara itu? Lemahkah dia, Bahasa Indonesia, yang telah mampu menjunjung peranan politik, sebagai pemersatu dan pemerdeka, sesuatu nasion yang berbineka itu? Yang bahkan engkau, yang Raja Naga, pun tidak mampu melakukan nya?

Selanjutnya $uharto terus merayap.

Masing masing golongan besar tersebut, golongan “Pituduh” dan “Wewaler”, dibaginya dalam enam golongan kecil, bernama sama. Yaitu: (1) Ketuhanan Yang Mahaesa (Pit.: 42 butir; Wew.: 4 butir); (2) Kerohanian (Pit.: 25 butir; Wew.: 5 butir); (3) Kemanusiaan (Pit.: 174 butir; Wew.: 75 butir); (4) Kebangsaan (Pit.: 47 butir; Wew.: 2 butir); (5) Kekeluargaan (Pit.: 58 butir; Wew.: 7 butir); dan (6) Kebendaan (Pit.: 20 butir; Wew.: 8 butir).

Perhatikanlah rumusan kategori kategori di atas, demikian juga urutan nya, dan selanjutnya bandingkan lah dengan rumusan dan isi sila sila Pancasila serta urutan nya pula. Bukan kah itu dimaksud hendak menyatakan B3J adalah batang tubuh “Pancasila Plus”? Plus sub-golongan “Kerohanian”, karena $uharto merasa dirinya selain “haji” juga pakar Kejawen!

Tapi bukan sekedar banyak nya butir kategori yang lima (pada Pancasila) dan enam (pada B3J) menarik diperhatikan. Pada hal. 130 (berhuruf dan berbahasa Jawa), atau hal. 131 (berhuruf Latin dan berbahasa Indonesia dan Inggris), tegas-tegas menyatakan: “Dhasaring negara iku ana lima”,atau “Dasar negara itu ada lima”, atau “There are five principles upon which the state is founded”. Bahwa pasal ini merupakan butir nomor 45, angka tahun Proklamasi, pun merupakan bukti takaran atau kaidah “Pancasila Plus” yang telah direkayasa sebelumnya.

Marilah kita kutip seutuhnya butir ke-45 B3J yang amat penting itu:

“Dasar negara itu ada lima, pertama, pasrah adanya negara itu kepada Tuhan. Kedua, percaya bahwa manusia ini dari Tuhan adanya. Ketiga, jangan mengabaikan bangsamu sendiri. Keempat, engkau jangan ingin menang sendiri karena itu harus suka berunding bagaimana baiknya. Kelima, berkewajiban memberi sandang-pangan serta ketentraman lahir-batin”. Nah! Naga Raja yang merayap rayap itu akhirnya keluar juga dari sarang persembunyiannya. Bukan kah kelima dasar negara B3J di atas duplikat busuk dan buruk belaka dari Pancasila? Semangat “dasar negara ke-3” itu bernada rasialis atau sovinis, sedangkan nada “dasar negara ke-5” itu bersemangat adigang adigung adiguna yang memandang leceh dan daif pada sesama. “Berkewajiban memberi sandang pangan …” Mendengar suara budi baik Raja Naga ini, tiba tiba bergaung lah suara nyanyian di relung telingaku: “Bangun lah kaum yang terhina, bangun lah kaum lapar …!”

Pancasila Plus ala B3J $uharto tersebut ternyata juga Pancasila Minus sekaligus. Minus dari nilainya yang paling esensial, yaitu Semangat Pemersatu dan Semangat 45, untuk digantikan dengan Semangat Ueber Alles yang menindas.

Butir-butir budaya ala Raja Naga

Di sekitar awal tahun 80 yang lalu Jakarta ramai bicara tentang, katakanlah, “reveille Kejawen”. Diminta “Kompas” ikut meramaikan nya, ketika itu saya melontar soal sekaligus sebagai peringatan. Jawa mana harus dikembangkan, dan Jawa mana harus ditimbun dalam abunya sejarah. Karena Jawa tidak mandek. Bahkan Ranggawarsita pun, pujangga kraton Jawa terakhir yang paling terkenal itu, seorang “Indo” dalam pemikiran. Bukankah gagasan nya tentang “awang uwung kang mengku isi yang dalam kesatuan dialektis” itu bertentangan jelas dengan konsep Jawa tentang “badan alus” dan “badan wadhag” yang dikotomis? Bukan kah lukisan nya tentang awal denta wyanjana, jati gerak hidup yang dinamis aktif itu, bertentangan diametral dengan gagasan “cakra manggilingan” yang statis pasif?

Bagaimana dengan B3J si Raja Naga? Astaghfirullah al adzim!

$uharto (1921-19?) ternyata jauh lebih kolot dari Ranggawarsita (1802-1873). Bukan saja karena B3J mengajukan gagasan tentang “cakra manggilingan” dengan jelas dan tegas (hal.22 butir 7), tapi juga karena di dalamnya terkandung sembilan belas (19) butir tentang badan alus, lelembut, demit, setan, banaspati, dan sesaji. Lebih dari itu karena saya menjadi tahu, ide apa yang ada di belakang kepala Raja Naga – si empunya dan penyusun butir butir ilmu klenik klas murahan ini. (Bagaimana tidak murahan, kalau dia menerangkan tentang “gusti” dengan “jarwa dhosok” : “bagusing ati”? – hal.22:9)

Demit, oleh $uharto, diterangkan nya sebagai “sejenis setan” (hal.177:3). Saya tidak tahu, apakah ada konsep “demit” di dalam Islam. (Bung Chudori di Paris bisa membantu saya? Terimakasih!) Tapi saya tahu benar Kitab Suci Al Kuran mengenal “setan” dan “iblis”, yaitu sebutan untuk satu makhluk yang sama. Hanya pada waktu mengganggu, ia terkadang disebut “setan” dan terkadang disebut “iblis”. Anehnya, justru tentang makhluk yang diakui keberadaan nya oleh Al Kuran ini, tidak satu patah kata terdapat dalam B3J. Yang banyak dibicarakan $uharto, yang notabene seorang haji, ialah makhluk halus, lelembut, banaspati, dan dhemit (yang diinggriskannya sebagai “demon”). Sejalan dengan itu Haji $uharto juga tidak bicara tentang Allah, sebaliknya terlalu banyak tentang “Pangeran” dan “Gusti” (yang “bagusing ati” saja)!

Maka, saya merasa perlu mempertanyakan: Sejauh manakah keislaman $uharto? Lebih dari itu: Dia seorang teis, atau demonis?

Pro-klenik = Anti-ilmu – Pro-feodal = Anti-demokrasi

Pengertian sesama orang Jawa tentang lelembut, dahulu dan sekarang di sini dan di seberang, memang tidak harus dibikin sama. Tidak usah “di-p4-kan” lah, kalau bahasa Orde $uharto. Begitu juga pemahaman B3J tentang aneka macam makhluk halus tidak perlu dipertentangkan, misalnya, dengan The Religion of Java (Clifford Geertz, 1969:16-29). Tapi satu hal yang sama ialah, bahwa: Bagi barangsiapa saja yang percaya akan adanya lelembut dan dunia nya, maka pada mereka itu sudah selalu tersedia seribu satu resep jawaban untuk seribu satu masalah. Itu pertama. Kedua, terhadap seribu satu resep itu, orang tidak boleh bertanya “mengapa” dan “bagaimana”, apalagi membantahnya dengan kata “tidak”. Dunia lelembut adalah dunia normatif, bukan dunia analitis. Resep resep klenik bukan berniat “mendidik” atau “mengajar”, yang ada di sana hanyalah “mengedril”. (Silakan baca kembali artikel saya “Mitos Nyai Lara Kidul” beberapa hari lalu). Tepat sama dengan dunia serdadu: “Siaaap, g’rak!” Dan bersiap lah mereka. “Maju jalaaan, g’rak!” Dan berjalan lah mereka. “Istirahat di tempaaat, g’rak!” Dan beristirahat lah mereka, dll. dst.

Seribu satu resep itu, tentu saja, tidak dipunyai “sembarang orang”. Melainkan hanya di kantung nya orang orang tertentu, yang tergolong “bathara” atau dewa, atau “manusia sempurna” (hal.52-53: 57,58). Apa tanda keistimewaan itu menurut Raja Naga ini? Gampang gampang sukar: Bisa wawancara dengan lelembut! Untuk selingan, ini lah saya kutip, hal.28 butir 20 berbunyi:

Jikalau engkau sudah dapat berwawancara dengan makhluk halus, pasti engkau tidak akan mencemoohkan orang yang dapat berwawancara dengan makhluk halus. Inggrisnya: If you can communicate with ghosts, you will not speak ill of one who can communicate with them.

Halaman yang sama butir 21:

Barang siapa yang menyembah makhluk halus itu keliru, sebab makhluk halus itu sebenarnya adalah temanmu, dan tidak perlu disembah seperti Tuhan. Inggrisnya: It is wrong to worship ghosts, because ghosts are your friends, and shall not be worshipped as the Lord.

Nada superior B3J dipertegas lebih lanjut, ini sebenarnya semacam membangun “pagar monopoli”, dengan banyaknya butir butir tentang “janma linuwih”, “trahing ngaluhur”, “trahing kusuma rembesing madu”, “orang yang putus ilmu”, “utusaning Pangeran”, dan sebangsanya. Tentu saja $uharto, si Raja Naga ini, termasuk (lebih tepat katakan: ingin dimasuk kan) dalam golongan “supermens” yang bahkan di alam dongeng Jawa pun (menurut guru saya dulu, Mr. Mohamad Muksin Djajadiguna) hanya ada tiga, yaitu Patih Sumantri dan Kumbakarna, dari dunia wayang, dan Wong Agung Ing Ngeksiganda dari dunia babad. (Menurut Ken, anak saya, harus ditambah satu, yaitu Superman dari dunia film Amerika). Jadi si Raja Naga B3J ini pun ingin hidup di dunia fantasi, menggenapi jumlah nya menjadi lima. Dan di tengah tengah yang lima ini, pastilah dia saja yang maha “super” dari segala yang “super”. Karena dia saja lah tokoh tunggal, mulai dari “Super Semar” sampai ke “Super Petrus”, mulai dari “supermens” sampai ke “supermi”! Hopo tumon?!

Itu lah pernyataan sosok budaya feodal yang anti-kemajuan dan pro-keterbelakangan, yang anti-ilmu dan pro-klenik, yang anti-demokrasi dan pro-totaliter.

Tentang sumber bahan – Ngawur atau Tak Jujur?

Mengawali anak judul ini saya ingin mengutip (dengan penyesuaian ejaan) kata kata R.M.Ng. Poerbatjaraka: “Awit tiyang Jawi punika kala rumiyin (samangke inggih taksih) bilih nurun serat, cara Yojanipun: sengara yen boten ngewahi utawi mewahi”. Saya terjemahkan: “Sebab orang Jawa itu dahulu (sekarang pun masih juga) jika mengutip karangan, istilah Jogyanya: mustahil kalau tidak mengubah atau menambah.”

Ada tiga belas sumber disebut sebagai rujukan B3J: (1) Ajaran Turun-Temurun, (2) Centini (seharusnya: Centhini), (3) Cipto Hening (seharusnya: Cipta Hening), (4) Dewaruci, (5) Ronggowarsito (seharusnya: Ranggawarsita), (6) Jakalodang (seharusnya: Jaka Lodhang), (7) Kalatidha, (8) Jayabaya, (9) Nitisastro (seharusnya: Nitisastra), (10) Suluk Selo (seharusnya: Suluk Sela), (11) Tri Dharma Pangeran samber Nyawa, (12) Wedatama (seharusnya: Wedhatama), (13) Wulangreh.

Saya merasa perlu memberi sekedar catatan tentang “References – Sumber” B3J (hal.198-203), dan penjelasan yang dikemukakan di sana.

Pertama “Serat Centhini”.
Tentang ini B3J mengemukakan, bahwa: “Pengarangnya tidak diketahui secara jelas”. Karena itu, berguna kiranya, untuk tambahan pengetahuan $uharto, jika saya kutipkan kata kata Denys Lombard berikut ini, al.:

“… dan patut dipertanyakan mengapa “ensiklopedi” pengetahuan pinggiran itu justru digarap pada kira-kira tahun 1815 di lingkungan seorang pangeran yang bakal menjadi sunan (Paku Buwana V). … Konon, karya itu disusun oleh tiga pujangga yang nama-namanya memang disebut tetapi tidak dikenal di tempat lain.”6

Selanjutnya ini kutipan saya dari Ben Anderson: “… The fullest Centhini, a colossal work of almost a quarter of a million lines, was completed, he (T.E, Behrend; HS) argues, in 1814. It is thought to have been prepared by a committee of poets in the entourage of the then crown prince of Surakarta, who later became Pakubuwana V. Tradition has it that the prince sent emissaries all over Java and Madura to gather every possible form of Javanese knowledge for inclusion in the final text.” 7)

Catatan yang ada pada saya menyebut, bahwa “serat ini disusun atas prakarsa PB V ketika masih sebagai pangeran pati, dikerjakan oleh satu ‘tim penulis’ di bawah redaktur Yasadipura II dan Rangga Trasna; isinya bermacam macam: agama Islam, gendhing, ngelmu, tari, hari baik buruk, dll., dan bersumber (menurut Poerbatjaraka) pada serat “Jatiswara”.

Satu bahan kutipan lagi, saya peroleh dari seorang pecinta karya sastra Jawa:

“Padahal … jelas diprakarsai oleh putera mahkota Kerajaan Surakarta yang kemudian bertahta menjadi Sunan Paku Buwana V. Beliau mengangkat sebuah tim pengarang yang dipimpin oleh pujangga Kadipatenanom Ranggasutrasna, dibantu oleh Sastranagara dan Sastradipura (Moh. Ilhar setelah naik Haji). Menurut kitab “Sunan Sugih” yang diterbitkan oleh Trah (Darah – Keluarga) Paku Buwana V, kepada tim itu diperbantukan pula Pangeran Jungut Mandurareja, Kyai Imam Besari (gurunya Ranggawarsita), dan Kyai Minhad, ulama besar di Surakarta …”

Kedua tentang “Cipto Hening”.

B3J menyebut: “Cipto Hening adalah nama yang diberikan kepada Arjuna ketika Arjuna sedang bertapa di bukit Indrakila. Kisah ini terdapat di dalam naskah Arjunawiwaha, yang dikarang oleh Empu Kanwa di sekitar tahun 1030, …”

Gandrik! Mpu Kanwa memberi nama Cipto Hening kepada Arjuna. Sebagai lakon wayang atau drama tari pun, sampai sekarang dikenal sebagai Arjunawiwaha, (Begawan) Mintaraga, atau (Begawan) Ciptaning. Tidak ada itu kata Cipto Hening, selain di kepala si Raja Naga yang “sok kebatinan”. Maka ijinkan lah saya berpesan: Kupat yo kupat, ning aja diremet remet; nekat yo nekat, ning aja banget banget, ah!

$uharto sebagai dalang, sebenarnya memang dalang yang “slordig” (kalau istilah remaja “teler” lah!). Perhatikan saja skenario G30S itu. Bahwa pelaksanaan nya berhasil gemilang, semata mata karena ditopang pengerahan besar besaran kekuatan senjata, dan dilaksanakan dengan keberanian berdusta yang luar biasa pula. Dalam G30S ini salah satu bentuk nya, antara lain, pemberian stigma “PKI” di belakang kode mistis “G30S” itu. Ya segala macam “kupat diremet remet” itu lah!

Juga dalam hal “Cipto Hening” ini. $uharto ini semacam dalang amatiran di daerah “kolonisasi” di Sumatra, di jaman awal Politik Etis. Werkudara, karena terdesak perang, lantas terbang menghindari kepungan lawan lawan nya. Terbang, sebab bagaimana pun dia harus menang. Satria Pandawa, masa harus kalah. Tidak boleh, kan?

“He, Werkudara kok bisa mabur!?” Teriak seorang penonton.

Sambil terus memainkan anak-anak wayangnya Ki Dalang Amatiran itu menjawab:

“Wong Jawa padha menenga, wong sabrang mongsa ngertia!” (Orang Jawa diamlah semua, orang seberang mustahil mengerti!”).

Tapi di sini $uharto salah sama sekali.

Sebab ternyata, yang Jawa justru tidak Jawa, yang Sabrang justru Jawa. Orang orang “sabrang”, dari yang bernama C.C.Berg, sampai D.G.E.Hall dan P.J.Zoetmulder, semua berpendapat sama seperti R.M.Ng. Poerbatjaraka (nah ini dia, baru Jawa “denmas” dan “hangabehi” betul!): Kakawin tonggak paling indah Arjunawiwaha itu digubah Mpu Kanwa, sebagai persembahan pada Erlangga yang berhasil membangun kembali Jawa Timur dari kehancuran semasa sebelumnya, dan (khususnya Hall) untuk memperingati perkawinan Erlangga dengan putri Sumatra!

Supaya lebih jelas untuk $uharto, saya kutipkan lagi kata kata Zoetmulder: “Maka dari itu kesimpulan yang paling masuk akal ialah: kakawin ini merupakan buah ciptaan mpu Kanwa sendiri atau ceritanya sudah terdapat di Jawa, lalu oleh penyair kita dituangkan dalam bentuknya seperti sekarang ini.” 8)

Dengan demikian kata kata B3J yang berbunyi: “Naskah ini tidak sepenuhnya sama dengan kisah Arjunawiwaha dari India”, tidak perlu lagi dikomentari. Lha apa ada sih, “Arjunawiwaha dari India” itu? Yang pasti ada, setahu saya mah, “boneka cantik dari India” lagunya Lilies Suryani dari Gang Kelinci Jakarta, yang engkong (paman) nya menjadi teman saya di Pulau Buru itu!

Ketiga tentang Ranggawarsita, Jaka Lodhang, dan Kalatidha.

Saya tidak mengerti, mengapa Ranggawarsita perlu disebut sebagai “sumber” tersendiri di samping dua karya nya itu. Lebih dari itu, “Jaka Lodhang” dan “Kalatidha” pun diterangkan B3J dengan “tumpangsuh” (bahasa Inggris nya: “overlapping”) dan (sekali lagi) “slordig” alias “teler”.

Menurut B3J di dalam “Jaka Lodhang”: “termuat wawasan kesejarahan pola-pola jalannya sejarah (jangka), mulai dari Zaman Kalabendu sampai kepada Zaman Mulya. Oleh sementara buku ini dipandang sebagai buku yang memuat ramalan-ramalan sejarah … ditandai dengan sebuah Condrosengkolo yang berbunyi: “Wiku Sapto Ngesti Ratu”.”

Perlu diketahui, Jaka Lodhang tidak bicara tentang “Zaman Kalabendu” sama sekali. Ini sebuah kitab kecil gambaran tentang keadaan semasa, diteruskan dengan antisipasi nya (katakan itu “ramalan”) ke masa pendek dan masa jauh yang akan datang. Masa pendek, yaitu sekitar tahun 1919/20 M atau 1850 J (“sirna tata esthining wong”) 9), ketika orang orang pergerakan ditangkapi dibunuhi dan dibuang [“sacipta cipta tan polih/kang raraton raton rantas/mrih luhur asor pinanggih/bebendu gung nekani”/]. Masa jauh, yaitu pada masa “… maksih nunggal jamanipun/neng sajroning madya akir/wiku sapta ngesthi ratu” (1877 J atau 1945/46 M)/10, masa ketika “… wong ngantuk anemu kethuk/malenuk samargi margi/” (orang mengantuk mendapat kethuk [semacam kenong, rincian gamelan Jawa], mengonggok sepanjang jalan). “Wiku sapta ngesthi ratu” bukan “candrasengkala sebagai tanda penulisan kitab ini”, seperti B3J mengatakan, tapi itu lah tahun yang diramal Ranggawarsita ketika “jembatan mas” kemerdekaan Indonesia tercapai

Tentang “Kalatidha” B3J (hal.200+201) menerangkan sbb.: “Buku ini memuat wawasan kesejarahan, dan karenanya juga kadang-kadang dipandang sebagai buku ramalan sejarah Jawa, khususnya mengenai keadaan tanah Jawa.”

Jelas, pengetahuan $uharto tentang “buku ini” pun hanya sejauh “pandangan kadang-kadang”, tidak mendengar dari atau berusaha mencari tahu pada sumber yang semestinya. Perlu diketahui, bahwa “Kalatidha” sama sekali bukan berisi ramalan. Sekali lagi: Bukan ramalan!

“Kalatidha” sejenis syair ratapan atau eligi, buah tafakur atau kontemplasi Sang Pujangga di tengah dukacita yang meliputi masyarakat dan diri sendiri. Tahukah anda, bahwa pada “akhir karier” nya penyair besar ini telah dipecat dari jabatan nya sebagai pujangga kraton, dan pulang kembali ke
kampung nya di Kedung Lumbu? Justru pada masa sesudah pujangga agung ini “di-pramudyaanantatur-kan” oleh Sri Baginda Raja PB IX, ditulisnya antara lain “Kalatidha” – juga kalau tidak salah “Sabdatama” dan “Sabdajati” (dan Kamus Jawa-Kawi bersama C.F.Winter itu?). Mirip seperti Pramudya Ananta Toer yang anda “ranggawarsitakan”, bukan? Bukan nya tumpul pena pengarang ini, sebalik nya malah menjadi lebih tajam saja! (bersambung)
_______________________________
1 ‘Ora Jawa’: tidak mengerti aturan, dungu, gila. Lihat S. Prawiroatmodjo, Bausastra Jawa Indonesia, Gunung Agung Jakarta 1985, hal.179.

2 Digubah dalam bentuk tembang oleh R.Ng. Jagakartika, “Habdi Dalem Mantri Ngajeng”, diterbitkan oleh Ki Padmasusastra di Surakarta; Albert Rusche & Co. Solo, 1898.

3 “Dhongkol”, istilah Jawa untuk “ex” atau “mantan”.

4 Sarpakenaka, nama perempuan adik bungsu Dasamuka. “Sarpa”, ular; “kenaka”, kuku. Karena dia punya azimat kesaktian berupa ular berbisa yang bersembunyi di balik kuku nya. Ia mati di tangan Hanuman, kera putih anak Batara Guru, panglima perang Sri Rama.

5 Kata “blorong”, kamus kamus Jawa mengartikan “bergaris garis hitam putih”; tapi saya cenderung memandang nya sebagai ubahan dari “blereng” atau “blereng” (“e” seperti pada “ecer”), yi. “silau”.

6 Denys Lombard, Nusa Jawa: Silang Budaya (Jakarta, 1996; III:149).

7 Benedict R.O’G. Anderson, Language and Power, Exploring Political Cultures in Indonesia, 1990:271.

8 P.J.Zoetmulder, Kalangwan Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang; 1983:306.

9 Jaka Lodhang, “pada” (bait) ke-3 pupuh “Gambuh”, dilanjutkan pada pupuh “Sinom” pada ke-1.

10 Ibid., bait ke-2 disambung bait ke-3 pupuh terakhir “Megatruh”.

II

Tentang Jayabaya.

B3J menyebut (hal.200,201, 203) al.: “Sementara menyebutkan zaman ini sebagai Zaman Kencana I.” Dan bahwa “Zaman Jayabaya akan terus terulang kembali di dalam jalan sejarahnya kebudayaan Jawa.” Maksud anda? Hendak memberi isyarat, bahwa anda ialah “Jayabaya II”, dan bahwa di bawah rezim anda “Zaman Kencana I” akan terulang kembali?

Sementara itu B3J, yang gegap gempita memuji zaman Jayabaya, lupa pada dua hal. Pertama, bahwa bagi kepercayaan rakyat di Jawa, Jayabaya nama raja pujangga pengarang “Jangka Jayabaya”, 1) sebuah “serat” atau kitab yang berisi “jangka” atau ramalan tentang masa depan “bangsa Jawa”. Kedua, bahwa ada sementara yang menuduh tangan Jayabaya, raja yang anda sanjung puji ini, berlumuran darah Mpu Sedah. Sedah dihukum kisas, karena menggunakan permaisuri Jayabaya sebagai model penggambaran permasuri raja Salya dalam kakawin nya, yang (versi lain lagi menambahi) tidak lain kekasih Sedah sendiri yang dirampas Jayabaya. 2)

Tentang Nitisastra.

“Nitisastera” (selanjutnya NS) terdiri dari 126 bait. Sekurang kurangnya 62 bait di antaranya dikutip B3J, ada yang seutuhnya dan ada yang – seperti dikatakan R.M.Ng. Poerbatjaraka di atas: “mustahil tanpa mengubah atau menambahinya”.

Kapoestakan Djawi (Jakarta, 1952) R.M.Ng. Poerbatjaraka, tentang NS menyebut al.: sebagai “ular ular agesang Jawi” (tuntunan hidup orang Jawa). Tapi, perhatikan juga tambahan keterangan selanjutnya yang menyatakan, bahwa “serat” ini menjadi semacam kamus sebelum di Surakarta ada sekolahan (kursif penegas dari saya: HS).

Dalam Kata Pengantar NS Balai Pustaka 1950, yang merupakan salinan dari Nitisastra (tepatnya kutipan judul buku ini “sa” harus “c cedille”, dan “a” dengan tanda pemanjang di atas nya), R.Ng.Dr.Poerbatjaraka (1933), menyatakan al.: “berisi nasihat-nasihat serta angan-angan tentang kesusilaan yang berlaku di zaman Majapahit.” (kursif penegas saya: HS).

Jadi menjadi jelas lah.

“Ular ular agesang Jawi” dari “zaman Majapahit”, atau setidaknya dari jaman “sebelum di Surakarta ada sekolahan” itu lah, yang diangkat $uharto ke dalam B3J. Untuk apa? B3J hal. iv (Foreword) dan hal. v (Prakata) mengharap:”dapat menjadi salah satu buku petunjuk dan pegangan dalam
kehidupan bermasyarakat”.

Kemudian, B3J hal. x (Introduction) dan hal. xi (Kata Pengantar) menyatakan:

“akan menjadikan manusia Indonesia memiliki sifat Berbudi Bawaleksana ialah manusia Indonesia yang bersifat Becik Sejatining Becik, dan tidak akan sukar meningkatkan kesadarannya sebagai Bangsa Indonesia …”

Itulah impian $uharto dan “PPP” nya. Kalau Soekarno, presiden pendahulu nya, telah meninggali bangsanya Pantjasila, Sarinah, Mentjapai Indonesia Merdeka dll., mengapa dirinya tidak? Bersyukur lah bangsa ku, bahwa $uharto sudah turun dari singgasana nya Mei yang lalu. Seandainya tidak, tidak mustahil B3J akan diresmikan menjadi GBHN, atau dijejalkan di mulut para peserta penataran P4.

Serat Sasanasunu : Bukti Watak Korup $uharto

Menurut Kapoestakan Djawi tersebut di atas, Nitisastra Kawi pernah digubah oleh Yasadipura I dalam Kawi Miring (1798), dan oleh Yasadipura II dalam Kawi Jarwa (1808). Dalam hubungan ini perlu dikemukakan, bahwa selain itu Yasadipura II atau Raden Tumenggung Sastranegara, juga menulis Serat Sasanasunu. Yaitu sebuah kitab ajaran tentang tata cara hidup Jawa Islam pada jaman itu.

Kitab Sasanasunu terbagi dalam 12 bab, hanya 2 bab saja yang tidak diambil masuk di dalam B3J. Yaitu bab tentang: agar orang menjadi Islam, dan bertauladan kepada Nabi Muhammad; serta bab tentang: tata cara tidur, makan, berjalan, dan bepergian.

Sekali lagi: hanya dua bab itu lah yang tidak diambil dalam B3J. Walaupun begitu, B3J tidak menyebut sepatah kata pun tentang kitab ini. Apakah ini namanya, kalau bukan “korup”? Korup 10 bab!

Ada lagi dua nama (paling tidak yang saya ketahui), yang butir butir kata kata mutiara mereka dikutip, tapi tanpa disebut sebut siapa nama tokoh tokoh itu. Dua tokoh itu ialah, yang satu Ki Hajar Dewantara (paling tidak kata kata mutiara nya “tut wuri handayani”), dan yang lain Mas Marco Kartodikromo (paling tidak mutiara semboyan nya “rawe rawe rantas malang malang putung”). Kenapa Tuan $uharto tidak berani menyebut kedua nama itu? Karena Ki Hajar “tidak bersih lingkungan” dan Mas Marco jelas jemelas “gembong Gombinis”? Mengapa Tuan begitu picik? Ingat lah Tuan pada ajaran kearifan yang tersimpul dalam pepatah Melayu ini: “Intan tetap intan, walau keluar dari mulut anjing sekali pun!”

Dua kutipan B3J dari NS perlu saya kemukakan, sebagai contoh tentang nafsu $uharto yang korup (menambah, mengurangi, dan mengubah) dalam kutip mengutip, serta tentang taraf “ngelmu kejawen” nya yang sejauh memamah biak pada apa yang tersurat belaka.

B3J hal. 40 (bhs.Jaw.) dan 41 (bhs. Ind. dan Ing.), butir 24 (dengan italic penegas saya-HS):

“Yang dapat menyebabkan mabuk adalah: 1) rupa cantik/bagus, 2) harta, 3) kebangsawanan. 4) umur yang muda. Arak dan lain-lain minuman keras juga dapat membuat mabuk orang. Jikalau ada orang kaya, rupawan, pandai, berharta, bangsawan lagi pula masih muda, padahal tidak mabuk, itu dikatakan orang yang berwatak utama.”

Pada teks Jawa terbaca (saya kutip sebagian):

“Sing bisa gawe mendem iku: …. Arak lan kekenthelan uga gawe mendem … , mangka ora mendem, …”

Pada teks Inggris (saya kutip sebagian):

“… Rice wine and other alcoholic drinks can also …”

NS IV:193, saya kutip (dengan penyesuaian ejaan saya):

“Yang bisa membikin mabuk, ialah keindahan, harta benda, darah bangsawan, dan umur muda. Juga minuman keras dan keberanian bisa membikin mabuk hati manusia. Jika ada orang kaya, indah rupanya, pandai, banyak harta bendanya, berdarah bangsawan lagi muda umurnya, dan karena semua itu ia tidak mabuk, ia adalah orang yang utama, bijaksana tak ada bandingnya.”

Bagaimana “dan keberanian” bisa menjadi “lan kekenthelan” atau “dan lain-lain minuman keras” atau “and other alcoholic drinks”? Pertama, pertanda bahwa B3J tidak pandai membaca huruf Jawa, sehingga kata “kekendelan” (keberanian) dikutip sebagai “kekenthelan”, yang dengan nekat diterjemahkan sebagai “lain-lain minuman keras”; dan kedua, B3J malas mencocokkan nya dengan teks Kawi NS, yang mencantumkan kata “sura” (yi. “keberanian”).

Bandingkan juga kata kata NS: “dan karena semua itu ia tidak mabuk”, dengan B3J: “padahal tidak mabuk”. Ini selain menyatakan watak korup si Raja Naga, sekaligus juga memamerkan betapa dangkal “konsep” Kejawen yang dimilikinya. Jika “mabuk” pada NS ialah mabuk psikis (ungkapan Indonesia nya “lupa daratan”) yang disebabkan oleh keistimewaan keistimewaan yang dimilikinya; maka “mabuk” B3J ialah mabuk teler yang disebabkan kebanyakan minum minuman keras!

Tentang bohong

Ini menarik. Ya, bicara tentang “bohong” dalam hubungannya dengan tokoh bernama $uharto. Bukankah sepanjang 32 tahun kekuasaan nya dihias dengan kebohongan dan kebohongan belaka? Maka itu mari kita lihat, bagaimana B3J bicara tentang bohong.

Inilah kata B3J hal. 94 (bhs. Jaw.) butir 143, atau hal. 95 (bhs.Ind. dan Ing.), butir yang sama (saya kutip yang teks Indonesia, dengan kursif penegas pada beberapa kata):

“Bohong yang tidak kena hukuman itu ada lima macam: 1) Kalau sedang ada di pertemuan. 2) Ketika jadi pengantin sehabis dipertemukan pertama kali. 3) Kalau perlu untuk menjaga harta benda. 4) Kalau diperlukan untuk menjaga umur. 5) Kalau perlu untuk menjaga ketentraman keluarga. Bohong lima macam itu disebut bohong sembada. Bohong lainnya mendapat hukuman.”

Bahwa “butir mutiara” di atas justru dimasukkan di dalam golongan “Pituduh” (Guidance), dan bukan “Wewaler” (Prohibitions), diperjelas lagi dengan bunyi teks Bahasa Jawa dan Inggris untuk kata “bohong sembada”, menegaskan kualitas batin si Raja Naga dan “niyatingsun” nya yang hendak melegitimasi kebohongan dirinya sendiri.

Ini lah kata nya:

“Dora limang werna iku diarani dora sembada (goroh wenang)”. [hal.94]4.

Lebih tegas lagi ini:

“These five categories of lies are called white lies (legitimate lies].” [hal.95] 5).

Jelas bukan? Dari lima butir “bohong” yang menurut $uharto “tidak bohong” bahkan “sembada” itu, hanya satu butir yang saya tidak tahu. Yaitu butir ke-2, karena yang bisa menyangkal atau membenarinya hanyalah bini $uharto, yang sayangnya sudah almarhumah. Adapun selebihnya tampaknya $uharto sudah selalu melaksanakan “guidance” ini dengan amat sangat baik.

Apakah butir butir itu timbul dari kekayaan batin si Raja Naga pribadi? Ternyata juga tidak! Ini pun hasil srobotan (sori, maksud saya jiplakan tanpa “nyuwun pamit”) dari NS., yang dilakukan nya dengan gaya “kupat diremet remet” yang khas $uharto. Butir butir itu disrobot dari NS VI:4, sambil memenggal (main penggal juga gaya khas $uharto) dari kesinambungannya dengan bait sebelumnya (NS VI:3), dan tidak berusaha mencari tahu bagaimana mula buka “butir” itu lahir.

Saya kutip NS VI:3 dan NS VI:46

“Jika engkau berbohong kepada binatang, engkau akan mendapat hukuman sepuluh tahun lamanya; begitu lah bunyi buku pelajaran. Jika berbohong kepada sesama manusia, akan disiksa seratus tahun lamanya di neraka. Jika engkau membohongi Yang Mahakuasa, akan mendapat hukuman seribu tahun. Jika engkau berbohong kepada guru, siksaan bagimu akan tiada hentinya.” (NS VI:3]

“Ada lima macam kebohongan yang dapat dilakukan dengan tidak ada hukumannya: di waktu sedang berpesta, waktu pertemuan pengantin (waktu pengantin lelaki dan perempuan pertama kali bertemu), guna menjaga harta benda, guna melindungi nyawa dan di waktu bersenda gurau.

Di luar kelima macam ini, engkau akan dibawa ke kawah (neraka).” (NS VI:4]

Coba lah pikir barang sedikit. Apa kah ada “butir butir budaya” yang tentu saja selalu bermaksud menyampaikan ajaran moral dan “bagusing ati” (istilah anda pribadi), justru memberi “pituduh” alias “guidance” (juga istilah istilah anda) agar orang membohong. Dalam lima pasal lagi! Karena itu layak dipertanyakan, apa kah dengan maksud membela diri dari kebohongan kebohongan nya, maka $uharto telah menjiplak dan mengkorup semena-mena butir NS VI:4 tanpa mengutip butir sebelumnya?

Semua Kitab Suci tidak ada yang menganjurkan perbuatan bohong. Juga kitab ajaran moral Nitisastra tidak. Camkanlah, betapa keras kitab ini menyikapi kebohongan. Saya kutip butir VI:2:

“Tidak ada kesanggupan yang lebih baik dari pada cinta kepada kebenaran; wajib lah orang menepati kebenaran itu. Tidak ada kawah yang lebih mengerikan dari pada kawah tempat menghukum pembohong; dari itu jangan bohong. Betara Agni, Surya, Candra, Yama dan Bayu menjadi saksi tiga jagat, agar Pengeran tetap disembah oleh seluruh dunia dengan menetapi kebenaran, biarpun sampai mendatangkan ajal.” 7)

Tiga puluh tahun lebih $uharto bertahta di Nusantara, termasuk Pulau Bali yang memiliki seribu keindahan. Tapi Haji kita yang seorang ini tak pernah mampu rupanya meresapi amanat Surah al-‘Ash-r (“wal-Asri”) yang amat pendek itu. Raja Naga ini bukan nya menghayati dan merenungi keindahan Pulau Dewata, melainkan menikmati dan sibuk menukar keindahan kekayaan Pulau Dewata dengan valuta asing.

Orang Bali mempunyai sepatah kata “pancanreta” (lima kebohongan). Kamus Bahasa Bali 8), pada lema ini, menerangkan: “Boleh berbohong kepada musuh, menolong jiwa yang mau dianiaya, menyelamatkan harta benda sendiri, kepada anak-anak demi kebaikannya, kepada wanita yang tidak susila”.

Perhatikan baik baik. Jangan berhenti dengan memamah biak harfiahnya yang tersurat: “boleh …”, tapi resapilah “niyatingsun” yang tersirat dari bunyi kata-kata itu. Dengan demikian niscaya lah anda tidak akan sampai pada kesimpulan yang dangkal dan oportunistis “berhak bohong”, karena ada lima pasal kebohongan yang termasuk “white lies” yang “tidak kena hukuman”.

Untuk memahami mula buka lahirnya butir butir pancanreta atau lima kebohongan itu, saya anjurkan agar $uharto dan Hardiyanti Rukmana tidak berhenti pada NS (1950), yang anda jiplak dengan pembengkokan semena mena itu. Bacalah keterangan R.Ng.Dr.Poerbatjaraka dalam Niticastra (“ca” dengan “c” cedille dan “a” bertanda pemanjang) yang diterbitkannya tahun 1933 dengan salinan nya dalam Belanda (Bibliotheca Javanica 54 No.B 1483) 9). Dengan begitu semoga anda tidak akan lagi berulah “main kayu” dalam menyikapi kata-kata mutiara leluhur bangsa.

Seandainya saya tega mengikuti ulah main kayu anda, maka saya akan menjadikan kebohongan yang berbutir lima itu menjadi berbutir enam, pancanreta menjadi sadreta, yaitu dengan tambahan begini: juga “white lie” tapol berhak ketika dia di depan interogator rezim militer fasis!

Beberapa contoh main kayu B3J

B3J hal.14 dan 15 butir 35 kita baca: “Pangeran iku menangake manungsa senajan kaya ngapa”; “Tuhan itu memenangkan manusia bagaimanapun juga”; “The Lord will make man win in any situation”.

Entah dari sumber mana butir ini dicurinya, tapi diangkat dalam B3J menjadi butir yang dangkal belaka. Sudah pasti butir ini tidak hendak mengajar perkara “menang” dan “kalah”, tapi tentang urusan “wewenang’ atau “kewenangan” dan “ketidak-wenangan” manusia. Ingat ajaran Kitab Suci! Bukankah manusia itu citra atau ‘wakil’ Tuhan di bumi? Jadi “ayat” itu harus dibaca sebagai: Bagaimana pun juga Tuhan itu memberi wewenangNya kepada manusia.

B3J hal. 26 dan 27 butir 17, kita baca: “Lamun sira durung wikan kadangira pribadi, coba dulunen sira pribadi”; “Jikalau engkau belum menemukan “kadang” (saudara) pribadimu, cobalah melihat dirimu sendiri”; “If you have not yet appreciated your fellow man, try to look at yourself”.

Jika contoh pertama di atas tentang kedangkalan B3J dalam pengetahuan kebahasaan (Jawa), contoh kedua ini tentang kedangkalan $uharto dalam hal “ngelmu kebatinan”. Pertama kata “wikan”. Ini bukan “menemukan”, tapi “tahu akan” atau “sedar akan”. Kedua kata “kadang”. Dalam bahasa sehari hari memang benar, berarti “saudara”. Tapi sebagai istilah dunia kebatinan (supaya tidak terlalu sok-tinggi: dunia ajaran moral Jawa), “kadang” ialah “alter ego”, atau “Si Begja” menurut kamus “Kawruh Begja” Ki Ageng Suryamataram. Sehingga terjemahan Inggris yang “fellow man” selain dangkal juga menggelikan.

B3J hal. 44 dan 45 butir 33, kita baca: “Menang tanpa ngasorake”; “Menang tanpa merendahkan”; “Winning without humiliating”.

Di sini pun $uharto tidak memperlihatkan dirinya sebagai seseorang yang bersentuhan dengan dunia batin sama sekali. Sekali lagi ia mendekati inti ajaran ini bukan sebagai “menang-kalah” dalam “peperangan batin” si penuntut kebenaran, tapi sebagai “menang-kalah” dalam peperangan fisik si penuntut kekuasaan. Bukan kemenangan karismatik, tapi kemenangan adigang-adigung-adiguna. Kemenangan karismatik tak ada hubungannya dengan masalah “unggul-asor”.

Penutup: B3J duplikat buruk Nitisastra plus Sasanasunu

Di atas sudah dikemukakan, bahwa sekurang kurang nya 62 bait dari 126 bait Nitisastera (1950), telah disrobot masuk di dalam B3J yang mengandungi sebanyak 467 butir. Bait-bait itu kebanyakan dipecah-pecah, satu bait menjadi dua atau tiga butir. Misalnya bait ke-2 NS 1950 dipecah menjadi dua butir (76 dan 77) pada hal. 60; bait ke-9 NS diambil separoh yang atas, dan dipecah jadi dua butir (87 dan 88) hal. 64 dan 65. 10) Dari kitab Sasanasunu yang 12 bab, hanya 2 bab saja yang tidak dipungut ke dalam B3J. Sehingga kesan pertama saya membaca B3J, tidak lain adalah versi buruk dari NS 1950, dan Sasanasunu, dengan sedikit tambahan butir-butir yang dipunguti dari perbendaharaan tutur. Lalu untuk menggertak pembaca dideretkanlah di belakang, enam halaman “References” atau “Sumber” (hal.198-203). Tiga belas “Sumber” semuanya. Termasuk yang disebut nya “Suluk Selo” dan “Tri Dharma Pangeran Samber Nyawa”, yang entah berbentuk apa itu. Dalam hubungan ini, Nitisastera 1950 dan Sasanasunu, justru “Sumber” utamanya, tidak disebut-sebut sama sekali. Si pengarang ($uharto) dan si penyunting (Hardiyanti Rukmana) pikir, gertak Raja Naga yang mistis itu cukup rapih untuk menyembunyikan perbuatan korup mereka.

Sudah dikemukakan juga di atas, bahwa Nitisastra adalah buah budaya jaman Majapahit akhir. Jaman ketika kaum laki laki kerajaan besar ini telah ada di puncak kesombongan nya. Jaman ketika peranan sejarah perempuan, seperti Ken Dedes dan Ken Umang, dan bahkan Tribuwana Tunggadewi pengemban raja besar Hayamwuruk, telah ditimbun dengan sampah sampah kekuasaan laki-laki. Tidak aneh jika justru Nitisastra menjadi bahan acuan B3J.

ABRI dan KORPRI yang tulang punggung, dan Dharma Wanita yang tulang rusuk. ABRI dan KORPRI yang “ing ngarsa sung tuladha”, dan Dharma Wanita yang “tut wuri handayani”.

Sebagai penutup saya kutip satu bait NS dan satu butir J3B tentang perempuan atau istri.

NS bait ke-16:

“Ketahuilah, bahwa di atas dunia ini ada tiga hal yang jalannya tidak lurus, yaitu: wanita, akar dan sungai. Semua berbelok-belok jalannya, tidak dapat diturutkan. Jika sudah ada bunga kemuda (yi. teratai; HS) tumbuh di batu, barulah laku wanita bisa benar. Pendeknya pesanku: awaslah engkau jika bergaul dengan wanita, hai orang yang baik-baik.”

Dan ini lah dua butir pendek B3J yang mencerminkan keangkuhan laki laki:

“Kalau mengajar kepada istri yang sabar” (B3J 142-143: 32].

“Pada jaman kuna perang itu berebut harta, negara, dan memboyong putri, tapi jaman yang demikian itu hilang setelah mengetahui bahwa putri boyongan itu dapat melemahkan negara.” [B3J 158-159: 19].

Itulah wajah kebatinan $uharto, sang Jendral Raja Naga, tampil melalui Butir Butir Budaya Jawa Sandyakalaning Majapahit.***[HABIS]
_______________________________
1 Menurut guru saya Bahasa Kawi dulu, Pak Joodkali Padmapuspita, Serat Jangka Jayabaya karangan Raja Jayabaya (1135-57] tidak berbukti ada. Tapi kepercayaan rakyat mempercayai adanya, terutama dalam saat kegelapan, karena di sana harapan harapan dijanjikan. Suasana kejiwaan demikian itu digunakan Balatentara Jepang sebelum menyerbu Jawa, misalnya, dengan menyebar pamflet yang berbunyi, al.: “Raja Jayabaya Kediri pernah berkata, bahwa bangsa kulit kuning akan datang menolong bangsa Jawa dan sekarang kami lah yang datang menolong …” Sidik Kertapati, Sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945; cet. III, 1964:15.

2 Ibu Umi, guru Bahasa Jawa saya lain lain, menceritakan kisah asmara terpendam Sedah dan permaisuri Jayabaya menjadi terbuka, akibat kakawin Bramara Wilasita yang digubahnya. Namun semua kisah romantik Sedah yang membencanai dirinya itu dibantah oleh P.J. Zoetmulder (1983:341].

3 Nitisastera, Balai Pustaka Djakarta 1950:25.

4 Kamus kamus Jawa yang ada pada saya (Purwadarminta, Pigeuad, Prawiroatmojo, Hans Herrfurth] menerangkan “dora sembada”, bohong yang terpaksa dilakukan, misalnya demi menutupi kesalahan orang lain. Jadi bohong dengan tujuan dan motivasi baik, yaitu mengambil alih beban tanggung jawab orang lain. Sedangkan pada $uharto, menjadi lebih jelas dengan keterangan
“goroh wenang” [arti “wenang” yi. “berhak”], justru sebaliknya: melemparkan tanggung jawab. [Ini memang juga ciri karakter $uharto!].

5 Kamus Inggris yang ada pada saya semuanya menerangkan “white lie” sebagai bohong kecil atau remeh temeh dengan maksud baik, sopan santun dsb. Cenderung semacam ungkapan pelembut. Bukan “legitimate lie” seperti kata $uharto.

6 Ibid, hal.29, 30.

7 Ibid., hal. 29.

8 Sri Reshi Anandakusuma, Kamus Bahasa Bali; CV.Kayumas, 1986.

9 Kitab ini diterjemahkan dalam bahasa Jawa oleh R.M.B.Djajahendra, terbit tahun 1940 oleh Balai Pustaka.

10 Supaya dikesani orang $uharto anak tani dan tahu “dunia tani”, diajukan nya butir 88: “Sapi yang keras dan parau suaranya, pasti sedikit air susunya”. Bunyi aslinya: “… Lembu yang keras dan besar suaranya, sedikit air susunya” (NS 1950, bait 9).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s