Tentang Nama: Tragedi yang Dinikmati

Hersri Setiawan

TENTANG NAMA: TRAGEDI YANG DINIKMATI

(renungan untuk ni wara dan ki wira demang) [1]

Pengantar

TULISAN ini tidak bersemangat pribadi, walaupun anak judul di atas aku tujukan pada dua pribadi. Begitu juga muatan pesan yang hendak disampaikan, bukannya suatu perkara yang dengan semangat demikian.

Ini sebuah catatan tentang salah satu pengalaman dari hidup orang bermasyarakat belaka. Katakanlah, catatan tentang persinggungan-persinggunganku dengan sesama anggota masyarakat itu. Masing-masing kita mau atau tidak mau, sadar atau tidak sadar, merupakan hasil dari kehidupan masyarakat yang panjang turun-temurun.

Jadi surat ini ditulis atas dasar pengalaman pribadi, namun tidak untuk membicarakan tentang pribadi-pribadi. Tapi tentang alam pikiran dan dunia batin masyarakat yang melahirkan pribadi-pribadi itu.

Aku mulai dengan dongeng pertama:

Dongeng I

Tentang Notula Rapat

PADA suatu hari aku menerima undangan rapat. Karena berbagai sebab aku mangkir. Tapi, sebelum rapat berlangsung, pendapat-pendapat dan saran-saranku sudah kusampaikan pada pemrakarsa. Baik liwat jalan telpon maupun jalan “sulis” (apa akronim yang bagus untuk “surat listrik” sebagai padanan “email”?). Begitu menguntungkan kemudahan sarana teknologi mutakhir itu, bukan?

Tidak lama waktu berselang aku menerima semacam notula rapat yang tak lengkap. Tak lengkap, karena hanya berupa kiriman daftar nama-nama yang hadir pada rapat itu. Aneh sebenarnya! Sebuah notula, walaupun sengaja atau tak sengaja dibuat sebagai notula tidak lengkap, tentu lebih tepat jika mengambekparamartakan berita tentang apa-apa yang diputuskan rapat. Sedangkan berita tentang siapa saja yang hadir, atau tentang segala apa lain-lainnya, merupakan butir-butir nomor sekian. Tapi memang begitu, dan itu sajalah yang aku terima.

Masih ada yang lebih aneh lagi!

Berita itu mencantumkan nama-nama peserta rapat, ditulis rapih berderet dari atas ke bawah. Tidak berurut menurut urutan abjad, tapi mungkin atas dasar selera atau seingat si penulis notula itu. Masing-masing nama mendapat nomor urut dari angka 1 (satu) sampai dengan, sebut saja sebuah bilangan, misalnya 12 (dua belas). Namaku tercantum pada baris urutan terbawah, di belakang angka 12, disusul keterangan pendek tentang ketidak-hadiranku dan alasanku mengapa tidak hadir.

Ni Wara dan Ki Wira,

Hampir semua nama yang mendapat nomor itu semuanya nama laki-laki dan perempuan yang dikenal sebagai lajang. Tapi, perhatikan baik-baik, ada dua nomor dari dua nama yang disusul dengan nama-nama perempuan. Tidak mendapat nomor sendiri dua nama perempuan itu, karena masing-masing tentu saja istri dari dua laki-laki yang namanya tertulis di depan. Juga tidak ada kata penghubung “dan”, yang menyatakan kesetaraan, tertulis di antara nama laki-laki dan perempuan yang saling terkait itu, melainkan sebuah tanda baca “titik koma” saja. Embel-embel!

Harap diketahui, ya saudara-saudaraku. Rapat ini bukan rapatnya para anggota Korpri KBRI di Den Haag. Bukan! Selain itu rapat ini sebuah rapat kerja, paling tidak begitu pretensinya, dan bukan sekedar pertemuan silaturahmi mamah-ramah, di mana para laki-laki serimbit menggandeng istri atau pacar. Kedua perempuan itu hadir sebagai pribadi, membawa tubuh sendiri dengan pendirian dan pendapat sendiri. Tapi karena kedua-duanya adalah “hanya” istri, maka kehadiran mereka itu menjadi tidak diakui sebagai menampak. Mereka tidak mendapat nomor, walaupun nomor penghabisan sekalipun! Sebaliknya nomor penghabisan itu justru diberikan kepadaku. Ya, aku yang tidak hadir!

Itulah contoh paling jelas tentang alam pikiran dan dunia batin laki-laki kita. Notabene dunia laki-laki aktivis yang sanggup bicara berkobar dan panjang lebar tentang demokrasi! Sadar atau tidak sadar ternyata mereka masih menganut atau dikuasai paham, seperti dinyatakan dalam syair lagu seriosa gubahan Ismail Mz. “Wanita”:

“Diciptakan alam pria dan wanita,
dua makhluk jaya asuhan dewata;
ditakdirkan alam pria berkuasa,
adapun wanita lemah lembut manja.

Wanita dijajah pria sejak dulu,
dijadikan perhiasan sangkar madu;
namun ada kala pria tak berdaya,
tekul lutut di sudut kerling wanita.”

Paham, bahwa perempuan sekedar, pinjam istilah Simone de Beauvoir, “le deuxième sexe”. Makhluk klas kambing, yang terbikin dari sempalan tulang rusuk laki-laki belaka. Bahwa perempuan ialah makhluk yang lemah dan tolol (baca: Sarinah, Bung Karno), yang tidak patut mengenal neraka apalagi surga, kecuali jika dia perempuan yang beruntung. Perempuan baru akan beruntung, yaitu jika ada laki-laki yang sudi memilikinya. Sehingga dengan begitu perempuan tersebut akan terbawa (katut) oleh laki-laki pemiliknya, atau jika ada sang suami, yaitu laki-laki yang sudi dinunuti olehnya. Perempuan, seperti pernah kutulis hampir 20 tahun yang lalu (Prisma, Juli 1981), ibarat “awan thèklèk bengi lèmèk”. (Kakang Demang ketika itu komentari: “Wah, judulnya kok provokatif, Dhi Lurah!?” Ingat Kakang?)

Maka inilah pertanyaanku yang pertama: Bukankah dongeng di atas itu sebuah lakon tragedi, yang justru dinikmati oleh si protagonis?

Dongeng II

Tentang Sebuah Kartunama

Ni Wara dan Ki Wira,

PADA suatu hari aku bertemu seorang perempuan muda. Bukan kenalan baru perempuan ini bagiku, dan juga bukan sekedar “tepung kebo” kita saling mengenal. Ni Wara dan Ki Wira masih tahu istilah “tepung kebo”? Sinonim kata ini “tepung celathu”, yaitu pengenalan selintas lalu seperti antar-orang seperjalanan. Hanya saling bertukar sapa: “ni hao?”, lalu: “zai jian!”.

“Lihat kartunamaku yang baru!” Kata perempuan itu sambil memberikan selembar kartunama padaku. Wajahnya merah berseri, memancarkan kegembiraan dan kebanggaan.

“Terimakasih!” Jawabku.

Kuamat-amati kartunama itu. Apanya yang baru, aku tidak tahu. Karena kartunya yang lama tidak pernah aku menerimanya. Mungkin kertasnya yang berwarna lembut dan berbau melati, dan huruf-huruf serta tata cetaknya yang bergaya tulisan prasasti kuno? Tapi, andaikata pun begitu, apa istimewanya? Karena hampir semua “orang kota”, walaupun tidak selalu tinggal di kota, mengantongi kartunama di sakunya. Masing-masing tampil menurut selera keindahan sendiri-sendiri.

Ah! Barangkali perempuan muda ini, ibarat rama-rama muda yang baru keluar dari kepompong. Pikirku. Kartunama selain mengandung gawai atau fungsi yang bersifat “gesellschaftlich”, juga mempunyai nilai kadar yang bersifat “gemeinschaftlich”. Kartunama, bagi yang bersangkutan, juga merupakan semacam pernyataan kehadiran (eksistensi) dan kejatidirian (identitas) sekaligus.

Maka kuamati huruf-huruf dan kata-kata yang tercetak pada kartunama perempuan muda itu. Tertera di sana alamat pos, nomor telpon dan faks, serta alamat sulis. Di atas semuanya itu, dengan huruf-huruf bermodel “aristokrat” dan dalam “point” yang lebih besar, terbaca namanya yang lengkap. Panjang seperti lazimnya anak-anak Indonesia yang lahir sesudah perang, atau nama-nama priyayi baru Indonesia, atau nama-nama permandian Jawa (Orde) Baru yang dipungut oleh orang-orang (maaf!) Kasno alias “Bekas Cino”.

Nama yang panjang pada kartunama itu masih diperpanjang lagi dengan “nama keluarga” suaminya (untungnya [atau justru celakanya?] tanpa “nama keluarga” orangtua sendiri), dan ditutup dengan gelar kesarjanaannya. Ya, begitulah. Perempuan ini orang Indonesia, yang bersuami laki-laki Indonesia juga. Tapi dalam hal menuliskan namanya, setengah berepigon pada tatacara Barat atau Arab.

Tak kusadari aku menarik napas dalam-dalam.

Mengapa perempuan ini tidak berani tampil sebagai pribadi sendiri, melainkan merasa perlu harus dikawal “sang suami”? Mengapa nama orangtua sendiri, yang tanpa mereka dirinya sendiri tidak akan pernah ada, malah tidak dicantumkannya? Lalu gelar kesarjanaan itu! Apa hubungan pengakuan prestasi ilmiah dari sesuatu universitas yang diberikan kepadanya itu dengan keberadaan “sang suami”? Apalagi ketika gelar kesarjaaan itu diraihnya, ia belum “diperistri” (sengaja kupakai kata berawalan pemasif “di”) oleh laki-laki itu!

Maka inilah pertanyaanku yang kedua: Bukankah dongeng di atas itu sebuah lakon tragedi, yang justru dinikmati oleh si protagonis?

Dongeng III

Istriku Ikut Arisan

PADA suatu sore hari istriku pergi. Menghadiri undangan Arisan Ibu-Ibu se-RT. Ketika itu kami masih tinggal di salah satu rumah, di Jalan Tebet Timur Dalam Gang L nomor 31 Jakarta Selatan. Arisan itu diadakan sekali setiap satu bulan. Tempatnya berganti-ganti. Yaitu di rumah keluarga yang, pada pertemuan sebelumnya, memenangkan undian arisan.

Rumah kami juga pernah mendapat giliran. Sebanyak duapuluhan lebih ibu-ibu jika hadir semua. Tapi dua kali jatuh pada giliran di rumah kami, belum pernah lebih dari sepuluh yang hadir. Tentu bukan karena rumah kami yang kecil, atau karena perabotannya yang serba kampungan. Tapi pastilah karena, seperti diceritakan istriku dalam memoarnya yang berjudul “Selamat Tinggal Indonesia”[2] itu, mereka takut ketularan “Virus Buru” yang terkenal keliwat ganas. Tidak salah mereka. Suami istriku memang ET keluaran Pulau Buru! Karena itu kami tidak pernah lagi mau menyediakan tempat. Tapi pinjam tempat Ibu Suèb, tetangga di kiri, atau Ibu Junaedi, tetangga di kanan. Walaupun hidangan makanan dan minuman tetap kami yang menyediakannya.

Senja hari itu arisan diadakan di rumah Pak Haji. Begitulah kami sekampung biasa menyebutnya. Kepala rumah tangga tempat arisan memang seorang haji, penganjur Parmusi (ketika $uharto belum men-sterilisasi parpol ini dan meleburnya dalam PPP), dan pensiunan diplomat. Ia, pada awal tahun 60-an, pernah dinas di bagian sandi KBRI di Beijing. Konon ketika itulah ia pernah bertemu denganku. Begitu ia bercericau pada tetangga, dalam bulan-bulan pertama sesudah September 65, ketika Jakarta sedang dilanda keranjingan “budaya” tumpas kelor terhadap kaum komunis dan sukarnois.

Arisan kali itu dihadiri hampir semua anggota. Orang takut agaknya menjauhi tokoh yang didesas-desuskan sebagai informan Kalong[3] itu. Di sini, dalam hubungan dengan “Cap G30S-PKI”, nasihat pepatah Jawa “aja cedhak kebo gupak”, jangan mendekati kerbau yang kotor, sama sekali tidak berlaku. Karena yang berlaku justru yang sebaliknya: orang beramai-ramai ingin pamer tentang kedekatannya pada “kebo gupak” itu.

Beda dengan arisan di tempat-tempat lain sebelumnya, yang tidak pernah dihadiri suami, kali ini Pak Haji ikut ambil bagian dari sejak pidato selamat datang sampai pidato penutup ucapan terimakasih. Juga menyimpang dari kebiasaan sebelumnya, pada pidato pembukaannya Pak Haji membacakan daftar hadir. Satu demi satu nama ibu-ibu diserukan, yang disahut dengan acungan telunjuk jari yang bersangkutan.

Istriku dalam hati bertanya-tanya. Karena menurut daftar hadir yang ditulisnya, namanya sudah harus disebut sesudah “ibu Junaidi” dan sebelum “ibu Suèb”. Ia sudah berdiri, berniat protes dan meninggalkan arisan, ketika tiba-tiba ruang arisan menjadi agak riuh.

“Jitske!” Kata Ibu Jun menahannya, sambil menarik lengan Jitske.

“Namamu dipanggil. Jawab dong!” Seru ibu-ibu yang lain.

“Nama saya? Tidak, saya tidak mendengar!”

“Sudah. Pak Haji tadi sudah memanggilmu!”

“Siapa dipanggil? Saya? Jitske?” Protes istriku.

“Bukan. Ibu Hersri. Itu kan nama suamimu?!” Ibu-ibu beramai-ramai mempertahankan Pak Haji mereka.

“Nah! Jadi, bukan namaku toh?! Aku punya namaku sendiri. Lihat saja daftar absen tadi, aku tulis dengan nama siapa!

Atau sudah dicoret dan diganti?!”

Pak Haji tunduk. Menyembunyikan malu ke pangkuan sendiri.

“Lagi pula ini katanya arisan ibu-ibu? Apa urusannya laki-laki hadir di sini?”

Ruangan tamu Pak Haji akhirnya reda dengan suara. Tapi seperti menjadi sesak oleh mendung perasaan. Dalam suasana berat itu arisan berakhir. Pak Haji mengucapkan pidato basa-basi penutupan. Atasnama pribadi, istri dan anak-anaknya menyampaikan terimakasih pada ibu-ibu yang hadir. Sekali lagi nama-nama ibu-ibu disebut, kecuali nama istriku. Tidak sebagai Jitske Mulder, tidak sebagai Ibu Hersri.

Maka inilah pertanyaanku yang ketiga: Bukankah dari gugatan Jitske Mulder itu kita menangkap sebuah sebuah lakon tragedi, yang justru dinikmati oleh si protagonis?

Dongeng IV

Sekitar Kartini

PADA suatu ketika aku dibikin merenung oleh judul salah satu buku karya tua Pramoedya Ananta Toer: Panggil Aku Kartini Sadja. Walaupun judul yang imperatif itu ditulis tanpa diakhiri dengan tanda pentung, namun aku menangkap nada protes daripadanya. Nada gugatan. Tentu saja gugatan ala priyayi Jawa dari akhir abad ke-19.

Aku lalu ingat syair pujaan untuk Kartini, yang digubah menjadi lagu oleh Wage Rudolf Supratman. Judul semula lagu ini, dan juga kalimat pertamanya, berbunyi “Raden Ajeng Kartini”. Aku belajar menyanyikan nyanyian ini ketika masih kanak-kanak di desa Brosot, sebelum bersekolah, dari pembantu rumah tangga kami Mbak Kustinah namanya. Ia memang suka menyanyi. Jika terkadang belakangan hari ia kuingat kembali, sungguh sangat menarik dan mengherankan. Wajahnya yang selalu menyungging senyum, dan suaranya yang bening merdu … Ya, bagaimana gadis desa yang tidak pernah “makan sekolahan” itu, pandai menyanyikan lagu-lagu dalam nada doremi (septatonik), bukannya nada-nada jirolu (pentatonik), tanpa sumbang? Dan perbendaharaan lagu yang dipunyainya lebih mengherankan lagi! Lagu-lagu dari jaman awal pergerakan kebangsaan, seperti – selain “Raden Ajeng Kartini” tersebut – “Prangko Amal” (yaitu lagu kampanye gerakan amal jariah Muhammadiyah, ketika mendapat ijin pemerintah Hindia Belanda mencetak dan mengedarkan perangko), “Mars Gerindo” (gubahan siapa, Kakang Demang tahu?), “Mars Surya Wirawan”, “Lily Marlene”[4], “Di Timur Matahari” dan versinya “Jempol Indonesia”[5], serta beberapa lagi lagu-lagu sejaman dan semacamnya.

Aku pun suka dan sering menyenandungkan lagu “Raden Ajeng Kartini” itu. Entah sejak kapan tepatnya, dan oleh perintah siapa, hafalanku syair lagu ini tanpa kusadari telah menjadi “Ibu Kita Kartini”. Aneh ya? Menyimpang dari proses sosial yang dialami pribadi Kartini itu sendiri: dari “raden ajeng” langsung ke “ibu”, tanpa melalui fasa dan kurun sebagai “raden ayu”.

Coba silakan renung! Apakah karena kurun waktu sebagai raden ayu yang terlalu pendek, karena Kartini segera “seda kunduran” seketika ia melahirkan bayinya? Ataukah karena fasa sosial sebagai raden ayu berarti memasuki fasa menjadi “lèmèk” dan “thèklèk” laki-laki, sehingga tidak semestinya perempuan diberi tempat? Atau, apakah karena alasan sederhana saja: gandrungnya masyarakat Indonesia pada semangat demokrasi? Tapi andaikata demi semangat demokrasi, mengapa toh “Ibu kita Kartini” dan bukan “Wahai engkau Kartini”, misalnya?

“Ibu”! Ki Wira, terutama engkau Ni Wara, mari bersama-sama direnung. Apa arti sosial yang dikandung di dalam istilah ini, selain “sekedar” (yang dalam konteks suasana demokrasi sebenarnya tidak “sekedar”!) sebagai honorefik prefiks? Sebutan “nyonya” dan “ibu”, sebenarnya gambaran tentang peranan perempuan yang bersangkutan. Pada “nyonya” terbersitlah pesan, bahwa peranan perempuan sebagai “kanca estri” (kawan perempuan) telah habis, dan diganti dengan peran sebagai “kanca wingking” alias “kawan belakang” – sebuah ungkapan yang contradictio in terminis: katanya “kawan” kok ditempatkan di belakang! Nasib perempuan yang begini ini lebih celaka dari nasib perempuan masyarakat Buru yang nomadis. Di sana perempuan dipandang sebagai harta paling mulia, sehingga karenanya justru selalu berjalan di depan laki-laki, dan dikawal dengan kelewang dan tombak.

Pesan yang hendak dikatakan dalam sebutan “ibu” lebih buruk lagi. Yaitu bahwa perempuan yang bersangkutan sudah tidak mempunyai peranan apa-apa lagi! Tidak sebagai pribadi sendiri, tidak pula sebagai “kanca istri”, dan bahkan sebagai “kanca wingking” sang suami pun tidak. Ia tinggal berperanan sebagai “ibunya anak-anak”. Itu pun hanya dalam sebutan. Karena dalam praktek kehidupan, peranan “ibunya anak-anak” itu bisa diganti oleh bibi pembantu, babysitter, atau rumah penitipan anak-anak!

Maka inilah pertanyaanku yang keempat. Bukankah dari dongeng “Sekitar Kartini” di atas, kita menangkap sebuah lakon tragedi, yang justru dinikmati oleh si protagonis?

Tragedi itu, jika kita berhenti pada mendengar dan melihat akibatnya yang menyedihkan saja, memang lebih banyak dan lazim disifatkan pada kisah melodrama dunia perempuan. Tapi jika kita “membaca apa yang tersirat di balik yang tersurat”, maka si laki-laki (suami) itu sendirilah yang sesungguhnya menjadi sumber akibat. Justru dia itulah yang hidup dalam cengkeraman dunia tragedi[6], sebagai buah dari obsesi kelaki-lakiannya yang hampa: adigang (sok kuasa), adigung (sok-mulia), dan adiguna (sok-pintar).

Penutup

Ni Wara dan Ki Wira,

ORANG suka berlindung di balik perisai kata-kata puitis Shakespeare. Tapi tanpa pernah merenungi butir kandungan isinya, melainkan sekedar berlatah-latah mengunyah-kunyah permen karet. Kata-kata yang kumaksud ialah ucapan Juliet dalam Romeo and Juliet (II.II:43-44) ini:

“What’s in a name? that which we call a rose
By any other name would smell as sweet;”

Bacalah dan camkan inti makna kalimat pertama itu, baru kemudian pahamilah kalimat kedua. Jangan dibalik! Karena hubungan antara dua baris kalimat itu adalah hubungan antara pokok dan keterangan, bukan seperti hubungan antara sampiran dan isi dalam pantun.

Juliet (baca: Shakespeare) bukan bersoal dengan bentuk lahiriah, tapi sebaliknyalah: dengan hakikat. Apa hakikat di balik “mawar”? Apa hakikat di balik Romeo! Kalau hakikat itu sudah tertangkap, maka sebutlah apa saja. Sama halnya seperti orang Jawa lalu punya pemeo “lumah kurebing godhong suruh, yèn ginugut padha rasané” – dua sisi daun sirih (yang beda warna itu), jika dikunyah sama saja rasanya. Atau ingatlah Ki Ageng Bringin Suryamataram yang memberi nama pada ilmu hakikat ajarannya dengan “seenaknya saja”: Kawruh Be[g]ja.

Ada satu hal yang dalam hubungan ini perlu diperhatikan. Kosakata bahasa Jawa yang melimpah dengan kata pinjaman dan kata jadian dari khazanah bahasa “Sanskerta itu, justru tentang perihal yang pokok ini mampu mempertahankan kosakata sendiri. Orang Indonesia (Melayu) punya istilah “nama, yang dipinjam dari Sanskerta, orang Barat pinjam dari Latin nomen”, tapi orang Jawa mempunyai istilah miliknya sendiri:

“jeneng” atau “aran”. Makna atau kandungan isinya pun jelas dan tegas.

“Jeneng” ialah pokok atau “jejer” – subjek. Karena itu juga berarti “adeg-adeg”, yaitu tanda baca pada tulisan huruf Jawa dan ditulis pada awal kalimat, yang berbentuk dua garis tegak sejajar. Perhatikan itu: dua garis tegak sejajar! Dalam paramasastra Jawa “tembung aran” ialah kata benda atau nomina, yaitu kata yang menyatakan tentang benda berwujud atau dianggap berwujud …

***

Bangsa Jawa sejatinya bangsa yang sadar benar akan jati diri sendiri. Bangsa yang sangat individualis, kata almarhum Ruth Havelaar. Bagaimana bangsa yang berkualitas batin demikian, kemudian menjadi tidak kenal praktik demokrasi – ini perkara lain yang perlu dikupas dan disoroti.

***

Keterangan:

1. Istilah “wara” dan “wira”, sebutan panggilan anjuran Jawa Dipa; “wara” untuk perempuan, dan “wira” untuk laki-laki. Bandingkan dengan “ni” atau “nyi” dan “ki” bagi Keluarga Taman Siswa; atau “zus” dan “bung” bagi kalangan kaum pergerakan kebangsaan. Semuanya itu akhirnya hilang dilanda arus tatakrama Orde Baru Jendral $uharto: “Bapak” dan “Ibu”.

2. Selamat Tinggal Indonesia, 1995(i); versi Indonesia dari Quartering, 1991; Inkwartiering, 1992(i).

3. Operasi Kalong, dinas intel TNI Angkatan Darat, dalam gerakan penumpasan kaum komunis dan demokrat Indonesia sesudah Peristiwa 30 September 1965.

4. Syair lagu Lily Marlene: Oh beginilah nasibnya soldadu / diosol-osol dan diadu-adu / Tapi biar tidak apa / asal untuk negri kita / naik dan turun gunung / hijrah pun tak bingung // Lagu ini konon berasal lagu Perancis, juga diberi syair dalam dua bahasa lainnya: Sunda dan Belanda.

5. Syair lagu Jempol Indonesia: Jempol indonesia / i-er Sukarno / pandu indonesia / de-er sutomo / bapak indonesia / ki dewantoro / jago indonesia / diponegoro //

6. Tragedi dari kata Yunani “tragoidia”; “tragos” = bandot (kambing jantan), “oidia” = menyanyi. (kambing jantan), “oidia” = menyanyi.

2 pemikiran pada “Tentang Nama: Tragedi yang Dinikmati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s