Surat untuk Damaria Pakpahan dan Julie Shackford-Bradley tentang Turun ke Bawah

Hersri Setiawan

Surat untuk Damairia Pakpahan dan Julie Shackford-Bradley tentang Turun ke Bawah

Damai,

Surat yang membawa pertanyaanmu seperti datang tepat waktu. Baru beberapa hari lalu aku mengorbitkan lanjutan Di Sela Intaian nomor V, yang seharusnya nomor VII – tapi itu karena salahku. Lebih kalut lagi karena tulisan bersambung ini hanya kububuhi nomor urut, tapi tanpa aku beri judul masing- masing. Dalam tulisan Di Sela Intaian yang “terakhir” itu (hal. 10), aku menyinggung asas 1-5-1, yang pada masanya menjadi asas kerja para pekerja kebudayaan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra).

Asas 1-5-1 itu, baiklah aku ulangi, ialah:
Politik sebagai Panglima;
Lima Kombinasi, yaitu:
(1) kegiatan meluas dan kegiatan meninggi;
(2) tinggi mutu ideologi dan tinggi mutu artistik;
(3) tradisi baik dan kekinian revolusioner;
(4) kreativitas individu dan kearifan massa;
(5) realisme sosialis dan romantik revolusioner.
Turun Ke Bawah.

Pertanyaan pertama yang timbul padamu ialah, organisasi mana saja yang melaksanakan “turba” itu? Ya, “turba”. Memang itulah akronim yang ketika itu lazim digunakan, baik dalam tulisan maupun dalam pembicaraan. Bagi sementara pihak yang kurang “sreg”, dengan maksud menyindir, terkadang suka memperpanjang “turba” sebagai “turu bareng” alias “tidur bersama”. Sedang pihak lawan-lawan PKI dan ormas-ormas pendukung serta simpatisannya, memperpanjang akronim baru itu sebagai “tur.. [maaf, carilah satu kata Jawa yang jorok untuk ini!] babi”.

Tidur Bersama!

Tidak terlalu keliru, karena pihak yang bersangkutan – yaitu pelaksana “turba” itu sendiri pun – menjabarkan metode kerja “turun ke bawah” ini, demi mudah mencamkan pelaksanaannya, sebagai praktek “tiga sama”. Tiga Sama dengan urutan praktek pelaksanaan yang tak boleh keliru, yaitu: pertama, “bekerja bersama”; kedua, “makan bersama”; dan ketiga, “tidur bersama”.

Jadi pertama-tama bekerja dulu, baru kemudian makan, dan akhirnya tidur. Kerja sama itu pun tidak seperti kerja samanya kusir dan kuda, atau kuli dan majikan. Tapi sama jenis pekerjaan yang dikerjakan. Makan bersama bukan hanya urusan makan bersama-sama di satu meja yang sama, tapi yang satu makan nasi dan yang lain makan thiwul. Satu meja atau tidak, bukan soal. Tapi yang penting kesamaan jenis makanan yang disantap. Satu makan thiwul semua makan thiwul, satu makan jagung semua makan jagung, dan seterusnya. Juga perkara tidur bersama. Bukan perkara tidur di satu ruang yang sama, tapi yang satu berkasur dan yang lain tikar pun tidak. Juga bukan harus berarti bersama tidur di tempat tidur yang satu dan sama seperti pengantin baru. Tapi yang diutamakan ialah, si kader atau si seniman tidur di atas tempat tidur dan dengan adat tidur yang sama seperti si pemilik rumah yang diturunbawahi.

Damai,

Aku tidak tahu pasti, apakah turba di saat itu selain oleh PKI juga dilakukan oleh orpol dan ormas progresif revolusioner lainnya. Lalu, jika mereka laksanakan, bagaimanakah cara melaksanakan pengorganisasiannya, dan apakah pula tujuan yang hendak mereka capai. Semua itu aku tidak tahu. Karena itu aku tidak hendak bicara tentang bagaimana turba di dalam orpol dan ormas lain-lain. Aku ingin membatasi pembicaraanku tentang turba, seperti yang dipraktekkan di dalam organisasi yang kukenal, yaitu Lekra. Itu pun atas dasar pemahaman dan pengalamanku pribadi sebagai aktivis Lekra ketika itu, baik selagi masih di Cabang Yogya, maupun kemudian sesudah di Daerah Jawa Tengah.

Sebagai “orang daerah” tentu saja aku tidak termasuk “tokoh pusat”. Lebih sempit lagi aku tidak tergolong dalam kelompok perumus kebijakan di Jakarta. Malahan, sebagai “pendatang baru” di dalam Lekra (1958), tidak sejak awal sejarah Lekra aku berkenalan dan dekat dengan para pendiri organisasi ini. Oleh karena itu pula, segala apa yang kukemukakan di sini hendaknya dibaca dan diterima sebagai pendapatku pribadi semata-mata. Bukan pendapat kolektif pimpinan, dan bukan pula pendapat seorang pemimpin! Lekra lahir dalam sejarah ibarat baru “kemarin sore”. Hidup lima belas tahun (1950-1965), dan sebagai organisasi segera mati di tangan Sang Tiran Suharto serta segenap perangkat kekuasaannya. Para pendiri dan tokoh utama Lekra – baik yang di pusat maupun yang di daerah – nyaris semuanya mati, tanpa sempat dalam suasana aman menyerahkan tongkat estafet pada para tokoh penerus. Ini menyebabkan masalah yang paling pertama dan utama dalam Lekra, yaitu asas 1-5-1 yang sejatinya merupakan jatidiri organisasi ini, menjadi tidak sederhana dan bahkan serba kabur. Sisihkanlah masalah “Politik sebagai Panglima” yang sudah cenderung menjadi klise, baik bagi lawan maupun kawan organisasi ini, dan yang notabene hanya memancing pihak-pihak yang terkait saling bertarik urat.

Kombinasi-kombinasi yang lima, dengan metode pencapaiannya melalui jalan “turba” dalam bentuk “tiga sama”, ini pun telah menjadi masalah yang tidak sederhana dan kabur. Penyederhanaan dan pengaburan itu akan semakin menjadi sempurna, menurut anggapanku, jika tanggapan terhadap masalah ini dikemukakan dengan menempuh jalan pintas: 1-5-1 adalah reproduksi acak dari konsep pemikiran luar negeri. Khususnya konsep pemikiran Mao Zedong tentang sastra dan seni, seperti tertuang dalam pidatonya di depan “Diskusi Yenan tentang Sastra dan Seni” (Talks at the Yenan Forum on Literature and Art, dalam Selected Works of Mao Tse-tung, vol. III, 1953).

Damai,

Mari kita kembali pada soal “Turba” saja. Pertama, aku ingin menanggapi sementara pendapat yang mengatakan, bahwa “turun ke bawah” Lekra bersumber pada konsep hasil pemikiran Mao Zedong. Pendapat ini sama sekali tidak aku tolak. Tapi, walaupun begitu, aku juga tidak bisa membenarkan sepenuhnya. Benar memang! Jika kita memperhatikan lima butir kombinasi itu, dan kemudian membaca kembali pidato Mao di Yenan, ada kesamaan masalah-masalah yang diangkat dan diberi penekanan. Tapi jangan hendaknya berhenti pada Mao dan di Yenan saja. Pidato Yenan memang sudah diucapkan Mao pada 2 Mei 1942. Adapun Lekra baru lahir 17 Agustus 1950. Tapi selama tahun-tahun itu seluruh dunia sedang dilanda amok Perang Dunia II yang menyala-nyala, yang segera pula disusul oleh perang- perang kemerdekaan dan pembebasan di negeri-negeri bekas jajahan. Juga di seluruh dunia, Indonesia dan Tiongkok tak terkecuali. Barangkali perlu dicatat juga dalam hubungan ini, bahwa delegasi resmi PKI yang pertama ke luar negeri baru dikirim tahun 1950. Yaitu delegasi sembilan orang, di bawah pimpinan Njono dan tanpa tokoh Lekra di dalamnya, menuju Beijing. Selain untuk menghadiri perayaan satu tahun umur Republik Rakyat Tiongkok, juga untuk menghadiri Kongres Gerakan Buruh Sedunia Kawasan Oseania-Pasifik.

Dengan mempertimbangkan hal-hal tersebut, aku cenderung untuk mengembalikan lima kombinasi asas kerja para pekerja kebudayaan Lekra itu, pertama-tama pada sumber-sumber mereka sendiri. Yaitu sumber-sumber yang berupa dokumen tertulis, dan sumber-sumber sejarahnya yang tak tertulis. Sumber tertulis itu ada dua; pertama, yaitu Manifesto Lekra tahun 1955, yang kemudian disahkan sebagai Mukadimah Lekra oleh Kongres Nasional I di Solo tahun 1959; dan kedua, pada Manifesto Lekra yang diikrarkan di Jakarta tahun 1950 pada tempat dan tahun berdirinya organisasi ini.

Bahkan “lebih jauh” dari itu! Ini yang sumber tak tertulis, melainkan dengan merunut jalannya sejarah. Ketika suatu ketika aku membaca kembali “preadpis” Ki Hadjar Dewantara pada Kongres Kebudayaan Nasional I di Magelang (1946; carilah Pudjangga Baru Jil. XII: 1 Juli 1950), sangat kuat kurasai adanya benang merah kesinambungan antara butir- butir pemikiran Ki Hadjar dengan butir-butir pemikiran kawan- kawan pendiri Lekra itu. Buanglah semua kata “bangsa” dari dalam “preadpis” Ki Hadjar tersebut, lalu sebagai gantinya tulislah kata “Rakyat” (dengan “r” kapital). Maka yang akan terbaca tidak lain – begitu kesanku – ialah Mukadimah dan Konsepsi Kebudayaan Lekra yang lebih terurai. Jelas dan tegas itu bagiku, bahkan tanpa berpaling ke Yenan sekalipun!

Yang tidak jelas dan tegas dalam sumber-sumber Indonesia itu justru tentang soal pokok kita sekarang ini: soal Turba. Di dalam Mukadimah Lekra (1959) terbaca rumusan samar-samar, begini:

“… Lekra menganjurkan kepada anggota-anggotanya, tetapi juga pada seniman-seniman, sarjana-sarjana dan pekerja-pekerja kebudayaan lainnya di luar Lekra, untuk secara dalam mempelajari kenyataan, mempelajari kebenaran yang hakiki dari kehidupan, dan untuk bersikap setia kepada kenyataan dan kebenaran”.

Tapi bahwasanya rumusan itu samar-samar, sejatinya bisa juga dipahami. Sebab, rumusan itu rumusan sebuah mukadimah. Ia, katakanlah, sebuah “leidster” ideologis. Bukan sekedar rumusan sebuah “vademekum” untuk tuntunan kerja praktis. Beda makanya dengan kata-kata Mao dalam pidato pengarahan konperensi sastra dan seni di Yenan itu. Perhatikanlah: “… China’s revolutionary writers and artists, writers and artists of promise, must go among the masses; they must for a long period of time unreservedly and whole-heartedly go among the masses of workers, peasants and soldiers, go into the heat of the struggle, go to the only source, the broadest and richest source, in order to observe, experience, study and analyse all the different kinds of people, all the classes, all the masses, all the vivid patterns of life and struggle, all the raw materials of literature and art. Only then can they …” (Mao Tse-tung, Talks at the Yenan Forum on Literature and Art; ed.ke-4 cet.ke-2, Peking 1967: 19).

Damai,

Sekali lagi kata-kata Mao itu rumusan penjabaran sebuah petunjuk kerja. Bukan rumusan falsafi. Sebagai tuntunan kerja, memang itu dan begitulah metode Turun ke Bawah! Tapi kalau cuma sampai di situ, sejatinya kita belum menyentuh pada dasar falsafi kegiatan Turba. Maka kita harus melangkah lebih maju dari Mao Zedong. Turba tidak berhenti sampai pada mengenal peri-kehidupan orang kecil di desa atau kampung saja. Turba mempunyai jangkauan terakhir yang lebih jauh dan mendasar, yaitu pengubahan diri atau pengubahan sikap dan pendirian klas. Pengubahan dari sikap dan pendirian lapisan menengah kota ke sikap dan pendirian lapisan bawah masyarakat desa.

Dari sikap dan pendirian klas burjuis kecil ke sikap dan pendirian klas pekerja. Turun ke Bawah bukan hanya untuk belajar, sampai mencapai pengetahuan dan bahkan kesadaran, kemudian berhenti di situ. Tidak. Tujuan terakhir Turba ialah pengubahan diri. Aku ada pengalaman pribadi tentang hal ini. Yaitu pengalaman “berubah diri” yang sangat berharga sebagai kekayaan batin hidupku, walaupun kekayaan itu aku peroleh di dalam situasi keterpaksaan dan dalam kondisi pemaksaan. Yaitu ketika aku hidup selama sepuluh tahun sebagai tapol. Beberapa contoh saja antara lain begini:

Dahulu, sebelum menjadi tapol di Buru, melihat orang desa mandi di kali “bersabun” sabut kelapa atau rumput kering, itu tidak bersih. Kemudian, sesudah di Buru, aku sendiri harus mandi seperti itu. Makna kata “bersih” menjadi berubah. Dahulu, sebelum di Buru, melihat kulit tubuh petani yang hitam dan kuku-kuku jari yang kecoklatan, itu tidak sedap di pandang mata. Kemudian, sesudah menjadi petani di sawah dan pencari sagu di rawa Buru, aku sendiri pun seperti petani yang “norak” wal “ndhesit” itu! Sedap dan tidak sedap pemandangan mataku sudah berganti seperti bumi dengan langit. Hitam kulit, coklat kuku, dan kuning gigi itu adalah hadiah alam dan kehidupan yang susah dibuang dan memang tidak perlu! Dahulu, sebelum di Buru, aku pasti akan muntah jika bau kencing berpuluh orang yang sudah satu-dua malam diwayukan. Kemudian, sesudah di Buru, sebagai penekun kebun barak, air kencing wayu lima puluh orang justru aku tampungi, tanpa rasa mual karena jijik, untuk penyiram tanaman buncis dan kacang panjang. Daya ciumku sudah berubah. Dahulu, sebelum di Buru, kalau kaki terinjak tinja, kita akan bingung setengah mati mencari apa saja untuk membersihkannya. Kemudian, sesudah di Buru, selagi kita berpincang-pincang karena kaki berlepotan tinja sembari memaki- maki udara, kawan-kawan akan cekikikan meledek: “Udahlah, maapin aje, taik kawan ini …! Pan bukan taik tonwal?”

Damai,

Masih satu soal lagi ingin aku kemukakan untuk surat kali ini. Ada seorang sobatku di belahan bumi barat sana, Julie namanya – hai Julie! di mana kau? ayo kita sambung lagi kongkow kita tentang turba ini! -, memberi sifat pada gerakan ini sebagai “bohemian artistik” atau “bohemian intelektuil”. Aku mengerti dan bisa menerima ide yang mendukung perumusannya itu. Tapi aku tidak sepakat bahwa, justru dalam konteks gerakan “turun ke bawah”, istilah “bohemian” yang diangkat olehnya. Sebuah istilah yang di Indonesia, di dunia sastra dan seni, telah menjadi aib. Aib yang sulit (untuk tidak bilang tak mungkin lagi) diabaikan, apalagi ditiadakan. Oleh karena aib itu telah menggejala lekat pada sejarah satu angkatan. Angkatan yang mulia, Angkatan 45!

Memang, aku pun berpikir, andaikata Angkatan 45 tidak tampil menuruti panutannya Chairil Anwar yang “binatang jalang”, barangkali cap bohemian tidak perlu berupa cap yang berwarna hitam. Sejatinya bohemian, pada asal muasalnya, jauh lebih dari sekedar sah-sah saja. Ia suatu gaya hidup yang terpuji, justru lantaran pada bohemian melekat sifat yang (meminjam ungkapan dari jaman nasakom) “progresif revolusioner”. Kaum bohemian ialah kaum pengelana yang tak mempunyai tempat tinggal tertentu. Mereka adalah orang-orang yang “kandhang langit kemul mega, njajah desa milang kori”. Orang-orang yang berumah langit berselimut awan, menjelajahi desa mengetuk dari pintu ke pintu. Seperti misalnya para pendekar atau jawara dalam jaman sastra Jawa Tengahan, bacalah misalnya “Serat Centhini” di sana-sini. Bohemian adalah juga para seniman atau sastrawan, dan bahkan pembara(1), yaitu penjual tenaga yang mengelana ke mana saja dan tak lagi punya kediaman tetap. Mereka itulah kaum, yang oleh jaman Renesans disebut, orang-orang yang hidup di bawah semboyan “ubi bene, ibi patria” – di mana saja hidupku baik, di sanalah tanah airku.

Karena perangainya yang demikian itulah, maka cara hidup mereka menjadi individualistis, “main gampang seenak sendiri”, sehingga terkadang menggejala dalam sikap nyentrik. Itulah yang terlihat sekarang pada kaum jipsi (berasal India) atau zigeuner (berasal Mesir), yang dalam abad ke-14-15 memasuki dan mengembara di Eropa (Tengah). Tapi bukan hanya di Barat seniman pengembara itu ada. Bukankah sejarah seni pertunjukan Jawa pernah mempunyai rombongan reyog dan jathilan, kethogl mempunyai cerita “Semar mBarang Jantur”? (2) Bukankah babad Mataram dari jaman Senapati, ketika hendak menundukkan Kedemangan Mangir (abad ke-16), juga memakai cara sandi “Ki Panjawi mBarang Jantur” dengan Retna Pembayun sebagai ledek?

Pendek kata gaya bohemian, asal muasalnya, sama sekali tidak identik dengan eksentrisitas. Apalagi lebih jauh dari itu: ugal-ugalan dan gelandangan. Tidak! Sebaliknyalah. Bohemian justru menjadi lahan yang menumbuhkan semangat protes. Semangat anti-kemapanan dan pro-perubahan. Oleh semangat mereka yang demikian itu, maka tingkah laku yang menggejala dalam pergaulan masyarakat tampak sebagai tak mau peduli terhadap segala konvesi-konvensi kemasyarakatan. “Dan aku akan lebih tidak peduli / Aku mau hidup seribu tahun lagi”. Begitu kata Chairil Anwar. (Juga sebagai lagu, Semangat, Amir Pasaribu).

Demikianlah. Apa yang harus terjadi terjadilah sudah! Kandungan arti bohemian, dibakar semangat barisan Angkatan 45 Indonesia dalam sastra dan seni, menjadi berisi lain. Mengikuti jejak Sang Panutan Chairil Anwar yang binatang jalang, gaya hidup bohemian menjadi semacam ungkapan jiwa yang limbung dan muram. Chairil Anwar yang melarat (karena memang tak peduli) benda duniawi itu, dan kesukaannya keluyuran bergelimang di dunia kumuh, bukan sekedar menjadi simbol tapi bahkan diangkat sebagai model alias panutan. Gaya hidup seperti ini pernah sempat berkembang selepas tahun-tahun perang kemerdekaan sampai menjelang tahun 60-an. Justru tahun- tahun ketika Lekra belum tumbuh menjadi satu kekuatan gerakan moral dan kekuatan gerakan politik (sebenarnya juga gerakan moral politik dan politik moral) yang meluas dan meninggi.

Ya, Julie,

Itu sebabnya aku sependapat denganmu. Di sinilah sejatinya letak “ke-bohemian-an” Lekra, sehingga kehadirannya dirasakan sebagai ancaman oleh Kaum Mapan. Pernah aku ceritakan, bukan? Tentang tari dan gending “Blanja Wurung” gubahan Suyud Wakil Ketua Lekra Jawa Tengah itu? Irama gending dan lagu “Blanja Wurung” tidak berdentam-dentam seperti irama gending Sampak dan Tari Perang, melainkan benar-benar seperti irama sang feodal menikmati “uyon-uyon gadhon”(3). Lirik syairnya pun bukan tantangan perang setinggi kata-kata Menak Jingga menantang Kencana Wungu dalam macapat “Durma Rangsang”.

Tapi rangkaian kalimat-kalimat kritik sosial ala Jawa priyayi, yang memuncak hanya setinggi: “ngono ya ngono, mbok ya ‘ja ngono!” (begitu ya begitu, tapi janganlah begitu!). Ya. Memang begitu saja! Tapi mengapa Bung Suyud serta istri, anak dan adik-adiknya di Salatiga harus ditumpas kelor pada akhir tahun 1965? Mengapa?!(4) Memang ada saatnya, suatu periode pendek walaupun meliputi hampir dua-pertiga umurnya (1950-1959), ketika Lekra masih merupakan “gerakan” – lebih tepat “denyut napas” – sastrawan seniman dan budayawan elite di kota-kota besar Jakarta dan Surabaya (barangkali juga Medan?). Mereka “hanya” menyanyikan ulang tembang cinta Saija pada Adinda, atau mengguncang-guncang menara istana gading bangunan Barat. Tanpa membangun fondasi bagi bangunan rumah adat sendiri! Andaikata “begitu-begitu saja”, niscayalah Suyud tak perlu mati, seperti juga Ki Dalang Slamet di Purwadadi tak usah mati, dan pelukis Patiasina (Pelukis Rakyat Yogya) tak usah meringkuk seumur hidup di penjara Ambon!

Baiklah. Kita tinggalkan cerita-cerita sendu dan kembali pada “Bapak Bohemian” Sastra Indonesia, Si Binatang Jalang Chairil Anwar. Ia mati sedikit lebih setahun sebelum Lekra lahir. Dan bersama dengan kematiannya, semangat pemberontakan Angkatan 45 itu pun tamat sudah riwayatnya. Masuk tungku kremasi sejarah. Dan yang keluar berkepul ialah Asap Humanisme Universil (baca: Abab H.B. Jassin), yang dibentuk menjadi sosok di atas buaian hasil karya Konperensi Meja Bundar yang bernama Buaian Sticusa. Pada saat itulah semangat pembaharu ke-bohemian-an “Angkatan Chairil” yang patrotik tegak berdikari, telah dilebur ke dalam semangat kemanusiaan “Angkatan 45” yang limbung tak berjuntrung.

Damai dan Julie,

Berikut ini cerita tentang terjadinya poster “Ajo Boeng!”, menurut penuturan S. Sudjojono dan Basuki Resobowo. Aku ceritakan kembali untuk memperlihatkan bagaimana “asap” dan “api” ke-bohemian-an Chairil, dan bagaimana generasi penerus tidak (mampu, atau sengaja tidak mau) menangkap api itu dan berasyik-masyuk bermalas-malas dalam kepulan asapnya. Chairil Anwar mati tahun 1949 di bulan April. Dan Lekra lahir lebih sedikit satu tahun sesudahnya, yaitu di bulan Agustus 1945. Sebelum tahun-tahun perang kemerdekaan, di jaman Jepang, Chairil bergaul akrab dengan para seniman lukis dan patung terkemuka di Jakarta dan Bandung, seperti antara lain Affandi, S.Sudjojono, Hendra Gunawan dan Basuki Resobowo.

Pada suatu ketika para seniman, yang dahulu di jaman Jepang berada di dalam wadah “Putera” (Pusat Tenaga Rakyat), melalui S.Sudjojono menerima anjuran Bung Karno. Yaitu untuk membuat satu poster guna menggugah semangat pemuda. Singkat kata poster yang menggambarkan tangan mengepal tinju lukisan Affandi itu rampunglah sudah. Sudjojono juga sudah beres dengan tata letak yang dirancangkannya. Tinggal menunggu kata-kata yang singkat sesingkat-singkatnya, dan padat sepadat-padatnya. Padat dengan makna dan semangat pemuda yang gandrung perubahan. Selagi mata mereka berdua kelap-kelop mencari kata-kata yang belum kunjung terlintas di kepala, masuklah Chairil dan Basuki.

“Hah Ril!” Seru Sudjojono. “Ini sekarang bagianmu. Kasih teks apa tu, poster itu!?” “Apa?” Tanya Chairil sambil berdiri di depan kanvas. Dahinya sejurus mengernjit. “Ajo Boeng!” Susulnya kalem sambil mengerling Basuki. Basuki menyembunyikan mukanya yang tertawa cekikikan, sambil tangannya memegangi bagian tertentu celananya yang masih basah. Dan tanpa ditawar-tawar lagi dibubuhkanlah kata-kata “Ajo Boeng!”, dengan model tulisan tangan Bung Karno, pada poster tinju mengacung itu. Itu sebabnya menurut S. Sudjojono poster revolusi Indonesia paling bagus ini dicipta empat orang: Bung Karno (ide), Affandi (lukis), Chairil Anwar (teks), dan S. Sudjojono (tata letak).

Tokoh kelima, saksi penciptaan yang cekikikan di latar belakang, tak tersebut. Dialah Basuki Resobowo. Menurutnya kata-kata itu dijiplak dari suara rayuan pekerja seks di Pasar Senen Jakarta, jika mereka mengundang masuk calon pembelinya. Ketika Chairil dan Basuki masuk atelier poster yang belum rampung itu, mereka berdua justru baru pulang dari ber-ayo-bung di Pasar Senen! Keakraban jiwa dan semangat para “founding fathers” bohemian sastra dan seni Indonesia Modern itu, bagiku tidak hanya tertangkap melalui kisah-kisah tutur. Tapi juga melalui karya-karya mereka. Setiap kali aku membaca sajak Chairil Anwar “Aku”, yang dahulu bernama “Semangat”, ingatanku seketika lalu singgah pada lukisan S. Sudjojono “Sayang, Aku Bukan Anjing”. Begitu sebaliknya.

Damai dan Julie,

Di atas sudah kukatakan, angkatan penerus Chairil Anwar tidak mampu (atau tidak mau!) menangkap api ke-bohemian-an Panutan mereka. Memang dengan sigap mereka tangkap dan nikmati udara kemerdekaan sepuas-puasnya. Karena, bukankah Sang Panutan juga yang telah berpesan “berlari / Berlari hingga hilang pedih peri”, dan “isi gelas sepenuhnya lantas kosongkan”?

Di jaman post-Chairil Bohemianisme lalu tinggal menjadi gaya hidup seperti kalong. Siang hari tidur, kalau malam keluyuran. Mencari ilham, katanya! Dan ilham itu dicarinya (tidak salah sebenarnya) di tengah kehidupan yang paling kumuh. Termasuk, kalau bukan terutama, di daerah-daerah jual- beli seks. Seniman harus tampil sebagai manusia luar biasa. Karena itu luar biasa juga perangai dan tingkah lakunya.

Bukankah Sunan Kalijaga juga aneh-aneh perangainya? Dan Ken Arok? Bukankah ia, karena kebanyakan tenaga gaib di dalam jiwanya, suka mencuri dan menyamun? Seniman lalu disejajarkan dengan segala sifat, selain sifat kemapanan segala nilai. Inilah sisi positifnya. Seniman dianggap dan merasa mempunyai kaidah dan nilai hidup mereka sendiri, yang keluar dari rel kaidah dan nilai pergaulan umum. Inilah sisi negatifnya. Yang menampak di mata pergaulan masyarakat biasa lalu: serba jorok, seenak sendiri, gelandangan atau menggelandangkan diri …

Aku bisa cerita panjang lebar tentang ini. Karena di sekitar medio tahun 1950 di Yogya aku dikelilingi oleh adik-adik “calon seniman” yang begitu itu. Ada seorang anak muda “calon penyair” (walaupun sudah almarhum, baik tak kusebut namanya, karena ia adik seorang seniman kondang), dikeluarkan dari sekolah klas II SMP karena menghamili teman seklasnya.

Tapi, yang baginya iabarat “pucuk dicita ulam tiba”. Karena bagi pendiriannya sekolah hanyalah satu lembaga yang berlawanan dengan kebebasan kepenyairan! Ada seorang adik yang lain lagi. Dicampakkannya kasih sayang orangtua di rumah (ia anak tunggal), dan ditinggalkannya bangku sekolah serta belaian Cinta Kasih Gereja. Satu alasannya: bertentangan semua itu dengan jiwa bebas seniman. Dia seorang anak muda yang benar-benar calon penyair berbakat. Jussar As namanya. Tapi, sayang, karena asap bohemianisme akhirnya mati sebagai gelandangan entah di kakilima kota mana.

Julie dan Damai,

Itulah bohemianisme yang pernah dikenal di Indonesia. Sisinya yang hitam belaka. Justru itu menjadi acara Lekra yang utama dan pertama, setidaknya bagi Lekra Cabang Yogya selagi aku yang memimpinnya – barangkali juga karena pengaruh status kemahasiswaanku dan pekerjaanku sebagai guru ketika itu – memberantas bohemianisme yang sudah berubah bulu menjadi “gelandanganisme” ini. Bukan hanya di kalangan “seniman- seniman intelektuil”, para sastrawan dan calon sastrawan, para pelukis dan pematung di sanggar-sanggar; tapi juga di kalangan “seniman-seniman rakyat”, para pemain ketoprak dan wayang orang di belakang panggung, para dalang dan pesinden di desa-desa.

Nah, Damai dan Julie,

Sampai surat yang akan datang. Salam!***

Catatan:

(1) Dari kata “bara” ini timbul kata-kata jadiannya, seperti “kembara”; “mbarang”, yaitu mengembara untuk mempertontonkan kebisaan, tidak harus berarti “ngamen” karena “ngamen” bertujuan mencari imbalan.

(2) “Jantur” ialah pertunjukan sulap atau hipnotis, berseling tari dan tembang atau cerita lisan; kata “janturan” dalam pedalangan berarti penggambaran lisani ki dalang tentang suasana dan tokoh yang sedang dimainkannya.

(3) Konser gamelan instrumental dengan aneka gending (?).

(4) Aku tundukkan hatiku bagimu, Bung Suyud! Engkau, istri, anak dan adik-adikmu. Aku tidak akan pernah lupa saat-saat engkau, di atas bilahan-bilahan gambangmu, mencari susunan nada-nada untuk gubahan-gubahanmu: Anjangsana, Blanja Wurung, Gerakan Seribu Satu, Ronda Malam, Manipol-Usdek.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s