Surat ke Negri Kincir dan Barongsai

untuk ken dan chenlin

Pembukaan Pameran Djokopekik

Ken dan Chenlin sayang,

Surat ini sebenarnya pernah aku tulis dan kirim pada kalian, satu hari berikut sesudah pembukaan pameran itu, 5 November 1999. Tapi entah mengapa surat elektrik yang kukirim melalui kafe internet “Gramedia”, di Jalan Kramat Raya Jakarta itu, ternyata tidak pernah sampai. Aku hanya ingat, selagi surat itu hampir sampai pada akhir, si Pengelola kafe menginterupsi dengan “mematikan” komputer yang aku pakai untuk “menghidupkan” komputer yang lain. Pengalaman ini justru lalu membuat aku mengenal lebih banyak “warnet” (warung internet;mengikuti akronim-akronim semacam sebelumnya: warteg, warung tegal; wartel, warung telpon; dan warpostel, warung pos dan telpon).

Masing-masing warnet dengan perangainya sendiri-sendiri. Warnet “Gramedia”, bertarif Rp 12.000 per jam, kutinggalkan karena layanan yang tidak bertanggungjawab dan juga tidak ramah. Dia barangkali lupa, atau memang tak pernah tahu, bahwa bagi pedagang – dagang apa saja – berlaku adagium: “langganan ialah raja”! Warnet di Kantor Pos Wilayah Jakarta Timur tarifnya “dipasang” di dalam map pelayan itu sendiri. Kepada pelanggan disuruh percaya, angka berapa saja yang keluar dari kalkulatornya yang dipencat-pencet sana-sini. Aku tinggalkan warnet ini karena sesudah kunjunganku ke-3 aku harus membayar Rp 21.000 hanya untuk sekitar 18 menit saja. Warnet di Gereja Santa Kebayoran Baru bertarif Rp 10.000 per jam, dan warnet di Kantor Pos Jatinegara bertarif sama – tapi hanya buka sampai jam 18:00. Petugas-petugas di dua warnet ini sopan dan korek layanan mereka. Di Yogya tarif warnet berkisar antara Rp 4000 sampai Rp 5000 untuk satu jam, dengan layanan yang ramah dan “fair”.

Ken dan Chenlin,

Begitulah sedikit cerita tentang warnet. Barangkali akan ada gunanya, kalau kalian kelak ke Indonesia. Sekarang kita bicara tentang “Djokopekik Berburu Celeng”. Celeng itu kata lain dari babi hutan. Kalian akan tahu di bawah nanti, siapa itu yang dimaksud dengan Celeng oleh pelukis Indonesia terbesar saat sekarang ini.

Ken! Kau tentu masih ingat siapa itu Djokopekik, bukan?

Ya, Oom Djokopekik pelukis Yogya yang suatu hari pernah kita kunjungi itu. Entah berapa tahun telah lalu ketika itu! Ketika itu Oom Pekik masih tinggal di rumahnya yang ciut dan gelap, di pinggir jalan Wates yang ramai. Pada sisi kanan kalau dari arah kota, di jalan menanjak, agak berseberangan dengan – orang Yogya menamakannya – “Pabrik Aniem”. Yang dimaksud ialah stasiun pembangkit tenaga listrik untuk penerangan kota Yogya, yang sebelum menjadi milik PLN (Perusahaan Listrik Negara), di jaman Hindia Belanda dulu memang merupakan sebuah “pabrik arus listrik” milik perusahaan “Aniem” – entah kepanjangan dari kata apa akronim ini!

Pada kunjungan kita ketika itu, sesudah melihat-lihat lukisan-lukisan yang dipasang di dinding ruang bawah dan atas rumahnya, aku terkesan oleh suasana mistis yang mencengkam yang timbul dari sapuan warna-warna merah dan hitam serta hadirnya massa banyak – yang agaknya menjadi ciri istimewa Djokopekik. Pulang dari situ aku tulis sebuah artikel untuk koran langgananku ketika itu, “Kompas Minggu”. Dengan kusertai beberapa foto lukisannya, kepada Pembaca aku tawarkan: ia lah sosok pelukis yang menjanjikan hari depan.

Kita duduk santai di sebuah lincak bambu pring-tutul. Sambil minum air sirop merah aku mendengarkan Oom Pekik memberi nasihat padamu. “Ken,” katanya antara lain, “kamu harus belajar dari Papamu. Dia itu orang hebat!” Aku lihat matamu bersinar-sinar tersenyum. Sedang aku sendiri menjadi malu karenanya. Menyadari teka-teki “hebat” itu, Oom Pekik lantas meneruskan. “Oom bilang hebat karena apa? Karena Papamu itu orang berani. Berani menderita dan berani menyuarakan protes …” Ya, Ken. Itulah sebenarnya potret Oom Djokopekik pribadi. Dia sejak awal mula sudah selalu menyatakan keberaniannya sendiri. Bicara jujur dan tulus atasnama dirinya sendiri, dan demi lingkungan yang menghidupinya. Maka yang lahir di atas kanvas Djokopekik ialah si Samin – si Bejo, si Kromo, atau apa pun namanya – yang polos. Dan karena polos itulah, maka lukisan-lukisan Djokopekik menjadi tampil “seperlunya”, tidak kedodoran tapi juga tidak sesak. Padat dan antap, gampang dibaca dan mengasyikkan – padahal warna dan suasananya sering terasa seram dan malahan “menjijikkan”.

Ken dan Chenlin tercinta,

Pameran itu berjudul “Berburu Celeng”. Dibuka selama satu minggu, dari tanggal 5 sampai 12 November. Sponsor penyelenggara, majalah “Tempo” (karena itu pidato pembukaan oleh Gunawan Mohamad) dan Yayasan “Lontar”. Tempat pameran di Galeri Nasional Gambir Jakarta Pusat. Selagi masih di luar gedung, menunggu pameran dibuka pukul 19:30, kubayangkan luas ruangan galeri yang akan “penuh”. Barang belasan atau setidaknya sepuluh lukisan. Tetapi yang kubayangkan sama sekali keliru. Hanya tiga lukisan mengisi ruang galeri yang luas itu. Masing-masing dipasang, dari yang berukuran terkecil sampai terbesar, berturut-turut di tembok kiri, belakang dan kanan. Yang bersitentang dengan tembok depan, di sisi pintu masuk, diisi dengan satu “pasukan kecil” para nayaga dan waranggana. Joko Pekik memang seorang seniman Jawa yang “jowo”: sadar akan kejawaan-keindonesiaannya! Tema- temanya yang Indonesia itu dia garap dan dia ucapkan dalam ekspresi amsal-amsal yang sama sekali Jawa.

***

Chenlin dan Ken tercinta,

Mari kita lihat mulai dari dinding kiri. Karya paling kecil di antara yang tiga ini dilukis pada kanvas berukuran 1,80 x 1,40 m, berjudul “Susu Celeng” (1996). Menurut penjelasan Mas Pekik sendiri lukisan ini dibuat ketika ia, oleh seniman-seniman Yogyakarta, diminta agar melukis “Tahta Untuk Rakyat”, untuk menyambut satu windu jumenengan (pentahtaan) Sultan Hamengku Buwana X. Tetapi mengapa binatang celeng yang dia lukis? Sebab, masih kata Mas Pekik, ia ingin memberi peringatan kepada Pak Sultan. Kalau mau menjadi rajanya rakyat, janganlah menjadi celeng. Celeng ialah babi hutan. Menurut orang Jawa celeng binatang yang paling busuk perangainya. Celeng binatang yang kotor, yang tak kenal rasa malu dan rasa salah bertingkah “membabi buta”: menggusuri apa saja dan siapa saja, demi gendut perut sendiri. Celeng binatang hina – maka tidak aneh jika kata krama untuknya ialah andhapan (= bawahan) – yang hanya kenal belas kasihan pada anak-anak dan kawanannya sendiri.

“Susu Celeng” melukiskan seekor celeng perkasa, dengan enam puting susunya yang penuh disedot oleh anak-anaknya. Sementara itu massa rakyat bertubuh kurus kering berjimbun, di bawah jalan layang yang sibuk bermegah-megah, berdiri tanpa daya memandangi Sang Celeng yang seolah pantang tersentuh. Lukisan kedua, di dinding belakang sana, berjudul “Indonesia 1998: Berburu Celeng” (1998). Sebuah lukisan cat minyak di atas kanvas berukuran 2,75 x 4,50 m. Di sini celeng perkasa itu sudah ditelikung, dan bahkan sudah dipikul rakyat – dua orang laki-laki bertubuh kurus, bercelana kolor dan bertelanjang dada. Di belakang jalan layang dengan sisa-sisa kemegahannya, ditelan dalam warna hitam dan suasana sepi, serta gedung-gedung produk pembangunan modern yang beku. Di depan itu lautan massa dengan spanduk-spanduk tak terbaca di sana-sini, satu dua orang berikat kepala merah putih…, semua membuka mata lebar-lebar, ingin menyaksikan celeng hasil perburuan sesama mereka. Yang di depan sekali tampak juga para pemain topeng dan ledhek, dan tiga laki-laki berambut cepak bersepatu bot serta berseragam Golkar – kuning, bukan hijau!

Mereka tidak sekedar memandang ke atas, tapi bahkan lebih bersemangat dari yang banyak: tangan kiri mengacungkan tinjunya ke langit, tapi – sementara itu – tangan kanan sibuk menggerayangi pinggang si ledhek. Dua berambut cepak lainnya melongok-longok di bawah ketiak sang ledhek. Wajah-wajah massa itu tengadah ke langit. Seolah semua mencari jawab pada kekosongan awang-uwung, tentang apa kiranya yang akan terjadi lebih lanjut. Sebab, apakah berburu celeng merupakan akhir kisah, ataukah justru awal sebuah kisah baru.

Chenlin dan Ken sayang,

Lukisan ketiga merupakan episode terakhir dari kisah panjang – dalam tiga “babak” – Berburu Raja Celeng. Berjudul “Tanpa Bunga dan Telegram Duka Tahun 2000”, lukisan ini pada kanvas berukuran 4,25 x 2,40 m. Raja Celeng itu mati sudah. Tapi karena dia binatang hina tak ada orang mau mengubur bangkainya. Di atas tanah gundul tandus, bersambung dengan hamparan hutan yang telah habis ditebangi, dibiarkan bangkai celeng itu menggeletak. Dagingnya yang gemuk membusuk menjadi makanan burung-burung gagak dan lalat-lalat hijau. Kisah Raja Celeng telah berakhir. Tidak ada lagi episode keempat kisah ini, kata Mas Pekik. “Selanjutnya saya akan menggarap tema baru. Yaitu tentang harapan rakyat akan datangnya Ratu Adil!” Jauh di latar belakang lukisan ketiga ini tampak jalan layang yang penuh manusia lalu-lalang mencari harapan. Hamparan langit bertaut dengan laut yang hijau tipis menyejukkan mata. Kibaran Merah Putih dan keemasan puncak Monas tertangkap sayup-sayup di ujung jauh …*** hersri.

CATATAN HARIAN (1): surat untuk ken dan chenlin

Rabu 20 Oktober 1999

Ken dan Chenlin sayang,

INI sebuah kisah kilas balik (flash back). Semestinya sudah harus kalian baca sebelum Surat Negri Kincir – harus ditambah: dan Barongsai – yang pertama kalian baca. Tidak apa, bukan? Ada nasihat pepatah mengatakan “lebih baik terlambat ketimbang tak pernah”. Sementara itu isi Catatan di bawah ini bukan bersifat “berita”, tetapi lebih hendak mengedepankan “cerita” yang ada di balik “berita” itu. Mari kita baca bersama!

TIBA di Bandara Cengkareng Jakarta, lepas tengah hari, pemandangan dan suasana tidak terasa santai, tapi tegang juga tidak. Tak terlihat banyak orang, baik di dalam – di ruang keberangkatan penumpang – maupun di luar – di serambi para penjemput. Walaupun begitu pesawat jenis Boeing entah nomor berapa dari perusahaan China Southern Airlines, yang terbang dari Guangzhou ke Jakarta, penuh berisi penumpang. Sebagian sangat besar, melihat wajah dan resam tubuh, mereka itu orang-orang etnis Tionghwa. Satu dua orang India, barang empat Eropa, dan satu lagi Jawa-Belanda. Itulah aku. Sendiri.

Tidak ada suasana gelisah dan tegang pada para penumpang selama penerbangan. Penumpang di sebelahku, dua laki-laki Tionghwa, membacai koran-koran berhuruf dewa-dewa, yang hanya bisa kukenali dari foto-foto yang tercetak: ada Jendral Wiranto dan Presiden Habibie. Ketika pesawat melayang di atas Teluk Jakarta, seorang perempuan kudengar bertanya: “Keliatan ada asap enggak?” Nada suaranya bercanda. “Enggak tuh! Jangan akh!” Suara laki-laki yang menjawab. “Pan Habibie nggak ada lagi?” “Iya, ya. Pokoknya jangan Habibie deh!” Suara lain menimpali. “Emang enggak keliatan asap, ya?” “Aman deh!” “Aman sentosa.” “Kalau bakar-bakaran lagi ya …, tinggal aja kita di bandara.”

***

Di depan mimbar petugas imigrasi pemeriksa paspor tak ada sepatah kata, selain basa-basi: “Selamat Siang” dan “Selamat Datang”. Meliwati petugas pabean pemeriksa barang-barang bawaan, juga “tidak ada masalah”. Bagiku malah keanehan yang terjadi. Ketika aku mau menaruh semua bawaan di atas roda-roda silinder perkakas gaib, berbentuk kotak persegi panjang berselimut dan berjumbai-jumbai serba hitam itu, seorang petugas mencegahnya. “Yang kecil-kecil itu saja, Pak. Nggak usah semua!” Katanya sambil menunjuk tas gendong di punggungku, dan komputer jinjing yang sekarang kupakai ini.

Aneh! Pikirku. Andaikata di koporku itu penuh dengan bom molotov, bagaimana? Bukankah di Jakarta dan kota-kota besar Indonesia hampir tak pernah ada hari tanpa demonstrasi? Atau, kalau kusembunyikan barang- barang narkoba? “Narkoba” ialah akronim baru: narkotika dan obat terlarang. Walaupun semuanya itu tentu saja tidak ada padaku, namun dalam hati aku mengucap syukur. Paling tidak mengurangi banyak waktu terbuang sia-sia, dan – lebih penting lagi – mengurangi debar jantung ketegangan.

Di serambi bandara tidak terasa suasana sibuk. Di depan itu taksi-taksi sudah berderet menunggu. Aku segera mengambil satu di antaranya. “Kita terpaksa harus liwat Priok, Pak. Kemudian Jatinegara dan terus Pondok Kopi.” Kata sopir taksi, sesudah kukatakan ke mana aku hendak menuju. “Kenapa?” Tanyaku asal. Sebab, ada demo atau tidak di jantung Jakarta, aku tahu jalan tol yang menyisir pinggiran kota itu, biasanya selalu aman dan lancar. “Banyak demo besar, Pak. Sudah selama beberapa hari terakhir ini. Di Thamrin, Sudirman, Senayan, Semanggi, depan MPR, Gatot Subroto. Barangkali juga Cawang. Hari ini puncaknya. Sukurlah, tidak terjadi perang saudara. Tapi entah, kalau nanti Megawati kalah…”

Aku diam. Menunggu. Karena menurutku Megawati dan kubunya sudah kalah sejak pemilihan Ketua DPR Jakarta Raya yang lalu. Kekalahan yang kemudian disusul berturut-turut di fora pimpinan-pimpinan MPR dan DPR serta penyusunan fraksi-fraksi DPR. “Bapak mau borongan atau pakai argo?” Katanya yang menyusul kudengar. Bukan lagi tentang berita politik.

“Lho kok baru sekarang bertanya, Pak?” Tanyaku balik, menyadari kekalahanku yang, seperti Mbak Mega, sudah terlambat. “Jadi sejak tadi argo belum Anda pasang?” “Belum, Pak!” Jawabnya kalem. “Penjual itu mestinya menawarkan barangnya sebelum barang diserahkan. Tapi ini? Saya sudah duduk dan taksi sudah jalan, baru Anda mengajak tawar-menawar.” Ia diam. “Kalau borongan berapa?” Tanyaku mencairkan kebekuan suasana. “Seratus Pak.” Jawabnya seperti tanpa pikir. Seratus ribu maksdunya. Waktu itu kurs terhadap dolar AS hampir delapan ribu. “Kalau pakai argo, Bapak harus tambah duapuluh tujuh setengah, dan karcis-karcis tol.” Lanjutnya. “Silakan, Bapak boleh pilih!” “Argo,” dalam kekalahanku aku memilih. Harapanku jumlah pembayaran tol, argo, dan tambahan yang duapuluh tujuh setengah ribu, masih akan di bawah harga borongan yang seratus ribu. Padahal jumlah uang seratus ribu rupiah untuk jarak Cengkareng – Jakarta Timur, yang kira-kira tigapuluh kilometer lebih itu, sama dengan sekitar duapuluh lima gulden yang hanya cukup untuk jarak sekitar tujuh kilometer Breukelen – Kockengen! Aneh juga sebenarnya mengamati kepalaku sendiri yang suka bersibuk dengan nilai tukar.

Jika untuk sesuatu yang membuat hati berkenan, kepalaku lalu bilang “murah”, dan mendorong-dorong hasrat untuk mengambil sesuatu itu. Tetapi jika untuk sesuatu yang kurang berkenan di hati, seketika saja kepalaku bilang “huh, mahal!”, dan – kalau tak kuasa lagi menampik sesuatu itu – terpaksalah menerimanya dengan wajah bersungut dan hati gerundelan. Jadi, kalau tentang urusan remeh-temeh ini pun boleh aku simpulkan, letak harga ternyata tidak pada hitungan kepala, tetapi pada perkenan hati. Aku lalu ingat dialog antara aku dengan almarhum istriku, Mamamu Ken, tentang harga satu kemeja yang dibelinya untuk aku.

“Bagus sekali Jits!” Kataku. “Berapa sih harganya?” “Delapan!” “O pantas!” Sahutku. Karena yang sudah terjadi, aku selalu minta kemeja seharga tak lebih dari tiga setengah ribu – tahun delapan puluhan awal ketika itu. “Kau senang tidak?” Desaknya. “Senang. Senang sekali!” Jawabku jujur. “Kalau senang tidak ada harga mahal!” Jawab Jitske membaca isi kepalaku, dan mengajaknya merasai suara hatiku yang senang …

***

PESAWAT mendarat pada 12:40. Tiba di rumah, di Perumnas Klender Jakarta Timur, menjelang 15:30. Teve masih sibuk menayangkan pertandingan Mbak Mega vs Gus Dur merebut kursi kepresidenan RI. Aku, tanpa melepas pakaian dan mengemasi kopor dan tas, langsung duduk di depan teve. Suara diserukan berganti-ganti antara dua nama: “Gus Dur” atau “Abdurrahman Wahid” dengan “Mbak Mega” atau “Megawati Sukarnoputri”. Mulai dari ketika Mbak Mega masih memimpin dengan kelebihan sekitar duapuluh suara, sampai akhirnya – dalam sekitar sepuluh menit terakhir – tertinggal dalam perbandingan 373 : 313. Dramatis!

Senjata Pamungkas ABM (Asal Bukan Mega) dilepas Kubu Statuskuo pada detik-detik terakhir menjelang voting diambil. Yuzril Ihza Mahendra (calon PBB – Partai Bulan Bintang) tiba-tiba memutuskan mundur dari pencalonan. Ini sejatinya, pikirku, sebuah peperangan dahsyat yang ditempuhi berbagai pihak tanpa letusan bedil.

“Saya … berdasarkan persyaratan administratif sah untuk dicalonkan sebagai presiden. Namun … saya menyatakan mengundurkan diri. Ini untuk menghormati saudara tua saya Gus Dur dan sebagai penghormatan terhadap sesama umat Islam.” Begitu ia berkata. Perhatikanlah kalimat terakhir itu. Tak ada lain, itulah perintah terselubung Yuzril (baca: Suharto-Habibie?) pada para pendukungnya: “Berikan suaramu pada Gus Dur!” Demikianlah yang terjadi: pada detik-detik terakhir Mbak Mega terpukul. Ia roboh di tengah ring tinju. Tapi belum terlempar gelanggang seperti jago sumo yang kalah. Ia belum terlempar dari gelanggang. Itulah skenario yang harus berjalan di hari esok berikut.*** hersri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s