Surat Awal Tahun untuk R. William Liddel Tentang Desa Brosot

Hersri Setiawan

Surat Awal Tahun untuk R. William Liddle Tentang Desa Brosot

Saudara Bill yang terhormat,

Andai kata pertemuan kita, di rumah seorang sobat di bilangan Kemang Jakarta Selatan, kira-kira tiga tahun lalu, tidak hanya bicara sekitar Jakarta dan lebih khusus lagi Kraton Cendana, barangkali surat kali ini tidak pernah perlu disusun. Tapi sebagai bekas Tapol Pulau Buru, aku, ijinkan untuk seterusnya ber-“aku”, terlanjur menjadi biasa untuk selalu mensyukuri setiap keadaan. Itu artinya menerima kenyataan sebagai kenyataan.

Dalam hubungan surat ini ialah ,keadaan bahwa nyatanya baru sekarang lah aku datang lagi berhadapan dengan Anda. Tapi ini kali aku tidak ingin bicara pada Anda dengan “kepalaku” saja, melainkan dengan segenap”nama” alias “jeneng” alias subjek “kedirianku”. Menyingkap watak “ora Jawa” orang Jawa seperti menyiangi”dichtung” sejarah. Sikap mensyukuri keadaan, setidaknya menurutku sebagaiorang [Indonesia yang berbudaya] Jawa, bukanlah sikap fatalis dari seorang yang “pasrah bongkokan”. Tapi sikap accepteren dari orang yang berhasrat menjadi realis di bawah semanga tpencerahan pandangan “aufklaerung”. Sikap “semeleh”, kata siJawa (baca dua “e” terakhir seperti pada “lengser”). “Neng-Ning-Nung-Nang”, kata semboyan ke-10 Taman Siswa rumusan Ki Hajar Dewantara (Taman Siswa 30 Tahun 1922-1952; hal.67).Perhatikan Sdr. Bil, bahwa justru kata “neng” tersebutpertama. “Meneng” alias “meneb”, atau “tenteram” tapi samasekali bukanlah “diam”!

Tentang kejawaan Ki Hajar Dewantara, seperti juga tentang keindonesiaannya, tidak ada kiranya satu orang pun yang sanggup menyangsikannya. Ia sama sekali bukan seorang fatalis yang “nrimo pandum”-nya Sang Nasib! Andai kata demikian -andaikan Ki Hajar seorang fatalis – tidak mungkinlah ia, selama pengasingannya di Negeri Belanda, bisa menulis sebuah artikel yang gagah berani: Als ik eens Nederlander was (1913). Andaikata demikian Mas Marco Kartodikromo, paman Sukarmaji Kartosuwiryo yang gembong DI-TII itu, pasti tidak akan pernah menjadi Mas Marco Kartodikromo sebagai yang sekarang kita kenal. Seorang muda kerempeng yang digerogoti malaria dan tbc,namun telah ikut memperkaya kosakata kamus perjuangan politik bangsa Indonesia dengan sepatah semboyan: “Rawe rawe rantas,malang malang putung!” Andaikata tidak lahir Sang Jawa Raden Mas Suwardi Suryaningrat alias Ki Hajar Dewantara, yang berani menolak sikap dan pandangan “nrimo ing pandum”, barangkali sampai sekarang pun syair lagu kaum buruh sedunia “Internasionale” itu, tidak akan pernah mengenal syairnya dalam kata-kata Indonesia! Di bawah ini syair lagu “Internasionale” terjemahan seorang tokoh dari trio “Janget Tinatelon”, Tiga Setangkai,(Suwardi – Douwes Dekker – Cipto), dikutip dari Het IndischeVolk – Weekblad van de Indische Sociaal Democratische Partij;No. 28, 1 Mei 1920, 3e Jaargang: Sair Internasionaal Lagoe De Internationale Soewardi Suryaningrat
Bangoenlah,
bangsa jang terhina!
Bangoenlah,
kamoe jang lapar!
Kehendak jang moelia dalam doenia
Senantiasa tambah besar.
Lenyaplah adat fikiran toea!
Hamba ra’iat,
sadar, sadar
Doenia telah berganti roepa.
Nafsoelah soedah tersebar!

2 kali:
Kawan-kawan,
hai, ingatlah!
Ajo madjoe berperang!
Srikat internasionale jalah pertalian orang!

—— Negri tindas,
hoekoem berdjoesta.
Jang kaya teroes hidoep bersenang.
Orang miskin terisap darahnja:
Ta’ sekali berhak orang.
Djangan soeka lagi terperintah!
Ingat akan persamaan!
Wadjib dan hak tiada berpisah.
Hak wadjib haroes sepadan.

2 kali:
Kawan-kawan,
hai ingatlah!
Ajo madjoe berperang!
Srikat internasionale jalah pertalian orang!

—– Penindas berfikiran sjaitan:
Selaloe meratjoen kita.
Djangan bantoe lainnja kawan-kawan!
Hai, bersatoelah oesaha!
Moesoeh kita mendidik pahlawan
Dalam golongan kita.
Kepada jang brani melawan
Kita djatohkan sendjata!

2 kali:
Kawan-kawan,
hai ingatlah!
Ajo, madjoe berperang!
Srikat internasionale jalah pertalian orang!

***

Saudara Bil,
Mari kita kembali ke Brosot. Aku pernah tinggal di desa Lendah, beradu batas dengan Brosot, boleh dibilang selama masa anak-anakku. Karena di desa inilah tempat ayahku bekerja, sebagai guru SD di situ, sampai saat meninggalnya pada tahun 1944. Dalam bilangan rentang waktu berarti selama kira-kira tiga belas tahun, yaitu sejak menjelang bersekolah, sekitar umur lima tahun, sampai ketika tamat SMA, sekitar umur delapan belas tahun. Jadi sepanjang kira-kira tiga belas tahun. Dengan catatan, selama dalam masa enam tahun terakhir, yaitu semasa SMP dan SMA, aku lebih banyak di kota (Jogya) ketimbang di desa. Karena pada waktu itu bahkan di Wates, ibukota kabupaten pun belum mempunyai SMPdan SMA. Barulah kelak di awal paroh kedua 50-an, berdiri di Wates satu sekolah SMA swasta yang pertama, SMA “Diponegoro”,atas prakarsa dan usaha kami – aku dan dua temanku: K. Sunu Prawoto dan Syamsuddin. Selama enam tahun masa SMP dan SMA itu, rata-rata satu kali saja setiap bulan aku menengok desa, karena di sana masihtinggal Ibuku seorang diri. Berangkat dengan bersepeda hari Sabtu sore, menempuh jarak kira-kira 21 Km, dan kembali Minggupetang. Kecuali selama “jaman dorsetut” (lidah desa untuk”doorstoot”), ketika hampir satu tahun ibukota RI Yogya diduduki “Anjing Nica”, dan sekolah-sekolah republiken tutup.

Aku termasuk orang-orang yang memenuhi seruan gerilyawan Republiken: mengosongkan kota. Pergi meninggalkan kota, dan mengungsi ke desa-desa di daerah Republik. Sengaja kusebut “sekolah republiken” yang tutup, karena selama “jaman pendudukan” itu tentu saja Pemerintah Nica, sengaja untuk menjawab kepungan blokade gerilyawan Republik, berusaha agar kehidupan di dalam kota tetap berjalan normal. Pasar Beringharjo (di Jalan Pecinan) dan Pasar Kranggan (di Jalan Tugu), dihidupkan dengan ditopang peredaran “uang merah” (sebutan rakyat untuk uang Nica); pemancar radio kembali mengudara, dan sebagian seniman Ketoprak Mataram berhasil “direbutnya”, sehingga sejak itulah terjadi perpecahan tajam antara “sayap Cokrojiyo” yang “ko” dengan “sayap Rukiman” yang “non-ko”, dan yang kelak diikuti dengan sikap golongan “non-ko” meninggalkan RRI dan mendirikan “Krida Mardi”.

Juga dalam hal persekolahan. Guru-guru yang bersedia kerjasama dipanggil untuk membuka sekolah, dan selebaran disiarkan untuk mencari murid. Maka dibukalah kembali SMA”Padmanaba” (ketika itu SMA bagian A dan B masih menjadi satu), yang terletak di utara kolam renang “Umbang Tirto” dan lapangan sepakbola PSIM “Kridosono”). Demikian juga sekolahku, SMP I, yang terletak di depan RS “Onder de Bogen” (sebutan populer RS Katolik “Panti Rapih”), di ujung utara Jalan Terban Taman. Konon F.X.M. Ondang Kepala Sekolah yang sok-blandis, dan Nur Tugiman guru Bahasa Indonesia, karena pendiriannya yang “ko” itu, pernah diculik para pemuda dan dibawa ke lapangan tembak “Sekip” untuk dibunuh.

Mengungsi bagiku sesungguhnya bukan “mengungsi” dalam arti kata sebenarnya. Memang ada perasaan mengungsi, menghindari musuh, namun pada kenyataaannya tak lain ialah: kembali ke kampung halaman masa kecil! Kembali ke rumah Ibu, yang ternyata telah menjadi penuh sesak. Selain ada dua keluarga sendiri: keluarga Ibu, yaitu kami bersaudara yang belum berkeluarga, dan keluarga kakak sulung yang sudah beranak satu, berikut ibu mertua, ada lagi bersama kami tiga keluarga pengungsi, berikut para pembantu rumah tangga masing-masing. Aku tidak ingat lagi, bagaimana kami menggilir waktu penggunaan tungku dapur, kamar mandi dan kakus. Bagaimana kami tak merasa saling terganggu mendengar suara doa-doa Kuran, Injil dan Konghucu (satu dari keluarga pengungsi adalah keluarga “peranakan Tionghwa”).

Brosot di jaman dursetut itu, boleh dikata telah berubah menjadi kota besar pertama dan utama RI, yang terletak di belakang garis pertempuran terdepan: sisi barat kota Kabupaten Bantul. Brosot atau Brossot Biarlah cerita ini kumulai dari sejak “jaman normal”. Dengan “jaman normal”, penduduk desa di Jawa, bermaksud menunjuk pada suatu kurun waktu, sebelum “bangsa Jawa” mempunyai saudara tua Dai Nippon. Saudara Tua ini, sambil setiap saat mengobral ajakan gotong royong atau “tonari gumi”, juga terlalu dermawan dengan hadiah “semangat” – yang tak lain berupa tamparan atau pukulan di muka “genjin-min” bin “inlander” yang “bakero” bin lembek semangat! Dengan begitu Jaman Normal, pendek kata, bukan mempersoalkan “jaman merdeka” atau “jaman jajahan”. Tapi jaman ketika kehidupan belum dilanda Angin Pancaroba, sehingga terhempas jatuh dalam kacau-balaunya “Jaman Edan”.

Di awal abad ke-19 dari jaman normal itu, “Afdeling KulonProgo”, yaitu wilayah Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningratyang terhampar di sebelah barat aliran Sungai Progo itu,dibagi dalam dua bagian. Ini terjadi sejak “jaman Raffles”, ketika Sir Thomas Stamford Raffles menjabat Letnan Gubernur untuk Jawa dan Daerah Seberang (1811-16). Bagian yang utara, kira-kira dua-pertiga seluruh luas, tetap di bawah kekuasaan pemerintah Kesultanan dengan pejabat tertinggi berpangkat bupati, dan berkedudukan di Sentolo. Sedangkan sepertiga bagian yang selatan, sampai ke Laut Selatan (dengan demikian sama-sama berhak atas serambi Kedatuan Nyai Lara Kidul),dihadiahkan kepada Pangeran Notokusumo yang berjasa kepada Inggris dan diwisuda sebagai Adipati Paku Alam I. Karenanya wilayah itu selanjutnya disebut Kadipaten Adikarta, diperintah pejabat berpangkat bupati yang berkedudukan di Wates, dan dibagi dalam empat kecamatan (saat itu: onder district): Wates, Temon, Panjatan dan Brosot.

Brosot ketika itu, terkadang juga disebut Galur, secara administratif merupakan wilayah setingkat kecamatan (sebutan waktu itu “asistenan”). Walaupun demikian “kota kecamatan” ini merupakan kota terbesar kedua sesudah Wates. Sekitar 2 Km arah baratdaya Brosot, terletak Desa Sewugalur (termasuk wilayah Kelurahan Trayu) yang selain lebih ramai juga lebih “berbau belanda”, jika dibanding baik dengan desa-desa selebihnya, maupun dengan Brosot sebagai ibukota wilayah sekalipun! Di Desa Sewugalur ada sebuah pabrik gula, satu-satunya diseluruh wilayah Kadipaten Adikarta. (Saudara Bill tahu, kapan pabrik gula ini mulai bekerja? Aku tidak tahu). Namun ijinkan aku memberanikan diri menduga: Barangkali inilah bentuk penjabaran politik pemerintah kolonial agar Adipati Paku Alaman, di satu pihak, tetap loyal pada “Kangjeng Gubermen”, dan di lain pihak, tetap bisa mandiri dari Kasultanan yang terkadang suka memberontak itu.

Dengan adanya pabrik gula itu, Desa Sewugalur mempunyai alun-alun yang asri, dikelilingi barang lima bangunan gedung bergaya bangunan Barat, tempat kediaman tuan-tuan Belanda pembesar pabrik dan keluarga mereka. Pastilah tidak kebetulan jika Pak Lurah Trayu, seorang raden mas yang berlatar belakang pendidikan Belanda. Sehingga oleh karenanya, mampu dan tidak kikuk dia untuk duduk sejajar dengan para pembesar pabrik. Sungguh jauh ia jika dibanding dengan kebanyakan lurah desa dijaman itu, dan bahkan agaknya juga dengan Ndara Seten Brosot sendiri. Tentu oleh adanya pabrik gula itu juga, maka Sewugalur menjadi tempat perhentian terakhir kereta api NIS (Ned.Indische Spoorwegmaatschappij). Itu pertama. Kedua, tak lepas dari pengaruh suasana kebudayaan yang demikian jugalah kiranya, jika Sewugalur mampu menjadi pendukung bagi lahir dan perkembangan Islam Muhammadiyah. Sehingga berdirilah di sana, entah sejak kapan, sebuah pondok modern Madrasah Muhammadiyah Darul ‘Ulum.

Seorang penyair Angkatan 45 pernah lahir dari madrasah ini, yaitu Raden Suradal Abdul Manan yang bernama pena Mahatmanto. Inilah salah satu sajaknya, yang pernah terbit lebih setengah abad lalu, namun rasanya belum kehilangan aktualitas:

Cakar atau Ekor?
Di mana batas? ….
semua hendak serba bebas ….
melanggar meliar.
Bukankah setiap selalu hendak serba baru,
jadi menipu,
memalsu?
serba aksi jadi imitasi?
serba kuasa jadi memperkosa?
Ah, hanya pun kiri,
kalau selalu hendak serba kiri,
paling ke kiri dari yang terkiri,
di sana sayap jadi cakar …
Sebaliknya pun: kanan,
kalau serba paling terkanan,
di sana sayap jadi ekor …
(“Mimbar Indonesia”, Th.I No.3; 6 Des. 1947)
***

SEWUGALUR.

Stasion terakhir jaringan arah barat daya NIS di daerah Vorstenlanden. Di situ ada sebuah pabrik gula, sandaran utama rumah tangga Kadipaten Paku Alaman. Ada beberapa gedung pemukiman Belanda tuan-tuan pabrik. Ada perguruan Islam Darul ‘Ulum yang, karena wataknya yang modern, lebih kondang ketimbang pondok pesantren Krapyak di ujung selatan kotaYogya. Ada lapangan yang asri milik pabrik, tapi juga menjadi tempat salat jumat yang resik. Di situ juga Jepang merasa mendapat tempat yang sesuai untuk menjajakan politik perang fasistis Asia Timur Raya dalam kemasan “perang jihad” dan”perang sabil” untuk menghancurkan si kafir Inggris-Amerika. Tidak jauh dari Sewugalur, kurang dari 1 Km ke arah Brosot, terletak kesatrian tentara Peta, Pembela Tanah Air, dibawah pimpinan Cudanco Pak Danu. Dari kompleks kesatrian inilah selalu bergema berbagai lagu mars Jepang atau Indonesia, antara lain tentu saja:

Awaslah Inggris dan Amerika
musuh seluruh Asia
yang mau memperbudakkan kita
dengan sesuka hatinya

(2 kali): Inggris kita linggis
Amerika kita set’rika
Di tanah lapang ini juga, di jaman Jepang itu, penduduk dan anak-anak sekolah, aku termasuk, pernah dikerahkan untuk mendengarkan sesorah Pak Kaji Jabir (bukan Haji Jabir yang Wong Solo, Digulis, PKI, dan ayah Prof. Baiquni yang ahli atom itu) tentang lahirnya Majelis Syuro Muslimin Indonesia(Masyumi). Tetapi wajah Desa Sewugalur belum cukup tergambar hanya melalui cerobong pabrik gula dan beduk madrasah Muhammadiyah Darul ‘Ulum. Wajah Desa Sewugalur juga menampilkan sisinya yang lain dan yang justru utama: sisi kejawen.

Tidak jauh dari lapangan Sewugalur itu ada rumah seorang Denmas yang “orang pandai” yang, melalui azimatnya berupa “Kaca Paesan”, mempunyai daya kemampuan tembus pandang. Banyak orang datang pada Denmas ini, masing-masing dengan permasalahannya sendiri: sepeda “fongers” hilang, menderita sakit menahun, suami-istri mandul, hama menthek dan kebo ijo mengganas dsb dsb. Si Denmas akan membantu menemukan jawabnya tentang segala musibah dan bencana itu, dengan jalan bertanya pada Sang Kaca Paesan. Kaca Paesan itu sepertinya kaca pengilon biasa, berbentuk lonjong, tinggi lk 25 Cm dan lebar lk. 15 Cm. Tapi barangkali berkaca cembung. Maka, apabila Denmas berkaca,wajahnya dalam ukuran maksi tercermin di sana. Konon jawaban masalah itu akan terbayang di balik bola matanya sendiri, sehingga memungkinkan baginya untuk “membaca” gambar jawaban persoalan.

Kalau hama menthek ganas, sesaji apa misalnya harus dibikin; kalau sepeda hilang, di mana barang itu sekarang adanya; kalau suami-istri mandul, tirakat macam apa harus dilakukan; dll. dsb. Dulu, entah kapan, di Sewugalur pernah dibuka sekolah HIS. Tapi karena kekurangan murid, sekolah itu ditutup. Murid-muridnya yang tak sebanyak jumlah jari dua belah tangan, pindah bersekolah ke kota dan “nglajo” kereta api Sewugalur -Yogya setiap hari. Ke “negara” istilah rakyat waktu itu. Berangkat pukul setengah lima pagi, dan tiba kembali menjelang senja hari. Sampai menjelang Jepang datang, yang tersisa dari HIS itu tinggal kelas persiapan, voorklas, dan yang agaknya menjadi bagian dari kegiatan Gereja Katolik. Tidak lagi di Sewugalur, tapi di Brosot dan berjalan pada sore hari diruangan kapel, yang terletak di sebelah timur pasar. Selain klas persiapan HIS Brosot punya dua “Sekolah Desa”, laki-laki dan perempuan; masing-masing dengan tiga kelas, berpengantar bahasa Jawa dan menggunakan aksara Jawa. Kemudian ada satu “Sekolah Sambungan” dengan dua kelas.

Tamat dari sekolah ini, bagi yang ingin menjadi “abdi dalem priyayi” harus mencari jalan magang pada priyayi, atau bagi yang tak punya akses ke sana, kembali memegang pacul ke sawah atau ladang, atau masuk “Sekolah Penghubung” (“schakel” ke HIS) bagi yang punya akses untuk menjadi “priyayi gubermen”. Entah kapan tepatnya dua jenis “sekolah pribumi” itu disatukan, menjadi lima kelas dan bernama “Sekolah Ra’iat”. Kemudian pernah bernama “Sekolah Rakyat” dengan enam kelas, pernah pula sebentar menjadi “Sekolah Rakyat Sempurna” dengan tujuh kelas,sampai akahirnya kembali ke enam kelas dan disebut “Sekolah Dasar” sampai sekarang. Letak sekolah itu masih tetap pada tempatnya sampai sekarang. Di antara deretan toko-toko Tionghwa (waktu itu),mulai percabangan jalan di ujung barat, sampai di depan Balai Desa, di bibir aliran Kali Progo di ujung timur.

Halaman sekolah itu luas, dahulu ditanam beberapa batang pohon waru dan melinjo. Satu dua batang diantaranya sekaligus berperanan selaku “pencokan” jika murid-murid berolahraga bermain kasti. Di jaman Jepang pohon-pohon ini ditebangi, diganti pohon-pohon talok yang mendapat sebutan aneh bagi telinga desa: “kersen”. Konon kabarnya diperintahkan penanamannya oleh pemerintah militer Jepang, memang karena kemiripan bentuk daun dan warna bunganya dengan pohon sakura itu. Maka penanamannya pun dilakukan dengan upacara dan memilih “saat yang baik”. Tanggal 8 Februari, yang pada penanggalan tahun Syowa dicetak merah. Tanggal itu juga mempunyai nyanyian khusus, yang syairnya tak lagi kuingat,tapi dua baris pertama lagunya tersusun dari nada-nada: sol-sol-sol la-mi-mi re mi-sol-sol sol-la-mi … sol-sol-sol la-mi-mi re-do-re re-re-mi do …

Sementara itu beredar juga dimasyarakat lagu “Bunga Sakura”, entah komposisi siapa, tapi mungkin salah seorang dari Keimin Bunka Shidoso: “Bunga Sakura indah jelita dipandang mata putih kemerahan tampak warnanya Sakura indah jelita …” dst Barangkali memang begitulah. Sakura indah di musim semi di Jepang. Ketika hamparan tipis selimut salju putih di sana-sini saling membelai dengan lembar lembar sinar matahari terbit. Tapi di tengah warna desa yang compang camping kecoklatan, di manakah letak keindahan kembang talok, walaupun melalui inisiasi kemiliteran, telah diubah menjadi “kersen”? Hanya pasangan-pasangan burung prenjak yang bisa “plenyar-plenyir” menyanyi bersahutan, sambil mematuki buah-buahnya yang seperti berpasir tapi manis.

Kenangan tentang “kersen” imitasi sakura kembali muncul padaku suatu hari di Buru. Ketika itu awal 1974. Desa Savanajaya sudah selesai dibangun di atas Unit IV Savanajaya, yang tapol-tapol penghuninya sudah dipindah dibagi-bagi keberbagai Unit. Sawah sudah diperluas dengan 80 Ha, ladang 35Ha, dan 164 bubung rumah beratap seng, berbilik dua sudah siap menunggu calon pemilik yang akan segera tiba. Istri dan anak-anak tapol dari Jawa yang kena jaring propaganda dan tipudaya Bapreru baru sekitar medio 1974 mulai berdatangan. Jalan-jalan raya yang lebar, antara 6-8 meter, berpagar banjaran pohon-pohon turi ungu dan putih, membelah hamparan sawah Unit IVSavanajaya. Bendungan Waibini, tumpuan pengairan sekitar 200Ha sawah, dipercantik dengan taman bunga dan prasasti para komandan besar dan kecil penguasa-penguasa Unit, serta mendapat nama abiseka “Bendungan Ampera”. Jalan utamanya,penghubung Desa Savanajaya dengan Desa Sanleko, terlalu nista untuk sekedar disebut “jalan raya”. Ia mendapat sebutan yang maha ganjil: “high way”, dan nama pahlawan paling terhormat di negeri Indonesia yang Majapahit Modern: Gajah Mada – PanglimaTertinggi fiktif Korps Polisi Militer.

Sedang nama-nama jalan dan lorong-lorong di kompleks pedesaan itu sendiri diberi nama berbagai macam bunga: Anggrek, Mawar, Melati, Kamboja dan lain-lain. Pada suatu hari datanglah rombongan murid-murid SD Negeri Namlea datang berdarmawisata. Mereka disambut Dan Tonwal (Komandan Peleton Kawal) Sersan Mayor Anu, selaku pemandu parawisatawan cilik itu. Tiba di Waduk Waibini Pak Serma menerangkan apa itu guna waduk, dan apa itu “ampera”; tiba di Jalan Tuparev, berceritalah ia tentang siapa-siapa itu Tujuh Pahlawan Revolusi; lalu tibalah rombongan di Jalan Kemuning yang memanjang di tepi desa berbatasan dengan areal pesawahan,dan yang satu ujungnya bermuara di Gajah Mada Highway.

“Anak-anak!” Seru Pak Serma. “Nah, ini namanya Jalan Kemuning. Siapa tahu, apa itu kemuning?” Pak Serma berhenti sejurus. Menunggu. Tapi tidak seorang murid pun mengacungkan tangannya. Juga Pak Guru yang memimpinnya tidak. “Kemuning itu nama pohon yang terkenal di Tanah air kita”. Lanjut Pak Serma. “Khusus tumbuh di Jawa. Bunganya indah berwarna putih, dan buahnya warna merah, besar-besar dan sangat manis …” Wajah wajah rombongan anak anak itu melongo tak terduga. Seperti Teluk Kayeli yang mencoba menerka dalamnya langit. Beberapa tapol yang bekerja tak jauh dari mereka, menghindari malapetaka, tak berani tertawa. Lalu terdengar lagi bual Pak Danton. “Nah ini, anak-anak!” Telunjuknya menuding ke papan nama jalan di seberang dia berdiri. “Gajah Mada hik’eh-wei. Gajah Mada torang* semua tahu, bukan? Itu nama pahlawan bangsa. Tapi hik’eh-wei itu apa? Siapa tahu? Tidak ada?” Semua diam. “Hik’eh-wei itu jalan yang memisahkan desa dengan areal persawahan …”

Saudara Bil,
Maaf dengan cerita berpanjang-panjang tentang pengubahan “talok” menjadi “kersen”, dan pemaksaan simbol-simbol canggih “kemuning” dan “high way” di tengah kehidupan hutan sabana. Aku hanya ingin menekankan, bahwa sesuatu yang tidak “empan papan” bisa membawa akibat terjadinya distorsi simbol. Makna menjadi terlepas, atau bahkan lebih buruk lagi, hilang sama sekali dari simbol. Sehingga sejatinya makna itu sendiri menjadi sia-sia!

***

Saudara Bil,
Aku ini orang Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat). Ya,benar! Memang bukan “bekas orang Lekra”. Karena Lekra tidak atau belum pernah bubar atau membubarkan diri. Ia hanya pernah dibubarkan oleh satu rezim yang naik ke panggung sejarah secara tidak sah. Para pimpinannya dan semua anggotanya dikejar-kejar, dibunuh, dipenjara dan diasingkan. Oleh rezim yang tidak sah itu juga berikut kaki-tangannya. Sebagai orang Lekra, bahkan seandainya tidak pun, aku tetap menjunjung kebenaran asas “memelihara dan mengembangkan tradisi positif”.

Karena itu, mengawali surat ketiga aku ingin mengucapkan pada Saudara, dan para Pembaca: SELAMAT HARI RAYA LEBARAN

Mari kita saling memaafkan, untuk melanjutkan langkah ke depan bersama-sama! Tapi Saudara, agar tradisi positif itu tetap positif adanya, hendaklah kita mengucapkannya tidak dengan semangat membaca rumus doa tahunan berkemak-kemik secara ritual, seperti perempuan-perempuan muda Belanda mengunyah-ngunyah permen karet. Tak jemu-jemu mereka kunyah-kunyah (permen) karet itu, sambil terkadang diseling dengan mempermainkan gelembung udara di sela-sela bibir mereka yang tipis. Mari kita ucapkan kata-kata kata-kata “minalaidin walfaizin” itu dengan semangat Sang Budha. Sang Sadar. Agar Makna kembali pada Kata, dan Isi pada Lambang. Mari kata-kata peringatan pepatah “hilang bisa karena biasa” kita renung dan resapi bersama dengan baik-baik.

*Saudara, “Revenons à nos moutons”, mari kita kembali ke pokokbicara. Brosot atau Brossot? “Brossot”, dengan dua “s”! Begitulah nama resmi desa ini di jaman Belanda dulu. Itu tertulis di papan-papan nama asistenan, stasion kereta api NIS (di depan asistenan), kantor pos, dan bangunan-bangunan resmi lainnya, seperti: rumah gadai, tempat penjualan garam dan candu (ketika itu garam monopoli negara). Tentu saja tidak hanya tercantum di atas papan nama saja, tapi juga di atas kertas surat-surat resmi dan stempel atau cap. Arti kata “brosot”, dengan satu “s”, baru ku ketahui dalam tahun 1948-49, sesudah Brosot dan sekitarnya dibanjiri banyak pengungsi dan anggota kelasykaran dari berbagai penjuru Jawa. Juga dari Jawa Barat dan Jawa Timur. “mBrosot”, dialek JawaTimur, sama artinya dengan “merucut” atau “merojol” – terlepas dari pegangan atau gendongan(1). Bagaimana duduk perkaranya desa di tepi muara Kali Progo Jawa Tengah mendapat sepatah nama kata jawa timuran, biarlah kelak penelitian toponimi yang memberi jawaban.

Benar, nama-nama desa Brosot, Galur dan Sewugalur, sudah tersebut dalam buku “Pranacitra – Rara Mendut” (anonim, Balé Pustaka 1954), dan “Babad Demak Jarwa” (Atmodarminto, Penerbit”Pesat” 1953). Tapi kedua-dua buku ini tidak menyebut sumber rujukan barang satu pun. Sehingga dengan adanya penyebutan oleh kedua buku itu belum terjamin kepastian, bahwa desa-desa tersebut memang sudah ada di “Jaman Pranacitra” (awal abad ke-17) atau “Jaman Demak” (akhir abad ke-15). Keanehan Brosot yang muncul di tepi Kali Progo Yogyakarta itu menjadi lebih membingungkan lagi sesudah diubah menjadi “Brossot”. Pengubahan yang tak lain demi keenakan lidah kebudayaan penguasa yang Belanda belaka, yaitu agar bunyi “o” pertama yang tertutup tidak dilafalkan sebagai “o” terbuka seperti pada “overste”, misalnya. Itu satu contoh gamblang tentang bentuk ulah permainan politik, di dalam mengintervensi dan bahkan menindas bidang kebahasaan.

Hal seperti ini, penindasan politik atas kebahasaan itu, sungguh sangat melimpah ruah terjadi sepanjang kekuasaan rezim militer Orde Baru $uharto. Nasib yang sama pasti juga menimpa banyak desa yang lain.Tapi yang aku tahu benar ialah Desa Prambanan, desa tempat candi Lara Junggrang berdiri. Di jaman Belanda dulu nama “resmi” desa ini ditulis sebagai “Brambanan”. Sepatah kata yang sama sekali tak punya makna. Padahal arti kata (pe)ramban(an) sangat jelas. Yaitu tempat orang meramban. Artinya mencari daun-daunan untuk umpan ternak atau, terkadang juga, untuk makanan manusia. Prambanan ialah tempat orang meramban. Jadi, apakah dulu di situ merupakan kebun sayur atau ladang palawija Kerajaan Baka? Atau tempat ternak meramban? Jawaban tentang pertanyaan ini biarlah kelak diberikan oleh penelitian sejarah bersama toponimi. Candinya sendiri, “Candi Prambanan”, telah digali dan dipugar dalam abad ke-19. Tapi latar belakang sejarah yang melahirkannya, boleh dibilang belum sama sekali tersusun sampai sekarang.

***

Pada suatu siang berita besar tiba-tiba menyeruak masyarakat Brosot dan sekitar. Beberapa orang memikul bangkai kuda nDoro Seten, melalui jalan raya depan sekolahan dari arah barat. Siang itu juga kuda itu akan dikubur, di halaman depan asistenan. Dikafani kain putih, dihadiri banyak orang, dan terutama anak-anak. Konon kuda teji penarik bendi nDoro Seten itu, ketika melalui tikungan Desa Keboan yang terkenal angker, tiba-tiba roboh dan mati. Kata orang “kesambet”. Disambar setan. Banyak suara anak anak kecil yang menyesalinya: “Wah kuda teji dari ngustrali kok sampai mati!” Ada orang orang yang mengasihani kusir bendinya yang terkena caci maki dan tamparan tangan Ndoro Seten. Ada pula yang diam-diam malah “menyokurkan”:”Sokur! Kapokmu kapan? Sekarang kudanya, lain hari …?” Suara gerundelan itu tidak melanjut. Walaupun suara-suara itu tidak sekedar seperti desau pucuk pucuk nyiur yang diguncang-guncang angin belaka, namun kepala bocahku tidak mampu menduga ke arah mana yang mereka tuju.

Suatu petang aku ikut ayah dan dua kakakku menonton tonil di halaman depan kapel. Banyak orang yang menonton. Ada yang duduk atau jongkok di rerumputan, dan yang di samping-samping, berdiri di sepanjang pagar halaman. Dua baris penonton didepan duduk di kursi. nDoro Seten dan para priyayi. Ayahku, yang guru bantu, termasuk dalam jajaran priyayi ini. Aku, kakakku, dan anak anak priyayi lainnya, duduk di depan kursi orang tua masing masing. Di bagian halaman kapel yang berbatu kerikil. Hangat oleh sisa panas matahari sepanjang siang. Tonil ini barangkali dikarang dan dipimpin oleh Menir Hardi, guru voorklas HIS itu. Sebenarnya aku tidak tahu, apa lakon yang mereka mainkan. Melihat kegelisahanku, kakakku berbisik: “Angger-angger sepuluh dhawuhing Allah”(2), katanya. Juga, walaupun dimainkan dalam bahasa Jawa bercampur Melayu(atau sebaliknya?), aku tidak menangkap bagaimana jalan ceritanya. Selain soal bahasa, tentu ini juga karena pengalamanku melihat tontonan sampai saat itu. Kebiasaan kujika melihat wayang orang, kata-kata – baik dari pemain apalagi dalang – hampir-hampir tidak kudengarkan. Kecuali kata-kata para panakawan pada waktu adegan gara-gara. Bagiku melihat wayang orang yang benar-benar kunikmati ialah gerak-gerik joged yang mengalir bersama irama gamelan. Sedangkan tonil di depan kapel ini hanya bicara bersahut-sahutan. Adasuara musik, memang. Tapi itu hanya gesekan satu biola dari Menir Hardi, yang lagunya tidak kukenal, dan kapan saja terdengar tidak bisa kuduga. Seperti tidak peduli dengan irama, melainkan hanya hendak mengisi suasana.

Sesuatu yang minta tempat. Bukan bagian dari tempat yang hidup. Tonil berjalan terus. Orang terkadang tertawa tertahan, terkadang terlepas, dan bahkan bertepuk tangan. Aku tetap tak berminat. Tapi mendadak suasana berubah, dan mencekam perhatianku. Di panggung tampillah seorang pemain bendara, menilik pakaiannya yang berjas tutup berkain batik dan berselop, dan melihat gayanya di panggung yang malang-kerik dan terkadang menuding-nuding. Di hadapannya seorang abdi, menilik bajunya yang surjan kain sarung dan telanjang kaki, duduk sila di lantai dengan tangan ngapurancang. Suasana seketika memuncak bersamaan dengan sepatah kata”ngijon!”, yang diucapkan pemain Bendara dengan suara keras. nDoro Seten menggebrak meja kecil di depannya dan berdiri. “Stop!” Ia berteriak marah. Disusul dengan perintahnya:”Bubar!” Lampu lampu petromaks seketika padam. Di bawah cahaya nyala lilin remang remang Menir Hardi tampil.

Membubarkan pertunjukan, meminta maaf pada nDoro Asisten Wedana dan para penonton … Semua orang pulang dengan mulut terkunci. Barangkali ada perasaan takut, seperti juga yang kurasai. Sesudah agak jauh dari tempat kejadian, di depan pasar, suara bisik orang-orang gerundelan terdengar. Menurut ayah nDoro Seten marah besar. Karena merasa disindir, dituduh sebagai tukang ngijon. Sejak itu aku tak lagi bisa meneruskan belajar bahasa Belanda. HIS voorklas Brosot ditutup tanpa keterangan. Dan Menir Hardi tak pernah lagi kami jumpai, pada setiap waktu tertentu di sore hari, ketika aku ikut Ibu belanja sesuatu ditoko. Bukan saja adegan percakapan pendek di tengah jalan Ibu dengannya masih terbayang padaku, bahkan nada suara kata-kata mereka pun masih belum hilang sampai sekarang. “Kondur, nak?” Sapa Ibu. (Pulang, nak?) “Inggih, bu. Saking ndherek mis …” Jawab Menir Hardi dengan sopan. (Ya bu, dari mengikuti misa). Mulai petang hari itu aku menjadi mengerti. Mengapa ketika kuda teji asistenan mati kesambet, gerundelan orang lebih menyayangi kuda dan kusir. Tapi sebaliknya menyokurkan nDoro Seten.

***

(bersambung)

Keterangan:

(1) Kamus Pigeaud yang menerjemahkannya sebagai “(stilletjes)weggliepen”, agaknya dibaca salah, “wegliepen”, oleh kamus-kamus W.J.S. Purwadarminta (1939) dan S. Prawiroatmodjo(1985). Sehingga, kedua-dua kamus ini, mengajukan kata-katapadanannya yang salah: “lunga tanpa pamit” (WJS.P) dan “pergitiada ijin” (S.P).

(2) Dasa Sila Perintah Tuhan.

DAERAH persawahan Brosot memang tidak luas. Tanahnya terlalu tinggi untuk bisa dialiri air sodetan muara Progo. Saluran induk yang mengalir di depan asistenan itu, setelah ditambah aliran saluran induk Desa Lendah dari utara, terus mengalir ke barat. Menyusur Jalan Wates, dan mulai tumpah dibagi-bagi di areal sawah di utara rumah sakit. Rumah sakit Brosot terbesar kedua sesudah rumah sakit pusat di Wates, milik sending, dipimpin seorang mantri juru rawat, dan mendapat kunjungan dokter dari Wates satu kali setiap bulan. Di jaman Jepang rumah sakit ini ditutup, seluruh kompleksnya diambil alih pemerintah, dan dipakai sebagai Kesatrian satu Daidan Peta (Pembela Tanah Air).

Di sekitar 0 Km Brosot sendiri tidak cukup luas tanah landai yang bisa digarap. Paling jauh berjarak 5-6 Km darilaut, yang kata orang “beralun banteng”. Berombak kuat dan ganas. Lahan sawah terhampar sekitar 2-3 Km di arah barat, disekitar pabrik gula sana. Tidak terlalu luas, kurang subur, dan sering sekali dilanda hama mentek atau buta ijo. Ketidaksuburan sawah ini barangkali juga sebagai akibat lahan yang disewakan pada industri (tebu, tembakau, konon dulu juga indigo) dengan sistem “glébagan”. Misalnya, pada tahun ini separoh (atau sepertiga) ditanam tanaman industri, dan pada tahun berikut separoh (atau sepertiga) lainnya. Begitu berganti-ganti lahan, dan sekaligus berselang-seling tanaman. Saking kurusnya tanah, bahkan ikan belutnya yang biasa ditangkap orang sehabis panen – aku pernah mencoba ikut menangkap – hanya sebesar jari kelingking. Selain akibat sistem sewa “glébagan”, mungkin udara laut juga berdampak tak menguntungkan bagi kesuburan tanah.

Aku ingat, misalnya, lahan persawahan Unit IV Savanajaya dan UnitXIV Bantalareja di Buru yang selain merana juga tak kunjung reda dari serangan hama mentek dan ulat tentara. Ketika tetangga Unit XV Indrapura, yang bekas hutan bambu, pada panen padi pertama sudah “overproduktie”, Unit XIV Bantalareja sampai tiga tahun (1971-74), artinya enam kali musim tanam, terus menerus menderita kelaparan. Mentek, hama putih, babi hutan, ulat tentara menyerbu bersama! Ya, saudara Tentara, jangan marah. Dunia pertanian memang memberi nama ulat hama padi itu Ulat Tentara. Seluruh tubuhnya hijau, kepalanya kemerahan seperti baret kopassus, matanya hitam seperti lubang karaben.

Delapan puluh hektar sawah tapol G30S-PKI Unit XIV Bantalareja (predikat tapol itu perlu disebut, karena sekarang tetap dengan nama unit yang sama tapi berpenghuni transmigran), dalam satu malam pernah habis ludes sama sekali. Malam itu dari barak-barak yang berjarak ratusan meter dari areal persawahan, terdengar seperti derap-derap sepatu barisan tentara siluman. Walaupun begitu ketika itu kami,tapol G30S-PKI, tidak ada yang menghujat tentara. Yang kami kambing hitamkan, di jaman perang dingin itu siapa lagi kalau bukan Amerika Serikat. Musuh nomor satu dunia! Segala macam bibit hama padi, konon memang sengaja dicampur di dalam pupuk urea dan TSP yang harus diimpor dari sana!

Sekitar asistenan Brosot tidak ada areal sawah. Dua-tiga kilometer di belakang, kawasan perdesaan yang makin meninggi. Kuthan, namanya, yang sudah termasuk wilayah Kulonprogo (tanah kesultanan). Di seberang jalan raya depan asistenan itu dulu terletak stasion NIS. Di sebelah timur stasion, sebuah gudang beratap dan dinding seng, di tepi saluran irigasi, dibongkar di jaman Jepang. Di depan gudang ada tanah lapang, yang buat mataku ketika itu, lebar sekali dan berumput jago-jagoan. Anak-anak suka bermain adu “jago” dengan kembang rumput ini. Dua batang lidi ditancapkan di tanah, kedua ujungnya dililit dua helai serat gedebog sama datar. Di atas dua helai serat gedebog itu, dari ujung ke ujung, ditaruh bunga rumput jago-jagoan saling berhadapan. Salah seorang memukuli perlahan dan berirama, tiang lidi yang sebelah dengan lidi pemukul. Dua”jago” akan berjalan saling mendekat dan “bertarung”. Jago siapa yang jatuh lebih dulu ke tanah, dia itulah yang kalah.

Di tanah lapang Brosot ini aku, untuk pertama kali, melihat gambar sorot atau gambar idup. Istilah “film” belum dikenal ketika itu. Gambar sorot dari jamannya Si Kuncung dan Miss Surip si Mata Roda, disusul film-film perang Asia Timur Raya, dan diseling dengan kehadiran kembali wayang beber. Wayang beber jaman ini, tentu saja tidak membawakan lakon Kebo Ijo atau Naladerma, misalnya. Lakon-lakon baku wayang beber jaman Jepang antara lain: Amat Heiho, Momotaro, Bekerja,dan semacamnya. Dalangnya Pak Besut alias P. Wardoyo dar iSendenbu (Barisan Propaganda) Pemerintah Bala Tentera Dai Nippon Yogyakarta Koti.

Di jaman itu kami selain pandai menyanyikan lagu wajib seperti “Heitai-san, arigato!” dan “Umi Yukaba”, juga hafal kata-kata lagu “Asia Sudah Bangun” dan “Bekerja”:

Bekerja bekerja bekerja tenaga semua sudah bersatu mesin pabrik berputar terus palu godam suara gemuruh semua bekerja giat gembira tenaga pekerja teguh bersatu gugur hancur kaum sekutu!

Lalu anak-anak kecil, sambil membuat versi baru lagu itu, sekaligus juga mempermain-mainkan bunyi syairnya. Sindiran atas sketsa kehidupan semasa, yang dilontar dalam bentuk nyanyian sekenanya:

Mizuho mizuho mizuho kooa fajar semangat srutu momotaro nandur jarak amat dadi heiho nganggo kathok bagor sarungé kombor bubur katul opahé nutu!(1)

Hamparan tanah datar di selatan “alun-alun” Brosot ini dan dukuh di sebelah timurnya, entah bagaimana ceritanya, dinamai “Pulo”. Barangkali dulu sebuah delta di muara Progo? Bila cuaca sedang bening, dan kita berdiri di tanggul irigasi primer itu memandang ke arah selatan, tampaklah limburan laut yang dipermainkan tangan-tangan gaib Nyai Lara Kidul. Putih berkilatan ditimpa sinar matahari. Tanah di lahan Pulo ini memang masir, sehingga merupakan ladang lumayan subur untuk palawija – terutama kacang tanah dan ubi jalar. Kacang tanah Pulo dikenal besar-besar, ubi jalarnya kalau direbus manis dan “ngendhog” – di tengah memutih dan mempur.

Sebenarnya kecamatan Brosot memang wilayah yang miskin lahan pertanian basah dan kering. Tetapi kekurangan ini menjadi tertutup, karena kedudukannya sebagai kota keduaKadipaten Paku Alaman sesudah ibukota Wates. Brosot dilalui jalan raya Yogyakarta – Bandung dan Jakarta, melalui Wates,Gombong (di sini, seperti di Bandung, ada satu batalyon depotKNIL), dan Purwokerto (ibukota keresidenan penting di JawaTengah, terutama karena adanya pelabuhan Cilacap yang satu-satunya di pantai selatan Jawa).

Sementara itu seluruh daerah “di belakang” Brosot sampai Sentolo, ibukota Afd. Kulonprogo, tidak ada kota asistenan yang berarti. Brosot jadinya seperti terletak di pangkuan “daerah belakang”, yang merupakan lahan pertanian berbagai kultur. Karena itu pasar Brosot hidup setiap hari(2). Beda dengan pasar Desa Kranggan, dekat rumah sakit, yang hanya hidup setiap Kliwon, sehingga dinamai Pasar Kliwon; pasar Sewugalur atau orang desa menyebutnya Pasar mBabrik, yang dinamai Pasar Paing; pasar Keboan, biasa juga di-kromo-kan sebagai Maésan, yang Pasar Legi. Sedangkan hari pasaran Pasar Brosot ialah tiap Pon. Di antara para pembeli dan penjual yang datang, antara lain dari arah barat sejauh Keboan (5 Km: terutama kelapa dan minyak kelapa, di desa ini ada “ngGoprakan”, perusahaan kopra); dari utara: Lendah (2 Km) sampai Kenthèng Nganggrung (9 Km: berbagai hasil pertanian, kayu bakar dan arang); dari timur: Mangiran (5 Km: penjahit dan tahu; di desanya Ki Ageng Mangir ini banyak pabrik tahu usaha rakyat) bahkan Jodoglegi (9 Km: tembakau Siluk Imagiri dan barang-barang klontong).

Pada tahun 1948-49, ketika Belanda menduduki kota Yogya dan Bantul (lk. 12 Km arah timur laut), Brosot berubah menjadi kota terdepan Republik yang aman dan sangat ramai. Selain menjadi “sarang” berbagai kesatuan lasykar bersenjata, jembatan Kali Progo yang hampir seribu meter itu pun sudah dibumi hanguskan(2). Karenanya pengungsi seperti “tumplek blek” berdatangan di Brosot dengan rasa aman. Dengan begitudaya hidup Pasar Pon itu pun menjadi menggelombang makin besar dan makin jauh lagi. Di dalam jaman “doorstoot” itu kami bertujuh sekeluarga, yaitu saya dan enam sesaudara serta Ibu, juga menyandarkan hidup kami pada rejeki pasar yang terbuka bagi siapa saja. Kami bertiga, aku dan dua kakak beradik, yang baru memasuki umur belasan, berjualan rokok. Begitulah sebutannya yang lazim saat itu. Walaupun dagangan kami sesungguhnya bukan rokok yang utama, tetapi tembakau dan segala macam bumbunya untuk penyedap rokok tingwe(3): klembak, uwur cengkih, kemukus dan kemenyan – khususnya untuk melayani orang-orang yang suka mengisap rokok siong atau rokok klembak menyan. Kemudian tentu saja juga kertas manis dan klobot untuk penggulung rokok, batu api, batu thithikan, kawul, dan kepingan baja untuk pemantik;sabun dan teh.

Pada siang hari kami berjualan dari pasar desa yang satu ke pasar desa yang lain, dan pada malam hari dari tempat pertunjukan rakyat yang satu ke tempat yang lain, dengan menempuh jarak antara 5-10 Km. Misalnya ke tempat pertunjukan wayang atau ketoprak di satu desa yang sedang berpesta “bersih desa”, atau ke satu keluarga berada yangs edang punya perhelatan perkawinan, sunatan, atau hajat yang lain. Berkat kedudukan geografisnya yang menguntungkan, Brosot mempunyai berbagai kelebihan sarana dan kemudahan ketimbang desa-desa lain di sekitar. Karena itu tiap pasaran Pon, ketika Pasar Brosot berpasaran, jalan lingkar desa (biar gagah katakan “rural ring road”) Brosot-Lendah di depan rumahku, sejak menjelang subuh sudah menjadi ramai oleh orang-orang yang seperti mengalir turun dari gunung.

Obor-obor mancung dan blarak mereka masih belum dipadamkan. Selain untuk menerangi jalan, juga menghangati diri dari hembusan dingin pagi hari. Yang perempuan menggendong, dan yang laki-laki memikul ata umenyunggi: daun pisang atau daun jati, kelapa, beras, sabut kelapa yang sudah kering, arang, kayu bakar, rumput atau rèndèng (daun kacang tanah), pisang, mangga (jika sedang musim), dsb. Sepagi itu biasanya Ibu sudah berbelanja di pinggir jalan, tidak perlu susah payah dan berjalan jauh ke pasar. Belanja seperti ini “adhang-adhang”, namanya.

Jadi Saudara, Adikarta dan Kulonprogo, dalam hidup keekonomian, merekaitu ibarat kuku dan jari. Dengan begitu juga Brosot dan daerah barat Kali Progo seanteronya, boleh dibilang banyak bergantung pada daerah “belakang garis”: Lendah ke atas sampai Sentolo. Wibawa pulung kraton tetap pada “praja kasultanan”, dan bukan “kadipaten pakualaman”. Salah satu repertoar lagu panembrama (paduan suara tembang Jawa) murid-murid SD Brosot sebelum perang, ialah tembang Kinanrthi yang khusus digubah untuk wisuda Sultan Hamengku Buwana IX. Kawula Adikarta umumnya bahkan “tidak peduli” kapan hari wisuda Gusti Adipati PakuAlam.

Dari segi ruhani Brosot juga mempunyai kekurangan yang besar. Memang aneh! Sebuah desa tua, tapi tidak punya “pepundhèn” atau tokoh cikal bakal desa. Sementara itu Lendah mempunyai Kyai Landhoh. Konon seorang pangeran dari Brawijaya,yang melarikan diri jauh ke barat, dan membuka desa yang kemudian dinamai orang “Lendah”. Nisan makamnya di dalam cungkup berpintu sempit dan tinggi setengah meter, dari batu hitam panjang dua meter yang selalu diselimuti kain putih. Tutur babad mengatakan, ia mempunyai pusaka “bathok bolu”. Sedikit di kanan depan cungkup Kyai Landhoh, terbujur nisan seorang putri “pepundhèn Dalem Kangjeng Sultan”. junjungan Sri Paduka Sultan. Masih ada satu lagi kekurangan bobot ruhaniah Brosot. Lampor Nyai Lara Kidul yang tiap rembang senja meronda-ronda di sepanjang aliran Progo itu adalah milik “Ingkang Sinuwun” dan bukan “Gusti Adipati”.

Tapi Brosot, sebagai kota kedua di tanah apanase raja kecil Paku Alam, memang menjadi sedikit bernafas burjuis. Desa Brosot tampil dengan wajah “desa kota” ketimbang desa-desa seantero dan setaranya yang sama sekali berwajah “desa taniyutun”. Dari “bibilotik” Brosot (ayahku pengelola perpustakaanSekolah Rakyat yang mempunyai lebih dari 2500 judul buku;dalam bahasa-bahasa Jawa dan Melayu, dan satu-dua Belanda) aku berkenalan dengan “Resiyaning Ngaurip” (Rahasia Hidup) Tolstoy dan “Pacar Merah” yang saduran Melayu dari roman sejarah berlatar revolusi Perancis. Di Brosot aku pertama kali melihat tonil dan pantomim, tari lilin dan sapu tangan Minangkabau; wayang beber dan (apa yang orang desa menamai) “standen”, sejenis akrobatik. Brosot tidak mempunyai rombongan trubadur desa reyog dan jatilan amatir, yang dimainkan pemuda-pemuda tani seusai panen. Bahkan wayang orang dan ketoprak pun, jika terkadang ada, sudah tampil dalam kemasan “tobongan” yang untuk masuk dan menontonnya dipungut bayaran. Di Brosot juga aku pertama kali (6 tahun) mengenal tontonan yang dinamai “gambar sorot”.

Tapi di Lendah aku (5-6 tahun) melihat pertama kali pergelaran ketoprak dengan lakon Bandung Bandawasa, di pendapa asistenan, untuk merayakan perkawinan Ndoro Setèn (sekarang pakar sosiologi) Selosumardjan – saya lupa: tiga atau lima siang, Pak Mardjan? Wajah Brosot yang sedikit burjuis itu menimbulkan adanya kecemburuan sosial diam-diam, antara kaum “priyayi kasultanan” di satu pihak dengan kaum “priyayi gupermen” di lain pihak. Kaum petaninya pun, oleh sistem sewa “glébagan” tersebut diatas menjadi dikuasai oleh hubungan produksi yang setengah (atau sepertiga) feodal sekaligus setengah (atau sepertiga burjuis). Ini berarti, bahwa proletariat desa yang selain tani tak bertanah juga tani miskin, memijakkan dua kakinya pada dua tumpuan: tanah raja dan lahan tuan pabrik. Fenomena masyarakat desa Brosot yang demikian itu, barangkali juga menggejala di desa-desa di Jawa pada umumnya dan sana-sini di Sumatra di mana ada perkebunan dan pertambangan.

Namun bisa dipastikan, bahwa fenomena sosial seperti di desa Brosot ini tidak pernah dijumpai Mao Zedong, di sepanjang sejarah perjuangannya memimpin revolusi agraria sosialis di Tiongkok. Di seluruh daratan Tiongkok yang mahaluas itu, karena feodalismenya yang telah berakar dan berkembang, tidak tersedia ruangan untuk pabrik-pabrik dan perkebunan perkebunan industri kapitalis. Sementara itu proletariat yang berwatak rangkap, (sarekat) abang (sarekat hijo), seperti proletariat desa di desa Brosot, pastilah tidak pernah dikenal oleh Lenin dan Stalin di negerinya. Bahkan di Indonesia sendiri pun, apakah fenomena sosial politik yang seperti itu pernah disadari oleh parpol-parpol yang menjanjikan pembebasan rakyat kecil dari kemiskinan dan keterbelakangan? Termasuk PKI pada masa jayanya sekalipun?

Pada awal “Peristiwa Madiun” kakakku, perwira Pepolit Biro Perjuangan Daerah XXV (kemudian TNI Bag. Masyarakat), ditangkap polisi Wates di Desa Lendah, atas petunjuk tetangga “baik” yang Kepala Dukuh dan anggota Masyumi. Di jaman”doorstoot”, bekas toko klontong terbesar di Brosot diambil alih menjadi markas lasykar. Tapi justru Lasykar Hisbullah yang berhasil mendudukinya. Sementara itu markas BODM (Bintara Onder Distrik Militer) entah menumpang di mana, markas Mobilisasi Pelajar di desa Kranggan dekat Sewugalur, di rumah seorang Katekis (Penginjil Kristen), dan anggota Lasykar Rakyat tersebar menumpang di rumah-rumah keluarga. Pada masaitu jugalah Kapten Anu, Komandan Lasykar Rakyat, pada suatu subuh, mati dirajam peluru di samping pagar bambu pekarangan rumah pondokannya. Konon, desas-desus mengatakan, karena ia memungut pajak liar penyeberangan Kali Progo, demi kepentingan lasykarnya sendiri; dan tambahan lagi, karena ia beristri perempuan bekas pelacur Balokan Yogya …

Pada waktu pemilihan umum 1955/56, hasil penghitungan suara baik di Brosot maupun di Lendah, sama seperti wilayah DIY umumnya. PKI termasuk empat besar, dengan PNI di papan paling atas. Tentu saja ini bukan berkat dukungan kaum priyayi abangan yang, bagaimanapun juga, kecil saja jumlahnya jika dibandingkan dengan jumlah penduduk. Dukungan terbesar PNI pastilah dari massa “proletar abang-ijo” yang islam-abangan, yang berhasil direbutnya dari kontestan bertanda gambar lain, terutama Palu-Arit dan sedikit banyak juga Cangkul-Kalam Bulu Ayam PRN Jody Gondokusumo.

Sebagai ilustrasi sehubungan itu, ada contoh dari percakapanku dengan seorang tani miskin di Karangmaja, desa tandus di Gunung Kidul tahun 1957, antara lain (dengan kursif-kursif sebagai penegas): “Waktu pemilihan umum nyoblos apa, Pak?” “Ya Palu-Arit, to Pak. Apalagi? Wong orang kecil …” “Agamanya apa, Pak?” “Lha ya Islam wong orang Jawa …!” “Lho! Palu-Arit kok Islam?” “Ya bisa saja to, Pak. Palu-Arit itu kan politik. Islamitu agama. Politik dan agama itu lain-lain …” Partai Rakyat Nasional (PRN) Jody memang pecahan PNI(1950). Tapi popularitasnya di desa, selain oleh tanda gambarnya yang pacul dan (bulu) ayam, benda-benda yang akrab bagi kehidupan tani di Jawa; juga tidak mustahil justru oleh identitas “trah dalem” (keturunan raja), seperti tercermin dalam kata belakang “kusumo” pada namanya. Jangan lupa, jaman itu masih belum jamannya “pujakesuma”, putra jawa kelahiran sumatra, dan juga belum jamannya “kasno” (maaf: bekas cino) ramai-ramai ganti nama, dengan mencari acuan nama-nama bangsawan Jawa! Embel-embel “kusumo” pada nama diri di jaman itu, masih menjadi monopoli para bangsawan Mataram saja, atau bangsawan Banten-Pajajaran (“kusumah”) yang tak merasa kalah pamor dari Mataram. Karisma “pulung” Pakualaman memang sudah padam. Tapi Hamangku Buwana tampaknya justru sedikit mencuat, jika kita memperhatikan berbagai kejadian sejak sekitar dan sesudah $uharto lengser.

Maka pada pemilu mendatang massa pemilih di Brosot dan sekitarnya, seperti juga di kawasan DIY umumnya, agaknya masih tetap cenderung “ndherek Ngarsa Dalem” (mengikuti Sri Paduka Sultan). Persaingan keras agaknya justru akan terjadi antara kelompok Islam dan Golkar, yang selama 32 tahun sudah merebut kedudukan PNI sebagai “partai priyayi”, yang menjadi panutan massa “proletar bangjo”. Tanpa pandai membaca, dan berani dengan tegas mengartikulasi amanat “proletar bangjo” di desa, PNI tidak akan mendapat pasaran. Tapi, jika Semangat Ciganjur (plus atau tanpa plus) bisa dipandang sebagai pencerminan kecenderungan Semangat Empat Besar, pertanyaan besar yang satu itu juga yang tetap kumandang: “Quo Vadis Reformasi?”

***

Catatan:

(1) Semua kata pada dua baris pertama nama nama etiket rokokyang lazim waktu itu.Terjemahan baris baris selanjutnya: Tanam jarak Amat jadiheiho / bercelana bagor / bersarung kedodoran (yang dimaksudsarung dari bahan karet lateks) / bubur bekatul upah menumbukpadi //

(2) Hari-hari pasaran ada lima: Pon, Wage, Kliwon, Legi, danPaing.

(3) Sejak jaman Jepang jaringan kereta api terhenti sampaiPalbapang, 2 Km selatan Bantul. Palbapang – Sewugalurdisambung dengan munthit, kereta api tebu yang diberi dindinggedek dan bangku bangku kayu. Tidak lagi mengikuti jalan NIS,tapi di timur Mangiran membelok ke utara melalui Gesikan (disini ada pabrik gula), terus ke selatan mendekati Padokan(pabrik gula lainnya), baru kembali mengikuti jalan lama NIS.

(4) “Tingwe”, akronim dari “nglinting dhewe”; (rokok) gulungansendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s