Sekitar Masalah “Pelurusan Sejarah”

Hersri Setiawan

Sekitar Masalah “Pelurusan Sejarah”
Transkripsi Ceramah “Aksi Setiakawan”
Amsterdam 19 Desember 1998

Saudara-Saudara,

Menurut permintaan dan undangan “Aksi Setiakawan” – terimakasih untuk semuanya itu – saya harus berbicara masalah Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 di Betawi waktu itu. Karena ceramah ini sedikit banyak merupakan ulangan dari ceramah yang diselenggarakan, untuk memperingati hari besar nasional itu, oleh Stichting Indonesia Sejahtera (SIS) di Utrecht. Hanya, ketika itu, para pembicaranya kami bertiga saja:Saudara-Saudara A.S. Munandar, Siswasantoso, dan saya. Tanpa Saudara Joop Morrien. Teks ceramah saya di Utrecht itu berjudul “Api Sumpah Pemuda Dari Tinjauan Budaya”, saya awali dengan dua bait syair Ranggawarsita dari “Kalatidha” (5-6). Kopi teks itu selengkapnya sudah ada pada pengurus “Aksi Setiakawan”, dalam hal ini Saudara Harsono. Sehingga bagi yang ingin membacanya silakan meminjam dari “Aksi Setiakawan” atau saudara tersebut.

Saudara-Saudara,

Sekarang ini kita sudah memasuki minggu ke-3 bulan Desember. Jadi perasaan saya sudah agak jauh dengan tanggal kejadian bersejarah yang bernama “Hari Sumpah Pemuda” itu.Tapi agar sedikit banyak memenuhi harapan Saudara-Saudara, bagaimanapun juga saya akan singgung soal Sumpah Pemuda,walaupun secara pendek saja. Selanjutnya, saya tertarik pada apa yang tadi disebut baik oleh Saudara Joop maupun Saudara Munandar. Bung Munandar menyinggung masalah “pelurusan sejarah”, sedangkan Bung Joop seperti menggelitik saya dengan menyebut tentang kegiatan yang saya kerjakan selama di Belanda. Maka saya ingin bicara tentang mengapa saya menyibuki diri dengan kegiatan pengumpulan bahan sejarah,termasuk dan khususnya bahan-bahan sejarah lisan, dengan jalan mewawancarai banyak teman. Kegiatan yang sebenarnya sudah kami kerjakan, saya dan istri saya Jitske Mulder, sejak sekembali saya dari Pulau Buru. Selagi masih di penjara Salemba sampai selama di Buru, saya banyak mendengar kisah sejarah dari kawan-kawan angkatan terdahulu. Bagaimana pengalaman mereka di Digul Atas, bagaimana penderitaan di tahanan Kenpeitai, dan sebagainya. Semuanya kisah-kisah lisan, yang kalau tidak dicatat dan direkam akan segera hilang ditelan waktu. Lebih khusus lagi tentang sejarah pergerakan kaum kiri pada umumnya dan kaum komunis khususnya di Indonesia.

Karena, seperti kita semua tahu, di Indonesia sepanjang masa lebih dari 30 tahun terakhir, telah terjadi penggelapan yang luar biasa terhadap sejarah nasional kita. Praktek-praktek KKN sebenarnya juga terjadi tak kalah intensif di bidang penyelenggaraan sejarah Indonesia sepanjang rezim Orde Baru. Sejarah kaum kiri,terlebih lagi kaum komunis, telah dihapus dari lembaran catatan perjalanan bangsa. Untuk membantu usaha mengembalikan lembaran-lembaran sejarah yang telah dibuang dan dihapus itu lah kegiatan demikian saya lakukan. Sukurlah bahwa sekarang, sesudah saya sekian tahun bersibuk dan berhasil mengumpulkan tak kurang dari dua ratus kaset rekaman wawancara-wawancara dengan narasumber yang tersebar di Eropa, Tiongkok dan Vietnam, selain bahan-bahan tertulis, masyarakat dan kaum muda di Indonesia khususnya telah tergerak untuk melakukan apa yang disebut “pelurusan sejarah”.

Dunia ilmu, dalam hubungan pembicaraan ini ilmu sejarah, ialah dunia yang mencintai kebenaran. Kaum ilmuwan, dalam konteks ini ilmuwan sejarah atau sejarawan, ialah kaum yang setia kepada kejujuran dan kebenaran. Tapi jujur dan benar saja belum cukup kalau tidak disertai dengan keberanian. Keberanian untuk membentangkan kembali kebenaran dan kejujuran yang dengan sengaja telah diselubungi dan bahkan dihitamkan sama sekali itu. Karena itu pada kesempatan ini saya ingin mengutamakanberbicara tentang hal hal sekitar sejarah. Tapi pertama-tama baiklah juga saya kembali pada Sumpah Pemuda.

Saudara-Saudara,

Berbicara tentang Sumpah Pemuda, menurut saya, sebaiknya janganlah kita berbicara tentang sisi formal atau bentuk lahiriah peristiwa Sumpah Pemuda itu belaka. Juga demikian halnya jika kita berbicara tentang peristiwa-peristiwa lain apa pun. Kalau kita memperingati sesuatu, orang Jawa memang – bagaimana ya? Kata “memperingati” kok diterjemahkan dengan”menyelamati” atau “selamatan”. Dan makin “nggak ketulungan” lagi karena kombinasi “selamatan” itu biasanya, selain diisi dengan “ndremimil” membaca doa, juga disertai tabur kembang, membakar kemenyan dan nyekar! Jika kita memperingati sesuatu,tapi dengan semangat seperti itu, akibatnya hakikat kejadian yang hendak diperingati justru menjadi beku. Juga ikut menjadi beku daya ingat kita dan, lebih parah lagi, sadar atau tidak sadar sesungguhnya kita justru membekukan sesuatu yang hendak kita peringati itu. Sadar atau tidak sadar yang kita perbuat bahkan sebaliknya: membunuh Api hal ihwal yang hendak kita peringati!

Kata “selamatan” kalau dikembalikan pada akar katanya,”selamat” yaitu “salam”, artinya “damai”. Kalau melihat itu, agaknya konsep ini merupakan salah satu sisa dari jaman animisme, jaman pemujaan kepada ruh (anima) yang dipercaya ada pada segala sesuatu. Arwah, bentuk jamak dari ruh, dipuja agar supaya Si Arwah damai sehingga tidak mengganggu yang masih hidup. Jadi ada suatu kompromi antara dunia ruh dan dunia jasad, untuk hidup berdampingan secara damai. Yang hidup membiarkan “yang mati” (saya tulis di bawah tanda kutip, karena “mati” ialah “hidup yang lain” saja), dan berusaha mendamaikannya dengan sesaji yang lazim disebut “nyekar” tersebut, atas dasar prinsip yang dalam istilah Latin disebut “do ut des” – memberi untuk menerima. Memberi sesuatu, yaitu makan yang berupa sesaji itu, kepada arwah; sebaliknya untuk menerima sesuatu, yaitu berkah keselamatan,dari padanya.

Jadi demikianlah Saudara-Saudara,

Sebaiknya kita, dalam memperingati sesuatu kejadian apa saja, tidak terjebak di dalam kebiasaan yang ritualistik atau sekedar bersemangat keupacaraan seperti itu. Sebab kalau demikian semangatnya, sebenarnya kita bahkan ikut menyokong pembangunan mitos-mitos. Padahal tugas sejarah justru untuk membabad mitos. Mari kita kembali pada Sumpah Pemuda. Saya tidak perlu menyebut satu demi satu butir butir isi Sumpah yang tiga itu. Apa dan bagaimana urutan butir butir disebut, dan bagaimana setepatnya rumusan kata-kata disusun, serta siapa yang membacakannya dalam “sidang kerapatan” para pemuda waktu itu, silakan Saudara membacanya pada teks ceramah saya di Utrecht itu. Yang perlu ditekankan di sini ialah apa sebenarnya “kata kunci” Sumpah Pemuda. Menurut hemat saya kata kunci Sumpah Pemuda cukup disimpulkan dalam satu baris kalimat, yaitu: “bineka tunggal ika”. Kita semuatahu, apa itu arti dan maknanya.

Lalu, apakah “amanat” Sumpah yang hendak disampaikan? Tentang ini pun bisa dirumuskan pendek saja, yaitu tak lain ialah: usaha untuk persatuan bangsa, usaha untuk pembinaan bangsa, dan usaha untuk menemukan jatidiri bangsa. Kalau kita melihat esensi ini, tentunya kalau Saudara-Saudara sependapat dengan kesimpulan saya tersebut, maka saya pikir amanat Sumpah Pemuda masih tetap relevan. Karenanya pula meluangkan waktu untuk memperingatinya pun tetap “sunnah”, walaupun bukanlah “wajib” sejarah hukumnya. Apalagi kalau kita menghubungkan dengan pergolakan situasi dan situasi pergulatan di Indonesia akhir-akhir ini, khususnya sejak diktatur $uharto lengser dari singgasana atau kursi tahta – tapi tidak atau belum dari keprabon atau kerajaan!

Saya teringat pada pesan Bung Karno yang mengatakan, kalau kita memperingati sesuatu hendaklah jangan sekedar menangkap abunya, tapi tangkaplah apinya. Api Kejadian itu! Api itulah yang harus kita tangkap dan nyalakan kembali. Bahkan kobar-kobarkanlah terus nyala itu. Demikian Bung Karno. Dalam hal “api” ini saya juga teringat pada kata-kata nasihat Mangkunegara IV. Ia memang seorang raja. Tapi kebijaksanaan kata-katanya tidak akan menjadi pudar karenanya. “Intan tetap intan walau keluar dari mulut anjing sekalipun”, begitu pepatah mengingatkan kita. Ada sebuah adagium terkenal, warisan Mangkunegara IV, begini katanya: “apek geni adedamar, ngangsu apikulan warih”. Mengambil api dengan membawa nyala api, mengambil air dengan berpikulan air. Apa maksud adagium itu? Yaitu agar dalam mempelajari peristiwa-peristiwa sejarah, atau menoleh pada pengalaman-pengalaman masa lalu, jangan sampai kita lupa pada apa yang hendak kita cari. Lebih buruk lagi, jangan kita bikin padam api itu, atau kita bikin mati sumber air itu. Tapi sebaliknya, kita harus menjaga nyala api atau sumber air itu agar tetap terus menyala atau memancar, dan kalau bisa bahkan lebih memperbesar lagi kobaran nyala atau pancaran sumbernya.

Apakah itu sejarah?

Kata orang-orang pandai “sejarah” berasal dari kata Arab,”sajaratun”, yang artinya pohon. Pohon silsilah, maksudnya. Bayangkanlah: pohon itu tumbuh di atas tanah, mempunyai batang, cabang, dahan dan ranting, daun-daun, bunga dan buah. Kalau dibalik, sehingga cabang dahan berikut ranting daun-daun dan sebagainya ada di bawah, maka pohon kayu itu akan tampak menjadi pohon silsilah. Silsilah pribadi seseorang atau sekelompok orang atau bangsa, atau asal usul sesuatu kejadian atau berbagai rupa kejadian-kejadian. Karena itu saya berpendapat, sejak dulu sampai sekarang, sejarah bukan masalah batang saja. Bukan masalah orang gede saja. Sebab pohon dinamai pohon justru karena ada dahan dan rantingnya, ada daun-daun dan bunganya, dan seterusnya dan seterusnya. Dan jangan lupa: juga ada akar dan tanahnya.Jadi, kalau kita mau mengusut sesuatu kejadian sejarah, atau sesuatu batang “sajaratun” tersebut, jangan hanya kita berhenti mengamati batang dan cabang-cabangnya yang besar.Tapi harus juga kita perhatikan ranting, daun, akar, tanah, dan seterusnya. Bahkan daun-daun yang sudah melayang bertebaran di tanah pun tidak boleh diabaikan. Ingatlah pada kata-kata Rabindranath Tagore, yang pernah dikutip oleh Njono dalam pidato terakhirnya ketika menerima vonis hukuman mati dari Mahmilub-nya Orde Baru $uharto, bahwa daun-daun kuning yang gugur bertaburan akan menjadi pupuk kesuburan tanah air…

Soal sejarah memang soal yang pelik dan rumit. Soal yang delikat. Setiap unsur pohon, juga “pohon sejarah”, sesungguhnya merupakan sesuatu hasil kesinambungan proses yang panjang, bercabang-cabang dan beranak-pinak dan rumit. Karena itu mempelajari sejarah berarti mempelajari semua unsur-unsur “pohon” itu. Satu demi satu harus kita runut sampai ke akar-akar dan bahkan tanahnya, yang telah menjadi tempat bertumbuhnya pohon yang bersangkutan. Sebab jika tidak demikian, kita tidak akan pernah bisa memahami sesuatu kejadian yang rumit itu.

Saya ambil contoh dari pengalaman pribadi ketika saya masih duduk di bangku sekolah menengah. Ketika itu saya mempunyai guru sejarah, yang barangkali seperti kebanyakan guru-guru sejarah lainnya. Begitu masuk klas, murid-murid diperintahnya mengeluarkan buku catatan. Pak Guru menulis bahan pelajaran di papan tulis, atau mendiktekannya kalimat demi kalimat. Sesudah selesai, Pak Guru hanya bertanya, apakah ada di antara kami yang mau bertanya tentang bahan pelajaran yang baru saja diberikannya itu. Untuk menghadapi ulangan atau ujian kelak, kami disuruhnya menghafal bab ini atau itu, atau kalau dari buku pelajaran, dari halaman sekian sampai sekian. Suatu ketika, pada suatu uji coba kerajinan murid seklas, saya ditanya tentang tahun lahirnya Sura Agul-Agul, Panglima Sultan Agung Hanyakrakusuma dalam penyerbuan ke Betawi (1628 dan 1629). Pak Guru marah karena saya tidak bisa menjawab pertanyaannya itu. Saya tidak menghafalnya, karena saya menganggap tahun kelahiran tokoh, walau ia tokoh besar sekalipun, tidak terlalu penting dibanding dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi dan melibat diri dan pribadi si tokoh itu.

Seorang guru sejarah yang pandai, bukan mengajarkan pada murid (tegasnya: suruh menghafal) nama-nama tokoh dan urutan tahun dan bahkan hari bulan kejadian demi kejadian. Tapi dia akan menguraikan, bukan mengajarkan, kejadian demi kejadian yang satu sama lain rangkai berangkai dalam jalinan sebab dan musabab, sebab dan akibat. Kalau kejadian-kejadian itu diurai dengan jelas, maka kapan terjadinya setiap peristiwa pun akan bisa melekat di ingatan – kalau tidak secara tepat, tapi setidaknya suatu ancar-ancar saat atau tahun.

Tapi kemudian saya merasa mendapat motivasi dan sekaligus semacam inspirasi dari guru sejarah yang lain, sehingga saya selanjutnya menjadi mencintai mata pelajaran ini. Nama guru ini Fransiskus Xaverius Maryono, seorang katolik tentu saja. Pendek kecil tapi singset dan cekatan, berkumis tipis seperti satria Lesanpura Raden Sentiyaki, adik ipar Batara Kresna. Tamatan B2 Sejarah ia, mengaku sebagai pengagum Arnold Toynbee dan Jan Romein. Sejak masuk pertamakali ke klas saya terpesona oleh penampilannya sebagai guru sejarah yang belum pernah sebelumnya saya jumpai. Ia tidak mulai dengan mendikte atau mencatat apa yang tertulis dipapan tulis, sebaliknya bahkan dilarangnya kami mengeluarkan pensil dan sekrip. “Perhatikan papan tulis, dan dengar baik-baik apa yang akan saya ceritakan!” Katanya.

Lebar bidang papan tulis itu dibelahnya menjadi dua, seperti Ki Dalang wayang kulit membelah dunia pekeliran: kiri dan kanan. Di puncak belahan, di tengah-tengah, ditulisnya besar besar: “Renaissance”. Di bawahnya ditulis dengan huruf-huruf lebih kecil, di antara tanda kurung: “re-naitre” (Per.); “re-nasci” (Lat.) = lahir kembali. Jadi sementara Pak Guru belum lagi bicara, saya sudah mendapat tiga butir soal. Oh, Bapak ini mau menerangkan tentang “renaissance”, yang berasal dari kata Perancis itu dan kata Latin itu, yang artinya “lahir kembali”. Ah, apa atau siapa itu yang lahir kembali? Kami semua diam sambil mata tetap terpaku ke papantulis. Barangkali sama seperti saya juga, kami semua penasaran ingin tahu. Pak Maryono seperti tak peduli. Terus menulis kata kata pendek di kiri dan di kanan berpasang-pasang, berturut-turut ke bawah seperti butir demi butir: Zaman Kegelapan <-> ZamanAufklaerung. Jenseitig <-> Diesseitig. Golongan Pendeta dan Bangsawan <-> Golongan Ke-3, dst. dst. Hebat Pak Guru satu ini! Begitu saya pikir. Bukan karena bombardemen kata-kata asing itu yang membuatku terpukau, tapi karena kata demi kata merupakan tanda tanya: apa gerangan yang tersembunyi di balik semuanya itu? Ini beda dengan deretan angka tahun dan hari bulan serta nama-nama para kaisar atau panglima perang! Semua yang tersebut pertama itu ibarat hamparan masalah, sedangkan semua yang tersebut kemudian tak lebih dari timbunan sampah.Yang pertama,walaupun sulit, tapi menantang; sedangkan yang kedua, walaupun terlalu sederhana, tapi tidak memancarkan daya tarik.

Saudara-Saudara,

Sejarah sebenarnya warisan kebudayaan. Atau bisa juga kita balik: kebudayaan ialah warisan sejarah – historischbestimmt, kata orang yang suka kata-kata asing. Tapi disamping merupakan warisan kebudayaan, sejarah sekaligus juga merupakan reservoar kebudayaan. Seperti tadi saya sudah kemukakan, sejarah bukan sekedar terang dan panas sebagai hasil kobaran nyala dari api unggun sejarah masa lalu. Tapi sejarah juga memberi terang dan panas pada kobaran nyala selanjutnya. Kalau tidak ada proses demikian pastilah tidak akan kita kenal sepatah adagium wasiat dari datuk teori dialektika Herakleitos: panta rhei – segala hal-ihwal terus mengalir. Sejarah selain warisan juga petandoan atau reservoar. Dan dari petandoan yang satu ini kita ambil api atau airnya, dengan membawa nyala atau pikulan air, untuk menciptakan petandoan-petandoan baru, sementara itu petandoannya yang lama tidak menjadi kering atau padam. Sumber Sejarah.

Pada awal uraian sudah saya sebut juga, bahwa sejarah merupakan cabang ilmu pengetahuan yang delikat: pelik dan rumit, rentan dan peka, sehingga memerlukan pengurusan yang wigati (untuk yang lebih mengenal bahasa barat: “careful”atau “zorgvuldig”). Pada sumber sejarah inilah sebenarnya ke-delikat-an sejarah itu terletak. Kita tahu, bahwa sejarah dituturkan atau dituangkan dalam wujud susunan kata-kata atau dengan alat bahasa. Jadi bahasa sebenarnya suatu fiksi tentang hal-ihwal dan kejadian di dalam satu ruang dan waktu tertentu. Fiksi ini selanjutnya perlu diartikulasikan, yang untuk itu memerlukan bahasa sebagai sarana. Bahasa dalam arti yang seluas-luasnya, mulai dari gerak gerik, kata-kata yang dilisankan atau dituliskan, sampai pada berbagai macam bentuk bahasa kode atau bahasa sandi. Artikulasi mana yang dalam satu ruang dan waktu tertentu, atau di mana dan bilamana pun berfungsi dominan, selalu artikulasi dari kaum yang berkuasa. Maka kita juga mengenal suatu rumusan yang mengatakan, bahwa”kebudayaan sesuatu bangsa pada suatu kurun waktu, selalu kebudayaan dari klas yang berkuasa”. Padahal setiap kekuasan, oleh siapa pun dan kapan pun, selalu membutuhkan legitimasi. Sejarah, atau tegasnya penulisan sejarah, merupakan salah satu cara untuk menopang legitimasi tersebut. Sejarah bangsa mana saja, apakah bangsa kulit berwarna ataukah bangsa kulit putih, dan dari kurun jaman kapan saja, apakah dari jaman kuno ataukah jaman modern, memberikan sangat banyak contoh tentang hal itu.

Tapi baiklah kita ambildua contoh dari sejarah bangsa Indonesia kita sendiri. Satu contoh dari “jaman kuno”, yaitu dari jaman Kediri misalnya, kalau pertengahan abad ke-12 sudah termasuk kuno. Kita ketahui, bahwa syair Jawa Kuno Bharatayuddha disusun oleh Empu Sedah dan Empu Panuluh untuk memberi legitimasi kekuasaan raja Jayabhaya yang berhasil naik singgasana raja-di-raja setelah membasmi saudaranya sendiri: Raja Jayasabha. Dari jaman mutakhir ada satu contoh gemilang yang tak perlu saya bicarakan dengan berbanyak kata. Jika ada kesempatan, datang sajalah Saudara berkunjung, dan perhatikanlah baik-baik itu prasasti “kesaktian pancasila” di Lubang Buaya!

Itulah sebabnya, maka dalam sumber sejarah – apalagi sejarah jaman kuno, bahkan sejarah modern pun – selalu ada masalah yang lazim disebut sebagai “dichtung” dan “wahrheid”.Yaitu masalah tentang adanya “dichtung” yang menyelubungi “wahrheid”. Dichtung-dichtung alias tabir-tabir inilah yang harus kita singkap dan siangi, kalau kita hendak menyusun sejarah. Atau, kalau kita meminjam istilah yang sekarang lagi “ngetrend” di Indonesia: “meluruskan sejarah”. Masalah “pelurusan sejarah” sebenarnya tidak lain ialah masalah menyiangi “dichtung” dari “wahrheid”. Tabir-tabir “dichtung” itu, terutama sejak sekitar 32 tahun terakhir dalam masa rezim $uharto, telah terus-menerus dan berlapis-lapis diselubungkan dengan sengaja untuk sama sekali menggelapi dan menggelapkan “wahrheid”. Dalam rangka itulah masalah penataan kembali sejarah menjadi sangat penting dan mendesak.

Saudara-Saudara,

Kita jumpai misalnya, bahwa dalam bahan-bahan sejarah Indonesia yang tertulis, terutama sejak rezim $uharto naik panggung sejarah, juga termasuk dalam diorama di Monas Jakarta, tidak ada di sana tercantum PKI selain sebagai partai pemberontak, pembunuh, dan segala apa yang batil dan busuk. Seolah-olah di atas bumi Indonesia, yang selalu dibangga-banggakan sebagai “Pancasilais” itu, tidak ada PKI pernah lahir; dan tidak ada peranan apa pun dimainkan PKI didalam melahirkan sebuah negeri merdeka yang bernama RepublikIndonesia. Ini jelas jemelas bukan sekedar pembelokan tapi pembohongan yang tidak ada taranya. Jadi jelaslah bahwa juga di dalam sejarah modern, sumber sejarah yang tertulis itu pun perlu dikaji kembali. Mengkaji kembali sejarah, sekali lagi, tak lain artinya ialah: menyiangi “dichtung” dari “wahrheid”.

Di samping sumber tertulis, sejarah juga mempunyai sumber-sumber yang tidak tertulis. Sumber sejarah yang taktertulis di dalam sejarah jaman lampau, misalnya, berupa berbagai macam dongeng tutur atau cerita lisan, termasuk apa yang oleh orang Minang disebut “kaba”. Marilah saya ajak Saudara-Saudara mengikuti ingatan saya sekilas kembali ke pulau pengasingan tapol: Buru. Selama di pulau pengasingan itu kita tahu, Pramudya Ananta Toer telah menulis sekian banyak karya. Salah satu diantaranya sebuah roman yang berjudul “Ken Arok”. Bagi saya,setelah membaca naskah itu, yang baru dan menarik di dalam karya Bung Pram ini ialah penafsirannya terhadap “kutuk tujuh turunan keris Empu Gandring”. Pada roman ini Empu Gandring ialah satu sosok personifikasi “gudang senjata”. Barangsiapa berhasil menguasai Empu Gandring, termasuk membuatnya mati tak berdaya, dialah nanti yang akan berhasil menguasai medan pertarungan dan merebut kekuasaan (dalam hal ini di Singasar awal abad ke-13).

Pramudya dengan demikian telah “membikin perhitungan” yang luar biasa terhadap “kutuk bertuah” dari satu sosok pribadi Gandring yang sakti, dan diurai serta dibangunnya menjadi satu konsep politik dan logistik. Di Buru selain ada Pramudya, juga ada Badawi – kebetulan berada di satu unit dengan saya, yaitu di Unit XV Indrapura. Bung Badawi selain ketua bagian organisasi Organisasi Ketoprak “Krida Mardi”, juga anggota pengurus Bakoksi (Badan Koordinasi Organisasi-Organisasi Ketoprak Seluruh Indonesia). Menanggapi “Ken Arok” versi Pramudya itu, Bung Badawi melontar kritik yang cenderung memrotes keras: “Kalau cerita Ken Arok jadi begini, bagaimana saya bisa memainkannya di panggung ketoprak? Tanpa keris Empu Gandringdan kutuk tujuh turunan, mana orang mau datang menonton? “Protes Bung Badawi pada Pram melalui saya. Barangkali selain merasa dekat dengan saya, sebagai sama-sama orang Jogya, juga karena saya pernah duduk sebagai Penasihat Bakoksi. “Bung tidak usah gusar,” kata saya. “Bung Pram tidak menulis skenario untuk ketoprak, tapi dia menulis novel sejarah. Naskah ini merupakan penafsiran Bung Pram tentang tutur babad itu dalam bentuk novel. Jadi untuk lakon di atas panggung ketoprak, silakan Bung Badawi tetap atas dasar pembakuan yang selama ini berlaku. Kecuali kalau penonton sudah tidak mau lagi, dan para seniman ketoprak juga sudah ingin mencari pembaruan.” Bung Badawi yang sangat mencintai dunianya, dunia panggung ketoprak, bagaimanapun juga sukar menerima penjelasan saya itu. Urat leher malah ditariknya lebih tegang. “Sastrawan juga harus turut bertanggung jawab melestarikan pakem, bukan malah merusak semau-mau sendiri!” Katanya.

Tapi saya juga merasa mendapat hikmah dari sikap keras Bung Badawi itu. Hikmah itu berupa kesimpulan saya, bahwa ilmu pengetahuan yang bernama ilmu sejarah, sesungguhnya merupakan satu-satunya mimbar ilmu pengetahuan yang paling demokratis. Siapa saja berhak berbicara tentang sejarah. Dan masing-masing dengan hak bicara yang sama penuhnya pula! Siapa saja. Dari profesor yang berkepala butak sampai tukang becak yang buta huruf sekalipun. Dan belum tentu apa yang dikatakan sang profesor tentang sesuatu kejadian sejarah tertentu selalu benar, sedangkan yang dikatakan si tukang becak tentang kejadian yang sama selalu salah. Setiap peristiwa sejarah ialah “cerita” tentang sesuatu kejadian. Dan setiap cerita ini didukung oleh para pemain yang bermacam-macam dan berjumlah tak terbilang. Setiap orang yang terkait – atau ikut bermain – di dalam sesuatu kejadian sejarah, masing-masing tentu mempunyai motivasinya sendiri-sendiri, yang satu sama lain berbeda-beda. Apalagi motivasi banyak orang. Bahkan motivasi seseorang individu dalam melakukan sesuatu gerak perbuatan pun tidak pernah mengandung arti tunggal, sehingga menutup kemungkinan adanya kepelbagaian interpretasi.

Kalau saya, misalnya, di tengah berbicara sekarang ini minum seteguk, perbuatan ini bisa karena berbagai kemungkinan alasan: haus, tenggorokan serak, gugup dan sebagainya. Ini baru tentang perbuatan yang sederhana belaka, tidak ada hubungan dengan orang-orang lain, dan tidak pula didasari oleh alasan apa pun selain yang bersifat manusiawi yang individual belaka. Karena itu, kalau tidak salah, bukankah seperti pernah dikatakan Mao Zedong, bahwa mengenal seorang manusia saja pun tidak akan pernah bisa lengkap selengkap-lengkapnya. Hari ini kita mengenal satu segi, besok pun hanya bertambah satu segi saja lagi. Sementara itu satu segi yang kita kenal kemarin itu pun, hari ini sudah tidak lagi sama seperti ketika kita mengenalnya kemarin! Itu baru berurusan dengan seseorang.Apalagi berurusan dengan yang disebut sejarah; dengan serbakejadian yang di dalamnya terkait banyak orang tak terbilangdan dengan berbagai alasan yang banyak kali tak terucapkan!

Saya ingin mengajukan sebuah contoh sehubungan dengan uraian tersebut. Bertahun-tahun yang lalu saya pernah membaca Pranacitra Rara Mendut, roman penerbitan Balai Pustaka tahun50-an awal. Sebuah cerita babad Jawa yang sangat terkenal, baik sebagai dongeng tutur, sebagai lakon ketoprak bahkan film, maupun sebagai karangan tertulis dalam bentuk tembang atau syair maupun gancaran atau prosa. Satu pasase saja dari cerita ini ingin saya kemukakan. Syahdan. Dikisahkanlah pada saat-saat menjelang sepasang kekasih Pranacitra Rara Mendut melarikan diri dari kamar tutupan di Ketumenggungan Wiraguna. Karta, ibukota Mataram, tiba-tiba tenggelam dalam keadaan gelap gulita 40 hari 40 malam. (Perhatikan juga bilangan empat puluh, yang juga disebut dalam deskripsi tentang Jaka Tingkir ketika mengarungi Kedung Srengenge. Ia naik gethek yang didukung 40 ekor buaya!). Pada saat Karta gelap gulita seperti itulah gerombolan penggarong dan kecu mengamuk. Bukan hanya merusak mengobrak-abrik Karta, tapi bahkan juga menyerbu istana raja.

Saya, sebagai guru sejarah di berbagai sekolah menengah di Yogya ketika itu, bertanya pada diri sendiri dan berusaha mencari tahu. Apa betul begitu? Ibukota Mataram diserbu garong selama 40 hari 40 malam! Katakanlah itu benar. Tapi apa hubungannya dengan kejadian sepasang kekasih Pranacitra-Rara Mendut melarikan diri? Apakah kedua orang muda itu agen atau bahkan pimpinan gerombolan pengacau tersebut? Kisah Pranacitra Rara Mendut bersumber dari sebuah babad. Babad Mataram, khususnya kurun waktu Panembahan Senapati – Sultan Agung Hanyakrakusuma. Dan babad ialah sejarah yang diselubungi kabut “dichtung” yang terkadang teramat sangat tebal. Jadi kabut itu harus disinari, jika kita ingin menyingkap kejadian yang sebenarnya – atau setidaknya mendekati yang sebenarnya.

Buyung Saleh Puradisastra, bertahun tahun kemudian sesudah pengalaman saya tersebut, mendongeng di Unit Transito Jiku Kecil Pulau Buru. Itu terjadi pada suatu petang diminggu ke-2 bulan Agustus 1971. Ia mengatakan bahwa Pranacitra dan Rara Mendut adalah pribadi-pribadi tokoh sejarah yang benar-benar pernah ada. Ini berbeda dengan kesimpulan saya jauh bertahun-tahun sebelumnya. Menurut hemat saya Pranacitra jelas bukan sebuah nama.Tapi sebutan personifikasi untuk suatu keadaan atau kejadian belaka. “Prana” artinya “hati”, dan “citra” ialah “gambar” atau “lukisan”. Lukisan Hati – Hati Masyarakat yang melahirkan kisah itu. Rara Mendut lebih jelas lagi, bukan sebuah nama. “Lara” atau “rara” ialah “dara” atau “gadis”, yaitu awalan penghormatan (honorefiks prefiks) untuk perempuan muda; dan “mendut” ialah “sintal” atau “mollig”. Rara Mendut tak lain ialah Si Gadis Sintal. Sama halnya seperti Lara Junggrang, yang sekarang dikenal sebagai nama seluruh kompleks candi Prambanan, yaitu sebutan untuk arca Durga di bilik utara candi utama. Menurut dugaan sejarah candi ini dibangun dalam jaman Raja Daksa, awal abad ke-10, yang di atas panggung ketoprak dikenal sebagai Prabu Baka. “Junggrang” ialah tinggi semampai atau langsing. Lara Junggrang ialah Si Gadis Semampai.

Kembali pada usaha mencari tahu “wahrheid” cerita Pranacitra Rara Mendut. Untuk itu saya lalu membaca “Indonesian Society in Transition” W.F.Wertheim, “Indonesian Trade and Society” J.C.van Leur, dan risalah tipis tapi mantap berbobot karangan H.J. van Mook, “Koeta Gede”. Saya seperti digugah oleh bacaan-bacaan itu. Jadi, pikir saya, ketika itu telah lahir apa yang disebut “golongan ke-3” di Mataram, atau lebih tegas dan khusus lagi di Kota Gede? Itukah “wahrheid” Lara Mendut, yang diceritakan sebagai mau diperistri kesekian oleh Panglima Mataram Tumenggung Wiraguna yang tua renta, asal diberi modal dan dibolehkan berjualan rokok klobot di tengah pasar? Modal dan ijin memang diberi oleh Wiraguna, asal Rara Mendut setiap hari mau membayar pajak sebanyak sekian real. Apa yang terjadi? Dagangan Si Dara Sintal, pingitan Adipati Tuban di pesisir utara Jawa yang jatuh di tangan Wiraguna sebagai pampasan perang itu, laris luar biasa. Bahkan bukan hanya pemuda-pemuda Mataram saja yang berebut membeli rokok klobot Lara Mendut! Juga “seorang pemuda” berasal Pekalongan, ikut datang sebagai pembeli. Tidak saja rokok klobot yang baru digulung Nimas Lara, bahkan puntung isapannya pun laku keras. Pemuda berasal Pekalongan itu bernama Pranacitra, anak janda juragan batik.

Tumenggung Wiraguna lalu menuntut pembayaran pajak yang semakin tinggi dan semakin tinggi. Tapi Lara Mendut selalu bisa melunasinya. Bagi saya lalu menjadi jelas. Sungguh pandai dan sangat tepat cerita rakyat membuat amsal pasemon. Mengapa justru pribadi Rara Mendut, sosok perempuan muda yang sintal cantik, dipakai sebagai lambang golongan baru yang sedang tumbuh. Bukankah perempuan ialah Ibu kehidupan baru? Bukankah cantik simbol dambaan setiap orang, dan sintal ialah pasemon tentang kesuburan? Adapun yang angkuh di depannya adalah Panglima Perang Tumenggung Wiraguna. Justru sosok seorang laki-laki tua renta, namun dengan kekuasaan dan keris lambang kelaki-lakian di genggaman tangannya yang siap membunuh.

Hubungkanlah cerita tabir pasemon itu dengan keterangan sejarah Jawa tentang dua kali kegagalan Sultan Agung Hanyakrakusuma menyerbu VOC di Batavia (1628 dan 1629). Bukan karena lihainya serdadu VOC berperang dan gemuruhnya dentuman “Kyahi Jagur” lasykar Wiraguna mundur bertahan ke selatan Betawi dan jauh ke timur di Rengasdengklok. Penyebab sebenarnya ialah, keterangan sejarah mengatakan, karena “gudang-gudang perbekalan lasykar Mataram di sepanjang pantai utara, mulai dari Kendal sampai ke Kerawang, habis tumpas dibakar para penyamun …” Lagi-lagi dongeng tentang penyamun dan garong! Sesungguhnya imperium Jawa di bawah Sultan Agung Mataram, adalah sebuah negeri yang penuh huru-hara dan pemberontakan meluas di mana-mana. Sultan Agung menjadi agung atau diagungkan oleh mitos, barangkali karena satu sebab saja: ambisinya untuk mengalahkan VOC. Tapi ia sesungguhnya bukanlah raja “gung binathara”, melainkan raja penindas yang rakus (terhadap “Rara Mendut”) dan yang tak segan menumpas musuhnya dengan lalim (siasat “perang kuman” terhadap Surabaya, 1625, dengan membendung Sungai Brantas dan menimbuni arusnya dengan bangkai).

Saudara-Saudara,

Itulah sebab dan alasannya, mengapa dalam beberapa waktu yang belum lama berlalu, kami mendirikan sebuah yayasan yang kami namai Yayasan Sejarah dan Budaya Indonesia. Satu diantara tujuannya yang penting ialah hendak ikut menyumbang usaha pembenahan atau penyusunan kembali sejarah. Mudah-mudahan gerak kegiatan yayasan itu mendapat sambutan yang semestinya dari Saudara-Saudara sekalian, sehingga tidak ibarat pepatah mengatakan: bagai bertepuk sebelah tangan. Karena pekerjaan penyusunan, atau penyusunan kembali, sejarah Indonesia, sesungguhnya merupakan pekerjaan kita bersama. Istilah “pelurusan sejarah” yang tampaknya sedang ngetrend di Jakarta akhir-akhir ini, sesungguhnya istilah salah-kaprah yang gampang diucapkan, tapi sungguh sangat sukar dilaksanakan – kalaupun bukannya malah mustahil. Salah kaprah. Salah tapi dilazimkan. Sebab, sesungguhnya sejarah akan semakin mendekati kebenaran justru apabila atau selama dia “tidak lurus”.

Sebaliknya, malahan rezim Orde Baru $uharto dan penerusnya, serta semua rezim militer dan totaliter itulah yang paling berkepentingan pada “pelurusansejarah”. Lurus ndlujur, sesuai dengan komando yang digariskan oleh rezim. Saudara-Saudara, Sejarah itu perkara tentang hidup dan perkara yang hidup. Karena itu benang merah di dalam sejarah bukanlah kata”mustahil” yang tunggal, tapi kata “mungkin” yang berbagai-bagai. Di dalam sejarah, tepat sama seperti di dalam hidup, yang ada ialah serba kemungkinan yang seribu satu, dan bukannya kemustahilan yang tunggal belaka. Jalan sejarah, oleh karena itu, memang tidak lurus seperti rel kereta api,atau seperti gerak-gerik barisan militer. Jalan sejarah bahkan bukan hanya sekedar zigzag, berliku-liku secara evolusioner, tapi terkadang berselang-seling secara revolusioner bagaikan arus puting beliung yang tak terduga. Justru oleh adanya seribu satu kemungkinan itulah, maka roda sejarah akan bisa berbelok-belok seperti tak teramalkan. Di depan sudah saya kemukakan, pendukung sejarah ialah sejumlah tak terbilang manusia. Masing-masing dengan aspeknya yang berbagai-bagai. Dan aspek itu pun bukan hanya tidak terbatas, tetapi juga terus-menerus berkembang dan berubah-ubah. Terimakasih!***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s