Saya tidak Pernah Jadi Budak

Tempo NO. 04/XXVIII/30 Mar – 5 Apr 1999

PRAMOEDYA Ananta Toer, sastrawan terkemuka asal Blora, itu banyak menghabiskan hidupnya di penjara. Pada zaman revolusi kemerdekaan, ia mendekam di penjara Bukitduri, Jakarta, dan baru bebas merdeka pada 1949.

Pada masa Orde Lama, ia menentang peraturan yang mendiskriminasi keturunan Cina, dan akibatnya ia masuk lagi ke ”hotel prodeo”. Setelah pecah G30S-PKI, Pram yang anggota Lembaga Kebudayaan Rakyat-onderbouw Partai Komunis Indonesia-ditangkap dan dibuang ke Pulau Buru sampai tahun 1979. Siksaan dan kekerasan adalah bagian hari-harinya di tahanan. Setelah bebas pun, Pram masih menjalani wajib lapor setiap minggu di instansi militer. Belum lama ini, Pram membuat kejutan: bergabung dengan Partai Rakyat Demokratik (PRD).

Baginya, hanya ”partai anak muda” itu yang dipercayainya. Ia tak ragu mencalonkan Ketua PRD, Budiman Sudjatmiko, sebagai presiden. ”Dia punya kelebihan dibandingkan dengan Soekarno,” kata kakek 15 cucu berusia 74 tahun ini. Awal April nanti, untuk pertama kalinya sejak 1959, Pram akan berkeliling Amerika Serikat untuk meluncurkan edisi berbahasa Inggris buku Cerita dari Jakarta yang ditulisnya pada 1957. Pram akan menjadi tamu penting berbagai universitas, seperti Berkeley dan George Washington University. Dalam tur sepanjang dua bulan ini, Pram juga mengunjungi beberapa negara di Eropa. Itu kalau ia tak kena cekal di bandara. Berikut ini petikan wawancara wartawan TEMPO Mustafa Ismail, Mardiyah Chamim, Arif Zulkifli, dan fotografer Robin Ong dengan Pramoedya, di rumah Pram yang nyaman di Utankayu, Jakarta Timur.

Anda resmi bergabung dengan PRD. Apakah ada alasan khusus?

Saya percaya pada angkatan muda. Di kantong mereka tidak ada duit korupsi dan tangan mereka tidak berlumuran darah pembantaian, tidak pernah menculik. Mereka hanya punya kemauan baik untuk Tanah Air.

Bagaimana awal mula Anda bergabung dengan PRD?

Awalnya, saya menerima penghargaan hak asasi manusia dari PRD pada 1996. Rupanya, ini berbuntut panjang. Budiman Sudjatmiko ditangkap. Saya diinterogasi Kejaksaan. Pertanyaannya, kenapa Pak Pram menerima penghargaan dari PRD? Saya jawab, daripada menerima penindasan dari tuan-tuan selama 30 tahun, lebih baik saya terima penghargaan ini. Waktu Budiman dipenjara dan PRD ditindas, saya ngomong di depan pertemuan PRD. Saya minta dibolehkan menjadi anggota PRD.
Apa target Anda bergabung dengan PRD?

Sokongan moral saja. Saya tidak mendikte program mereka. Kalau saya cawe-cawe, nanti dipandang aneh, kakek-kakek kok masuk partai anak muda.

Mengenai calon presiden, siapa yang ideal menurut Anda?

Budiman Sudjatmiko. Saya tidak ragu. Dia punya kelebihan dibandingkan dengan Soekarno yang ideolog. Selain ideolog, Budiman juga organisator.

Sebagai partai kecil, peluang PRD menghantarkan Budiman ke kursi presiden juga kecil. Lalu, apakah sebaiknya PRD berkoalisi dengan partai lain?

Saya tak mau mencampuri. Tanya saja mereka. Namun ingat, PRD mulai besar. Cabangnya ada di hampir semua provinsi. Menurut saya, koalisi tidak perlu karena targetnya bukan kekuasaan, tapi pendidikan politik. Yang utama adalah menentang ketidakadilan dan mengutamakan kemanusiaan.

Bukankah dengan menjadi parpol sebenarnya PRD juga berorientasi pada kekuasaan?

Bisa jadi. Kalau cukup massanya, bisa saja.

Artinya, kalau PRD berorientasi kekuasaan, Anda tidak mendukung lagi?

Kalau itu disokong massa rakyat yang besar, saya setuju saja. Tidak soal.

Asas PRD yang sosialisme demokrat diidentikkan Orde Baru sebagai PKI. Apa mereka tahu komunisme?

Ini sama halnya ketika Kejaksaan Agung mengirim tiga jaksa kepada saya, pada 1988. Mereka menuduh saya menyebarkan marxisme dan leninisme. Saya bilang, kalau pemerintah menuduh, silakan buka pengadilan, tapi saya menuntut didampingi pengacara dari negara netral yang tahu betul tentang marxisme, leninisme, komunisme. Tanpa pendamping, nanti kedodoran. Saya sendiri tidak paham, hakimnya tidak tahu, jaksanya tidak mengerti. Dagelan. Mereka setuju, tapi sampai sekarang tidak dijalankan.

Anda tidak percaya pada tokoh-tokoh reformasi, seperti Gus Dur?

Mereka ini berterima kasih kepada angkatan muda saja tidak. Padahal, semua perubahan ini dipelopori angkatan muda dan mahasiswa. Habibie bisa jadi presiden karena angkatan muda. Terima kasih pun tidak. Saya enggak percaya semuanya. Jangan lupa, puluhan tahun saya ditindas sampai sekarang. Saya pegang ajaran Multatuli bahwa kewajiban manusia adalah menjadi manusia. Satu setengah juta orang seperti saya, dirampas penghidupannya, dirampas hak-haknya. Kok pada diam saja. Bagaimana saya bisa menghargai mereka?

Seandainya kasus G30S-PKI diselesaikan dengan pengadilan yang jujur, menurut Anda apa yang akan terjadi?

Orde Baru enggak akan terbentuk. Semua tipu-tipu akan terbongkar.

Siapa yang mendalangi peristiwa itu?

Saya tidak tahu. Banyak hal yang ditutupi.

Bagaimana pandangan Anda terhadap Megawati? Bukankah Anda pengagum Soekarno?

Sampai sekarang, saya tetap pengagum dan pengikut Soekarno. Cuma dia yang terbukti mempersatukan Indonesia, dalam arti bangsa, bukan sekadar wilayah. Namun, apa yang diperbuat anaknya? Mega itu pemain dalam Demokrasi Pancasila-nya Soeharto. Mega ikut mengangguk kepada semua kebijaksanan Orde Baru. Hampir satu juta pengikut bapaknya dibantai, satu setengah juta anak-turunnya dirampas hak-haknya, apa yang diperbuat Mega? Bagaimana saya bisa ngomong bagus tentang Mega? Ini soal moral politik.

Bukankah tanggung jawab tidak bisa sepenuhnya dilemparkan pada Megawati?

Semuanya. Golkar, PDI, PPP, semua mengangkat Soeharto. Namun, terutama sebagai anak Soekarno, dia diharapkan berbuat sesuatu.

Misalnya Mega membuat gebrakan dengan meminta maaf atas perbuatan masa lalu, apa tindakan Anda?

Ada kebijaksanaan yang sudah tua: sekali lancung di ujian, seumur hidup orang tidak percaya. Apa yang diharapkan kalau basis moral politik tidak ada? Ilusi saja.

Bagaimana dengan PAN Amien Rais?

Apa itu? Belum-belum sudah meminta bantuan Amerika.

Apa yang Anda harapkan dari kepemimpinan baru nanti?

Angkatan muda harus pegang peran. Sekarang ini menurut saya hanya ada dua pilihan. Bantu angkatan muda. Kalau tidak, terjadi revolusi sosial. Sekarang rakyat berani menyerbu kantor polisi. Rakyat yang tadinya cuma menunduk kini menuntut kembali tanah yang dirampas. Itu perlawanan.

Termasuk perlawanan daerah untuk meminta merdeka?

Wah, kalau meminta merdeka, itu keliru. Sebab, wilayah Indonesia adalah bekas wilayah penjajahan Belanda. Tuntutan merdeka adalah soal ketidakmampuan memimpin bangsa. Sudah terbukti, Soekarno punya wawasan kenegaraan. Soekarno yang sanggup mempersatukan Indonesia sebagai bangsa, bukan sekadar kesatuan wilayah seperti yang dilakukan Soeharto. Namun, kalau Tim-Tim, kasusnya lain. Sedari awal, Tim-Tim bukan wilayah kita. Jadi, boleh lepas. Wong negara-negara penjajah melepaskan jajahannya, Indonesia malah menjajah. Itu dungu. Enggak punya prinsip.

Banyak yang menilai berbagai kerusuhan belakangan ini dipicu provokator. Komentar Anda?

Kalau sekadar ngomong, bubarkan semua lembaga intel. Kalau tahu ada provokator, kenapa tidak ditangkap? Saya enggak percaya. Cuma mulut semua. Tidak teruji. Kerusuhan ini pencerminan elite politik, para pemimpin yang tidak bisa memimpin negara.

Tapi ada yang bilang, selama 32 tahun Orde Baru bisa dibilang kondisi nasional stabil?

Soeharto itu cuma menikmati apa yang dikerjakan Orde Lama. Pada masa Soeharto, tidak ada nation building. Soekarno-lah yang melakukan nation building. Sekarang, nation building saja tidak pernah disebut. Pancasila pada zaman Soekarno menjadi pemersatu. Di tangan Orba, Pancasila jadi penggada (penggebuk).

Pendapat Anda tentang ide negara federasi?

Ini mesti dirundingkan dulu secara nasional. Sebagai angkatan muda, kalian yang harus menjawab. Secara pribadi, saya masih suka negara kesatuan, tapi dengan otonomi luas. Kerusuhan enggak akan selesai selama kita terus Jawa-sentris. Aceh, misalnya, punya gas bumi. Berapa persen yang diangkut ke Jawa? Sementara itu, jalanan yang mulus saja tidak ada (di Aceh). Ini kan mengikuti pola Belanda. Pembagian yang adil tidak ada. Adil adalah sesuatu yang tidak dipahami Orde Baru. Maklumlah, kita tidak punya kosakata adil. Kata itu datang dari Arab.

Banyak yang berpendapat, kerusuhan didalangi anak cucu PKI yang balas dendam.

Omong kosong. Itulah, Orba didirikan dengan pembunuhan. Nah, kalau membantai saja dilakukan, apalagi cuma berbohong, apalagi korupsi. PKI sudah dibunuhin, lantas dituduh berontak. Aneh, kan? Logikanya saja tidak masuk. PKI memang dibikin jadi setan-setan yang menakutkan dan diajarkan sejak SD sampai universitas. Ini semua untuk kepentingan modal multinasional menjarah kekayaan Indonesia.

Kini ada 48 partai. Anda memandang ini sebagai demokrasi?

Demokrasi baru dibaca oleh orang Indonesia, belum pernah ada prakteknya. Saya belum percaya. Demokrasi bukan dimulai oleh organisasi, tapi oleh individu yang demokratis sejak dari rumah, di jalanan, dalam otak, dalam perbuatan.

Apa yang Anda harapkan dari pemilu nanti?

Enggak ada yang saya harapkan. Sekarang ini kan hanya ”orbaba”-Orde Baru baru. Kalau saya ikut memilih, artinya saya memilih kepala penjara saya sendiri.

Bukankah ada PRD?

Kalau kondisinya begini: No. Saya tidak pernah jadi budak.

Kapan terakhir ikut pemilu?

Pemilu terakhir saya ikut tahun 1955.

Milih apa waktu itu?

Rahasia, kan jurdil.

2 pemikiran pada “Saya tidak Pernah Jadi Budak

  1. Ping balik: Ashram Rama Prabu » Saya tidak Pernah Jadi Budak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s