Mitos Nyai Lara Kidul

Hersri Setiawan

Mitos Nyai Lara Kidul
Konsep Bahari Defensif Kerajaan Mataram mirunggan kagem eyang resink 1)
ugi kagem ita, yuyud, mas wahana, para kadang ingkang kesengsem

PADA masa kanak kanak saya hidup di sebuah desa, Brosot Kulon Progo Yogya, di pinggir Sungai Progo. Pada setiap menjelang senja hari, terutama di musim penghujan, hampir selalu terjadi apa yang orang menamainya “lampor”. Walaupun dengan satu dua patah kalimat penjelasan, tapi – sebagaimana lazimnya “penjelasan” tentang hal-hal gaib – selalu tanpa kejelasan. Penjelasan yang tidak deskriptif tapi normatif itu, singkat kata, selalu berakhir dengan perintah. Juga dalam masalah “lampor” ini. Orang orang tua lalu memerintah kan anak-anak segera masuk rumah. Bagi si anak, justru lantaran penjelasan yang tanpa kejelasan itu, menjadi seperti ditenung oleh teka teki yang maha musykil dan seram. Semua anak masuk rumah dengan hati kebat kebit, mata bertanya tanya, tapi mulut tetap tinggal terkunci.

Lampor

Harfiah “lampor” berarti “suara gaduh”. Kenyataan yang terjadi yaitu bunyi kentongan dipukul dalam irama gobyog, sambung menyambung dari rumah ke rumah, menjalar dari desa satu ke desa yang lain. Konon yang menjadi jalarannya, seseorang yang tinggal di pinggir Kali Progo mendengar bunyi gemerincing, laju “berlari” menyongsong aliran sungai dari selatan ke arah utara. Bunyi gemerincing itu dari kuda-kuda penghela kereta kendaraan Nyai Lara (Rara) Kidul, yang sedang liwat menuju lereng Gunung Merapi.

Di sana berdiam tangan kanan Nyai Lara, yang bernama Ki Dhiwut Merapi. Dengan sebutan “dhiwut”, karena konon tubuh raksasa ini berbulu lebat seperti kera. Dia inilah penjaga gunung berapi itu, agar kalau “marah” tidak memuntahkan laharnya ke arah selatan. Dia sebenarnya bayangkara setia raja dan kerajaan Mataram (Yogyakarta dan Surakarta).

Adapun “lampor” ialah bunyi, seperti di atas dikemukakan, dari kendaraan atau wahana yang nirkasatmata. Apakah di dalam wahana itu sang Pengendara ada atau tidak ada, bukan menjadi masalah. Kendaraan itu sendiri ialah atribut dari si Pengendaranya. Pada bangunan-bangunan candi, misalnya, kalau di sana ada Nandi, lembu suci wahana Syiwa, itulah berarti Syiwa atau Batara Guru itu. Walaupun arca Syiwa sendiri tidak kita dapati. Juga, kalau di sana ada Garuda, itulah berarti Wisynu. Walaupun arca Wisynu sendiri tidak ada di candi bersangkutan. Maka “lampor” di dalam konsepsi Jawa (atau lebih khusus Jogya-Solo), ialah sang Nyai Lara Kidul itu “pribadi”, yaitu makhluk halus perempuan sang bahureksa Laut Selatan.

Di jaman Jepang “lampor” yang membayangkan kedahsyatan putri cantik, 2) “permaisuri gelap” Panembahan Senapati turun-temurun ini, tak pernah terdengar lagi di desa-desa sepanjang Kali Progo. Ancaman pedang samurai Kenpeitai ternyata terbayang pada angan-angan rakyat jauh lebih menggentarkan ketimbang daya tuah sang Nyai Lara. Barangsiapa memukul kentung irama gobyog, dia itu pengacau masyarakat. Patut dicap sebagai mata-mata Inggris dan Amerika, yang harus dilinggis dan diseterika:

Awaslah Inggris dan Amerika
Musuh seluruh Asia
Yang hendak memperbudak kan kita
Dengan sesuka hatinya
Inggris kita linggis
Amerika kita set’rika … dst.

Oleh bunyi kentungan gobyog yang terdengar, telinga masyarakat akan dibikin kacau dengan isyarat adanya “kutsukeiho”, yaitu tanda bahaya serangan udara. Adat baru yang ditanamkan Saudara Tua Dai Nippon itu begitu efektif.

Sehingga sampai ke jaman “siap-siapan”, sekitar tahun tahun 46 – 49, kentung gobyog juga hanya dibunyikan untuk menyambut pesawat capung atau cocor merah (P-51) “Anjing Nica”. Yaitu ketika pesawat-pesawat itu berpusing-pusing di atas pasar desa, dan kemudian membuang bom bakar atau menghambur-hambur peluru “dua belas koma tujuh” yang membikin pasar jadi bubar.

Sejak itu “lampor” dalam bunyi sudah mati. Tapi “lampor” dalam konsepsi masih hidup terus. Sampai sekarang. Buktinya?

Banyak dan bermacam-macam. Ini antara lain. Basuki Abdullah, pelukis istana kondang, pernah membuat lukisan Nyai Lara Kidul dalam ukuran besar. Konon sebelum ia melukis, sang maestro menjalani tirakat dulu untuk bisa mendapat penampakan Sang Nyai. Sama seperti ketika Sibarani hendak melukis wajah Si Singamangaraja XII. Bukti lain: hotel-hotel Pelabuhan Ratu dan Ambarukma menyediakan kamar tetap dan khusus untuk Nyai Lara Kidul. Satu bukti lagi: Para raja Yogya dan Solo, sampai sekarang, satu kali setiap tahun, tetap melestarikan adat “labuhan” dalam bulan Sura, yaitu bulan pertama di dalam penanggalan Jawa.

Kata “labuh”, harfiah berarti “jatuh”, “cemplung”, “bela”, dan beberapa kata padanan lainnya; “dilabuh”, sesaji atau kurban misalnya, yaitu “dicemplungkan” atau “dilempar masuk” (ke bengawan, laut, kawah dsb.) Upacara adat “labuhan” yaitu mengirim sesaji dan benda-benda kurban ke Laut Selatan, sebagai persembahan bagi Nyai Lara Kidul.

Siapa Nyai Lara Kidul

ALKISAH. Babad mengisahkan tentang mula jadi bumi Mataram sebagai berikut. (Tentu saja ini hanya salah satu di antara sekian banyak versi yang dikenal masyarakat).

MAS DANANG Sutawijaya, alias Mas Ngabehi Lor ing Pasar, putra angkat kekasih dan senapati tangguh Sultan Pajang Adiwijaya (mm.1546- 1582), berhasil menundukkan pembangkangan Adipati Jipang Panolan – Aria Panangsang. Atas jasa Senapati itu Sultan Pajang menghadiahinya sebidang tanah luas, berupa kawasan hutan yang disebut Hutan Mentaok. Kawasan hutan ini kelak, setelah dibuka, dinamai Bumi Mataram, daerah “perdikan” di bawah kuasa sang Senapati. Seperti diketahui, setelah “lengser” dari jabatan kesenapatian, Putra (= kawi: suta) (adi) Wijaya ini, menobatkan dirinya sendiri sebagai “orangtua” dengan gelar Panembahan. Panembahan Senapati Ing Alaga. 3)

Sebelum Hutan Mentaok dibuka, di situ sudah berdiri satu kedaton yang tunduk pada kemaharajaan Majapahit. Kedaton itu memang sudah bernama Mataram. Di masa senja Majapahit, singgasana kedaton Hutan Mataram ini diduduki seorang ratu, yang bergelar Lara Kidul Dewi Nawangwulan. Sang Lara lahir dari dinasti Buda Kalacakra (Tantrayana), Maharani (Kaisarina) Suhita dengan suami sang Aji Ratna Pangkaja, raja Tanah Malayu. Lara Kidul diambil menantu Brawijaya (Hyang Purwawisesa, Bre Wengker: 1456-66), dijodohkan dengan Raden Bondan Kejawan alias Kidang Telangkas, putra hasil perkawinannya dengan Wandan Bodricemara. Tapi dongeng mengisahkan, bahwa Lara Kidul Dewi Nawangwulan tersebut bukan putri Suhita – Ratna Pangkaja. Ia salah satu dari tujuh bidadari yang tak bisa mengangkasa kembali, gara-gara busananya dicuri dan disembunyikan di lumbung padi oleh Bondan Kejawan, ketika mereka sedang asyik mandi di sebuah sendang. [Adegan tujuh bidadari mandi di sendang, yang mirip dongeng rakyat Korea “Chulima”, diangkat ke kanvas oleh Basuki Abdullah (yang sangat gemar dan pandai melukis bukan saja “mooi Indie” tapi juga “mooie vrouwen” itu) dan dijiplak oleh banyak pelukis komersial; juga disendratarikan oleh penari Sampan Hismanto, dan ditiru pula oleh banyak koreograf lain].

RATU Kedaton Mataram berikutnya ialah Dewi Nawangsih, putri Dewi Nawangwulan dengan Bondan Kejawan. Ratu penerus Nawangsih yaitu Ni Mas Ratu Angin Angin. Dia inilah yang kelak dimitoskan dan diberi gelar sebagai Nyai Lara Kidul.

Atas kehendak Sultan Adiwijaya, Ni Mas Ratu Angin Angin diperistrikan dengan Mas Danang Sutawijaya, putra angkat kekasihnya itu. Mengapa? Karena Adiwijaya mengharap agar Sutawijaya dan keturunannya kelak dapat menjadi penerus Pajang, dan kuat mengemban “Wahyu Majapahit”. Mengingat bahwa darah Majapahit masih segar mengalir di dalam diri Ni Mas Ratu Angin Angin.

Sementara itu anak nya sendiri, Pangeran Banawa, hanya diangkat menjadi Adipati di Jipang Panolan, menggantikan Aria Penangsang yang telah tewas dalam perang melawan Sutawijaya.

Babad Alas Mentaok <–> Babad Alas Wanamarta

Pemitosan Ratu Angin Angin sebagai Lara Kidul dibarengi, atau justru dilandasi, oleh cerita dongeng. Sastra tutur Jawa dari jaman pertengahan menceritakan, bahwa Nyai Lara Kidul adalah ratu lelembut (makhluk halus) yang membantu Senapati, ketika ia membuka hutan Mentaok. Agaknya dongeng ini merupakan semacam “cerita carangan” yang dikarang baru, dengan mengambil analogi pada cerita dalam Mahabarata, yaitu dari episode “Babad Alas Wanamarta”.

Hutan (ng)Amarta, kelak kerajaan (ng)Amarta, sesungguhnya sebuah kerajaan makhluk halus yang bernama sama: (ng)Amarta.

Lelembut penguasa kerajaan ini pun lima laki laki bersaudara, dengan nama-nama sama seperti lima putra putra Pandu, dan Yudistira si sulung duduk di atas tahta kerajaan.

Sebagai lelembut tentu saja mereka nirkasatmata bagi penglihatan makhluk biasa, termasuk bagi para Pandawa lima bersaudara dan para panakawan: Semar, Gareng, Petruk dan Bagong. Tapi berkat azimat yang dimiliki kelima putra Pandu itu, yaitu Minyak Jayengkaton, lima lelembut aristokrat itu bukan hanya menjadi kasatmata bagi mereka, tapi bahkan bisa mereka kalahkan dalam peperangan satu lawan satu. Tapi lelembut lima bersaudara itu tidak rela mati. Mereka ingin manjing bersatu raga dengan Pandawa kakak-beradik, kelima lima putra Pandu, berpasang-pasang menurut urutan usia kedua pihak.

Dengan itu masing masing satria Pandawa mendapat tambahan nama dari masing masing lelembut yang merasukinya. 4) Selain nama, tentu saja juga kesaktian masing-masing, kerajaan berikut kedaulatan atas kawasannya, dan juga sangat penting (untuk menghadapi perang besar Baratayuda kelak): kekuatan pasukan balatentara lelembut.

Pendek kata kesudahan dari “Babad Alas Wanamarta” itu, Keluarga Pandawa memperoleh “modal perjuangan” selengkap-lengkapnya. Baik untuk perjuangan diplomatik, karena mereka pun mempunyai kerajaan sendiri, (namun perjuangan diplomatik itu ternyata gagal dalam lakon “Kresna Duta”), maupun perjuangan fisik kelak. Yaitu jika saatnya telah datang, dalam Perang Barata, untuk merebut kembali hak waris atas tahta dan kerajaan Indraprasta atau Hastinapura.

Kisah yang sama berlaku pada Panembahan Senapati. Bedanya pada Pandawa berlima, sedang pada Senapati bertiga saja: Senapati, Pemanahan dan Juru Martani. Tapi toh bilangan tiga. Bukankah hari pasaran Jawa yang lima itu (Pon – Wage – Kliwon – Legi – Paing) terbagi menjadi dua dengan (ditambah satu) Kliwon sebagai poros? Tidakkah lima Pandawa bersaudara, karena Nakula dan Sahadewa itu kembar, hakikatnya “kiblat papat lima pancer”?

Mari kita dengar sekarang tentang betapa sakti “Orang Besar Mataram” atau “Wong Agung ing Ngeksiganda” itu. Dalam satu bait tembang dari karyanya “Wedatama”, Mangkunegara IV (1853-81), melukiskan nya sebagai berikut:

Wikan wengkuning samudra
Kederan wus den ideri
Kinemat kamoting driya
Rinegem sagegem dadi
Dumadya angratoni
Nenggih kang Ratu Kidul
nDedel nggayuh gegana
Umara marak marepek
Sor prabawa lan Wong Agung
Ngeksiganda

Saya terjemahkan:

Tahu akan batas samudra
Semua telah dijelajahi
Dipesona nya masuk hati
Digenggam satu menjadi
Jadilah ia merajai
Syahdan Sang Ratu Kidul
Terbang tinggi mengangkasa
Lalu datang bersembah
Kalah perbawa terhadap
Junjungan Mataram

Pandawa Pandu bersatu tubuh dengan pandawa lelembut, dan beroleh saktinya; juga Senapati bersetubuh dengan ratu lelembut (karena lelembut ini perempuan), untuk mendapatkan saktinya. Bukankah dalam agama Hindu istri juga disebut syakti? (“sy” untuk “c” cedille). Perempuan sebagai pembawa sakti terdapat dalam banyak cerita dari banyak (suku) bangsa. Juga dalam episode “Aswatama Mlebu Maling” dari akhir Mahabarata, ketika Dewi Wilutama membantu putranya, Aswatama, menggali ruba 5) gerilya untuk menyusup ke kubu Pandawa. Nyala penerang di ruba itu memancar dari kemaluan Dewi Wilutama.

Nyala yang serupa juga telah mengilhami pikiran jahat Ken Arok, untuk membunuh Tunggul Ametung dan merampas istrinya, Ken Dedes. Juga terbetik dalam “Bende Mataram”, antara pendekar Sangaji yang anak rakyat dengan Titisari, yang putri Adipati Surengpati dari Karimunjawa, paman dan pendukung Pangeran Dipanegara dalam Perang Jawa (1825-30).

Konsep penyatu-ragaan Senapati – Lara Kidul: konsep politik
SEKITAR tujuh kilometer arah selatan desa Pleret Kotagede, terletak desa Ngrasawuni. Di arah timur dan timur laut desa ini konon dahulu menjadi tempat Sang Senapati dan Nyai Lara berkencan. Bekas bekas yang masih diingat dalam cerita tutur orang sekitar (maksud saya sampai sebelum 1965) ialah: gua dan bukit yang disebut Gunung Payung. Di bukit ini terdapat dua makam. Yang atu makam kuda sembrani, kuda bersayap kendaraan Senapati, yang bekas telapaknya tercetak pada “batu gilang” di dekat situ. Yang lain “makam kama”, yaitu makam sperma Senapati yang tetes di tanah di bukit itu.

Kesatu-ragaan Pandawa Pandu dengan Pandawa Lelembut di Astina sejatinya merupakan kesatu-ragaan politik. Begitu juga perkawinan Lara Kidul dengan Senapati pada dasarnya perkawinan politik. Senapati memperoleh kedaulatan atas wilayah Mataram, di samping Laut Selatan yang tak berbatas itu. Ini sekaligus merupakan satu deklarasi politik Sutawijaya di depan Adiwijaya, ayah angkatnya. Deklarasai, bahwa Mataram bukan penerus Pajang, baik de facto maupun de iure. Dengan itu pula, sekaligus untuk “menggertak” lawan-lawannya, Senapati memamerkan kelebihan lelembut istrinya itu di depan segenap makhluk halus yang tak terbilang banyaknya:

‘Gung pra peri perayangan ejim
sumiwi Sang Sinom
Prabu Rara yekti gedhe dhewe.
(kutipan dari “Babad Nitik”)
saya terjemahkan:
segenap makhluk halus jin
bersembah pada Sang Ratu
yang besar tak bertara

Saya sependapat dengan Ben Anderson yang melihat benteng (saya tambah: juga “jagang” atau parit) di sekeliling kraton Yogya dan Solo, terutama bukan sebagai barikade terhadap tentara musuh, tapi lebih merupakan pernyataan tentang garis batas antara “krama” dan “ngoko”, antara “priyagung” dan “wong cilik”.

Walaupun begitu terdapat beda, yang seperti bumi dan langit, antara dasar konsepsi pada lakon carangan “Babad Alas Wanamarta” dengan legenda “Babad Alas Mentaok”. Jika pada yang pertama bersifat materiel, pada yang kedua bersifat im- materiel. Yang pertama kenyataan dihadapi sebagai dan dengan kenyataan, yang kedua kenyataan dihadapi sebagai dan dengan impian. Maka dari itu dunia pedalangan ditutup dengan “Bratayuda Jaya Binangun”, dan berakhir dengan kemenangan pihak Pandawa terlepas berapa besar pun kurban yang harus jatuh. Sedangkan babad Mataram, yang mungkin bisa dipandang sebagai “perwakilan Jawa” pada jamannya, sejak itu tidak pernah mengenal lagi perang untuk sesuatu nilai. Tidak pernah lagi berinisiatif ofensif. Impiannya pun impian lesu tentang Ratu Adil, yang tak berdarah dan tak berdaging, dan dibangun di atas seribu satu ramalan Jayabaya dan semacamnya, atau tafsir-tafsir yang dipaksakan atas “Jaka Lodang” dan “Kalatida” dari Ranggawarsita. Tidak bisa lain, karena keagungan kerajaan Jawa memang sudah habis bersama dengan tahun candrasangkala jatuhnya Majapahit:”sirna hilang kartaning bumi” (hilang lenyap keagungan negri).

Mengusut latar belakang mitos

ENTAH lidah atau tangan siapa yang pertama-tama mendoktrinkan mitos Lara Kidul itu. Tapi pastilah dari lidah atau tangan yang memang memenuhi syarat syarat kepujanggaan.

“Wedatama”, yang mem-p4-kan 6) keagungan Senapati berikut mitos Lara Kidul, berasal dari paro sampai perempat terakhir abad ke-19. Kira-kira satu abad sebelumnya, tepatnya 11 November 1743, VOC memang telah menodong tanda-tangan Paku Buwana II di pembaringan sakitnya. Dan dari surat todongan itu (agaknya semacam Supersemar Suharto), didapatlah hasil-hasil oleh VOC:

(1) sepanjang pantai utara Jawa, dan wilayah sejauh 6 Km ke pedalaman dikuasai VOC;
(2) semua Bupati pesisir utara Jawa, sebelum mulai berfungsi, harus bersumpah setia kepada VOC.

Itulah angka tahun ketika kerajaan Jawa secara definitif kehilangan kekuasaannya atas laut utara. Dan tahun itu (1743), kira-kira hanya selang dua dasawarsa saja dari “Babad Karangbolong”. Oleh karenanya sejak itu, orang mengadakan selamatan dan upacara, setiap kali sebelum turun ke gua, untuk mengutip sarang burung. Selamatan dan upacara yang dipersembahkan bagi Dewi Lampet. Upacara ini disertai dengan pergelaran wayang kulit yang mengambil lakon “Dewi Lampet”, sebuah nama dan versi lain dari tokoh Dewi Laut Selatan yang satu itu juga: Nyai Lara Kidul (baca: “Histoire de Dewi Lampet: Le Mythe de la Deesse de la Mer du Sud a Karang Bolong” , Claude Guillot; Archipel 24/1982; hal. 101-06).

Tapi semuanya itu tentu tidak berarti bahwa mitos Lara Kidul ini mulai (di)timbul(kan) pada sekitar tahun-tahun tersebut. Jauh-jauh hari pada senja riwayat Kerajaan Demak, wawasan tentang keadaan dan pengarahan politik telah dibisik kan Sunan Kalijaga kepada Mas Karebet alias Jaka Tingkir, kelak Sultan Adiwijaya di Pajang. Tanpa menyebut masalah armada dagang berikut ancaman meriam meriam Spanyol, Portugis, Belanda dan Gujarat di laut utara [tapi wali yang arif ini pasti mencatat di ingatan nya dua kali pengalaman kekalahan Pati Unus di Malaka], diperintah nya Karebet: pertama, agar tidak mempertahankan Demak, tapi membangun pusat bakal kerajaannya di pedalaman; dan kedua, agar kerajaan nya kelak tidak bersandar pada para “dagang layar” di laut, tapi pada kaum “among tani”. (baca: Atmodarminto, Babad Demak Jarwa, Penerbit “Pesat” 1954).

“Carilah bakal pusat kerajaanmu itu di dekat Prambanan, di pinggir Kali Kuning sana!” Begitu kira-kira nasihat Kalijaga pada Mas Karebet. Tinggalkan Laut Utara, mundur dan masuk ke pedalaman. “Arus sudah berbalik!” Kata Pramudya Ananta Toer.

Revaluasi atas wawasan situasi objektif, yang meninggalkan konsep wawasan nusantara bahari, diuji penjabarannya terutama oleh Sultan Agung Anyakrakusuma (1612-45). Tapi ternyata mengalami kegagalan. Dua kali ekspedisi ke Betawi dikirim (1628 dan 1629), dua kali pula gagal. Bukan saja sama-sama dedel duwel dengan VOC di Betawi (konon J.P. Coen berhasil dipenggal kepalanya oleh lasykar Mataram?), tapi juga harus menghadapi pemberontakan “golongan ketiga” yang sedang tumbuh di pedalaman Mataram. Pemicu pemberontakan ini, agaknya, jika kita mencermati dongeng rakyat “Pranacita – Rara Mendut”, akibat semacam “krismon” yang dicoba hendak diatasi dengan (karena belum ada IMF!) politik perpajakan. Begitu juga oleh sabotase besar-besaran dari para “bupati pesisir”, sepanjang barat Semarang sampai Rengasdengklok. Sayang “benang merah” tutur Jawa ini kurang diangkat, baik oleh YB. Mangunwijaya maupun oleh Ami Prijono, masing-masing dalam novel dan filmnya tentang Rara Mendut.

Lahir dari konsep defensif

G.J.Resink benar, mensinyalir mitos Lara Kidul ini, dengan menghubungkannya dengan armada-armada Spanyol, Portugis dan Belanda yang dalam masa itu sudah malang melintang di Laut Jawa (“Mers Javanaises”; Archipel 24/1982, hal. 97-100). Namun demikian ini tentu saja tidak berarti, bahwa kepercayaan pada ruh penguasa laut belum ada di Jawa sebelum masa itu. Sebutan “nyai” itu sendiri, bentuk feminin untuk “kyai”, sejenis honorefik prefiks bagi orang tua yang dimuliakan, baik yang masih hidup maupun yang sudah mati.

Termasuk dalam yang akhir ini, terutama yaitu arwah “bahureksa” yang di lain tempat disebut “pamali” (Buru), “danyang” (tentu dari “da” dan “hyang”), dan lain-lain.

Nyai Lara Kidul konon berparas cantik. Beda dengan Durga (Umayi) atau si Janda dari desa Girah, Calon Arang. Tapi wataknya? Jelas, tidak pernah melempar senyum barang secercah pada “kawula cilik”. “Lampor” nya bikin takut anak-anak. Ia juga luar biasa pencemburu pada perempuan tani di desa. Jika gadis-gadis desa dan gunung itu, satu kali setahun, pada kesempatan hari raya Lebaran ingin bergembira ria di laut, bukan main banyak pantangan mereka. Tidak boleh berbaju warna “gadung”, “gadung melati”, “jingga”, dan sebagainya; tidak boleh berkain “poleng alit”, “teluh watu” dan semacamnya.

Juga pada penduduk desa umumnya. Ini terjadi sangat hebat, misalnya, di sekitar tahun 1956. Dihamuknya rakyat Gunungkidul yang miskin tak berdaya itu. Gelombang Laut Selatan bergulung -gulung menghempas pantai, sambil melepas berjuta- juta balatentara yang berupa tikus-tikus. Dan dimangsanya segala apa saja. Bukan saja tumbuhan dan hasil bumi, bahkan ternakdan bayi anak-anak manusia juga dimakan.

Lalu, sekali lagi terjadi pada tahun 1946. Ketika itu Nyai Lara Kidul memerlukan tambahan balatentara, guna memerangi tentara Nica yang musuh Mataram, dan juga musuh Republik. Maka untuk rekrutering balatentara lelembut itu, dibunuhinya rakyat dengan menyebar wabah pes tanpam pardon! (Yuyud! Ini positif atau negatif, coba? Ironis ya Mas Wah? Jika mitos telah berhasil ditanamkan.)

Penutup

Menghadapi mitos, legenda, saga dan sebangsanya, bukanlah “who’s who” nya yang penting. Tapi “mengapa” nya, lalu “bagaimana” nya. Di situlah soal nya. Maka itu, menurut hemat saya, bukan soal beratus nama dan beribu versi penuturan yang masalah. Namun, karena terperangkap keasyikan mencari tahu “apa siapa” nya itu, orang terkadang lantas tergelincir berasyik masyuk di dalam “dichtung” kejadia nya saja. Bung Karno, dalam ceramah di Universitas Gajahmada (1954?) menyikapi legenda Nyai Lara Kidul ini dari konsep impian wawasan nusantara bahari. Juga di dalam “Sarinah”, diceritakannya tentang mitos laut bangsa-bangsa Timur Tengah, yang mengandung kisah-kisah perjuangan mereka dalam menundukkan laut. Demikian juga Bima. Tak kurang gagah dan perkasanya pula tokoh idola Bung Karno itu. Ada satu kali ia memang kompromi dengan Nagaraja di Saptapratala. Tapi itu terjadi bukan lantaran Nagaraja berputri Nagagini yang jelita, melainkan karena keadaan darurat. Bahwa ia harus menyelamatkan empat saudara-saudaranya dan Kunti, ibunya, dari pengejaran Kurawa, sesudah kegagalan usaha pembunuhan dalam peristiwa judi di Balai Sigalagala itu. Selebihnya paling tidak tiga kali Bima telah bertempur mati-matian, dan berhasil mengalahkan tokoh-tokoh bahureksa sakti: Hidimba (Arimba), raksasa penunggu pohon randu alas; dua raksasa kembar penunggu gunung; dan seekor naga laut dalam kisah “Dewaruci”. Konon kisah “Dewaruci” berasal dari jaman Mamenang (Isyanawikrama alias Empu Sindok), sekitar enam abad lebih tua dari jaman Mataran Senapati.

Kisah kisah perjuangan dan kemenangan anak manusia Jawa terhadap arwah bahureksa seperti itu, banyak terdapat baik dalam dunia wayang maupun dalam dongeng rakyat. Adanya berbagai versi penuturan mitos tentang laut, menandakan juga adanya berbagai tokoh bahureksa laut di berbagai daerah kebudayaan. Tapi, beda dengan mitologi Hindu yang memandang laut sebagai laki laki (Dewa Waruna), di Indonesia (seperti di Mesir) bahureksa laut mendapat bentuk sosok perempuan. Seperti halnya bumi, tanah dan air, laut merupakan unsur pengandung – pelahir – dan penyusui kehidupan.

Rakyat Buru selain mengenal Ina Kabuki, ratu yang bertahta di dasar Teluk Kayeli, juga mempunyai tokoh Boki Ronja(ng), “pamali’ atau bahureksa sungai Wai Apu. Bentuk feminin itu barangkali juga karena, di hadapan langit, laut terletak di bawah. Dari dunia pedalangan sering kita dengar kata kata, diucapkan terhadap tokoh yang akan dikenai senjata pamungkas; “tumengaa Bapa Angkasa, tumungkula Babu Pertiwi” (tengadahlah pada Bapa Langit, dan tunduklah pada Ibu Bumi”. Gagasan pemikiran demikian, bahwa “bapa” (laki-laki) adalah langit, dan “ibu” (perempuan) adalah bumi, sesuai dengan konsep susunan bangunan lingga dan yoni.

Kemanunggalan Mataram dan Laut Selatan adalah mutlak, karena Laut Utara tidak lagi memberi lebensraum. Kesatu- tubuhan Senapati – Lara Kidul adalah mutlak, karena itu ialah kesatuan nya antara langit dan bumi, antara lingga dan yoni.

Mitos Nyai Lara Kidul sebuah konsep yang mempunyai akar sejarah pada “Wahyu Majapahit”, mempunyai dasar ideologi pada dua aspek “gender” dalam satu tubuh (bandingkan dengan sesaji “ardanareswari” di Bali), dan merupakan antropomorfi dari wawasan bahari Kerajaan Mataram yang telah hilang.***
_______________________________
1 Profesor (pensiun) G.J. Resink (Yogya 1911-Jakarta 1996). Artikel ini ditulis dan disiarkan “Kompas Minggu” tahun 1982.

2 Dalam konsepsi Jawa, perempuan atau syakti (“sy” ini mestinya “c cedille”) yang maha hebat agaknya selalu dilukiskan sebagai “mengerikan”. Ingat: Sarpakenaka, Durga, Calon Arang, sedikit banyak juga “Durga Umayi” YB Mangunwijaya, dsb.;bandingkan dengan konsepsi Barat yang sebaliknya: Maria, Aya Sofia dll. Kenapa begitu, ya!?

3 Perhatikan gelar ini: “panembahan” gelar yang biasa disandang para wali, raja atau bangsawan tinggi, yang kuasa atas bidang ruhani (agama) dan kenegaraan. Jadi boleh lah di terjemahkan sebagai: Yang Suci Panglima Perang. Gelar ini tampaknya timbul dari satu jaman, ketika “dua tangan” (ulama dan raja) memegang “satu fungsi” yang bersegi kembar ibarat “kupu tarung” (segi ruhani dan badani), yaitu (untuk Jawa Tengah) di jaman kerajaan Demak; dan lebih melembaga di jaman ketika “dwi fungsi’ (agama dan politik) dipegang satu tangan, yaitu sejak jaman Panembahan Senapti dan lebih tegas lagi sejak mangkurat.

4 Adat kepercayaan demikian terdapat pada banyak suku murba (terjemahan saya untuk “primitif” yang di telinga saya terdengar melecehkan), juga sementara suku di Irian dan Papua Niugini.

5 Ruba, Ruang Bawah Tanah, diambil dari istilah yang dipakai o- leh gerakan perlawanan bersenjata melawan pemerintahan rezim $uharto tahun 1968 di sekitar Blitar Selatan. Ide sistem perta hanan ini diambil dari pengalaman para pejuang Vietnam ketika mereka melakukan ofensif milter mengepung benteng Dien Bien Phu yang akhirnya membebaskan mereka dari penjajahan Prancis.

6 P4 istilah Orde $uharto “Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila” tak lain istilah selubung untuk “indoktrinasi” atau “brainwashing”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s