Laporan dari Lobang Jarum Kekuasaan (1)

Mawie Ananta Jonie

LAPORAN DARI LOBANG JARUM KEKUASAAN

Pagi buta tanggal 21 Desember 1964 aku meninggalkan Jakarta. Lapangan udara Kemayoran masih sepi. Hanya beberapa orang tampak duduk di ruangan tunggu. Lampu neon yang menyala kiranya tak cukup terang menerjang dada untuk bisa membaca apa yang sedang bergolak di lekuk-lekuk sanubariku. Tatkala aku melangkah menuju gerbang keberangkatan, mataku diculik oleh lambaian tangan remang-remang di balik kaca. Aku hampiri. Tibetari dan Nani. Dua gadis remaja. Ada dinding licin yang menjadi penghalang suara-suara parau. Tentu mereka datang untuk mengantarkan kepergianku. Maka aku membisikkan terimakasihku. Dengan penuh pengharapan. Semoga pori-porinya menyalurkan kata mesra yang dinantikan. Mereka terpaku. Aku membisu. Kemudian telempap tangan kami saling menempel di tempat yang sama. Kemudian bibir kami sama-sama mengecup lembaran kaca. Amboi…

Kunaiki tangga pesawat Garuda menuju Hongkong. Tidak banyak penumpang. Rombonganku lima orang dan belasan lain yang tak kukenal mengisi tempat duduk di depan sana. Garuda membubung ke angkasa membelah awan-gemawan langit Tanah Air yang kucinta. Di Timur mentari katulistiwa yang memberi aku warna hidup setiap hari menembus ke ruangan pesawat. Aku sampai lupa dengan sopan santun sebagai penumpang. Sebentar-sebentar pindah tempat duduk. Kiri-kanan. Untuk melepas pandang ke sana nun jauh ke bawah. Baru kali ini naik pesawat? Tidak. Aku sudah tumpangi “besi terbang” ini untuk berkunjung di Sumatra, Jawa, Bali, Kalimantan. Hanya bagian Timur Indonesia saja yang belum pernah aku menginjakkan kaki. Tapi kenapa kali ini aku begitu resah?

Hongkong. Aku mendarat di kota “hutan beton”. Gedung-gedung sebanding Hotel Indonesia di Jalan Thamrin itu mencogok ke langit. Di mana-mana. Menjelang pesawat cecah landas aku berkesempatan mencigap dermaga laut sarat kapal merapat. Di lalu lintasnya sampan-sampan dan tongkang-tongkang mendukung beban kehidupan. Untuk pertama kali aku dalam hidup ini melihat pakaian-pakaian, luar dalam berkibaran dari jendela kamar gedung gedung bertingkat di sana-sini. Di sini, juga untuk pertama kalinya kusimak manusia menarik manusia di atas kereta. Riksa. Hatiku tersiksa. Sayang, aku tidak bisa terjun, menyelam lebih dalam. Seorang sahabat menjemput kami. Orang Tionghoa, mahir berbahasa Indonesia. Sambil bersalaman dia menyatakan selamat datang.

Asal Usulnya

Sebelum aku memilih pergi ke Tiongkok, sebenarnya aku masih mendapat tawaran untuk belajar ke salah satu dari negeri-negeri Eropa Timur. Tapi mengapa jadinya ke Tiongkok? Ini ada asal usulnya. Ketika masih kanak-kanak, baik di rumah, oleh nenek, maupun di sekolah, oleh guru-guru aku sering mendengar petuah: Tuntutlah ilmu walaupun sampai ke Benua Cina. Waktu remaja, ketika aku masih bersekolah di kota Padang aku juga bekerja sebagai wartawan pada Harian Suara Persatuan dan Mingguan Mimbar Minggu. Sekali-sekali aku mendapat tugas untuk menangkap radiogram/berita dari Radio Republik Indonesia dari Jakarta. Terkadang karena belum waktunya, aku mendengar siaran Radio Peking. Aku tertarik mendengarkan reportase-reportasenya yang menyenandungkan kehidupan masa lalu dan masa kini . Masa sebelum Tiongkok Bebas dan setelah Tiongkok Bebas. Ya tentang kehidupan kaum nelayan di Sungai Yangzhe atau suka duka kaum tani di Propinsi Hunan. Begitu aku tamat dari Sekolah Guru Pendidikan Jasmani empat tahun, aku ditempatkan menjadi guru olahraga pada Sekolah Kepandaian Putri. Tidak aktif karena, ada tugas dari Surat Kabar untuk ke Jakarta mengikuti Asian Games Ke IV, Agustus 1962. Kemudian oleh karena aku mendapat pekerjaan baru di sini, pindahlah aku ke Ibu Kota. Nah, sewaktu Games Of The New Emerging Forces (Ganefo) berlangsung, aku bekerja siang malam di Perkampngan Senayan. Tertarik oleh prestasi-prestasi yang dicapai oleh olahragawan-olahragawati Tiongkok ketika itu, aku banyak menuliskan beritanya . Diam-diam aku bersimpati dan pasang niat ingin melanjutkan studi dalam bidang olahraga ke “benua cina”. Kiranya inilah yang mendorongku menerima tawaran belajar ke Tiongkok. Sebab lain? Soal perut dan selera? Ini bagian yang tak kalah pentingnya.

Hidangan yang dipesan untuk kami sudah mulai datang. Restoran kecil yang terletak di samping jalan outo, tak jauh dari Stasion kereta api, terasa nyaman karena hembusan angin bulan Desember dari daratan Tiongkok.Kami mulai menonjok satu-satu makanan yang terhidang. Tidak banyak. Tiga -empat macam lauk-pauk dan nasi hangat. Lapar telah mendorong setiap orang jadi agresif. Sahabat yang menjemput di lapangan terbang tadi , mendampingi kami. Di sela-sela itu dia memberi pesan-pesan kepada kami. Kalau nanti sampai di perbatasan dan menyeberang masuk wilayah Tiongkok, jawablah pertanyaan-pertanyaan yang diajukan petugas perbatasan itu dengan diam membisu. Ini untuk menunjukkan bahwa kami tidak paham bahasa mereka. Atau kami tak tahu menahu dengan pertanyaan-pertanyaan mereka. Kukira inilah pesan yang sudah dimengerti oleh pihak sana. Apa maknanya.

Kereta api melenguh dan lambat-lambat berketuntang meninggalkan Stasion Hongkok menuju perbatasan. Bagiku ini berarti meninggalkan kota “lu-lu, gue-gue” yang menindih kepala. Terkadang ia menyibak ladang-ladang yang penuh dengan sayur-sayuran. Terkadang ia berselisih jalan dengan gandengan-gandengan kereta api yang datang berlawanan. Terkadang tampak bagiku rumah-rumah dan pondok-pondok peladang dingin kaku tak menampakkan sekeping mukapun untuk digamit. Meluncurlah kereta ini mendekati perbatasan. Matahari telah condong ke Barat.Bayang-bayanganku tenggelam dalam diam dan terjangkar di buah kalbu. Kereta berhenti. Seorang wanita muda, pegawai kereta api? memberitahukan bahwa kami sudah sampai ditujuan.

Waktu kami turun dengan barang bawaan kami tak lupa menyatakan terimakasih dan sampai jumpa lagi. Berjalan beriringan tanpa penunjuk jalan, kami seberangi jembatan kecil yang panjangnya barangkali tak lebih dari duapuluh meter. Tatkala aku mendekati stasion, stasion kereta api yang pertama dalam perjalananku di Bumi Tiongkok, Shen Zhen, pesan dari sahabat yang di Hongkong itu terasa menjadi sebuah jaminan tidak akan timbul apa-apa. Tak kudapatkan riuh-rendah penumpang di sini. Sepi. Beberapa orang kelihatan keluar masuk ruangan kerja. Seseorang menyongsong kami dengan uluran tangan. Kami jabat tangan itu. Tampak dari pakaian yang dikenakannya bahwa dia adalah seorang petugas. Dia ajak kami mengikutinya. Sampai ke sebuah ruangan. Ruangan tunggu. Kami dipersilakan duduk. Semua dengan bahasa yang diiringi gerak gerik tangan. Lalu pergi. Kemudian datang lagi. Untuk membagibagikan lembaran formulir yang minta diisi. Ketika dia meninggalkan kami lagi, cepat-cepat kami baca. Pertanyaan-pertanyaan dari pihak imigrasi. Sebagaimana biasa orang-orang hendak berkunjung ke suatu negeri. Kami sepakat untuk tidak mengisinya. Belasan menit kemudian, datang lagi petugas itu. Maksudnya untuk mengumpulkannya. Dia perhatikan kami satu persatu dengan lembaran kosong di tangan. Akhirnya dia bertanya pada kami seorang orang. Apakah kami dapat berbahasa Inggris? Tidak ada jawaban. Semua diam tidak bergerak. Angguk tidak. Gelengpun tidak.

Petugas itu meninggalkan kami lagi. Dan kemudian datang dengan petugas lain. Petugas yang satu inilah yang kemudian menarik kembali dari kami formulir kosong tak berisi itu. Dan dia sendiri menyuguhkan kepada kami mangkok-mangkok minuman yang dituangi teh hijau. Teh hijau yang menguapkan aroma wangi bunga melati itu, kuhirup dari pinggir cangkirnya. Panas-panas. Semakin dalam kuhirup, makin terasa tenggorokan yang kering dari tadi membuka koridornya.

Menuju Beijing.

Petang hari itu juga, dengan menaiki kereta api cepat, yang melenggang tanpa banyak penumpang, kutinggalkan stasion perbatasan menuju Beijing. Terasa musim dingin yang sedang menggiliri daratan Tiongkok ketika itu, meniupkan angin yang tak bersahabat, memendungi langit jadi berat. Walaupun masih belum terasa dan kulitku yang belum pernah mengecap rasa dingin benua-benua bersalju ini, melihat ke luar jendela jauh sejauh-jauh mata memandang, sepi kelabu, membenamkan gaerah Nusantara yang kumiliki. Aku terbaring dengan mimpi.

Kereta api meluncur merebut Kanton. Pengilham jalan ke pembebasan. Juga merebut segala yang membengkak di dada, kepahlawanan kota sungai Mutiara. Pukul sepuluh malam kereta memasuki stasion. Di sini telah menanti Chen Hong, petugas yang mengurus kami beberapa hari. Penuh sesak, pendatang dan pemergi juga pengantar dan penjemput. Orang-orang, merata dibungkus dengan pakaian tebal. Penangkis dingin. Warna hitam, biru tua, mendominasi. Jarang kutemukan warna-warni Pasar Baru. Kebanyakan anak-anak muda, laki wanita pada pakai kaca mata. Aku terbengong-bengong bukan hanya karena yang tadi semua, tetapi juga karena bahasa yang membikin galau. Ku ikuti terus langkah Chen Hong, yang juga berkaca mata. Orangnya tinggi. Berbahasa Inggris. Kurang lebih berumur tigapuluh tahunan. Dengan sedan-sedan hitam kami menuju ke penginapan.

Hotel itu bertingkat lima. Berdiri di ujung sebuah persimpangan jalan. Di sisi kirinya mengalir sungai Mutiara. Dengan hanggar-hanggarnya. Dengan kapal-kapal dan perahunya. Dengan penduduk-penduduk yang berumah padanya. Tampak dari jendela kamarku sebuah kehidupan mengalir. Hilir mudiknya sungai Mutiara. Sebelum kami masuk ke kamar masing-masing, Chen sudah pesan bahwa makan malam pada pukul 23.00 , di lantai dua. Buru-buru cuci muka. Tidak berani mandi. Dingin dan dingin. Tapi pakaian masih yang dikenakan sejak dari Jakarta juga. Kulawan dingin dengan menggoyang-goyangkan badan. Pemanas di dalam kamar dan di ruangan hotel hanya cukup untuk melecut protes.

Sebelum waktu yang ditetapkan kami sudah duduk mengelilingi meja makan. Lapar memang. Sekarang datang pelayan mengantarkan hidangan. Tidak menunggu lagi. Kami serbu. Ikan itu lenyap tinggal tulang. Menunggu. Capcai datang; ayam, rebung, kacang tanah, bawang merah, melayang diganyang. Nasi belum juga datang. Datang lagi. Daging sapi. Diiris tipis, campur cabe, juga diiris. Kali ini menyusullah terus menerus hidangan itu. Aku tak tahu lagi berapa macam. Yang jelas aku sudah kekenyangan sebelum hidangan penghabisan. Nasi tidak tersentuh lagi. Beberapa lauk-pauk tergeletak masih utuh. Semua telah menyerah sebelum pertempuran sudah. Apa hidangan terakhir itu? Soep. Soep kura-kura dalam belanga. Teman-teman mencicipinya. Aku geleng-geleng kepala. Kalau aku tak salah ingat, guru Agama di Sekolah Rakyatku dulu pernah bilang: Makanan yang berasal dari binatang yang hidup di air dan di darat hukumnya, dimakan tak berdosa, tak dimakan dapat pahala. Kali ini aku pilih yang pahalanya.

Tatkala kami hendak meninggalkan meja makan, Chen datang dengan membawa pemberitahuan: Karena kami datang ke Tiongkok sudah terlambat dan sekolah sudah sejak beberapa bulan dimulai, maka bepergian dengan kereta api ke Beijing dibatalkan dan diganti dengan kapal terbang. Kedua, karena Tiongkok dalam musim dingin, dan diperkirakan bila kami sampai di sana, cuaca buruk dan akan turun salju. Maka besok siang kami akan diajak berbelanja membeli pakaian hangat. Ke Toko Serba Ada Kanton. Uang untuk pembeli pakaian tersebut, dapat dipinjam melalui Chen dan gantinya nanti dibayar melalui sekolah di tempat baru. Oleh karena itu, masing-masing orang boleh memilih sekehendak hatinya. Namun bak kata orang Awak, bila tangan mencincang, bahu harus memikul.

Malam sudah larut. Jadi aku tak punya waktu lagi untuk turun ke jalanan buat sekedar menyaksikan malam bergulir di kota ini. Hanya sebentar aku mondar-mandir di ruangan tunggu hotel untuk mematut-matut lukisan Tiongkok yang tergantung serasi dengan dindingnya. Jam hampir pukul satu parak siang. Aku masuk ke kamar. Kukenakan pakaian tidur. Sementara itu mataku melirik terus ke ranjang yang diam. Dengan kasur yang amat tebal tersungkup kain putih-putih. Aku pergi kejamban. Balik lagi. Kuraba-raba tempat tidur. Rasanya ada beberapa lapis. Aku bertanya-tanya. Pakai yang mana untuk selimut. Tak tahu aku mana yang selimut mana yang kasur. Diterjang oleh rasa kantuk, maka aku golekkan badan ini di atas ranjang dengan sehelai selimut kain putih, buat menahan serangan dingin.

Pukul lima pagi. Aku sudah terbangun. Karena kedinginan. Segera aku ke kamar mandi. Berpakaian. Duduk membaca buku untuk menanti waktu. Pada waktu jam makan tiba aku turun dan kumpul dengan teman-teman. Tak ayal lagi berita hangat yang diperbincangkan adalah tentang dingin dan selimut. Di dalam kendaraan yang membawa kami ke pusat kota untuk berbelanja saudara Chen tertawa terbahak-bahak mendengarkan cerita malam pertama kami di Tiongkok. Dia berusaha menjelaskan dengan penuh pengertian. Sewaktu kami kembali ke hotel, dan sehabis makan siang, pelayan kamar sudah siap dengan petunjuk-petunjuknya.

Hari berikutnya kami meneruskan perjalanan ini. Pakaian yang kubeli kemaren, berupa baju kapas dan celana kapas. Dan cuma bagian dalamnya saja. Jadi kelihatan jahitan-jahitannya dan sumbu-sumbu kapas sebesar lidi bermunculan. Dengan senang hati kukenakan. Kulihat kaca. Langkahku terasa dihalangi paha yang membengkak di kerangkang. Tapi kupikir ya demikian. Wajar. Setelah kami kumpul untuk siap berangkat ke lapangan terbang, rupanya aku sendiri yang pakai lengkap. Teman lain ada yang pakai baju saja, ada hanya pakai celana tok. Di antara kami tak ada pandang yang mengherankan. Kami adalah anak-anak muda yang baru pertama kali bepergian ke luar negeri. Ber empat musim pula.

Di dalam pesawat, setelah makan hidangan pagi, aku langsung tertidur. Hanya terbangun tatkala makan siang muncul didorong para pramugari. Kemudian menukikkan pandangan ke bawah melalui kaca jendela. Yang tampak hanya gunung gemunung. Terapung pesawat di atas gugusan-gugusan awan. Langit cerah penuh gaerah. Aku tertidur kembali. Pukul enam senja, roda pesawat menggelinding di darat. Kami telah sampai di Beijing. Di luar telah menunggu penjemput dari sekolah. Akhirnya kami mengenal nama marganya; Yi. Guru Yi, pandai berbahasa Indonesia.

Akademi Bahasa Beijing

Malam itu kami tidak bisa berbuat banyak. Senja,dalam perjalanan dari lapangan terbang menuju ke kampus, mataku terbentur pada pohon-pohon gundul dan ranting-rantingnya digayuti bilah-bilah es runcing di ujung bawahnya. Taliair di pinggir jalan, kolam-kolam dan sungai digenangi air yang membeku. Kami datang, kampus lengang. Hanya lampu-lampu jalan. Hanya lampu-lampu asrama mahasiswa tampak menyala. Keluar dari auto terasa mukaku ditampar angin dingin. Bagai sebungkah daging sedang disorongkan ke dalam peti es. Guru Yi, mengantarkan kami ke kamar masing-masing. Dan setelah barang bawaan diletakkan, kami diajaknya ke kantin untuk makan malam. Sebuah bangunan bertingkat. Lantai bawah untuk para mahasiswa yang beragama Islam makan dan lantai atas untuk yang lainnya. Setelah membuat janji untuk kegiatan besok harinya dia pun meninggalkan kami.

Pagi hari, guru Yi datang mengambil kami. Kami dibawa ke bagian admistrasi. Langsung di sini kami memperoleh uang saku untuk keperluan hidup selama seminggu. Di kantor ini pula kami mendapatkan buku-buku pelajaran bahasa Tionghoa. Dengan syarat buku-buku ini harus dibayar harganya nanti secara diangsur tiap bulan dengan uang saku masing-masing. Kini dua mulut lobang hutang telah menganga di depan dompet beasiswaku. Kami setiap bulan akan menerima uang saku sebanyak 100 yuan. Seterusnya, guruYi mengajak kami keliling kampus. Kampus Akademi Bahasa Beijing.

Pertama-tama kami diajak melihat lokal di mana besok kami sudah mulai masuk belajar. Belajar bahasa Tionghoa. Kemudian dari beberapa penjelasannya aku mencatat: kampus terbagi dua. Belahan Timur dan Barat. Bagian Timur sepenuhnya buat mahasiswa Tiongkok belajar bahasa. Bahasa asing, dari berbagai negeri di dunia ini. Kami sendiri, yang dikenal sebagai mahasiswa luarnegeri, menempati kampus bagian Barat. Di sini ada gedung bertingkat dua, tempat kuliah dan perpustakaan. Dua gedung bertingkat empat untuk asrama mahasiswa. Sebuah kantin yang aulanya bisa dipakai untuk pertunjukan malam kesenian. Sebuah poliklinik. Lengkap. Sebuah gedung bioskop. Tentu beberapa gedung tempat tinggal para dosen dan keluarga mereka. Selain itu terdapat pula lapangan sepakbola, lapangan tenis, lapangan basket dan volley, kolam renang, pingpong dan lain-lainnya untuk kegiatan berolahraga.

Kampus Akademi Bahasa Beijing ini berada di pinggiran kota. Terkenal dengan sebutan Daerah Universitet. Di sekitarnyalah terdapat Universitet Beijing, Universitet Qing Hua, Universitet Pertanian, dan lain-lainnya. Bagi mahasiswa luarnegeri yang menderita penyakit berat dan memerlukan penanganan yang intensif dari seorang dokter, maka sudah pula tersedia Rumah Sakit No. 3. Yang terletak di dekat Universitet yang kusebutkan didepan. Di sini, kami tak perlu merenungkan hutang dan piutang.

Belajar

Dihitung dari awal belajar dimulai, berarti aku sudah terlambat selama hampir empat bulan, September-Desember. Ini berarti aku harus berpacu dengan waktu untuk mengejar ketinggalan. Kami mendapat tiga orang guru. Satu guru tatabahasa, satu guru membaca , seorang lagi guru sejarah. Guru tatabahasa ini tamat dari jurusan bahasa Albania. Guru membaca tamatan Universitet Beijing dan berasal dari Beijing. Kata burung lafal orang Beijing menjadi standar lafal bahasa nasional. Sedang guru sejarah kami, nampaknya berdarah campuran asing, tapi berlidah Tionghoa. Pelajaran sejarah yang diberikannya menggunakan bahasa Inggris sebagai pengantar. Aku menghadapi banyak kesulitan untuk menangkap penjelasannya dengan modal hanya bahasa Inggris anak rantau di Singapura. Untung berjalan tak lama, karena seluruh atau tiga hari kemudian hanya tinggal satu atau dua saja yang menjadi milikku.

Aku tinggal berdua sekamar. Satu lagi mahasiswa Tiongkok jurusan bahasa Inggris. Tidak bisa banyak diharap-kan untuk menolong. Dia datang malam untuk lelap dan pergi pagi untuk malamnya kembali lagi. Jarang kami punya waktu untuk omong-omong tentang dunia luar. Masing-masing diterkam pekerjaan dan pelajaran sendiri-sendiri. Di kelasku selain kami lima orang mahasiswa Indonesia, ada juga mahasiswa dari Jepang dan mahasiswa dari Thailand. Mahasiswa Jepang ini harus kuakui, yang terpintar di kelas kami. Baginya arti dari bacaan yang kita pelajari dapat ditangkapnya. Hanya beberapa huruf saja yang mesti dipelajari bacaan dan tulisnnya. Jadi bisa dimaklumilah. Yang dari Thailand “setali tiga uang” denganku.

Sekali sebulan guru-guru membawa kami melakukan kunjungan. Biasanya pada hari Jumat. Kami diajak ke museum sejarah misalnya. Di sini kami mendengarkan uraian-uraian dari pemandu yang telah siap. Guru-guru berusaha menjelaskan kembali dengan bahasa Tionghoa yang sangat sederhana kepada kami. Sesuai dengan taraf perbendaharaan kata-kata yang kami punya. Waktu lain kami bersama-sama bertamasya ke tempat-tempat nan elok dan terkenal di kota Beijing. Taman Bei Hai dan TamanYi He yang permai. Atau ke tembok besar nun jauh di luarkota. Dalam perjalanan beginilah guru-guru banyak berdialog dengan kami dan membetulkan kata-kata atau kalimat kami yang salah.

Juga ada kegiatan-kegiatan yang menggerakkan mahasiswa seluruh sekolah. Umpama pergi ke Komune Rakyat untuk membantu petani panen gandum. Anggota Komune menyediakan untuk kami makanan dan minuman dengan cuma-cuma. Pada waktu istirahat, kami berkumpul di sawah yang sudah kosong. Di sini dengan spontan kami menyelenggarakan acara-acara tari dan nyanyi. Dan pada umumnya kegiatan semacam ini mendapat sambutan hangat. Semua menyanyi. Semua menari. Tentu dengan lagu-lagu dan tari-tarian yang berasal dari negeri masing-masing peserta. Musiknya? Batu dan batu. Piring dan sendok. Jeritan dan tepuk tangan.

Dengan Kedutaan

Aku tiba di Beijing pada tanggal 23 Desember 1964. Seperti telah kuketengahkan di depan begitu masuk kampus Akademi Bahasa Beijing, aku pertama-tama mengurus segala sesuatu untuk kuliahku. Selain itu ada kegiatan-kegiatan umum untuk mempersiapkan tibanya tahun baru 1965. Sebenarnya keinginanku agar secepatnya mengadakan kontak dengan Kedutaan cukup besar. Aku mengenal Pak Djawoto dan keluarganya di Jakarta pada tahun 1963. Beliau sebagai wartawan Antara, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia dan Sekretaris Jendral Persatuan Wartawan Asia Afrika, tentu aku sebagai seorang wartawan dan anggota muda dari PWI punya hubungan keorganisasian dengan beliau. Hubungan ini lebih didekatkan lagi oleh adanya kegiatan-kegiatan PWI seperti Kongres, Konferensi Wartawan Asia Afrika. Aku adalah salah seorang anggota Sekretariat PWAA. Kalau Pak Djawoto sibuk dengan pekerjaan beliau di Antara, maka beliau tidak bisa mengantor ke Sekretariat PWAA. Maka Kepala Sekretariat hampir selalu mempercayaiku untuk mengantarkan surat-surat dan dokumen-dokumen kepada beliau. Bila tak bersua di kantor Antara, aku mengejar beliau kerumahnya. Di sini pulalah aku berkenalan dengan Ibu Djawoto. Yang tak bisa kulupakan dari Ibu adalah, bila aku mencari Pak Djawoto, yang ditanyakan pertama-tama padaku yalah: sudah makan belum? Bukan hanya basa basi!

Selepas pesta tahun baru, aku mengontak Kedutaan dan membuat janji untuk kedatanganku. Melapor. Pada hari yang ditetapkan aku meninggalkan kampus untuk pertama kalinya. Dengan bantuan sekolah aku mendapatkan kendaraan pergi ke Kedutaan. Hampir satu jam perjalanan. Dingin telah menjajah kota Beijing. Pejalan kaki sudah mengganti kebiasaan mereka dengan lari-lari anjing. Dari mulut orang-orang yang menunggu bus di pinggir jalan kelihatan asap mengepul. Terkadang tampak kopiah-kopiah tebal menutupi kepala dan telinga mereka. Semua untuk melawan penjajah dingin. Aku sendiri menggigil di dalam auto yang tak berpemanas itu.

Dengan paspor Republik Indonesia jaman itu, jaman Nasakom (Nasionalis- Agama -Komunis), jaman ganyang Malaysia, ganyang kaum imperialis, aku masuk ke Kedutaan. Dalam perjalanan tadi aku sempat membalik-baliknya. Kutemukan beberapa peringatan buat si pemegangnya. Tapi juga ada yang bernada setengah mengancam. Begini yang kucatat: Berlaku untuk seluruh dunia kecuali Taiwan, Israel dan apa yang dinamakan “Malaysia”. Aku melihat wajah Bung Karno dari dalam deretan kata-kata ini. Wajah yang bekerja keras sejak muda, keluar-masuk penjara dan tanah pembuangan untuk tumbuhnya satu nasion, satu bangsa, Nasion Indonesia. Ya Bangsa Indonesia di Nusantara. Nusantara yang terdiri dari ribuan pulau, puluhan suku dengan berbagai macam agama serta kepercayaannya. Tapi beliau tak bosan-bosannya disetiap kesempatan menanamkan kepada kita semangat persatuan bangsa. Tampak wajah ngerinya karena tak ingin melihat darah tumpah hanya karena perbedaan pendapat, salah paham dan pengertian di antara suku-suku itu. Wajah itu akan segera berubah bagai seekor harimau hendak menerkam, dengan suara dan kata-kata yang berapi api, kalau kesatuan nasionnya, kesatuan bangsanya terancam. Demikian pula terhadap kemerdekaan Indonesia jangan coba jamah tanah, laut dan udaranya. Kepada siapa saja yang hendak menguji-nguji Bung Karno, apakah musuh itu datang dari dalam ataupun dari luarnegeri satu kata keluar dari mulutnya: Ganyang!

Hari itu tanggal 12 Januari 1965, pasporku telah dicap dengan stempel KBRI, bagian Konsuler dan ditandatangani oleh Sekretaris II Kedutaan, Sdr. Agus Indrakesuma. Tidak. Aku tidak gunakan kesempatan ini untuk jumpa dengan Ibu atau Bapak Duta. Karena hari sudah petang aku harus pulang ke asrama. Lagi pula terlalu lama kendaraan menanti. Kukeluarkan lagi paspor tadi. Sebuah peringatan kuteliti. Memang ada nada mengancam terasa, walaupun hanya berlaku untuk bepergian ke sementara negeri. Lihat catatan yang kubuat dari paspor itu: Dalam waktu lima hari kerja terhitung mulai hari pertama datang di Bangkok, Saigon, Hongkong, Manila, Davao dan Timor Dilly, diwajibkan melapor diri kepada Perwakilan Republik Indonesia setempat, bila akan tinggal lebih dari lima hari kerja. Jika kewajiban itu dilalaikan maka paspor dicabut. Ditandatangani oleh Kepala Imigrasi Jakarta Raya. Hebat

Mahasiswa Indonesia Di Tiongkok

Waktu rombonganku yang lima orang itu datang ke Bejing untuk belajar di beberapa Perguruan Tinggi, jumlah mahasiswa Indonesia di Tiongkok ketika itu kiranya sekitar tigapuluhan.Tersebar di dua atau tiga kota termasuk Beijing sendiri. Kemudian pada awal-awal tahun 1965, menyusul belasan orang lagi hingga sampai saat meletusnya Peristiwa G 30 S ada kurang lebih limapuluh orang. Dari jumlah ini ada beberapa orang yang sudah tamat dan bersiap-siap untuk pulang ke Indonesia. Beberapa orang lainnya sedang berada di tingkat akhir. Yang banyak tentulah mereka yang masih mempersiapkan bahasanya untuk setahun kemudian pindah ke kejurusan masing-masing.

Bagian terbesar dari mereka adalah mahasiswa yang datang melalui pintu gerbang Kementerian PTIP di Jakarta. Dan mereka menerima beasiswa di Tiongkok. Beberapa saja di antaranya studi dengan biaya orang tua. Satu atau dua orang datang melalui proses sejarah yang panjang. Yang terakhir inilah kalau boleh disebut sebagai pioner dari mahasiswa-mahasiswa yang tiba di tahun limapuluhan dan kami-kami ini.Karena di Tiongkok sudah ada PPI, akupun bergabung dengan mereka. Sepengetahuanku tidak seorangpun dari mahasiswa yang tak menjadi anggota PPI Tiongkok saat itu.

Berbicara tentang paham dan aliran yang dianut oleh para mahasiswa di Tiongkok ketika itu dapat kukatakan sebagai pemuda-pemudi yang setia kepada ajaran-ajaran yang revolusioner dari Bung Karno. Secara orang seorang tentu ada yang belajar karya-karya Marxisme-Leninisme-Fikiran Mao Tje Tung, sebagaimana juga ada dari anggota-anggota HMI atau penganut Sutan Sjahrir dan Tan Malaka. Semua punya ruangan dan waktu untuk membeberkan pendapatnya di dalam rapat-rapat dan punya kursi tempat duduk bagi wakilnya di dalam PPI. Sekali pernah berembus angin “perpecahan” di dalam Konfrensi PPI yang kuhadiri. Tapi suara minor itu menjadi tenggelam di dalam koor maju tak gentar. Dan diam-diam lenyap dari peredaran.

Hubungan PPI secara organisasi dengan Kedutaan waktu itu kiranya bolehlah. Begitu pula anggota-anggotanya punya hubungan yang bersahabat dengan perseorangan dari pegawai Kedutaan. Biasanya melalui PPI dengan batas-batas tertentu kami dapat titip belanjaan untuk kebutuhan belajar ke Hongkong menurut jalur Kedutaan. Harga jauh lebih murah dan mutu barangnya jauh lebih baik. Pada hari-hari besar para mahasiswa ikut dengan aktif dalam bidang olahraga dan kesenian. Membantu Panitia dari Kedutaan untuk pengorganisasian. Peringatan 17 Agustus, merupakan hari-hari antara pegawai Kedutaan dengan mahasiswa menjalin kerjasama yang serasi. Di panggung kami menari dan menyanyi. Di lapangan olahraga mahasiswa dan pegawai Kedutaan berlomba untuk mencapai prestasi.

Kontak-kontak dengan mahasiswa asing yang belajar di Tiongkok pun tak kurang meriahnya. Kampus Akademi Bahasa Beijing merupakan pusat bertemunya mahasiswa Indonesia dengan mahasiswa negeri lain tiap tahun. Tak kurang separoh dari kami masih berkutat dengan bahasa Tionghoa. Dan keadaan ini bisa menolong mempermudah mengumpulkan rekan-rekan dari jurusan lain. Demikian pula para mahasiswa asing yang kebanyakan datang dari negeri-negeri Asia, Afrika dan Amerika Latin serta Eropa Timur itu mau tak mau mesti melintasi Kampus ini baru bisa masuk ke Universitet tujuannya. Kami pernah selenggarakan pertandingan pingpong dan sepakbola dengan mereka. Lebih penting dari itu adalah kegiatan politik yang saling memberikan dukungan kepada perjuangan negeri masing-masing dalam mencapai kebebasan dan kemerdekaan.

Dengan Masyarakat Indonesia

Yang paling cepat kukenal tentulah pegawai-pegawai Kedutaan beserta keluarga mereka. Karena pertemuan-pertemuan bisa terjadi pada kegiatan-kegiatan bersama di hari-hari raya. Atau pesta dan makan bersama dengan rombongan tamu-tamu dari Indonesia yang khusus datang ke Tiongkok atau mampir setelah berkunjung ke negeri-negeri lain. Pelan-pelan aku mengetahui bahwa mereka yang bekerja di Kedutaan ini berasal dari berbagai suku dan daerah. Duta Besar Pak Jawoto jelas datang dari Jawa. Tapi istri beliau adalah orang Minang. Sekretaris Kedutaan yang kutahu sdr. Baron, berdarah Indo dan istrinya asal Manado dan Sdr. Agus dari Sunda. Atase Militer jelas dari Jawa dan sdr. Dadang, sebagai Atase Kebudayaan berasal dari Sunda. Tentu, Staf Kedutaan lainnya tidak akan beranjak dari putra-putri daerah seperti yang tersebut di atas. Yang pasti aku tak menemukan waktu itu putra dari daerah Kalimantan, Maluku, Nusatenggara, apalagi Irian Jaya.Pada umumnya mereka bisa menggalang hubungan baik dengan para mahasiswa. Terkadang ada yang mengundangku berkunjung kerumahnya, makan dan minum serta omong-omong tentang perkembangan situasi politik yang terjadi di Tanah Air.

Untuk anak-anak mereka yang berpendidikan Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah, Kedutaan punya guru-guru dan gedung sendiri. Tempatnya tidak jauh dari kompleks Kedutaan. Hanya berseberangan jalan saja. Aku pernah diminta untuk membantu di sini, sebagai guru olahraga, tapi sayang karena kesibukan di sekolah dan tak punya waktu, aku tidak dapat memenuhinya. Seingatku, anak-anak dari Staf Kedutaan, belum bebebrapa orang yang masuk ke Perguruan Tinggi. Kebanyakan dari mereka telah duduk di bangku SMP atau SMA. Tinggal mereka pada umumnya di “Perkampungan Diplomat” yang dibangun spesial oleh Pemerintah Tiongkok. Daerahnya terletak di pinggiran kota dan suasananya penuh kenyamanan dan ketenangan. Yang lain ada yang mengambil tempat tinggal di “Hotel Persahabatan”, sebuah bangunan yang terletak ke arah Barat kota. Tidak jauh dari bangunan Kampus Akademi Bahasa Beijing.Untuk menggampangkan mereka berbelanja maka di pusat kota Beijing tersedia “Toko Persahabatan”. Sebagai “Toko Pershabatan” maka setiap orang asing, termasuk kami dari mahasiswa, pintunya selalu terbuka.

Sedikit sekali aku mengenal masyarakat Indonesia yang di luar orang-orang dari Kedutaan ketika itu. Ada satu dua orang yang bersua pada waktu pertemuan di Kedutaan. Ada pula istri dan anak-anak mereka yang belajar bahasa Tionghoa di Akademi Bahasa Beijing. Mereka itu bekerja sebagai dosen bahasa Indonesia, bekerja pada majalah “Tiongkok”. Lain dari ini aku tak tahulah. Biasanya bila aku main ke kota untuk belanja di “Toko Serba Ada” atau di “Toko Persahabatan” di hari Minggu, sering aku jumpa dengan keluarga orang-orang dari Kedutaan. Tapi dengan masyarakat Indonesia lainnya, jarang, malah tidak ketemu. Jadi aku sulit mengatakan karena aku sulit meraba berapa banyakkah mereka yang bekerja di Beijing ini?

Jumpa Sahabat

Dulu, setelah Ganefo, PWAA punya tamu tak sedikit. Di antaranya rombongan wartawan dari Tiongkok. Mereka ini sehabis bertugas tidak pulang langsung ke negerinya, akan tetapi melakukan kunjungan-kunjungan ke Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan akhirnya perjalanan itu ambil istirahat di Bali. Untuk mengurus persiapan kedatangan mereka ke daerah-daerah tadi, PWAA menunjukku sebagai pelaksananya. Sendirian. Buat urus ini rasanya aku tak gemang lagi. Aku harus mendahului rombongan dua atau tiga hari sebelum berangkat menuju ke daerah kunjungan mereka. Sesampai di tujuan pertama-tama yang kupersiapkan adalah hotel untuk penginapan. Kemudian mengontak PWI setempat dan organisasi Tionghoa bila ada. Kalau tidak, aku mencoba menghubungi ormas mahasiswa CGMI atau pelajar IPPI. Atau mencari organisasi Kebudayaan untuk minta disediakan pertunjukan nyanyi dan tari.

Tentu di dalam rombongan tamu ini PWAA juga menugaskan orang-orang pentingnya. Kali ini ada tiga orang yaitu: Karim DP, S. Tahsin dan A. Umar Said. Semua adalah Pemimpin Redaksi Harian Ibu Kota. Aku mengenal mereka dengan baik. Sampai di Jogja hanya S. Tahsin dan A. Umar Said saja yang meneruskan perjalanan bersama rombongan menuju Bali. Yang sa-ngat menarik perhatian dari para wartawan tamu dari Tiongkok ini adalah tempat-tempat bersejarah dalam masa Revolusi Agustus ’45. Juga pada desa-desa yang mengalami peristiwa-peristiwa atau yang berhubungan dengan gerakan tani. Kemudian kami bertamasya ke Puncak, Borobudur dan Mendut, Bromo dan Gunung Agung dari Kintamani. Pada malam-malam perpisahan diadakan pertunjukan kesenian yang terkadang para tamu juga ambil bagian.

Di akhir perlawatan dan kunjungan ini aku mengenal beberapa orang dari anggota rombongan tersebut. Seorang diantaranya, yang termuda barangkali , bernama Bai Guo Liang. Dia cakap berbahasa Indonesia. Sewaktu remaja Liang pernah dikirim dan ikut dalam perang Korea. Kembali dari perang meneruskan studi di kota kelahirannya Shanghai. Dia tekuni bidang kewartawanan. Di samping itu dia belajar bahasa Indonesia. Dia cukup subur dalam mencintai Indonesia. Setelah balik dia menulis beberapa artikel perjalanannya di Indonesia. Salah satu yang sangat menarik adalah tentang Kota Pahlawan Surabaya yang dimuat di dalam Majalah “Tiongkok”berbahasa Indonesia. Liang memberiku sebuah buku catatan ketika kami berpisah di Hotel Bali. Di dalam buku kecil ini terdapat kalimat “Jauh Di Mata Dekat Di Hati”dalam tulisan tangan yang rapi. Di bawahnya tertera alamatnya dan pekerjaannya sebagai Wartwan Shinhua Cabang Beijing.

Sekali ketika aku ikut dalam barisan demonstrasi dengan mahasiswa-mahasiswa Akademi Bahasa Beijing, untuk menyokong perjuangan Rakyat Dominika supaya keluar dari moncong Amerika, di Tien An Men, aku disapa oleh seorang yang sedang asyik mengambil foto-foto bendera dan spanduk sekolah kami. Dia Chen Ping, wartwan foto Ren Min Ri Bao atau Harian Rakyat yang dulu ikut dalam rombongan ke Indonesia. Lekas kuserahkan panji Akademi yang kubawa kepada teman lain. Panji yang memimpin barisan itu berada paling depan. Aku keluar dari barisan dan kami saling berangkulan. Diberondongnya aku dengan bahasa Tionghoa gaya Beijing yang jernih. Aku sudah bisa menangkap sedikit banyak. Sudah lama datang? Jempol diangkatnya sambil memandang kepada panji sekolahku dan spanduk yang kami bawa. Aku jalan terus menyisir barisan. Aku bicara setengah berteriak dengan Chen Ping karena suaraku tenggelam dalam teriakan jel-jel “Hidup Perjuangan Rakyat Dominika!”, “Rakyat Sedunia Bersatulah”, “Ganyang Imperialisme Amerika”. Kukatakan bahwa aku belum jumpa dengan Bai Guo Liang. Pada waktu itu dia janjikan padaku bahwa dia akan kasih tahu kedatanganku pada Liang dan teman-teman lainnya. Lalu pamitan denganku dan aku masuk kembali ke dalam barisan. Panji itu kembali dalam genggamanku. Penuh Tien An Men. Bendera merah berkibar di mana-mana.

Minggu pagi, langit bergelimang sinar mentari. Awal Musim Semi tiba kembali. Aku sedang membenahi kamar dan tempat tidur. Penjaga asrama memanggil namaku. Ada tamu mencari. Cepat aku berpakaian dan turun ke lantai bawah. Eh, di sini Liang sudah menanti. Tak akan habis cerita kalau direntang panjang. Kami saling bertanya tentang ini dan itu dan apa yang telah terjadi sejak kami berpisah. Tak lupa dia bertanya tentang Soelandari, Pimpinan IPPI Jogja yang manis itu Kurasa Liang sudah kesemsem padanya. Aku bisa beri jawaban karena aku sering ke Jogja dan jumpa dengan orang kesayangannya itu. Liang tahu benar bahwa aku adalah Wartawan Bintang Timur. Juga seorang anggota Pengurus Besar IPPI. Karena itu ketika kita berbincang-bincang di kamarku yang kami bicarakan adalah soal-soal kepemudaan. Aku mencatat dari dia sebagai berikut: Sebelum kaum intelektuil mengintegrasikan diri dengan perjuangan revolusioner massa, dan sebelum mereka membulatkan tekad untuk mengabdi kepentingan massa dan bersatu-padu dengan massa, mereka sering berkecenderungan subjektivisme dan individualisme, sering hampa pikirannya dan sering bimbang dalam tindakannya. Oleh karena itu, walaupun kaum intelektuil revolusioner Tiongkok yang luas memegang peranan sebagai pelopor dan jembatan, tetapi tidak semua dari kaum intelektuil ini bisa ikut dalam revolusi sampai selesai. Pada saat-saat kritis dalam revolusi, sebagian dari mereka akan meninggalkan barisan revolusioner dan bersikap pasif; sejumlah kecil di antaranya bahkan akan menjadi musuh revolusi. Kekurangan-kekurangan kaum intelektuil tersebut hanya dapat diatasi di dalam perjuangan yang berjangka panjang.

Untuk makan siang aku pesan di kantin tingkat atas. Biasanya aku makan di lantai bawah, ruangan makan bagi mahasiswa Islam. Aku pesan makanan yang tidak berbabi, ikan ayam dan gulai kambing. Sehabis makan siang Liang mengajakku jalan ke kota. Walaupun aku harus membayar hutang untuk pakaian yang dibeli di Kanton waktu baru masuk Tiongkok dan ongkos buku-buku, namun aku rasa beasiswa itu mencukupi. Dalam perjalanan ke kota Liang mengatakan bahwa dia sudah pindah ke Shanghai. Ditempatkan pada Cabang Kantor Berita Shinhua kota ini. Setelah makan malam aku kembali ke asrama. Pertemuan ini akhirnya terputus oleh waktu yang panjang. Tanpa bisa bersuratan tanpa ada kabar berita. Kenapa? Karena menyusul sesudah itu Revolusi Besar Kebudayaan Proletar (RBKP) melanda daratan Tiongkok.

Penghidupan Dan Pergaulan

Setelah selesai hutang-hutangku, aku setiap bulan menerima uang beasiswa dengan bulat. Uang sebanyak Y 100.-itu; Y 35.-untuk bayar makan 3 x sehari selama satu bulan. Ini terbilang kalau ada tamu dua atau tiga orang datang dan ikut makan. Asal melapor sebelumnya. Abonemen Bus Umum Kota dan sekitarnya Y 5.- Yang banyak memakan uang adalah ongkos Taxi. Acap terjadi acara-acara di Kedutaan yang mepet dengan jam-jam sekolah. Hingga waktu harus direbut dengan Taxi. Kita sama-sama pakai Taxi dan untuk sekali jalan bayar Y 5.-per orang. Kadang-kadang kalau kita ke kota di malam Minggu atau di hari Minggu, tak sempat kembali ke asrama kita bayar extra untuk makan di luar. Tapi juga tidak mahal, paling dengan makan y 1. atau y 2. sudah puas dan kenyang.

Kalau kita kepingin jajan makanan kecil, terutama yang terbuat dari tepung beras, seperti “bakpao”atau kue-kue lainnya belinya masih perlu pakai kupon bahan makanan. Untuk bahan pakaian juga masih perlu pakai kupon. Kalau kita iseng-iseng ingin masak sendiri, minyak dan daging perlu pakai kupon. Dari pengalamanku ya boleh. Kupon selalu diberi oleh sekolah. Tak ada yang perlu digelisahkan.

Tentang pergaulan, yang pokok tentulah dengan rekan-rekan mahasiswa dari Indonesia. Bila ini sudah tergalang tak salahlah kiranya kita punya dan ikut bergaul dengan mahasiswa-mahasiswa Tiongkok dan mahasiswa-mahasiswa dari negeri lain. Bahasa Tionghoaku bisa diperlancar dan kesalahan di sana-sini mendapat bantuan dalam perbaikan dalam praktek. Juga untuk mendengar perlu belajar. Dari pengalaman, bila percakapan terjadi di antaraku dengan mahasiswa asing, aku bisa mengerti apa maksudnya. Tapi kalau berbicara dengan mahasiswa Tiongkok, sudahlah, payah aku untuk memahami. Mereka pada umumnya berbicara dengan lidah Beijing. Dan bukankah inilah yang harus kupelajari?!

Bergaul dengan mahasiswa Tiongkok aku angkat topi pada semangatnya untuk menuntut ilmu. Semangat dalam belajar mereka yang tak kenal susah-payah. Selain itu mereka hemat dalam penghidupan. Tidak pemboros dan jauh dari berpoya-poya. Negara memberi uang saku untuk mereka hanya Y 15.- Ini bagiku baru cukup untuk bayar makan dua minggu. Habis. Sedang mereka untuk makan sebulan, cukup Y 5. atau Y 6. Bayangkan saja. Dengan biaya sebegitu, gizi makanan tetap terjamin. Badan mereka tetap sehat dan kuat. Jarang jatuh sakit seperti yang sering dialami oleh mahasiswa asing.

Yang mendekati mahasiswa Tiongkok adalah mahasiswa Vietnam. Semua orang tahu, dan bahkan Pemerintah Indonesia dengan Bung Karno, menyokong perjuangan Rakyat Vietnam Selatan melawan kaum agresor Amerika. Tiongkok tak kalah dengan Indonesia. Waktu itu aku melihat di mana-mana, mahasiswa Vietnam. Tidak salah perkiraanku bila apa yang kusaksikan sebagai titik tolaknya, maka di hampir setiap Universitas dan Perguruan Tinggi yang ada di kota Beijing ada Vietnamnya. Ketika kutanyakan kepada temanku, Nguyen, ini bisa terjadi karena penggunaan beasiswa yang diberikan oleh Pemerintah Tiongkok dikelola dengan begitu rupa. Bila Tiongkok memberi kepada mahasiswa asing Y 100.-itu untuk seorang per bulan, maka Vietnam menggunakan uang Y 100.- tersebut untuk membiayai empat orang mahasiswa mereka. Jadi mereka menerima Y 25.- sebulan per orang. Kalau tawaran diminta seratus orang saja, misalnya, maka Vietnam akan datang dengan empat ratus pemuda-pemudinya. Ini berarti hampir satu batljon tentara. Mereka rajin-rajin dalam belajar. Karena Tanah Air me-nanti. Tugas menanti. Seperti kata-kata sebuah lagu Vietnam yang dialihbahasakan ke dalam bahasa Tionghoa serta populer ketika itu berbunyi: Bebaskan Selatan, Lindungi Utara!

Baik mahasiswa Tiongkok maupun mahasiswa Vietnam itu kebnyakan datang dari anak-anak petani miskin, kaum buruh dan tentara. Mereka sama-sama mencintai pemimpin mereka Mao Tje Tung di Tiongkok dan Ho Chi Minh buat Vietnam. Mereka juga menghormati dan membela Partai mereka. Thi Binh dari Vietnam itu sekali setengah berpropaganda kepadaku menjelaskan tentang Partai negerinya sebagaimana yang kucatat: Partai kami penuh disiplin, memiliki senjata teori revolusioner yang maju, menggunakan metode otokritik dan berhubungan dengan massa rakyat. Nah tentara di bawah pimpinan Partai demikian; Front Persatuan dari semua klas revolusiner dan semua golongan revolusioner di bawah pimpinan Partai demikian, menjadi tiga senjata utama yang kami gunakan dalam mengalahkan Amerika dan kaki tangannya!

Anak-anak muda itu mengenal Bung Karno. Tapi lebih dari itu aku mencintai Bung Karno. Mungkin seperti mereka mencintai pemimpin-pemimpin mereka Mao Tje Tung dan Ho Chi Minh.

Korea Utara tak kalah banyak mahasiswanya. Tapi aku tak sempat berdekatan sedemikian rupa. Paling-paling cuma jumpa di kantin, saling pandang dan “ni hao”. Yang lain adalah grup-grup mahasiswa dari Jepang, Kamboja, Thailand, Mongolia, Nepal, dan Sovyet Uni. Kelompok kecil datang dari negeri-negeri Arab, Aljazair, Albania, Cuba dan beberapa kukenal dari Prancis. Jepang banyak bicara tentang anti Amerika yang serdadu mereka masih mengangkangi beberapa pelabuhan Negeri Sakura. Juga tentang perdamaian yang berhubungan bom atom yang menyeruduk Hirosima dan Nagasaki. Naguchi, salah seorang dari mereka, malah kenal salah seorang aktivis Komite Perdamaian Indonesia. Diperagakannya foto-foto bersama mereka waktu di Jepang. Ya aku kenal Mas Bakir. Kami berkenalan pada Peringatan “Hari Tufu”. Kuminta foto itu sebagai tandamata. Maksudku bila tamat nanti, dan kembali ke Tanah Air, tanda mata ini akan kuserahkan pada Mas Bakir. Permintaanku dipenuhinya tapi dari albumku dipungutnya fotoku bersama sebuah Delegasi IPPI dengan Bu Hartini di tangga rumah beliau di Istana Bogor.

Dengan Thailand, karena ada yang duduk di kelasku, maka pada hari-hari menjelang ulangan , kami kumpul. Belajar bersama. Dengan Prancis ada tiga orang yang dekat. Kami sama-sama suka dengan olahraga. Berenag umpamanya. Juga sama suka naik sepeda keluar-masuk kampung penduduk. Makan dan jajan di pinggir jalan. Harga murah. Pergi jauh ke pelosok-plosok kota untuk menonton “karate”(?) Aku tak tahu nama sport ini. Tapi yang menarik, penonton bertaruhan uang. Dua olahragawan berada dalam satu ruangan. Ruangan ini bak berpasir. Di sekitarnya penonton jongkok atau berdiri. Tidak besar tempatnya. Sebelum berlaga, keduanya saling memaki dan menghina. Setelah panas karena cercaan-cercaan yang saling mereka lontarkan itu, mulailah mereka berantam. Betul-betul berantam. Untuk masuk penonton harus bayar.

Kehidupan santai bila sekolah frei tampak pada mahasiswa yang datang dari Eropah. Kalau udara cantik dan nyaman mereka kumpul di luar. Di tepi telaga atau di dalam taman yang tersedia di hampir setiap kampus. Di sini mereka mengota sambil minum kopi. Tentu ini berlangsung dalam bahasa ibu mereka. Ketika itu aku ikut dengan teman dari Prancis. Hari Minggu. Tempat di belakang asrama Mahasiswa Universitas Beijing. Aku meresa terasing di dalam kelompok begini. Temanku banyak sedikit mengtionghoakan obrolan mereka. Tidak menarik memang. Tidak ada yang patut kubuat catatan di sini. Kami pergi ke kantin. Di dalam kami dapati beberapa orang mahasiswa sedang berbagi cerita dan pengalaman. Melihat aku memperhatikan, agak serius seseorang dari yang bicara, lalu mengalihkan pandangan padaku. Catatanku: Y 5. Hanya Y 5. Malam. Di Taman. Dia sudah sering ke situ. Dadaku tergoncang. Mungkin jendela kaca jantungku pecah berderai kena lemparan batu. Aku dan dia datang dari negeri jauh. Sama-sama untuk menimba ilmu. Tapi mahasiswa yang satu ini, telah menimba jauh lebih dalam dari tali timbaku. Bahkan timbanyapun sudah dicemplungkannya ke dalam sumur di luar kampus.

Rombongan Kesenian Presiden Soekarno

Aku dengar dari rekan-rekan bahwa ada rombongan kesenian yang dikirim oleh Presiden Soekarno ke Korea Utara. Rombongan ini dipimpina oleh Mentri PDK Bapak Prijono. Kemudian dari salah seorang pengurus PPI, aku dapat tambahan kabar, bahwa biasanya kalau ada aktivitet begini PPI Tiongkok akan diminta untuk membantu rekan-rekan mahasiswa di Pyongyang yang jumlah mereka tidak banyak.Tapi sampai hari kami membicarakan soal ini, belum ada kabar semacam itu yang diperoleh.

Tidak lama kemudian, guru-guruku membicarakan soal rombongan kesenian tersebut dan akan mengadakan pertunjukan beberapa kali di Beijing. Mereka beriya denganku untuk bersama-sama pergi menonton. Aku tak menolak. Sampai pada waktunya kami berangkat bersama. Kendaraan dibantu oleh sekolah dan karcis sudah dibelikan oleh guru. Acara yang digelar adalah tari dan nyanyi. Aku mendapat tempat duduk agak di tengah. Jadi tidak terlalu ke depan. Beberapa lagu Tiongkok dalam bahasa Tionghoa, Sosialisme Baik misalnya, dinyanyikan oleh bintang kondang dari Ibu Kota (?) Mendapat sambutan gemuruh dari para hadirin. Yang lain ada taritarian daerah dan lagu Butet yang amat populer di Tiongkok jaman itu. Waktu kami pulang ke asrama, guru-guruku memberi komentar pendek, Hao. Hen hao! Baik. Sangat baik!

Beberapa orang dari kami sempat kumpul-kumpul di hari Minggu besoknya. Gunjingan meruyak ketubuh rombongan kesenian ini. Ada yang berpendapat tidak mencerminkan semangat revolusioner yang sedang berkobar-kobar di Indonesia ketika itu. Tari-tariannya cengeng. Menyajikan pasangan yang sedang dimabuk asmara. Berseloroh di bawah pohon nyiur di tepi pantai sebuah pulau di negeri ini. Diselingi suara angin yang garuk dan suara ombak yang basah. Kalah hebat memang dari tari tempurung atau tari lilin yang cukup dinamis itu. Memang untuk selera secara umum kita waktu itu memang terasa kurang garamnya. Karena di Tiongkok segala seuatunya dilihat dari tanda selarnya yaitu pengabidian yang tak bisa ditawar kecuali kepada buruh tani dan prajurit. Ini bisa kita saksikan bila kita menonton atau membaca karya-karya tulis mereka. Baik novel, cerpen, puisi, opera modern, balet dllnya, di situ akan kita temukan jelujur benang merah buruh, tani dan prajurit. Tapi bagiku: Kita tak bisa menagih hal yang serupa kepada rombongan kesenian ini. Tiongkok adalah Tiongkok. Negeri Sosialis. Indonesia adalah Indonesia yang masih berjuang untuk mencapai pembebasannya. Dua negeri dengan dua sistim. Kita tak bisa menuntut yang sama padanya. Jadi aku tidak bisa mengharapkan yang muluk-muluk. Aku puas dengan mendengarkan lagu-lagu Maju Tak Gentar, Halo-Halo Bandung. Lagu Acungkan Tinju Kita yang kutunggu tak muncul-muncul, aku hanya mengusap dada. Tapi ya, tarian yang mengangkat muda-mudi diamuk asmara itu lebih baik dicabut dalam acara pertunjukan. Maluku juga tak bisa ditebat.

Sebelum rombongan kesenian ini kembali ke Tanah Air, mereka mengadakan malam ramah-tamah yang diisi dengan beberapa macam pertunjukan. Sayup-sayup sampai sudah kudengar sebelumnya bahwa beberapa kritik mahasiswa di Beijing terhadap rombongan kesenian ini sudah membikin tidak senang Pak Pri. Baik kita lupakan dulu soal ini. Tempat malam ramah-tamah itu adalah di dalam kompleks Kedutaan.Tepatnya di dalam taman yang terletak di belakang gedung utama tempat tinggal keluarga Duta. Malam itu taman itu penuh dengan para hadirin. Kebanyakan dari masyarakat Indonesia dan tentu mahasiswa. Dari rombongan kesenian ini aku kenal dua orang yang datang dari Padang. Yang satu adalah adik penyanyi Nuskan Syarif, penyanyi Ayam Den Lapeh. Nuskan Syarif sendiri adalah guru menari kami di SGPD dulu. Sesungguhnya dia adalah guru SMP, tapi karena kami tak punya guru menari maka Bang Nuskan lah yang diminta. Beberapa orang penyanyi dan seorang pianis dari Jakarta adalah teman-teman yang akrab dari sananya.

Begitu acara sambut menyambut berakhir, panitia dari Kedutaan meminta padaku untuk memimpin acara kesenian dan ramah-tamah itu. Kini aku jadi pemandu. Berjalan lancar. Acara bebas yang dibuka dengan tari lenso dan diiringi dengan musik menyenandungkan lagu-lagu daerah dari Sabang sampai Mereuke telah membebaskanku dari tugas. Tiba-tiba Pak Pri menuju ke depan dan menangkap lenganku sambil berkata: Sejak kapan Nak di Beijing. Aku menjelaskan belum lama. Dibimbingnya aku ke dalam kelompok orang banyak. Eh aku dipertemukan dengan sang Pianis dan disuruh berdansa. Mujur kami sudah saling mengenal. Aku berterus terang padanya, bahwa aku tak bisa dansa. Tak apa-apa. Kita berdiri saja sambil omong-omong. Tentang situasi Tanah air terakhir dan bila aku berangkat ke Tiongkok. Aku mengenal Pak Pri karena agak sering menjadi anggota Delegasi IPPI mengunjungi beliau. Dan aku mengenai si Pianis karena dia adalah seorang anggota organisasi Pemuda Keturunan Tionghoa dari Baperki yang dalam kerja-kerja tertentu kami bersua. Matanya sipit, rambutnya keriting sedikit-sedikit. Setelah beberapa kali kakinya terijak oleh kakiku, aku ajak dia mencari tempat duduk.

Beberapa orang duduk di meja kami. Aku permisi sebentar. Kusalami Sekretaris Pak Pri. Aku ditanya lagi kapan ke Tiongkok? Kemudian kuteruskan untuk bicara dan bersalaman dengan teman-teman yang kukenal dari anggota rombongan ini. Ketika sampai pada giliran anak Padang itu, bukan adiknya Nuskan, kami saling bertatapan mata dalam-dalam. Aku tahu bahwa dia anggota HMI. Aku IPPI. Tapi aku punya cerita dengan dia. Begini:

Ketika di Padang, tahun 1961-1961,kami sama-sama anggota organisasi seni-sastra kaum remaja. Tapi karena waktuku terkebat oleh waktu sekolah dan tugas kewartawanan, jadi untuk aktif di dalam organisasi ini sudah tak sempat lagi. Selain itu aku adalah salah seorang pengasuh Ruangan Kebudayaan Arena Muda dalam Mingguan Mimbar Minggu, terbitan kota Padang. Dia sering mengirimkan sajak-sajaknya. Dan beberapa pernah kumuat. Setelah itu kami tak pernah bersua lagi.

Ketika terjadi demonstrasi besar-besaran melawan Inggris dan Ganyang Malaysia di Jakarta kami jumpa lagi. Di Jalan Diponegoro. Waktu itu, aku baru saja sampai setelah dari Kedutaan Inggris yang berdiri hadap-hadapan dengan Hotel Indonesia atau Tugu Selamat Datang itu. Gedung itu sudah mulai hangus dimakan api. Ribuan para demonstran telah melabrak pagar besi yang tak kuasa menahan arus anak manusia itu jadi roboh . Di beberapa jendela ruangan bertingkat dari Kedutaan itu sudah mengepul asap dan api. Kini arus anak manusia itu mengalir arah Jalan Diponegoro. Di depan rumah Duta Inggris ini arus terbendung. Dibendung oleh semangat anti Inggris dan Ganyang Malaysianya.

Aku menggabungkan diri dengan mereka. Kusaksikan batu berlayangan dan suara kaca jendela remuk berpecahan. Makin lama makin tak terbendungkan pula arus ini oleh para petugas dari Brigmob. Tidak cukup. Juga polisi. Tidak cukup. Pagar besinya sudah mulai digoyang. Teriakan-teriakan “Ganyang Inggris”, “Ganyang Malaysia”memang telah membakar semangat para demonstran yang masih muda belia itu. Mereka tampak seperti tak takut mati. Atau tidak tahu apa itu mati.

Kulihat seorang Kepala Polisi dengan bintang emas di bahunya, berteriak-teriak mencari dan menanyakan siapa pimpinan demonstrasi. Berkali-kali. Tapi tiada seorangpun yang mengangkat tangan atau mengaku menjadi pemimpinnya. Akhirnya aku ambil keputusan: Kuangkat tanganku. Aku pimpinannya! Pak, aku pimpinannya, kataku pada Kepala Polisi tersebut. Kemudian kuminta para demonstran jangan melempar batu lagi. Jangan berusaha masuk dengan merobohkan pagar besi itu lagi.

Mereka mendengarkannya. Kesempatan yang agak tenang ini digunakan Kepala Polisi bertanya padaku: Apa yang kalian maui? Akupun balikkan pertanyan ini kepada para demonstran yang makin lama makin berdesakan didepanku. Masa bersuara berteriak bersama. Aku rumuskan ada tiga tuntutan mereka pada waktu itu: 1).Turunkan bendera Inggris, naikkan Sangsaka Merah Putih; 2) Tulisi dinding rumah dengan “Ganyang Inggris, Ganyang Malaysia” 3). Hidup Bung Karno, Hidup Rakyat dan Polisi. Rumusan ini diterima mereka. Polisipun setuju.

Kepala Polisi itu sepakat denganku untuk mengirim hanya tiga orang saja yang masuk ke dalam pekarangan rumah Duta ini. Satu untuk penurunan dan penaikan bendera, yang dua orang lagi untuk menulis corat-coret yang sudah disepakati isinya. Aku tetap berdiri bersama massa demonstran. Tapi, ketika kusaksikan bahwa di antara yang bertiga itu tidak ada yang bisa memanjat ke lantai tiga dari gedung itu, dan waktu yang lama itu membangkitkan bringas lagi para demonstran dengan batu-batu mulai melayang lagi, aku minta pada Kepala Polisi untuk ikut masuk. Dizinkan.

Aku mulai memanjat tingkat demi tingkat dengan cara bergayutan pada lantai-lantai yang menonjol kedepan ruangan. Sampai ke tingkat tiga dimana bendera diturun dan dinaikan. Kuambil bendera yang terikat pada sebatang bambu tua. Bendera Inggris itu keseret turun. Massa kudengar berteriak membencinya. Kemudian aku naikkan Sangsaka Merah Putih. Aku mendapat kesulitan. Ketinggian bambu tidak menyamai ketinggian tiang bendera dari pipa sebesar lengan itu. Kupanjat. Melorot.

Kupanjat. Melorot. Aku ambil keputusan. Dengan bekas tali bendera yang telah kuturunkan tadi kuikatlah bambu tiang Sangsaka Merah Putih pada tiang bendera dari pipa besi di rumah Duta itu. Menggelepar. Aku turun. Massa berteriak-teriak menyambut tuntutan mereka bisa dilaksanakan. Akupun berteriak: Ganyang Imperialis Inggris – Ganyang Malaysia! Hidup Bung Barno – Hidup Rakyat dan Polisi!

Setelah aku kembali di tengah massa demonstran lagi, aku menyaksikan Sangsaka Merah Putih itu berkibar setengah tiang. Karena bambunya terikat pada tengah tiang dari pipa besi tiang sesungguhnya. Tahu nggak, dari siapa aku mendapatkan bendera ini. Ya, dari anak Padang itu.

Sekarang aku jumpa lagi di Beijing ini. Dan aku, waktu itu, bukanlah pemimpin dari demonstrasi!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s