Kongkow dari Kampung Pelacur

Hersri Setiawan:

Kongkow dari Kampung Pelacur
(kisah lahirnya himne “Bagimu Neg’ri” dan kroncong “Serenade”)

I

Tahun 1955.

Di sebuah kampung di tengah kota Yogya: Kampung Sosrowijayan. Kampung ini merupakan kampung sambungan selatan dari Kampung Balokan alias Pasar Kembang. Letaknya langsung di selatan stasion kereta api Yogya Kota: Stasion Tugu.

Disebut “balokan”, karena di sini banyak terdapat gudang “balok”, yaitu kayu bahan bangunan berbentuk persegi panjang. Seperti lazimnya dahulu, gudang-gudang balok demikian sengaja dibangun dekat stasion kereta api atau pelabuhan laut, fasilitas-fasilitas sarana angkutan. Kampung itu juga disebut “pasar kembang”. “Pasar” ialah tempat banyak orang saling bertemu dalam hubungan jual-beli – atau “baku pele” (baku-pilih) kata orang Buru. Dan “kembang” ialah “bunga”, kata pasemon untuk “perempuan”. Pasar Kembang Pasar Perempuan.

Di situ, di pasar-pasar seperti itu, perempuan-perempuan menjadikan (atau lebih tepat “terpaksa menjadikan”) tubuh mereka sebagai barang dagangan. Mereka dipajang (baca: disiapkan) di etalase (baca: bilik-bilik), menunggu laki-laki calon-calon pembeli. Juga seperti halnya balok-balok kayu bangunan, perempuan-perempuan komoditi ini ditata dan ditimbun di dekat stasion kereta api atau pelabuhan laut. Karena di sanalah tempat-tempat, di mana banyak calon pembeli datang-pergi.

Perempuan komoditi itu lantas diberi etiket secara sepihak: Pelacur. Atau, dalam kosakata Dharma Wanita yang sok-sopan, disebut “wanita tuna susila”, atau dalam akronim bahasa Indonesia Orde $uharto yang ala militer menjadi “watunas”. Makanya reformasi juga perlu dilancarkan di bidang kebahasaan. Karena di sinilah wacana konseptual rejim yang paling keras tapi tanpa terasa. Bukan?)

Pemberian etiket secara sepihak. Maka itu tidak adil dan sewenang-wenang. Karena bukanlah si perempuan yang berbuat lacur dan serong, tetapi si laki-laki, yang mendaku diri sebagai subjek itulah, yang sejatinya lacur dan serong. Si laki-laki itulah yang “tuna susila”. Lihatlah relief Monumen “Pancasila Sakti” di Lubang Buaya itu. Begitu terang di sana, bagaimana isi benak si Laki-Laki Tentara telah mempelacurkan Gerwani. (Biasanya aku tak suka memakai istilah “benak”, karena “benak” itu bukan “otak” tapi “molo” atau “utek”. Tapi di sini kupakai istilah “benak”, karena yang bersangkutan memang tidak berotak, tapi cuma bermolo!) Jadi, jika dirunut dari kejadian pembasmian Gerwani akhir 1965 yang lalu, menjadi jelas siapa dalang di belakang layar kebiadaban medio Mei yang telah melanda saudara-saudara kita kaum perempuan suku Tionghwa itu.

Aku lantas ingat, alangkah simpatiknya itu sajak Rendra: “Pelacur se Jakarta, Bersatulah!” Aku lantas ingat, betapa tepatnya itu “Selamat Tinggal Indonesia” Ruth Havelaar, yang menyebut dalam satu tarikan napas: Pelacur dan ET-G30S-PKI. Karena mereka itu adalah pariah-pariah “masyarakat Indonesia”, yang tak pantas menerima santiaji-santiaji 1001 doktrin Orde Bau Militer/$uharto. Karena doktrin-doktrin rejim Orde $uharto itu terlalu keramat untuk ditangkap telinga Pelacur dan ET-PKI. O, alangkah bahagia mereka! Karena mereka tidak tergolong ke dalam gerombolan bangsa(t) perampok-perampok hak asasi manusia sesama.

Mari kita kembali ke Kampung Sosrowijayan.

Sosrowijayan, karena bertetangga dengan kampung pelacur-pelacur-kampung- an, bagi pandangan mata “masyarakat sopan” tentu saja merupakan kampung yang tak baik namanya. Kampung yang, dalam bahasa Orde Bau, semacam “tak bersih lingkungan”. Mula-mula “tak bersih lingkungan” dari sudut susila, tapi kemudian juga dari sudut politik. Karena ternyata daerah perkampungan ini merupakan “daerah merah”. “Kampung PKI”! Tapi bagi mahasiswa yang isi kantungnya pas-pasan, kampung kumuh itu menarik. Merah, putih, atau hijau … tak peduli! Karena yang mereka peduli, bahwa di situ sewa kos murah. Lagi pula aman, asalkan kita suka bergaul dengan tetangga. Apa buruknya bergaul baik-baik dengan tetangga, bukan?

Di kampung ini tinggal salah seorang sobat kentalku. Sukarno Wirjono alias Sk. Wirjono, seperti ia sendiri suka menuliskannya. Aku, juga banyak teman-temannya, biasa menyapanya: Mas Eska. Ia berasal Solo. Di belah penjuru Solo yang mana, sebutan “wiryono” cukup menjadi petunjuk. Ia berasal dari keluarga pengusaha batik Kampung Lawiyan, tempat lahirnya Sarekat Dagang Islam. (Kata “lawiyan” tentu saja berasal dari kata “lawe + an”: tempat benang tenun).

Mas Eska mahasiswa pedagogi Universitas Gajahmada, nyambi bekerja di Jawatan Kebudayaan DIY. Satu kantor dengan banyak seniman: Kusbini, buaya kroncong, S. Kirdjomuljo, penyair, N. Simanungkalit, komponis, dan beberapa lagi. Ia kukenal melalui karangan-karangannya, puisi dan esai, yang diterbitkan melalui majalah “Budaja” (Yogya) dan “Pena” (Solo). Sesudah Utomo Ramelan diangkat menjadi Walikota Solo, Mas Eska kembali ke Solo dan menjadi sekretaris Walikota. Kedua-duanya ditangkap dengan terjadinya G30S 1965. Utomo Ramelan meninggal. Mas Eska sakit gila, akibat setruman dan berbagai macam siksaan fisik dan mental.

Petang itu aku bersepeda menuju ke rumah Mas Eska. Di Malioboro aku bertemu Mas Har, Harsono Setiadi. Sobat sefakultas HESP di Pagelaran. Ia berasal Banyuwangi, suka menulis terutama puisi, dan bernama-pena Nusananta. Sajaknya yang paling berkesan padaku “Gerilya Kehabisan Peluru”, bermatra dan irama soneta, terbit di “HR Kebudayaan”. Sesudah bergelar doktorandus, ia menjadi Kepala Jawatan Kebudayaan Jawa Tengah di Semarang, tidak terlalu lama menjelang pecahnya tragedi nasional September 1965. Ia ditangkap karena ketokohannya di HSI (Himpunan Sarjana Indonesia) Cabang Semarang, kemudian dibuang ke Pulau Buru, dan meninggal tak lama sesudah “dikembalikan ke masyarakat” tahun 1978.

“Ke rumah Mas Eska yuk!” Ajakku.
“Ayo!” Jawabnya.

Kami berdua lalu meneruskan bersepeda. Menuju ke rumah Mas Eska, yang tak lagi jauh dari ujung Jalan Malioboro. Begitulah adat masyarakat Yogya ketika itu. Benda yang bernama telpon, masih terlalu asing bagikehidupan sehari-hari. Budaya asprak belum dikenal di kalangan masyarakat
Yogya tradisional. Bahkan juga di kalangan kaum muda dan mahasiswa, yang tidak tak acuh pada soal-soal dunia di sekitar. Mau datang ke rumah kawan, datang begitu saja. Asal saja dia tidak sedang berhalangan, menghadapi test tentamen atau ujian, kita pasti tidak akan ibarat gayung tak bersambut.

II

Rumah kos Mas Eska memang rumah kampung yang sederhana dan tampil seadanya saja. Berdinding gedek, sekat-sekat bilik juga gedek, tanpa langit-langit, dan berlantai tanah. Di sisi sana, bersitentang gedek penyekat bilik pemilik rumah, sebuah meja dengan dua kursi. Meja makan dan sekaligus meja kerja Mas Eska. Di tengah ruangan empat kursi rotan mengelilingi sebuah meja bundar, tempat Mas Eska menemui tamu-tamunya. Di atas meja ini, tak lama sesudah kami duduk, dihidangkan satu cething kacang rebus, satu piring balok – yaitu goreng singkong – satu teko besar kopi tubruk, satu gendi air putih, dan beberapa gelas kosong.

Pembicaraan ngalor-ngidul tentang berbagai topik. Listrik yang sering oglangan (istilah Solo untuk byar-pet), sehingga menggangu belajar. Mutu diktat-diktat kuliah yang buruk. Kegiatan rapat dan pertunjukan yang harus seijin DPKN 1). Kaum tani di desa sana yang menolak “bawon mara
pitu” 2). Penduduk Gunungkidul yang menolak ditransmigrasi. Film-film Barat dan Amerika yang membanjir. Film-film India dan Malaya yang mengungguli film Indonesia, dan film-film Indonesia yang terlempar dari gedung bioskop dan menjadi tontonan “misbar”. Kalau gerimis penonton bubar, karena diputar di lapangan terbuka.

“Nha, kebetulan nih. Kebetulan!” Seru Kusbini yang tiba-tiba saja sudah berdiri di ambang pintu.

“Hei Pak Kus!” Sahut Mas Eska. “Masuk Pak, masuk. Ya. Memang. Memang kebetulan …, Pak Kus datang.”

“Kebetulan.” Katanya sambil menarik kursi. “Kebetulan pemimpin-pemimpin mahasiswa sedang kumpul. Saya mau protes!”

“Lho! Protes apa?”

“Sudah berapa kali Dies Natalis Gajahmada diramaikan dengan lomba Bintang Suara Mahasiswa-Mahasiswi? Tapi sampai sekarang yang dilombakan hanya dua jenis lagu. Seriosa dan Hiburan. Tanpa keroncong! Kenapa?”

“Benar. Tapi Pak Kus kan tahu? Dunia ilmu dan ilmuwan kita ini bertengger di menara gading?”

“UI dan ITB saya ngerti. Itu perguruan tinggi peninggalan kolonial. Tapi Gajahmada?! Ini universitas revolusi! Bersihkan itu, dong! Segala bentuk textbook thinking, pikiran blandis, jiwa kintel! Seperti dibilang Bung Karno …”

Mas Eska tertawa.

“Wow, dasar Pak Kus fanatik Bung Karno, sih! Tentu saja …”

“Lho, kenapa tidak? Saya memang fanatik. Tapi ada alasannya. Bung Karno itu orangnya peka dan mumpuni.”

Kusbini lalu cerita tentang perjumpaannya dengan Bung Karno di depan Gedung Menteng 31 Jakarta. Mereka terlibat dialog singkat, di sekitar himne “Bagimu Neg’ri” yang digubahnya (1942), dan siap akan disiarkan melalui Rajio Hoshokyoku. Baris terakhir syair himne itu semula berbunyi
“Bagimu Neg’ri, Indonesia Raya.”

“Bung Karno sebentar diam.” Cerita Kusbini melanjutkan. “Lalu menggelengkan kepala. ‘Tidak,’ kata Bung Karno. ‘Indonesia Raya tidak tepat, Mas Kus. Rubahlah syairnya.”

Kusbini termangu. Justru karena pendapat itu datang dari seorang Sukarno. Abdi terbesar Rakyat Indonesia, tidak setuju himne “Bagimu neg’ri” ditutup dengan kata-kata “Indonesia Raya”! Hati Kusbini tersentuh. Justru karena pendapat itu tidak dikemukakannya dengan perintah: harus begini harus begitu. Sukarno bukan seorang pendikte kemauan pribadinya. Ia seorang pamong Tamansiswa yang konsekuen dengan asas dan metode “tut wuri handayani”.

Berhari-hari Kusbini merenung. Mencari dan mencari. Bung Karno benar, katanya dalam hati. Himne bukanlah slogan. Ia lalu surut, dari angan-angan politik ke keberadaan diri di tengah kancah politik
kebangsaan. Diri sendiri itulah himne yang hendak dipersembahkannya. Jiwa raga sendiri itulah himne, yang hendak dipersembahi dan dipersembahkan: “Bagimu Neg’ri”. Maka kata-kata muluk “Indonesia Raya” diubahnya menjadi katakata yang tulus bersujud: “Jiwa raga kami” …

Angin sejuk menyelinap masuk melalui celah-celah dinding. Pertanda malam telah semakin turun. Cething kacang rebus, piring balok,dan teko kopi tubruk sudah diisi lagi oleh Bu Iyah, pemilik kos. Suara bisik percakapan orang bergadang, dan ledak tawa orang-orang main ceki, hanya menambah sepi suasana yang mengais keindahan mimpi.

Bunyi radio tetangga tak lagi terdengar.

“Lho. Siaran ludruk sudah berhenti, ya?” Kata Kusbini. “Sudah liwat tengah malam kalau begitu …?” Katanya lagi sambil melihat arlojinya.

“Memang banyak orang Surabaya di sini, Mas Eska?”

“Terutama Madura, Dik!” Kusbini lagi yang menyahut. “Perempuan Madura kan Ratu lampu merah?”

“Pak Kus!” Sahut Mas Har serius. “Petang tadi Pak Kus protes karena kroncong. Ludruk lebih-lebih lagi, Pak. Jangankan masuk Sitinggil 3), keluar dari kampung kumuh saja dihalangi para priayi!”

“Kesenian pesisir, Dik. Sedang Jogya dan Solo kan, namanya saja juga vorstenlanden. Lalu disusul jadi ibukota lagi. Tempat borjuis-borjuis berkumpul berkuasa.”

“Selain itu, Pak Kus, di masyarakat ini ada dua golongan. Golongan ongkang-ongkang dan golongan membanting tulang. Untuk yang pertama, entah borjuis entah feodal, kesenian itu “klangenan”; sedang untuk yang kedua, entah buruh pabrik entah buruh tani, kesenian itu “kagunan”.

“Klangenan itu selir. Dan kroncong, ludruk ketoprak itu balon 4), begitu?” Kelakar Kusbini disambut tertawa kami serempak.

Suara lokomotif langsir melengking. Nafasnya berdengus-dengus. Beberapa jurus kami sibuk dengan pikiran masing-masing. Tiba-tiba terdengar lamat suara emprit gantil, barangkali dari dahan pohon munggur di mulut gang sana: tit-tit.tit–tit-tit.tit-tit-tit–tit.tiiir …

Burung pisosurit, kata Batara Lubis suatu hari. Sobat pelukis sanggar Pelukis Rakyat di Sentul Yogya. Menurut ceritanya pisosurit burung di-jadian seorang pemuda, seperti Sampek, yang kasihnya tak sampai. Bedanya pemuda Sampek bukannya menjadi burung, tetapi menjadi kupu-kupu kuning dan batu hitam. Setiap malam Pisosurit, dengan seruling buluh perindunya, menyanyikan lagu dendam asmaranya kepada sang Kekasih. Ibarat burung pungguk merindukan bulan.

“Lagu malam, Pak Kus.”

“Ya lagu malam”, ulang Kusbini tanpa emosi. Tapi tiba-tiba ia bangkit dari tempat duduk, sambil menggebrak meja.

Telunjuknya gemetaran ke arah mukaku.

“Ya , benar. Lagu malam Dik, lagu malam. Serenade. Kroncong Serenade!” Katanya menyala-nyala. “Sudah bertahun-tahun, sejak jaman NIROM 5), Kusbini kerja keras mengangkat kroncong. Sekarang harus berhasil. Harus. Mas Eska, dan adik berdua jadi saksi, ya!? Kalau tahun depan Kroncong “Serenade” belum masuk Pagelaran, potong jari kelingking Kusbini!” Sumpahnya sambil menjentikkan ibu jari ke kelingking tangan kanannya.

Kusbini lalu bercerita tentang pekerjaan rintisannya, sejak masih bekerja di NIROM dan memimpin Studio Orkest Surabaya (SOS). Pergelaran kroncong diselenggarakannya secara orkestral. Tidak sekedar dengan 5-7 orang, tapi 30-an orang lebih memainkannya. Tidak hanya dengan
alat-alat ukulele, gitar, cello, dan biola; tetapi juga dengan piano dan alat-alat tiup, seperti klarinet, saksofon, dwarsfluit (suling lintang) dll. Tidak hanya dalam hal orkestrasi, tapi juga syair dan komposisinya Kusbini mengusahakan pembaruan. Seperti S.Sudjojono bersama “Persagi” (1936)
membebaskan senilukis Indonesia dari buaian “Mooi Indie”, Kusbini berusaha memperlihatkan: bahwa kroncong bukan seni musik dekaden. Kroncong bukanlah sekedar ratapan sedu sedan kasih yang tak sampai, kekenesan putri Solo, atau keagungan beku Majapahit dan Sriwijaya saja. Maka digubahnya lagu-lagu dari syair-syair “serius” para sastrawan,seperti “Rela” (Aoh Kartahadimaja), “Pagar Ayu” (Sri Murtono), “Daun Pagi” (S. Kirdjomuljo), “Bintang Senjakala” (Armijn Pane), dll.

Kami bertiga diam terharu. Yang menyusul terdengar suara “Buaya Keroncong” itu bersenandung. Kalimat demi kalimat, terkadang kata demi kata, berhenti dan diulang, berhenti dan diulang. Lalu menyusul kata dan kalimat patah demi patah:

“Sayup-sayup rintih,
buluh perindu;
laras sepi malam hari,
irama jiwa lara.
Lagu malam hari,”

“Nah, Dik! Kita naik sekarang. Naik! Kita obrak-abrik itu Menara Gading Suralaya:

“membubung meninggi,
membelah angkasa raya,
naik turun … naik turun …”

Kusbini berhenti menyanyi. Suaranya merendah, mengulang-ulang sepatah baris syair yang buntu.

Sementara itu suara azan subuh mesjid Syuhada di seberang Kretek Kewek sudah terdengar. Kokok ayam jantan pun mulai bersahut-sahutan. “Lagu Malam” akan segera berakhir. Maka seperti dipacu pula Kusbini harus menutup gubahannya kroncong “Serenade”:

“laju lagu laju
fajar ‘nyingkap tirai
matahari menyambut riamu …”

***

(Habis)
_______________________________

Catatan Akhir:

1 DPKN, Dinas Pengawasan Keamanan Negara, bagian dari Kantor Kepolisian.

2 bawon, upah natura bagi buruh panen (padi); mara pitu, bagi tujuh (1:7),
artinya 1 bagian untuk buruh, 7 bagian untuk pemilik.

3 siti(h)inggil, tanah tinggi di belakang pagelaran, tempat raja duduk di
atas tahta ber-s=E9waka (beraudiensi); dalam awal sejarah RI dipinjamkan
Sultan HB IX kepada Universitas Gajahmada sebagai induk kampus,
menjadi semacam “pendapa agung” untuk “ibu pawiyatan” Taman Siswa.

4 balon, dialek surabayan untuk “pelacur”.

5 NIROM, Nederlandsch Indische Radio Omroep Maatschappij; perusahaan
siaran radio Hindia Belanda yang dilindungi pemerintah; siarannya
tidak memenuhi aspirasi politik dan budaya bangsa Indonesia, maka
berdirilah sebagai tandingan MAVRO (Mataramse Vereniging voor Radio
Omroep), SRV (Solo), CIRVO (Chinese en Inheemse Radio Luisteraars
Vereniging Oost Java), dll. Di jaman Jepang semuanya ditutup, hanya ada
satu: Rajio Hoshokyoku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s