Kesadaran Kebudayaan Rakyat

Kisah Remaja:

KESADARAN KEBUDAYAAN RAKYAT

Oleh: Hersri Setiawan

Selama di SMA rasa rendah diriku bukan main besar. Terlebih-lebih sesudah di klas III. Barangkali ada hubungannya dengan umur yang memasuki masa sturm und drang atau pancaroba jiwa. Semua teman-temanku se sekolah, sesudah duduk di klas III, mulai memakai celana panjang. Hanya ada dua anak yang tidak, salah satunya ialah aku. Semua anak bersepatu. Hanya ada satu anak yang tetap bercakar-ayam. Dan itulah aku. Aku baru bersepatu, itu pun hanya sepatu sandal murahan, seingatku baru sesudah menjelang akhir tahun
pelajaran.

Begitu parahnya kompleks inferior ku. Sampai aku malu, setiap jam-jam istirahat, keluar klas dan berkumpul ngobrol atau bermain dengan teman-temanku. Aku tetap tinggal di klas. Membaca. Bacaan apa saja. Tentu
bukan buku atau catatan pelajaran ilmu pasti. Karena bagiku ilmu pasti bukanlah ilmu yang bisa dibaca. Maka karena itulah aku, dalam beberapa mata pelajaran tertentu, menjadi lebih pandai ketimbang teman-temanku seklas.

Selain dalam sejarah, seperti pernah kuceritakan, juga dalam pelajaran-pelajaran ilmu sosial lainnya. Ekonomi, tatanegara, etnologi atau sekarang disebut antropologi, sejarah kebudayaan, bahasa Indonesia, Jawa Baru dan Kawi. Bahasa asing? Tidak pernah aku mendapat nilai lebih dari 7. Pak Ali, guruku bahasa Inggris di SMP, bahkan sampai marah besar kepadaku. Mukanya menjadi merah padam seperti kepiting terbakar.

Buku catatanku diremas-remas dan dibanting ke mukaku. Karena, kata Pak Guru asal Semarang yang pantang tertawa itu, tak ada gunanya aku mencatat-catat pelajarannya …

Sejak itu aku menjadi benci belajar bahasa Inggris. Angka 4 di rapor kuterima dengan ikhlas. Tapi kepada diri sendiri aku berjanji: Kelak, pada ujian penghabisan, aku akan belajar untuk menyongsongnya. Angka 6 harus
kuraih. Dalam ilmu pasti dan bahasa asing nilaiku selalu jeblok. Tapi sebaliknya dalam mata pelajaran mata pelajaran yang lain. Kalau tidak lebih dari teman-temanku seklas, paling tidak prestasi rata-rata yang kuperoleh.

Karena kelebihanku dalam beberapa mata pelajaran itu, maka aku mendapat kesayangan dari beberapa guru. Seingatku tidak sedikit guru-guru yang menyayangi aku. Mereka itu: Pak F.X. Maryono, guru sejarah; Pak A. Sutiyoso, guru ekonomi (belakangan pernah menjadi dekan Universitas “Atmajaya” Yogya);

Pak Purwoko, guru tatanegara; Ibu Umi, guru bahasa Jawa Baru; Pak Anton Timur Djaelani, guru Bahasa dan Sastra Indonesia; Ki RDS Hadiwidjana dan Pak Padma (Joodkali), guru Bahasa Jawa Kuno/Kawi.

Sahabatku laki-laki dan perempuan, yang sebenar sahabat, tentu saja tidak banyak. Di antara mereka itu, ada tiga teman perempuan yang sejatinya kurasa memperhatikan aku. Mungkin karena rasa iba dan kasihan melihat
penampilanku yang miskin, tapi mungkin juga karena ada kelebihanku tertentu dalam mata pelajaran tertentu itu. Tapi aku tentu saja tidak berani mendekat lebih dari sekedar sebagai teman sekelas. Aku hanya anak kampung yang berkaki cakar ayam. Beda dengan teman-temanku laki-laki umumnya yang, walaupun tidak begitu pandai, berasal dari keluarga “orang gedongan”.

Aku dihinggapi rasa enggan dan rendah diri yang luar biasa dalam. Aku menjadi selalu merasa terpencil, yang sebenarnya timbul sebagai akibat sikapku sendiri yang memencilkan diri. Aku seperti berdiri di sudut kamar,
sementara teman-temanku berkumpul dengan berbagai tingkah dan senda bicara di ruangan. Aku menjadi seperti seorang pengamat diam-diam terhadap mereka.

Suatu ketika pelajaran bahasa Jawa Kawi tidak ada. Pak Joodkali entah karena apa, tidak hadir. Karena nilaiku untuk pelajaran ini paling baik di antara teman-teman, tidak pernah aku mendapat nilai di bawah 8, aku selalu
ditunjuk Pak Joodkali mewakili beliau. Mendiktekan bahan pelajaran, atau menuliskannya di papan tulis, untuk teman-teman seklas. Karena guru tidak ada, biasa anak-anak sekolah! Ramai bukan main. Masing-masing ngobrol dengan pembicaraan mereka sendiri-sendiri. Tiba-tiba salah seorang teman, Swandono namanya, mungkin juga tanpa sadar, melontarkan suaranya: sepenggal baris tembang Jawa “Gambang Suling”. Merdu nada-nada lagu itu, juga indah suara temanku yang menyanyikannya itu. Ia memang seorang bangsawan Jawa, yang tentu saja lebih akrab dengan kesenian Jawa, baik secara lahir maupun jiwa. Aku kaget mendengar reaksi spontan teman-teman. Mereka tertawa dan menyerukan kata-kata yang tak menentu. Tapi inti dan isinya melecehkan. Aku merasa tertusuk. Diam-diam kudekati Swandono yang mukanya merah padam, entah karena
malu entah karena marah.

“Swan!” Kataku.

Dia berpaling tanpa suara. Hanya lekumnya kutangkap turun naik. Seperti mendinginkan ganjalan perasaannya dengan air ludah yang ditelannya.

“Kau hafal lagu itu?” Tanyaku.

“Ya. Kenapa?”

“Bisa kau mencatatkan untuk aku?”

“Kata-katanya bisa. Tapi nada-nadanya … Bagaimana, kalau besok saja kubawakan dari rumah?”

“Bagus. Terimakasih. Aku senang lagu itu. Itu kan gubahan Nartosabdo,
pemain Gareng Sri Wedari?”

“Ya. Benar. Kok tahu kamu?”

Aku tidak menjawab. Kami lalu bersahabat. Perhatian salah seorang teman perempuan seklas, Siti Swadesi, kepadaku menjadi lebih besar kurasa.

Dia juga seorang anak bangsawan. Bupati Wanasari. Di jaman itu pejabat bupati di seluruh Jawa semuanya orang-orang berdarah biru. Beda dengan di jaman Orde $uharto sampai sekarang. Semua bupati jendral!

Kali lain terjadi lagi pelecehan terhadap kesenian Jawa. Juga terjadi pada saat jam pelajaran kosong. Kali ini pelajaran sejarah. Juga aku mendapat tugas dari Pak Maryono untuk menuliskan bahan pelajaran di papan tulis.

Tentang pandangan dunia jenseitig Abad Pertengahan versus diesseitig abad Renesans. Sekarang terhadap kesenian ketoprak. Seorang teman, Yamsu namanya. Di tengah- tengah keheningan klas, ia terdengar berseru. Mungkin juga tanpa disadarinya sendiri, menirukan gaya bicara Cokrojiyo, bintang ketoprak Mataram paling andal ketika itu. Seluruh teman menyahut dengan ledakan tawa yang melecehkan. Sekaligus kutangkap sebagai pelecehan terhadap Yamsu yang, walaupun tidak semiskin aku, memang “anak kampung” dan dari kalangan “orang kebanyakan”. Aku, walaupun miskin dan anak kampung juga, barangkali mereka lihat – bagaimanapun – sebagai anak dari kalangan “priyayi”. Sekali lagi perasaan keindahan seni Jawaku terpukul, menangkap pengalaman itu. Aku lalu berjanji pada diri sendiri. Kebudayaan kampung ini harus diangkat dan dibela.

Pada suatu malam, Rebo malam, aku keluar dengan sepedaku. Pada hari itu, setiap minggu, Radio Republik Indonesia studio Yogya selalu menyiarkan acara Ketoprak Mataram. Sampai jam 12 tengah malam, mulai dari jam 21:30 sesudah siaran Warta Berita bahasa daerah dan acara “Obrolan Pak Besut”. Aku anak kampung Panembahan. Sebuah kampung padat di sebelah timur kraton Sultan. Kukayuh sepedaku ke daerah Kotabaru. Sebuah kawasan “baru” bagi kota Yogya tradisional, yang di jaman Belanda dulu tempat tinggal orang-orang Belanda dan para amtenar tinggi. Tempat tinggal “orang gedongan”, istilah sekarang. Kebudayaan mereka pun tentu saja berkiblat ke kebudayaan “modern”, yang dikaitkan dengan Dunia Barat.

Sengaja kukitari jalan-jalan raya yang beraspal mulus di Kotabaru. Pelan-pelan sepeda kukayuh, sambil memasang tajam-tajam telingaku. Acara radio apa, kiranya yang mereka setel pada malam itu? Aku gembira: ternyata mereka pun menyetel siaran Ketoprak Mataram. Tapi aku kesal, karena sikap mereka yang munafik. Berbeda dengan radioku di rumah yang disetel keras-keras seperti pasar-malam, dan orang-orang kampung tetangga sekitar duduk mendengarkan di pendapa rumah kami. Di rumah-rumah gedongan itu mereka
menyetel lamat-lamat, pintu tertutup rapat, dan tidak seorang tetangga datang berkumpul. Tentu bukan saja karena masing-masing punya pesawat radionya sendiri, tapi juga karena rasa malu. “Selera kampung” nya diketahui orang lain … (Bersambung: Lahirnya Kroncong “Serenade”)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s