Abad Revolusi I: Abad siapa? Milenium siapa?

Refleksi atas zaman kita

Aijaz Ahmad

Ada banyak ciri dari peradaban modern, yang postif maupun yang destruktif, yang khas abad ke-20, baik karena ciri-ciri tersebut tidak ada di masa lalu, atau yang lebih lazim, karena ciri-ciri ini telah berubah di luar yang kita bayangkan. Kebanyakan narasi mengedepankan persoalan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang asalnya bukan abad ini tetapi telah mengubah kumulatif seluruh pola keberadaan manusia dengan cara-cara yang tak terbayangkan pada akhir abad sebelumnya. Misalnya dikemukakan bahwa pada abad ke-20 terjadi perkembangan besar kekuatan-kekuatan produksi, yang menghasilkan peningkatan besar kapasitas umat manusia untuk memproduksi kekayaan, yang lebih besar daripada seluruh abad dan milenia sebelumnya. Perubahan teknologi yang pesat ini jelas terlihat dalam produksi industri dan teknologi informasi; bahkan dalam pertanian perubahannya begitu dramatis sehingga kaum tani dalam pengertian lama, pertanian pemenuhan kebutuhan sendiri dan produksi untuk digunakan secara lokal dengan alat-alat bukan industri, sekarang di sebagian terbesar dunia sedang menghilang. Pada ujung lain pencapaian ini, aspek destruktif teknologi mendatangkan ancaman pada lingkungan alam, yang untuk pertama kali dalam sejarah umat manusia, sehingga tidak jelas apakah spesies, ataukah planet itu sendiri, bisa selamat dari kehancuran.

Dengan kata lain, secara anekdotal orang bisa mengisolasi ciri ini atau itu, menurut selera atau minatnya, atau orang bisa sekadar membuat daftar sembarangan ciri-ciri terisolasi itu. Banyak dari ciri itu sangat penting. Akan tetapi pertama-tama sangat penting membuat gambar yang koheren tentang zaman kita, meskipun abad ini berakhir di tengah-tengah deklarasi yang gegap-gempita tentang akhir dari begitu banyak yang lain: tamatnya ideologi, tamatnya sejarah, tamatnya modernitas, tamatnya sosialisme, tamatnya bangsa dan negara-bangsa, dan sebagainya. Saya dalam tulisan lain menggunakan istilah “Pasca Kondisi” suasana pemikiran pascamodern yang tampaknya berkubang dalam ketemaraman yang permanen. Tetapi, untuk membuat gambar yang koheren tentang abad yang sekarang mengabur ke masa lalu, paling baik mengingat kembali aspirasi-aspirasi dan perjuangan-perjuangan sentralnya; semuanya, termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi, bisa dipandang dalam perspektif yang tepat. Kemudian, dalam tulisan ini saya akan berkomentar dengan cara yang sangat umum tentang apa yang merupakan ciri pendefinisi abad ini. (Esai-esai selanjutnya dalam seri ini akan menyoroti soal-soal yang lebih khusus.) Ketika mulai merefleksikan abad ke-20, perlu sedikit pemahaman untuk mengerti bahwa apa yang membuat abad ini khas dalam seluruh abad milenium yang sekarang juga sedang mendekati akhirnya, dan seluruh milenium yang sebelumnya, adalah bahwa sosialisme muncul sebagai fakta sentral sekitar mana hampir semua aspirasi dan konflik pada skala global terbentuk: perjuangan untuk dan menentang sosialisme, pencapaian untuk mewujudkannya, kegagalan dan kekalahannya, sekutu-sekutu dan musuh-musuhnya, perang (panas dan dingin), penumpahan darah tetapi juga kebesarannya.

Itu adalah salah satu cara untuk mengatakannya. Sama bisa dimengertinya, orang bisa mengatakan bahwa abad ini dibentuk sebagai segi tiga oleh kekuasaan imperialis di satu sisi, dan perjuangan menentang kekuasaannya pada sisi lain, yang dilancarkannya, utamanya oleh kekuatan-kekuatan sosialisme dan pembebasan nasional. Tidak satupun dari kekuatan-kekuatan ini berasal dari abad ke-20. Sejarah kapitalisme kolonialis merentang sepanjang setengah milenium, dan tak satupun rakyat yang disapu-bersih oleh kolonialisme tanpa melakukan perjuangan; dalam pengertian ini anti-kolonialisme itu sama tuanya dengan kolonialisme itu sendiri. Dan, sejumlah gagasan awal tentang sosialisme muncul pada akhir abad ke-18, di dalam kawah Revolusi Prancis. Karena itu gagasan sosialisme itu sama tuanya dengan gagasan tentang revolusi itu sendiri, dalam pengertian modern; dan, pada pertengahan abad ke-19, Marx dan Engels telah mulai merumuskan teori tentang revolusi proletariat yang diwarisi oleh abad ke-20. Akan tetapi, semua kekuatan ini – kapitalisme dan kolonialisme, serta sosialisme dan pembebasan nasional anti-kolonial – mengalami perubahan besar-besaran selama abad ke-20. Mengingat beberapa rinciannya memberi kita perspektif yang baik tentang perubahan-perubahan yang sangat penting ini.

Partai-partai massa kelas buruh memang muncul di Eropa pada perempat terakhir abad ke-19, dan pada dasawarsa 1920-an partai-partai itu telah menduduki posisi-posisi penting di Parlemen, bahkan memenangkan pluralitas suara di negeri-negeri seperti Jerman, Austria, Belgia, Swedia, Norwegia, Findlandia, Italia, dan Negeri Belanda. Akan tetapi Revolusi Bolshevik adalah peristiwa kunci yang mengajukan persoalan perubahan revolusioner pada agenda di sejumlah negeri. Kombinasi partai-partai massa kelas buruh dan kemungkinan revolusi di seluruh benua [Eropa] inilah yang menghasilkan gejala fasisme. Tidak mengherankan bahwa fasisme paling ganas di empat negeri ini – Spanyol, Jerman, Italia, dan Austria – yang gerakan buruhnya paling kuat. Juga tidak mengejutkan bahwa kecenderungan-kecenderungan fasistis Kanan Jauh terus menjadi kecenderungan yang tepat waktu di zaman imperialisme sepanjang abad ini pada tingkat global.

Tetapi Revolusi Bolshevik juga mengubah politik sosialis dari gejala Eropa menjadi gejala internasional, gejala global. Transformasi ini disebabkan oleh lima faktor. Bahwa pemutusan revolusioner pertama kali terjadi di masyarakat Russia yang umumnya agraris menghasilkan perubahan besar dalam teori revolusi, menempatkan persekutuan buruh-petani sebagai prasyarat bagi politik proletariat, yang dengan demikian membuka jalan bagi kaum tani untuk muncul sebagai kekuatan revolusioner. Semua revolusi yang meletus sesudah Revolusi Bolshevik terjadi di masyarakat yang umumnya petani. Kedua, teori Bolshevik, seperti yang dikemukakan oleh Lenin dan kawan-kawannya, serta menentang semua arus pemikiran borjuis Eropa, mengakui keabsahan persoalan nasional dan kolonial, yang dengan demikian mengakui perlunya perang pembebasan nasional di seluruh Asia, Afrika, Amerika Latin dan di sudut-sudut Eropa sendiri. Semua revolusi sosialis sesudahnya punya hubungan intrinsik dengan nasionalisme revolusioner dan anti-imperialisme, sedang politik komunis punya pengaruh yang besar pada banyak gerakan nasionalis, dari India sampai Afrika Selatan. Ketiga, Komunis Internasional (Komintern) selama dua dasawarsa atau lebih merupakan tempat banyak orang revolusioner belajar mengenai teori dan praktek revolusi sosialis dan sebagai forum kaum militan dari seluruh dunia untuk belajar satu sama lain secara langsung, dengan sedikit halangan bahasa, ras, wilayah atau agama. Keempat, teori dan praktek sosialisme menjunjung tinggi gagasan bahwa perubahan revolusioner diperlukan tidak hanya oleh kelas-kelas yang terbentuk di wilayah pemilikan dan produksi – dengan kata lain, buruh dan petani – tetapi juga oleh seluruh kelompok sosial yang menghadapi berbagai macam penindasan: kaum perempuan sebagai kaum perempuan, kaum minoritas sebagai kaum minoritas, golongan pengrajin yang diluluh-lantakkan oleh pasar kapitalis, kelompok-kelompok bahasa, satuan-satuan budaya, dan sebagainya; bahwa perempuan seluruh bangsa atau agama punya kepentingan yang sama – gagasan tentang Internasional Perempuan, misalnya, pertama tumbuh di medan sosialis, jauh sebelum feminisme modern terbersit di benak siapapun. Kesatuan sosialis dipandang sebagai percaturan dialektis antara seluruh kepentingan partikular, golongan dengan kepentingan bersama, universal – karena itulah muncul konsepsi terkenal Gramsci tentang partai Komunis sebagai “intelektual kolektif.”

Terakhir, semua ini diterjemahkan menjadi kebudayaan universalis yang kuat. Kebudayaan ini terdiri dari lembaga-lembaga – partai-partai politik, serikat-serikat buruh, organisasi-organisasi massa perempuan dan pelajar/mahasiswa, kelompok-kelompok teater, perhimpunan-perhimpunan penulis, komite-komite anti-fasis, dan seterusnya – dan nilai-nilai. Bertentangan tajam dengan globalisasi kapitalis yang secara intrinsik bersifat rasis, nilai utama yang dijunjung tinggi dalam internasionalisme sosialis adalah kesetaraan radikal universal. Maka, dalam pengertian ini, gerakan sosialis menjadi pendukung utama nilai-nilai rasional dan egaliter Pencerahan abad ke-18. Karena itu, dengan sangat tepat Eric Hobsbawm menyebut arus sosialis kumulatif sebagai “Kiri Pencerahan.” Karena itu pulalah serangan pascamodernis terhadap Marxisme bergandeng-tangan dengan serangan terhadap Pencerahan.

Karena semua revolusi sosialis adalah revolusi abad ke-20, dan karena pada abad inilah sosialisme tidak lagi merupakan gejala Eropa dan menyebar ke seluruh dunia, menjadi warisan umum untuk seluruh umat manusia dan aspirasi bagi emansipasi universal, kita bisa mengatakan bahwa perjuangan praktis untuk sosialisme adalah gejala unik abad ke-20.

Beberapa transformasi analog terjadi dalam perjuangan anti-kolonial juga. Ciri menonjol semua perjuangan anti-kolonial sebelum abad ini adalah bahwa mereka dipimpin dan dilancarkan oleh strata tradisional, untuk mempertahankan sistem dan nilai tradisional. Sebaliknya, ciri menonjol gerakan anti-kolonial abad ke-20 adalah bahwa di banyak tempat kepemimpinan bergeser, dan semakin bergeser, ke kelas-kelas dan kelompok-kelompok sosial jenis modern, yang berjuang untuk masa depan yang dibayangkan sebagai baru dan berbeda [dari yang lama]. Bukannya gerakan-gerakan itu tidak punya kaitan dengan nilai-nilai budaya tradisional, tetapi pada jantung hampir semua visi itu adalah penciptaan suatu masyarakat baru di atas puing-puing penindasan kolonial. Oleh sebab itu, di banyak tempat gerakan anti-kolonial cenderung melebur dengan gerakan-gerakan reformasi sosial, dengan semangat demokratisasi yang berbeda-beda.

Revolusi Bolshevik besar pengaruhnya pada nasib gerakan anti-kolonial. Karena Russia zaman Tsar sendiri ada di pusat imperium kolonial yang sangat besar, yang belum lama melancarkan perang melawan bangsa Asia musuhnya (Jepang), suatu revolusi di sana secara wajar mengilhami banyak militan anti-kolonial. Kemudian Bolshevik mengumumkan kebijakan mendukung pembebasan nasional. Ketiga, ada gagasan yang amat sangat populer tentang penggalangan kekuatan buruh dan petani demi kebebasan: suatu revolusi bukan dari atas, oleh golongan elit, tetapi dari bawah, oleh massa. Kontribusi kunci sosialisme pada gerakan-gerakan anti-kolonial – dan seluruh gerakan untuk perubahan radikal – adalah bahwa proses emansipasi hanya bisa menjadi proses emansipasi-diri oleh kaum tertindas itu sendiri.

Keempat, keterlibatan langsung kaum komunis di banyak gerakan anti-kolonial. Kelima, fakta bawah kekuasaan kolonial utama juga adalah musuh sosialisme telah menciptakan afinitas alamiah dengan perjuangan sosialisme di banyak kalangan militan anti-kolonial. Kalau semua revolusi sosialis Asia dan Afrika mengambil bentuk gerakan pembebasan nasional, seluruh gerakan komunis dan sosialis di benua kita yang menjadi gerakan massa juga berbuat demikian dalam perspektif dan lingkungan nasionalisme. Tetapi, karena ini adalah nasionalisme revolusioner, ia berpikir tentang nasionalisme tidak sebagai sesuatu yang tertutup pada dirinya dan menyingkirkan yang lain, seperti nasionalisme etnis pada masa kini, tetapi sebagai bagian dari gerakan internasional melawan musuh kolonial bersama. Maka, sosialisme punya pengaruh pembudayaan yang dalam terhadap nasionalisme itu sendiri, menyelamatkannya dari chauvinisme dan prasangka sempit, serta memberinya isi universalis.

VISI tentang nasionalisme sebagai bagian dari proyek untuk emansipasi universal ini sangat diperkuat oleh dukungan besar yang dengan tepat waktu diterima gerakan-gerakan anti-kolonial dari negeri-negeri sosialis dan gerakan komunis seluruh dunia. Amílcar Cabral, pemimpin besar revolusi Guiné-Bissau, pernah mengingatkan semua orang bahwa setiap senapan yang ditembakkan dalam revolusi anti-kolonial di benua Afrika asalnya dari negeri sosialis. Karena itu ada banyak macam pemimpin nasionalis di seluruh dunia, dari Nelson Mandela sampai Yasser Arafat, yang sama sekali bukan komunis, tetapi menolak menjadi bagian dari perjuangan anti-komunis. Dan semua rejim nasionalis radikal, dari rejim Nasser di Mesir sampai FLN [Front Pembebasan Nasional] di Aljazair, yang menindas kaum komunis di dalam wilayahnya sendiri, menjalankan reformasi yang diilhami oleh proyek sosialis dan sangat mengandalkan pada Uni Soviet dalam perjuangan mereka merebut kemerdekaan dari imperialisme. Gerakan Non-Blok – yang lebih tepat disebut proyek Bandung – tak akan terbayangkan tanpa dukungan implisit dari negeri-negeri sosialis; Zhou En-lai [Perdana Menteri Republik Rakyat Tiongkok saat itu] dan Marsekal Tito [Presiden Republik Rakyat Yugoslavia saat itu] adalah tergolong pendirinya yang penting.

Ringkasnya, nasib nasionalisme radikal sangat terkait dengan nasib proyek sosialis, dan yang satu tidak akan bisa bertahan tanpa yang lain. Bisa dikatakan bahwa hancurnya Uni Soviet merupakan kemunduran besar bagi nasionalisme anti-imperialis dan juga bagi gerakan buruh. Juga tidak mengherankan bahwa nasionalisme etnis dan agama pada masa sekarang ini, yang tidak mengambil ilham menguntungkan dari sosialisme, cenderung sangat kanan dan gampang membunuh.

Tetapi bagaimana dengan musuh besar: imperialisme. Seperti kita kemukakan sebelumnya, sejarah kolonialisme meliputi kurun waktu setengah milenium. Kemudian, dengan pembagi-bagian Afrika, penaklukan kolonial terhadap dunia diselesaikan mendekati akhir abad ke-19. Pada fajar abad ke-20, meluasnya partai-partai buruh di Eropa dibayang-bayangi oleh persaingan sengit negara-negara penjajah yang akhirnya menjurus pada dua perang dunia yang membagi ulang dunia, berpuncak pada fasisme serta penemuan senjata penghancuran massal, yang mengancam kelangsungan hidup peradaban umat manusia itu sendiri. Kalau fasisme telah memangsa nyawa jutaan korban secara metodis dan dengan darah dingin, penggunaan bom atom oleh Amerika telah mendramatisir tingkat kekejaman yang bisa dilakukan oleh negara “demokrasi liberal.” Melalui cara-cara itu diambil keputusan akhir apakah Nazi atau Amerika yang mendominasi planet bumi. Maka dari perspektif ini, kisah abad ke-20 juga bisa dikisahkan sebagai munculnya AS sebagai negara dominan tunggal di seluruh dunia. Kisah ini punya tiga tahap.

AMERIKA SERIKAT telah muncul sebagai negara kapitalis terkemuka pada akhir abad ke-19, mengalahkan Inggris. Karena itu perannya menjadi menentukan pada dua Perang Dunia. Pada akhir Perang Dunia Pertama, New York telah mengalahkan London sebagai pusat urat syaraf keuangan dunia, dan Presiden AS, Woodrow Wilson adalah orang yang mensupervisi penyelesaian pasca perang. Akan tetapi, baru setelah Perang Dunia Kedua, dengan penghapusan imperium-imperium kolonial dalam konteks dimana masing-masing negara Eropa telah saling menghancurkan bagian besar dari sumberdayanya, AS muncul menduduki supremasi global dunia kapitalis tanpa tandingan. Sampai sekitar pertengahan abad ini, pembagian dunia ke dalam imperium-imperium kolonial yang bersaingan telah menghambat munculnya pasar global yang sempurna yang mensyaratkan kapital bergerak tanpa hambatan apapun dan sama aksesnya ke seluruh wilayah yang dikuasainya, dan harus ada kekuasaan tunggal, atau sekurang-kurangnya kekuasaan yang bersatu untuk menjamin akses tersebut. Penghapusan imperium-imperium kolonial memudahkan munculnya AS ke posisi utama hegemonik itu. Untuk setengah abad berikutnya, AS mereorganisasikan pasar dunia di bawah hegemoninya dan mempersatukan dunia kapitalis di bawah kepemimpinan militer dan politiknya menghadapi tantangan sosialis dan kekuatan-kekuatan yang berhasil melepaskan diri dari belenggu melalui perang-perang pembebasan nasional. Karena akumulasi tanpa preseden yang dimungkinkan oleh kesatuan luar biasa dunia kapitalis, AS juga menjalankan peran utama dalam melancarkan revolusi seluruh bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, yang dengan sangat baik didukung oleh sekutu-sekutunya di Eropa dan Jepang.

Akan tetapi ada satu komplikasi. Krisis Perang Dunia Kedua yang telah memusnahkan kekuasaan kolonial dan menempatkan AS pada kedudukan hegemonik di dalam dunia kapitalis juga telah menghancurkan isolasi terhadap Uni Soviet sebagai satu-satunya negeri sosialis di dunia, dengan prestasi kuat dibuat di Eropa Tenggara dan Asia Timur, dan akhirnya di sudut-sudut Amerika Latin/Karibea dan juga Afrika.

Kalau Revolusi Bolshevik adalah peristiwa utama perempat pertama abad ini, Revolusi Tiongkok juga demikian dalam perempat kedua, dan revolusi Kuba dan Vietnam adalah peristiwa utama perempat ketiga. (Bahwa revolusi tidak terjadi di India itu sama signifikannya dengan fakta bahwa revolusi telah terjadi di Tiongkok; kegagalan India punya signifikansi menentukan dalam sejarah Asia selanjutnya. Tetapi ini memerlukan penjelasan tersendiri). Dan kalau gerakan-gerakan revolusioner yang muncul pada saat bangkitnya Revolusi Bolshevik dihantam cukup dengan kekuatan yang relatif kecil, tidak demikian halnya dengan revolusi-revolusi dan gerakan-gerakan revolusioner yang bangkit pada masa Revolusi Tiongkok. Baru setelah kekalahan di Chile, tahun 1973, gelombang pasang mulai menguntungkan imperialisme.

“Perang Dingin” adalah salah satu eufemisme yang paling bertentangan yang pernah dibuat oleh media. Masa 45 tahun antara berakhirnya Perang Dunia Kedua dan hancurnya Uni Soviet adalah tahun-tahun perang sipil yang sengit, tak kunjung padam, belum ada padanannya dalam sejarah di tingkat global. Benar bahwa tidak ada perang tembak-menembak antara AS dan Uni Soviet dan bahwa Eropa bagian tenggara mengalami perdamaian terlama dalam sejarah modern, tetapi hampir 200 perang pecah di Dunia Ketiga, kebanyakannya untuk menghalangi kemajuan komunisme, mengalahkan nasionalisme anti-kolonial, dan menahan gerakan-gerakan anti-imperialis lainnya yang baru muncul di negeri-negeri yang baru didekolonisasi. Embargo ekonomi dan intimidasi militer selama 40 tahun terhadap Kuba hanyalah ilustrasi kenyataan brutal bahwa tak satupun tempat kecil yang mengalami revolusi besar akan diperbolehkan mengalami kedamaian dan otonomi kalau sesuatu yang sama dengan sosialisme bisa dibangun di sana. Penghancuran manusia dan barang terhadap Vietnam sebelum Amerika mundur dari sana skalanya begitu besar sehingga Noam Chomsky dengan tepat mengatakan bahwa perang ini tidak dimenangkan oleh Vietnam tetapi oleh Amerika. Kisah yang sama terulang di tempat-tempat yang jauh seperti Angola, Moçambique, dan Nicaragua. Sementara itu Uni Soviet merosot kekuatannya karena pengeluaran sumberdaya yang luar biasa besar yang diperlukan untuk keamanan dirinya dalam menghadapi mesin militer gabungan negara-negara Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Kebanyakan rejim revolusioner kebingungan menghadapi persoalan-persoalan dan anakronisme-anakronismenya sendiri. Tetapi mengingat besarnya skala tekanan militer dan ekonomi yang bisa dilakukan imperialisme terhadap mereka, menyatakan bahwa telah terjadi kompetisi damai dalam mana rejim-rejim revolusioner itu hancur karena kalah dalam persaingan itu adalah pernyataan yang tidak senonoh.

TIGA perempat pertama abad ini adalah periode perluasan besar-besaran kekuatan sosialis, sekalipun ada banyak kelemahan. Arus baliknya mulai – dan kemudian berjalan dengan sangat pesat yang bahkan belum pernah dibayangkan oleh Central Intelligence Agency (CIA, dinas rahasia Amerika Serikat) – baru pada perempat keempat. Tulisan ini tidak memaparkan ringkasan kompleksitas arus balik itu. Cukup dikatakan bahwa baru setelah 1989-1990 AS memasuki tahap ketiga dominasinya yang masih berlangsung sekarang ini, karena baru setelah Uni Soviet hancur AS bisa mengatakan bahwa kekuataannya tanpa saingan dan tanpa tandingan: “superpower tunggal”. Dalam kapasitas inilah ia berkemampuan mendesakkan rejim neo-liberalis akumulasi kapital di seluruh dunia, termasuk Eropa Barat sendiri dimana model Amerika, yang menggabungkan lapangan kerja yang tinggi (sering dengan tingkat upah yang telah dipotong) dengan kemiskinan yang luas, seperti yang telah diterapkan pada Inggris dan sekarang sedang didesakkan pada Eropa yang hampir semuanya diperintah oleh kaum demokrat sosial dan dimana “Eropa para bankir” yang bersatu sedang muncul dengan kedok Uni Eropa. Dan, dalam kapasitas inilah AS sepenuhnya mengubah NATO dan PBB menjadi alat politik luar negerinya, seperti diperlihatkan dalam Perang Teluk dan pemboman biadab terhadap Kosovo. Masih belum yang terakhir, badan-badan multilateral seperti World Trade Organization (WTO) menguniversalkan praktek-praktek korporasi, norma-norma hukum, dan model-model managemen yang digunakan oleh dan di Amerika Serikat. Melalui penerapan rejim neo-liberal inilah “Dunia Ketigaisasi” blok sosialis dilakukan dan krisis stagnasi Dunia Pertama diperlunak dengan mengekspor sejumlah hasil terburuknya ke negeri-negeri pinggiran, termasuk “macan” Asia Selatan dan Tenggara yang banyak dipuji-puji. Memang krisis sekarang yang terjadi di negeri-negeri “macan” itu dimanfaatkan untuk membeli aset-aset di sana dengan harga murah dan untuk memperlunak rejim-rejim perekonomian itu bagi masuknya neoliberalisme.

Pada penutup abad ini, ketika tidak ada lagi saingannya, pengeluaran AS untuk mempersenjatai diri lebih besar dibandingkan pengeluaran militer enam negara digabungkan jadi satu, yang berkaitan dengan kenyataan bahwa AS adalah satu-satunya kekuatan di dunia dengan jangkauan global yang memungkinkannya menghancurkan setiap rumah di planet ini dengan ketepatan luar biasa, dan dengan kekebalan hukum. Semua sekutunya, termasuk Eropa dan Jepang, mengandalkan padanya untuk mengamankan kepentingan mereka di wilayah-wilayah yang jauh dari pantainya sendiri – inilah sebabnya mereka bersikap patuh pada AS. Sekalipun mengalami kerusakan banyak cabang usaha produktifnya, AS tetap merupakan pusat global bagi pendidikan tinggi dan latihan untuk lapisan tekno-managerial yang punya hak istimewa. Dan, karena semua kemajuan yang dibuat oleh sekutu-sekutunya, terutama Jepang, di bidang teknologi informasi, AS tetap merupakan kekuatan korporat terkemuka dalam industri informasi yang ada sekarang, dengan kekuatan besar kontrol ideologis, khususnya terhadap Dunia Ketiga, terhadap mana satelit-satelit dan cabang-cabang serta antek-anteknya menyiarkan ke seluruh dunia berita-berita yang direkayasa di AS.

Gabungan monopoli tertinggi atas pendidikan tinggi kaum elit Dunia Ketiga dan atas industri informasi produksi ideologi yang luas jangkauannya telah berdampak luar biasa buruk bagi iklim politik negeri-negeri Dunia Ketiga. Misalnya, di India, tidak satupun saluran televisi atau koran nasional yang menyiarkan sepotong suara lain yang berbeda dengan padangan-dunia ekonomi dan politik Amerika; yang dipuja AS telah menjadi pikiran umum para informan pribumi ini. Ini juga bukan masalah intervensi langsung dengan kekuatan. Lebih dari sekadar merekayasa berita, AS merekayasa penyampai berita itu sendiri, dalam gaya dan kepekaan serta kesetiaan, melalui jaringan padat lembaga-lembaga yang saling berhubungan, dari kurikulum sekolah sampai pendidikan profesional yang berspesialisasi tingkat tinggi, tanpa memperhatikan lokasi geografisnya.

SEMENTARA sebagian besar abad ini, dari dasawarsa kedua sampai dasawarsa terakhir kedua, didominasi oleh perjuangan untuk dan menentang sosialisme, akhir abad ke-20 amat sangat mirip dengan akhir abad ke-19. Saat itu adalah masa dalam sejarah Asia dan Afrika, setelah kekalahan menentukan gelombang awal perjuangan anti-kolonial dan sebelum munculnya gerakan massa yang lebih modern abad ke-20, kekuatan kolonialisme paling besar dan anti-kolonialisme paling lemah.

Sekarang kita berada dalam proses rekolonisasi yang tidak punya preseden sejarah; ia berlangsung tanpa penaklukan teritorial seperti tipe kolonial tetapi mengambil kontrol atas sistem-sistem produksi, sumberdaya-sumberdaya lokal, rejim-rejim tenagakerja dan aparatus-aparatus ideologi, dalam cara yang paling invasif dan paling komprehensif yang dikenal sejarah. Perbedaan antara borjuasi nasional dan komprador sendiri menghilang; yang dulu borjuasi “nasional” sekarang telah menjadi komprador. Dalam kerangka yang lebih luas inilah kekuatan menakjubkan “superpower tunggal” yang telah bebas dari tantangan besar [blok sosialis], memperoleh keperkasaan yang tak terkalahkan, bahkan abadi. Di dasar semua kebohongan filosofis ideologi “Tamatnya Ideologi”, yang sedang dipuja ialah bahwa kekuatan ini sekarang tak akan hancur. Hanya 13 tahun setelah berakhirnya abad ke-19, ketika kapitalisme kolonialis tampil begitu perkasa, Revolusi Bolshevik mematahkan kekuasannya, dan selama lima tahun selanjutnya untuk pertama kali dalam sejarah muncul gerakan anti-kolonial yang massif, di berbagai negeri, dari India sampai Mesir. Beberapa tahun selanjutnya memasuki abad ini, pertempuran-pertempuran awal Revolusi Tiongkok pecah, di Shanghai dan tempat-tempat lain. Abad revolusi, abad ke-20, saat itu dimulai sepenuhnya. Dalam pengertian itu, kita masih berkubang dalam arus balik logika fundamental abad ke-20, yang merupakan logika aspirasi sosialis, tuntutan demokratik, dan massa anti-imperialis yang bergerak melintasi benua-benua. Jadi, dalam pengertian sejarah, abad ke-21 belum dimulai, belum akan dimulai dalam waktu dekat ini, dan tidak bisa dimulai sampai arus balik itu sendiri telah dibalikkan.

Terjemahan tulisan Aijaz Ahmad “A Century of Revolution: Whose Century? Whose Millenium? A reflection on our times – I,” Frontline, Volume 17, Issue 02 (22 Januari – 4 Februari 2000). Diterjemahkan oleh Nug Katjasungkana.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s