Tanggungjawab Moral dan Profesional dalam Pemanfaatan Teknologi Modern

Karlina Supelli

Pengantar: Makalah ini berbicara tentang teknologi dan tanggung jawab moral secara umum. Sikap etis di dalam penggunaan teknologi modern, dalam rangka menunjang pekerjaan dengan profesi tertentu, seperti Sekretaris, yang menjadi topik pertemuan kali ini, diturunkan dari prinsip dasar tanggung jawab moral tersebut; dan akan dibahas di dalam pembicaraan. Pertimbangan membuat makalah yang demikian ini adalah bahwa pemahaman mendasar akan teknologi sebagai sebuah sistem dan dampak serta implikasi etisnya, haruslah menjadi dasar pemahaman sebelum menentukan sikap sebagai etis pengguna.

1. Teknologi: Optimisme dan Pesimisme

Manusia didefinisikan sebagai Homo faber, yaitu pembuat dan pemakai alat, atau Homo sapiens, yaitu si bijak atau si pemikir, dan terakhir Homo symbolicum, yaitu si pencipta dan pengguna simbol. Apapun definisi manusia itu, semuanya menunjukkan sentralitas pengetahuan dan teknologi di dalam kegiatan manusia. Laju perkembangan teknologi demikian pesat sehingga melahirkan bukan hanya kemudahan tetapi juga berbagai masalah yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Kecanggihan teknologi informasi telah memungkinkan bentuk-bentuk komunikasi yang secara virtual mengecilkan dunia, tetapi itupun tidak tanpa diikuti oleh problem etis.

Khususnya sejak setelah Perang Dunia II, perkembangan dan penerapan teknologi senantiasa diikuti dengan dua pandangan yang saling bertentangan. Pandangan optimis menekankan keyakinan bahwa kita mampu mengontrol teknologi yang dihasilkan. Kitalah yang memberikan nilai-nilai di dalam menentukan teknologi apa yang akan dipergunakan, dan bagaimana. Teknologi ibarat alat pasif yang dapat dipergunakan untuk kebaikan maupun kejahatan. Visi optimistik ini menjadi bagian dominan dari kebudayaan teknologis-kapitalis, yang nyata sekali di dalam setiap iklan-iklan pemasaran barang-barang kebutuhan sehari-hari. Sebagian besar problem kehidupan manusia sehari-hari seakan-akan bisa diselesaikan lewat teknologi. Visi ini memang memahami bahwa teknologi mengandung bukan hanya konteks material yang dapat ditransfer begitu saja dari satu masyarakat ke masyarakat, dari satu kebudayaan ke kebudayaan, melainkan juga mengandung konteks sosio-kultural. Namun, dampak sosio-kultural muncul sebagai akibat pemakaian dan pengembangan tak bertanggung jawab.

Implisit di belakang pandangan ini adalah bahwa pengembangan dan pemakaian teknologi harus diikuti dengan kontrol terhadap siapa-nya. Contohnya adalah di dalam pemakaian energi nuklir. Weinberg mengamati bahwa pengembangan teknologi nuklir untuk kepentingan militer menciptakan kelompok-kelompok yang menentukan negara mana yang boleh dan tidak boleh mengembangkan teknologi ini. Sebuah paranoia sosial tumbuh bersama munculnya kelompok-kelompok pemilik dan penjaga keahlian senjata nuklir. Pengontrolan terhadap teknologi memunculkan pengontrolan terhadap semua orang yang dinilai tidak memiliki nilai-nilai dan tujuan yang sama.

Contoh sederhana terlihat dari pengamatan terhadap lingkungan kerja yang memperlihatkan bagaimana teknologi komputer meningkatkan kontrol manajerial terhadap pekerja, baik di kantor maupun industri. Tampilan kerja (kecepatan, efisiensi, kesalahan, ketidakcermatan, dll) dapat dimonitor terus menerus, dan tercatat dengan rinci. Efisiensi meningkat, namun kontrol terhadap sesama manusia diperketat dan seringkali menghilangkan sentuhan manusiawi. Persoalan memang, ketika problem bersifat manusiawi juga diselesaikan lewat pendekatan teknologis. Ideal masyarakat bebas dan terbuka yang dicita-citakan melalui pengembangan teknologi, justru menjadi kebalikannya.

Dengan landasan inilah kritik teknologi hendak menunjukkan ketidakberdayaan kita berhadapan dengan teknologi yang ironisnya adalah buah pikir kita sendiri. Teknologi boleh jadi adalah hasil manusia, namun perkembangannya telah menjadi demikian otonom melampaui kemampuan manusia individu atau kolektif, untuk mengontrolnya. Frankenstein adalah contoh bagaimana temuan seseorang berbalik menjadi penguasanya. Hal, sang komputer di wahana antariksa dalam film Space Odyssey 2001, adalah contoh lainnya. Tentu itu sebuah contoh ekstrim. Bagaimanapun, teknologi modern berperilaku seperti sebuah ekosistem. Campur tangan di satu titik akan memunculkan konsekuensi di bagian lain.

2. Karakter Sistemik Teknologi Modern

Kita sering mendengar kata masyarakat teknologi, dan bahwa kita–sedikit banyak–hidup di dalam masyarakat ini. Ketika kita menulis sebuah artikel, surat, ataupun cerita pendek, kita umumnya sekarang ini sudah menggunakan komputer personal. Begitu selesai, dengan segera artikel dapat dikirimkan lewat sistem surat elektronik, yang mendapat jawaban juga dalam waktu singkat dengan cara yang sama. Di sekitar tempat kerja air-condition mengatur suhu ruangan sehingga kita bekerja dengan nyaman. Lift menunggu di luar ruangan untuk turun atau naik ke lantai lain. Di rumah, berbagai peralatan moden membantu kegiatan rumah tangga. Pendeknya, kita dikelilingi oleh berbagai peralatan yang memudahkan hidup dan pekerjaan kita.

Sekalipun manusia masa lampau juga sudah memakai teknologi, karekter yang berbeda dari teknologi modern adalah bahwa seluruh habitat manusia berubah dengan adanya peralatan teknologis ini. Hampir tidak ada buah karya teknologi yang hadir dan bekerja dalam isolasi, tetapi hampir selalu merupakan bagian dari jaringan sebuah sistem rumit modern. Mulai dari komputer yang kita pakai, sistem jaringan pelistrikan sampai komunikasi, adalah bagian dari sebuah jaringan raksasa yang saling berhubungan namun berada di luar kontrol individu.

Kita tidak menyadarinya ketika segala sesuatu berjalan dengan lancar. Tetapi sekali salah satu peralatan modern kita tidak berfungsi, baru kita menyadari infrastruktur teknologi yang ada. Ini bukan hanya dalam pengertian komponen, tetapi bahkan manusia pun sudah menjadi bergantung kepada jaringan teknologis. Ingat saja bagaimana isu Y2K secara mendunia mempengaruhi dan membuat kita yang terlibat di dalam teknologi, betapapun sederhananya, cukup panik.

Teknologi sebagai sistem melibatkan bukan hanya yang material tetapi juga organisasi, perencanaan, prosedur, dan perawatan. Bersamaan dengan itu melekat struktur hukum, keuangan, pendidikan, penelitian, dan lain-lain.

Karekter sistemik inilah yang harus menjadi dasar untuk pertimbangan tanggung jawab moral dalam penggunaan teknologi modern. Tidak cukup lagi hanya bertanya bagaimana orang harus menggunakan peralatan tertentu untuk mencapai tujuan tertentu. Tanggung jawab moral itu melibatkan pertanyaan normatif yang luas yaitu bagaimana kita ikut membentuk, mengatur-ulang, dan menyesuaikan diri dengan lingkungan teknologi untuk membentuk habitat manusia yang sehat, manusiawi, dan waras.

Pilihan perilaku individual tidak lagi cukup; ada perubahan global lingkungan kerja yang harus berlangsung demi mempertahankan karakter manusiawi teknologi itu sendiri. Dalam lingkungan kerja, ini berarti mempertahankan karakter manusiawi sehingga tidak jatuh ke dalam nilai-nilai teknologi yang semata-mata menekankan hasil dan efisiensi.

3. Etika Adaptasi dalam Teknologi Modern

Dalam konteks inilah, teknologi informasi dan komputer memegang peranan penting yang mungkin tidak terbayangkan. Haefner (1984) mengamati bahwa subyek otonom yang mampu membuat putusan sendiri, yang dikenal di dalam tradisi humanisme, telah lebur ke dalam masyarakat terintegrasi dan terstruktur. Sejak perkembangan teknologi informasi, kebebasan bertindak sebagai subyek lebih ditentukan oleh berbagai jaringan yang saling mengikat di dalam lingkup kerja dan hidup kita.

Dalam kehidupan sehari-hari Haefner mengambil contoh bagaimana di dalam sistem transportasi, pemesanan tempat duduk seseorang di dalam penerbangan ditentukan oleh program tertentu, pilot bergantung kepada sistem navigasi otomatis, tentara di lapangan memutuskan tindakan tidak lagi berdasarkan pengamatan binokularnya melainkan mengandalkan citra satelit yang menunjukkan medan lawan. Kompetensi manusia dialihkan ke sistem terintegrasi yang memungkinkan pengurangan nilai tanggung jawab personal, karena seorang manusia hanya menjadi komponen di mana ia tidak lagi memiliki kontrol langsung atas putusan dan tindakannya.

Manusia dan benda-benda masuk ke dalam sistem terintegrasi dan mempunyai fungsi yang sama, yaitu sebagai elemen di dalam sebuah sistem komprehensif. Pertanyaannya, apakah gambaran tentang manusia yang secara moral mempunyai tanggung jawab otonom sudah selesai karena ia melepas tanggung jawab sebagai bagian dari sistem kolektif terintegrasi, dan dengan begitu memberikan sepenuhnya kontrol moral dan pemanduannya ke sistem itu?

Sistem etika yang berkembang menjadi etika adaptasi, di mana adaptif terhadap lingkungan menjadi keseluruhan raison d’être.. Norma tindakan manusia diasalkan ke pertimbangan rasional infrastruktur kolektif. Sistem itu sendiri mengandung di dalamnya nilai-nilai dan seluruh paradigma yang ditentukan oleh kepentingan mereka yang paling menguasai jaringan secara komprehensif.

Ada sebuah contoh sederhana; lihatlah bagaimana perlahan-lahan manusia di banyak tempat di negara modern mempunyai penilaian yang sejenis mengenai definisi perempuan modern yang ditentukan lebih dari penampilan fisik disertai dengan kemampuan menjadi pengguna teknologi informasi dan komputer. Namun ketika kita mencoba masuk ke substansi mendasar pengertian “modern” itu, kita bertemu dengan berbagai iklan tentang “women’s friendly technology,” bukan hanya untuk keperluan rumah tangga tetapi juga kantor-kantor. Maksudnya adalah bagaimana membuat teknologi menjadi lebih sederhana, tidak terlalu teknis, sehingga perempuan akan mudah memahami penggunaannya.

Ini adalah sebuah kecenderungan yang sangat mengganggu dan sangat counter-productive, sekalipun dari segi kepentingan bisnis teknologi justru membantu; begitu juga dalam memungkinkan kelompok yang termarginalkan di masyarakat–perempuan–mendapatkan kesempatan belajar cepat.

Namun harulah dipahami dengan kritis bahwa isu penting di belakang iklan seperti itu adalah paradigma yang menyelimuti teknologi, dan metafora yang mendikte perempuan mengenai bagaimana ia “berhubungan” dengan teknologi yang semakin memperlihatkan bahwa perempuan, dibanding laki-laki, bukanlah pengguna utama apalagi pengembang teknologi. Dengan perkataan lain, akses ke teknologi tetap masih didominasi laki-laki. Struktur nilai yang berkembang dan diterima di dalamnya adalah nilai-nilai patriarkhi yang semakin diperkuat, dihidupkan, dan diadaptasi di dalam perkembangan teknologi modern. Teknologi memang bukan sesuatu yang bebas dari ideologi dan merupakan produk kebudayaan. Kultur maskulin teknologi melandasi pembagian kerja gender yang terus berlangsung sampai sekarang.

Jika ditinjau, pengembangan dan perubahan teknologi tidak lepas dari kegiatan saling berhubungan yang melibatkan prosedur pengambilan keputusan dan evaluasi. Khususnya dalam memilah dan mengenali situasi problematik. Pengenalan ini menyangkut keyakinan sekelompok orang bahwa saat yang tepat telah tiba untuk menyelesaikan situasi problematik tersebut. Selanjutnya ada harapan, kebutuhan, tujuan, dan kepentingan yang berkaitan dengan sifat solusi yang diterima; baru setelah itu ditentukanlah sarana, metode, dan prosedur atau orientasi terhadap solusi yang mungkin sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Antisipasi dari dampak, risiko, dan kendala merupakan bagian dari aktivitas awal ini, sebagaimana juga upaya meyakinkan pihak-pihak yang berkepentingan memanfaatkan teknologi.

Boleh dikatakan bahwa hal-hal di atas sedikit banyak menyangkut pertimbangan dan pelaksanaan teknisnya. Namun ketika hendak mengintegrasikan nilai ke dalam dunia teknologi, tidak bisa dilupakan adalah faktor yang berhubungan dengan kontrol masyarakat terdapat sebuah putusan pemilihan teknologi yang akan dipakai. Apakah masyarakat dilibatkan di dalam putusan memilih suatu jenis teknologi? Adakah kepentingan tersembunyi di dalam pengenalan jenis teknologi tertentu yang hanya akan menguntungkan pihak tertentu?

4. Tanggung Jawab Peran dan Integritas Pribadi

Ahli Sosiologi Jerman, Ulrich Beck, mengatakan bahwa masyarakat modern telah menjadi sebuah tempat di mana tak seorang pun bertanggung jawab untuk berbagai hasil “percobaan” teknologi. Ia bahkan berbicara tentang organized irresponsibility, yaitu suatu situasi ketika secara sistemik tidak seorang pun dapat bertanggung jawab atas bencana yang terjadi.

Para politisi misalnya, menolak bertanggung jawab karena mereka tokh tidak menghasilkan teknologi tersebut dan paling jauh hanya bertanggung jawab secara tidak langsung untuk pengembangannya. Sementara para ilmuwan dan teknolog mengklaim bahwa tugas mereka semata-mata melaksanakan penelitian dan menciptakan kemungkinan-kemungkinan teknologi baru. Mereka menyatakan bahwa mereka tidak bertanggung jawab mengenai penerapan teknologi ciptaan mereka. Sementara para tokoh bisnis yang memasarkan teknologi menyatakan bahwa mereka tidak ikut menentukan apa yang terjadi dan tidak terjadi: pasarlah yang menjadi penentu; komsumen-lah yang mempunyai kata akhir mengenai apa yang dipilih.

Apakah ini berarti seluruh beban jatuh ke pundak pengguna?

Sebelum menjawab pertanyaan ini, satu hal yang utama adalah bagaimana membawa lingkungan teknologis kembali ke wilayah tanggung jawab manusia, sebuah lingkungan tempat manusia bisa mengklaim kembali kebebasan individu, sekaligus menentukan tanggung jawabnya. Jika ribuan tahun lalu manusia berjuang membebaskan diri dari lingkungan alamiah lewat penemuan teknologi sederhana (api, bajak, dll), kini tantangan utama manusia modern adalah pembebasan dari lingkungan teknologis. Bagaimana membentuk jalinan antara tindakan manusia di berbagai aras sistem dan tanggung jawab yang berhubungan dengan orang-orang yang ada di aras tersebut. Siapa bertanggung jawab terhadap pengembangan dan penggunaan teknologi jenis tertentu? Bagaimana tanggung jawab berbeda tiap-tiap orang berhubungan satu dengan yang lain, dan bagaimana semuanya berkoordinasi? Apakah norma untuk tindakan berbeda tersebut?

Pertanyaan ini bisa dijawab, sekalipun tidak cukup, dengan melihat tanggung jawab peran; yaitu tanggung jawab karena peran, posisi, atau pekerjaan yang kita pegang. Tanggung jawab seorang perempuan sebagai sebagai Sekretaris, sebagai bendahara organisasi, dan Ibu jelas berbeda dan bisa jadi tidak berhubungan satu dengan yang lainnya. Seseorang bisa saja bukan penyebab atas terjadinya sebuah peristiwa yang merugikan pihak lain, tetapi harus tetap bertanggung jawab karena peristiwa tersebut terjadi akibat kelalalaian dalam menjalankan peran.

Setiap orang yang menghormati diri dan profesinya, akan bersikap bertanggung jawab terhadap peran/profesinya. Profesional selalu mengacu ke satu bidang penguasaan tertentu sebagai pekerjaan utama seseorang. Profesi adalah sebuah institusi sosial yang memiliki standard dan kode etik sendiri-sendiri. Sekarang ini, ada citra tersendiri mengenai seseorang yang profesional.

Katakan seorang sekretaris misalnya. Ia pasti pekerja keras, tenang, mantap dalam menjalankan pekerjaannya, percaya diri, kepala dingin, menguasai state of the art pekerjaannya, pragmatis dalam arti tidak menjalankan profesinya dengan dipengaruhi pandangan religius ataupun ideologi. Ia tidak terganggu oleh hubungan-hubungan dengan keluarga ataupun teman di luar pekerjaannya. Masalah pribadi tidak bersinggungan dengan pekerjaan. Kata profesional seperti memberikan janji bahwa seakan-akan tidak ada masalah yang tidak dapat dipecahkan. Profesionalitas berbicara tentang kualitas, bukan sekedar keahlian.

Bagaimanapun, tanggung jawab profesional tidak dapat memupus tanggung jawab moral dan integritas seseorang sebagai person.

Integritas adalah suatu sifat dasar yang dimiliki seseorang sebagai suatu keutuhan. Pribadinya tidak terkotak-kotak. Ia konsekuen dan sama dalam berbagai dimensi kehidupan. Ia bertindak selalu sebagai dirinya sendiri. Ia jujur dan tidak menyembunyikan wajah aslinya. Ke mana pun pergi, ia adalah orang yang sama dari segi kepribadian. Ia mandiri dan siap setiap saat untuk mengambil sikap independen dan lepas dari kelompok atau lingkungannya. Manusia modern memang cenderung mengkotak-kotak hidupnya sendiri, tetapi integritas moral menuntut seseorang untuk di dalam menjalankan profesinya tidak akan main kotor, dan tidak mengkhianati teman. Ia memiliki sikap adil dan jujur sekalipun bisa lihai dan cerdik dalam menjalankan perannya. Ia tidak akan lari dari tanggung jawab dan selalu berada di setiap kesalahan yang memang menjadi tanggung jawabnya. Sekalipun tidak dikontrol, ia akan tetap menjalankan pekerjaan sesuai dengan kewajibannya, karena ia pada dasarnya mencintai mutu.

Dengan pengetahuan dan keahliannya, seorang profesional sedikit banyak memegang sebuah “kekuasaan”, tetapi bagaimana dengan integritasnya ia tidak akan membiarkan pencapaian kepentingan profesional mengalahkan tanggung jawab moral untuk tidak merugikan orang lain atau kelompok lain.

Dari seluruh uraian di atas sejauh ini tampak bahwa teknologi, apalagi teknologi informasi dan komputer, dapat menimbulkan kerugian tanpa satu orang dapat ditunjuk melakukan kesalahan. Bahkan ketika ketelitian, kecermatan, sudah dijalankan, bencana besar atau kecil bisa saja berlangsung.

Bagaimanapun ada tiga prinsip dasar untuk sebuah tanggung jawab moral yang terkait dengan profesi seseorang, yaitu (1) kita bertanggung jawab untuk setiap kerugian jika itu adalah konsekuensi dari sesuatu yang kita lakukan atau jika itu terjadi dalam rangka intervensi kita terhadap suatu proses; (2) kita bertanggung jawab jika kerugian terjadi karena kelalaian; (3) kita bertanggung jawab untuk kerugian yang timbul jika kita mengetahui bahwa ada orang yang akan melakukan sesuatu yang menimbulkan kerugian dan kita membiarkan itu terjadi. Jika kerugian terjadi, kesalahan mereka yang bertanggung jawab tetap harus dilandasi pertimbangan dasar yaitu apakah itu terjadi karena (1) kesengajaan, (2) kecerobohan, (3) atau kelalaian. Prinsip-prinsip dasar inilah yang melandasi setiap tindakan seseorang terkait dengan profesinya.

Prinsip dasar ini juga yang melandasi, katakan saja, kode etik–sekalipun tidak ada sebetulnya–pihak pengguna teknologi. Situasinya memang jauh lebih kompleks, apalagi pengguna seringkali tidak mendapatkan informasi yang cukup mengenai produk teknologi, antara kebutuhan dan dampak pemakaiannya.

Techno-optimism sebagaimana diuraikan di awal makalah ini cenderung menaruh beban tanggung jawab di pundak pengguna, sementara techno-pessimism cenderung mengecilkan beban tanggung jawab tersebut. Seringkali bahkan pengguna individu di sebuah wilayah, khususnya negara berkembang, dihadapkan pada tiadanya pilihan sama sekali, atau pilihan dan tindakan sebagai pengguna individu di wilayah tertentu tidak berpengaruh sama sekali terhadap sistem teknologi yang demikian sinambung dan perpetual, yang ditentukan oleh pengguna lain di negara-negara maju.

Kemajuan teknologi seringkali justru membuat kita melakukan hal-hal bodoh dengan cara yang cerdik. Menghadapi situasi ini, satu-satunya sikap kritis yang pada akhirnya tetap harus dipertahankan adalah bahwa sangat tidak realistik untuk berpikir bahwa teknologi, di dalam menawarkan solusi terhadap sitiasi problematik, betapapun maju dan canggihnya teknologi tersebut, tidak mempunyai efek samping, yang akan menimbulkan masalah baru. Di lain pihak, kita juga tidak bisa meremehkan ketergantungan kita ke teknologi modern.

Sikap utama yang harus dibentuk di dalam adalah kesadaran bahwa teknologi tetap harus terikat ke aspirasi kita sebagai umat manusia, dengan impian dan cita-cita akan masa depan yang lebih baik di dalam kebudayaan teknologi. Sebuah imperatif yang harus dipegang adalah, tidak pernah seorang manusia pun boleh dijadikan tujuan di luar dirinya sendiri.

2 pemikiran pada “Tanggungjawab Moral dan Profesional dalam Pemanfaatan Teknologi Modern

  1. Ping balik: 2010 in review | arusbawah 2.0

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s