Tangan-Tangan Dokter Moreau

Karlina Supelli

Tahun 1896 penulis H.G. Wells menerbitkan kisah imaginatif The Island of Doctor Moreau tentang pulau terpencil hunian binatang berbadan manusia, karya pisau bedah ilmuwan berambisi sinting. Dr. Moreau bukan hanya mencipta mahluk-mahluk mengerikan yang mematuhi hukumnya, tapi memuja dia sebagai Sang Pencipta: His is the Hand that makes, His is the Hand that wounds, His is the Hand that heals… Doctor Moreau (filmnya dibintangi Marlon Brando) adalah mimpi buruk horor ilmiah; bahkan pengunjung pulau itu pun asing terhadap dirinya sendiri dan kehilangan kepastian: mahluk apa ia sebenarnya?

Dalam imajinasi paling liar pun, Wells mungkin tak pernah membayangkan, dalam seratus tahun ilmuwan tidak perlu pisau Moreau untuk mencipta mahluk sesuai selera. Lewat pemahaman rinci atas DNA–asam deoksiribosenukleat penyusun protein pembentuk kode genetik–ilmuwan membaca perintah reproduksi mahluk hidup bahkan belajar menuliskannya. Siapa yang dapat belajar menulis bahasa DNA, dapat pula belajar menyusun perintah genetik untuk merancang mahluk hidup; pintu bagi manusia memainkan peran ibarat Tuhan terbuka.

Februari lalu, Dr. Wilmut dari Institut Roslin Edinburgh mengagetkan kita bukan karena menampilkan hewan buruk rupa, melainkan domba lucu 7 bulan. Masalahnya, domba itu hasil belajar seperti diatas: klon yang dicipta dari sel epitel ambing domba lain. Keberhasilan Wilmut memungkinkan bagian manapun sel tubuh mahluk hidup diambil dan ditumbuhkan menjadi mahluk baru identik, tanpa penyilangan seksual.

Keyakinan bahwa teknik ini dapat dipakai mencipta manusia copy, menimbulkan seruan moral bagi penerbitan peraturan dunia yang melarang klon manusia, sampai seruan menyetop penelitian. Kita pun mendengar beberapa ilmuwan sepakat, klon manusia memang tidak perlu. Tokh ‘janji’ ini belum menghentikan kegalauan.

Domba Wilmut hanya bagian gunung es yang menyembul ke permukaan. Bagian terbesar di bawah adalah kerja keras tahunan; begitu tersembunyi, hingga hanya 4 dari 12 anggota tim Wilmut yang memegang pengetahuan rincinya. Ilmuwan memang bekerja dengan diam. Langkah metodologis ketat menyebabkan mereka tidak mengumumkan temuan sebelum yakin akan kesahihan dan keberhasilannya. Lagi pula, ada persoalan paten. Namun, diam sering menyebabkan etika ketinggalan mengiringi kemajuan ilmu-teknologi yang hampir selalu bermuara pada masalah etis.

Ilmu pada dirinya sendiri tidak langsung berhubungan dengan nilai-nilai moral. Masalahnya tujuan ilmu sekarang ini bukan lagi sekedar menjawab bagaimana-mengapa, atau semata memenuhi semangat ingin tahu. Ilmuwan pun tak bisa lagi naif mengumandangkan, ‘kami hanya mencari kebenaran’.

Mereka dengan rendah hati harus mengakui, di balik karya yang menampilkan daya agung memahami alam, tersembunyi tangan kuat ekonomi, politik, atau militer. Ilmuwan tak dapat berkarya tanpa dana untuk penelitian mereka yang mahal. Einstein pernah berkata, ‘ilmuwan adalah orang yang secara ekonomi paling tidak bebas’; sukses Wilmut didukung Pharmaceutical Proteins Ltd. yang mengharap penerapan komersialnya.

Ilmu menjawab mengapa, tetapi ilmu dan terutama teknologi, terikat pada konteks. Ketika dimensi pragmatik memasuki wilayah ilmu, yang mungkin terjadi adalah pencampuran asas kebenaran dengan manfaat. Ketika itulah muncul pertanyaan, untuk siapa? Sering untuk siapa melegitimasi proyek keilmuan yang ujungnya kepentingan politik atau militer. Tak terbayangkan kalau manusia klon terlaksana atas nama untuk siapa yang eksklusif.

Wells benar dalam melihat ke depan, tantangan kewarasan manusia datang dari biologi. Ilmu kehidupan ini mampu memasuki wilayah hakikat mahluk hidup yang terlahir dengan identitas genetik. Identitas yang berbuah keragaman mahluk luar biasa luasnya; keragaman yang pada manusia melahirkan kekayaan budaya menakjubkan. Lewat klon, ilmu kehidupan menyeragamkan identitas yang pada skala besar berisiko pemiskinan hakikat kehidupan itu sendiri.

Bagaimanapun, kekhawatiran atas dampak etis tidak mengizinkan atas nama apapun, metode keilmuan dicampuri; menyangkut metode, ilmu adalah otonom. Masyarakat berhak khawatir dan ikut memutuskan ketika temuan keilmuan dicantumkan dalam penerapan, karena itulah saat ilmu berjumpa nilai-nilai moral. Namun, adakah masyarakat didengar? Kita belum bisa lupa betapa tak satu suara berdaya menghalangi Prancis menjalankan uji coba nuklir Mururoa 1995 lalu.

Dunia memerlukan kemauan keras bersama yang memungkinkan secara kongkret diputuskan, batas yang masih dan tidak boleh dilampaui, demi kemanusiaan itu sendiri. Namun putusan obyektif yang tidak emosional memerlukan ilmuwan yang bersedia memberi informasi sebenarnya.

Masyarakat, diwakili para teolog sampai muda-mudi bertopeng domba di Seoul, bukan tak mempercayai Wilmut atau ilmuwan manapun. Mereka belajar dari pengalaman, di belakang wajah jujur penuh gairah luhur, boleh jadi tangan-tangan tamak Dr. Moreau siap mengendalikan sambil menutup kesadaran dari seruan moral.

(esai untuk majalah UMMAT Desember 1997).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s