Sebuah Senandung Hening Kemanusiaan

SEBUAH SENANDUNG HENING KEMANUSIAAN

Pengantar untuk Pembukaan Pameran Foto Perempuan dan Kekerasan

Karlina Supelli

Ketika di hadapan kita ada begitu banyak foto yang merekam begitu banyak kekejian, yang dialami dan ditimpakan kepada perempuan, masihkah diperlukan kata-kata?

Kata-kata bisa menyingkapkan sebagian dari pengalaman, namun pengalaman yang terlalu keji seringkali tak lagi tertuturkan. Bukan semata karena tak ada kata yang tepat untuk menggambarkan kedahsyatan rasa sakit dan pedih yang ditimbulkannya, tetapi juga karena reaksi wajar menghadapi kekejaman yang dialami atau disaksikan, adalah melenyapkannya dari benak demi penghiburan diri.

Di lain pihak, para pelaku atau mereka yang terlibat di dalam melakukan tindakan kekerasan, berkepentingan melenyapkannya dari sejarah kehidupannya sehari-hari, atau dari sejarah besar sebuah negara jika pelakunya melibatkan atau didukung oleh negara.

Tetapi dapatkah kekejaman tindakan kekerasan dikubur? Para pelaku dapat membisu, para korban dapat terbisukan, namun seperti diucapkan oleh seorang ahli psikiatri, Judith Herman: ibarat para hantu dalam dongeng-dongeng masa kanak-kanak yang enggan beristirahat dengan tenang dikuburnya, sebelum kisah-kisah seram mereka diceritakan, maka menyampaikan kebenaran mengenai kekejaman yang terjadi, merupakan prasyarat untuk penyembuhan para korban kekerasan itu sendiri, maupun untuk pengembalian tatanan sosial yang rusak karenanya.

Namun bahkan tanpa kata-kata sekalipun, di hadapan kita terpampang saksi-saksi hening kekejaman kekerasan dengan perempuan sebagai kelompok yang sudah selama sejarah peradaban, menjadi dan dijadikan korban baik karena tradisi sosial-budaya maupun oleh sistem politik.

Kekerasan terhadap perempuan berlangsung baik secara individual maupun secara kolektif. Sebagian besar dari para korban hanya masuk menjadi bagian dari statistik kejahatan kriminal di sebuah negara, tanpa pernah dapat menyingkapkan tentang darah, air mata, kesakitan, kehancurleburan jiwa, penyiksaan, penganiayaan, dan kekejaman, yang mungkin bahkan tidak pernah terbayangkan oleh benak yang masih normal.

Padahal semakin terungkap dengan gamblang bahwa di banyak daerah di negeri ini tindak kekerasan terhadap perempuan yang melibatkan aktor-aktor yang didukung oleh negara atau terkait dengan negara, tidak lagi dapat dilihat sebagai perilaku oknum-oknum yang menyimpang atau melanggar prosedur. Kekerasan itu harus dilihat sebagai upaya sistematis untuk menundukkan masyarakat sipil oleh negara.

Seorang perempuan dari Desa Jila, Irian Jaya, dengan pedih dan terbata-bata menyampaikan bagaimana desanya yang dulu ramai kini menjadi sunyi dalam ketakutan dengan sungai-sungai yang merah mengalirkan darah, dan bagaimana perempuan-perempuan desa itu harus “menjual diri” kepada anggota-anggota militer yang bertugas di sana untuk “pengamanan wilayah”, demi keselamatan para lelaki dan orang tua atau anak-anak mereka (dari sebuah Kesaksian bulan November 1998).

Seorang perempuan dari Aceh dengan kehampaan akan pengharapan berkisah dalam sebuah kesaksian, bagaimana tiga orang aparat memaksa dengan memperkosanya, untuk mengatakan kemana suaminya pergi, sementara ia sendiri tidak mengetahuinya. Dengan tatapan mata yang tak terfokus ia menuturkan, bahwa ia sedang hamil 6 bulan ketika itu, dan ia mendengar bagaimana anak-anaknya yang lain terisak-isak di kamar sebelah karena mengetahui kekejian yang sedang menimpa ibunya.

Kita mendengar kesaksian Alianca Henrique dos Santos dari Timor Timur, kita mendengar kisah-kisah perdagangan perempuan yang disertai pemaksaan dan kekerasan, kita mendengar penyiksaan terhadap banyak tenaga kerja perempuan baik di dalam maupun di luar negeri, kita mendengar kesakitan diam-diam para perempuan yang disiksa di dalam rumahnya sendiri oleh ayah-ayah mereka atau suami-suami mereka, dan kita mendengar samar-samar doa yang disertai rasa nyeri amat sangat di dada para perempuan yang belum juga mengetahui nasib anak-anak atau suami-suami mereka yang diculik—doa yang seperti tak hendak putus tetapi sebetulnya mengambang terkatung-katung antara harapan dan rasa terteror yang terus menerus.

Kian banyak kisah di negeri ini yang menunjukkan bahwa kekerasan begitu melekat dengan kehidupan perempuan, seringkali tanpa perempuan sendiri mengetahui, mengapa ia menjadi korban? Langsung ataupun tidak langsung.

Upaya mengangkat tema kekerasan terhadap perempuan, atau perempuan dan kekerasan yang dialami, disaksikan, atau direnunginya, merebak di berbagai bagian dunia dalam 25 tahun terakhir ini, khususnya setelah Pertemuan Perserikatan Bangsa-Bangsa tahun 1985, Decade for Women. Upaya ini tidak boleh dilihat sebagai upaya memberi perlakuan khusus terhadap salah satu kelompok anak manusia. Tetapi karena perempuan adalah bagian dari ke-Manusia-an itu sendiri, namun sudah dengan sengaja dijadikan korban melalui hubungan struktural kekuasaan, dominasi serta keistimewaan yang ada di antara laki-laki dan perempuan. Sebuah hubungan yang menjadikan perempuan sebagai korban karena ketubuhannya yang perempuan. Tubuh perempuan dijadikan identitas yang menentukan eksistensinya.

Maka masyarakat boleh berbicara tentang perempuan yang menjadi wartawati, dokter, guru, pengusaha, ekonom, pedagang, dan lain-lain, serta mengatakan bahwa identitas profesi itu disahihkan melalui pendidikan, pelatihan, sertifikat, atau pengalaman. Pendeknya melalui sebuah upaya perjuangan. Tetapi ketika mereka berbicara tentang perempuan sebagai identitas, maka ternyata itu tidak diperoleh perempuan dengan cara yang sama. Para perempuan profesi memiliki tubuh secara terberi, given. Tetapi begitu keperempuanan yang dilihat, maka tubuh adalah sesuatu yang esensial. Women are our bodies, demikian kata filsuf Naomi Scheman. Maka menurut kebutuhanlah, perempuan diubah-ubah berdasarkan tubuhnya itu.

Hanya saja, bukan perempuan sendiri yang menentukan perubahan itu. Untuk perempuan tubuh menentukan bagaimana ia akan diubah oleh dunia di luar dirinya. Tubuh menentukan identitas dan nilai perempuan. Hendak dijadikan apapun tubuh itu, fakta biologis, wadah penyemaian, obyek keindahan, pelecehan seksual, alat teror politik, sarana pembungkam gejolak sosial, dunia luarlah yang menentukan. Dan dunia luar itu bukan perempuan.

Kita hidup di dalam dominasi pandangan dunia yang, betapapun mengkampanyekan perbedaan perempuan dan laki-laki dari segi kodrati, tetapi sebetulnya amat menentang perbedaan. Perbedaan diatasi dengan memperkenalkan postulat yang satu. Segala sesuatu ditelusuri asal-usulnya dari yang satu. Sejak kecil kita pun mendengar tubuh perempuan yang berbeda dengan laki-laki diinterpretasikan secara telanjang sebagai bagian dari tubuh (rusuk) laki-laki. Perempuan diasal-usulkan ke laki-laki. Kita semua adalah bagian dari satu Tubuh Besar. Dan Tubuh Besar itu, kita menjadi seperti diyakinkan oleh Naomi Scheman, berkelamin laki-laki.

Maka semua hubungan direlasikan dengan yang satu dan berkelamin laki-laki. Perempuan direlasikan melalui kemampuan reproduksi menerima benih laki-laki dan dengan begitu menyatu lagi dengan Tubuh Besar itu. Perempuan diterima sebagai milik keluarga, sebagai ibu anak-anak para lelaki, sebagai harta suci kaum lelaki yang harus dijaga kehormatannya, atau yang boleh dihukum semena-mena oleh pemiliknya, atau oleh mereka yang hendak menghancurkan si pemilik. Siksalah perempuan ketika ia bersalah, siksalah perempuan ketika anak atau suaminya dianggap bersalah, siksalah perempuannya ketika kelompok tertentu dalam masyarakat harus dihukum; atau bunuhlah anak-anaknya untuk membungkam perempuan. Hancurkanlah perempuan untuk menghancurkan perlawanan.

Perempuan sudah menjadi kami-nya laki-laki. Inilah bagian dari epistemologi kesamaan. Dengan begitu perempuan memahami bahwa tempatnya dalam dunia selalu berhubungan dengan tubuh dan sejarah ketubuhannya yang berasal usul dari Tubuh Besar berkelamin laki-laki. Setiap upaya mengingkari kedudukan yang sudah ditentukan itu akan menyebabkan penghukuman yang bersifat ketubuhan. Bahkan perkosaan terhadap perempuan dapat dilihat sebagai bagian untuk meletakkan kembali perempuan di dalam satu tubuh besar itu. Kembali ke asal-usulnya.

Ketika kita berusaha mengangkat kenyataan bahwa perempuan adalah sosok manusia yang berbeda dari Sang Tubuh Besar dan berhak atas Tubuh dan hidupnya sendiri, bahwa perempuan tidak berhak atas kekerasan yang ditimpakan kepadanya hanya karena ia adalah ibu atau istri para anak dan para suami, bahwa ia adalah persona yang bebas dari kepemilikan dan kesemena-menaan, itu adalah pilihan keadilan untuk tetap setia kepada alam semesta yang plural, setia kepada kehidupan yang hakikatnya adalah keragaman yang luar biasa luasnya.

Pembentangan potret-potret kekerasan di hadapan kita harus dilihat sebagai potongan kecil dari sebuah nyanyian sunyi teramat panjang mengenai penghancuran perlahan-lahan perempuan di negeri ini lewat berbagai praktek kekerasan, nyata maupun terselubung. Perempuan dihancurkan lewat pelenyapan anak-anak dan suami-suami mereka; ketika mereka melawan dengan gigih, mereka sendiri dihancurkan lewat tubuh mereka atau bahkan lewat stigma pengkhianatan terhadap kodrat perempuan.

Buah-buah tindak kekerasan terasa begitu menyakitkan ketika dibentangkan di hadapan kita, tetapi menjadi sebuah upaya menjawab pertanyaan mendasar, mengapa kekerasan dan kekejian terus berlangsung, bahkan kian menggila di tanah ini? Sebuah upaya penyadaran bahwa sekalipun hukum dikonstruksi untuk merambah dan mengatur kawasan kesadaran gelap manusia, namun naluri kekuasaan yang bergolak di dalam diri sebagian manusia di negara ini, ternyata telah menciptakan tirani kekuatan yang tak mampu dikendalikan oleh hukum.

Pembentangan potret kekerasan ini adalah sebuah senandung hening untuk tetap setia dan berpusat kepada kemanusiaan, sekalipun kemanusiaan itu telah dikhianati dalam praktek-praktek patriarki, dominasi, dan politik yang paling menyakitkan. Sebuah senandung yang akan terus menggema dan memenjara benak kita di dalam ingatan yang perih. Di dalam penjara ingatan itulah kita belajar kembali akan makna kehidupan yang dikoyak oleh ketamakan kekuasaan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s