Sebuah Perang untuk Keterpukauan

Karlina Supelli

Human Condition, ‘opus magnum’ Hannah Arendt (1958), dibuka dengan kalimat menggetarkan: “Pada tahun 1957, sebuah obyek kelahiran bumi, buatan manusia, diluncurkan ke alam semesta, tempat ia selama beberapa waktu mengitari bumi menurut hukum-hukum gravitasi yang mengayunkan dan mengedarkan juga benda-benda langit–matahari, bulan, dan bintang-bintang.” Peristiwa ini kemudian ia sebut sebagai, “tak dapat dibandingkan dengan apapun.”

Seperti Cassirer yang dikutip Sdr. Nirwan Arsuka (Perang Ilmu, Kompas, 7 Mei 2000), Arendt kelihatannya melihat ilmu dan transformasinya ke teknologi sebagai bentuk pencapaian tertinggi manusia.

Maka menarik betul membaca Perang Ilmu yang ditulis oleh Sdr. Nirwan tersebut. Ia mengacu ke keributan tahun 1996 yang melanda berbagai jurnal ilmiah dan surat kabar dunia akibat olok-olok fisikus Alan Sokal yang dimuat di jurnal Social Text, tanpa editornya menyadari olok-olok Sokal. Setahun kemudian, bersama ahli fisika Jean Bricmont dari Université de Louvaine Belgia Sokal menulis buku Impostures Intellectuelles yang dalam bahasa Inggris terbit dengan judul Fashionable Nonsense, Postmodern Intellectuals’ Abuse of Science (1998).

Keduanya mengkritik kecenderungan beberapa tokoh bernama besar seperti Derrida, Kristeva, Lacan, Baudrillard, dan lain-lain, karena mengalihkan begitu saja gagasan-gagasan matematika dan fisika. Bukan ide diambil lepas dari konteks atau makna aslinya, tetapi juga tidak akurat. Sokal seperti hendak menunjukkan, kalau cetusan-cetusan pemikiran yang disampaikan untuk memperkuat argumennya saja demikian goyah, bagaimana mungkin pemikirannya bisa begitu berpengaruh?

Saya tidak mau ikut dalam “perang” itu. Sekalipun saya tidak setuju cara Sokal, saya setuju bahwa orang, khususnya pemikir dan para ahli, hanya bisa mengimpor gagasan dari pemikir atau bidang ilmu lain dengan sungguh-sungguh bertanggung jawab; tetapi saya ingin dengan sederhana mengembalikan perdebatan ilmu ini ke persoalan yang sesungguhnya ditolak, yaitu kecenderungan yang menekankan subyektivitas. Saya ingin mengatakan bahwa ahli fisika ikut bertanggung jawab atas lahirnya kondisi yang memungkinkan postmodernisme tumbuh; dan itu tidak ada hubungannya dengan pengambilaihan ide-ide mereka, secara benar atau salah.

Dilandasi latar belakang dan tujuan berbeda, perdebatan ilmu sudah berlangsung lama sekali, baik di aras metodologi maupun di aras epistemologi. Kasus Galileo yang dicontohkan Sdr. Nirwan, berlangsung di aras epistemologi namun menjadi tragedi karena berujung di aras politik ketika kekuasaan gereja mengucilkan Galileo beserta pandangan keilmuannya dari wilayah publik.

Sekali lagi tentang Galileo

Ketegangan antara Galileo dan pihak gereja yang diwakili oleh Bellarmino tidak akan terjadi andaikan Galileo mau menuruti anjuran Andreas Osiander. Di dalam pengantar buku Copernicus de Revolutionibus, Osiander menulis, “Tidaklah perlu hipotesa ini benar, atau bahkan mirip-mirip kebenaran; cukuplah bahwa ia menyediakan kalkulasi yang sesuai dengan pengamatan.” Namun Galileo, yang diperlengkapi dengan teleskop, mempunyai alasan kuat untuk percaya bahwa tata Copernicus bukan cuma instrumen untuk prediksi ilmiah, tetapi pemaparan yang sungguh-sungguh benar tentang dunia. Keyakinan keilmuan Galileo, sekalipun sedikit naif, menyebabkan ia menolak tunduk begitu saja kepada kekuasaan.

Melalui Karl Popper kita memang tahu bahwa bukanlah realisme Galileo ini yang ditolak pihak gereja, melainkan konsekuensinya yang amatlah mengkhawatirkan. Ini tampak seratus tahun kemudian ketika Berkeley mengkritik pandangan Newton. Berkeley khawatir bahwa kepercayaan orang terhadap agama akan menurun kalau saja hasil ilmu dan penafsiran oleh para ‘free-thinkers’-nya tidak ditolak. Di dalam keberhasilan ilmu terdapat “bukti kekuatan daya pikir manusia untuk mengungkap rahasia-rahasia alam tanpa pertolongan wahyu Tuhan.” Setelah dengan tekun, diam-diam, dan dengan kedalaman filosofis ia mempelajari konsep Newton, yakinlah ia bahwa teori itu tidak bisa lain kecuali instrumen prediksi gejala atau penampakan; instrumen tentu bukan gambaran benar (atau salah) untuk sesuatu apapun yang real.

Para ilmuwan tidak terpengaruh benar oleh pertentangan seperti ini, tetapi para filsuf meneruskan tradisi Berkeley melalui Hume, misalnya, yang menarik perdebatan ke skeptisisme radikal untuk semua bentuk pengetahuan. Sekarang ini kita melihat ketegangan model Galileo ini sudah lampau, sekalipun muncul juga dalam bentuk yang bisa berbahaya untuk orang awam, tetapi tidak terlalu berpengaruh di dalam gerak internal ilmu. Islamisasi ilmu seperti dicontohkan Sdr. Nirwan, Lysenkoisme, Creationisme, dan lain-lain itu tidak bertahan lama justru karena kemampuan metode ilmu menolak segala sesuatu yang mencoba mengkhianati kaidah-kaidah internalnya.

Kebanyakan ilmuwan, khususnya ahli fisika, merasa membawa terus spirit Galileo, sekalipun dalam versi lebih kritis dalam arti tidak lagi menganut realisme naif yang menghubungkan langsung teori dengan data. Sebagian besar sebetulnya justru berada dalam posisi epistemologis berlawanan. Ambillah contoh Heisenberg, Niels Bohr, Ernst Mach, Stephen Hawking, dan begitu banyak nama besar lain. Mereka ini, kecuali Einstein dan Schrödinger, semuanya berpandangan instrumentalis tentang ilmu. Sekalipun dengan marah Popper mengatakan bahwa Galileo sudah dikhianati, untuk para fisikus ini bukan masalah benar. Sebagai orang-orang yang sudah berhasil memajukan fisika dan matematika serta menyaksikan sendiri bukti keberhasilan temuan mereka di dalam kehidupan umat manusia, mereka tentu saja tidak begitu peduli mengenai apakah mereka realis, instrumentalis, konvensionalis, ataupun “is-is” lainnya. Tidak banyak yang menaruh perhatian ke posisi filosofis, kecuali seperti Mach, Eddington, Poincaré, Duhem.

Dunia tidak pernah sama lagi

Hanya saja, implikasi fisika abad ke-20 terlalu menakjubkan untuk tidak membangkitkan banyak pertanyaan mendasar untuk orang awam. Terlebih lagi untuk ahli ilmu-ilmu sosial, politik, dan budaya yang dalam kehidupan sehari-hari terus menerus dihadapkan ke kemungkinan-kemungkinan yang dibawa oleh ilmu pengetahuan alam dengan semua aspeknya.

Kalau kita kembali ke saat-saat para ahli fisika kenamaan seperti Feynman, Oppenheimer, Szilard, dan lain-lain itu, bekerja diam-diam meledakkan bom atom pertama dalam eksperimen di sebuah gurun di New Mexico, Juli tahun 1945, mereka tentu tidak membayangkan bahwa hanya dalam waktu teramat singkat, maha karya mereka yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki pada bulan Agustus 1945 membinasakan dengan seketika 170 ribu jiwa, serta membiarkan puluhan ribu lainnya mati perlahan-lahan. Dalam kancah perang dunia yang sama, Nazi secara rapi dan teradministrasi membunuh lebih dari 6 juta orang Yahudi dengan fumigasi.

Dunia tidak pernah sama lagi setelah itu.

Tentu saja pengetahuan tentang fisika murni tidak akan menimbulkan suatu akibat langsung sehingga orang mulai menafsirkan pengaruh ilmu atas kehidupan sosial. Namun ketika inti atom dapat dibelah dengan batuan teori fisika, dan informasi untuk mengembangkan berbagai daya manusia mulai dapat diterapkan, barulah orang memikirkan akibat-akibatnya.

Elie Wiesel, seorang survivor pembunuhan massal yang memperoleh Nobel Perdamaian 1986, menulis, “Holocaust menuntut interogasi dan segala sesuatu dipertanyakan. Di bawah bayang-bayang Birkenau (salah satu kamp pembunuhan massal, penulis), idea-idea tradisional dan nilai-nilainya, sistem filsafat dan teori-teori sosial–semua harus dikaji ulang. Novelis, politikus, penyair, dan ahli moral, ahli teologi dan cendekiawan/ti–semuanya merasa terdorong untuk meninjau kembali nurani mereka sehubungan dengan Holocaust; jika tidak, itu berarti membiarkan hidup berjalan dalam kebohongan.”

Implikasi etis, politis, dan filosofis ilmu membuat orang takjub sekaligus gentar (Wiesel kelihatannya paham membedakan implikasi dari kegiatan keilmuan sehingga tidak menghimbau par ahli ilmu pengetahuan). Justru pengalaman takjub dan gentar inilah yang tidak dijelaskan oleh ilmu. Mengulang ucapan fisikawan Weisskopf dan penggubah musik Bernstein serta filsuf van Peursen yang pernah dikutip Liek Wilardjo, sekalipun amat berguna, ilmu itu terbatas dan tak mampu memberikan pemahaman yang lengkap mengenai alam dan pengalaman manusia. Manusia memerlukan berbagai penghampiran lain untuk mengerti keragaman pengalamannya.

Orang menyaksikan, mulai akhir abad ke-19 sampai tahun 1950-an, bagaimana masyarakat dengan landasan filsafat dan kebudayaan modern menghasilkan kemajuan intelektual dan teknologi sekaligus menderita dua kali perang dunia; orang melihat transformasi kondisi kehidupan urban dan perubahan besar dalam hubungan-hubungan sosial. Sementara ilmuwan terus mengumandangkan norma universal Bacon tentang ilmu untuk “menanggulangi kesengsaraan dan memenuhi kebutuhan manusia” (yang sebagian besar memang terbukti benar) serta diktum pembebasan dari belenggu takhyul atau penindasan. Padahal penduduk Bumi yang paling tidak paham proses ilmu justru yang paling merasakan penindasan oleh sistem pengalihragaman hasil kegiatan ilmu ke kehidupan sehari-hari. Maka, pertanyaan menyangkut obyektivitas ilmu, otoritas yang diperoleh dari rasionalitas instrumentalnya, serta sifat positivistik yang menafikkan pengalaman maknawi manusia, kian gencar diajukan. Pengetahuan jelas-jelas memperlihatkan kekuasaannya, dan para ahli ilmu pengetahuan memperoleh keistimewaan untuk mengendalikan dan mengubah dunia melalui penerapan gagasan mereka di wilayah sosial dan politik. Penguasaan atas alam terikat kepada penguasaan atas manusia; sejarah kolonialisme menunjukkan itu.

Cukuplah uraian yang tiba-tiba saja memunculkan implikasi ilmu pengetahuan modern di aras etika ini dilihat sebagai, antara lain, permulaan motif politik postmodernisme; atau apapun itu hendak dinamakan. Postmodernisme itu sendiri sebuah nama yang tidak pernah didefinisikan untuk menamakan sesuatu.

Awal Ketegangan

Peralihan menuju abad ke-20 ditandai dengan positivisme tiba di puncak monopoli penafsiran realitas. Ini adalah masa metode ilmu pengetahuan alam diakui kemutlakannya. Scientism, yang sekarang ini sudah usang, menyebarkan gagasan mengenai kepercayaan ilmu kepada dirinya sendiri. Maksudnya, tidaklah cukup kita mengerti ilmu pengetahuan alam sebagai salah satu bentuk pengetahuan yang mungkin, tetapi harus mengidentifikasikan semua pengetahuan dengan ilmu pengetahuan alam. Kepada metode ilmu pengetahuan itulah semua ilmu harus mengacu supaya keberhasilannya untuk kepentingan umat manusia dapat terjamin. Dunia memerlukan ilmu pengetahuan terpadu.

Itulah saat Dilthey (1833-1911) merasa perlu untuk membedakan sekaligus menyetarakan ilmu pengetahuan budaya yang disebutnya Geisteswissenschaften dengan Naturwissenschaften atau ilmu pengetahuan alam. Ia sangat menekankan pengalaman, tetapi tidak menyamakan dengan fakta inderawi semata seperti para positivis. Ia mencoba meletakkan landasan filosofis yang kokoh untuk ilmu pengetahuan budaya dengan mengacu ke kategori kehidupan berupa nilai, kehendak, dan makna. Jika obyektivitas ilmu pengetahuan alam diperoleh dengan menanggalkan seluruh spektrum pengalaman prakeilmuan dan menampilkan obyek menurut kategori bilangan, ruang, waktu, massa, ilmu pengetahuan budaya menjadikan pengalaman sehari-hari prakeilmuan sebagai bahan kajiannya dengan menerapkan penghayatan, ekspresi, dan pemahaman. Tak ada pembatasan pengalaman oleh kondisi eksperimental seperti dalam pengamatan terkendali ilmu pengetahuan alam.

Dunia pengalaman kehidupan sehari-hari ini direfleksikan secara radikal oleh filsuf Husserl (1859-1938) dan menghasilkan pandangan bahwa pengetahuan ilmiah adalah abstraksi dan idealisasi dari dunia kehidupan sehari-hari, serta penafsiran tentang dunia kehidupan ini. Ia mengkritik anggapan naif seakan-akan ilmu bisa diceraikan dari dunia kehidupan sehari-hari. Ilmu pengetahuan alam hanya mendandani dunia itu dengan baju obyektif tetapi belum dapat melepaskan diri dari pengandaian-pengandaiannya sendiri. Husserl mengatakan bahwa melalui ide-ide ilmu kita menganggap benar apa yang sesungguhnya hanya metode. Metode itu awalnya dirancang untuk tujuan keberhasilan prediksi atas pengalaman di dunia kehidupan. Ini berarti teori ilmiah hanya instrumen atau cara pandang tertentu untuk berhubungan dengan dunia demi kepentingan tertentu.

Ironisnya, pemikiran Husserl yang membuahkan gugatan terhadap gagasan dasar keilmiahan, sebetulnya ia maksudkan justru untuk menjadikan filsafat sebagai ilmu yang keras dengan logika sangat ketat dan mengembalikan obyektivitas kepada pemikiran. Husserl ingin melawan berbagai bentuk antirasionalisme dan anti-intelektualisme yang ia saksikan merembes ke dalam berbagai segi kehidupan, serta nampak nyata-nyata menjadi elemen propaganda dan ideologi Nazi. Di wilayah akademik, selain menolak eksistensialisme, ia menyebut positivisme logis Lingkaran Wina sebagai pembawa skeptisisme irrasionalistik.

Sekadar Alat

Di lingkungan ilmuwan dan filsuf pada waktu itu memang berkembang gagasan yang mempertanyakan peran filsafat dalam kaitannya dengan perkembangan ilmu, sekaligus juga hubungan antara elemen subyektif pengetahuan dan elemen obyektifnya, atau alam itu sendiri. Boleh jadi banyak ahli fisika mengolok filsafat Kant, bahkan menjulukinya neurotik, tetapi mengatakan bahwa ada dua kenyataan, satu bertumpu ke alam semesta dan satunya bertumpu ke kenyataan manusiawi, adalah Kantian. Ia menamai kenyataan yang tak terjangkau oleh pemahaman itu sebagai dunia noumenal. Pengetahuan obyektif mengenai dunia fenomenal menjadi mungkin karena ada elemen subyektif yang niscaya, a priori, yang memberi bingkai untuk pengalaman. Dari sinilah kita mendapatkan landasan penafsiran bahwa teori-teori ilmiah adalah temuan dan bentukan kesadaran, idea-idea ilmuwan sendiri.

Di lingkaran Wina, ahli matematika Reichenbach melempar gagasan bagaimana perkembangan geometri dan fisika seharusnya menjadi sarana untuk menafsir ulang konsep-konsep Kant mengenai pengetahuan, yang nampak seperti ketinggalan zaman. Kant memang mengacu ke mekanika klasik Newton dan geometri Euclid untuk melahirkan filsafatnya.

Penafsiran ulang ini membuahkan gagasan bahwa komponen formal pengetahuan ternyata merupakan elemen konvensional. Poincaré, yang dituduh ikut membawa masuk interpretasi konvensionalis ke dalam ilmu pengetahuan alam, menolak mengatakan bahwa seluruh ilmu adalah hasil konvensi. Ia mengatakan bahwa prinsip-prinsip geometri-lah yang konvensi. Padahal Kant melihatnya sebagai sesuatu yang absolut untuk memungkinkan pengetahuan yang obyektif. Orang bebas memilih geometri non-Euclid atau Euclid misalnya, dan pemilihan itu dipandu oleh pengalaman. Pengalaman inilah yang menunjukkan bahwa pilihan yang satu lebih nyaman untuk kepentingan perhitunngan, daripada pilihan lainnya. Poincaré juga menekankan bahwa tujuan ilmu adalah hubungan di antara benda-benda alam, bukan bendanya sendiri.

Masuknya pemikiran subyektivisme ke fisika, begitu Popper menyebutnya, dapat ditelusuri dari pekerjaan ahli fisika Ernst Mach dan Duhem. Mach, dengan maksud menjaga kesetiaan pemikiran logis dan filosofisnya kepada ciri ilmu, memegang sangat ketat empirisme tetapi yang sebetulnya hanya mengenali satu dimensi realitas saja, yaitu data inderawi. Untuk Mach teori adalah instrumen yang dibangun agar prediksi ilmiah bisa berjalan sesederhana mungkin tetapi dengan hasil sekokoh mungkin. Ini untuk menghemat waktu dan mengurangi kerumitan merekam data. Teori tidak perlu dibebani dengan idea substansi; orang yang mencoba memberikan gambar tentang realitas yang ada di belakang penampakan gejala, sebetulnya sedang melakukan metafisika–sebuah kata yang dipakai sebagai eufimisme nonsense.

Untuk Mach, teori di atas segala-galanya, adalah ekonomi pemikiran. Ini juga yang menjadi keyakinan Duhem. Duhem memandang teori sekadar metode pengklasifikasian gejala fisika sehingga mencegah kita tenggelam di dalam kerumitannya.

Percakapan para ilmuwan dan beberapa filsuf sepanjang akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, ini tentu saja menarik perhatian. Apalagi para ilmuwan dengan temuan yang mencengangkan namun begitu sukar dipahami lewat bahasa sehari-hari, mulai menulis buku semi populer. Ketika salah seorang tokoh utama fisika kuantum, Heisenberg, menuliskan bahwa situasi pengukuran di wilayah subatomik menunjukkan, “realitas obyektif sudah menguap, dan mekanika kuantum tidak merepresentasikan zarah, melainkan pengetahuan kita tentang pengamatan, atau kesadaran mengenai zarah,” para ahli fisika pun terbelah dua. Ada kelompok yang meyakini bahwa teori kuantum sudah lengkap serta selesai, dan ada yang meragukannya.

Tidak lupa, ia lalu juga mengingatkan pembaca buku populernya akan ucapan Bohr, “pada saat mencari keselarasan di dalam hidup orang tidak pernah boleh melupakan bahwa di dalam drama eksistensi, kita adalah sekaligus pemain dan penonton,” sambil kemudian meneruskan, “apa yang kita amati bukanlah alam itu sendiri, tetapi alam yang ditampilkan oleh cara kita bertanya.”

Obyek dan subyek takterpilahkan lagi satu dengan yang lainnya.

Saya tentu saja tidak sedang membiarkan diri terjerembab ke dalam apa yang dikritik Sokal, yaitu mengutip ilmuwan untuk memberi bobot kepada tulisan saya. Saya hanya ingin menunjukkan bahwa ketika ilmuwan membicarakan gagasan epistemologisnya itu, atau menolak memakai kata benar dan salah untuk menilai teori karena mengetahui bahwa tidak ada gunanya memasalahkan keterkaitan teori dengan realitas yang dalam prakteknya hanya bisa mereka ketahui sejauh terikat kepada teori, bisa saja itu posisi pragmatis ad hoc. Demi menghindari kontradiksi penafsiran hasil eksperimentasi mereka. Jika kutipan-kutipan itu diadopsi ke bidang pemikiran lainnya, dengan tepat dan sesuai konteksnya, kondisi untuk postmodernisme tercipta.

Hubungan dengan realitas yang terjamin kepastian dan kebenarannya lewat ilmu, tiba-tiba saja ternyata hanya menawarkan hubungan instrumental untuk prediksi dan kontrol. Apakah ini berarti riwayat keyakinan akan kebenaran ilmu yang dibayar Galileo dengan kebebasannya, juga selesai?

Sementara obyektivitas yang dijamin lewat epistemologi subyek-obyek yang mengandaikan hubungan terpilah antara manusia dan dunia kehidupan–sehingga memungkinkan munculnya pernyataan realis mengenai kebenaran dan karakter teracu teori ke suatu wilayah (obyek) independen–ternyata lebih berhubungan dengan moda penyelidikan, dan dengan begitu kegiatan manusia. Dalam hal ini obyektivitas menjadi klaim bahwa pengetahuan yang disuguhkan sudah teruji dengan mengacu ke kriteria nonsubyektif, taksembarang, dan intersubyektif.

Kalau demikian, apakah manusia itu menemukan dunia ataukah menemukan struktur pikirannya sendiri? Apa jaminan bahwa struktur itu berbicara tentang dunia?

Tidak ada. Paling banyak kita tahu kalau kita salah, tetapi tidak mungkin pernah tahu kapan kita benar. Padahal, ada banyak hal dilakukan atas nama kebenaran ilmiah dan obyektivitasnya. Termasuk rekomendasi ahli genetika Jerman Eugen Fischer pada tahun 1913 berdasarkan penelitian atas superioritas ras. Ia meneliti perkawinan campuran di Afrika Barat Daya tahun 1908. Sesudah itu, ia mengusulkan agar ras campuran tidak perlu diberi perlindungan karena gen mereka inferior. Ketika tidak bermanfaat lagi, mereka pasti kalah di dalam persaingan bebas. Dengan begitu, jumlah mereka akan berkurang. Gagasan ini diterapkan ke orang-orang yang secara genetik inferior, seperti anak-anak terbelakang mental bahkan orang sakit tak tersembuhkan. Beberapa psikiater dan ahli hukum mengusulkan euthanasia; ini dilaksanakan tahun 1939 dengan memfumigasi 70.000 pasien cacad mental.

Ilmu pengetahuan modern dengan sengaja menanggalkan kontemplasi akan kosmos yang di zaman kuno berguna untuk memahami tatanan ilahiah. Kontemplasi itu melekat di kata theoria itu sendiri. Ilmu modern mengarahkan diri kepada fakta untuk mencari pengetahuan. Tradisi kontemplatifnya masih berjalan, tetapi diarahkan untuk melahirkan ilmu yang bebas nilai dan ilmu yang tidak diganduli kepentingan, untuk membebaskan pernyataan-pernyataan logis dan deskriptif dari pernyataan normatif, serta menyaring kandungan emotif dari kandungan kognitif menurut aturan bahasa.

Akhir sebuah Ideologi

Saya tidak bermaksud mencampuradukkan antara ilmu dan aspek ilmu (atau lebih tepat aspek terapan ilmu serta alihragamnya ke teknologi). Saya melihat bahwa hal paling penting yang diperoleh dari ilmu adalah pertimbangan bahwa kalau kita tidak bisa mengetahui kebenaran sebagai sesuatu yang bisa disingkapkan, sedikitnya kita tahu apa yang kita bisa lakukan. Pelajaran penting inilah yang mendorong pengembangan teknologi, tetapi seperti dikatakan Hannah Arendt mengalihkan vita contemplativa ke vita activa, dari apakah sesuatu itu ke bagaimanakah sesuatu bekerja, dan menempatkan homo faber dan animal laborans di tempat tertinggi kebudayaan dengan menekankan nilai instrumental. Tanpa secara eksplisit dapat dihubungkan dengan tindakan manusia di dalam kehidupan bersama, ilmu berkembang menjadi kekuatan teknis yang merembes masuk ke hampir semua lapis kehidupan.

Kita bisa seperti Husserl, mengkritik ilmu-ilmu di Eropa awal abad ke-20 tetapi masih tinggal di dalam kerangka berpikir bahwa ada pengetahuan yang bisa menjamin kelangsungan hubungan antara teori murni dan praksis kehidupan sehari-hari. Untuk Husserl yang penting adalah membentuk sikap yang bijaksana dan berpandangan luas di kalangan teoritisi sehingga kebudayaan ilmiah suatu ketika akan lahir. Husserl dikritik oleh Habermas, karena masih saja mengira bahwa ia sudah menemukan jalinan hubungan dunia yang ideal di tatanan kosmis, maka akan menemukan juga prototipenya untuk dunia manusia.

Judul Konferensi Nobel ke-25 tahun 1989 adalah The End of Science, tetapi tak satupun pembicara, mulai dari feminis Sandra Harding sampai pemenang Nobel fisika Sheldon Lee Glashow, setuju bahwa ilmu pengetahuan sudah mati, sekalipun hanya secara filosofis. Mereka setuju bahwa ideologi ilmu sebagai model untuk pengetahuan beradab tidak bisa dipertahankan. Bagaimanapun, ilmu tetap merupakan alat terbaik untuk mengatasi persoalan kebumian. Ilmu juga sarana untuk memahami rahasia tersembunyi dan keindahan jagad raya.

Tidak mudah untuk orang yang masih setia kepada ilmu mengatakan kepada mereka yang terpukau oleh temuan ilmu, bahwa sifat ilmu yang selalu memetabolisme diri seperti tulis Sdr. Nirwan, mengharuskan orang bersifat sangat kritis terhadapnya.

Ketika asas antropik muncul tahun 70-an dan menerima perluasan interpretasi hingga menjamah teologi, filsafat dan mistisisme, buku God and the New Physics, The Mind of God, dan sejenisnya–kebanyakan ditulis oleh ahli fisika–dibaca dan dibahas bertubi-tubi. Hanya ada satu semangat: ilmu pengetahuan mulai berbicara tentang Tuhan. Apakah yang ada dalam imajinasi Anda ketika membaca, “Alam semesta haruslah sedemikian sehingga menerima penciptaan pengamat-pengamat pada suatu waktu.”

Sia-sialah menyampaikan bahwa Carter dan Hawking sebetulnya sedang memperkenalkan sebuah alat untuk memprediksi beberapa konstanta alam. Alat itu tidak berhubungan dengan kisah tentang alam yang mengarahkan diri kepada penciptaan manusia, atau ide tentang Tuhan. Faktanya manusia itu hadir di dalam alam semesta; mengapa tidak memakai kondisi yang niscaya untuk keberadaannya (nilai tertentu konstanta alam seperti gravitasi, laju cahaya, dan lain-lain) sebagai sarana memahami masa lampau jagad raya?

Diskusi selalu ramai, dan seringkali membuat saya berpikir bahwa postmodernisme yang menggugat ada gunanya juga. Sedikitnya untuk membongkar keterpukauan kepada ilmu seperti sudah terbukti sejak abad lalu. Betapapun ditentang dan ditantang, tetapi selalu saja orang jatuh ke dalam ketakjuban kepada ilmu pengetahuan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s