Ringkasan Pemikiran: Orang Tua di dalam Pendidikan Anak-Anak

Karlina Supelli

Tema Seminar “Kiat Pendidikan Penyelamat Anak Bangsa” terasa sangat berat untuk saya, terutama ketika harus menjadi pembicara. Dalam kondisi negara yang demikian memprihatinkan karena kekerasan merebak di banyak tempat, karena masyarakat kehilangan kepercayaan terhadap institusi peradilan dan seringkali menjadi hakim yang sangat ganas, karena ekonomi tidak juga membaik dan kita terjebak di dalam lingkaran tekanan hubungan internasional, dan berbagai karena lainnya, kita memang segera menoleh kepada Pendidikan. Bisakah pendidikan menyelamatkan anak bangsa? Kata kiat mengandaikan ada taktik, untuk jangka pendek. Padahal pendidikan merupakan sebuah gerak jangka panjang. Maka kiat itu haruslah merupakan terjemahan dari sikap kita di dalam melihat pendidikan jangka panjang.

Maka saya ingin mulai dari yang paling sederhana. Sedikit muluk, tetapi memang itulah yang ada di benak orang tua umumnya ketika berpikir tentang pendidikan anak, atau mungkin ketika sang anak lahir ke dunia. Sambil menggendong anaknya yang masih bayi, biasanya orang tua akan membisikkan atau membatinkan harapan-harapan sederhana untuk sang anak. Saya ingin menerjemahkan harapan-harapan itu demikian:

Orang tua mempunyai harapan bahwa anak-anaknya minimal mempunyai pengetahuan dan sedikit ketrampilan yang akan berguna untuk mengatasi persoalan kehidupannya sehari-hari. Dimulai dengan pengetahuan kognitif yang paling dasar yaitu membaca dan menulis, seorang anak kemudian diharapkan mempunyai sedikit pengetahuan eksistensial pragmatis, yaitu yang berguna untuk menjalani kehidupannya; untuk survive. Pada tingkat berikutnya, syukur-syukur kalau di anak kemudian dapat memperoleh pengetahan yang selanjutnya akan memungkinkan ia mengembangkan bakat dan minatnya.

Melampaui pengetahuan yang bersifat informatif ini, orang tua mengharapkan anaknya tumbuh menjadi manusia yang bebas dan mampu menentukan pilihan-pilihannya sendiri, yang dapat membuat penilaian-penilaian atas situasi yang dihadapi secara pribadi maupun sebagai anggota masyarakat, secara bertanggung jawab. Untuk ini diperlukan sebuah kesadaran kritis mengenai tanggung jawab sebagai manusia. Kita sebagai orang tua, dengan perkataan lain mengharapkan anak-anak kita menjadi manudia yang mempunyai komitmen terhadap kemanusiaannya. Komitmen yang sudah terlebih dahulu menerima cahaya pengetahuan, yang memberinya kebijaksanaan dalam memutuskan.

Ini tentu saja sangat ideal dan sedikit muluk, seperti saya sebutkan di atas. Biarlah, karena dengan begitu kita meletakkan cita-cita mengenai manusia ideal itu di sebuah cakrawala upaya kita. Maka pertanyaannya menjadi, apakah yang hendak kita capai melalui pendidikan untuk anak-anak kita?

Saya ingin mengembalikannya ke persoalan eksistensi manusia. Pertama-tama manusia mengada di dalam dunia. Ia bukan hanya sekedar hidup, tetapi menjalani kehidupannya dengan hadir bersama di dalam dunia. Manusia berkoeksistensi dengan manusia lain, dan dengan mahluk hidup lainnya dan benda-benda mati. Inti pendidikan adalah memanusiakan manusia menurut hakikatnya sebagai yang berada bersama di dalam dunia. Pendidikan secara ideal mengemban cita-cita pemuliaan manusia. Pendidikan bertujuan menarik keluar potensi yang ada di dalam diri manusia, mengakutualkannya sehingga hakikat itu terpenuhi. Ini berarti, seperti dipaparkan di atas, bukan hanya aspek kognitif, tetapi juga moral, spiritual, sosial, budaya, dan afeksi. Ada persoalan yang menyangkut sesuatu yang personalistik, tetapi juga universal, di dalam pendidikan.

Kalau di sekitar sekarang kita mendapatkan realitas kehidupan yang demikian memprihatinkan, kita tidak bisa dengan begitu saja menunjuk kepada sistem pengjaran dan pendidikan yang seringkali kita katakan sebagai salah. Tidak bisa disangkal, ada sebuah kesalahan mendasar di dalam sistem itu. Karena alih-alih memenuhi tujuan mulia pendidikan, sistem itu malah menghasikan penyeragaman pemikiran, strategi adaptasi terhadap lingkungan, dan reproduksi ideologi rezim. Namun kita semua bertanggung jawab untuk itu, karena pendidikan adalah tugas bersama yang memerlukan komitmen dari setiap mereka yang terlibat dan akan terpengaruh olehnya (stakeholders). Itu berarti keluarga, masyarakat, dan pemerintah. Pemerintah sejauh ini memegang hak dan kendali penuh atas pendidikan melalui kebijakan sentralisasi, yang hampir-hampir tidak melibatkan masyarakat.

Sementara sebagai orang tua dan anggota masyarakat kita ikut selama ini di dalam kebijakan itu. Salahkan kita? Sebagian mengatakan iya, sebagian mengatakan tidak. Ada sebuah sistem represi yang selama ini tak berani kita tolak, karena begitu kita menolak atau sedikit saja menunjukkan sikap kritis terhadap sistem, muncul stigmatisasi yang meminggirkan kita. Untuk guru, yang berdiri di garda paling depan pelaksanaan pendidikan anak di sekolah-sekolah, risikonya bahkan lebih besar. Selain berada di dalam kontrol pelaksanaan kurikulum yang ketat, guru dicitrakan sebagai sosok ideal yang digugu dan ditiru. Guru yang menolak mematuhi perintah atasan atau pusat kekuasaan, menerima stigma sebagai guru yang tidak patut “diteladani.” Bahkan ketika situasi sudah berubah seperti sekarang, protes guru untuk kesejahteraan yang paling dasar sekalipun menimbulkan berbagai pendapat yang memojokkan guru yang sebetulnya sudah terpojok itu.

Sekalipun demikian, selalu saja suara hati kita akan menegur kita bahwa setiap orang, secar apribadi,mempunyai tanggung jawab untuk menolak sistem yang represif. Itu sebabnya sebagai orang tua, kita bertanggung jawab karena kita ikut terbawa di dalam proses membenarkan sikap adaptif demi keselamatan ini, kalau bukan malah sebagian besar dari kita ikut beradaptasi dengan lingkungan kita sendiri pertama-tama, kemudian memaksa anak untuk beradaptasi dengan tuntutan-tuntutan lingkungan orang tua, termasuk prestise dan kebanggaan orang tua. Anak hanya dibolehkan menyesuaikan diri dengan realitas di sekitarnya tetapi tidak diizinkan melakukan penilaian kritis terhadapnya. Ketika anak menunjukkan pendiriannya yang kokoh, kita dengan mudah menilainya sebagai keras kepala dan mengatakannya sebagai anak yang sulit diatur. Kita sebagai orang tua pun bangga mempunyai anak-anak yang “baik”, lebih-lebih patuh.

Kepatuhan luar biasa menjadi ciri dari pendidikan yang sudah bersama-sama kita bentuk selama ini. Kepatuhan sistematis dibentuk dengan menjadi-jadi setelah anak-anak mulai memasuki sekolah dan menerima mata pelajaran serta membaca buku-buku yang dengan kandungan ideologis tertentu dengan sengaja hendak melahirkan apa yang oleh filsuf pendidikan Freire disebut sebagai budaya bisu, culture of silence.

Saya tidak akan berlama-lama dengan melihat masa lampau ini, sekalipun dengan jujur kita harus terlebih dahulu menyingkap dan membongkar kesalahan kita di masa lampau untuk sebuah bangunan masa depan yang kita konstruksikan bersama. Saya ingin kembali ke hakikat manusia untuk melihat bagaimana sebagai orang tua kita dapat bersikap terhadap anak-anak kita, karena pertama-tama dan di atas apapun, pendidikan anak-anak adalah tanggung jawab orang tua.

Anak pertama-tama adalah seorang manusia yang sedang berproses (kita semua terus menerus berproses, tetapi anak terlebih-lebih) untuk mengalami dunia kehidupannya. Ini berarti ia membuka diri dan menjalin hubungan-hubungan dengan yang lain dari dirinya, ia pun mengobyektifikasi dunia sehingga dapat memperoleh pengetahuan tentang dunia dan tentang dirinya. Anak berproses mempersiapkan diri menjadi subyek yang utuh, pelaku yang bebas dan sadar akan pilihan serta tindakan-tindakannya. Justru kebelumsiapan anak inilah yang sering kali tidak kita terima; kita mendampingi anak untuk berada bersama dengan orang lain, mahluk lain, dan benda-benda. Berada bersama yang bisa menggembirakannya, membangkitkan harapan-harapan, atau membuatnya berduka atau kecewa.

Orang tua mengantar anak sehingga menjadi subyek perubahannya sendiri, dan bukan obyek untuk perubahan yang dipaksakan dari luar. Ini berarti anak sejak awal ikut serta menjadi pengambil keputusan menyangkut dirinya. Ketika kelak ia masuk menjadi anggota masyarakat dewasa, ia bukan sekedar subyek yang mengadaptasi, tetapi mampu menyesuaikan diri sekaligus secara kritis menilai lingkungannya dan melakukan perubahan-perubahan. Dengan cara ini, anak setiap kali akan bersikap kritis dan tidak menjadi orang yang mudah ikut-ikutan saja demi keselamatan diri atau demi pengukuhan identitas di lingkungannya.

Di sinilah proses dialog menjadi penting. Orang tua seringkali begitu meyakini pilihan-pilihan dan putusan-putusannya sendiri sehingga kepada anak kemudian tinggallah melakukan pembujukan-pembujukan agar anak mengikuti jalan pilihan orang tua. Yang seharusnya dilakukan orang tua adalah membuka dialog, yaitu menciptakan hubungan timbal balik setara dengan anak-anaknya yang dipenuhi cinta dan saling menghormati. Yang sering dilakukan orang tua, kalau bukan memaksa adalah membujuk dengan iming-iming hadiah, tetapi bukan berdiskusi dengan saling memberi argumen atas pilihan. Melibatkan diri di dalam komunikasi terbuka, dialog, adalah jalan menuju humanisme sejati. Sementara komunikasi yang bisu tidak lain adalah kekerasan. Dialog tidak menindas, tidak menipu, tidak memanipulasi, tidak membujuk.

Yang diperlukan oleh anak adalah ajakan untuk setiap kali merefleksikan tindakan-tindakannya, merenungkan akibat perbuatannya terhadap dirinya sendiri dan dunia bersama. Merenung adalah membuat jarak terhadap dunia dan diri sendiri, untuk melihat dengan kritis pengalaman, memahami konteks di mana pengalaman itu berlangsung, menilainya, untuk kemudian maju ke tindakan berikutnya..

Anak membutuhkan hal-hal sedernaha namun jujur. Pertama-tama ia membutuhkan cinta: mencintai dan dicintai. Dengan cinta ia diterima apa adanya, dan dengan begitu merasa aman berada di sekitar orang tua dan keluarganya. Dengan rasa aman ini ia percaya bahwa ia dapat menceritakan pengalamannya tanpa akan dihinakan, disingkirkan. Tetapi anak juga memerlukan disiplin dan ketegasan orang tua.

Tanpa dialog akan terjadi pertentangan dan benturan, yang dalam perkembangan selanjutnya akan semakin membuat orang tua memihak kepada kepentingannya dan anak kepada kepentingan yang dipengaruhi oleh lingkungannya. Orang tua dan anak-anak sama-sama menjadi anti-dialog, emosional, tidak kritis, dan angkuh atas pilihan-pilihannya sendiri.

Ini bukan sekedar kiat, tetapi sebuah keterbukaan tulus yang kita tumbuhkan di dalam diri untuk mengakui anak-anak sebagai pribadi yang kita hormati.

Orang tua kemudian mengirim anaknya ke sekolah untuk belajar; dan ini berarti ia tidak boleh lalu menganggap tugas pendidikan akan diambil alih oleh sekolah. Hubungan orang tua, sekolah, dan guru harus lebih dibuka sehingga bukan hanya hubungan finansial dalam pertemuan sekali setahun.

***

Negara kita berada dalam sebuah masa peralihan yang sangat penting saat ini dengan “jendela kesempatan” yang tidak lebar. Sebuah peralihan dari sistem pemerintahan otoriter dengan represi yang sistematik, menuju ke–harapan dan menjadi perjuangan bersama–pemerintahan demokratis. Amatlah penting bagi kita untuk bisa menentukan apa yang hakiki dari masa transisi itu dan tidak tenggelam dalam percakapan-percakapan permukaan yang membingungkan mengenai perubahan sikap atau pemikiran elit politik. Kalau tidak kita sendiri akan terombang-ambing dalam kekuatan yang saling bertentangan sehingga semakin memperkuat kehendak untuk mengutamakan pilihan-pilihan yang menguntungkan kelompok.

Dalam masa ini pendidikan merupakan tugas mendesak, termasuk menentukan strategi bagaimana sentra-sentra pendidikan dapat berperan bersama, orang tua, masyarakat, pemerintah, sekolah.

Namun di antara itu semua, menjadi sebuah pertanyaan mendasar untuk kita semua yang hadir, ketika berbicara tentang pemberdayaan orang tua: bagaimana dengan anak-anak pinggiran?

Untuk saya akan menjadi sebuah ironi jika kita berbicara tentang pemberdayaan orang tua demi anak-anak bangsa ini tetapi tidak menyentuh anak-anak pinggiran. Bisakah kita juga menjadi orang tua untuk anak-anak yang kebanyakan tidak lagi berada di sekitar orang tuanya? Bisakah kita peduli terhadap anak-anak terpinggirkan itu, dan tidak membatasi ke”orangtua’an kita kepada anak-anak sendiri saja?

Kita harus mencari jalan, di dalam diskusi ini untuk menjadi orang tua bagi anak bangsa, dan terlebih-lebih, bagi anak-anak kemanusiaan

(April 2000; bahan untuk diskusi “Kiat Pendidikan Penyelamat Anak Bangsa” di Jakarta, diselenggarakan oleh Yayasan Pendidikan Esti Bakti)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s