Kosmologi Awam, Ilmiah, dan Religius: Dari Kosmologi ke Dekosmologisasi

KOSMOLOGI AWAM, ILMIAH, DAN RELIGIUS: DARI KOSMOLOGI KE DEKOSMOLOGISASI

Karlina Supelli

Panitia meminta saya untuk membawakan tema Alam Sebagai Pertanda Tuhan dengan subtema Argumen-argumen Kosmologis. Tema-tema seperti ini sudah dikenal lama sekali dan selalu saja menimbulkan perdebatan. Dalam makalah ini saya tidak membahas argumen-argumen kosmologis menurut versi asli ataupun menurut apa yang sekarang banyak disebut sebagai Kosmologi Baru. Saya hanya akan melempar sebuah proses bertanya dan merekonstruksi pikiran sebagaimana berlangsung di dalam kosmologi, dan bagaimana proses itu membentangkan kemungkinan-kemungkinan untuk berefleksi melampaui realitas faktual. Jika di dalam pembahasan terjadi persentuhan-persentuhan antara berbagai disiplin ilmu dan juga di antara berbagai cabang filsafat, maka memang itulah Kosmologi, The Science of the Universe, dengan K kapital, S kapital dan U kapital.

Kosmologi mungkin merupakan cabang ilmu pengetahuan tempat para ilmuwan dapat menyebut-nyebut Tuhan dengan tidak sungkan-sungkan. Einstein misalnya, pernah mengatakan kepada Ernst Straus bahwa apa yang menarik untuknya adalah pertanyaan apakah Tuhan mempunyai pilihan dalam menciptakan alam semesta. Hawking mengacu ke hukum-hukum alam sebagai the Mind of God. Sementara Fred Hoyle, sekalipun tak langsung menyebut kata Tuhan, jelaslah kiranya yang ia maksudkan ketika menyebut Intelligent Mind.

Tuhan memang tidak pernah secara sengaja diperbincangkan di dalam kosmologi. Ungkapan-ungkapan tentang Tuhan muncul dalam buku-buku kosmologi ilmiah populer. Itu semua karena kosmologi berbicara antara lain mengenai struktur skala besar alam semesta termasuk asal usulnya. Maka dengan pengetahuan kosmologi yang paling sederhana sekalipun, orang akan bertanya, bagaimanakah semua ini bermula? Mengapa alam semesta seperti ini? Kemanakah semua ini akan menuju? Pertanyaan-pertanyaan ini, jika dihubungkan dengan keyakinan seseorang akan ajaran agamanya, akan segera membawa ia ke permasalahan Tuhan dalam penciptaan dan pengaturan alam semesta.

Salah satu ciri yang paling menakjubkan dari alam semesta adalah keteraturan. Benak manusia sejak dulu menangkap keteraturan ini. Terbit dan tenggelamnya Matahari, peredaran planet-planet dan susunan bintang-bintang yang bergeser teratur dari malam ke malam sejak pertama kali manusia menyadari keberadaannya di dalam alam semesta, hanya merupakan contoh-contoh sederhana. Ilmu pengetahuan itu sendiri hanya menjadi mungkin karena keteraturan tersebut yang kemudian dibahasakan lewat hukum-hukum matematika. Tugas ilmu pengetahuan umumnya dapat dikatakan sebagai menelaah, mengkaji, menghubungkan semua keteraturan yang teramati. Ilmu pengetahuan bertujuan menjawab pertanyaan bagaimana dan mengapa. Namun khusus untuk kosmologi, pertanyaan ‘mengapa’ ini di titik tertentu mengalami kesulitan yang luar biasa.

***

Sebagai suatu telaah mengenai alam semesta, kosmologi abad ke-20 yang dikenal sekarang ini berkembang dan diterima sebagai sintesis besar berbagai cabang ilmu pengetahuan alam. Kosmologi ini berupaya memperoleh pengertian yang menyeluruh mengenai struktur spasial, temporal, dan komposisional alam semesta skala besar dengan maksud mempersatukan tampilan dan sifat alam semesta teramati ke dalam suatu hopitesis yang swa-ajek yang akan mendefinisikan struktur dan evolusinya.

Kosmologi mengalami kemajuan yang luar biasa pesat terutama karena dukungan kecanggihan piranti pengamatan astronomis, serta laboratorium fisika zarah yang mampu menyediakan ‘ruang-waktu’ mirip masa lampau alam semesta dini. Sementara teori-teori fisika kontemporer menyediakan tetapan-tetapan dasar yang memungkinkan perilaku berbagai tampilan alam semesta dalam skala yang berbeda-beda kian dimengerti.

Namun di belakang segala rincian pemahaman fisika yang berhasil dikonstruksikan, tanpa perlu menjadi kosmolog, banyak di antara kita seperti terus mendengar gema suara ahli fisika Erwin Schrödinger di dalam diri sendiri, ‘I know not whence I came nor whither I go nor who I am’, dan terus berjuang mencari jawabannya.

Gema suara itulah yang menyebabkan kosmologi menarik bukan hanya untuk para kosmolog, tetapi untuk setiap orang yang mempertanyakan makna kehadiran dan tempatnya, baik di dalam alam semesta maupun di dalam kehidupan. Gema suara-suara seperti itulah yang memberi nafas dan menghidupi kosmologi tradisional sejak perkembangan mulanya ribuan tahun yang lalu.

Pada awalnya pertanyaan seperti itu muncul semata-mata sebagai keingintahuan yang manusiawi. Melalui kosmologi pertanyaan itu bukan semata-mata pertanyaan awam di kala senggang, tetapi menerima kesahihannya. Ini bukan berarti bahwa pertanyaan itu hanya berbobot jika diajukan melalui kosmologi, melainkan karena kosmologi abad ke-20 memperlihatkan suatu fakta yang sukar untuk dibantah, yaitu adanya ketertalaan yang amat peka dan halus di dalam alam semesta. Ketertalaan yang demikian seimbang, sehingga ‘goyahan’ betapa pun tak terbayangkan kecilnya di dalam salah satu unsur pembangun strukturnya, alam semesta bukan hanya gagal memberadakan Bumi, tetapi bahkan runtuh keseluruhannya.

Kosmologi kontemporer memang menemukan keteraturan yang jauh lebih mendasar daripada sekedar yang tampil untuk indera manusia. Kosmologi ini menemukan bahwa seluruh struktur alam semesta teramati bukanlah hasil hubungan acak fisika yang muncul begitu saja. Struktur alam dalam berbagai variasi skalanya ternyata merupakan tampilan yang terbentuk akibat penggabungan yang sangat seksama dari berbagai tetapan dasar dan interaksi-interaksi fisika yang terjadi dalam alam semesta.

***

Tetapan dasar alam adalah bilangan yang tidak berubah sepanjang waktu, dan muncul dalam hukum-hukum umum di tingkatan paling dasar yang masih dapat dipahami berdasarkan fisika yang ada sekarang. Harga setiap tetapan tidak dapat diprakirakan melalui teori, ataupun dihitung dengan cara mengembalikan ke tetapan-tetapan lain. Hal ini bukan karena perhitungannya akan menjadi terlalu rumit, tetapi karena memang belum ditemukan tetapan-tetapan lain yang lebih mendasar. Itu sebabnya keberadaan tetapan-tetapan dasar seperti dikenal sekarang mencerminkan pula jangkauan pemahaman fisika sejauh ini.

Suatu kenyataan yang menakjubkan adalah bahwa struktur fisika teramati, bergantung secara amat ketat ke harga aktual tetapan-tetapan itu. Suatu model alam semesta yang dibangun dengan mengubah sedikit saja salah satu harga tetapan dasarnya, bukan saja menghasilkan alam semesta yang jauh berbeda tetapi membayangkan kehidupan seperti yang kita kenal di dalamnya menjadi tidak mungkin. Dengan mengacu ke kepekaan obyek-obyek astronomis dan struktur kosmologis terhadap perubahan harga tetapan dasar, banyak kosmolog menyimpulkan dan sepakat bahwa kehidupan, setidak-tidaknya dengan bentuk seperti yang kita ketahui ini, hanya mungkin hadir akibat kombinasi kosmik yang luar biasa tepat.

Bentuk kehidupan Bumi mempunyai basis karbon. Berdasarkan pemahaman terhadap mekanisme sintesis inti-inti atom, proses pembentukan karbon dalam alam semesta memerlukan waktu yang sangat lama, yaitu sekitar sepuluh milyar tahun. Jika selanjutnya kita mengacu ke paradigma kosmologi yang sampai sekarang paling diakui, maka alam semesta diyakini mempunyai awal dan bergerak memuai ke segala arah dari waktu ke waktu. Ini berarti, alam semesta paling sedikit sudah harus berumur sepuluh milyar tahun agar mempunyai unsur dasar bagi keberadaan kita.

Perhitungan menunjukkan bahwa umur itu ternyata hanya mungkin jika laju muaian alam semesta ‘tepat’ di sekitar suatu harga kritis, yang tidak terlalu kecil sehingga ruang yang memuai itu runtuh kembali akibat tarikan gravitasi materi di dalamnya jauh sebelum struktur fisika paling dini berkesempatan untuk terbentuk, tetapi juga tidak terlalu besar sehingga materi tersebar lebih cepat sebelum berkesempatan membentuk gumpalan massa cikal bakal bintang-bintang dan galaksi. Alan Guth menunjukkan bahwa laju kritis itu harus tertala hingga mencapai kecermatan satu bagian dalam l055. Adakah penjelasan untuk ‘pemilihan’ laju muaian yang demikian tepat?

Hidrogen yang merupakan unsur utama alam semesta ternyata juga sangat peka terhadap perubahan harga tetapan dasar. Hidrogen hanya dapat ada dalam jumlah teramati jika terbentuk pada waktu kosmik yang tepat. Unsur ini merupakan hasil sintesis inti dalam alam semesta dini ketika suhu pembekuan netron begitu rupa sehingga zarah (particle) subatom yang ada hanya mampu menghasilkan netron sebanyak 10% dari jumlah total zarah alam semesta. Jika pada masa itu suhu pembekuan sedikit lebih tinggi, netron akan terbentuk lebih banyak lagi sehingga mendorong pembentukan helium dalam jumlah besar. Dalam hal ini, helium-lah yang akan mendominasi alam semesta dan menyebabkan bintang-bintang mempunyai bahan dasar helium. Kala hidup bintang helium jauh lebih pendek daripada bintang hidrogen.

Bila diandaikan bahwa evolusi kehidupan memang memerlukan waktu seperti yang sudah berlangsung di Bumi, maka kala hidup bintang helium tidak cukup panjang untuk menyediakan energi yang diperlukan bagi proses evolusi. Carr dan Rees menunjukkan bahwa keberlangsungan pembentukan hidrogen dalam periode kosmik yang tepat itu bergantung kepada kerjasama interaksi gravitasi, gaya lemah, dan elektromagnetik; semuanya merupakan fungsi harga tetapan dasar yang terkait.

Contoh di atas memperlihatkan bahwa setiap tetapan dasar seakan-akan mempunyai harga yang ‘terpilih’ dengan cermat sehingga hadir suatu sistem skala besar yang mendukung evolusi pengamat. Apakah harga-harga yang begitu serasi satu dengan lainnya itu merupakan suatu kebetulan? Persoalannya, alam semesta tidak harus (niscaya) seperti ini, alam semesta bisa saja lain (kontingen) tapi dalam kenyataannya seperti ini, demikian tertala dan kita hadir.

Pertanyaan ini memang sulit dihindari jika kita memperhatikan alam semesta yang dalam kenyataannya penuh dengan berbagai tampilan ‘kebetulan’ dalam skala berlainan. Dalam skala kosmologis misalnya, umur alam semesta ternyata tidak berbeda dengan nisbah (rasio) kekuatan interaksi elektromagnetik terhadap gravitasi dalam skala subatom. Kenyataan ini sangat tidak diharapkan. Umur alam semesta bukan suatu tetapan, melainkan peubah (variable) yang harganya dapat berapa saja. Mengapa peubah yang mencirikan alam semesta skala besar itu justru berhubungan dengan tetapan yang mendefinisikan wilayah subatom? Apakah keduanya secara kebetulan seharga, ataukah kesamaan itu merupakan pengejawantahan dari hubungan fisika yang mendasar namun tersembunyi di antara dua wilayah yang selama ini berbeda secara fisika?

Jika berbagai ‘kebetulan’ dalam alam semesta dikaitkan dengan keberadaan kita, timbul kesan akan adanya ketertalaan (tuning) yang demikian halus dan tepat dalam harga tetapan-tetapan dasar sehingga kombinasi di antaranya telah memungkinkan kehadiran dan evolusi kehidupan.

Persoalan kebetulan seperti dicontohkan di atas sebetulnya sudah muncul sejak dasa warsa ke-3 abad ini melalui penyelidikan ahli fisika Dirac terhadap tetapan-tetapan dasar, dan tetap menarik karena model kosmologis yang sejauh ini diterima sebagai model fisika yang paling sesuai dalam memerikan alam semesta teramati, yaitu Model Ledakan Dahsyat Panas (the Hot Big Bang Model), belum dapat menjelaskan bagaimana dan darimana harga tetapan-tetapan dasar yang demikian muncul? Mengapa alam semesta tampil seperti ini? Model Ledakan Dahsyat Panas harus menerima harga tetapan-tetapan dasar sebagai terberi.

***

Berangkat dari pengertian ini, sebagian dari kita yang sempat menanggalkan keterikatan rutin kebumian sehari-hari, sempat berdiri menjauh dari cengkeraman obyek sehari-hari untuk merefleksikan segala sesuatu dalam kaca mata besar, memandang hutan alam semesta dan bukan hanya pohon-pohonnya, memandang permadani kehidupan dan bukan hanya jalinan benang tenunnya, hampir-hampir tidak dapat menghindar dari keinginan mengetahui, mengapa demikian? Mengapa kita mengamati alam semesta seperti ini? Mengapa kita hadir pada umur tertentu alam semesta? Bagaimana jika kita tidak hadir pada saat itu; apakah ada kemungkinan untuk ‘saat lkehadiran’ yang lain itu? Bagaimanakah jika alam semesta tidak seperti ini? Bukankah alam semesta bisa saja lain, tidak harus seperti ini dan menghadirkan kita, tetapi demikianlah adanya? Apakah ada makna tersembunyi di belakang ketertalaan itu yang berujung di keberadaan pengamat sadar-diri seperti kita?

Pertanyaan-pertanyaan ini juga yang menyebabkan kosmologi abad ke-20, sekalipun melangkah dengan bertumpu ke metode ilmu-ilmu empiris modern, tetap tidak meninggalkan nafas tradisional kosmologi tradisional. Tradisi itu bertahan bukan hanya karena kosmologi memang terancang demikian sejak awal, tetapi sebagian besar karena ke arah itulah astronomi dan fisika menggiring kosmologi. Dalam giringan itu, mampukah kosmologi menunjukkan jawaban? Dapatkah kosmologi melepaskan rasa dahaga akan penjelasan ‘utama’?

***

Penjelasan utama yang ideal seperti itu diandaikan dapat diperoleh apabila kosmologi dapat menjangkau awal ruang-waktu, menemukan hukum-hukum dan syarat-syarat permulaan (syarat awal) yang akan ‘memilih’ alam semesta seperti ini. Kosmologi dengan demikian memanfaatkan pola umum keilmuan penjelasan deduktif-nomologis (D-N) yang akan menjelaskan bahwa struktur teramati alam semesta merupakan konsekuensi logis dari hukum-hukum dan syarat awal tersebut.

Persoalannya dengan kosmologi adalah, satu-satunya teori terbaik yang sejauh ini dinilai paling tepat untuk memaparkan struktur skala besar ruang-waktu, yaitu teori kenisbian umum yang diajukan Einstein, juga mengalami kegagalan konseptual di titik paling awal ruang-waktu yang masih dapat diprakirakan oleh teori itu. Dengan perkataan lain, melalui titik singularitas itu, teori kenisbian umum meramalkan kegagalannya sendiri. Ini berarti kita tidak mempunyai sarana konseptual apa pun yang dapat menembus wilayah yang telah menyediakan kondisi-kondisi yang memungkinkan alam semesta berevolusi menuju pencapaiannya sekarang.

Di pihak lain, ketika kosmologi bermaksud menerapkan pola induktif empiris, yaitu mengacu ke data dan kemudian menarik generalisasi empiris, keterputusan semantik antara bahasa teoretis dan bahasa observasional selalu saja akan memunculkan keadaan ‘ketakterpastikan teori oleh data’. Ketakterpastikan teori oleh data ini adalah suatu keadaan yang menyebabkan, untuk setiap teori T yang diajukan dalam menjelaskan gejala tak teramati langsung (seperti yang banyak muncul dalam dunia fisika dan terutama kosmologi) akan selalu dapat dibangun sejumlah takhingga teori-teori T1, T2, T3 … yang semuanya setara secara empiris dengan teori itu. Jika T ternyata dapat dikukuhkan oleh sekumpulan bukti observasional, kesetaraan empiris semua T yang lain itu akan menyebabkan semua T itu juga terkukuhkan oleh bukti observasional yang sama. T manakah yang paling benar?

Kenyataan ini memperlihatkan bahwa dengan mengacu ke data empiris kosmologis semata-mata, kosmologi tidak pernah dapat menyediakan pengetahuan yang unik mengenai struktur ruang-waktu.

Ketakterpastikan teori oleh data ini tumbuh akibat keterputusan bahasa antara pernyataan-pernyataan universal teoretis dan pernyataan-pernyataan singular observasional yang melandasinya sebagai akibat terpilahnya aras tempat teori (bermaksud) memaparkan realitas, dari aras yang masih terjangkau oleh pengamat.

Keterputusan itu menggambarkan jurang yang ada di antara pernyataan teoretis menyangkut wilayah luas yang tak terjangkau oleh pengamatan, dan pernyataan dalam wilayah lebih kecil tempat perolehan bukti-bukti yang masih dapat dinyatakan oleh pengamat. Ketakterpastikan teori oleh data dengan demikian mencirikan batas untuk pemaparan empiris, sehingga teori tak dapat tanpa bersisa dialihbahasakan ke kumpulan pernyataan yang memerikan hanya pengetahuan mengenai gejala teramati.

***

Dalam kesulitan metodologis seperti ini, astrofisikawan dan kosmolog Brandon Carter menoleh pada kemungkinan memanfaatkan hubungan logis yang terlihat antara ketertalaan alam semesta dan keniscayaan keberadaan kehidupan. Untuk itu ia mengajukan sebuah asas yang ia namakan asas antropik.

Ada dua versi asas antropik, yaitu asas antropik lemah dan asas antropik kuat. Kedua asas ini membangkitkan sedikit harapan, bahwa kosmologi dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, dan menjawabnya begitu rupa sehingga bahkan mampu berperan lebih daripada semata-mata apa yang mungkin disampaikan oleh kosmologi empiris.

Asas ini dirumuskan Carter sebagai berikut:

“Apa yang dapat kita harapkan untuk teramati harus dibatasi oleh kondisi-kondisi niscaya untuk kehadiran kita sebagai pengamat”

Dengan demikian, Carter menambahkan, sekalipun situasi kita tidak harus sentral (huruf miring: Carter), sampai pengertian tertentu tidak bisa tidak, mempunyai keistimewaaan. Carter membedakan asas antropik menjadi asas antropik lemah dan asas antropik kuat.

Asas antropik lemah dirumuskan sebagai berikut:

“Kita harus siap untuk memperhitungkan kenyataan bahwa lokasi kita di dalam alam semesta secara ‘niscaya’ khusus dalam pengertian sesuai dengan keberadaan kita sebagai pengamat.”

Sedangkan rumusan untuk asas antropik kuat adalah:

“Alam semesta (dan dengan begitu parameter-parameter dasar yang menentukan) harus begitu rupa sehingga memungkinkan penciptaan pengamat-pengamat di dalamnya pada suatu tahap tertentu.”

Carter menambahkan bahwa asas antropik kuat ibarat ucapan Descartes ‘cogito ergo mundus talis est’ (aku berpikir, dunia seperti ini).

Harapan itu pula yang memunculkan banyak penafsiran berbeda terhadap kedua versi asas ini, mulai dari tafsiran teleologis yang menyatakan bahwa di dalam alam semesta terkandung tujuan melekat untuk menghadirkan pengamat, serta Design Argument versi ilmiah yang meyakini adanya ‘bukti ilmiah’ untuk rancangan dalam alam semesta, sampai diktum esse et percipi yang mensyaratkan pengamat sebagai syarat keberadaan alam semesta.Semua tafsiran ini melahirkan debat dan kritik tajam.

***

Pembongkaran terhadap pernyataan asas antropik serta kajian metodologi memperlihatkan bahwa asas antropik tidak dimaksudkan membawa pesan-pesan di atas. Asas antropik memang dimaksudkan sebagai penjelasan, namun maksud yang ternyata pertama-tama terpenuhi dalam langkah-langkah kosmologis yang memanfaatkan asas ini adalah penempatan asas swa-seleksi ke dalam kosmologi.

Dengan perkataan lain, asas antropik adalah pernyataan mengenai anjuran untuk mengintegrasikan historisitas pengamat ke dalam setiap penyelidikan keilmuan sehingga ilmu pengetahuan, khususnya kosmologi, terbebaskan dari simpangan penafsiran yang akan berakibat kepada pembentukan model kosmologis yang sangat boleh jadi tidak sesuai lagi dengan fakta tak terbantahkan bahwa pengamat sadar, dalam hal ini manusia, sudah dan sedang mengamati alam semesta.

Asas antropik memang bukan asas yang berperan langsung dalam pembentukan model-model ataupun teori-teori kosmologis. Asas ini harus dilihat sebagai pengetahuan latar belakang yang akan meneguhkan alih evidensial sekumpulan data ke model atau hipotesis kosmologis yang hendak didukung. Peran ini dimungkinkan, karena penerapan asas antropik ke dalam kosmologi memperlihatkan adanya dimensi pragmatik yang terlibat di dalam memaksimalkan putusan rasional memilih teori, sehingga kepadaan mengenai bukti bukan lagi semata hubungan antara data dan hipotesis, tetapi hubungan segitiga antara data, hipotesis dan asumsi atau pengetahuan latar belakang yang tersedia dalam konteks penyelidikan dilangsungkan.

Peran ini, yang dapat digolongkan sebagai peran heuristik, tidak lalu menyebabkan asas antropik mampu memberikan penjelasan ontik mengenai alam semesta sebagaimana diandaikan dalam banyak tafsirannya; tidak juga penjelasan ‘fisika lengkap’ sebagaimana dimaksudkan Carter dalam pengertian apapun makna kalimat itu. Asas ini membantu memberikan jawaban epistemik terhadap pertanyaan, ‘mengapa (kita mengamati) alam semesta seperti ini?’ Karena ada syarat a priori kepengamatan yang tidak dapat dilampaui oleh komunitas epistemik yang hanya mungkin hadir di titik ruang-waktu (asas lemah) tertentu dan tidak mungkin melampaui syarat eksistensialnya untuk hadir dalam alam semesta yang mempunyai parameter dasar berbeda (asas kuat).

Jika jawaban epistemik terhadap ‘pertanyaan-mengapa’ dapat dilihat sebagai penjelasan, maka sebatas itulah penjelasan yang mengacu ke asas antropik. Dalam kenyataannya, adanya dimensi pragmatik terhadap penjelasan memungkinkan jawaban seperti itu diterima sebagai ‘penjelasan’, dengan catatan bahwa penjelasan dilihat sebagai kebutuhan mengisi kekosongan informasi. Ini berarti jawaban dianggap memadai nisbi terhadap situasi pengetahuan yang dipunyai, tanpa melibatkan pernyataan benar-salah menyangkut mekanisme yang lebih mendasar.

Asas antropik juga berarti pernyataan mengenai syarat a priori untuk kepengamatan yang mungkin bagi pengamat-pengamat di dalam alam semesta ini, dan dengan demikian syarat a priori untuk alam semesta yang mungkin yang hendak dibangun oleh para pengamat itu.

Maksudnya, para kosmolog pertama-tama harus mulai dengan kembali ke faktisitas keberadaan pengamat sadar yang untuk keberadaannya itu memerlukan lingkungan khusus di dalam alam semesta. Lingkungan khusus itu merupakan fungsi berbagai tetapan dasar alam dan parameter dasar alam semesta, yang harga dan interaksi satu dengan yang lainnya tertala sedemikian rupa dan kalau tidak, maka lingkungan khusus itu tidak pernah ada sehingga pengamat pun tidak ada juga. Lingkungan khusus yang dituntut ini akan menjadi acuan gamblang, yang akan mengkondisikan setiap model kosmologis yang mungkin untuk pengevolusian kehidupan dan kepengamatan. Kosmologi tidak membangun alam semesta yang melampaui syarat antropik keberadaannya.

***

Pengakuan terhadap lingkungan khusus yang telah memungkinkan penghadiran dan pengevolusian alam semesta yang mampu mempertanyakan dirinya sendiri ini, sekaligus memperlihatkan komitmen evolusionistik kosmologi antropik. Pengamat yang hidup, sadar, dan menyadari kesadarannya itu harus menjadi mungkin dalam pengertian (i) tersedia prinsip-prinsip mendasar di dalam alam semesta yang telah memungkinkan evolusinya terpicu, dan (ii) tersedia kondisi lingkungan penyokong yang demikian khas sehingga keberlangsungan dan kebertahanan evolusi terjamin. Seluruh kondisi yang mendukung itu bahkan sudah ‘tersedia’ dan ‘tertentukan’ sejak alam semesta itu sendiri–sejauh terjangkau oleh kepemahaman kita–mulai ada.

Ini tidak berarti bahwa alam semesta secara teleologis merancang diri untuk itu, namun sekali kondisi-kondisi itu tersedia, manusia yang mengada dan manusia yang memahami adalah bagian tak terhindarkan dari alam semesta antropik yang berproses menuju ke penyadaran. Manusia pemaham adalah alam semesta itu sendiri. Ia bukan mahluk asing yang tumbuh dan berkembang di dalam alam semesta, tetapi ia adalah bagian sadar alam semesta yang tumbuh dan berkembang memanusia.

***

Peneropongan melalui kaca mata filsafat ilmu terhadap kedua asas antropik ini memperlihatkan bahwa pengajuan asas ini ke dalam kosmologi merupakan strategi keilmuan yang bersifat anti-realistik dalam membangun kosmologi yang mungkin.

Segera saja akan muncul sebuah pertanyaan. Bagaimanakah mungkin kosmologi yang di satu pihak bertumpu ke gagasan evolusionistik dan dengan demikian naturalisme-nya akan menekankan peran dominan alam sehingga kesejarahan harus terkandung di dalamnya, dipersatukan dengan kosmologi anti-realistik yang di lain pihak mengikat manusia ke dalam kesejarahannya sehingga alam harus dipahami sebagai konstruksi akal budinya?

Intinya adalah bahwa anti-realisme kosmologi antropik tidak menafikan alam dalam dirinya. Alam sebagai alam adalah alam yang telah menghadirkan manusia dan mendahului kepemahaman. Namun alam yang masuk ke dalam kepemahaman itu adalah alam sebagaimana yang tertapis oleh daya-daya kepemahaman yang terikat kepada sejarah ruang-waktu kehadirannya. Alam dalam dirinya tetap merupakan obyek das Ding an sich, dan kepemahaman tidak mengklaim kepemahaman atas obyek ahistoris itu dalam dirinya yang obyektif.

Kepemahaman adalah kepemahaman di dalam, dan relasional terhadap, alam semesta, menyangkut interaksi antara alam dan para penyelidiknya. Tak ada cara untuk berhubungan dengan realitas relasional ini selain melalui model-model alam semesta yang dibangun untuk keperluan itu.

Para kosmolog bukan ilmuwan yang menerapkan aturan-aturan a priori ke dalam suatu maujud bernama Alam Semesta dengan A dan S kapital, dan membangun kepemahaman dari situ seakan-akan ia berada di luar maujud itu. Ia dan seluruh aturan ada di dalam alam semesta, dan bersama-sama mengkonstruksikan apa yang dimaksudkan dengan alam semesta teramati, terpahami, dan sebagaimana diketahui. Impian bahwa ia akan dapat memandang dunia melalui God’s-eye-View selalu saja tinggal berupa impian.

Alam semesta terpahami adalah alam semesta konstruktif yang membawa di dalamnya syarat-syarat untuk kepemahamannya sendiri, dan dengan begitu membentuk cakrawala dan keberhinggaannya sendiri. Asas antropik adalah pernyataan untuk cakrawala dan keberhinggaan ini, suatu keberhinggaan yang dalam sejarah penyelidikan kosmologi, tiada henti-hentinya diupayakan untuk dilampaui.

***

Keberhinggaan antropik adalah suatu keniscayaan. Keberhinggaan ini bukan suatu sifat yang dipaksakan dari luar, tetapi sudah demikian adanya sejak subyek hadir dalam garis jagad ruang-waktunya. Keberhinggaan ini terkandung dalam dunia sebagaimana tampak kepada aku si pengamat yang terikat kepada historisitasnya; keberhinggaan subyek yang mempengaruhi hubungannya dengan dunia sehingga dunia selalu tampil dalam dan menurut perspektifnya.

Maka asas antropik merupakan bentuk penegasan diri untuk kosmologi yang terikat seakan-akan tanpa akhir kepada cakrawala eksistensial sekaligus epistemik. Kosmologi seperti ini akan mengenali, mengakui, dan memakai batas-batas kemampuan subyek dalam melaksanakan penyelidikan keilmuan. Melalui kosmologi seperti ini manusia adalah subyek yang mengetahui diri sebagai suatu pusat perspektif yang berhingga.

Paul Ricoeur dalam Fallible Man menyebutkan bahwa tindakan yang menyatakan keberhinggaan sebetulnya menyingkapkan tampilan mendasar keberhinggaan itu sendiri.

Manusia yang berhingga itu sendiri-lah yang berbicara mengenai keberhinggaannya. Sebuah pernyataan mengenai keberhinggaan menjadi saksi bahwa keberhinggaan itu mengetahui keberhinggaannya, dan menyatakannya. Kodrat keberhinggaan manusia dengan demikian adalah bahwa keberhinggaan dapat mengalami dirinya sendiri jika ada suatu tinjauan mengenai keberhinggaan itu. Suatu cara pandang yang menurut Ricoeur, sesungguhnya telah merupakan permulaan untuk upaya melampaui keberhinggaan itu.

Upaya kosmologi sepanjang sejarahnya mengembangkan model-model dan teori-teori alam semesta dapat dilihat sebagai langkah-langkah yang berupaya melampaui keberhinggaan sudut pandang dalam meninjau alam semesta.

Ketika mengkonsepsi dan mengkonstruksi model-model alam semesta melalui kosmologi, manusia sudah terlebih dahulu merefleksi terhadap ketidaklengkapan alam semesta hasil amatannya. Ketidaklengkapan ini mula-mula dapat dilihat sebagai penunjukan ke keberhinggaan daya-daya penerimaannya atas dunia. Konstruksi atas alam semesta lalu menjadi cara untuk menghubungkan wilayah teramati dan sisi-sisinya yang tak mampu ia amati tetapi masih merupakan sisi yang-mungkin untuk kepemahamannya.

Konstruksi menjadi suatu upaya pelampauan atas alam sebagaimana tampak kepadanya. Konstruksi adalah suatu upaya untuk mengatasi ketidakberdayaan manusia dalam mengadakan hubungan langsung dengan alam. Konstruksi adalah suatu pernyataan untuk menandakan alam semesta terpahami. Dalam menandakan itu kosmologi memaksudkan lebih dari apa yang menjadi hasil amatannya.

Konstruksi tidak menghentikan momen-momen keberhinggaan. Analisis keberhinggaan berikutnya justru membawa kita kepada ketidakpadaan akalbudi dalam menentukan kriteria yang betul-betul gamblang untuk memilih suatu model kepemahaman. Ketika setiap kali konstruksi konseptual berhadapan dengan cakrawalanya, ia menunjuk kepada kekurangan mendasar subyek pengamat dalam taraf eksistensial dan epistemiknya. Suatu cakrawala antropik sebagai konsekuensi eksistensi historis kepemahaman; kekurangan yang terbentuk dari adanya titik nol, titik berangkat di sini dan sekarang tempat seluruh ruang waktu menjadi terpahami.

Pada saat yang bersamaan konstruksi juga menunjuk kepada kehendak untuk melampaui kekurangan itu. Konstruksi mengandung di dalamnya ketegangan antara keberhinggaan dan upaya melampauinya. Konstruksi pun bukan sepatah kata yang dapat diartikan sebagai ‘selesai’.

***

Ketika kita mengamati sejarah kosmologi yang ditandai dengan peralihan dari satu model kosmologis ke model lainnya (misalnya kosmologi mitis, kosmologi Aristotelian, kosmologi Copernican, kosmologi Newtonian, kosmologi Ledakan Dahsyat, dan sebagainya), kita melihat keberhasilan kosmologi melampaui keberhinggaan konseptual yang muncul dalam tiap-tiap momen penyelidikan yang berbeda.

Dalam tiap-tiap model itu, kosmologi terus berjalan dan belajar menaklukkan cakrawala keberhinggaannya. Ketika satu cakrawala berhasil dilampaui, manusia pun memasuki dan ‘hadir’ dalam sebuah alam semesta yang baru. Sebuah alam semesta dengan hamparan wilayah kepemahaman yang boleh jadi lebih luas dan lebih padat, tetapi dalam kenyataannya juga bukan tanpa cakrawala yang menandakan keberhinggaan daya kepemahaman pada tahap itu. Cakrawala menjadi syarat niscaya untuk tiap-tiap deretan penyelidikan demi menjadikan alam semesta dapat dipahami.

Setiap cakrawala menjadi awal untuk suatu tindakan pelampauan. Cakrawala adalah tepian medan kepemahaman yang membawa serta pengharapan, untuk menunjuk ke suatu kelanjutan di luar dirinya. Keberadaan cakrawala menjadi petunjuk bahwa alam semesta sebagaimana diketahui, yaitu alam semesta yang muncul dalam tiap-tiap tahap penyelidikan, bukanlah suatu ‘hasil’.

Alam semesta sebagaimana diketahui, di satu pihak adalah suatu proses pembukaan untuk kepemahaman berikutnya, tetapi di lain pihak dalam tiap-tiap pembukaan itu justru melekat asas keberhinggaan. Alam semesta adalah keberhinggaan dalam keterbukaan. Maka alam semesta pun adalah bentukan yang harus dibangun dan diwujudkan melalui pemahaman dinamis.

Keberadaan cakrawala dengan demikian memberi ‘jaminan’ bahwa penyelidikan kosmologi tidak pernah selesai. Kelengkapan dan kepenuhan suatu kosmologi yang dapat bertahan sepanjang masa tidak pernah tercapai karena hakekatnya kosmologi adalah sintesis yang kita bangun dari pengalaman yang terus menerus diperbarui. Ketakselesaian kosmologi merupakan penegasan akan hakekat mahluk historis dalam ruang-waktu. Berada secara historis dalam ruang-waktu berarti bahwa pengetahuannya tidak akan pernah lengkap.

Di lain pihak, ketakselesaian kosmologi juga merupakan akibat keunikan alam semesta sebagai suatu keberadaan. Keunikan alam semesta tidak memungkinkan kosmolog mengambil keuntungan seperti dilakukan rekan-rekannya dari cabang ilmu pengetahuan lain, yaitu memperbandingkan keberadaan kajiannya dengan keberadaan-keberadaan yang lain. Tidak ada alam semesta lain yang dapat dijadikan kajian perbandingan untuk memahami alam semesta aktual yang kita alami. Tidak ada pula alam semesta terberi. Tidak ada kepemahaman atas Alam Semesta dalam dirinya, yang kemudian dapat dijadikan perbandingan atau diselidiki langsung. ‘Alam Semesta dalam dirinya’ bukan suatu ungkapan yang dapat dimaknakan dalam konteks kosmologi sebagai ilmu pengetahuan.

Boleh jadi kosmologi dalam perkembangannya sejauh ini sebetulnya sudah mampu menemukan jejak Alam Semesta. Namun keunikan alam semesta yang kita ketahui, serta ketakterujikannya, menyebabkan Alam Semesta tetap merupakan obyek gelap ahistoris yang bahkan tidak pernah dapat diletakkan dalam rencana pencapaian di masa depan. Tanpa perlu menyangkal Alam Semesta, kosmolog menangguhkan gagasan realitas itu demi kepemahaman itu sendiri.

Pemakaian keterangan ‘sejauh diketahui’ dalam ungkapan alam semesta yang senantiasa mengiringi alam semesta kosmologis, merupakan pernyataan bahwa segala bentuk pengacuan kepada suatu ujud tidaklah diizinkan. Alam semesta sebagaimana diketahui melandaskan dirinya kepada penggunaan model-model kosmologis. Model-model itu dalam dirinya, di lain pihak, merupakan pernyataan mengenai keterikatan konseptual dan pernyataan mengenai ciri-ciri alam semesta keseluruhan terpahami. Alam semesta adalah bahasa, tata bahasa dan kosa kata yang berkembang dalam tiap-tiap tahap pengenalan kosmologi.

Dengan demikian, tiap-tiap model kosmologis menentukan sendiri keseluruhan dirinya. Ini menyebabkan realitas, dalam arti apapun yang melampaui model-model kosmologis, bukan lagi menjadi bagian dari wacana kosmologi sebagai bagian dari ilmu empiris. Persoalannya bukan karena kosmologi menolak, tidak mengakui, atau melawan realitas tersebut, tetapi karena batas eksistensial dan batas epistemik memenjarakan kepemahamanannya sehingga tidak ada akses langsung dan murni. Keterikatan ke konsep, dan dengan demikian keberhinggaan kepemahaman, merupakan harga yang harus dibayar untuk kehadiran dan kepemahaman itu sendiri. Kosmologi ini tidak bisa lain kecuali menjadi anti-realis.

***

Komitmen ke evolusi alam semesta menyebabkan kosmologi ini bertumpu di atas gagasan naturalisme. Dari sudut pandang naturalisme, jika muncul keyakinan bahwa kepemahaman dapat mencapai kesamaan atau mendekati realitas, mau tidak mau keyakinan itu mengandaikan bahwa manusia memiliki daya trandensen non-alam. Alam semesta sendiri diandaikan sebagai suatu sistem yang terdiri dari interaksi rumit obyek-obyek alam di dalamnya, yang mempunyai lingkaran cakrawala terus membesar, tetapi tanpa kepemahaman manusia termasuk di dalamnya. Manusia, karena daya kepemahamannya diandaikan sebagai pendobrakan (meminjam ungkapan Bakker), ke suatu alam semesta lain yang transenden, sehingga tak ada suatu apa pun tertinggal di luar alam semesta yang diketahui.

Asumsi ini tidak ada dalam kosmologi antropik, karena kesatuan manusia sebagai keutuhan, tubuh dan kesadaran, alam dan kepemahaman, tidak pernah dapat dipilah. Keduanya menyatu secara integral sebagai bagian dari alam semesta, sehingga seluruhnya berada dalam lingkup cakrawala. Tak ada tempat di mana kepemahaman dapat atau diizinkan untuk melompat ke luar dari hubungan-hubungan internal di dalamnya. Kepemahaman bukan suatu daya khusus yang bersifat non-alam. Kepemahaman muncul setahap demi setahap sebagai hasil interaksi manusia dengan lingkungannya dalam waktu yang amat lama. Alam semesta yang dijangkau oleh kepemahaman itu adalah alam semesta keseluruhan terketahui dengan semua daya-dalah daya-daya internal yang mencukupi-sendiri.

Duhem mengibaratkan para ahli fisika (atau kosmolog) yang mencoba melakukan alih ontologis terhadap teori-teorinya sebagai ‘manusia gua’, yang merupakan adaptasi dari kisah yang pernah disampaikan Plato. Seorang ahli fisika menetap sepanjang hidupnya di dalam gua. Kondisi gua hanya memungkinkan si ahli fisika di dalam gua melihat bayang-bayang berbagai bentuk di dinding gua, tetapi ia tetap mencoba menarik kesimpulan bahwa bayang-bayang itu semua adalah citra dari benda-benda padat, yang ia andaikan ada dalam dirinya di luar gua. Maka si ahli fisika pun mencoba mengklaim keberadaan benda-benda di luar dinding gua, dan kemudian mencoba menjawab pertanyaan, apakah kodrat benda-benda yang ia nyatakan keberadaannya itu? Sejauh mana hakikat benda yang ia klaim itu dalam dirinya menyerupai bayang-bayang yang ia saksikan?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini seharusnya tidak boleh dijawab, karena dengan memberikan pernyataan bahwa teori berkecenderungan untuk menuju kesesuaian dengan realitas, ilmuwan sebetulnya sudah melewati batas wilayah tempat metodenya dapat diterapkan dengan sahih.

***

Bagaimanapun, kosmologi sebagai bagian dari ilmu pengetahuan empiris yang sudah dibahas sebagian persoalannya, bukan keseluruhan Kosmologi. Penulis dengan sengaja memaksudkan Kosmologi dengan K-kapital sebagai upaya besar manusia untuk memperoleh gambar dunia demi memahami keberadaan dirinya menurut arti yang seluas-luasnya.

‘kosmologi’ dalam arti Kosmologi ini adalah bagian yang lebih sering tersembunyi di belakang metode empiris ilmu pengetahuan alam yang bermaksud memahami alam semesta secara material. Kosmologi ini lebih melekat ke nafas tradisional kosmologi dengan letak wilayah keperdulian yang melampaui dan melebihi ranah fisika-kimia-biologi alam semesta. Kosmologi ini merangkul semua aspek filosofis penyelidikan kosmologi. Kosmologi ini tidak berhenti hanya dalam analisis atas gejala empiris yang menyingkapkan semata-mata daya pengenalan inderawi (ataupun perpanjangannya melalui berbagai piranti pengamatan) dan pengenalan konseptual dalam batas alam semesta empiris.

Kosmologi kontemporer yang berkembang setelah permulaan abad ke20 memasuki wilayah keilmuan, khususnya yang terkait dengan fisika dan astronomi-astrofisika, karena masalah-masalah yang muncul di dalamnya dapat dihubungkan dengan permasalahan dan teori-teori yang secara tradisional menjadi wilayah kerja fisika dan astronomi-astrofisika.

Bagaimanapun, seperti dikatakan Popper, penyelesaian berbagai persoalan yang timbul dalam ilmu pengetahuan seringkali berjalan memotong melalui batas-batas keilmuan. Sebuah persoalan dapat saja dengan tepat disebut sebagai persoalan filosofis jika kita menemukan bahwa sekalipun persoalan itu muncul dalam kaitannya dengan, misalnya teori atom, namun berhubungan lebih dekat dengan persoalan-persoalan dan teori-teori yang telah didiskusikan para filsuf daripada dengan teori-teori yang ditangani para ahli fisika. Itu sebabnya, kosmologi akan selalu menarik secara filosofis sekalipun metode yang dipakai di dalamnya terkait erat dengan fisika; namun (dengan itu) lalu mengatakan bahwa kosmologi harus menjadi bagian dari ilmu pengetahuan daripada bagian filsafat semata-mata karena kosmologi menangani isu-isu faktual, bukan saja berlebihan, tetapi juga meruapakan hasil dogma epistemologis, dan dengan demikian dogma filsafat.

***

Kosmologi k-kecil menyediakan banyak kemungkinan untuk permenungan filosofis Kosmologi. Refleksi ini hanya akan mengambil satu contoh yang terkait dengan ketakselesaian langkah-langkah penyelidikan kosmologi yang sudah disebut di atas, atau ketidakmungkinan mencapai kosmologi yang mampu mengkonstruksi alam semesta terpahami begitu rupa sehingga segala sesuatu yang mungkin diketahui akan diketahui, tanpa dibatasi cakrawala dalam bentuk apapun; ketakmungkinan mencapai suatu kosmologi yang memasukkan semua pengetahuan yang mungkin terjangkau sehingga tidak meninggalkan persoalan skala kosmologis yang masih menunggu pemahaman; ketakmungkinan kosmologi yang tidak lagi mengajukan pertanyaan-pertanyaan skala kosmologis.

Ada banyak permasalahan kosmologis yang dapat diangkat untuk menjadi bahan permenungan Kosmologi; termasuk di antaranya adalah pengertian tentang awal dan akhir alam semesta yang selanjutnya dikaitkan dengan konsep ‘penciptaan’ atau ‘pemusnahan’ alam semesta; atau persoalan singularitas. Pilihan dijatuhkan ke persoalan ini karena tafsiran atas asas antropik, khususnya asas antropik kuat, paling sering dikaitkan dengan kemungkinan menarik isi pernyataan asas ini ke luar melampaui kosmologi, untuk bertemu dengan ‘Realitas’ di luarnya.

Pertimbangan lain untuk pemilihan ini adalah juga karena persoalan singularitas dalam kaitannya dengan awal alam semesta tidak dapat dialihartikan ke permulaan ontologis menyangkut ‘penciptaan’ alam semesta.

Ketakselesaian kosmologi menjadi pertanda bahwa selalu ada kemungkinan untuk memperoleh kepemahaman yang lebih baik atas alam semesta. Andaikan kita dapat meluas dan mencapai seluruh wilayah alam semesta terketahui yang-mungkin, selalu saja kita bukan tanpa cakrawala, karena kita adalah tetap alam semesta terpahami itu sendiri.

Sebuah cakrawala senantiasa mensyaratkan sesuatu di luarnya, ketika sesuatu yang di luar ini dimasuki, sesuatu ini mensyaratkan cakrawala baru, dan dengan demikian mensyaratkan sesuatu di luarnya, begitu seterusnya. Gerak ini akan berlangsung seperti itu terus menerus sehingga kita tidak mungkin melakukan inferensi dari situ.

Sekalipun sejauh ini dukungan pengetahuan empiris mengenai sejarah perkembangan kosmologi menunjukkan bahwa cakrawala itu adalah syarat dalam alam semesta terpahami, kita tetap tidak diperkenankan mengantisipasi mendahului semua gerak ke depan yang secara empiris akan berlangsung, bahwa cakrawala konseptual akan atau tidak akan disyaratkan; atau dengan perkataan lain akan ada ‘di sana’ atau tidak ada.

Kita hanya mungkin terus menerus memperpanjang deretan penyelidikan kosmologis, untuk setiap kali menghadapi kemungkinan berjumpa atau tidak berjumpa dengan syarat keberadaan cakrawala. Kita juga tidak dapat menempelkan keadaan tanpa akhir ini ke pengertian ketakberhinggaan dalam obyek. Gerak progresi ataupun regresi seperti itu bukan obyek dalam dirinya, melainkan hanya tampakan yang diberikan dalam penyelidikan.

Hal yang berlangsung dalam kosmologi, tentu juga berlangsung dalam cabang ilmu pengetahuan lain. Tak ada cabang ilmu pengetahuan yang selesai. Popper bahkan menyatakan bahwa ketaklengkapan ilmu pengetahuan adalah hakikatnya sebagai ilmu karena dalam kenyataannya setiap penyelesaian keilmuan selalu membuka sebuah dunia baru berisi persoalan-persoalan baru.

Untuk menjadi lengkap, ilmu pengetahuan memerlukan penjelasan untuk dirinya sendiri. Sesuatu yang dalam aritmatik sudah dinyatakan tidak mungkin oleh Kurt Gödel (lihat lampiran). Jika matematika dapat diandaikan sebagai acuan baku untuk pengetahuan rasional yang seharusnya dapat dimodelkan oleh cabang ilmu pengetahuan alam lainnya, maka dengan itu Gödel seperti memantapkan bahwa sistem deduktif ideal dalam ilmu pengetahuan memang tidak pernah tercapai.

Berbeda dengan kosmologi, cabang ilmu pengetahuan alam lain dalam gerak penyelidikannya, selalu masih dapat meletakkan temuan-temuannya ke dalam peta besar kosmologi, untuk kemudian menjadi bagian dari kerangka konseptual model-model kosmologis. Hal ini tidak terjadi dalam kosmologi; kosmologi tidak mempunyai peta besar tempat temuan-temuannya dapat diujikan. Dalam keunikan alam semesta, pencarian kepemahaman menyebabkan peta besar itu sendirilah yang terus menerus memadat atau merenggang dan meluas.

Kita dapat meminjam gagasan Kant di dalam Antinomy of Pure Reason yang berhubungan dengan sistem idea-idea kosmologis, sekalipun rincian yang dimaksudkan berbeda dengan yang hendak disampaikan di sini. Untuk setiap pertanyaan kosmologis yang berhubungan dengan ketakhinggaan atau keberhinggaan ruang dan waktu, nalar diatur oleh asas regulatif. Asas itu menyatakan bahwa dalam regresi (atau progresi) empiris kita tidak dapat mempunyai pengetahuan mengenai suatu batas mutlak; tak ada pengalaman yang secara empiris mutlak takbersyarat. Maka pernyataan itu, yang tidak lain menyampaikan bahwa satu-satunya syarat yang dapat kita capai dalam regresi empiris adalah syarat-syarat yang dalam dirinya harus dianggap sebagai tersyaratkan secara empiris, mengandung aturan in terminis.

Seberapapun jauhnya kita berkesempatan memanjangkan deretan penyelidikan ke masa lampau misalnya (regresi), kita tidak boleh berhenti melakukan penyelidikan lanjutannya; hasil penyelidikan itu boleh jadi bisa atau tidak bisa kita ketahui melalui pengalaman, kita tidak pernah tahu kecuali melalui penyelidikan empiris. Jika mengacu ke pandangan Kant ini berarti kita tidak bisa mengatakan apa-apa mengenai kemungkinan keberhinggaan di masa lampau atau di masa depan; termasuk juga kita tidak bisa mengatakan bahwa di dalamnya akan ada regresi in infinitum, gerak maju atau mundur menuju ketakhingga.

Kita hanya mungkin mencari konsep keberhinggaan alam semesta menurut aturan yang menentukan regresi empiris di dalamnya. Aturan itu mengatakan, tidak lebih daripada bahwa, seberapa jauhnya pun pencapaian kita dalam deretan syarat-syarat empiris, kita tidak boleh mengandaikan suatu batas mutlak. Kita harus selalu saja membawahkan setiap tampakan sebagai bersyarat, ke syarat lainnya, dan bahwa kita harus terus menerus melakukan ini; suatu regressus in indefinitum.

Dalam upaya pencarian kosmologi ke masa depan, yang berlangsung adalah progresi. Sintesis berjalan in consequentia, dalam mencari kemungkinan keberhinggaan atau ketakberhinggaan penyelidikan kosmologi di suatu masa depan: model kosmologis mengkonsekuensikan cakrawala, mengkonsekuensikan model komologis baru, mengkonsekuensikan cakrawala, demikian seterusnya. Keberhinggaan atau ketakberhinggaan perjumpaan dengan cakrawala. Namun dengan mengikuti aturan Kant, jelaslah bahwa kita tidak bisa mengatakan apa-apa mengenai keluasan alam semesta yang-mungkin. Kita harus saja terus menerus menjalankan penyelidikan; sintesis harus mengandung di dalamnya deretan yang tidak pernah selesai, dan ini menghalangi kita untuk berpikir mengenai keseluruhan mendahului sintesis atau melalui sintesis.

Konsep keseluruhan itu sendiri adalah representasi dari kelengkapan sintesis mengenai bagian-bagiannya. Padahal kelengkapan itu sendiri bukanlah sesuatu yang mungkin, maka demikian pula dengan konsepnya. Dengan perkataan lain, nalar tidak diizinkan memutuskan apakah ada keberhinggan cakrawala atau tidak ada keberhinggaan, bahwa cakrawala akan atau tidak akan pernah berhenti. Nalar hanya dapat memutuskan bahwa penyelidikan akan berlangsung progressus in indefinitum

Keadaan akan menjadi lain jika kita mengacukan penyelidikan kosmologis ke cakrawala antropik. Cakrawala ini sejak awal sudah meletakkan syarat niscaya untuk kepemahaman kita, suatu batas yang secara aktual tak mungkin terlampaui, terlepas dari seberapapun jumlahnya penyelidikan kosmologis dapat dilaksanakan. Penyelidikan memang tetap in indefinitum, tetapi dalam pengertian kesulitan menunjuk ke penyelidikan mana dan kapan, yang dapat memutuskan rantai itu untuk menjadikan definitif. Dengan demikian, sekalipun kondisi penyelidikan kosmologi ini juga in indefinitum, cakrawala antropik memutus rantai takhingga penyelidikan itu dengan syarat antropik. In indefinitum ini berbeda dengan in indefinitum yang diputuskan dengan landasan bahwa nalar semata-mata tidak membolehkan kita memastikan in infinitum yang dalam dirinya berarti definit.

***

Ketika suatu saat di masa depan impian akan Teori Segala-galanya (Theory of Everything: TOE), yaitu sebuah teori tunggal akhir tanpa keterbatasan kesahihan dan penerapan, teori yang lengkap, penuh dan ajek, dapat menjadi kenyataan, cakrawala antropik yang mencirikan keberadaan manusia dan kemungkinan kepemahamannya dalam alam semesta, tetap tidak terlampaui.

Teori tunggal akhir yang didambakan itu tetap hanya menandakan ujung dalam satu pengertian, yaitu ujung dalam sebuah bagian kegiatan keilmuan: akhir dari pencarian panjang untuk asas-asas yang selama ini tidak dapat lain kecuali harus diterima sebagai terberi, sebagai syarat awal, yaitu yang tidak pernah dapat dikembalikan ke asas lain yang lebih mendasar. Maka dilihat dari keseluruhan maksimum alam semesta terpahami, TOE tetap merupakan salah satu bagian dalam upaya kosmologi mendorong lebih jauh tapal batas konseptualnya.

***

Pemikiran di atas belum menjawab pertanyaan yang diajukan secara tersirat sebelumnya, tersediakah ruang untuk menarik keluar kosmologi sehingga dapat melaksanakan Kosmologi?

Jika mengacu ke kosmologi, terbukti bahwa bukan saja tidak ada keputusan dapat dibuat mengenai keberadaan sesuatu di luar alam semesta terpahami yang-mungkin, tetapi bahkan prakiraan-diri lengkap mengenai alam semesta terpahami pun tidak mungkin dilakukan dari dalam. Selama berada di dalam alam semesta, kosmolog bahkan tidak dapat memegang peran mahluk durjana cerdas karangan Laplace yang mampu mempunyai pengetahuan keilmuan yang lengkap dan universal mengenai alam semesta (Laplace’s Demon); mahluk ini mempunyai kemampuan mendeduksikan selengkap-lengkapnya tanpa bersisa, kondisi-kondisi alam semesta masa lampau, masa sekarang, dan kondisi-kondisi masa depannya.

Namun kosmologi, bahkan dalam bentuk anti-realistik tak terikat kaku ke dogma empirisme, yang akan menolak dengan sepenuhnya dunia di luar dunia yang mungkin tampil secara empiris. Kosmologi antropik menerima keberadaan dunia noumenal, dan dengan demikian mengakui bahwa ada realitas di luar dari apa yang disampaikan oleh kosmologi sebagai bagian dari ilmu pengetahuan. Hanya saja realitas seperti itu tidak berperan apa-apa dalam kegiatan penyelidikan kosmologi.

Kosmologi anti-realis membangun alam semesta terpahami yang sepenuhnya tercukupi sendiri, alam semesta yang mandiri. Kosmologi ini tidak memerlukan daya-daya atau gagasan-gagasan luar. Tidak ada realitas khusus untuk kepemahaman di dalam kosmologi ini yang berbeda dengan daya-daya dan hubungan-hubungan internalnya. Sejak memulai penyelidikan, gagasan mengenai segala sesuatu di luar alam semesta yang-mungkin untuk jangkauan pengetahuannya, sudah ditegaskan untuk ditanggalkan dalam medan kepemahaman kosmologi keilmuan. Namun kosmologi ini bahkan bukan keseluruhan alam semesta, apalagi Alam Semesta. Kosmologi k-kecil adalah kosmologi dengan cakrawala.

***

Cakrawala berdiri di antara apa yang di dalam dan apa yang di luarnya. Cakrawala adalah hakekat mahluk yang terletak dalam kesituasian ruang-waktunya. Ia yang bermaksud menerangi kesituasiannya berhadapan dengan upaya yang tidak pernah selesai. Cakrawala adalah sepatah kata untuk mencirikan bagaimana pikiran diikat ke determinasi keberhinggaannya; sepatah kata yang sudah digunakan oleh Husserl.

Seseorang menyadari keberadaan cakrawala ketika ia melayangkan pandangan cukup jauh dari tempatnya berpijak. Sebaliknya keberadaan cakrawala tidak akan disadari jika seseorang tidak memandang cukup jauh, sehingga menilai lebih segala sesuatu yang ada dekat di sekitarnya. Cakrawala tidak berarti membatasi diri ke segala sesuatu yang ada di dalamnya. Cakrawala adalah transendensi sekaligus keberhinggaan yang tiada tertentukan, in indefinitum. Namun justru karena indefinitum itulah nalar manusia berpretensi dapat selalu melampauinya, dan dengan begitu cakrawala berarti suatu pengembangan kepemahaman demi pengembangan ke-manusia-annya itu sendiri.

Cakrawala mengandung ketegangan antara keberhinggaan pemahaman dan ketakhinggaan kehendak untuk melampauinya; suatu tema ketegangan antara kepemahaman dan kehendak yang sebetulnya sudah menjadi bagian dari permenungan Descartes. Dalam Meditasi ke empat Descartes mengakui bahwa ia mengenali daya pemahamannya yang sempit dan terbatas, apalagi jika pada saat bersamaan ia membandingkan dengan kehendak yang ia rasakan demikian besar, sehingga ia bahkan tidak sanggup lagi membayangkan ada lainnya yang akan lebih luas daripada kehendak bebas. Kehendak takberhingga inilah yang berkekuatan memutuskan apakah kita akan mengakui atau menyangkal, melanjutkan atau menghentikan, segala sesuatu yang disuguhkan oleh pemahaman.

Jika di titik ketegangan antara keberhinggaan kepemahaman dan ketakberhinggaan kehendak ini kita memutuskan kehendak dapat terus menerus berupaya melampaui keberhinggaannya, maka Kosmologi pun diizinkan mengajukan pertanyaan mengenai penunjukan terus menerus. Apakah akan ada suatu perhentian ketika penunjukan tak lagi berhadapan dengan sesuatu yang dapat di-luarkan? Dapatkah kita mengandaikan adanya suatu perjumpaan dengan sesuatu yang tak lagi dalam cakrawala, sesuatu yang tak lagi menunjuk ke luar dirinya, sesuatu yang tak lagi dalam ketaklengkapan. Perjumpaan yang akan memutus rantai panjang cakrawala karena tak ada lagi di luarnya tempat kita masih dapat berdiri, sekalipun dalam imajinasi.

Apakah ini berarti bahwa penunjukan terus menerus ke luar dari diri, seberapa pun lamanya kosmologi mengadakan penyelidikan, menandakan kemungkinan gerak penunjukan dan pelampauan menuju suatu ketakberhinggaan dan takterbataskan mutlak dan utama di jantung realitas? Suatu ketakbercakrawalaan, yang diidealkan, yang mentransendensi dari semua batas kepemahaman, yang mengandung di dalamnya semua kemungkinan dan kelengkapan, sehingga tak lagi menyisakan apapun di luarnya?

Andaikata kita menerima gagasan ini, maka artinya kita sekaligus menerima bahwa Takterbataskan itu haruslah yang sepenuhnya Taktercakrawalakan, dan dengan demikian sebetulnya tak masuk pula dalam wilayah yang dapat dijangkau melalui daya-daya pengenalan inderawi bahkan daya-daya konseptual; tak terkenai langsung oleh konsep-konsep kepemahaman, tata bahasa, dan kosa kata yang pernah muncul dalam penyelidikan-penyelidikan kosmologis; dan dengan begitu sekaligus menyebabkan tak ada sebagian pun dari alam semesta sejauh yang diketahui dapat menjadi tumpuan untuk melayani secara langsung keingintahuan kita sehubungan dengan Takterbataskan itu.

Dengan perkataan lain, ketika Kosmologi bermaksud melangkah ke Ketakbercakrawalaan, semua daya pemahamannya yang mungkin justru gagal untuk memasuki pengertian ketakberhinggaan itu (atau apapun namanya). Tidak ada tahap pengenalan dalam penyelidikan kosmologi, sejauh itu selalu merupakan keterikatan ke model atau konsep, yang kelihatannya dapat membawa kita ke pemahaman mengenai Ketakbercakrawalaan, Ketakberketerbatasan, Ketakberhingaan, serta Ketak… lainnya itu. Penalaran kosmologi hanya menunjuk ke keberadaan suatu keberadaan di luar alam semesta sejauh keberadaan yang diketahui.

Jika demikian, apakah kita harus terlebih dahulu menangguhkan semua kepemahaman mengenai alam semesta sebagai keberadaan, sebagai ruang-waktu, agar Kosmologi dapat membawa terang mengenai Sesuatu itu ke dalam kesadaran?

Sejauh ini, kosmologi anti-realis menjalankan langkah-langkah penyelidikan yang menanggalkan tanpa membuang segala bentuk pengacuan atau penumpuan ke realitas dan keberadaan di luar gejala yang mungkin, agar dapat sampai ke alam semesta terpahami. Kosmologi yang hendak merefleksi terhadap terang itu nampaknya justru harus menangguhkan semua konsepsi pengetahuan yang dipunyai mengenai alam semesta sebagai keberadaan, semua asas, asumsi, model-model kosmologis, cakrawala, keterikatan ke struktur spasial dan temporal, keterikatan ke kepentingan penyelidikan keilmuan, atau keterikatan ke minat apapun, keterikatan ke tata bahasa dan kosa kata, ke percakapan, dan ke segala sesuatu yang terkait dengan alam semesta sebagai keberadaan yang-mungkin bagi pengetahuan manusia.

Ketika segala percakapan gegap gempita keilmuan yang sudah membawa kita ke cakrawala terjauh itu ditangguhkan sementar, yang tinggal bukanlah kekosongan, melainkan Ketakterpaparkan itu sendiri dalam keheningan keterbukaan transendensi kesadaran murni manusia.

Ketakterpaparkan adalah suatu mysterium, sesuatu yang tak terbahasakan karena keberbedaannya, sesuatu yang tak terjangkau karena tak terkenai konsep-konsep manusiawi, karena ketakberadaannya di dalam cakrawala; sesuatu yang ketika akan dimasuki kian memperlihatkan ketidakmampuan kita memasukinya. Ketakbercakrawalaan adalah ketakberhinggaan, suatu tremendum bagi yang berhingga; sesuatu yang menggetarkan. Kesadaran hening yang berhingga akan ketakberhinggaan, akan ketakbercakrawalaan, akan ketakterbahasakan, menghadirkan di dalamnya fascinans yang memukau. Mysterium tremendum et fascinans.

Disini tidak dimaksudkan kajian yang melampaui aras filosofis terhadap kosmologi dengan k-kecil. Upaya refleksi yang sangat sederhana di bagian terakhir ini hanya bermaksud memperlihatkan bahwa alam semesta, sebagai suatu wilayah teramat luas keberadaan untuk kepemahaman, ternyata mengandung di dalamnya daya-daya untuk transendensi. Daya yang di suatu titik menjadi kekuatan yang tidak tertangkap dan tertuturkan ketika alam semesta masih berbicara dalam bahasa naturalistik keilmuan; namun daya-daya yang justru dirasakan dan dengan jernih disadari kehadirannya ketika alam semesta yang menyadar-diri berhadapan dengan situasi keberhinggaannya sendiri. Pada saat itulah alam semesta terpahami menyuguhkan bahan bagi refleksi awal tentang suatu transendensi mutlak untuk ontologi.

Upaya untuk menjadikan permasalahan kosmologis, seperti misalnya persoalan awal alam semesta, ‘kebetulan’ dan ketertalaan alam semesta, dunia jamak, singularitas, dan lain sebagainya, sebagai landasan untuk refleksi tentang transendensi mutlak, tidak jarang mengecoh.

Kita terkecoh ketika kita tidak menyadari bahwa ilmu pengetahuan pada dasarnya adalah lembaga manusiawi. Ilmu pengetahuan tampil ke hadapan dan dalam hidup kita sehari-hari sebagai suatu kekuatan dengan kemampuan dan kekuasaan yang luar biasa untuk mengubah realitas kehidupan sehari-hari itu. Padahal di sinilah persoalannya. Ketika daya dan segala kelebihan di aras pragmatik itu diterjemahkan secara harfiah sebagai cermin realitas dalam dirinya yang berbicara kepada kita, ilmu pengetahuan pun diklaim sebagai daya pengetahuan yang mempunyai akses khusus terhadap realitas sehingga mampu melaksanakan alih eksistensial selengkapnya; sambil memberi jaminan akan kebenaran–setidaknya mendekati kebenaran–alihannya.

Alam semesta sejauh diketahui adalah keterikatan kita kepadanya, yang di satu pihak mendahului kita tetapi di lain pihak yang kita konstruksikan sebagai buah karya kita sendiri. Ini sekaligus berarti bahwa alam semesta yang diketahui itu bukan keseluruhan realitas; alam semesta yang dapat dipikirkan, yang dapat dipermenungkan, lebih luas daripada alam semesta yang dapat diketahui. Ketiadaan acuan untuk menyatakan bahwa alam semesta sejauh diketahui–atau model-model kosmologis yang dikonstruksikan–itu salah atau benar dalam hubungannya dengan keseluruhan realitas, menuntut ilmu pengetahuan dalam hal ini kosmologi, untuk secara epistemologis menjadi anti-realistik, pragmatik.

Kosmologi antirealis ini, meminjam istilah Rorty, adalah nonrepresentationalis. Itu sebabnya kosmolog-nya tidak berpretensi mempunyai hubungan eksklusif langsung ke alam semesta dalam kebenaran mutlaknya. Pilihan anti-realistik nonrepresentasionalis ini dijatuhkan semata-mata karena pengakuan akan keberhinggaan jangkauan terhadap segala sesuatu yang mungkin diketahui.

Kosmolog dapat memprakirakan seberapa jauh model-modelnya mampu memaparkan dan memprakirakan gejala, tetapi ia tidak dapat melangkah lebih jauh untuk memprakirakan kebenaran model-model itu. Alasannya sederhana, kosmolog tidak mempunyai akses ke Alam Semesta secara takgayut dari tata bahasa dan kosa kata kosmologi, sehingga tidak mampulah ia memberikan penjelasan mengenai Alam Semesta, apalagi membuat klaim bahwa pengetahuan berhingganya menjadi bukti untuk sesuatu yang mengatasi dan melampauinya.

Jika kelahiran asas antropik dipicu oleh berbagai kebetulan numerik menakjubkan yang selalu saja terlihat dalam susunan puluhan bilangan-bilangan skala makroskopik dan mikroskopik, kemenakjuban alam semesta itu sendiri terletak dalam bagaimana semua yang ‘tampak sebagai kebetulan’ sebetulnya merupakan syarat niscaya kemungkinan kepengamatan di dalam alam semesta. Kemenakjuban itu adalah terbangkitkannya daya-daya hidup menjadi mengetahui-diri, sadar-keberhinggaan, dan akhirnya menuju transendensi dalam kesadaran yang hening.

***

Akhirnya, telaah filsafat terhadap kosmologi (betapapun terbatasnya dan tidak lengkapnya) membuahkan butir-butir kesimpulan sebagai berikut:

(1) Sebagai asas heuristik, asas antropik adalah asas metodologis yang dianjurkan untuk dipergunakan dalam menyederhanakan langkah-langkah penyelidikan kosmologi. Asas ini tidak berperan langsung dalam pembentukan teori atau model-model alam semesta, tetapi menunjukkan bahwa pengetahuan yang memadai untuk pengembangan suatu model kosmologis bisa saja tidak terkandung langsung dalam data amatan formal dan tidak tercapai melalui metode perampatan yang umum dipakai dalam langkah-langkah empiris. Pengetahuan itu harus dicari dalam konteks penyelidikan yang lebih luas daripada hanya hubungan langsung antara data dan hipotesisnya.

(2) Di dalam asas antropik lemah dan asas antropik kuat tidak terkandung pernyataan akan adanya hukum-hukum dalam alam yang mengharuskan alam semesta secara niscaya memberadakan kehidupan. Di dalam asas ini terkandung pernyataan bahwa alam semesta yang dapat diamati adalah alam semesta yang sudah terswapilih oleh kenyataan bahwa sifat alam semesta itu ajek dengan kemungkinan evolusi kehidupan dan kemungkinan kesadaran yang akan mengamati alam semesta. Asas antropik berisi pernyataan bahwa keberadaan kita menetapkan efek preferensi yang kuat terhadap jenis alam semesta yang paling mungkin untuk kita harapkan dapat kita amati dan kita pahami.

(3) Kosmologi dapat berjalan tanpa asas antropik, namun dengan itu kosmologi berhadapan dengan risiko bias yang timbul akibat efek seleksi historis eksistensial pengamat, sehingga langkah-langkah selanjutnya menjadi tidak efisien karena dapat saja kosmologi melahirkan model-model yang dalam kenyataannya tidak memungkinkan pengintegrasian pengamat berkesadaran, yang dalam kenyataannya sudah ada, di dalamnya.

(4) Kritik terhadap kedua versi asas antropik adalah dalam tujuannya untuk melampaui perannya sebagai asas, yaitu ketika bermaksud menjadi penjelasan fisika lengkap (khususnya amat ditekankan dalam asas antropik lemah). Dalam hal ini, kedua versi asas antropik hanya mengisi peran penjelasan epistemik, tetapi tidak menjawab pertanyaan ontik ‘mengapa alam semesta seperti ini?’

(5) Asas antropik harus dilihat sebagai strategi kosmologi antirealistik yang menjalankan kegiatan keilmuan secara pragmatik demi mendapatkan teori-teori yang memadai secara empiris, tanpa mengklaim kemampuan akan menemukan jawaban yang benar mengenai realitas. Ketakmampuan itu disebabkan oleh fakta eksistensial sekaligus epistemik yang dibawa oleh asas antropik, yaitu kehadiran manusia dan seluruh kegiatannya terikat ke sejarah keberadaannya di dalam ruang-waktu. Tak ada pengetahuan di atas dan melampaui sejarah.

Kegiatan keilmuan adalah kegiatan manusia di dalam alam semesta, dan dengan demikian bersifat memanusia, yang juga akan menghasilkan pengetahuan yang dilekati oleh keberhinggaan manusia. Keberhinggaan ini pula yang membuat ilmu pengetahuan senantiasa antropometrik, dan alam semesta adalah konstruksi.

Antirealisme dalam bentuk empirisme konstruktif ini bukan suatu anarki karena tetap mempertahankan prinsip-prinsip pengetahuan formal dan menerima prosedural keilmuan dengan kokoh. Keseluruhan metode telah memungkinkan alam semesta dipelajari sebagai yang tertib, sistematik, dan yang terpahami. Namun alam terpahami itu tetap merupakan bayangan prosedur kognitif pemahamnya, bukan alam dalam dirinya.

(6) Asas antropik secara umum menunjukkan bahwa ketegangan-ketegangan penyelidikan keilmuan dapat diselesaikan ketika para ilmuwan justru menoleh ke asumsi ataupun pengetahuan latar belakang; atau ke apa yang oleh Polanyi disebut sebagai pengetahuan tersembunyi. Pengetahuan ini tidak tampil langsung dalam teori atau data, tetapi berperan besar dalam merasionalkan putusan dan keyakinan epistemik atas teori.

Dalam hal ini asas antropik sejalan dengan pandangan yang menegaskan bahwa kegiatan ilmu pengetahuan alam pun tidak lepas dari konteks dan kepentingan yang muncul ketika pertanyaan-pertanyaan problematik diajukan, tidak lepas dari asumsi-asumsi dan pengetahuan latar belakang, selain data amatan dan teori; putusan menerima teori bukan lagi hubungan dua arah data dan teori.

(7) Penalaran antropik yang diperluas dan ditenun ke dalam gagasan naturalisme pragmatik menghasilkan kosmologi empiris konstruktif tempat suatu filsafat lingkungan dapat bersangga. Alam yang muncul adalah alam sebagai alam yang di satu pihak mendahului bahkan menghadirkan kita, dan alam sebagai budaya yang di lain pihak kita olah sebagai karya. Keduanya tidak membuahkan dikhotomi ontologis, tetapi pemilahan fungsional. Di dalam pandangan ini tidak ada klaim kebenaran atas kepemahaman; yang ada adalah sikap kritis yang memilah subyek yang sudah menyadar-diri dan subyek yang belum mencapai tahap itu.

(8) Asas antropik memperteguh gagasan mengenai cakrawala. Cakrawala bukan pemenuhan diri akan segala sesuatu yang ada di dalamnya. Cakrawala adalah transendensi sekaligus keberhinggaan. Cakrawala adalah kemungkinan pengayaan kepemahaman demi pengayaan ke-manusia-an itu sendiri.

Di sini gagasan cakrawala tidak dapat dilepaskan dari gagasan mengenai kepentingan, konteks, dan minat serta asumsi-asumsi latar belakang, yang berperan setiap kali subyek mengkonstruksi alam semesta menurut pengertian seluas-luasnya ungkapan bercetak miring itu. Ini berarti nilai berbeda, sudut pandang dan pendekatan berbeda, akan menghasilkan ‘alam semesta’ yang berlainan. Dapatlah setiap orang mengkonstruksi alam semesta dan cakrawalanya sendiri; seperti juga setiap orang mengejawantahkan sendiri kehendak untuk melampaui cakrawala keberhinggaannya. Komitmen naturalistik terhadap evolusi semata-mata tidak dapat menjelaskan mengapa tiap orang mempunyai alam semesta dan cakrawala berbeda; bukankah seluruh pengamat di Bumi adalah homo sapiens? Kehendak untuk melampaui itulah yang membedakan.

Berangkat dari alam semesta orang awam yang mempertanyakan asal usul kehadirannya terbuahkan pelampauan cakrawala awam menuju alam semesta para kosmolog yang amat spesifik. Benturan ke keberhinggaan indefinitum membawanya ke tepian cakrawala yang sudah sejak lama menjadi pangkal tolak religiositas manusia.

(9) Penalaran antropik yang membawa serta ketegangan antara keberhinggaan melekat daya-daya pengetahuan dan kehendak untuk melampaui itu, juga membawa kesadaran ke kerinduan tanpa ujung kepada ketakberhinggaan itu sendiri.

Dalam butir (9) inilah sebetulnya asas antropik menimbulkan banyak perdebatan di luar penerapannya di bidang kosmologi. Banyak tafsiran bermaksud untuk menarik langsung tata bahasa dan kosa kata antropik ke suatu Alam Semesta terancang yang mengimplikasikan Perancangnya. Landasan pemikiran seperti ini adalah, jika Perancang tidak dapat secara a priori melalui ide-ide tentangnya, atau melalui esensinya, maka Perancang harus dibuktikan secara a posteriori, yaitu melalui pengkajian terhadap efek-efeknya. Keteraturan yang disaksikan di dalam alam sampai kehadiran kesadaran dilihat sebagai efek yang hendak dicari tersebut.

***

Pengetahuan yang melatarbelakangi kelahiran asas antropik melahirkan kesan bahwa melalui kosmologi-lah kita sukar untuk menyangkal bahwa manusia adalah anak kandung alam semesta dalam pengertian yang paling mendasar. Ia terbentuk dari materi-materi yang sama dengan materi yang juga membentuk penghuni alam semesta lainnya; kesadarannya ada dalam alam, mengalami diri, giat menghadapkan diri dan berinteraksi dengan alam, ia melalui situasi problematik, berjumpa dengan keberhinggaan; namun ia juga sekaligus mengandung kemungkinan-kemungkinan untuk memikirkan langkah pelampauan keberhinggaan itu. Justru karena inilah manusia bukan lagi semata-mata mahluk alamiah.

Jika evolusi alam semesta dilihat sebagai langkah-langkah untuk pencapaian kemungkinan-kemungkinan alam yang akan menuju pertumbuhan dan perkembangan yang ideal, telaah kosmologi menunjukkan bahwa kemungkinan itu sekarang ini (sejauh diketahui) tercapai dalam mahluk berkesadaran diri bernama manusia.

Sekalipun demikian harus pula diakui bahwa justru kehendak takhingga untuk melampaui itulah yang menyebabkan manusia juga mau menguasai alam dengan cara-cara yang paling mudah ia capai. Kehendak melampaui cakrawala keberhinggaan itulah pula yang menyebabkan ia lalu bermaksud mengklaim perluasan pengetahuan hingga menjangkau keheningan murni yang melampaui segala bentuk daya percakapan dan pemaparan manusiawi.

Bagaimanapun, untuk manusia, alam semesta dan seluruh daya kepemahaman di dalamnya, seperti disebut dalam butir (5) adalah antropometrik. Hanya lewat metafor seperti itulah realitas menjadi mungkin untuk ‘berbicara’, dipikirkan, direnungkan, dan dipahami menurut bahasa manusia. Mungkin kita bisa sementara menerima ucapan Eric Weill yang dikutip oleh Jean-Louis Chevreau ketika menutup karya terjemahan Risalah tentang Metode karya Descartes, ‘karena saya dapat berkata saya ada, dunia dapat menerima nilai dan harkatnya dari saya’.

Kemudian, tepat di sinilah kita berhadapan dengan pertentangan-diri atau paradoks kosmologi. Seluruh upaya besar yang dilaksanakan sepanjang sejarahnya adalah upaya pemaknaan eksistensi. Kawruh sangkan-paraning dumadi. Namun pemaknaan di aras eksistensial yang paling hakiki diperoleh ketika tapak demi tapak kosmologisasi yang telah dilaksanakan dan memberi begitu banyak kepemahaman dan harapan, justru, menjalani de-kosmologisasi; seperti dikatakan Hamlet kepada Horatioo, There are more things in heaven and on earth, Horatio, Than are dreamt of in your philosophy.

Kepustakaan:

Atkatz, Pagels, H., “Origin of the universe as a Quantum Tunneling Event”, Physical Review, 1982, D 25, h. 2065 – 2073.

Barrow, J.D., “Anthropic Principles in Cosmology”, Vistas in Astronomy, 1993, Vol. 37, h. 409-427.

Barrow, J.D., Tipler, F.J., The Anthropic Cosmological Principle, Oxford: Oxford University, 1983.

Bertola, F., Curi, U. (penyunting), The Anthropic Principle, Cambridge: Cambridge University Press, 1993.

Bertotti, B., Balbinot., R., Bergia., Messina., Modern Cosmology in Retrospect, Cambridge: Cambridge University Press, 1990.

Betty, S., Cordell, B., “God and Modern Science: New Life for the Teleological Argument”, International Philosophical Quarterly, 1987, Vol. XXVII, No. 4, 108, h. 409 – 435.

Boyd, R., Gasper, P., Trout., J.D. (penyunting), The Philosophy of Science, Massachusetts: MIT Press, 1991.

Butts., R.E., Hintikka, J. (penyunting), Foundational Problems in the Special Sciences, Dordrecht: Reidel, 1977.

Carr, B., Rees, M., Nature, 1979, 278, h. 612.

Carter, B., Journal of Physics, 1973, 34, h. 37-39.

Carter, B., “The Large Number Coincedences and the Anthopic Principles”, IAU

Symposium No. 63, Dordrecht: Reidel, 1974.

Carter, B., “The Anthropic Principles and its Implications for Biological Evolution”, Proceedings of A Royal Society Discussion Meeting (25 & 26 May), 1983.

Carter, B., “The Anthropic Selection Principle and the Ultra-Darwinian Synthesis”, The Anthropic Principle, Proceedings of the Second Venice Conference on Cosmology and Philosophy, April 1987.

Collins, C.B., Hawking, S.W., Astrophysical Journal, 1973, 180, h. 317.

Craig, W. L., International Philosophical Quarterly, 1987, Vol. XXVII, No.4, Issue 108.

Davies., P., Nature, 1974, 250, h. 460.

Davies, P., Other Worlds, 1980, New York: Simon & Schuster.

Davies, P., The Accidental Universe, Cambridge: Cambridge University Press, 1982.

Davies, P., God and The New Physics, New York: Simon & Schuster, 1983.

Davies, P., The Mind of God, New York: Simon & Schuster, 1992.

Descartes, R., A Discourse on Method, Meditations and Principles, terj. John Veitch, Everyman Library, 1960.

Dicke, R.H., Review of Modern Physics, 1957, 29, h. 355.

Dicke, R.H., “Dirac’s Cosmology and Mach’s Principle,” Nature, 1961, 192, h.440.

Dirac, P.A.M., Proceedings of The Royal Society, 1974, A. 338, h.446.

Duhem, P., The Aim and Strusture of Physical Theory (terj. Philip Weiner), Princeton: Princeton University Press, 1991.

Gale, G., “The Anthropic Principle”, Scientific American, 1981, 245, No. 6, h. 114-122.

Gamow, G., The Creation of the Universe, New York: Viking Press, 1952.

Guth, A., “Inflationary Universe: A Possible Solution to the Horizon and Flatness Problems,” Physical Review, 1981, D, 23, h. 348.

Hacking, I., 1987, “The Inverse Gambler’s Fallacy: the Argument from Design, the Anthropic Principle Applied to Wheeler Universes”, Mind, 1987, h. 331 – 340.

Harrison, E.R., Cosmology, the Science of the Universe, Cambridge: Cambridge University Press, 1981.

Hawking, S.W., Ellis, G.F.R., The Large Scale Sructure of Space-Time, Cambridge: Cambridge University Press, 1974.

Hawking, S.W., Israel, W. (penyunting), An Einstein Centenary Survey: General Relativity, Cambridge: Cambridge University Press, 1979.

Hawking, S.W., Physics Letter, 1982, B115, 295.

Heller, M., Theoretical Foundations of Cosmology, Singapore: World Scientific, 1992.

Hempel. C.G., Philosophy of Natural Science, Princeton: Prentice-Hall, 1966.

Hempel, C.G., The Aspects of Scientific Explanation, New York: The Free Press, 1970.

Hobbes, J., “The Ex-Post Facto Explanations”, The Journal of Philosophy, 1993, Vol. 40,No.2., h. 117-136.

Hoyle, F., The Intelligent Universe, London: Unwin, 1983.

Husserl. E., Ideas (terj. W.R. Boyce Gibson), London: Collier MacMillan, 1962.

Jaki, S., The Road of Science and the ways to God, Edinburgh: Scottish Academic Press, ?1978.

Kant, I., Critique of Pure Reason (terj. Inggris oleh Norman Kemp Smith), London: St. Martin’s Press, 1965.

Longino, H., Science as Social Knowledge, Princeton: Princeton University Press, 1990.

Kilmister, C.W., Eddington’s Search for a Fundamental Theory, Cambridge: Cambridge University Press, 1994.

Klinkhamer, Physics of the Early Universe, Proefschrift, Leiden: Rijksuniversiteit te Leiden, 1983.

Leahy, L., Manusia Di Hadapan Allah (II): Jalan-jalan Terbuka Menuju Allah, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1990.

Leslie, J., “Efforts to Explain All Existence”, Mind, 1978, Vol. 88, h. 181-194.

Leslie, J., “Observership in Cosmology: The Anthropic Principle”, Mind, 1983, Vol. 92, ?h. 573 – 579.

Leslie, J., “No Inverse Gambler’s Fallacy in Cosmology”, Mind, 1988, Vol. 97, h. 267- 272.

Leslie, J., “Doomsday Revisited”, The Philosophical Quarterly, 1992, Vol. 42, No.166, h. 85 – 89.

Leslie, J., Universes, London: Routledge, 1996.

Longair, M.S. (penyunting), Confrontation of Cosmological Theories with Observational ?Data, International Astronomical Symposium, Dordrecht: Reidel, 1974, No. 63.

Madox., J., “New Twist for Anthropic Principle”, Nature, 1984, 307, h. 409.

Martel, H., Shapiro, P., Weiberg, S., Likely Values of the Cosmological Constant, preprint, University of Texas, 1997.

McCrea, W.H., dan Rees, M.J., “The Constants of Physics”, Philosophical Transactions of the Royal Society of London, 1983, A 310, h. 209-303.

McGrath, P.J., “The Inverese Gambler’s Fallacy and Cosmology”, Mind, 1988, Vol. 97, h. 269-272.

Miller, R.W., Fact and Method, Princeton: Princeton University Press, 1987.

Misner, C.W., Thorne, K.S., Wheeler, Gravitation, San Fransisco: W.H. Freeman & Company, 1973.

Mizak, C.J., Verificationism, London: Routledge, 1995.

Munitz, M., Cosmic Understanding, Philosophy and Science of the Universe, Princeton: Princeton University Press, 1986

Nagel, E., The Structure of Science, Indianapolis: Hackett, 1979.

Newton-Smith, The Rationality of Science, London: Routledge, 1994.

Padmanabhan, Observational Constraints on Cosmological Models, ASP Conference Series, 1995, 84. h. 470-477.

Peebles, P.J.E., The Large Scale Structure of the Universe, Princeton Series in Physics, ?Princeton: Princeton University Press, 1980.

Peebles, P.J.E., Principles of Physical Cosmology, Princeton Series in Physics, Princeton: Princeton University Press, 1993.

Penzias, A., Wilson., R., “A Measurement of Excess Antenna Temperature at 4080 Mc/s”, Astrophysical Journal, 1965, 142, h. 419.

Polanyi, M., Personal Knowledge, Towards a Post-Critical Philosophy, New York: Harper & Row, 1964.

Popper, K., Conjectures and Refutations, New York: Harper & Row, 1968.

Popper, K., Quantum Theory and The Schism in Physics, from the Postcript to the Logic ?of Scientific Discovery, London: Routledge, 1982.

Popper,K., Realism and the Aim of Science, dari seri Postcript to the Logic of Scientific Discovery, London: Routledge, 1992.

Popper, K., Open Universe, dari seri Postcript to the Logic of Scientific Discovery, London: Routledge, 1992.

Rees, M., Comm. Astrophys. Space. Phys., 1972, 4, h. 182.

Rorty, R., Objectivity, Relativism, and Truth, Vol. I., Cambridge: Cambridge University Press, 1994.

Salmon, W., Scientific Explanation and the Causal Structure of the World, Princeton: Princeton University Press, 1984.

Shimony, A., “Role of Observer in Quantum Theory”, International Philosophical Quarterly, 1978, 18, h. 3-17.

Shimony. A., Search for Naturalistic World View, Vol.I & II, Cambridge: Cambridge University Press, 1993.

Tyron, E., “Is the Universe a Vacuum Fluctuation?”, Nature, 1973, 246, h.396-397.

van Fraassen, B., The Scientific Image, Oxford: Oxford University Press, 1980.

van Fraassen, B., Laws and Symmetry, Oxford: Oxford University Press, 1989.

Weinberg, S., Dreams of a Final Theory, New York: Doubleday, 1988.

Wimmel, H., Quantum Physics and Observed Reality, A Critical Interpretation of Quantum Mechanics, Singapore: World Scientific, 1992.

Wolfendale, A.E. (penyunting), Progress in Cosmology, Dordrecht: Reidel, 1982.

Zahar, E., The British Journal for the Philosophy of Science, 1997, Vol. 48, No. 1, h. 132-139.

Catatan:

1) Makalah untuk Diskusi Paramadina 17 April 1998 di Jakarta.

2) Pengajar Luar Biasa di Program Studi Filsafat dan Program Studi Ilmu Lingkungan, Program Pascasarjana Universitas Indonesia.

3) Erwin Schrödinger, sebagaimana dikutip dalam Harrison, Cosmology, 1981, h.11.

4) Steven Weinberg, 1983, “Overview of Theoretical Prospects for Understanding the Values of Fundamental Constants” dalam Philosophical Transactions of the Royal Society of London (penyunting: McCrea dan Rees), Seri A, Vol. 310, No. 1512, h. 249.

5) “Possibility of life as we know it evolving in the universe depends on the values of a few basic physical constants … and is in some respects remarkably sensitive to their numerical values” (B.J. Carr dan M.J. Rees, 1979, “The Anthropic Principles and the Structure of the Physical World”, Nature, 12, h. 612).

6) Guth, 1981, “Inflationary Universe: A Possible Solution to the Horizon and Flatness Problems,” Physical Review D, 23, h. 348.

7) Carr & Rees, 1979, “The Anthropic Principle and the Structure of the Physical World”, Nature, 278, h. 612.

8) Zarah masif dalam alam semesta disebut juga baryon, antara lain proton dan netron. Ini untuk membedakan misalnya dengan neutrino (non-baryonic matter) yang hampir tidak mempunyai massa.

9) “…may be termed the anthropic principle to the effect that what we can expect to observe must be restricted by the conditions necessary for our presence as observers.” (although our situation is not necessarily central, it is inevitably privileged to some extent). (Brandon Carter, 1974, “Large Number Coincidences and the Anthropic Principle in Cosmology” dalam Confrontation of Cosmological Theories with Observational data, International Astronomical Union Symposium No. 63, h. 291).

10) “…’weak’ anthropic principle to the effect that we must be prepared to take account of the fact that our location in the universe is necessarily privileged to the extent of being compatible with our existence as observers.” (Ibid., h. 293)

11) “…’strong’ anthropic principle stating that the Universe (and hence the fundamental parameters on which it depends) must be as such to admit the creation of observers within it at some stage.” (Ibid., h. 294).

12) Ungkapan asli Descartes yang terkenal adalah ‘cogito ergo sum’ (aku berpikir, aku ada); René Descartes, Discourse on Method, Bagian IV, h. 26, dalam A Discourse on Method, Meditations and Principles terjemahan John Veitch (1960).

13) Karlina Leksono-Supelli, 1997, Kosmologi Empiris Konstruktif, Suatu Telaah Filsafat Ilmu terhadap Asas Antropik Kosmologis, Disertasi, Universitas Indonesia, Jakarta.

14) Karlina Leksono-Supelli, 1998, Disertasi, Ibid.

15) “The very act of declaring man finite discloses a fundamental feature of this finitude: it is finite man himself who speaks of his own finitude. A statement on finitude testifies that this finitude knows itself and expresses itself. Thus it is of the nature of human finitude that it can experience itself only on the condition that there be a view on finitude, a dominating look which has already begun to transgress this finitude” (Ricoeur, 1986, Fallible Man, h. 24).

16) Umumnya, kalau berbicara tentang ‘memperluas cakrawala’ maka diandaikan bahwa itu dilakukan dengan mengubah tempat kedudukan di mana kita berdiri, seperti misalnya jika berada di tepi laut; kian tinggi kita berdiri, kian luas medan penglihatan yang terhampar di antara kita dan cakrawala.

17) Disini penulis dengan sengaja tidak menggunakan kata yang akan menimbulkan kesan ‘meninggikan tempat berdiri’, maksudnya adalah untuk menghindari anggapan manusia dapat terus memperluas cakrawalanya dengan mengubah terus ketinggian berdirinya, sehingga seolah-olah ia lama kelamaan akan melepaskan tapakan dirinya dari alam semesta. Manusia ada di dalam dan menapak dalam alam semesta, menelusuri jarak, serta mengejar cakrawala untuk menaklukan satu demi satu.

18) Pierre Duhem, 1982, h. 299. Catatan: dalam karya ini Duhem mendefinisikan kosmologi sebagai sistem dunia dalam arti ontologi/metafisika, bukan kosmologi dalam pengertian Physical Cosmology sebagaimana, sejauh ini, menjadi bahan pembahasan di sini. Namun ini tidak berpengaruh ke andaian yang hendak dipinjam.

19) Plato dalam Republic, Buku VII, sebagaimana dikutip dalam Duhem, Ibid.

20) Karl Popper, 1965, Conjectures and Refutations, the Growth of Scientific Knowledge, h.74.

21) Ibid.

22) Penyelidikan itu disimbolkan sebagai berikut:

Penyelidikan itu disimbolkan sebagai berikut:

(a) p (d) (p & (p q) dan (p & q q) q))) q,

(b) p q; (e) in infinitum

(c) (p & q q) q

Catatan: sebagaimana akan dijelaskan berikutnya, tanpa cakrawala antropik keadaan ini ‘ditutup’ dengan in infinitum namun cakrawala antropik menyebabkan tak ada perluasan alam semesta terpahami sampai takhingga; maka keadaannya menjadi in indefinitum (lihat uraian di bawah ini).

23) Kondisi ini dianalogikan dengan argumen Kant dalam The Antinomy of Pure Reason (dalam Critique of Pure Reason, 1965, h. 386 – 484; untuk bagian ini lihat A509/B539 dan A511/B539)

24) Popper, 1992, The Open Universe, An Argument for Indeterminism, dari seri Postscript to the Logic of Scientific Discovery, h. 131 -162.

25) Kant, 1965, op. cit., h. 455.

26) Steven Weinberg, 1988, Dreams of a Final Theory.

27) Laplace menulis: ‘all the forces by which nature is animated and the repective positions of the entities which compose it, … would embrace in the same formula the movements of the largest bodies in the universe and those of the lightest atoms: nothing would be uncertain for it, and the future, like the past, would be present to its eyes.’ (Laplace, 1886, Traité de Probabilité; Euvres (Acad.Sc.), Paris, 7, h. vi-vii, seperti dikutip Polanyi, 1964, h. 140)

28) Husserl, 1962, Ideas (terj. W.R. Boyce Gibson), bag. 27, 28, 44, 82, 83 (Husserl menyebutnya juga fringe of experiences).

29) “For to take an example, if I consider the faculty of understanding which I possess, I find it is of very small extent, and greatly limited, and at the same time I form the idea of another faculty of the same nature, much more ample and even infinite; … It is the faculty of will only, or freedom of choice, which I experience to be so great that I am unable to conceive the idea of another that shall be more ample and extended…” (Descartes, Fourth Meditations).

30)Lihat bagian penutup dalam Descartes, R., Risalah tentang Metode, terj. Ida Sundari Husen dan Rahayu Hidayat (1995).

Satu pemikiran pada “Kosmologi Awam, Ilmiah, dan Religius: Dari Kosmologi ke Dekosmologisasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s