Kebebasan Berkosmologi: “Contact” dan “2001: Space Odyssey”

Karlina Supelli

CONTACT baru selesai diputar di bioskop-bioskop. Sedikitnya ada dua nama besar yang terkait dengan film ini selain artis kenamaan Jodie Foster. Dua nama itu adalah sutradara Robert Zemeckis, pemenang Academy Award untuk Forrest Gump, dan Carl Sagan, astronom pemenang Pulitzer yang menulis novel Contact. Jodie sendiri memerankan Eleanor Arroway (Ellie), ahli radio astronomi tokoh utama Contact, yang menyerahkan seluruh masa depannya demi mendengarkan panggilan dari makhluk angkasa luar. Ia yakin mereka sedang mencoba berkomunikasi dengan manusia Bumi.

Film dengan bahasa khas Hollywood ini, sedikit banyak dapat mengirimkan pesannya, walaupun belum berhasil memenuhi spiritualitas yang hendak dicapai Sagan di dalam novelnya.

Contact mengingatkan saya akan pertanyaan yang tidak pernah letih menggelisahkan benak manusia. Kegelisahan yang pernah tampil melalui H G Wells dalam The War of the Worlds (1898); sebuah novel yang sempat membuat orang-orang di New Jersey panik pada tahun 1940-an ketika dibacakan sebagai sandiwara radio. Mereka sungguh-sungguh mengira makhluk Mars sedang menyerang Bumi. Kegelisahan yang sama juga terlihat melalui film-film populer ET, Starwars, Close Encounter of the 3-rd Kind, dan sejenisnya. Sebuah kegelisahan mengenai kosmos yang berproses untuk menyadar. Adakah alam menggemakan suaranya lewat makhluk selain manusia? Adakah kesadaran yang tersembunyikan dalam waktu dan dalam ruang yang begitu luas?

Pertanyaan seperti ini kelihatannya mencerminkan kerinduan manusia untuk tidak sendirian. Padahal sebetulnya lebih mewakili kehendak manusia untuk memahami diri dan mengetahui posisinya di dalam kosmos.

Maka, tema sentral Contact tetaplah persoalan manusia. Itu sebabnya, seperti kebanyakan film sejenisnya, Contact berhenti tanpa pernah melampaui (mentransenden dari) karakter manusia. Sagan bahkan enggan menampilkan makhluk aneh-aneh. Makhluk asing pun mewujudkan diri menjadi almarhum ayah yang dicinta ketika menemui Ellie di pusat Bimasakti. Sedikit aneh, tetapi ini untuk menunjukkan betapa bijaksananya mereka yang berperadaban tinggi itu, sampai-sampai tak sampai hati mengagetkan Ellie yang baru selesai terkejut-kejut menderita tarikan gravitasi dahsyat lubang cacing (worm hole) dalam perjalanan menembus ruang-waktu. Kalaupun Contact memunculkan kekacauan, itu karena ulah manusia yang jelas sebab musababnya.

***

KESIMPULAN ini mengingatkan saya akan sebuah film lama, 2001: Space Odyssey. Film yang dibuat tahun 1966 ini (diperbarui tahun 1970-an) juga membawa dua nama besar. Ahli antariksa Arthur Clark, yang menuliskan skenarionya bersama sutradara Stanley Kubrick. Dari segi pendekatan terhadap persoalan, estetika, dan kedalaman permenungan, 2001 jauh melampaui Contact; tetapi lewat keduanya saya menangkap bagaimana kosmos tampil dengan dua wajah yang begitu berbeda di dalam benak manusia.

Seperti Sagan, Clark menuliskan segala sesuatu dengan gamblang dalam novelnya yang terbit kemudian dengan judul sama. Dalam kisah mengenai perjalanan ke Jupiter ini, Clark menampilkan setiap karakter dan kejadian dengan pelandasan yang jelas. Termasuk ketika komputer istimewa bernama HAL-9000 menolak perintah bahkan membunuhi para astronaut. Clark juga menyatukan ujung benang yang putus-putus di tengah novel menjadi sebuah simpul yang mengikat seluruh cerita, sehingga jelaslah asal usul keantariksaan batu monolit hitam yang dimunculkan di awal film.

Zemeckis tidak beranjak jauh dari kegamblangan novel Contact, bahkan menyederhanakannya. Kubrick justru mengambangkan 2001 sepenuhnya dalam teka-teki. Simpul-simpul tetap membuka sampai akhir film. Seluruhnya adalah tanda tanya besar, sehingga sia-sialah upaya mencari motivasi logis yang mendasari tiap-tiap kejadian. Sia-sia juga mencoba mengenali makhluk antariksa, kecuali peninggalannya berupa monolit hitam yang melayang-layang sebagai sebuah misteri itu.

Seluruh film yang berpusat di sebuah wahana antariksa masa depan itu, bergerak dalam kelambanan yang dahsyat. Kelambanan yang tidak memanusia, bahkan dengan penanggalan sengaja terhadap karakter-karakter manusia. Apakah beda tiga astronaut yang dihibernasikan (ditidurkan jangka panjang sehingga memakai cadangan energi seminimum mungkin) dengan hewan berdarah dingin? Apakah beda HAL dengan manusia, ketika ia adalah penguasa yang marah namun bisa takut oleh ketidakberdayaan mengatasi akhirnya sendiri? Apakah beda manusia dengan benda, ketika ia berakhir dalam dan oleh ciptaannya? Ketika kemudian pun HAL bisa “dibunuh” oleh satu-satunya astronaut yang masih hidup, itu hanya berarti kegagalan seluruh misi.

Tinggallah sang astronaut sendirian dalam ruang-waktu yang tidak lagi beracuan, tetapi ia yang justru menemukan diri dan ruang-waktunya. Diri yang menua dalam waktu yang berbalik ke sebuah ruang abad lampau, tetapi dalam waktu yang kenyataannya tidak pernah mungkin kembali; bak gelas yang pecah berantakan dari tangan sang astronaut tak pernah bisa kembali utuh. Sang astronaut menua dalam waktu, namun yang dalam ruang mewujud menjadi janin. Kubrick seperti hendak bertanya, apakah yang dapat dimengerti oleh manusia yang lahir dari rahim kosmos?

Film ini membawa saya berenang menempuh kemahaluasan alam semesta dalam keasingan yang luar biasa. Keasingan yang hampir-hampir mistis sifatnya. Film non-verbal ini menyuguhkan gambar-gambar dalam monotoni yang sepertinya tiada hendak berakhir; namun yang tiba-tiba memunculkan warna-warni kosmik yang begitu menakjubkan tetapi terasa berat membingungkan. Dari awal hingga akhir, saya terus menerus bertanya, apa yang hendak disampaikan Kubrick?

Contact membawa kita ke dalam harapan-harapan manusia akan sebuah peradaban kosmik. Peradaban yang diandaikan lebih maju, tetapi dengan para pengguna teknologi yang lebih bijak; peradaban yang peduli akan kehidupan serta masa depan yang terencanakan dan teramalkan. Lewat Contact, seluruh kosmos saling menyapa lewat bahasa universalnya, matematika. Kosmos tampil menawan dan memanggil-manggil. Kosmos yang menjadi terlalu sederhana ketika Contact mensahihkan pemindahan kehangatan antropomorfik ke seluruh semesta (sampai-sampai Jodie perlu berperan terlalu emosional?).

Inikah alam semesta, jika pada saat yang sama ke hadapan kita tampil sebuah wajah dingin dalam keheningan yang begitu keji menggurat-gurat perasaan manusiawi? Lewat Space Odyssey kosmos adalah sebuah keasingan yang terasa begitu perih karena begitu tidak terpahami. Yang tinggal hanya sebuah kidung sunyi seperti nyanyian HAL yang kian sumbang menjelang kematiannya; kalaupun manusia mau mencoba memahami suara-suara kosmos dan suara-suara dirinya di masa depan, maka itu adalah suatu keberlainan di balik cakrawala pengetahuannya.

***

MELALUI interpretasi Kubrick atas 2001, saya menangkap bukan hanya pergulatan manusia mengembarai kosmos dalam pencarian akan masa depan, tetapi juga pencarian akan kosmos itu sendiri. Di situlah kekuatannya, karena ia menjadi pengembaraan yang mentransendensi manusia dalam ke-manusiaan-nya.

Pertanyaannya, apakah masa depan, ketika seperti masa lalu, ia adalah ibarat mimpi bawah sadar yang menghantui namun begitu sukar dikenali. Kubrick seperti menggemakan kembali kekekalan waktu yang pernah dirampas oleh kosmos modern Newtonian. Sebuah kosmos yang mengalirkan waktu ibarat arus dari masa lalu ke masa depan dengan penuh kepastian, sehingga hakikat kekinian, kata Santayana, seperti api yang merambat sepanjang sumbu waktu. Kubrick memilih waktu dan ruang yang saling menenun diri. Keduanya melebur dalam pemilahan ilusif kekinian yang hanya bertumpu pada aras fenomenal. “And the end and the beginning were always there/Before the beginning and after the end/And all is always now,” gumam T S Elliot dalam Burnt Norton.

Apakah kosmos? Kosmologi, cabang ilmu pengetahuan mengenai alam semesta dalam skala besarnya, akan menjawab dengan segala kerumitan ilmiah; tetapi intinya tergambarkan dalam kedua film ini. Kosmos adalah ruang-waktu tempat manusia membangun kemungkinan-kemungkinan lewat pengembaraan imajinasi sebebas-bebasnya. Contact menunjukkan, bahwa satu-satunya pembatas adalah keberhinggaan bahasa keilmuan yang ternyata tidak pernah dapat membuktikan kebenaran dirinya sendiri. Namun melebihi itu 2001 memperlihatkan, bahwa ketika bahasa yang berhingga itu ditanggalkan, imajinasi yang diikuti dengan setia akan menghadirkan sebuah pemahaman kosmologis yang rendah-hati.

Belum pernah saya bertemu dengan kosmologi yang sejujur kosmologi Kubrick. Sebuah kosmologi sebagai bangunan samar yang tak pernah menjadi pasti isi maupun batas-batasnya. Namun, dapatkah kosmolog, betapapun didukung oleh perangkat keilmuan yang luar biasa canggihnya, memperoleh lebih dari kesamaran itu?

Ibarat seorang perupa, kosmolog bermaksud melukis wajah alam semesta. Dengan segala daya pemikiran, imajinasi, intuisi, dan piranti penglukis yang ada di tangannya, ia pun mencobanya. Ia tahu wajah itu indah, ia mempunyai data mengenai hidung, alis, dan mata si wajah. Akan tetapi, seberapakah mancung hidungnya? Seberapakah tebal alisnya? Seberapakah cemerlang matanya? Semua tetap rekaan yang tidak pernah dapat ia ujikan. Kosmos yang tampil ke mukanya selalu saja berupa bangunan yang tidak pernah selesai. Alam Semesta tetaplah seraut wajah tak dikenal dalam banyak wajah alam semesta yang kita konstruksikan untuknya.

Apakah kosmos? Kedua film ini menunjukkan kepada kita, bahwa setiap orang berhak untuk mempunyai kosmosnya sendiri; seperti juga setiap orang berhak merancang masa depannya sendiri, tetapi yang dalam jangka panjang tidak pernah mampu kita prakirakan secara numerik. Siapakah Ellie, yang begitu rasional dan verifikatif namun jatuh dalam kegagalan menyuguhkan bukti untuk pengalamannya? Siapakah para perancang HAL-9000, yang menanamkan ke dalam otak komputer itu keyakinan akan incapable of error, namun harus menyaksikan bahwa semua prakiraan kuantitatif yang semula begitu pasti, ternyata tidak berbicara apa pun?

Saya kira, astrofisikawan Freeman Dyson dengan tepat menggambarkan 2001 ketika mengutip ucapan biolog kenamaan John Haldane (Possible Worlds; 1927): realitas apa pun yang dijumpai manusia di masa depan, bukan hanya lebih ganjil daripada yang kita duga, tetapi lebih ganjil daripada yang dapat kita duga.

Masa depan, seperti masa lalu dan sekarang, pastilah ada; di sana, berjalin dengan ruang. Akan tetapi satu-satunya yang tersedia untuk kita gapai, hanyalah kepastian bahwa masa depan akan menyingkap hal-hal yang bahkan tak tecernakan benak kekinian kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s