Ilmu Pengetahuan: Cermin atau Sarana Memahami Dunia?

ILMU PENGETAHUAN: CERMIN ATAU SARANA MEMAHAMI DUNIA?

Karlina Supelli

Era sekarang ini seringkali disebut-sebut sebagai era informasi, namun sesungguhnya di belakang pernyataan ini secara implisit terkandung pengertian mengenai era ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah membuat mungkin semua pencapaian material dan (sebagian) yang non-material di sekitar kita. Catatan khusus hendak diberikan pertama-tama, yaitu bahwa ilmu pengetahuan yang dimaksudkan di sini adalah ilmu pengetahuan alam.

Kemajuan yang dihasilkan oleh ilmu pengetahuan dalam beberapa dasawarsa terakhir ini serta keberhasilan menerapkan pandangan-padangan dan temuan-temuannya, bukan hanya memperluas cakrawala dan memperdalam kepemahaman manusia mengenai alam semesta, tetapi juga telah meningkatkan kemampuan kontrol manusia atas daya-daya alam bahkan atas kesadaran manusia lainnya. Kemajuan ilmu pengetahuan telah memberikan kepada manusia kekuasaan yang semakin besar atas realitas.

Sekalipun demikian, tidak dapat disangkal bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi membawa juga bersamanya berbagai problem baru yang memprihatinkan yang menuntut kehendak sungguh-sungguh untuk menyelesaikannya, serta seringkali tidak dapat ditunda. Dalam keadaan demikian orang cenderung kembali mencari jawaban atas problem yang dihadapinya di dalam ilmu pengetahuan lagi. Sesuatu yang wajar dan alamiah. Kedahsyatan penerapan ilmu pengetahuan dalam kehidupan manusia membawa kecenderungan berpikir bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi dapat menyelesaikan segala-galanya.

Padahal terlalu sering terjadi bahwa problem yang ditimbulkan oleh penerapan ilmu pengetahuan dan pemanfaatan teknologi dalam kehidupan manusia sehari-hari bukanlah problem-problem teknis ilmiah, melainkan problem yang mempunyai kandungan moral. Pengalaman menunjukkan bahwa manusia cenderung terlambat dalam hal ini. Hampir selalu isu moral yang sesungguhnya melekat ke penerapan ilmu pengetahuan dan pemanfaatan teknologi baru disadari setelah ada dampak yang buruk terhadap kehidupan.

Apa yang terjadi di dunia sekitar kita sekarang ini menunjukkan sebuah kenyataan menarik namun sekaligus memprihatinkan. Masyarakat secara umum mengambil bagian dalam kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tetapi secara serentak juga tidak ikut serta. Hubungan sebagian besar masyarakat dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah hubungan anonim. Bahkan jika proses penemuan, penerapan, dan perkembangan berbagai temuan ilmu pengetahuan dicermati secara mendalam, hubungan lanjut seorang ilmuwan dengan temuannya pun anonim.

Masyarakat hidup dari, dengan, dan melalui hasil-hasil ilmu pengetahuan, tetapi ada sebuah jurang yang dalam sekali antara apa yang secara teoretis dimengerti oleh masyarakat dapat diharapkan, dan apa yang sungguh-sungguh tertera dalam perwujudannya. Dalam keadaan seperti ini sukar sekali menjawab pertanyaan yang terkait dengan tanggung jawab dalam menerapkan ilmu pengetahuan dan memanfaatkan teknologi.

Di sinilah kita yang berasal dari dunia pendidikan, khususnya yang terkait dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, berhadapan dengan sebuah kenyataan mengenai betapa penting memahami hakikat ilmu pengetahuan yang sesungguhnya, kemungkinan-kemungkinan yang dimunculkan tetapi juga keterbatasannya, serta peran dalam masyarakat. Dengan pemahaman ini, maka ketika ilmu pengetahuan dan metodenya diperkenalkan ke masyarakat baik melalui pendidikan formal maupun non-formal, kita selalu dapat berangkat dari titik yang paling dasar: ilmu pengetahuan adalah buah karya manusia demi kemanusiaan itu sendiri.

Dengan pemahaman di atas, saya ingin memenuhi permintaan panitia untuk membahas masalah ilmu pengetahuan—dalam pengertian ilmu-ilmu dasar—dan peran pendidikan pra-universitas di dalam “pembangunan manusia seutuhnya.” Secara khusus kepada saya diminta membahas filosofi pengajaran ilmu-ilmu dasar dalam pembentukan sumber daya manusia yang unggul (Untuk saya pribadi baik tema maupun judul yang ditawarkan membuat saya risih. Tepatkah melihat manusia sebagai sumber daya? Bagaimanakah manusia akan dibangun dan oleh siapa—mereka yang lebih unggul? Apakah kriteria keunggulan itu? Adakah manusia unggul? Semua pernyataan ini memerlukan makalah sendiri untuk membahasnya secara kritis).

Dengan alasan itulah saya mengarahkan materi yang akan saya sampaikan begitu rupa sehingga saya akan meninjau secara lebih umum mengenai pemahaman ilmu pengetahuan dari sudut pandang filsafat ilmu. Dengan landasan ini saya berharap kita bersama-sama lalu menentukan landasan untuk pengajarannya. Tinjauan saya bersifat reflektif, dan bukan teknis. Namun justru di sinilah kesulitannya, sehingga saya perlu pembatasan di bawah agar tidak ada pretensi seakan-akan gagasan dalam dunia ilmu pengetahuan mengenai tujuan, hakikat, dan penyelenggaraannya serta bagaimana ilmu pengetahuan seharusnya, yang begitu beragam dan dilandasi oleh pandangan dunia berbeda-beda, dapat dimengerti oleh satu orang saja. Sesuatu yang jelas-jelas tidak mungkin. Begitu juga dengan pendidikan. Hampir-hampir tidak mungkin kita mendefinisikan sebuah hakikat pendidikan dan lalu berharap satu sudut pandang dapat menjadi titik berangkat.

Ketika menulis buku mengenai ilmu pengetahuan dan tanggung jawab kita, van Melsen menulis bahwa ia sesungguhnya sedang menuliskan sebuah buku yang harus ditulis tetapi sebetulnya tidak bisa ditulis. Alasannya adalah bahwa sebuah uraian lengkap tentang ilmu pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan tidak mungkin diberikan, karena keberagaman visi mengenai ilmu pengetahuan dan bagaimana ilmu pengetahuan itu seharusnya.

Sebuah buku dengan judul yang menarik juga ditulis oleh Chalmers, What is this Thing Called Science? Di dalamnya ia menulis, “Kita bertolak dengan kekaburan dan mengakhirinya dengan kekaburan juga, tetapi pada taraf yang lebih tinggi.” Maka dalam Pengantar untuk edisi pertama Chalmers pun menulis bahwa bukunya itu sekedar introduksi sederhana dan elementer mengenai pandangan-pandangan modern tentang ilmu pengetahuan.

***

Jika berbicara tentang landasan filosofis yang mendasari ilmu-ilmu maka tidak bisa tidak kita akan berhadapan dengan polarisasi epistemologis. Polarisasi ini melandasi setiap pandangan menyangkut tujuan kegiatan keilmuan dan kedudukan pernyataan-pernyataan keilmuan di dalam hubungannya dengan dunia. Polarisasi itu terbentuk antara kutub realisme dan kutub antirealisme.

Ditinjau secara historis, faham realisme berkaitan dengan keyakinan bahwa suatu pernyataan mengandung nilai-kebenaran obyektif, dan dengan begitu mempunyai acuan pada suatu dunia yang tak gayut dari sarana kita mengetahuinya, serta keyakinan akan kemampuan kita memperoleh pengetahuan yang benar mengenai dunia takgayut tersebut. Jika selanjutnya keyakinan ontologis-epistemologis ini diterapkan dalam konteks keilmuan, maka faham realisme keilmuan dimaksudkan sebagai doktrin yang terdiri dari empat tesis utama yaitu:

(i) ‘Ungkapan teoretis’ pada teori-teori keilmuan (yaitu ungkapan nonobservational) harus diterima sebagai dugaan terhadap ungkapan yang mempunyai acuan; teori harus ditafsirkan secara ‘realistik’.

(ii) Teori-teori keilmuan, yang (harus) ditafsirkan secara realistik ini, dapat ditegaskan, dan pada kenyataannya seringkali tertegaskan sebagai mendekati kebenaran melalui bukti-bukti keilmuan yang ditafsirkan menurut standar metodologis biasa.

(iii) Sejarah kemajuan ilmu-ilmu yang matang sebagian besar merupakan urut-urutan pendekatan yang kian cermat terhadap kebenaran, baik menyangkut gejala teramatkan maupun takteramatkan. Teori-teori yang muncul kemudian pada umumnya dibangun di atas pengetahuan (observational dan teoretis) yang ada dalam teori sebelumnya.

(iv) Realitas yang diperikan oleh teori-teori keilmuan sebagian besar tidak bergantung pada pemikiran ataupun komitmen teoretis kita.

Kritik terhadap tesis realisme bervariasi mulai dari penolakan terhadap (i), (ii), dan pembatasan terhadap (iii) demi menghindari komitmen terhadap kemungkinan pemerolehan pengetahuan yang bersifat teoretis menyangkut ungkapan takteramati, atau menolak (iv) tetapi menerima (i) – (iii) dengan catatan realitas yang diperikan oleh teori-teori keilmuan adalah suatu konstruksi sosial keilmuan. Antirealis seperti Kuhn memberi catatan bahwa (iii) dapat diterima sejauh teori-teori yang saling menggantikan itu merupakan bagian paradigma yang sama.

Terlepas dari variasi (i) – (iv) itu, posisi dasar realisme keilmuan merujuk pada tesis kebenaran korespondensi sebagai landasan untuk menafsirkan teori dan sebagai syarat penerimaan suatu teori dalam kegiatan keilmuan. Kebenaran, atau sedikitnya pendekatan pada kebenaran, menjadi tujuan utama yang hendak dicapai ilmu pengetahuan. Dengan mengacu pada posisi dasar ini van Fraassen menyatukan berbagai tesis realisme keilmuan ke dalam rumusan berikut: “Ilmu pengetahuan bertujuan, dalam teori-teorinya, memberikan pada kita suatu kisah yang benar secara harfiah mengenai dunia (seperti apa); dan penerimaan teori melibatkan kepercayaan bahwa teori itu benar.”

Dari segi epistemologis, penolakan paling keras terhadap realisme berkaitan dengan penafsiran atas pengetahuan yang benar ini. Para penganut antirealis melihat kegiatan keilmuan dan tujuan ilmu pengetahuan dapat dicapai tanpa perlu diikuti oleh kepercayaan bahwa teori keilmuan memberikan pengetahuan yang benar (atau mendekati kebenaran) tentang dunia.

Dalam pandangan mereka, pengetahuan tidak dapat meluas hingga mencapai yang tak teramati, sehingga pengetahuan benar atau salah mengenai dunia tidaklah mungkin. Ilmu pengetahuan lewat teori-teorinya hanya menyediakan sarana untuk memprakirakan gejala yang akan muncul atas dasar gejala sejenis yang sudah ada sebelumnya dalam lingkungan fisika serupa. Dengan landasan ini para antirealis beranggapan bahwa doktrin realisme yang menjanjikan pengetahuan teoretis mengenai dunia, sesungguhnya, paling baik hanya menyediakan keanggunan formal atau kenyamanan perhitungan. Teori-teori diterima dalam kegiatan keilmuan karena memperlihatkan kelebihan prediktif, kesederhanaan, atau kelebihan lainnya seperti koherensi dan keajekan.

Paparan di atas sangat umum; pada kenyataannya para penganut antirealisme menduduki posisi yang secara rinci berbeda-beda menyangkut penafsiran atas pernyataan-pernyataan keilmuan. Penolakan yang paling radikal terhadap realisme berasal dari instrumentalisme. Para instrumentalis menolak sepenuhnya kepercayaan bahwa pernyataan-pernyataan keilmuan mempunyai nilai kebenaran. Mereka berpendapat bahwa status teori adalah piranti, atau sarana penghitung. Teori berguna untuk menghubungkan dan mensistematisasikan pernyataan-pernyataan observasional, serta untuk memberikan prakiraan berdasarkan sekumpulan data, tetapi tak ada pertanyaan menyangkut kebenaran (atau pada apa teori mengacu) dapat diajukan.

Dalam bentuk yang lebih lemah, penolakan terhadap tesis realisme diberikan oleh van Fraassen yang masih menerima kriteria benar/salah untuk pernyataan keilmuan yang berhubungan dengan gejala teramati, tetapi menolak penafsiran benar/salah untuk gejala takteramati.

***

Dalam lingkup ilmu pengetahuan alam umumnya, suatu penjelasan diperoleh jika gejala yang diamati dapat dijelaskan dengan cara meletakkan kemungkinan keberlangsungan gejala itu di bawah satu atau lebih hukum-hukum umum. Hubungan antara eksplanandum dan eksplanan-nya dapat berupa keniscayaan logis ataupun nomologis, bergantung pada konsepsi mengenai penjelasan yang dianut.

Model ini dapat diacukan ke model Hempel. Hempel menyatakan bahwa menjelaskan gejala di dalam dunia pengalaman kita, menjawab pertanyaan mengapa?, dan bukan sekedar pertanyaan apa? Adalah salah satu tujuan terpenting ilmu pengetahuan. Dalam ilmu-ilmu alam, penjelasan dasar bersifat keilmuan diberikan melalui suatu pendekatan yang disebut sebagai deduktif-nomologis (D-N). Penjelasan D-N mengandung di dalamnya eksplanandum, yaitu pernyataan yang memerikan gejala yang akan dijelaskan, dan eksplanan, yaitu kumpulan pernyataan yang menjelaskan gejala.

Selanjutnya harus pula terpenuhi syarat bahwa eksplanandum merupakan konsekuensi logis dari eksplanan; dengan kata lain eksplanandum harus dapat secara logis diturunkan dari informasi yang terkandung dalam eksplanan. Ada hubungan kausal antara eksplanandum dan eksplanan. Syarat kepadaan logis (logical conditions of adequacy) suatu penjelasan D-N adalah bahwa eksplanan harus memuat pernyataan universal hukum-hukum umum dan pernyataan-pernyataan singular syarat awal. Syarat awal memberikan kondisi khusus pada suatu peristiwa untuk menerapkan hukum-hukum umum tersebut. Selanjutnya, eksplanan juga harus mempunyai kandungan empiris sehingga dapat setidaknya secara prinsip diuji melalui observasi ataupun eksperimen.

Kekuatan pola penjelasan D-N terletak dalam kemampuan prakiranya sehingga dengan berangkat dari syarat awal kita dapat memprakirakan kejadian yang akan berlangsung di bawah kerja hukum umum.

Salmon membedakan tiga konsepsi penjelasan, yaitu (i) konsepsi epistemik, (ii) konsepsi modal, dan (iii) konsepsiontik.

Konsepsi epistemik melihat penjelasan sebagai suatu argumen yang menunjukkan bahwa eksplanandum yang semula tidak terpahami, ternyata merupakan gejala yang terharapkan jika diacukan pada hukum-hukum umum dan pada hubungannya dengan fakta lain. Dengan demikian ada keterharapan nomik (nomic expectability) yang tak lain merupakan konsep epistemologis. Dalam konsepsi ini terdapat keniscayaan logis antara hukum-hukum serta syarat awal di satu pihak, dan eksplanandum di pihak lain; tepatnya antara pernyataan-pernyataan eksplanan dan pernyataan-pernyataan eksplanandum. Penjelasan model D-N adalah salah satu contoh bentuk penjelasan epistemik.

Konsepsi modal melihat hubungan yang ada di antara eksplanandum dan kondisi antesedennya sebagai keniscayaan nomologis. Ini berarti semua gejala merupakan hasil niscaya dari hukum-hukum fisika. Dalam konsepsi ini, suatu penjelasan tidak perlu dilihat sebagai suatu argumentasi yang menunjukkan bahwa gejala eksplanandum harus terjadi dengan adanya syarat awal tertentu. Konsepsi modal juga memberlakukan keniscayaan fisika melalui hukum-hukum umum sebagai penghubung antara kondisi-kondisi anteseden khusus dan gejala eksplanandum, bukan keniscayaan logis yang berjalan melalui hukum deduktif.

Dalam konsepsi epistemik, eksplanan mengandung sedikitnya satu hukum umum, sedangkan dalam konsepsi modal hukum umum tidak harus tampil dalam eksplanan; hukum umum hanya berperan sebagai apa yang oleh Scriven disebut landasan pembenaran-peran (role-justifying ground) untuk eksplanan, yaitu menunjukkan relevansi eksplanan terhadap eksplanandum sehingga eksplanan memadai sebagai penjelasan. Dalam hal ini penjelasan berbentuk pernyataan fakta, bukan hukum umum.

Dalam konsepsi yang ketiga, konsepsi ontik, menjelaskan suatu gejala bukan berarti meletakkan fakta khusus ke bawah keberlakuan hukum-hukum, melainkan menunjukkan letak gejala itu dalam suatu pola keteraturan yang diandaikan ada dalam alam dan dapat ditemukan melalui penyelidikan keilmuan, serta dapat dieksploitasi demi kepentingan penjelasan keilmuan. Kebanyakan penganut konsepsi ontik menghubungkan pola keteraturan yang dimaksud dengan hukum-hukum kausal.

Kutub antirealisme terwakili di dalam konsepsi epistemik. Ciri epistemik nampak jika sifat penjelasan bermaksud mengisi kekosongan pengetahuan yang dimunculkan oleh pertanyaan-mengapa. Penjelasan menjadi nisbi terhadap situasi pengetahuan yang dipunyai dan dipandang memuaskan jika berhasil menjembatani jurang pengetahuan dalam konteks pertanyaan diajukan. ‘Penjelasan’ menjadi sebuah jawaban terhadap pertanyaan-mengapa harus dievaluasi terhadap pertanyaannya, yang tidak lain merupakan tuntutan untuk suatu informasi.

Keberhasilan suatu penjelasan sebagai penjelasan dengan demikian adalah keberhasilan menunjuk pada pemaparan yang memadai dan informatif dalam konteks pertanyaan yang diajukan; bukan keberhasilan dalam melaksanakan alih eksistensial atas mekanisme tersembunyi yang mungkin ada. Dalam pengertian ini penjelasan memang bukan merupakan tampilan substantif suatu teori melainkan memegang status pragmatik yang tidak melebihi dan mengatasi pengetahuan deskriptif dan/atau prediktif.

Ini berbeda dengan kubu realis yang memandang penjelasan sebagai “kisah benar” tentang alam. Di dalam pemahaman tentang hubungan antara teori dengan dunia, kriteria kebenaran merupakan ciri semantik teori. Dalam hubungan semantik, konsepsi kebenaran dan realitas berjalan bersama-sama dalam adequatio ad rem.

Bagaimanapun jika beberapa kata, atau piranti tata bahasa, di dalam suatu pernyataan mempunyai peran semantik yang bergantung pada konteks, maka kebenaran dalam pengertian korespondensi menjadi tidak bermakna tanpa pergeseran ke hubungan pragmatik. Dalam hubungan ini suatu pernyataan adalah benar dalam konteks pemakaiannya. Contohnya, ‘aku sedih’ adalah benar jika dan hanya jika orang yang menyampaikan kalimat tersebut bersedih ketika mengucapkannya. Hubungan pragmatik muncul ketika terjadi perluasan hubungan semantik yang mengandung kata penunjuk yang mengacu baik ke si penyampai pernyataan maupun pada kondisi ruang-waktunya (konteks).

Dengan demikian jelaslah seorang penganut antirealisme tidak akan menerapkan kriteria kebenaran korespondensi untuk menerima keberlakuan suatu teori. Ia melihat hubungan semantik antara teori dan gejala dipenuhi sejauh teori dapat memerikan tampakan dengan derajat kecermatan tertentu (nisbi terhadap teori saingannya) dalam konteks pertanyaan diajukan. Sekalipun bisa saja ia tidak menolak keberadaan kebenaran yang bersifat lebih universal. Bagaimanapun ia akan berpendapat bahwa penentuan salah atau benar suatu teori dalam hubungan korespondensi dengan realitas tidak berhubungan sama sekali dengan kepentingan keilmuan ataupun kesuksesan suatu teori.

Pendapat terakhir ini dapat dikembalikan pada pernyataan Thomas Kuhn. Dalam membicarakan hubungan antara ilmu pengetahuan dan kebenaran, Kuhn mengatakan bahwa kita terlalu terbiasa untuk melihat ilmu pengetahuan sebagai suatu lembaga yang secara konstan bergerak menuju ke suatu sasaran yang telah terlebih dahulu ditentukan oleh alam. Proses perkembangan ilmu pengetahuan digambarkan Kuhn sebagai proses dari awal yang primitif; suatu proses yang tahap demi tahapnya dicirikan oleh pemahaman terhadap alam yang kian terperinci dan kian baik, tetapi tidak sedikit pun Kuhn menyebut bahwa gerak pertumbuhan itu menuju suatu sasaran berupa ‘kebenaran’.

Dalam posisi seperti ini, seorang ilmuwan akan menerima gagasan yang memilah antara realitas-pada-dirinya dan tampakan, karena ia membedakan antara underlying truth dan appearance. Hal ini menunjukkan bahwa ia menerima adanya struktur atau obyek di belakang tampakan, namun dengan tegas mengatakan bahwa hanya tampakan atau segala sesuatu yang terekam, yang merupakan kunci untuk pemahaman dalam ilmu pengetahuan; yang selebihnya bukan urusan ilmuwan.

Pemilahan antara alam pada dirinya dan alam sebagai tampakan ini dapat dilihat sebagai komponen Kantian mengenai pemilahan antara obyek pada dirinya dan fenomena.

***

Pemaparan di atas sebetulnya hanya untuk menunjukkan bahwa ada sudut pandang yang saling berdikhotomi dalam melihat tujuan dan kedudukan ilmu pengetahuan di tengah upayanya menjelaskan dunia. Pertanyaannya, apakah implikasi landasan filosofis yang cukup rumit ini untuk dunia pengajaran?

Tesis realisme melihat adanya sebuah dunia yang lepas, independen, obyektif, yang siap untuk dipelajari. Pengetahuan ada di dunia dan tinggal ditemukan dan diambil. Teori-teori keilmuan adalah pernyataan yang mendekati kebenaran tentang dunia. Maka yang dicari adalah “bahasa” yang mampu menggambarkan dunia sebagaimana adanya melalui struktur simbolik. Simbol itu adalah cermin realitas.

Mahluk yang berkesadaran akan mengumpulkan informasi mengenai obyek-obyek di sekitarnya dan membangun sebuah model mental yang setia kepada realitas. Pengetahuan menjadi seperti sebuah gudang penyimpanan “benda-benda mental” yang setiap saat siap untuk ditarik keluar untuk penggunaan penalaran dan kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa. Berpikir adalah kegiatan memanipulasi dunia representasi.

Di dalam pengajaran, pandangan filosofis seperti ini tercermin dari cara mengajar yang melihat bagaimana pengetahuan yang merepresentasikan dunia itu harus dialihkan ke murid. Jika dianut dengan sangat ekstrim, maka para murid dianggap sudah berpengetahuan jika pernyataan-pernyataan dalam benak mereka sudah menyamai pernyataan gurunya.

Berbeda dengan realisme, antirealisme tidak memandang pengetahuan sebagai terpilah dari subyek yang mengetahui. Pengetahuan adalah hasil jalinan ketat antara kita sebagai penyelidik dan realitas yang diselidiki. Realitas bersifat relasional dan pengetahuan bersifat konstruktif. Bahkan dunia itu sendiri konstruktif.

Maka kegiatan keilmuan lebih merupakan kegiatan konstruksi daripada penemuan; yaitu konstruksi model-model yang harus memadai secara empiris tetapi tidak berhubungan dengan penemuan-penemuan kebenaran mengenai dunia sesungguhnya.

Berbeda dengan tafsiran realisme, perubahan dan perkembangan dari satu tahap penyelidikan keilmuan ke tahap lainnya tidak dilihat sebagai pendekatan yang kian cermat terhadap kebenaran. Di belakang pandangan filsafat antirealis berlangsung peralihan dari subyek dalam realitasnya menjadi subyek yang berinteraksi dengan realitas dan ikut mengkonstruksikan realitas. Dalam hal ini pengetahuan bukan cermin dari sebuah realitas terpisah, melainkan sebagai sarana untuk mengintegrasikan diri dengan lingkungan. Pengetahuan, dan dalam hal ini pengetahuan ilmiah, adalah hasil dari proses penyelidikan yang muncul di dalam situasi yang membutuhkannya.

Diterjemahkan ke dalam dunia pengajaran dan pendidikan, maka dipahami bahwa pendidikan adalah persoalan belajar berpartisipasi dalam sebuah kegiatan, dan bukan semata-mata penerusan informasi dari satu kepala ke kepala lain. Persepsi dan tindakan muncul bersamaan dan secara dialektik satu membentuk yang lainnya. Pengetahuan dilihat sebagai jawaban yang mungkin untuk menyelesaikan persoalan, dan bukan gambaran bagaimana dunia sesungguhnya.

Penerapan terhadap dunia pendidikan akan tercermin dalam sikap yang melihat peserta didik sebagai manusia-manusia yang berorientasi ke masa depan, yang selalu memecahkan masalah. Pendidikan adalah proses rekonstruksi dan transformasi terus menerus karena manusia senantiasa berinteraksi dengan dunia di sekitarnya

(disampaikan dalam diskusi Pendidikan Sains Pra-Universitas, di IPB tahun 1999).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s