Belajar Menjadi Masyarakat yang Dewasa: Aku yang Bertransendensi

Belajar Menjadi Masyarakat yang Dewasa: Aku yang Bertransendensi

Karlina Supelli

Memilih tema seperti ini berarti mengandaikan bahwa masyarakat memang mengalami sebuah proses belajar sekaligus proses pertumbuhan dan perkembangan. Sejarah masyarakat memang adalah cerita tentang perkembangan. Di dalam perkembangan itu satu-satunya yang pasti adalah masa lampau, sedangkan masa depan senantiasa tanpa batas, tak terpastikan, dan terbuka. Masa lampau memberikan keterikatan kepada yang sudah pasti dan dengan begitu rasa aman, sementara masa depan menjanjikan kebebasan namun penuh ketidakpastian. Satu-satunya yang pasti dari masa depan adalah kematian itu sendiri.

Maka setiap saat manusia hidup di dalam kecemasan-kecemasan dan kehendak akan rasa aman. Namun justru karena itulah problem eksistensi manusia menjadi unik di dalam keseluruhan alam. Ia tidak pernah menerima alam dan lingkungannya sebagaimana adanya. Ia akan mengambil jarak, menilai masa lalu sehingga dapat mengantisipasi masa depannya.

Sejarah kebudayaan manusia, baik sebagai individu ataupun masyarakat, adalah sebuah proses belajar besar, dan pada abad ke 18, filsuf Jerman kenamaan Immanuel Kant menuliskan bahwa salah satu ciri khas kebudayaan terdapat di dalam kemampuan manusia untuk mengajar dirinya sendiri. Ia senantiasa berada dalam keharusan menemukan langkah keluar untuk problem yang dihadapi, menemukan jalan-jalan baru untuk eksistensinya.

***

Dengan andaian di atas saya mencoba untuk menjawab pertanyaan, mengapa pada pagi hari ini kita semua diajak untuk bersama-sama merenungkan tema Belajar Menjadi Masyarakat yang Dewasa? Apakah karena sepanjang lebih dari setahun ini kita dihenyakkan ke dalam kenyataan pahit bahwa sebagai masyarakat di satu pihak, sesungguhnya kita belum menunjukkan kedewasaan dalam kehidupan bersama, dan sebagai nasion belum menunjukkan kematangan bernegara?

Mengerikan memang, apa yang terjadi di sekitar kita justru sebagai sebuah negara merdeka Indonesia akan memasuki usia yang ke-54 dalam beberapa hari ini. Konflik berdarah di banyak tempat, baik yang bersifat horisontal rakyat dengan rakyat maupun yang bersifat vertikal negara dengan rakyat, seperti menjadi cermin tercabik-cabiknya kemanusiaan. Atas nama persatuan dan kesatuan bangsa, alat negara dapat membunuhi warga negaranya sendiri, dan atas nama identitas arkaik sesama warga dapat saling membunuh dengan teramat keji.

Akal budi, yang telah menjadi sumber kekuatan yang memilah manusia dari kesatuan asalinya dengan alam sehingga manusia meninggalkan tahap eksistensinya sebagai binatang, seperti lumpuh menghadapi kehendak dahsyat untuk mengikuti naluri instinktif hewani yang tak terkendali. Dari kenyataan di sekitar kita tinggal sekalipun, kita menjadi saksi bagaimana manusia menempatkan diri di atas kehidupan, dan menghancurkannya.

Saya ingin kembali sebentar ke proses perkembangan manusia individual untuk mendapatkan analogi mengenai kedewasaan sebuah masyarakat. Ketika lahir ke dunia, seorang bayi belum menyadari akan adanya realitas di luar diri luar kecuali bahwa dunia luar ada untuk memberinya kehangatan dan rasa kenyang. Dengan kata lain dunia luar ada untuk semata-mata memenuhi kebutuhan dirinya. Sigmund Freud menamakan keadaan ini sebagai narcissisme primer.

Kesadaran akan adanya dunia luar datang perlahan-lahan dengan munculnya kemampuan membedakan adanya aku dan engkau, yaitu ketika sang bayi mulai menyadari bahwa ada benda-benda atau orang-orang yang berbeda-beda. Itulah sebabnya proses penamaan menjadi sangat penting karena mengartikan adanya diri sendiri yang terpisahkan dari obyek lain di luar diri yang mempunyai nama berbeda.

Dalam perkembangan berikutnya, di dalam diri anak akan tumbuh kesadaran bahwa orang-orang lain di sekitarnya juga mempunyai kebutuhan yang sama penting seperti kebutuhannya sendiri. Di sini kesadaran anak menjadi terbuka, intersubyektif, yang bergantung kepada hubungannya dengan orang lain. Jika ini gagal, maka anak tidak mampu menghadapi realitas dunia sebagai mana adanya, tetapi akan selalu membentuk realitas berdasarkan proses batinnya sendiri.

Seketika anak berhasil melepaskan ikatan primer dengan ibu, atau dalam skala besar ketika manusia berhasil melepaskan diri dari kungkungan alam, ia mengembangkan kebutuhan akan identitas. Ia mencoba menjadi aku yang utuh. Semakin dewasa seorang anak, semakin ia menjadi aku yang utuh, yang mampu membuat pilihan-pilihan bebas.

Dalam sejarah kebudayaan, aku utuh tercapai ketika tahap mitis beralih menjadi tahap ontologis. Ini dicirikan dengan kemampuan manusia membuat jarak dengan alam dan menjadikan alam sebagai obyek, dan aku sebagai subyek. Dalam hubungan sosial, ini tercapai ketika individu berhasil melepaskan diri dari ikatan kelompok sehingga identitasnya tidak lagi ditentukan oleh identitas kelompok asal usulnya. Nama tidak lagi merupakan pertalian dengan kelompok asal usul sehingga ia tidak kehilangan nama sekalipun pertalian itu putus. Seseorang tidak lagi hanya diterima sebagai eksistensi sejauh ia bertalian dengan kelompok tertentu.

Bagaimanapun, pemilahan aku dengan dunia seperti ini jarang terjadi. Selalu muncul kecenderungan untuk berada bersama. Manusia ada karena hubungannya dengan orang lain. Maka, umumnya aku hanya merasakan diri sebagai aku jika aku diterima di dalam sebuah kelompok. Seorang anak remaja dapat saja bersedia untuk melakukan apapun sejauh ia dapat diterima di sebuah kepompok. Orang yang lebih dewasa dari segi umur merelakan cita-cita, gagasan-gagasan ideal, dilepas demi penerimaan di sebuah kelompok.

Keinginan hebat menjadi anggota sebuah kelompok menjadi penting bukan hanya demi terpenuhinya kepentingan-kepentingan tertentu, tetapi juga demi diperolehnya rasa aman. Kebangsaan, agama, suku, etnisitas, menolong orang merasa mempunyai identitas.

Jika kita kembali melihat berbagai konflik yang terjadi di Indonesia dalam setahun terakhir ini, apapun pemicunya, selalu dapat ditarik sebuah pola sejenis. Hampir semua konflik massal horizontal yang terjadi sepanjang setahun terakhir ini, senantiasa mengambil bentuk pembangkitan sentimen atas dasar identitas kelompok atau yang ingin saya sebut sebagai arkaisme asal usul, archaism of the origin, meminjam istilah pemikir feminis Julia Kristeva.

Arkaisme asal usul ini menggambarkan perasaan yang sangat eksklusif terhadap identitas homogen berdasarkan satuan kelompok keagamaan, kesukuan, kedaerahan, kebahasaan, atau etinisitas. Arkaisme ini begitu kuat mengacu ke dalam sehingga hampir semua yang berada di luar kelompok dan berbeda identitas asal usul akan ditolak, dan menjadi yang lain, the other.

Dalam konteks masyarakat, tidak ada yang salah dengan arkaisme asal usul seperti ini, kecuali ketika gagal bertransendensi ke aras nasion serta gagal berpijak di atas nilai-nilai kemanusiaan. Pada saat itu muncul bahaya akan kesombongan eksklusif kelompok yang akan menjadikan kepentingan kelompok sebagai pusat.

Keadaan ini diperparah dengan meluasnya ketidakadilan struktural untuk waktu yang amat lama sepanjang sejarah orde baru, bahkan sampai saat ini, yang menyebabkan masyarakat terbelah dalam kelompok yang diuntungkan atau dirugikan oleh berbagai kebijakan penguasa. Dalam keadaan ini pemenuhan kebutuhan untuk berinteraksi dengan orang lain, untuk memiliki identitas, diperoleh dengan cara yang sebetulnya menghilangkan kemandirian dan keutuhan akunya. Orang sekedar mencari kesamaan identitas untuk kemudian menentukan setiap “yang lain” sebagai yang potensial untuk setiap saat dijadikan musuh.

***

Dari uraian singkat di atas terlihat bahwa jika pertumbuhan individu hendak dijadikan acuan, maka pertama-tama adalah kesadaran akan adanya orang lain di luar aku yang bukan sekedar pemuas kebutuhanku adalah ciri seseorang memasuki tahap pertumbuhan pertama. Kesadaran bahwa aku hadir dalam dunia, dalam sebuah realitas yang bukan aku sendiri yang berhak menamakannya, tetapi realitas yang aku miliki bersama dengan orang lain. Aku melampaui dunia rekaanku.

Selanjutnya adalah kemampuan menentukan identitas tanpa kehilangan kemandirian dan integritas; identitas yang tidak ilusif, yang tidak membuatnya semakin bergantung kepada kelompok. Identitas itu bukan yang mengembalikannya kepada asal usul homogen. Aku melampaui semua bentuk identitas arkaik dan memilih identitas dengan mendasarkannya di atas pengalaman akan daya-daya pribadi yang memberinya kekuatan untuk menentukan sendiri pilihan-pilihan sosial, politik, bahkan ekonomi dan budayanya. Kemampuan ini sekaligus membuka diri untuk menerima yang lain, yang berbeda, sebagai sebuah identitas utuh di luar dirinya yang juga mempunyai pilihan-pilihan bebas. Di sinilah terbuka ruang-ruang untuk menerima keragaman.

***

Uraian yang mengacu ke pertumbuhan individu di atas diharapkan tidak akan mengecoh dengan mengarahkan kesimpulan bahwa masyarakat yang menjalani tahap pertumbuhannya dengan berhasil menuju kedewasaan adalah yang ditopang oleh individu-individu yang matang. Ini akan membawa kepada pertanyaan klasik yang tak akan diperdebatkan di sini, tetapi justru ingin dilampaui lewat sebuah dialektika yang mengacu kepada sebuah slogan feminis the personal is political.

Saya ingin menyampaikan hal ini untuk tidak hanya berhenti pada ciri masyarakat dewasa, tetapi justru memenuhi tema, yaitu belajar. Ini berarti mengajukan sebuah metode, sebuah cara belajar. Saya memilih consciousness raising (CR), yang dalam pandangan feminis telah berhasil menghadirkan kembali perempuan tanpa identitas untuk ikut menamakan kembali dunia. Alasannya adalah karena saya melihat bahwa keadaan masyarakat yang sekarang ini menjadi demikian memprihatinkan tidak dapat dilepaskan sama sekali dari struktur-struktur kekuasaan yang opresif selama jangka waktu yang panjang.

Untuk itu harus dipahami bahwa ada dua cara melihat manusia. Secara tradisional, di satu pihak ada gagasan filosofis yang secara ontologis melihat manusia dengan kesadaran dan kapasitas kreatifnya merupakan mahluk yang berdiri sendiri lepas dari struktur eksistensi lainnya. Dengan demikian secara epistemologis manusia diasumsikan sebagai pengkonstruksi realitas di sekitarnya. Ini berarti bahwa realitas sosial dan semua bentuk pengetahuan ada di dalam kepala melalui pengalaman personal; realitas sosial adalah hasil bentukan.

Di lain pihak, ada gagasan yang secara ontologis melihat manusia, sekalipun memiliki kesadaran dan kapasitas kreatif yang menjadikannya manusia, adalah bagian dari struktur eksistensi di sekitarnya, baik yang kongret maupun abstrak. Struktur obyektif di luar diri inilah yang bekerja dan mempengaruhi kesadarannya. Realitas sosial bersifat eksternal, di atas dan melampaui individu, terdiri dari struktur-struktur kongret yang mempunyai pengaruh deterministik terhadap perkembangan kesadaran individu.

Pendekatan pertama menjadi dasar untuk pendekatan humanisme radikal di dalam kebudayaan, sedangkan yang kedua menjadi dasar untuk pendekatan strukturalisme radikal.

Apakah yang menjadi dasar untuk CR? Dasarnya adalah pernyataan Carol Hannisch (1970), the is personal is political, yang ia ajukan dalam Notes of the Second Year. Slogan ini kemudian juga menjadi sebuah metode analisis yang dikembangkan oleh para feminis untuk memperoleh pemahaman politik berdasarkan analisis kritis terhadap pengalaman personal perempuan. Namun demikian CR dapat menjadi sebuah proses pendewasaan anggota masyarakat dengan memakai medium berupa dialog dalam kelompok-kelompok diskusi, baik yang bersifat publik maupun tertutup, dengan atau tidak dengan fasilitator. CR umumnya dilakukan sebagai bagian dari metode pendampingan terhadap korban, apapun definisi korban itu, apakah individu, atau kelompok.

Salah satu implikasi dari penerapan premis the personal is political adalah bahwa proses pendampingan, atau jika dalam hal pembicaraan di sini hendak disebut sebagai proses pembelajaran, menjadi sesuatu yang disadari mempunyai sasaran politis untuk mengubah struktur-struktur kekuasaan yang telah mengakibatkan munculnya berbagai bentuk tekanan di dalam masyarakat.

Secara individual, di dalam proses CR, orang dihadapkan kepada kenyataan bagaimana tekanan bekerja atas diri melalui pendekatan baik dari dalam dan dari luar diri. Dialog yang menjadi medium untuk melaksanakan kegiatan tersebut berlangsung untuk menyingkapkan realitas subyektif orang per orang, dan dari situ bersama-sama menamakan kembali kebenaran.

CR menjadi rekonstitusi kritis mengenai makna pengalaman seseorang. Pengalaman tersebut didefinisikan kembali di dalam bahasa politis, sambil menekankan kembali hubungan antara kondisi material obyektif di lapangan dan pengalaman personal subyektif.

Pemahaman mengenai alasan politis di belakang tindakan opresif dan upaya meletakkannya ke dalam perspektif yang lebih luas daripada sekedar penderitaan personal, menyebabkan peserta CR yang menjadi korban ketidakadilan struktural misalnya, tidak menuding diri sendiri—sebagaimana banyak terjadi–sebagai penyebab tekanan yang menimpa dirinya.

Maka, selain mengandung di dalamnya gagasan bahwa mengubah seseorang merupakan prasyarat awal untuk mengubah masyarakat–dan dengan begitu jatuh ke pendekatan dalam kerangka besar humanisme radikal–CR justru bermaksud menohok secara radikal kerangka kekuasaan yang menyebabkan ketidakadilan terjadi, sehingga memungkinkan penuntutan atas keadilan. Dengan ini, CR melibatkan proses sekaligus pendekatan yang subyektif dan yang obyektif.

Proses ini berjalan sebagai dialektika yang berfungsi sebagai pembawa gerak sebuah predikat–dalam hal ini masyarakat–ke level kesadaran yang lebih tinggi.

Di dalam gerak itu terkandung sintesis antara penghancuran dan penyelamatan menuju ke pembangkitan (aufheben, dalam bahasa Hegel). Anggota masyarakat bergerak dari korban yang dihancurkan dan dinegasikan menjadi mereka yang memiliki kesadaran baru di dalam dirinya mengenai hubungan antara pengalaman pribadi yang menyakitkan dan sumber tekanan yang bersifat struktural, dan bagaimana letaknya di dalam konteks tatanan sosial dan politik yang berlaku.

***

Pembelajaran dalam bentuk ini menyuguhkan pemahaman mengenai hubungan antara metode dan penyingkapan kebenaran serta antara anggota masyarakat sebagai individu dan kondisi sosial-politik yang berjalan di sekitarnya. Maka kebenaran bukan lagi sesuatu yang transendental. Kebenaran adalah kepemahaman akan kekinian yang tersembunyi di dalam anggota masyarakat, khususnya mereka yang menjadi korban tekanan dan kekerasan, dan menunggu untuk disingkapkan.

Dalam proses ini pendewasaan masyarakat berlangsung bukan semata-mata mengandalkan pendekatan individual kultural sehingga jika terjadi kekerdilan masyarakat maka individu dipersalahkan, tidak juga dengan semata-mata mengandalkan perbaikan struktural tempat perasaan subyeltif personal tidak pernah mendapat tempat. Namun bagaimana setiap individu menyadari bahwa ia adalah hasil dialektika masyarakat yang ikut ia bentuk, sekaligus membentuk dirinya.

(Agustus 1999; bahan untuk diskusi “Belajar Menjadi Masyarakat Dewasa” di Institut Teknologi Bandung).

Kepustakaan:

1. Collins, B.,1986, “Defining Feminist Social Work” dalam Social Work 31.

2. MacKinnon, C., 1982, “Feminism, Marxism, Method, and the State: An Agenda for Theory” dalam Sign: Journal of Women in Culture and Society, 7.7.

3. van Peursen, 1989, Strategi Kebudayaan, Kanisius.

4. Grosz, E., 1990, Jacques Laqan: A Feminist Introduction, Routledge.

5. Eitinger, L., 1980, “The Concentration Camp Syndrome and Its late Sequelae” dalam Survivors, Victims, and Perpetrators (ed. J.E. Dimsdale), Hemisphere.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s